jump to navigation

NKRI Juli 21, 2003

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Elegi, Identitas, Multikulturalisme, Sejarah.
trackback

Aceh kini bukan hanya sebuah daerah yang dirajang perang, tapi juga sejumlah pertanyaan. Pertanyaan itu semuanya berkait dengan apa sebenarnya sebuah “Indonesia”—ya, apa sebenarnya “Indonesia” yang hendak dipertahankan.

Kata para jenderal dan politikus, keutuhan wilayah itulah yang harus dibela. Tapi apa arti “wilayah” sebuah negeri? Apa pula “keutuhan” itu? Kita acap lupa “wilayah” adalah sebuah tempat dalam ilmu bumi, yang terbentang antara sekian garis lintang dan sekian garis bujur. Ia sebuah ruang. Dalam riwayatnya yang panjang manusia membela ruang itu sebagai membela milik sendiri, tapi dalam hal “Indonesia”, apa artinya “milik”?

“Milik” pada akhirnya berarti kekuasaan, dan kekuasaan itu bergerak dalam sejarah. Seandainya Raffles, orang Inggris itu, terus berkuasa di Jawa dan tak menyerahkan pulau ini kepada Belanda pada tahun 1816, mungkin Singapura yang kemudian didirikannya akan jadi bagian dari sebuah wilayah yang kini disebut “Indonesia”. Atau sebaliknya: bisa juga Yogyakarta akan termasuk sebuah negeri yang disebut “Singapura”. Perang dan perdagangan—kedua-duanya bukan sesuatu yang sakral—yang membuat dan menetapkan peta bumi. Benarkah “wilayah” begitu berarti hingga hal-hal yang lain boleh dikorbankan? Benarkah begitu penting “keutuhan”?

“Keutuhan”—kata ini pun tak pasti benar dari mana datangnya. Yang jelas, ia mencakup pengertian yang lebih luas ketimbang sekadar ketentuan tapal batas. “Keutuhan” bukan sekadar persoalan teritorial. Ia juga bisa berarti sumber alam dan keseimbangan ekologi, termasuk hutan tropis yang hijau dan biodiversitas hewan yang hidup, juga para penghuni, kehidupan sosial, dan khazanah kebudayaan mereka. Apa artinya “keutuhan” yang dipertahankan bila hutan jadi terbakar, sawah dan lumbung hancur, dan suatu masyarakat berantakan? Apa artinya “keutuhan” jika kelompok manusia yang berbeda saling membunuh dan mengusir?

Tapi mungkin juga yang hendak dipertahankan adalah sebuah “Indonesia” sebagai ingatan yang berharga. Sejak kita kanak-kanak, kita diberi rasa bangga akan sebuah negeri yang terbentang dari “Sabang sampai Merauke”, tentang orang-orang Aceh yang menyumbangkan yang mereka miliki buat Republik Indonesia yang baru berdiri, tentang kolonialisme Belanda yang justru mempersatukan pelbagai orang di Nusantara.

Kenangan itu sangat intim. Ia bagian dari identitas kita. Tapi setiap catatan dari masa lalu selalu mengandung apa yang luhur dan juga apa yang brutal, apa yang mengharukan dan juga apa yang mengerikan, bahkan memuakkan. Kenangan tentang sebuah “Indonesia” dapat berisi dokumen yang merekam niat mulia yang hendak menjabat tangan orang lain yang berbeda—niat yang membuat Sumpah Pemuda pada tahun 1928 terjadi dan sebuah generasi baru dengan ikhlas melupakan ikatan kesetiaan lama mereka, untuk membangun sebuah ikatan kesetiaan baru.

Tapi sejarah persatuan itu juga dapat berupa sejarah ketidak-ikhlasan. Bahkan sejarah kekerasan, pemaksaan, dan penyeragaman. Itulah sebabnya Bung Hatta pernah memperingatkan agar “per-satu-an” dibedakan dari “per-sate-an”.

Maka, sebuah “Indonesia” yang manakah yang hendak kita pertahankan?

Saya termasuk mereka yang akan menjawab: sebuah “Indonesia” yang dengan Aceh ada di dalamnya, tapi bukan sebuah NKRI (singkatan yang kaku dari “Negara Kesatuan Republik Indonesia”), yang memaksa Aceh untuk berada di dalamnya. Saya akan menangis bila Aceh terlepas dari Republik. Tapi saya juga akan menangis bila Aceh dibungkam oleh mereka yang datang atas nama Republik. “Indonesia” yang utuh adalah Indonesia yang punya cita-cita yang berharga untuk utuh.

Amerika Serikat adalah contoh yang tak menarik pada hari-hari ini, tapi dulu, pada pertengahan abad ke-19, ketika sebagian wilayah republik itu hendak memisahkan diri, seorang presiden yang kurus dan arif terpaksa mengirim tentara untuk memadamkan “pemberontakan” itu. Tapi bukan karena takut akan hilangnya sekian ribu kilometer persegi tanah. Ada yang lebih penting ketimbang keutuhan wilayah—yakni keutuhan sebuah cita-cita yang layak.

Maka, ketika sejumlah negara bagian di Selatan menjadi kekuatan separatis karena ingin melanjutkan perbudakan, Presiden Lincoln memutuskan: mereka harus dikalahkan. Sebuah perang pun meletus. Korban berjatuhan, amat dahsyat. Tapi Amerika Serikat waktu itu tahu untuk apa.

Kalimat pertama pidato Presiden Lincoln di Makam Pahlawan Gettysburg menjawab kenapa perang itu harus terjadi—dan itu tak jauh dari pertanyaan mengapa Amerika Serikat harus berdiri: ia adalah “sebuah bangsa baru, yang dibuahi dalam kemerdekaan, dan dipersembahkan untuk cita-cita bahwa semua manusia diciptakan sama”. Perbudakan jelas bertentangan dengan cita-cita itu, dan siapa yang akan mempertahankannya dengan kekerasan harus dikalahkan.

Di Indonesia belum terdengar alasan yang sejelas itu, tapi di Aceh, tentara telah dikirim. Perang berkobar. Korban jatuh di kedua belah pihak. Apa sebenarnya sebuah “Indonesia” yang hendak dipertahankan?

Jawabannya akan menentukan hidup kita kelak. Sebuah “Indonesia” yang masih bercita-cita atau sebuah “Indonesia” yang tanpa cita-cita? Sebuah “Indonesia” yang pandai bernegosiasi atau sebuah “Indonesia” yang bagaikan preman, yang menangguk untung dari kekerasan? Sebuah “Indonesia” yang percaya kepada hak-hak rakyat atau sebuah “Indonesia” yang sedang hendak menampik demokrasi? Sebuah “Indonesia” yang patut dibanggakan atau sebuah “Indonesia” yang bahkan oleh bangsanya sendiri berhenti diacuhkan?

Aceh memang sejumlah pertanyaan.

~Majalah Tempo, Edisi. 21/XXXII/21 – 27 Juli 2003~

About these ads

Komentar»

1. zaki - Januari 7, 2007

Saya heran kenapa di negara Indonesia ada orang sepintar anda. Dan kenapa orang sepintar anda bisa hidup di Indonesia. Anda termasuk makhluk langka di dalam sangkar NKRI. Tapi apakah anda akan bermetamorfosis seperti Gusdur seandainya misalnya suatu saat jadi presiden? salam dari anak Aceh.

2. budi setiawan - Juli 3, 2007

anda kepandaian bung,tp anda lupa teman…Indonesia bermacam macam,jd ap pendapat anda untuk menyatukan itu?tidak kah anda membaca sejarah Yugoslavia..mereka hancur,perang antar etnis,bayangkan kalau itu terjadi di Indonesia ini yang terdiri ratusan etnis,,teman teman kita yang ada di luar Jawa akan terbantai,jutaan kawan..belum lg rekan yang lain dari etnis yang minoritas,ribuan akn terusir kawan..terbunuh,,dan ternista,,,kenapa mempersoalkan NKRI? kenapa hendak bereksperimen bentuk negara lain?pikiran anda berbahaya…anda harus sadar bahwa pandangan anda melihat NKRI itu hanya dari satu sisi,ibarat anda melihat gajah dari belakang tampaknya gajah itu bulat,kerena anda dipantatinya,tapi kalau anda liat gajah dari depan gajah itu kecil dan panjang,karena anda hanya melihat belalainya saja…pikiran pintar semacam anda bagi sebagian orang merupakan pencerahan ..tapi bagi yang lainya itu semacam bom waktu,meledak…buam…hancur lebur…dan anda serta rekan2 pemikir lainnya palingan hanya bisa menulis dan mengkritik lagi aparat yang tidak becus…padahal ketidak becusan itu sebagian besar karena pembodohan pemikiran anda yang merasa paling benar…waspada kawan…kita satu bangsa,satu nusa dan satu bahasa…salam….

3. Ahmad - Juli 3, 2007

“Aku ini—tanganku kotor. Sampai ke siku. Telah kucelupkan ke dalam tahi dan darah.”

Machiavelli menasihati agar para penguasa mampu bertindak bagaikan hewan, bak rubah yang licik dan singa yang ganas. Sartre menampilkan Hoederer, sang Ketua Partai, untuk mengatakan bahwa yang suci murni hanyalah ”gagasan para rahib dan fakir”. Ia mengecam para intelektual yang menyerukan la pureté. ”Kalian, kaum intelektual, anarkis borjuis,” kata Hoederer, ”kalian pakai kesuci-murnian sebagai dalih untuk tak melakukan apa-apa! Tak berbuat apa pun, tinggal diam saja, merapatkan lengan ke tubuh, mengenakan sarung tangan!”

Peristiwa RMS dan OPM baru2 ini pasti akan membuat caping ini kembali hangat.

Saya hanya ingin bertanya apakah kesakralan NKRI lebih tinggi daripada Agama? Telah terbukti bahwa agama harus dikorbankan dalam setiap upaya untuk mempertahankan NKRI. Ingat berbagai tragedi kemanusiaan di Aceh, Papua, Timtim, dan mungkin nanti di Ambon, yang dilakukan oleh negara. Sedangkan dasar dari negara ini adalah pancasila yang berdasarkan ketuhanan yang maha esa. Mengapa bisa terjadi kontradiksi seperti ini?

Bisakah masa depan di bangun di atas masa lalu yang kelam seperti itu tanpa ada suatu akibat apapun?

Semoga Allah SWT menampakkan kekuasaanNya bukan hanya di akhirat kelak, tapi juga dalam kehidupan dunia yang hiruk pikuk ini, supaya orang2 yang belum kuat imannya tidak putus asa dan apatis terhadap kebenaran Ilahi. Amin

4. thesarong - Juli 5, 2007

@ Ahmad:
“…apakah kesakralan NKRI lebih tinggi daripada Agama?”

Berulang kali saya membaca penggalan kalimat itu, tapi saya tak menemukan titik terang. Bisakah ‘agama’ diletakkan bersebarangan dengan ‘negara’? Apa keduanya saling betentangan?

Tak percayakah Bung pada Kekuasaan-Nya? Perlukah Ia ‘tunduk’ kepada iman kita yang selalu ingin mencari-cari bukti? Dan, iman terhadap apa? Iman seperti yang Bung Ahmad punya? Bagaimana dengan iman si Fulan atau saya atau iman orang-orang lain yang bisa berbeda-beda? Siapa yang bisa mengklaim diri paling benar?

Ah! Agama akhirnya hanya akan jadi bangkai, darah yang mengering, dan kutukan…

indra - November 12, 2009

MEMANG NEGARA KITA INI TERDIRI DARI MULTI RAS MAUPUN AGAMA JADI TAK MUNGKIN UNTUK MENERAPKAN KEBIJAKAN SESUAI SALAH SATU AGAMA TERTENTU KEPADA NEGARA INI KERANA BANYAK SAUDARA-SAUDARA KITA YANG BERLAINAN AGAMA JADI MENURUT SAYA ADALAH LAKUKAN PEMERINTAHAN INI DENGAN BIJAKSANA DAN ADIL YANG SESUAI DENGAN YANG DIAJARKAN TUHAN/ALLAH SWT KEPADA SELURUH HAMBA-HAMBANYA SESUAI DENGAN AGAMA & KEPERCAYAANYA MASING-MASING YANG PADA DASARNYA MENGAJARKAN MENGENAI KEBAIKAN DAN KEBIJAKSANAAN “AGAMA SANGATLAH MULIA DAN LUHUR YANG TIDAK PANTAS UNTUK DIJADIKAN SARANA POLITIK YANG KOTOR MAKA HENDAKNYA AGAMA JANGAN DICAMPUR ADUKKAN DENGAN KEGIATAN POLITIK NAMUN KEGIATAN KEBIJAKAN POLITIK HARUS PERPEDOMAN DENGAN KEBIJAKAN DAN KEBAIKAN YANG DIAJARKAN OLEH AGAMA—-SEKIAN——

barmen lubis - November 3, 2010

@the sarong: Ah! Agama akhirnya hanya akan jadi bangkai, darah yang mengering, dan kutukan…

tidak klu anda dan teman2 rajin posting disini.

5. rakyat - Juli 8, 2007

Ya. Tanpa sadar kita telah menempatkan NKRI di atas segalanya. Di atas agama, di atas kemanusiaan, di atas moral, di atas iman kepada YME.

Apakah memang benar harus seperti itu. Atau jangan2 kita selama ini hanya menjadikan NKRI sebagai sarana untuk memenuhi nafsu dengan dalih kebangsaan atau nasionalisme.

indra - November 12, 2009

NKRI DAN AGAMA SANGATLAH TIDAK DAPAT DISAMAKAN AGAMA ITU TENTUNYA SANGAT LUHUR DAN HARUS SELALU DIPEGANG TEGUH KARENA ITU BERHUBUNGAN ANTARA MANUSIA DENGAN PENCIPTANYA,
SEDANGKAN NKRI ITU ADALAH ALAT PEMERSATU DAN SEBAGAI ALAT KEBANGGAN BANGSA INI DAN SEBAGAI ALAT KEBANGGAAN SELURUH PUTRA PUTRI INDONESIA JADI SANGATLAH BERBEDA.
AGAMA TIDAK BOLEH UNTUK DISOMBONGKAN ATAU DIBANGGA BANGGAKAN DENGAN ORANG LAIN,NAMUN HARUS TETAP KITA PEGANG TEGUH DAN HARUS KITA YAKINI ——-SEKIAN——

6. rakyat - Juli 8, 2007

Bagi kami bangsa Aceh, tah ada yang lebih indah daripada berdiri sendiri dan terlepas dari NKRI yang sangat2 nista ini.

indra - November 12, 2009

UNTUK SAUDARAKU RAKYAT ACEH,JANGANLAH KITA MENCACI ATAU BERNIAT UNTUK MEMISAHKAN DIRI DARI BANGSA INI,BANGSA KITA INI BANGSA YANG BESAR SAYANG SEKALI KALAU HANYA UNTUK DIHANCURKAN,KITA SEMUA SAMA YAITU SAMA PENDERITAAN KITA SEMUA JUGA SAMA YAITU SAMA SEBAGAI BAGIAN DARI BANGSA INI,JIKALAU PEMERINTAHAN YANG SALAH DIDALAM MENERAPKAN KEBIJAKAN MAUPUN MENJALANKAN PEMERINTAHAN MARILAH BERSAMA – KITA MERUBAH AGAR DAPAT MENJADI PEMERINTAHAN YANG LEBIH BAIK YANG DAPAT MENSEJAHTERAKAN RAKYAT INDONESIA DARI SABANG SAMPAI MARAUKE,JANGANLAH KITA MENYALAHKAN SAUDARA-SAUDARA KITA DENGAN MEMISAHKAN DIRI DARI BANGSA INI,NAMUN MARILAH KITA BERSATU UNTUK MEMPERBAIKI PEMERINTAHAN INI DEMIKIANLAH PESAN DARI SAUDARAMU SEBANGSA SETANAH AIR TANAH AIR INDONESIA

indra - November 12, 2009

BANGSA INI SANGATLAH BESAR NAMUN APALAH ARTINYA BANGSA INI TANPA ADANYA SALAH SATU DARI KALIAN, PUTRA PUTRI ACEH SANGATLAH DIPERLUKAN UNTUK KEMAJUAN BANGSA INI MAKA HENDAKNYA KALIAN JANGANLAH BERNIAT UNTUK BERPISAH DARI KAMI SAUDARAMU SESAMA BANGSA INDONESIA,KALIAN SANGATLAH BERARTI BAGI KAMI DAN BANGSA INI, BANGSA INDONESIA MEMBUTUHKAN KALIAN DALAM MEWUJUDKAN BANGSA YANG BESAR WAHAI SAUDARA TUAKU

7. sammuel - November 30, 2008

saya mohon supaya negara kesatuan replublik indonesia menjadi maju
dan tetap satu
ingat saja kepada bhineka tunggal ika

8. THATIK - April 27, 2009

KOK INDONESIA GAK PERNAH DAMAI YA?????????????????KOK SEMUANYA PAKE DUIT???????????????

indra - November 12, 2009

MARI KITA TURUT SERTA DENGAN MEMBANTU PEMERINTAH UNTUK MEMBENAHI DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI DENGAN CARA TIDAK MAU DISUAP,TIDAK MEMBERIKAN UANG DAMAI APABILA MENDAPAT MASALAH,DAN TIDAK MEMBERIKAN APAPUN BENTUKNYA UNTUK TUJUAN TERTENTU (MEMBERIKAN SOGOKAN)

9. ZARHA - Juli 17, 2009

KENPA KITA BANGSA KECIL SELALU MERAN YA ????????????????????@!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

BALAS

IKBAL - Juni 30, 2010

PIKIRIND AJA SENDIRI
GUE AJA BINGUNG

10. zarha - Juli 20, 2009

kenapa rakyat kecil kita menderita

indra - November 12, 2009

MARI DIMULAI DARI DIRI KITA DENGAN SEMANGAT UNTUK MAJU AGAR DAPAT MEMBANTU SAUDARA-SAUDARA KITA YANG SEDANG DALAM KESUSAHAN AGAR NANTINYA DAPAT MENYEDIAKAN LAPANGAN PERKERJAAN YANG LAYAK BUAT MEREKA DAN MENYEDIAKAN PENDIDIKAN BUAT ANAK CUCU BAGI BANGSA INDONESIA TERCINTA INI

11. Rizal - Juli 24, 2009

Sebelum menjelaskan yang ini dan itu… apakah semua mengerti dan memahami. Apakah negara kita ini NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) atau RI (Republik Indonesia).

Sampai saat ini saya belum melihat kejelasan dan ketegasan apakah NKRI atau RI.

12. wahyudi - September 17, 2009

^_^

HENDRA - Oktober 13, 2009

AH BIYASA AJA GITU

13. eduardo - Oktober 15, 2009

NKRI udah maju,,,

rakyatnya udah maju…

otaknya udah maju,,,

udah pandai berpikir,,,

udah tau mana yga baik dan benar,,

udah malu harus ribut karna agama,,etnis,,,yaahhh masalah ras ga zaman lagii,,

skarang,,,petinggi yang korupsi ini gimana,,,

rakyat mah uda siapp,,

skarang tergantung pemimpinnya,,,

BTULL???,,,<<

indra - November 12, 2009

SAYA SANGAT SETUJU MARI KITA BERSAMA MEMBANGUN BANGSA INI” INI ADALAH KESALAHAN PEMERINTAH BUKAN KESALAHAN BANGSA JADI YANG PATUT DISALAH KAN PEMERINTAH BUKAN BANGSA INDONESIA

14. wemmy al-fadhli - Oktober 26, 2009

beberapa taon silam seorang teman yg menolak wajib hadir dalam ibadah ritual 17 agustus, yg kini mungkin sudah gabung dgn grup teroris, pernah ketawa2 menceritakan kebodohannya: sewaktu sd pernah dengan berlinang air mata memberi hormat kpd foto presiden hajji muhammad suharto yg ditaruh bapaknya yg polisi di dinding rumahnya yg ternyata skrg kita baru tau:: tai!!

tampaknya kita memang harus “masa bodo” utk tetap “mencintai” negeri ini [di mulut] *** gita w (calon pejabat setingkat menteri): “birokrat indonesia itu bodoh, korup, dan jahat”

ini kabarnya dikutip media asing lha bagaimana purnawirawan pati tni es by yg kebelet ambisi internationale ituw perasaannya merecruit beliau utk pencari investor bagi ekonomie negara “kita” ini? entah bagaimana perasaan prajurit2 kita yang entah kapan perangnya pun jarang latihan (minim anggaran) tapi karena musti dijaga mesin dan onderdilnya tetap panas di barak2 batalion akhirnya jadi preman tukang palak/terima setoran (sebagaimana sejarah sebagian “oknum” cikal bakal pendiri institusinya terhadap) sebagian besar rakyat kecil “kita” yg kian melarat seiring pertumbuh2an ekonomi (di atas kertas, di tingkatan “atas”)

saya sendiri masi/juga bodo namun berusaha utk ga ikut2an (meski sebagai bagian masasarakat susulit) jemaat komunal kita. kita? lebih baik memfokuskan energi positif utk kegiatan praktis dan nyata: ibadah menumpuk harta (oya sy warga gempa di kota padang yoi)

namun bukan tak mungkin keadaan lebih baik akan terjadi. semoga ya

indra - November 12, 2009

BENAR LEBIH BAIK KITA MULAI DARI KITA SENDIRI UNTUK MAJU SEMOGA DIKEMUDIAN HARI APA YANG DICITA-CITAKAN UNTUK SELURUH RAKYAT INDONESIA DAPAT TERWUJUD DARI KEGIGIHAN KITA-KITA PUTRA-PUTRI INDONESIA UNTUK BERJUANG DEMI KEMAJUAN BANGSA DAN KEMAKMURAN RAKYAT INDONESIA DARI SABANG SAMPAI MARAUKE

IKBAL - Juni 30, 2010

AKU MAU INDONESIA DAMAI DENGAN NEGARA LAINNYA

BETUL,BETUL,BETUL

15. NOACK - Oktober 29, 2009

Saya tdk percaya NKRI kuat, malah sebaliknya. saya sudah bosan dgn ketidak damaian ini. ada PArtai politik yg mau menerapkan aturan agama tertentu di Negara pancasila ini. itu hanya membuat persatuan RI menjadi BUBAAAAAAAAAAAARRRRRRR.
dan wajar jika ada segelintir daerah ingin melepaskan diri dari sarangnya, dan membuat sarang yg baru daripd bergabung dgn NKRI yg hanya ngomong doank. saya sudah semakin paham masa depan bangsa ini.

Negara ini bukan hanya rentan gempa, kekacauan perang saudara, tp juga rentan bom.. dan bom lagi, hingga membom org2 yg tdk berdosa. saya ingin pergi.. jauh…,

Ada banyak yg berpendapat sama tentang pendapat saya. jauh lebih cerdik Malaysia menggoyang NKRI dgn maksud tertentu. Dulu saat mengusir penjajah kita tdk berbicara agama ini, agama itu. jika terus berbicara MAyoritas tdk lama lagi bangsa ini hancur lebur. titikkkkkkkkkkkkk

16. indra - November 12, 2009

Untuk semua saudara-saudara ku dari sabang sampai marauke,menurut pemikiran saya lebih baik kita bersatu dari pada terpecah belah (lihat Yugoslavia)dan hendaknya kita bersatu untuk bersama-sama memperjuangkan kemakmuran saudara-saudara kita disepenjuru indonesia dengan melakukan kontrol dan koreksi terhadap kinerja pemerintah tanpa ada pemikiran untuk berpisah,andai kata para elit politik gam tidak hanya membuat partai lokal namun membuat partai secara nasional itu menurut saya akan lebih baik kerena tidak hanya membantu rakyat aceh namun melainkan seluruh rakyat Indonesia dan itu mungkin sangat efektif untuk merubah dan membangun bangsa ini,pada saat ini kita butuh pemimpin yang adil dan dapat memimpin bangsa ini untuk keluar dari masalah bukan berusaha untuk saling memisahkan diri karena belum tentu dengan cara berpisah kita akan mendapati pemimpin yang bijak yang dapat membawa bangsa kejalan yang lebih baik yang dapat mensejahterakan rakyat.
Dan saya juga berharap agar kita semua putra & putri Indonesia dari sabang sampai marauke hendaknya mulailah tanamkan pada diri kita sifat optimis untuk maju agar dapat membantu saudara-saudara kita untuk maju bersama kita jangan hanya memiliki sifat seperti manusia yang hanya suka protest yang tidak ada gunanya mulailah bangkit pada diri kita sendiri agar dapat membantu teman dan saudara-saudara kita yang sedang dalam kesusahan saya berharap agar saudaraku dari sabang sampai marauke mengerti apa dari maksud tulisanku ini saya hanya berpesan pada saudara-saudara mulailah dari diri kita sendiri untuk maju agar dapat membantu saudara-saudara kita yang yang lain dan hilangkan memiliki pemikiran untuk berpisah karena perpisahan itu sangatlah menyakitkan,apabila pemerintahan yang salah pemerintahan yang harus dikoreksi jangan menyalahkan bangsa ini atau saudara kita yang lain dengan cara memisahkan diri karena pada dasarnya kita sama penderitaannya dibawah pemerintahan yang buruk bukan bangsa yang buruk.saya beri contoh apabila mobil dengan merk BMW dikendalikan oleh orang yang tidak bisa mengunakanya tentu akan tidak nyaman, namun bukan berarti kendaraanya yang buruk tapi kita harus ganti pengendaranya) saya yakin Saudara-saudaraku ini adalah putra putri bangsa yang tangguh dan berpotensi tinggi oleh karena itu semangatlah untuk membangun bangsa ini…… (Janganlah menyalahkan bangsamu jikalau pemerintahan yang salah tapi salahkan pemerintahannya yang mengatur bangsa ini)

17. indra - November 12, 2009

BANGSA INDONESIA ADALAH BANGSA YANG KUAT KARENA MEMILIKI ANDA SEMUA PUTRA PUTRI INDONESIA DARI SABANG SAMPAI MARAUKE, APALAH ARTINYA BANGSA INI TANPA ADANYA SALAH SATU DARI KALIAN DISISI BANGSA INI,JANGANLAH KITA PUTRA-PUTRI INDONESIA RELA UNTUK TERPECAH KARENA PERPECAHAN ITU DAPAT MENYEBABKAN KITA MENJADI BANGSA YANG KECIL YANG TIDAK DAPAT DIBANGAKAN KEMBALI………
1.SAYA SANGAT BANGGA KARENA SAYA MERUPAKAN SALAH SATU DARI JUTAAN PUTRA PUTRI BANGSA INDONESIA …..
2.SAYA BANGGA TERLAHIR KEDUNIA INI KARENA SAYA TERLAHIR MENJADI SALAH SATU DARI KALIAN OUTRA PUTRI INDONESIA DARI SABANG SAMPAI MARAUKE

JANGANLAH MENYALAHKAN BANGSA INI BILA YANG SALAH HANYA SEGELINTIR ORANG YANG GAGAL DIDALAM PEMERINTAHAN,NAMUN HENDAKNYA MARILAH BERSAMA MEMBANGUN PEMERINTAHAN INI AGAR LEBIH BAIK YANG DAPAT MENSEJAHTERAKAN SELURUH RAKYAT INDONESIA,
SATU PESAN TERAKHIR DARI SAYA UNTUK PARA PEMIMPIN – PEMIMPIN PEMBERONTAK UNTUK TUJUAN PEMISAHAN WILAYAH MARILAH KITA BERSATU UNTUK MEMPERBAIKI DAN MENGOREKSI PEMERINTAHAN INI AGAR DAPAT MEMBAWA BANGSA INDONESIA YANG BESAR INI MENJADI BANGSA INDONESIA YANG BESAR YANG DAPAT DISEGANI BANGSA LAIN YANG DAPAT MEMBERIKAN KESEJAHTERAAN RAKYATNYA DARI SABANG SAMPAI MARAUKE. HIDUP BANGSA KU,JAYALAH NEGERIKU,MAKMURLAH RAKYATKU,RAKYAT INDONESIA ——-THANKS———

18. Maren Kitatau - November 12, 2009

Sejauh kuasa dunia adalah cita-cita luhur,
Sejauh itu pula segalanya digoyang,
Termasuk NKRI.

Salam Damai!

19. zul azmi sibuea - November 13, 2009

dari mana datangnya :
1. wilayah, itu terma arab dari akar auliya, wali, uli , ulayat yang kira-kira berarti sebuah tempat dimana kita bisa aman, berlindung, terwakili, terpresentasi – tempat dimana kita aman, terpimpin, teratur.
2. milik, juga terma arab yang artinya kuasa, punya, bisa di-utilize, dimanfaatkan, dijual, disewakan kalau itu benda terlihat atau tidak terlihat atau jasa (economic term), tapi sayangnya semua statusnya adalah pinjaman karena ada yang Maha Memiliki, ada yang Maha Berkuasa. ini memberi gamabaran relativitas milik.
3. indonesia, terma bentukan awal perjuangan kemerdekaan, sebelumnya dinamakan hindi, hindia belanda sebelumnya lagi pecah-pecah mataram, sriwijaya, dll. kemudian terma itu didokumentasi dalam proklamasi dan uud-45. jadi yang dimaksud dengan indonesia adalah republik yang merdeka tahun 45,menurut dokument proklamasi itu.
4. sisanya seperti NKRI adalah terma politik, yang diintroduksi agar republik tidak federal, negara republik indonesia yang berdasarkan pancasila, ini juga terma politik agar fokus pembangunan tidak digrecokin oleh pertentangan ideologi.

20. Ibra - November 13, 2009

Mencintai Negara harus didalam hati, bukan hanya dalam ucapan! Satu-satunya kekuasaan terbesar dewasa ini adalah perubahan. Perubahan mempunyai kekuatan dasyat. Oleh karena itu, satu-satunya hal yang sembrono dan tidak bisa dipertanggung jawabkan untuk masa depan, adalah jika kita tetap melakukan hal yang sama seperti sepuluh, dua puluh, lima puluh, atau tiga ratus lima puluh tahun yang lalu. Dengan demikian, bisa dibayangkan, tak ada garis kebijakan yang lebih berbahaya daripada konservatisme. Karena tak akan pernah ada perubahan sama sekali.

21. Maren Kitatau - November 13, 2009

Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yg tetap. Semuanya berubah dan harus. Tidak oleh manusia, alam akan merubahnya. Ilmu lempeng tektonik meyakinkan bahwa (lih peta) dulu Amerika Latin dan Afrika Barat adalah satu. Konon Lombok itu hanyut dari Selandia Baru, flora dan faunanya mirip dan sangat beda dari Bali.

Yg hingga kini tak banyak berubah ialah hasrat manusia yg selalu ingin menguasai segalanya secara sendiri atau berkelompok. Sejarah dunia berulang kali dan akan lagi dan lagi mencatatnya. Kuasa dunia itu menjanjikan sesuatu !?

Salam Damai!

22. wemmy al-fadhli - Desember 2, 2009

@ indra NKRE:
semangatmu bung, menggetarkan!!

IKBAL - Juni 30, 2010

NAPA YAAAAAAAAAAAAAAAAAA………….
INDONESIA HARUS ADA KORUPSI

23. bayu - Desember 3, 2009

gajebo. perang di aceh aneh!

24. wemtje - Januari 4, 2010

tetap semangat…

25. anak bangsa - September 4, 2010

saya tau keresahan saudaraku di aceh……di NKRI ini sdh tidak ada kedaulatan dan pernyataan “kesatuan” bukan persatuan telaah menghianati pancasila sebagai ideologi yg ideal untuk indonesia.
mengapa??
di NKRI ini terjadi ketidakadiln regional. ada 1 pulau yg di anak emaskan indonesia. sumber daya alam di pulau lain dikeruk hanya untuk membangun 1 pulau.
aceh punya SDA gas, minyak, namun hasilnya untuk membangun gedung di luar aceh. apa ini di sebut adil???

26. -Adri Rumbouw- - Oktober 9, 2010

Kita butuh Pimpinan yang tegas, berpikir cepat dan peka terhadap masalah rakyat kecil.

Tidak hanya sekedar sibuk memperbaiki citra dirinya saja..

Lucu sekali …!!!
Keputusan untuk membatalkan keberangkatannya ke Belanda dapat dibuat dalam waktu yang tidak lebih dari satu jam. Tetapi Bencana di Wasior, Papua, harus menunggu perenungan sang Raja sampai 2 hari….
Maaf itu hanya contoh kecil yang mau menggambarkan ketidakadilan. Sehingga wajar dong.. kalau rakyat mempunyai sikap alternatif untuk menentukan masa depannya…

27. zaki - Oktober 20, 2010

Kesimpulannya adalah ………….

28. tengkuputeh - Oktober 24, 2010

Budaya kita harus berubah guna menjadi bangsa yang lebih beradab, melalui prilaku bukan sekedar hanya sila kedua…

29. jangkrik - Desember 29, 2010

siip dah artikelnya,makasih dah berbagi :D
STOP KORUPSI dan SUAP di Indonesia

30. janjanismyname - September 26, 2011

kapan ya indonesia bisa damai

jelmoli meubles

31. dandi - Juli 23, 2013

ormas FPI di bubar kan aja krena uda bnyk mslh nya dgn kekerasan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 351 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: