Bandung Bondowoso Oktober 13, 2006
Posted by anick in Kisah, Perempuan, Politik, Tokoh.trackback
BANDUNG Bondowoso menyusun batu dan menegakkan candi, beratus-ratus, sampai lewat tengah malam. Aneh, ia tak merasa lelah, tapi tiba-tiba ia dengar suara-suara pagi datang dari jauh.
Ia tak melihat warna fajar, tapi ia tahu ia telah gagal. Ia tak berhasil menyelesaikan 1.000 bangunan dalam waktu yang ditentukan.
Legenda Loro Jonggrang—yang menjelaskan asal-usul himpunan candi yang mempesona di Prambanan itu—memang sebuah cerita kegagalan.
Syahdan, Bandung Bondowoso yang menang perang berhasrat memperistrikan Jonggrang, putri mendiang Raja Baka yang telah dibunuhnya. Gadis itu ketakutan. Kerajaan ayahnya telah jatuh ke tangan kekuasaan Pengging—dan itu berarti ia bukan lagi orang yang merdeka. Tak mungkin ia menampik kehendak seorang lelaki yang kini dipertuan.
Tapi ia menemukan jalan lepas. Diajukannya syarat: ia akan mau menerima pinangan pendekar itu bila 1.000 candi ditegakkan dalam satu malam.
Bandung Bondowoso setuju.
Kesanggupan itu memang mengherankan, tapi di sini agaknya legenda Loro Jonggrang mengandung sebuah teks lain, yang ingin bercerita bahwa tiap kemenangan selalu mengandung kekalahan. Yang absolut tak ada di dunia. Di Prambanan dan di luarnya, perang tak akan cukup, pembunuhan tak pernah memadai, dan ada yang minus dalam tiap takhta.
Itu sebabnya kita tak tahu apa arti penaklukan: Loro Jonggrang ternyata bukan bagian dari benda jarahan. Ia merdeka. Ia bisa menuntut dengan satu syarat yang sulit, bahkan sebenarnya mustahil.
Bahwa Bandung Bondowoso, sang pemenang pembela Pengging, menerima syarat itu menunjukkan ada ambivalensi dalam hubungan kedua manusia itu. Lelaki itu berkuasa tapi perempuan itu terlepas dari hubungan memiliki-dan-dimiliki. Bahkan Bandung membiarkan dirinya masuk ke angan-angan Jonggrang. Orang bisa mengatakan bahwa yang diniatkan tumbuh dalam hubungan itu adalah cinta, dan cinta—dengan atau tanpa membaca kalimat Thomas Kempis pada abad ke-15—tak merasakan beban, tak berpikir tentang kesulitan. Cinta bahkan ”mencoba apa yang melebihi kekuatan diri”, dan ”tak minta dimaafkan di hadapan kemustahilan”.
Tapi bukan sikap angkuhkah yang mendorong Bandung menerima syarat itu? Katakanlah ini yang terjadi: sang perkasa yang telah berhasil membinasakan Raja Baka itu merasa malu untuk menyatakan tak sanggup membangun 1.000 candi dalam satu malam. Tapi keangkuhan dan rasa malu mengandung pengakuan bahwa ada orang lain—dan orang lain itu hadir dalam posisi untuk menilai dan menghakimi. Di sini keperkasaan juga menemui batasnya. Bandung Bondowoso tak dapat menafikan yang lain yang tegak di luar itu—yang lain yang memandang ke arahnya.
Saya bayangkan ia Loro Jonggrang. Saya bayangkan pada sebuah senja ia berkata kepada peminangnya: ”Sebenarnya saya takjub. Tuan tak memperlakukan saya sebagai jarahan perang. Bagaimana ini mungkin?”
”Ada hal yang mustahil yang membuat kita memilih dan berbuat,” jawab Bandung Bondowoso.
”Untuk apa?”
Bandung Bondowoso tak menjawab. Ia hanya melipat lengannya dan berjalan kembali ke markas pasukan, melewati deretan panji Pengging yang ditutupi gelap. Sejak ia menemui Loro Jonggrang—dan melihat wajahnya yang ketakutan tapi tak merunduk, mendengar ucapannya yang gemetar tapi fasih—ia tahu ada yang sia-sia dalam tiap kemenangan. Apa yang didapat para Pandawa setelah membinasakan Kurawa dan menguasai Astina dan Amarta? Seluruh generasi kedua keluarga Pandu yang seharusnya melanjutkan dinasti itu tewas di medan perang. Apa yang dicapai Rama setelah merebut Sita kembali? Ia tak yakin perempuan itu, yang bertahun-tahun disekap di Istana Alengka, seorang istri yang belum dinodai.
Kebanggaan diri dan kejayaan—mungkin itulah yang menggerakkan perang. Perang memang mengubah sejarah. Tapi, setelah itu, sejarah mengecoh para pendekar, dan lahir penulis tragedi.
”Jika saya mohon Tuan membangun 1.000 candi di sekitar bukit Prambanan itu, akankah Tuan memenuhinya?” tanya Jonggrang.
”Saya akan gentar. Tapi saya akan membangunnya.”
”Dalam satu malam?”
”Ada hal yang mustahil yang menyebabkan kita berbuat.”
Seseorang pernah mengatakan, manusia membuat sejarah karena dilecut yang mustahil: kemenangan, kejayaan, keadilan, dan hal-hal lain yang dicita-citakan sebagai alternatif bagi hidup yang tak pernah penuh.
Sebuah wilayah dengan seribu candi yang didirikan dalam satu malam adalah satu dari deretan angan-angan itu. Bahasa mencoba merumuskannya, dan itu sebabnya kata-kata tak sepenuhnya transparan. Tak pernah jelas apa yang sebenarnya ditandai dengan kata ”seribu”. Percakapan sehari-hari, retorika resmi dan nyanyian populer, (”tinggi gunung 1.000 janji”, kata sebuah lagu tahun 1950-an), menyebut angka itu lebih sebagai sebuah kiasan yang hendak mengesankan jumlah yang ”tak terhingga”.
Bandung Bondowoso agaknya tahu akan hal itu: ia harus siap menjangkau yang tak terhingga. Ketika sore mulai merayap, ia berangkat meninggalkan markas, sendiri. Konon di bukit itu para roh halus membantunya mengangkat batu dari Merbabu, menyusun dan memahatnya dengan relief yang menakjubkan.
Waktu pun berjalan, tapi apa yang membatasi ”malam” dengan ”pagi”? Fajar yang merekah, cicit burung di hutan, detakan lesung perempuan tani, atau asap dapur di balik gunuk? Atau sebuah kesadaran akan batas—yang mengingatkan bahwa yang ”tak terbatas” selalu luput?
Tapi siapa yang mengatakan kisah Bandung Bondowoso hanyalah cerita kesia-siaan tak akan memahami bahwa yang terbatas juga punya daya gugah dan mampu menyentuh hati. Ketika ia tahu ia gagal menyelesaikan 1.000 candi—dan gagal pula cintanya kepada Jonggrang—Bandung Bondowoso pergi ke belukar dan memahat sebuah patung. Ia ingin mengenang perempuan itu.
Patung itu: sebuah ikhtiar menggapai yang indah. Ia bukan keindahan itu sendiri, tapi tetap berharga hingga hari ini.
~Majalah Tempo Edisi. 35/XXXIV/13 – 19 Oktober 2006~



tulisan ini mengajari aku arti menerima kekalahan. kehilangan anak, bagiku awalnya adalah sebuah kekalahan. tetapi, aku belajar di sini tentang merayakan sebuah kekalahan; sebuah kerapuhan. karena, dalam hidup ini selalu ada yang tak terbatas yang selalu luput. aku ingat, ini yang disebut Lacan dengan “le riel”. Indah sekali mas Goen menggambarkan kerapuhan ini. Trims.
selalu ada yang luput, selalu ada yg kurang. ada luka tak tersembuhkan……, kembali kepada the real adalah kemustahilan, tapi there is the creative function of the wrod (ecrit)
Saya tidak tahu. Apakah yang dimaksud Kang GM adalah penyerahan total terhadap sebuah kekalahan ataukah kekalahan itu sebagai pelecut untuk meraih kemenangan? Disadari, setiap agungnya pencapaian peradaban manusia selalu dilatarbelakangi kekecewaan (kekalahan). Revolusi di setiap catatan sejarah juga dimulai dari kekalahan satu pihak.
Oh…, barangkali ini yang dinamakan roda kehidupan…….
Ya, hal ini mengingatkan saya pada celetuk anak muda masa kini,
bila cinta tak harus memiliki [bentu fisik]
bila cinta itu buta [kerasionalan]
bila cinta itu penuh pengorbanan [dan segalanya]
bila cinta itu memang memabukkan [otak]
cinta itu bergantung kita …
yo ngono wae lah
klo mNuRUt gW pRibadi cRita iNi MeMbeRi iNspirasi baGwa kEkalaHan BukanLah sWtu HaL yaNg meMbuat Kita HarUs TerpUrUk daN jatUh dalaM jUraNg Yang saMa daN daLaM lOroNg yaNg kelaM..
manUsia iTu ga ada Yg seMpuRana..kekuatan yg kiTa miliki itu terbatas yaNg Tak Terbatas adalaH kekUasaan allah, jd sElagi lOe [peRCaya atas kEkUasaanNya maka yakiNlah bahwa dri KaliaN mampu baNgkit Dari kHidUpan yang kaliaN anGgap KaCau daN braNtakan.kaRna gW peRcaya slagi Qt maU berUsaha aLlaH paSti MaU MnuntUn QT keMbali ke jLaN yg beNar..kaRna allah Maha pengaSiH lagI MaHa peNyayaNg.
MuNgkiN apa Yang KiTa TuLis TeRdeNgar sOk,,kaRna TeRlalU meNgagUngkan NaMa Mu ya ROBB..
tapi yang kaMi peRCaya baHwa eNgkaU adaLah ZaT tUNNgaL yaNg TiaDa TaRa DaN t!ada HeNti sEperti semua yang eNgkau cipTakan baik di dUNia,akHirat maUpuN di aLaM baka..Karna HaNya kekuasaaNmOe YaMg tak TerbeNdUng niLaiNya..aMieN…
[...] bondowoso MuNgkiN apa Yang KiTa TuLis TeRdeNgar sOk,,kaRna TeRlalU meNgagUngkan NaMa Mu ya ROBB.. tapi yang kaMi peRCaya baHwa eNgkaU adaLah ZaT tUNNgaL yaNg TiaDa TaRa DaN t!ada HeNti sEperti semua yang eNgkau cipTakan baik di dUNia,akHirat … Read more about Komentar pada Bandung Bondowoso oleh aiLaNza [...]
It`s OK
bandung Bondowosso hanya sebuah kisah, mungkin terilhami oleh kisah 1001 malam Arabia. Kisah memang ada maknanya, kalau di kisah saduran BB ini sebenarnya menunjukkan keterbatasan kita sendiri sebagai manusia. Meskipun menang perang atau bisa melakukan apa saja, tapi tetap saja kemampuan manusia ada batasnya. BB hanya tamsil tentang nafsu manusia yang tak ada habisnya sampai-sampai sombong bahwa manusia ya manusia, kemampuannya terbatas. Kisah BB mirip bgt dengan kisah Sangkuriang, sama-sama tokohnya tak sanggup menyelesaikan tugas dalam waktu semalem. Ah, sehari emang 1000 tahun kata kitab AQ, jadi hidup jalani saja dengan sadar dan penuh hikmah, jangan serakah, tamak dan lalai sampai-sampai mengabaikan keseimbangan. Ada pengajaran dalam kisah BB maupun Sangkuriang bagi masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di Jawa supaya memperhatikan keseimbangan alam (Ibu Pertiwi, tokoh wanita di kisah BB maupun Sangkuriang). Jika tidak ya begitulah yang terjadi, longsor dimana-mana, banjir, ada gempa panik, ada gunung meletuis, bukannya sadar dan taubat eh malah jadi syirik….apa kata dunia karakter manusia Indonesia yang nafsunya gede dan suka melampaui batas sebenarnya telah dikenal oleh pujangga pembuat kisah Sangkuriang maupun BB sejak zaman baheula. Dan itu semua tak berbah sampai hari ini…
bondowoso tunjukkan prestasimu di bidang ilmu pengetahuan
bandung needs a reformation in morality. i think.
videonya mana!
videonya mana! asu
trims,telah memberi sebuah perbendaharaan makna legenda dan wawasan tentang tirani budaya alam pikir……..
meskipun bandung bondowoso dinyatakan kalah tapi semangat dan seni yang megaliri jiwa dan darahnya shg tanpa disadari antara cinta,ungkapan hati yang menyatu dengan ide untuk membuat karya seni telah membawanya ke alam bawah sadar atas kegaguman dan nafsu terhadap sosok roro jonggrang…..bandung bondowoso adalah panji semangat didunia arsitek dan sipil di dunia modern…..bagi saya adalah sebuah kemenangan karena ia adalah salah satu tokoh IDOLA SAYA
Bandung Bondowoso adalah sebuah kisah yang penuh makna.
Keinginan manusia tak terbatas.Kadangkala kita berfikir tanpa berpijak dibumi.Kepuasan batiniah yang tak terpenuhi.Kita merasa asing melihat sosok di depan cermin.Sesuatu yang entah datangnya dari mana,tujuannya kemana. Jika kita bertanya apapun ia tak kan menjawab, hanya membisu. Cermin itu memang harus dihancurkan leyap dan menghilang. Akhirnya segala masalah selesai sudah.
Saya kira ilmu Bandung Bondowoso Werkudara dan Anoman mirip dengan cerita Zarathustra F.Nietzie tentang metamorforsis .Bercerita tentang unta yang bangga pada dirinya sendiri karena sanggup membawa beban yang banyak dipundaknya. Unta itu akhirnya bertemu dengan singa sang pemalas yang ditakuti dan dihormati diwilayah kekuasaanya. Pada akhirnya unta ingin menjadi singa pemalas yang ditakuti. ia malu setelah sadar ia hanyalah pemikul beban yang tidak dihormati. Agak sama dengan ilmu Bandung Bondowoso Werkudoro. Dengan ilmu itu Werkudara bisa memindahkan gunung yang menghambat perjalannya.Anoman menggunakan ilmu Bandung Bandowoso menindihi jasad Dasamuka dengan sebuah gunung. Werkudoro konsisten dengan prinsipnya memikul beban saudara-saudaranya setelah ditinggal Pandu Dewanata. Werkudara tidak iri pada Punthadewa yang dihormati dalam singgasana kerajaanya. Hanya orang yang kuat beriktiar yang pantas di beri ilmu Bandung Bondowoso agar mudah untuk memikul beban saudara-saudaranya.
Benar sekali: setiap kemenangan mengandung kekalahan
nice article…
Bali Page – Island of Bali
Indonesia Page – All About Indonesia