<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Mall</title>
	<atom:link href="http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/</link>
	<description>Bahasa &#124; Rasa &#124; Makna</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Dec 2009 02:55:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Brahmachari</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-6857</link>
		<dc:creator>Brahmachari</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 10:17:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-6857</guid>
		<description>@ Kang Udin:
Haruskah kebahagiaan &quot;distandardisasi&quot;? pernahkah berpikir bahwa hidup &quot;kekurangan&quot; adalah suatu pilihan juga? mestikah kita menjustifikasi seorang rahib/bhiksu/fakir/siapapun yang memang sengaja hidup seperti itu adalah orang yang tidak bahagia?

-seorang &#039;rahib&#039; yg hidup di tengah2 masyarakat-</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Kang Udin:<br />
Haruskah kebahagiaan &#8220;distandardisasi&#8221;? pernahkah berpikir bahwa hidup &#8220;kekurangan&#8221; adalah suatu pilihan juga? mestikah kita menjustifikasi seorang rahib/bhiksu/fakir/siapapun yang memang sengaja hidup seperti itu adalah orang yang tidak bahagia?</p>
<p>-seorang &#8216;rahib&#8217; yg hidup di tengah2 masyarakat-</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: audie</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-6570</link>
		<dc:creator>audie</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 May 2008 04:23:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-6570</guid>
		<description>terlalu sulit,terlalu sulit memang...untuk orang lain,
bahkan untuk diri sendiri.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terlalu sulit,terlalu sulit memang&#8230;untuk orang lain,<br />
bahkan untuk diri sendiri.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Andria</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-6353</link>
		<dc:creator>Andria</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 11:20:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-6353</guid>
		<description>@Udin Batang 
GM udah banyak bermanfaat kok mas untuk orang banyak...GM bukan superman mas..terlalu sulit-terlalu sulit!!..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Udin Batang<br />
GM udah banyak bermanfaat kok mas untuk orang banyak&#8230;GM bukan superman mas..terlalu sulit-terlalu sulit!!..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: faiz</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-5915</link>
		<dc:creator>faiz</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 23:27:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-5915</guid>
		<description>sebauah dunia baru kah Mall?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sebauah dunia baru kah Mall?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: mone</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-5633</link>
		<dc:creator>mone</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Nov 2007 08:32:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-5633</guid>
		<description>yeahhh...memang,benar-benar sulit....

meski, kadang menjadi sangat sedih dengan hal-hal semacam itu: ketidak adilan, bumi yang rusak, panas yang gak karuan, etc...

kadang berpikir mengenai solusi, tapi sekali lagi, banyak dari kita takut keluar dari kemapanan yang telah kita capai.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yeahhh&#8230;memang,benar-benar sulit&#8230;.</p>
<p>meski, kadang menjadi sangat sedih dengan hal-hal semacam itu: ketidak adilan, bumi yang rusak, panas yang gak karuan, etc&#8230;</p>
<p>kadang berpikir mengenai solusi, tapi sekali lagi, banyak dari kita takut keluar dari kemapanan yang telah kita capai.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: yuli ernawati</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4915</link>
		<dc:creator>yuli ernawati</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 06:15:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4915</guid>
		<description>&quot;terlalu sulit dan terlalu mengerikan ....&quot;
membayangkan 25 tahun ke depam anak saya baru berumur 28 tahun. dia harus benar-benar bergerak dan berjuang untuk mempertahankan hidupnya.
tapi dengan membaca tulisan ini mengingatkan saya untuk memberikan yang terbaik buat anak saya supaya kelak dia tetap sanggup bertahan dan juga mempunyai kenangan yang indah tentang masa lalunya meski lahan bermainnya sudah habis dijadikan mall-mall....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;terlalu sulit dan terlalu mengerikan &#8230;.&#8221;<br />
membayangkan 25 tahun ke depam anak saya baru berumur 28 tahun. dia harus benar-benar bergerak dan berjuang untuk mempertahankan hidupnya.<br />
tapi dengan membaca tulisan ini mengingatkan saya untuk memberikan yang terbaik buat anak saya supaya kelak dia tetap sanggup bertahan dan juga mempunyai kenangan yang indah tentang masa lalunya meski lahan bermainnya sudah habis dijadikan mall-mall&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: chalid</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4788</link>
		<dc:creator>chalid</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 13:23:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4788</guid>
		<description>satu lagi prosa reflektif yang indah; khususnya mengenai surga..
&quot;..bahwa hasrat menjadi tidak relevan lagi ketika semuanya terpenuhi&quot; 

.. frase itu menampar semua orang yang berfikir tentang satu finalitas kenikmatan, yang sungguh tidak pernah ada;
sebab kenikmatan itu datang dalam detik pemuasan yang memupus rasa penasaran akan penantian, 
dan ketika masa penantian itu semakin pendek jedanya, atau bahkan tidak relevan lagi, 

...lalu apa yang tersisa untuk disebut sebagai &quot;nikmat&quot;?

...what a thought :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>satu lagi prosa reflektif yang indah; khususnya mengenai surga..<br />
&#8220;..bahwa hasrat menjadi tidak relevan lagi ketika semuanya terpenuhi&#8221; </p>
<p>.. frase itu menampar semua orang yang berfikir tentang satu finalitas kenikmatan, yang sungguh tidak pernah ada;<br />
sebab kenikmatan itu datang dalam detik pemuasan yang memupus rasa penasaran akan penantian,<br />
dan ketika masa penantian itu semakin pendek jedanya, atau bahkan tidak relevan lagi, </p>
<p>&#8230;lalu apa yang tersisa untuk disebut sebagai &#8220;nikmat&#8221;?</p>
<p>&#8230;what a thought <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: GM dan positif thinking &#171; environmentalist community</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4589</link>
		<dc:creator>GM dan positif thinking &#171; environmentalist community</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 May 2007 12:28:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4589</guid>
		<description>[...] menulis tentang isu besar, pemanasan global.  Dari sudut pandang seorang GM tentunya. Juga dengan dengan gaya berceritanya yang mengalir [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] menulis tentang isu besar, pemanasan global.  Dari sudut pandang seorang GM tentunya. Juga dengan dengan gaya berceritanya yang mengalir [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Udin Batang</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4586</link>
		<dc:creator>Udin Batang</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 May 2007 04:12:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4586</guid>
		<description>Bung GM, seandainya saya diberi kolom khusus seperti Catatan Pinggir seperti Anda, mungkin nasib saya tidak sepedih dan sepenat ini. Atau sekali waktu rubrik yang selama ini Anda kuasai itu dibiarkan kosong dan siapapun diberi kebebasan untuk mengisinya, mungkin sekali waktu saya akan mengirim tulisan ke rubrik itu, meskipun saya juga tidak yakin tulisan saya akan dimuat (ini tergantung dari selera dan subjektivitas redaktur). Saya bisa bercerita tentang bagaimana selama ini berjuang menggapai cita-cita hidup untuk mempertahankan desah napas, bisa makan saja sudah alhamdulillah, seperti cita-cita kebanyakan orang miskin. Sangat sederhana bukan?
Sampai sekarang Bung. Rumah saya masih remang-remang. Belum bisa pasang listrik sendiri. Di rumah saya hanya berisi dua bolam masing-masing 5 watt, itupun kalau jam 20.00 ke atas yang satu dimatikan demi efisiensi. Pasalnya, strum listrik masih nyalur milik tetangga sebelah. Jadi sangat jauh dari gemerlap lampu di Mall seperti yang Anda ungkap dalam Catatan Pinggir.
Ini realitas. Bukan hanya bayang-bayang. Bukan pula ungkapan ngarang. Dan apa yang saya ceritakan itu hanyalah sebagian dari penggalan nasib yang saya alami. Hanya ketegaran yang mampu membuat saya bisa bertahan. 
Saya percaya, Anda selama ini selalu berjuang mengkritisi keadaan. Tetapi barangkali masih ada sesuatu yang luput dari perhatian Anda sendiri. Pernahkah Anda mengkritisi keadaan Anda sendiri, bagaimana Anda mengelola potensi untuk bisa menolong orang lain? Katakanlah menyisihkan sebagian kekayaan Anda untuk membahagiakan orang yang butuh pertolongan?
Saya tahu, Anda berjuang dalam lingkup pemikiran. Begitu banyak ide-ide yang Anda lempar ke publik dan sebagian menyusup ke otak generasi masa kini. Anda mengajarkan kepada banyak orang agar memiliki jiwa memberontak, mendorong orang untuk selalu gelisah memikirkan keadaan sekeliling.
Di daerah saya masih banyak orang hidup susah. Bahkan terpaksa makan nasi aking lantaran tak mampu membeli beras. Mereka menempati gubuk reyot dan lapuk dimakan usia. Mereka dihinggapi penyakit berbahaya, tetapi merasa rikuh untuk berobat ke puskesmas atau Rumah Sakit, meskipun ada hak berobat secara gratis. Mereka enggan melakukannya karena trauma pada perlakuan petugas kesehatan yang memandang sinis orang miskin yang datang berobat.
Tetapi saya tak bisa menolong mereka karena keadaan saya tak jauh dari mereka. Ini ketimpangan Bung. Sudah saatnya Anda berjuang dalam tataran fisik, langsung terjun ke lapangan menyantuni mereka. Sisihkan sebagian materi Anda untuk menolong mereka.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung GM, seandainya saya diberi kolom khusus seperti Catatan Pinggir seperti Anda, mungkin nasib saya tidak sepedih dan sepenat ini. Atau sekali waktu rubrik yang selama ini Anda kuasai itu dibiarkan kosong dan siapapun diberi kebebasan untuk mengisinya, mungkin sekali waktu saya akan mengirim tulisan ke rubrik itu, meskipun saya juga tidak yakin tulisan saya akan dimuat (ini tergantung dari selera dan subjektivitas redaktur). Saya bisa bercerita tentang bagaimana selama ini berjuang menggapai cita-cita hidup untuk mempertahankan desah napas, bisa makan saja sudah alhamdulillah, seperti cita-cita kebanyakan orang miskin. Sangat sederhana bukan?<br />
Sampai sekarang Bung. Rumah saya masih remang-remang. Belum bisa pasang listrik sendiri. Di rumah saya hanya berisi dua bolam masing-masing 5 watt, itupun kalau jam 20.00 ke atas yang satu dimatikan demi efisiensi. Pasalnya, strum listrik masih nyalur milik tetangga sebelah. Jadi sangat jauh dari gemerlap lampu di Mall seperti yang Anda ungkap dalam Catatan Pinggir.<br />
Ini realitas. Bukan hanya bayang-bayang. Bukan pula ungkapan ngarang. Dan apa yang saya ceritakan itu hanyalah sebagian dari penggalan nasib yang saya alami. Hanya ketegaran yang mampu membuat saya bisa bertahan.<br />
Saya percaya, Anda selama ini selalu berjuang mengkritisi keadaan. Tetapi barangkali masih ada sesuatu yang luput dari perhatian Anda sendiri. Pernahkah Anda mengkritisi keadaan Anda sendiri, bagaimana Anda mengelola potensi untuk bisa menolong orang lain? Katakanlah menyisihkan sebagian kekayaan Anda untuk membahagiakan orang yang butuh pertolongan?<br />
Saya tahu, Anda berjuang dalam lingkup pemikiran. Begitu banyak ide-ide yang Anda lempar ke publik dan sebagian menyusup ke otak generasi masa kini. Anda mengajarkan kepada banyak orang agar memiliki jiwa memberontak, mendorong orang untuk selalu gelisah memikirkan keadaan sekeliling.<br />
Di daerah saya masih banyak orang hidup susah. Bahkan terpaksa makan nasi aking lantaran tak mampu membeli beras. Mereka menempati gubuk reyot dan lapuk dimakan usia. Mereka dihinggapi penyakit berbahaya, tetapi merasa rikuh untuk berobat ke puskesmas atau Rumah Sakit, meskipun ada hak berobat secara gratis. Mereka enggan melakukannya karena trauma pada perlakuan petugas kesehatan yang memandang sinis orang miskin yang datang berobat.<br />
Tetapi saya tak bisa menolong mereka karena keadaan saya tak jauh dari mereka. Ini ketimpangan Bung. Sudah saatnya Anda berjuang dalam tataran fisik, langsung terjun ke lapangan menyantuni mereka. Sisihkan sebagian materi Anda untuk menolong mereka.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Zaki</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4570</link>
		<dc:creator>Zaki</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 May 2007 03:20:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4570</guid>
		<description>Bandingkan juga bencana banjir yang di akibatkan oleh illegal logging. Siapa yang mengambil manfaat dari illegal logging dan siapa yang menderita akibat banjirnya. Dan semua ini akan belangsung terus sampai............</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bandingkan juga bencana banjir yang di akibatkan oleh illegal logging. Siapa yang mengambil manfaat dari illegal logging dan siapa yang menderita akibat banjirnya. Dan semua ini akan belangsung terus sampai&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: heri limbung</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4566</link>
		<dc:creator>heri limbung</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 May 2007 08:50:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4566</guid>
		<description>soal pertentangan,  di indonesia hal ini sering terjadi. saya tinggal di di kalimantan barat, daerah yang sangat jauh dari pusat indonesia. di sini listrik hampir tiap hari mati, jalan banyak yang rusak, buta huruf di mana-mana, banyak sekolah rubuh. padahal kalbar pernah menjadi penyumbang devisa sangat besar bagi indonesia. dulu hutan kalbar yang lebat ditebangi untuk kemudian diangkut ke Jakarta. hutan gundul dan kalbar tak dapat apa-apa. itulah ketimpangan. bandingkan bagaimana konsumsi energi antara jakarta dan kalbar. bandingkan juga bagaimana kesejahteraannya. bandingkan bagaimana tingkat pendidikannya. bandingkan bandingkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>soal pertentangan,  di indonesia hal ini sering terjadi. saya tinggal di di kalimantan barat, daerah yang sangat jauh dari pusat indonesia. di sini listrik hampir tiap hari mati, jalan banyak yang rusak, buta huruf di mana-mana, banyak sekolah rubuh. padahal kalbar pernah menjadi penyumbang devisa sangat besar bagi indonesia. dulu hutan kalbar yang lebat ditebangi untuk kemudian diangkut ke Jakarta. hutan gundul dan kalbar tak dapat apa-apa. itulah ketimpangan. bandingkan bagaimana konsumsi energi antara jakarta dan kalbar. bandingkan juga bagaimana kesejahteraannya. bandingkan bagaimana tingkat pendidikannya. bandingkan bandingkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: muli</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4561</link>
		<dc:creator>muli</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 May 2007 04:29:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4561</guid>
		<description>Sulit memang kalau targetnya menyelamatkan dunia. Apalagi kalau tuan sendirian. Target itu biarlah untuk Nabi-nabi. Kita yang manusia biasa, biarlah melakukan apa yang kita bisa untuk membuat dunia sedikit lebih baik daripada kemarin.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sulit memang kalau targetnya menyelamatkan dunia. Apalagi kalau tuan sendirian. Target itu biarlah untuk Nabi-nabi. Kita yang manusia biasa, biarlah melakukan apa yang kita bisa untuk membuat dunia sedikit lebih baik daripada kemarin.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: hareem</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4546</link>
		<dc:creator>hareem</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 May 2007 23:37:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4546</guid>
		<description>mungkin ketika kita tak lagi bermain pendulum, tak akan ada lagi simpangan kanan dan kiri... ketika (itu) kita berhenti. maka &#039;keseimbangan&#039;--seperti juga istilah &#039;sempurna&#039;--hanya tinggal sebuah gagasan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mungkin ketika kita tak lagi bermain pendulum, tak akan ada lagi simpangan kanan dan kiri&#8230; ketika (itu) kita berhenti. maka &#8216;keseimbangan&#8217;&#8211;seperti juga istilah &#8217;sempurna&#8217;&#8211;hanya tinggal sebuah gagasan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: munggur</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4544</link>
		<dc:creator>munggur</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 May 2007 18:03:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4544</guid>
		<description>Sulit memang.

Apakah memang semuanya harus seimbang? Justru, alam sudah memiliki konsepsi tersendiri tentang ketimpangan. Ada Yin dan ada Yang.

Justru menjadi pertanyaan, mengapa negara terbelakang tak mengimbangi negara maju. Ada apa? Mengapa gerangan seperti itu.

Wajar bila ada sekelompok manusia yang ingin menjadi &#039;lebih layak&#039; seperti hukum dominasi dan kompetisi dari &#039;wejangan Om Darwin&#039;.

Bukan begitu?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sulit memang.</p>
<p>Apakah memang semuanya harus seimbang? Justru, alam sudah memiliki konsepsi tersendiri tentang ketimpangan. Ada Yin dan ada Yang.</p>
<p>Justru menjadi pertanyaan, mengapa negara terbelakang tak mengimbangi negara maju. Ada apa? Mengapa gerangan seperti itu.</p>
<p>Wajar bila ada sekelompok manusia yang ingin menjadi &#8216;lebih layak&#8217; seperti hukum dominasi dan kompetisi dari &#8216;wejangan Om Darwin&#8217;.</p>
<p>Bukan begitu?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: hilman</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4533</link>
		<dc:creator>hilman</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 May 2007 01:31:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4533</guid>
		<description>yaahh.....memang terlalu sulit, terlalu sulit.....!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yaahh&#8230;..memang terlalu sulit, terlalu sulit&#8230;..!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: an-Nadzif</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4524</link>
		<dc:creator>an-Nadzif</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 May 2007 20:25:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4524</guid>
		<description>Kita diberi pilihan. Dan kita disuruh memilih. Menjadi seorang wajar, yang tak tahu apa-apa, yang hidup untuk makan, minum, buat anak, dan mati. Atau menjadi pembohong. Atau menjadi pesakitan.

Tak ada diantara kita yang tak mau dan tak bisa merasakan enaknya kopi mall, sayang saya hanya pernah merasakan kopi tubruk di warung tangkringan seberang jalan. Pun pasti kita mau berjoged di gebyar jutaan watt seberang Monas. Dan itu benar-benar hal yang sungguh tidak sulit.

Tapi sunggukah ada, seorang yang menikmati gelegar kenikmatan dengan secangkir cappucino di hadapannya, sambil dengan iseng berfikir tentang anak pengemis yang meringkuk di gubuk kertas belakang mall. 

Kita hidup untuk mencari kenikmatan, mereguknya. Adakah orang tolol yang berfikir untuk hidup dalam keberfikiran tentang kesusahan, kebinasahan, kekalahan. Pemerataan itu hanya sebuah kata, dan tak berarti lebih dari itu.  

Tapi ternyata kita tak bisa melupakan surga. Sepenggal ingatan yang tak mau pergi sebagai hantu. Anehnya, kita bisa begitu saja lupa tentang neraka. Yah...mungkin karena sudah cukup kita saksikan neraka di sini, di belakang mall, bawah jembatan, di balik kelopak Monas.

Kita tak pernah bisa merasakan surga, walau hanya bayangannya. Maka kita pun rindu. Karena sesuatu yang tak hadir kadangkala lebih nyata kehadirannya dari apa yang selalu nongkrong di depan mata.

Kita hanya bermain-main disini -kata mas Aiz (la&#039;ib berarti permainan)- tapi siapa sebenarnya yang ikut sebagai pemain, jadi sutradara, atau yang berperan sebagai produser. Saya, Anda, atau mereka. Entahlah, yang jelas jauh lebih besar dari kita yang main jadi bolo dupakan. Diseret-seret, ditarik-tarik, ditunggangi. Kadangkala oleh &quot;pemain lain&quot; tapi lebih sering oleh diri kita sendiri. Betapapun kita menyangkalnya, dan segagah apapun kita mengakui diri.

Tuhan sungguh Maha Taktis.
Dan -meminjam bahasa Zaki- kita tak bisa berpaling.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kita diberi pilihan. Dan kita disuruh memilih. Menjadi seorang wajar, yang tak tahu apa-apa, yang hidup untuk makan, minum, buat anak, dan mati. Atau menjadi pembohong. Atau menjadi pesakitan.</p>
<p>Tak ada diantara kita yang tak mau dan tak bisa merasakan enaknya kopi mall, sayang saya hanya pernah merasakan kopi tubruk di warung tangkringan seberang jalan. Pun pasti kita mau berjoged di gebyar jutaan watt seberang Monas. Dan itu benar-benar hal yang sungguh tidak sulit.</p>
<p>Tapi sunggukah ada, seorang yang menikmati gelegar kenikmatan dengan secangkir cappucino di hadapannya, sambil dengan iseng berfikir tentang anak pengemis yang meringkuk di gubuk kertas belakang mall. </p>
<p>Kita hidup untuk mencari kenikmatan, mereguknya. Adakah orang tolol yang berfikir untuk hidup dalam keberfikiran tentang kesusahan, kebinasahan, kekalahan. Pemerataan itu hanya sebuah kata, dan tak berarti lebih dari itu.  </p>
<p>Tapi ternyata kita tak bisa melupakan surga. Sepenggal ingatan yang tak mau pergi sebagai hantu. Anehnya, kita bisa begitu saja lupa tentang neraka. Yah&#8230;mungkin karena sudah cukup kita saksikan neraka di sini, di belakang mall, bawah jembatan, di balik kelopak Monas.</p>
<p>Kita tak pernah bisa merasakan surga, walau hanya bayangannya. Maka kita pun rindu. Karena sesuatu yang tak hadir kadangkala lebih nyata kehadirannya dari apa yang selalu nongkrong di depan mata.</p>
<p>Kita hanya bermain-main disini -kata mas Aiz (la&#8217;ib berarti permainan)- tapi siapa sebenarnya yang ikut sebagai pemain, jadi sutradara, atau yang berperan sebagai produser. Saya, Anda, atau mereka. Entahlah, yang jelas jauh lebih besar dari kita yang main jadi bolo dupakan. Diseret-seret, ditarik-tarik, ditunggangi. Kadangkala oleh &#8220;pemain lain&#8221; tapi lebih sering oleh diri kita sendiri. Betapapun kita menyangkalnya, dan segagah apapun kita mengakui diri.</p>
<p>Tuhan sungguh Maha Taktis.<br />
Dan -meminjam bahasa Zaki- kita tak bisa berpaling.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Aiz</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4519</link>
		<dc:creator>Aiz</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 May 2007 08:02:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4519</guid>
		<description>sebuah pilihan, la&#039;ibun wa lahwun.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sebuah pilihan, la&#8217;ibun wa lahwun.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: W.N.Padjar</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4513</link>
		<dc:creator>W.N.Padjar</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 13:07:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4513</guid>
		<description>Dan kita juga tidak bisa berpaling dari kenyataan bahwa ilmu pengetahuan juga yang ngebantu kita ngatasi masalah (meskipun tidak seluruhnya dan selalu melewati tahap kegagalan).

Tidak perlu jadi pesimis, juga jangan jadi optimis. Lakukan aja apa pun upaya menegakkan keadilan. Takkan pernah sia-sia sekalipun kematian tiba sebelum hasil usaha belum terasa.

Karena harga tuan semata-mata hanya ada pada ihktiar tuan untuk memberi andil pada kebaikan bersama.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dan kita juga tidak bisa berpaling dari kenyataan bahwa ilmu pengetahuan juga yang ngebantu kita ngatasi masalah (meskipun tidak seluruhnya dan selalu melewati tahap kegagalan).</p>
<p>Tidak perlu jadi pesimis, juga jangan jadi optimis. Lakukan aja apa pun upaya menegakkan keadilan. Takkan pernah sia-sia sekalipun kematian tiba sebelum hasil usaha belum terasa.</p>
<p>Karena harga tuan semata-mata hanya ada pada ihktiar tuan untuk memberi andil pada kebaikan bersama.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Zaki</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4511</link>
		<dc:creator>Zaki</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 05:42:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4511</guid>
		<description>Ujung2nya, GM bicara tentang surga. Itu adalah ekspresi bawah sadar tentang obsesinya terhadap keadilan yang mustahil bisa di dapatkan di dunia. Bagaimanapun juga kita, mau atau tidak, terpaksa atau rela, harus kembali yakin terhadap hari akhir dan pengadilan terakhir. Secara fitrah, manusia hanya akan tenang jika mengaitkan sesuatu, terutama dalam ketidakberdayaan, dengan kematian dan hari akhir. Apa boleh buat, kita tak bisa berpaling.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ujung2nya, GM bicara tentang surga. Itu adalah ekspresi bawah sadar tentang obsesinya terhadap keadilan yang mustahil bisa di dapatkan di dunia. Bagaimanapun juga kita, mau atau tidak, terpaksa atau rela, harus kembali yakin terhadap hari akhir dan pengadilan terakhir. Secara fitrah, manusia hanya akan tenang jika mengaitkan sesuatu, terutama dalam ketidakberdayaan, dengan kematian dan hari akhir. Apa boleh buat, kita tak bisa berpaling.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: swanvri</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4510</link>
		<dc:creator>swanvri</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 01:19:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/#comment-4510</guid>
		<description>&quot;terlalu sulit, terlalu sulit &quot;  :((</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;terlalu sulit, terlalu sulit &#8221;  <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> (</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
