jump to navigation

Gestapu September 24, 2007

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Indonesia, Marxisme, Sejarah.
trackback

Tiap 30 September dan 1 Oktober kita teringat pembunuhan. Di tahun 1965-1966 itu, mula-mula sejumlah jenderal, kemudian berpuluh ribu orang Indonesia yang bukan jenderal dan tak bersalah bergelimpangan dibantai. Atau disiksa.

Sejak itu, di tanah tumpah darah ini, kita begitu takut, pedih, dan malu mengaku bersalah oleh keganasan itu. Semuanya kita masukkan ke dalam sebuah kata, ”Gestapu”, seperti kita menyembunyikan sesuatu di dalam kotak. Kita gagap bila kita harus mengenangnya.

Maka tiap 30 September dan 1 Oktober ada keinginan yang saya kira terpendam di hati orang banyak: keinginan untuk mampu mengenang horor itu, tapi juga berharap ia tak akan berulang. Indonesia tak boleh lagi mengelola konflik lewat darah dan besi.

Keinginan itu tampak mudah dipenuhi setelah ”Orde Baru” runtuh, setelah sebuah pemerintahan yang stabil—tapi bersandar pada kapasitasnya membangun rasa takut—ambruk. Tapi segera terbukti kita gampang terbuai ilusi. Prasangka rasial, rasa curiga antarkelompok, kebencian, paranoia, dan waswas yang diperkuat oleh agama seakan-akan malah bergelombang datang. Indonesia nyaris habis harapan. Semuanya seakan-akan mesti berakhir dengan membunuh.

Tapi mungkinkah ada sebuah lingkungan hidup bersama—bisa disebut ”masyarakat”, ”komunitas”, atau ”bangsa”—yang akan memilih khaos dan kekerasan sebagai satu-satunya cara bersaing dan bersengketa? Para optimis mengatakan, tak mungkin. Sengketa dan kekerasan bukanlah pola dalam sejarah. Tiap kehidupan bersama selalu mengandung keinginan bersama untuk ”masyarakat yang baik” dan kapasitas untuk mencapai mufakat. Bahkan binatang buas berdamai dalam puaknya.

Tapi benarkah ”selalu”? Benarkah kita senantiasa bergerak untuk mufakat? Katakanlah tiap orang, tiap kelompok, memang menghendaki ”masyarakat yang baik”, tapi apa gerangan yang ”baik”? Selalukah yang ”baik” bagi kami juga ”baik” bagi mereka?

Zaman ini yang berbeda dan ganjil berduyun-duyun masuk ke dalam pengalaman—dan kita ragu adakah nilai yang universal. Kondisi ”pasca-modernis” datang. Seorang pemikir seperti Richard Rorty bahkan menunjukkan, nilai-nilai selamanya contingent, tergantung, kepada waktu dan tempat. Apa yang ”baik” selamanya dipengaruhi konteks. Sebab itu jangan dipaksakan. Bahkan keyakinan kita sendiri tentang ”baik” dan ”buruk” perlu dicampur dengan satu dosis besar ironi.

Pandangan seperti ini memang membuka ruang luas toleransi. Kita tak bisa jadi fanatik memeluk ide-ide besar. Tapi ada yang boyak; ia tak cukup memberi dasar bagi langkah politik untuk membangun kebaikan bagi sesama. Tentu, Rorty tak menganggap kita bisa selamanya berdiri di tepi dengan senyum ironis. Baginya, tak ada alasan untuk berpangku tangan ketika kekejaman terjadi.

Rorty memang tak menampik tumbuhnya rasa solidaritas antarmanusia. Tapi bagaimana rasa solidaritas itu mungkin? Bagaimana ia bisa memadai untuk membentuk sebuah kekuatan pembebas, jika keyakinan tentang nilai-nilai yang universal, yang menggerakkan siapa saja, cair oleh ironi?

Memang, liberalisme Rorty bukan formula untuk bunuh-membunuh. Tapi ia tak bisa memberi jawab bagi keadaan yang mungkin tak dialaminya. Rorty begitu betah dengan hidup nyaman Amerika-nya. Tapi ada kondisi lain, di mana politik bergerak bukan karena keinginan, melainkan oleh kemestian, di mana gagasan tentang ”masyarakat yang baik” bukan imajinasi waktu senggang, melainkan karena rasa lapar yang akut akan keadilan.

Di sini liberalisme ala Rorty bisa semacam skandal. Tak mengherankan dalam latar umum Afrika, Asia, dan Amerika Latin, orang pernah dengan bahagia mendapatkan analisis dan inspirasi dari yang lain: Marxisme. Marxisme punya satu imbauan universal: cita-cita tentang masyarakat tanpa kelas. Tapi juga Marxisme bisa ampuh karena melihat nilai-nilai sebagai sesuatu yang tak datang dari luar sejarah. Marxisme merayakan dinamika dan perubahan.

Tak mengherankan bila beribu-ribu orang pun bergerak, dengan sakit dan miskin, dengan jiwa dan raga. Yang tragis ialah bahwa Marxisme—sebuah alat diagnostik yang cemerlang—ternyata sebuah terapi yang gagal. Bahkan Cina murtad. Apa yang tersisa dari Marxisme di sana sekarang, dengan kemajuan ekonomi yang membuat orang terkesima? Hanya sebuah partai komunis yang tak percaya kepada imannya sendiri.

Maka pada suatu saat orang pun membaca Habermas. Ia meyakinkan kita bahwa ada rasionalitas yang bisa membawa apa yang ”baik” melintasi batas ruang-dan-waktu. Komunikasi adalah laku yang tak asing. Dalam situasinya yang ideal, komunikasi dapat menghasilkan mufakat tentang ”masyarakat yang baik”.

Tapi tiap 30 September dan 1 Oktober kita teringat bahwa dorongan untuk bermufakat berakhir dengan pembunuhan. Indonesia adalah sebuah republik yang luka ketika bersikeras membentuk konsensus. Kini kita takut berilusi: bisakah kita sepakat tentang ”masyarakat yang baik”? Akan adakah situasi percakapan yang ideal?

Siapa yang takut mimpi perlu memanggil mambang Marxisme. Kita akan bisa melihat—seperti Laclau memanggil roh Gramci—bahwa mufakat tak datang dengan sendirinya. Ia hasil pergulatan hegemoni. Dan dengan Marxisme yang radikal yang memandang sejarah sebagai perubahan, kita akan mengakui bahwa hegemoni itu tak akan abadi. Pengertian dan konsensus tentang ”masyarakat yang baik” tak akan kekal. Kekuasaan yang menjaga konsensus itu tak akan selamanya bisa memenuhi cita-cita.

Itu sebabnya kita memilih demokrasi sebagai sistem yang mengakui kekurangan manusia. Kita lebih berendah hati. Maka sambil mengakui pergulatan politik akan berlangsung terus-menerus, kita tak perlu bersiap dengan darah dan besi. Ongkos akan terlalu mahal—seperti 30 September dan 1 Oktober 1965—untuk sesuatu yang tak akan sempurna dan selama-lamanya.

~Majalah Tempo Edisi. 31/XXXVI/24 – 30 September 2007~

About these ads

Komentar»

1. ibra - September 25, 2007

bahkan demokrasi pun bukanlah sesuatu yang mesti difanatiki.

ada seorang teman pernah bercerita begini : saya ini menjadi seorang anti kapitalis mungkin lebih disebabkan karena saya tidak punya kapital, tapi bila saya punya kapital yang “cukup”, saya mungkin akan menyenangi kapitalisme.

teman saya ini mungkin bukan suatu contoh yang baik dalam hal “iman” terhadap suatu paham. tapi bila “iman” dalam konteks ini lebih merujuk pada konsistensi, dan dalam hal ini berlaku untuk semua tempat dan setiap waktu, saya pun akan dengan terang-terangan akan menolak demokrasi. sebab buat saya, dengan atau tanpa demokrasi, saya, dia, engkau, kalian dan mereka akan tetap melakukan optimasi. bahkan bila harus dengan menghunus parang, kalau perlu.

buat apa memperjuangkan demokrasi habis-habisan? saya pikir akan menjadi realistis bila orang tersebut “ikutan” partai demokrat, atau memang cari duitnya dari situ.

dan bukankah demokrasi sendiri sebetulnya mengakui adanya inkonsistensi terhadap apa yang disentuhnya, pada tiap masyarakat dengan identitas sosialnya masing-masing, dalam tiap waktu dan tiap ruang yang ia geluti dengan intens? bukankah dari situ juga pelbagai paradoks dan pelanggaran asumsi terjadi?

bukankah demokrasi itu adalah juga hasil dari hegemoni? dan itu bukanlah satu-satunya kemungkinan yang rasional? bukan satu-satunya yang punya muatan “damage control” ? atau jangan jangan benar kata Hume, yang jadi substansi “biasanya” tidak terletak pada “diri”-nya, bukan pada demokrasinya, bukan pada konsensunya. jangan-jangan ada pada komunikasinya. sebab di ruang itu manusia punya kans untuk menghargai manusia lain.

jadi, buat apa memperjuangkan demokrasi mati-matian?

” katakanlah, sesungguhnya manusia itu berbuat sesuai dengan kondisinya” begitu ayat Quran menyebutnya.

dan untuk orang yang mempercayai pertemuan dengan Tuhannya, tak ada itu istilah “harga yang terlalu mahal” untuk menjadi seorang martir. sedang yang ada disitu tentunya bukanlah sesuatu yang “nol”.

dan kalau memang benar, seperti yang anda bilang, bahwa korban gestapu adalah “berpuluh ribu orang Indonesia yang bukan jenderal dan tak bersalah bergelimpangan dibantai. Atau disiksa.”
bukankah tentunya mereka termasuk orang-orang yang berbahagia saat bertemu dengan Tuhan mereka?

2. jaka - September 26, 2007

Ada sebuah cerita yang harus dipercayai oleh semua orang yang mengaku Islam: Di alam (bukan dalam) kubur nanti semua manusia akan ditanya dengan pertanyaan:
1. Siapa Tuhan kamu
2. Siapa Nabi kamu
3. Apa kitab kamu
4. Siapa saudara kamu
5. Kemana kiblat kamu.

Mari kita renungkan siapa yang selama ini kita jadikan tuhan; siapa yang selama ini kita jadikan figur; apa yang selama ini kita jadikan kitab rujukan dalam menentukan salah dan benar; siapa yang selama ini kita anggap sebagai saudara; dan kemana kita selalu berkiblat. Tanyakan pada diri masing2 dan jawab dengan jujur.

3. Iqbal @l_Imam - September 26, 2007

Ada wilayah-wilayah di mana Tuhan tidak ikut-serta. Contohnya demokrasi dan peristiwa 65-66 itu –entah pada pembunuhan jenderal maupun pembantaian yang-bukan-jenderal. Saya pikir Anda akan jadi orang yang bijak jika bisa tahu alasannya!

Jadi, percuma menarik-narik-Nya ke perbincangan tentang dua contoh wilayah di atas!!! :)

4. ibra - September 26, 2007

bukan menarik-narik Tuhan, mas…tapi belajar berdamai dengan masa lalu, menerima kenyataan sebagaimana adanya, belajar bersyukur. siapa tahu dpat pembelajaran untuk ke depan…bukankah begitu cara melihat sejarah yang baik?

bukan tidak tahu alasanya, mas…tapi mencoba melihat dari perspektif yang lain. siapa tahu ada alasan lain dari fenomena yang terlihat “tidak adil”. sebab buat saya, semua hal yang terjadi atas ijin dan kuasa Tuhan.

tentu, sebagai manusia, saya juga tidak terima dengan pembunuhan dan penyiksaan terhadap orang-orang tidak bersalah. sama seperti tidak terima-nya saya bila nabi Isa memang di paku-paku tubuhnya, di jemur ampe mati.

mungkin ada alasan lain disitu, mas iqbal….
dan saya mencoba membuka kemungkinan itu

5. yustha - September 28, 2007

dan apa kabar dengan anak cucu mereka yang juga harus menanggung ‘akibat’ dari apa yang sama sekali tidak mereka ketahui. Menikmati kemiskinan karena ayahnya terbunuh atau dipecat dari pekerjaan dan menjadi ‘bahaya laten’ setiap kali bersosialisasi. Menerima diskriminasi dari masyarakat ‘hanya’ karena orangtuanya ‘diduga’ terlibat gestapu meskipun tidak pernah ada pengadilan yang mengadilinya. Terbunuh secara sosial dan ekonomi meskipun raganya masih hidup. Wow..dampak yang sangat fantastis, jika mau menilik dari sisi humanis…

6. goop - September 28, 2007

jadi ingat :

… nostalgia tak pernah berasal dari kebencian. Ia menggerakkan kembali sesuatu yang hangat, sayu, berarti—seperti cinta lama…

apakah gestapu jg sebuah nostalgia??

7. anna hape - September 28, 2007

Kekerasan dalam selubung demokrasi bisa lebih kejam juga.

8. Risaz - September 29, 2007

Selalu ada luka dalam demokrasi… Ah kenapa?

9. yudhi - September 29, 2007

Rasa-rasanya demokrasi tanpa moral juga akan limbung…

10. munggur - September 30, 2007

1 Oktober memang memiliki beragam nuansa…

11. kamat rubakat - Oktober 1, 2007

Setiap kekejaman terhadap kemanusiaan memang harus selalu dikenang, dengan segala detil proses kejadiannya. Alasannya sederhana: agar tidak terulang lagi kekejaman itu.

BERJUANG MELAWAN LUPA sudah sepantasnya selalu dilakukan terutama bagi orang melayu yang pendek ingatannya.

12. keringat boemi - Oktober 1, 2007

sepertinya perlu forum khusus utk bahas soal demokrasi, yg terpisah dg blog caping ini. kasian mas gm, tulisan capingnya suka dijadikan media utk menentang demokrasi.
cape deeeh….

13. demis - Oktober 2, 2007

ketika Goenawan Muhammad membahas tentang arti demokrasi dan pentingnya sistem apapun berlandaskan asas itu, beliau selalu menggunakan kesadaran manusia untuk mengakui batas sebagai pijakan awalnya. dengan bahasa yang memang dalam, beliau selalu mengingatkan akan perlunya kerendahan hati bagi setiap manusia yang kebetulan memegang tampuk kepemimpinan.

ah, entahlah, sebuah kalimat yang bagi saya, begitu tinggi hingga akhirnya, saya takut dan terkadang pesimis mampukah tokoh-tokoh kita menggayuh pemahaman bijaksana yang dituliskannya.

saya akui kalimatnya padat dan indah tapi implementasinya apakah mampu diimplementasikan saat memimpin negri ini? agar mereka tahu diri bahwa suatu saat mereka2 pasti akan ditanyai dan dimintai pertanggungjawaban….

sebuah kesadaran. buat mas Goen, perlukah lokomotif atau undang-undang untuk menggerakka demokrasi sebagai sistem seperti yang sampean jelaskan? ataukah demokrasi di sini masuk dalam ranah privatisasi setiap person yang paling dalam sehingga tak ada tempat bagi orang lain untuk intervensi yang begitu mengikat kuat seperti undang-undang?

saya butuh tahu tentang yang satu ini….

14. dokterpenulis - Oktober 9, 2007

Satu hari seorang anak membuat ibunya menangis. Saat itu mereka tengah berziarah kubur, dan ia hanya bertanya. “Ibu, dimana makam kakek? Mengapa tiap menjelang Ramadan kita hanya mengunjungi nisan nenek Bu?” Sang Ibu terhenyak. Ia terduduk, termenung lama. Air mata menetes dalam diam.

Terkejut dengan tangis tanpa suara itu, baru beberapa tahun kemudian ia mencari tahu kembali. Beberapa orang memilih diam yang sama. Saat akhirnya seseorang menceritakan penjemputan itu. Kepergian yang tak kenal pulang.

Ramadan ini tepat 42 tahun lalu peristiwa tahun 1965 terjadi. Diawali dengan pembunuhan para jendral tanggal 30 September 1965, diikuti pemusnahan 500 ribu hingga 1 juta jiwa rakyat Indonesia dalam periode tahun 1965-1966. Inilah konflik horisontal terdahsyat dalam sejarah NKRI. Pertumpahan darah yang menempatkan tetangga, sahabat karib, bahkan saudara dalam posisi berseberang. Momen dimana seorang manusia merasa berhak membunuh manusia lain. Saat mungkin kalimat ajaib ini terlontar di dalam hati. Aku terlahir putih sedang engkau memilih hitam. Karenanya darahmu halal untukku.

Lantas, apa yang terjadi setelah mereka yang hitam kita punahkan? Bukannya puas, malangnya perasaan hitam putih ini terus dipelihara oleh Orde Baru, dan kita sebagai rakyatnya ikut menumbuhkannya dalam hati. Posisi menang dan kalah menjadi sangat penting, karena dari sanalah kita menciptakan harga diri.

Akibatnya dalam skala nasional peristiwa penumpasan sejenis pemusnahan massa pro PKI dan Sukarnois tahun 1965-1966 tak kunjung berhenti. Orde Baru menghasilkan represi penguasa seperti peristiwa Tanjung Priok dan Aceh, serta konflik horisontal sejenis kerusuhan Ambon. Juga banyak penculikan dan pembunuhan orang-orang.

Era reformasi tak serta merta memperbaiki keadaan. Munir diracun orang, dan tahun ini insiden Alastlogo terjadi. Di tingkat akar rumput, konflik horisontal bukannya berhenti. Yang terbaru di Jawa Timur adalah penyerangan masjid LDII oleh sejumlah massa sesudah shalat tarawih.

selanjutnya

http://dokterpenulis.wordpress.com/2007/10/04/1965-1966-hitam-putih/

15. josef - Oktober 1, 2009

Saya teringat tulisan mas Goen sendiri dalam caping Tan Malaka, sejak Agustus itu. Paham Komunisme akan tenggelam dalam lautan borjuis kecil yang didukung militer dan pengikut garis keras ajaran agama.Komunisme terlalu kaku, tidak fleksibel, terlalu teguh dengan keyakinan sosialisme kuno.Anti kemapanan akan menimbulkan suatu perasaan sisnis belaka.Menuntut suatu kejujuran adalah hal yang paling mustahil di jaman ini.Sejarah tidak menuntut kejujuran pelakunya tapi pengertian yang mendalam dari penggalinya.

16. josef - Oktober 2, 2009

Saya membayangkan apa yang ada di benak pikiran Drs. Moch. Hatta di bulan-bulan oktober 1965. Revolusi, Konfrontasi, ah Komunis lagi. Kelihatannya ia begitu cemas dengan kata terakhir itu. Mungkin ada pergulatan batin yang panjang antara Bung Hatta dengan Komunis. Suatu kelompok yang sulit diajak kompromi, selalu menuruti kemauannya sendiri dan bangga dengan Revolusinya. Kecemasan Hatta bertambah ditahun-tahun itu. Apa yang salah yang telah ia lakukan sehingga bangsa yang telah ia dibesarkan ini terjerumus dalam perebutan kekuasaan yang berlarut-larut. Cita-citanya untuk menuntun jalan bangsa ini menuju bangsa yang beradab dipatahkan. Bung Hatta sudah tidak sanggup lagi melihat korban-korban berjatuhan lagi ditangan bangsanya sendiri. “Sukarno sudah rapuh” pikirnya. Era kepemimpinan karismatik sudah harus digantikan dengan kepemimpinan yang sistematis. Tetapi sistem belum kuat dan terorganisir dengan baik saat itu. Organisasi publik (partai) sebagai penyokong negara berjalan dengan program-programnya sendiri. Negara belum bisa mengurus rakyatnya dengan baik. Para pimpinan partai sibuk membentengi partainya dari kejatuhan kekuasaan. Siapa yang sanggup ia ajak bicara tentang Negara. Sebagaian tokoh penting kemerdekaan sudah banyak yang meninggal. Hanya militer yang saat itu tetap konsisten menjaga keutuhan Negara. Tapi Bung Hatta mungkin kurang setuju jika militer terlalu domain dan melangkah lebih dalam sehingga mengaibaikan HAM demi alasan menjaga Persatuan dan Kekuasaan. Mungkin masih banyak lagi pemikiran beliau yang brilian dan bermanfaat yang ingin beliau sampaikan pada negara ini, tapi kita mungkin tidak tahu. Ketika peristiwa G/30/s terjadi, pagi hari itu sang ajudan membawakan kopi hangat kepada sang Negarawan yang sangat dihormati. Dan sang Negarawan menanyakan apakah ada berita yang baru di Negara kita. “tidak tuan semuanya baik-baik saja, justru rakyat ingin menanyakan keadaan tuan” , jawab sang ajudan.

17. karyo - Februari 28, 2011

Sok daramai be ayena mah lah…

adi manga - Februari 28, 2011

Santaiii

18. Samuel Gallardo - Mei 12, 2011

After I initially commented I clicked the -Notify me when new feedback are added- checkbox and now every time a remark is added I get four emails with the identical comment. Is there any method you can take away me from that service? Thanks!

19. Cheap iphone 3g - Mei 17, 2011

Thanks a lot regarding your own awsome informations. I never heard about this until i found your site through google search.I allready saved it and wait around for a lot more posts from you.

20. Dalton Mcdanel - Februari 3, 2012

Thanks for your whole efforts on this website. Debby enjoys conducting investigations and it’s easy to understand why. My spouse and i notice all relating to the dynamic form you present invaluable ideas via this web site and as well cause response from other people about this concept while our favorite girl is without question studying so much. Take advantage of the rest of the year. You have been carrying out a really good job.

21. consumption - Mei 25, 2014

Except if you’ve got heavy pouches you’ll need to
examine every alternative carefully! Dimly lit soya spices enables you
to essence a bowl also to put colouring. Meal & Drink – Provencal cusine is a result of the nice and cozy, dry Scientif weather conditions.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 355 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: