<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: 3:55</title>
	<atom:link href="http://caping.wordpress.com/2008/02/22/355/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://caping.wordpress.com/2008/02/22/355/</link>
	<description>Bahasa &#124; Rasa &#124; Makna</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Jan 2010 08:34:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: iwan koswadhi</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2008/02/22/355/#comment-6349</link>
		<dc:creator>iwan koswadhi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 18:18:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/?p=233#comment-6349</guid>
		<description>Sebentar..sebentar,

Bagaimana kalau begini; Demokrasi adalah bentuk kebodohan umat manusia yang paling nyata, karena memandang manusia hanya sebatas gumpalan darah dan daging semata. Ia tak bisa memandang dan membedakan derajat kualitas kemanusiaan. Mana mungkin seseorang yang berpengetahuan mempunyai suara sama dengan seseorang yang tidak berpengetahuan? Demokrasi di Sarang Penyamun, hanya akan menciptakan Pemimpin Penyamun...

Sebetulnya Demokrasi sesuai Sila ke-4 Pancasila sudah tepat: Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Jadi, yang boleh memimpin rakyat adalah &quot;Hikmah Kebijaksanaan&quot; -- artinya hanya mereka yang telah memiliki kualifikasi pengetahuan  
yang tinggi (hikmah) dan bijaksana yang boleh memimpin, segala urusan penting harus selalu dimusyawarahkan (oleh orang-orang yang &#039;hikmah dan bijaksana&#039;) dan melalui konsep perwakilan (tak perlu melibatkan orang yang tidak &#039;hikmah dan bijaksana&#039;).

Jadi, menurut saya (bukan ahli ilmu sosial Italia), Demokrasi menjadi wadah haram jadah tatkala dijalankan oleh masyarakat yang tak cerdas!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebentar..sebentar,</p>
<p>Bagaimana kalau begini; Demokrasi adalah bentuk kebodohan umat manusia yang paling nyata, karena memandang manusia hanya sebatas gumpalan darah dan daging semata. Ia tak bisa memandang dan membedakan derajat kualitas kemanusiaan. Mana mungkin seseorang yang berpengetahuan mempunyai suara sama dengan seseorang yang tidak berpengetahuan? Demokrasi di Sarang Penyamun, hanya akan menciptakan Pemimpin Penyamun&#8230;</p>
<p>Sebetulnya Demokrasi sesuai Sila ke-4 Pancasila sudah tepat: Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.</p>
<p>Jadi, yang boleh memimpin rakyat adalah &#8220;Hikmah Kebijaksanaan&#8221; &#8212; artinya hanya mereka yang telah memiliki kualifikasi pengetahuan<br />
yang tinggi (hikmah) dan bijaksana yang boleh memimpin, segala urusan penting harus selalu dimusyawarahkan (oleh orang-orang yang &#8216;hikmah dan bijaksana&#8217;) dan melalui konsep perwakilan (tak perlu melibatkan orang yang tidak &#8216;hikmah dan bijaksana&#8217;).</p>
<p>Jadi, menurut saya (bukan ahli ilmu sosial Italia), Demokrasi menjadi wadah haram jadah tatkala dijalankan oleh masyarakat yang tak cerdas!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: refanidea</title>
		<link>http://caping.wordpress.com/2008/02/22/355/#comment-6151</link>
		<dc:creator>refanidea</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 10:58:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://caping.wordpress.com/?p=233#comment-6151</guid>
		<description>.... di Indonesia, seorang biasa, Refanidea, menulis dengan santai ..
Manusia terjebak pada pertanyaan: apakah pemimpin dilahirkan dengan bakat bawaan atau pemimpin bisa dibentuk dan diciptakan?  Sederhana saja, kepemimpinan pertama adalah memimpin diri sendiri. Dan manusia bisa belajar tentang banyak hal.

Demikian juga tentang budak, tak perlu bertanya apakah budak dilahirkan atau diciptakan. Sederhana saja, perbudakan pertama adalah memperbudak diri sendiri. Dan manusia berhak berhenti belajar.

Itu semua pilihan. Secuil hubungannya dengan demokrasi, ahli ilmu sosial, bahkan haram jadah.

.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8230;. di Indonesia, seorang biasa, Refanidea, menulis dengan santai ..<br />
Manusia terjebak pada pertanyaan: apakah pemimpin dilahirkan dengan bakat bawaan atau pemimpin bisa dibentuk dan diciptakan?  Sederhana saja, kepemimpinan pertama adalah memimpin diri sendiri. Dan manusia bisa belajar tentang banyak hal.</p>
<p>Demikian juga tentang budak, tak perlu bertanya apakah budak dilahirkan atau diciptakan. Sederhana saja, perbudakan pertama adalah memperbudak diri sendiri. Dan manusia berhak berhenti belajar.</p>
<p>Itu semua pilihan. Secuil hubungannya dengan demokrasi, ahli ilmu sosial, bahkan haram jadah.</p>
<p>.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
