jump to navigation

Darwin Februari 16, 2009

Posted by anick in Agama, All Posts, Tokoh, Tuhan.
trackback

Darwin, lelaki pemalu itu, tak ingin membunuh Tuhan. Ini agaknya yang sering dilupakan orang sampai hari ini, ketika dunia memperingati 200 tahun hari lahirnya, 12 Februari.

Menjelang akhir hidupnya, ia hanya mengatakan bahwa ia ”harus puas untuk tetap jadi seorang agnostik.” Teori evolusinya yang mengguncangkan dunia pada akhirnya bukanlah penerang segala hal. Ketika ditanya mengapa manusia percaya kepada Tuhan, Darwin hanya mengata­kan, ”Misteri tentang awal dari semua hal tak dapat kita pecahkan.”

Dia sendiri pernah jadi seorang yang alim, setidaknya jika dilihat di awal perjalanannya mengarungi laut di atas kapal HMS Beagle dari tahun 1831 sampai 1836. Pemuda­ berumur 22 tahun itu, yang pernah dikirim ayahnya un­tuk­ jadi pastor (setelah gagal bersekolah dokter), dan di penjelajahan itu diajak sebagai pakar geologi, amat gemar­ me­ngutip Alkitab. Terutama untuk menasihati awak ka­pal yang berfiil ”buruk”. Selama belajar di Christ’s College di Cambridge, sebuah sekolah tua yang didirikan pada abad ke-15, Darwin memang terkesan kepada bu­ku seperti Eviden­c­es of Christia­nity karya William Paley, pemikir yang gigih membela ajar­an Kristen pada zaman ketika rasio­nalitas dan otonomi manusia dikukuhkan tiap hari.

Tapi Darwin pelan-pelan berubah pan­dang­an. Otobiografinya mengatakan, ketika ia me­nulis karyanya yang termasyhur, On the Origin of Species, yang terbit pada 1859, ia masih seorang ”theis”. Sampai akhir ha­yatnya ia tak pernah jadi atheis. Namun, setelah lima tahun penjelajahan menelaah kehidupan satwa liar dan fosil, ditanggalkannya argumen Paley.

Bagi seorang apologis, segala hal di alam semesta ada­lah hasil desain Tuhan yang mahasempurna. Tapi Darwin menemukan bahwa tak ada satu spesies pun yang bi­sa dikatakan dirancang ”sempurna”; makhluk itu ber­ubah dalam perjalanan waktu, menyesuaikan diri dengan kondisi tempatnya hidup.

Darwin juga menemukan hal yang lain. Ia tak hanya me­nyiasati hidup alam di pantai Amerika Selatan dan ceruk Pulau Galapagos. Ia memandang juga ke dunia manusia di zamannya, dan bertanya: bagaimana desain Tuhan dikatakan sempurna bila ketidakadilan begitu menyakitkan hati? Darwin melihat kejamnya perbudakan. Ia, yang pernah bersahabat dengan seorang bekas budak dari Guyana yang mengajarinya teknik taksidermi ketika ia bersekolah kedokteran di Edinburgh, menganggap perbudakan sebagai ”skandal bagi bangsa-bangsa yang ber­agama Kristen”. Dalam perjalanan dengan HMS Beagle itu ia juga menyaksikan nestapanya manusia yang jadi pribumi Tierra del Fuego.

Tak bisa diterangkan dengan cara Paley mengapa Tuhan yang adil dan maha-penyayang menghasilkan desain yang melahirkan keadaan keji itu. Tentu ia bisa menemukan tema ini dalam kisah kesengsaraan Ayub dalam Alkitab, tapi bagaimana ”keadilan” Tuhan di situ bisa diterima seseorang yang berpikir kritis dan tak takut?

Bagi Darwin, apologia ala Paley gagal. Darwin tak me­lihat ada desain dalam keanekaragaman makhluk hidup dan kerja seleksi alamiah. Lingkungan hidup yang me­ngontrol nasib kehidupan di alam semesta bekerja tak konsisten dan tanpa tujuan. Alam memecahkan problemnya dengan cara yang berantakan dan tak optimal, dan tiap penyelesaian tergantung pada keadaan ketika itu.

Mau tak mau, pandangan itu merisaukan. Darwinisme adalah bagian dari sejarah yang ikut menenggelamkan apa yang disebut penyair Yeats sebagai ”ceremony of innocence”—yang terutama dijunjung oleh lembaga agama. Di Amerika Serikat, lebih banyak orang tak percaya kepada teori evolusi. Di sana pula, para pengkritik Darwin mengibarkan teori tentang adanya ”desain yang pintar” di alam semesta. Mereka mengatakan, ada ”kecerdasan” yang datang dari luar alam yang campur ta­ngan ke kancah hidup di sini, hingga, misalnya, bakteria bisa berpusar pada flagellum yang strukturnya begitu rumit hingga tak teruraikan.

Tapi kaum penerus Darwin bisa menunjukkan ada ribuan jenis flagella yang terbangun dari protein yang sebagian besar berbeda, dan jejak evolusi tampak jelas di dalamnya. Sebagian besar komponen yang membentuk flagella diperkirakan sudah ada dalam bakteria sebelum struktur yang dikenal kini muncul.

Artinya, tak ada desain, kata para pe­nerus Darwin. Teori evolusi menunjukkan ketidaktetapan dan kontingensi: hal ihwal selamanya berubah, meskipun tak terus-menerus, dan perubahan itu bergantung pada konteks yang ada, dan konteks itu pun terbangun tanpa dirancang. Bahkan terjadi karena koinsidensi. Stephen Jay Gould mengiaskannya sebagai spandrel, satu bagian dari plengkung dalam gereja gothis yang tak dirancang oleh arsitek tapi terjadi secara kebe­tulan ketika, dan karena, plengkung yang direncanakan itu rampung dibangun.

Memang dengan demikian tak ada lagi narasi besar. Ki­ta hidup dengan apa yang dalam bahasa program komputer disebut kluge, himpunan yang kacau dari macam-macam anasir yang terjadi dalam proses menyelesaikan satu masalah. Tak ada flow-chart yang bisa segalanya dan lengkap, tak ada resep yang akan siap.

Itulah sejarah: dibangun dari praxis, laku, keputus­an setelah meraba-raba, dan mungkin juga loncatan ke dalam gelap di depan. Tapi tak semuanya gagal. Alam pe­nuh dengan perabot yang ganjil dan awut-awutan, tapi makhluk hidup juga punya keterampilan dan kreativitas di tengah keserbamungkinan itu. ”Nature is as full of contraptions as it is if contrivance,” kata Darwin.

Mungkin Tuhanlah yang menyiapkan itu, mungkin juga Ia tak ada. Mungkin tak ada apa pun sebelumnya. Bagi Dar­win itu bukan persoalan. Yang penting adalah mengakui pengetahuan kita yang guyah, rumus kita yang coba-coba, tapi pada saat yang sama kita bilang ”ya” kepada hidup.

Orang beragama akan menyebutnya syukur. Juga ta­­wakal.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 16 Februari 2009~

About these ads

Komentar»

1. andrimanggadua - Februari 16, 2009

“tanpa narasi besar” juga sebetulnya narasi besar, lho….. Tapi terselubung.

2. ochidov - Februari 17, 2009

ah itu Darwin saja, dan dia hanya kokok ayam pagi, tidak segarang MUI yang bersabda bahwa sesuatu bisa HARAM!!!
kan itu lelucon saja?!?Q

3. andrimanggadua - Februari 17, 2009

Wah, mas di atas ini kayaknya berpengalaman sekali ni….
Peka dengan politik…..
Keren ni pasti kalau tulisannya panjang

4. isoelaiman - Februari 17, 2009

Kasihan amat ya Darwin, manusia yang “ditenggelamkan” oleh akalnya sendiri hingga dipenghujung hayatnya berada dalam keraguan yang sempurna, kalimat GM di atas, “…tak konsisten dan tanpa tujuan.” Kacamatanya sebelah. Yang tampak ketidak sempurnaan. Kejamnya perbudakan menggerakkan gumaman. Dia berada pada “kharfin”, tidak di sini dan tidak di situ. Kagum, jengkel, bentur, cerca, istirah di perbatasan, di koma.
Apakah itu, ya, contoh manusia yang tidak memperoleh hidayah Tuhan. Terbatasi oleh sekat dan relativitas perasaan, akal, nalar, imajinasi, tak mampu menembus batas. Akal manusia seberapa pun hebatnya tak menjamin perolehan Nur-Ilahy, hingga, dia, lalu akan mengatakan, “Ya Tuhan kami, tak Kau ciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau …” (Q).

5. imcw - Februari 17, 2009

Kapan ya ada Darwin yang lahir di Indonesia?

6. andrimanggadua - Februari 17, 2009

O I c
Yg temenan pake tanda Q
Puak, coy….puak….
Hehehehhe
Meski sesama puak juga penuh ironi dan kadang saling sikat juga
Hehehehhe
Liberal yang aneh….atau memang liberalisme yang memang aneh? Yang pada akhirnya membangun kekuatan politik untuk menghancurkan yang bukan liberal?

Tapi gini deh
Pelajaran yang bisa diambil dari teori evolusi itu bahwa untuk bisa bertahan dan lebih kuat, protein protein itu saling bekerja sama. Membangun protein yang lebih kompleks strukturnya, sehingga jadi lebih kuat dan lebih survive berhadapan dengan alam.
Bukan malah perang2an mulu.
Itu saya baca dari komiknya Gonick, hehehehe

7. dp - Februari 17, 2009

Lebih hebat Wallace ;)

8. neno - Februari 17, 2009

kita “ada” di dunia ini, menangkap realita dan membahasakannya semata-mata karena kita “hidup”. apa yang dilakukan darwin, karena dia berusaha untuk hidup, tak ada yang salah dan benar disana, cuma sebuah keinginan. disinilah poin yang saya pikir ingin ditawarkan oleh GM, bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. mungkin setiap orang berbeda pandangan tentang hidup, ada yang hidup buat tuhannya, ada yang hidup buat dirinya, ada yang hidup buat kebaikan manusia, ataupun hidup buat keserakahan. jadi semua yang kita jalani tentang hidup harus sepenuhnya disadari, sehingga tidak terjebak dalam realitas semu. kita berpikir kita hidup, padahal sebenarnya kita tidak menjalani sebenarnya hidup. so bangkitlah, karena hidup kita manusia jaman sekarang memang terlampau singkat kalau harus dilewatkan begitu saja, karena

“butuh berjuta-juta tahun untuk menciptakan sebuah kehidupan, tapi hanya butuh sepersekian detik untuk mati”
Jostein gaarder-maya

9. ochidov - Februari 17, 2009

andrimaggadua,
kamu imut sekali……………………..Ciliwung, Darwin akan memakai tengkorakmu jadi sample, tentu darwin mendatang.hehehehe……………

10. andrimanggadua - Februari 17, 2009

Banyak orang berpikir, ketika membaca caping, bahwa orang baik itu ada….hal-hal baik bisa bersliweran di mana-mana…

Anda justru membuat harapan itu jadi hilang

Saya hanya warga biasa, yang banyak terinspirasi dan belajar dari GM. Malah dalam usia yang telah lalu, saya menganggap beliau guru saya. Entah itu dalam hal memberikan banyak referensi buku bagus, retorika yang menawan, atau harapan-harapan yang mungkin. Atau juga dalam menulis.

Saya belajar sangat banyak dari buku-buku GM. malah hal-hal mendasar seperti keberanian bersikap kritis dan berpikir berbeda saya dapatkan dari buku-buku beliau, bukan dari guru atau dosen. Pernah waktu saya kuliah dulu, ketika teman-teman sibuk menyiapkan diri untuk ujian, saya malah asyik membaca caping.

Saya hampir mengumpulkan semua buku GM. Semuanya saya baca bukan cuma sekali, tapi berkali-kali.

Untuk itu, apakah saya salah bila coba berpikir kritis?

Mungkin saya salah. Mungkin saya berkata-kata terlalu banyak. Tapi layakkah saya mendapat kata-kata seperti itu?

Saya kira ini negara hukum. Dan sedikit banyak saya juga punya pengetahuan tentang hukum beserta dana yang memadai bila sampai berurusan dengan hukum. Dengan cara di luar hukun pun saya masih memadai.

Jadi, apakah saya akan takut dengan kata-kata seperti itu?

Tentu saja tidak. Dan tentu saja saya tidak akan tinggal diam.

Terima kasih Goenawan Mohamad. Terima kasih atas buku-bukumu.

11. karang - Februari 17, 2009

ah hari gini masih percaya ama darwin. lha darwinnya aja hanya menduga-duga. makin hari makin goyah tuh teori evolusi. kok ada orang yakin dan kagum sampai mati-matian membela , pencetusnya aja masih menebak-nebak…

12. massto - Februari 18, 2009

maaf,.. apakah anda2 sedang berdebat???… kalo ya,.. lanjutkan,.. biar seru!!!..

13. zomaidup - Februari 18, 2009

Ceritanya begini….. pada jaman penjajahan
suatu pagi di pojok desa Padas di daerah Ngawi lahirlah bayi laki-laki imut wajahnya indo. tentu, orangtuanya mixed,ibunya asli desa situ yang ke sehariannya pergi ke ladang dan bapaknya orang londo yang lagi ditugaskan mencatat pajak.diberilah nama bayi itu Marwan Sutri Van Endous.
beranjak dewasa,dia disekolahkan ke londo.. bapaknya punya insiatif agar anaknya kagak malu n diejek teman2nya digantilah namanya menjadi Darwin yang dunia kenal sekarang.
sebenarnya,teori yang didapat mengenai evolusi,ketika tu dia liat panjat pinang.Yang kuatlah Yang bisa mencapai tujuan….
Nah…!kita perlu bangga loe (kayak kita bangga ama Obama…)…. ternyata Mas Darwin tu orang indonesia. karena sejarah kita sering didistorsi, Darwin jadi orang eropa sana dehhhhh….
hehehehehehe……..

14. massto - Februari 18, 2009

wah mas zoma iki tulisane uapik tenan,..gampang dcerna,..gak koyo sing sebelum2nya,..sok2an filsup politikus tp ujung2nya emosi,..(indonesia banget gitu lho)

btw, kalo emang Darwin aslinya Ngawi, brati tetanggaku dong,..

15. Billy Koesoemadinata - Februari 18, 2009

bermaksud ataupun ga, darwin ini memang kontroversial..
pemikirannya memang masuk akal, tapi sepertinya dikotomi ras dan juga spesies, terlalu hebat untuk menjadi sebuah isu asal-muasal manusia..

that’s a thought..

16. fsiekonomi.multiply.com - Februari 18, 2009

“bagi seorang apologis…”?

mmm, undefined, GM. undefined.

17. isoelaiman - Februari 19, 2009

Saya akan lebih hormat bila Darwin itu, juga yang berasal dari Ngawi sekali pun (seperti yang ditulis zomaidup di atas), bila dia hebat di dunia dan selamat di akhirat. Karena penyesalan di akhirat itu bagaikan pepatah “sesal kemudian tiada guna”. Mudah-mudahan, Darwin itu, dalam hidup pribadi-nya yang tak diabadikan dalam tulisannya, –dan atau pun luput– dari yang diketahui umum, dia meyakini adanya Tuhan dan –semoga pula– bertakwa kepada-Nya.

18. bocahbancar - Februari 20, 2009

Hohohohoho..

Darwin…

Teorinya memang tidak sembarangan orang yang bisa mengartikannya.

Namun kalau dengan kepintarannya tersebut menjadi seorang Atheis dan tak percaya kepada Tuhan, sungguh dia bisa berfikir saja siapa yang membuatnya bisa begitu..???

Semoga pendukung Darwin ini hanya dari kalangan non beragama saja,..

Salam Bocahbancar…

http://bocahbancar.wordpress.com/2009/01/21/kekayaan-yang-memiskinkan/

19. Dedy - Februari 20, 2009

@bocahbancar
hohoho juga :D
Maksut’e iku opo..
orang yang tidak sembarangan itu yg gimana toh…apa kaum agnostik saat ini?…apologis?…Nietzsche?..Harun Yahya?..kita-kita ini?

Masnya termasuk orang yang mana sehingga mengharapkan semoga pendukung Darwin ini hanya dari kalangan non beragama saja?
yang jelas…yang jelas…okei?

20. espito - Februari 20, 2009

@bocahbancar
wahh.. dari nada commentnya nih seperti anti-ilmupengetahuan. setahu saya, agama dan ilmupengetahuan itu tak mungkin bisa seiring-sejalan. agama tuh tak ubahnya mitologi, apa yg dikajinya adalah apa yang tak-rasional dan tak-empiris. agama2 monoteis bilang manusia pertama adalah adam yg dicipta tuhan dari lempung yg ditiupi ruh; tapi mana buktinya dan bagaimana membuktikan kebenaran cerita mitologis itu?
kalau pernah baca buku Tao of Physics edisi Indonesia, di sana ada kata pengantar yg ditulis Armahedi Mehzar yg sebagian isinya memaparkan hubungan sains dan agama2 monoteis.

“Semoga pendukung Darwin ini hanya dari kalangan non beragama saja,..” -saya sungguh gak habis ngerti dgn harapan bocahbancar ???

21. Eks Muslim - Februari 21, 2009

Ah hari gini masih percaya ama darwin. lha darwinnya aja hanya menduga-duga. Mending percaya ini:

FORUM MANTAN MUSLIM INDONESIA (klik)

Ini baru fakta! Bukan teori Darwin!

22. Ajie - Februari 21, 2009

Narasi besar dan resep yang siap mungkin juga sebuah bangunan harapan, semustahil apapun harapan itu, ia bisa membuat manusia bergerak dan berkreativitas walau dengan banyak kesalahan dan kecelakan sejarah. Tak semua orang bisa tahan hidup dengan ‘Tuhan’ Nietzsche yang hanya bisa menari tanpa pakem. Tanpa flow-chart yang ‘selesai’.
Akan jadi menarik sepertinya. Ada suara yang lain? Mungkin Harun Yahya? Darwinisme baru? Atau Hitler kalau ada? Atau malah Tuhan penyair GM?

23. massto - Februari 22, 2009

udah pada tau belum kalo darwin ternyata mengidap sindrom asperger (salah satu varian autis)??..

@isoelaiman + bocahbancar
mending tambah dulu bacaannya,..biar jangan asal njeplak doang!!

24. Ajie - Februari 22, 2009

Secara pribadi dia menentang perbudakan, pernah bersahabat dengan orang kulit hitam, dan kecewa terhadap perlakuan tidak adil pada budak2 dikapal yang dia tumpangi.
Tapi ketika teorinya ‘disalahgunakan’ dan puncaknya pada ideologi ‘si kumis nanggung’ Hitler tentang type2 tersisihnya kenapa dia juga dianggap biang kerok?
Jika seseorang memiliki pisau (yang bisa bermanfat dan juga bisa untuk membunuh) kemudian digunakan orang lain untuk membunuh tanpa sepengatuan dan restu si pemilik pisau, apa bisa dianggap temasuk komplotan si pembunuh yang bersalah?

@massto
Kalau gak salah itu sindrom kuper tapi cerdas ya? Tak googling sek.. :)

25. fsiekonomi.multiply.com - Februari 23, 2009

darwin theory? collapsed.
:-D

26. jamurkomik - Februari 23, 2009

umpama keadilan bener-bener diperlihatkan secara nyata…
mungkin gak perlu ada yg namanya koran, majalah media massa, karena semua udah berjalan sesuai jalurnya…ga ada yg perlu jadi berita…

…..monoton…..

oiya, salam kenal sebelumnya…
(tapi saya tetep berahrap keadilan bener2 tetep ada)

27. abinehanafi - Februari 25, 2009

kasihan Darwin. udah teorinya salah, membuat banyak orang ikut salah juga. how poor you are!!!

28. surendra - Februari 26, 2009

“Yang penting adalah mengakui pengetahuan kita yang guyah, rumus kita yang coba-coba, tapi pada saat yang sama kita bilang ”ya” kepada hidup.”

begitulah sains. sains selalu sadar diri bahwa dirinya tidak eksak, sains selalu menyadari adanya lack of knowledge. oleh karenanya sains selalu mengkritisi dirinya sendiri. bagi penanggap di atas yang memiliki keyakinan teguh pada keyakinan-agama, yang dengan keyakinannya tersebut menolak teori evolusi, bisa belajar banyak pada sains.

Darwin tentu saja beberapa kali salah. dan kaum evolusionis pun berkal-kali menunjukkan kesalahan Darwin, tapi tidak untuk garis besar teorinya. Evolusionis menerima pokok-pokok seperti bahwa spesies itu tidak tetap bisa berubah, berubah secara gradual tidak meloncat, muncul spesies dari spesies sebelumnya, kesatuah leluhur makhluk hidup, dan seleksi alamiah sebagai penggerak evolusi.

beberapa gagasan darwin yang lain tentu saja ada yang dinyatkaan salah oleh pendukung evolusi, misalnya sisa-sisa lamarckisme dalam darwinisme. juga pendukung evolusi menambahkan banyak pengetahuan baru dalam teori evolusi, misalnya mekanisme genetic drift sebagai tambahan atas seleksi alamiah.

dan memang begitulah sifat sains, membangun terus konstruksi, mengakui kesalahan, menghapus lagi sebagian, menambal, menyusun ulang konstruksi dst. sains sangat rendah hati, kok.

sementara itu ada penanggap di atas yang menyatakan bahwa darwin tersesat oleh akalnya, sebaiknya berkaca juga, apakah ketika memahami kitab suci dirinya tidak memakai akal? memahami kitab suci secara literal adalah suatu metode juga, dan metode itu dilahirkan oleh akal. sementara ada akal lain yang menghasilkan metode menafsirkan kitab suci secara metaforik. jadi semuanya sebenarnya menggunakan akal, tidak ada yang tidak. jadi tidak perlu merendahkan yang lain ketika menggunakan akalnya untuk memahami alam dan kitab suci.

demikian

29. Aji - Februari 26, 2009

Yup. Sains memang kudu selalu rendah hati.
Di Beijing baru2 saja, memperingati 200 kelahirannya,tokoh agama dan ilmuwan kenamaan bersatu menyerukan diakhirinya perdebatan mengenai warisan Charles Darwin (bosen kali ye..hehe).
kaum ateis militan diminta jangan lagi menggunakan teori evolusi sebagai senjata guna menyerang agama sehingga membuat banyak orang berpaling dari agama.
Dan untuk mereka yang percaya pada penciptaan diminta untuk juga mengakui berlimpah bukti yang kini ada guna mendukung teori Darwin mengenai bagaimana bumi berkembang dan dalam genetika modern yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
“Tahun ini, kita mesti merayakan prestasi besar Darwin di bidang biologi dan bukan berperang mengenai warisannya sebagai sejenis konsep antiteologi,” kata mereka.
Andai saya sedang ribut dengan tetangga saya, sampai mengolok-olok (ngatain setan, turunan monyet, keledai dungu, atau apalah) , tiba2 ada tetangga lain yang membuka pintu dan berkata “sssstttttt….jangan ribut…saya lagi bekerja untuk kemajuan umat manusia” maka saya memilih diam dan meminta maaf.

30. boyhidayat - Februari 26, 2009

logika harusnya di iringi oleh perasaan dan iman toh,

mampir ke blog ku ya
terima kasih

31. isoelaiman - Februari 26, 2009

Akal merupakan ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa, sedangkan iman datangnya dari Tuhan yang untuk memperolehnya, manusia harus berusaha keras. Beda dengan akal yang berupa pemberian otomatis. Bila keduanya bersemayam dalam tubuh manusia, maka lalu dia disebut mukmin, artinya manusia yang percaya dan taat pada Tuhan. Dari ketaatan hanya kepada Tuhan inilah kemudian lahir manusia yang mulia. Jadi, ketaatan akan membawa manusia pada derajat tinggi di hadapan Tuhan dan manusia. Contoh, sekaligus master mind-nya, adalah Rasulullah Muhammad bin Abdullah.
Akal minus iman, minus ketaatan pada Tuhan, tak akan mempunyai masa depan (baca: akhirat). Ya, dalam sejarah ummat manusia ada manusia berakal tanpa iman. Banyak, diantaranya ada penguasa, ilmuwan, milyarder, intelektual, yang serba hebat dalam pandangan manusia. Dan kemudian diantara mereka ada yang menentang Tuhan yang menciptakannya. Rasul dan Nabi yang diutus-Nya dihujat, diusir, bahkan ada yang dibunuh.
Fakta historis menunjukkan kebenaran bahwa semua manusia; yang taat maupun yang durhaka akan kembali kepada-Nya. Nah, bila tujuan Tuhan menciptakan manusia itu untuk patuh taat hanya kepada-Nya, saat manusia menghadap kepada-Nya, apa yang dapat dipertanggungjawabkan? Ini dialog sebagaimana tertera di dalam kitab suci Al-Qur’an.
Tatkala di hari hisab, semua manusia berhimpun. Tiap manusia mempersembahkan amal baiknya di hadapan Tuhan.
“Okh Tuhan, saya punya karya besar untuk ummat manusia, ini dan itu, dan semua manusia di zaman itu mengakui dan menikmatinya.”
“Ya”, sabda Tuhan. “kemudian, mana ketaatan-mu pada-Ku? Bukankah Ku-ciptakan kalian untuk hanya taat dan mengabdi kepada-Ku?”
” Siang malam kulakukan karya itu, untuk memperoleh pujian dan penghargaan manusia, dan aku bangga mereka menyebut-nyebut dan memuji karyaku. Okh, kukira cukup dengan karya dan pengabdianku pada ummat manusia saja. ”
Sabda Tuhan, “Siapa mengatakan begitu?”
“Akalku”.
Sabda Tuhan, “Kenapa tak kau baca, pahami dan amalkan Kitab Suci yang Ku-turunkan melalui Rasul-Ku?”
“Soalnya, kebanyakan orang yang membaca kitab suci-Mu itu, kebanyakan dari negara berkembang, ndeso lagi, bukan intelek, gagap teknologi, suka kekerasan, miskin, hanya tahu masjid, kurang bergaul. Jadi aku malu dan tak pantas bersama mereka.”
Sabda Tuhan: “Nenek moyang-mu dulu, Iblis yang membangkang begitu. Ternyata kalian mengikuti dan taat kepada-Nya”.
Tuhan berseru: “Hari ini kalian bersama yang kalian ta’ati”. (lihat dalam Shahih Bukhari-Muslim dalam Al-Lu’lu’u wal Marjan).
“Aduhai, celaka aku, alangkah baiknya jika sekiranya aku di dunia dulu menjadi debu saja” (Al-Qur’an, ayat terakhir surat An-Naba’).

32. surendra - Februari 26, 2009

buat boyhidayat dan isoleiman:

apa yang di dalam otak itulah yang sebenarnya saya sebut akal. dan iman itu hasil akal kita dalam menanggapi input2 yang masuk ke kita. input2 tersebut informasi dari kitab suci dan sains. begitu. intinya: iman itu juga produk akal.

orang bisa saja mengakui kebenaran kitab suci, tapi menerima teori evolusi, karena ia bisa saja menafsirkan kisah penciptaan dalam kitab suci secara metaforis

meyakini kebenaran teori evolusi tidak perlu mencuil keimanan, sebagaimana meyakini kebenaran kitab suci tidak perlu menolak kebenaran saintifik.

33. Rusdy - Februari 26, 2009

Hare gene…dikotomi antara akal dan iman??cape de

34. ochidov - Februari 26, 2009

@ andrimanggadua

wah, mas andri iku tipe murid yang setia ya….
bukan kayak Darwin yang tak setia pada Walles, meski gurunya lebih muda…hehehe.

35. kang dede - Februari 26, 2009

darwin lagi… darwin lagi… cape deh…

36. massto - Februari 27, 2009

sambil bergumam…
bukankah orang yang tidak berakal (gila/sarap), tidak diwajibkan beriman kepada-Nya???..

sepengetahuan saya,..isLam adalah agama yang lebih rasional dan mewajibkan umatnya agar menggunakan akal dibandingkan agama yang lain??(ingat wahyu pertama aL iQra)..,
hanya pada batas2 tertentu akal kita nggak perlu mempertanyakan segala sesuatunya agar sesuai dengan akal.. lha wong kentut keluar dari dubur, yang dibasuh bukan duburnya??

darwin beserta teorinya cuma bom sejarah,..yang darinya komunitas manusia di muka bumi, mendapatkan hal positif/negatif..

apakah hakmu sampai mengatakan bahwa kami yang sedang belajar menggunakan akal sampai dihakimi sedemikian rupa??

jadilah adil sejak dalam pikiranmu bung??

andaikan aku punya doraemon dengan kantong ajaibnya,..tak mungkin ada segala omong kosongku ini…

piisss ahhh…

37. Meduguba - Februari 27, 2009

Ada orang tidak percaya pada apa yang diteliti dan dipelajari akal manusia dengan metode ilmiah tetapi percaya pada kitab suci yang konon khabarnya turun langsung dari sang Allah … aneh bukan ?

38. Meduguba - Februari 27, 2009

Saya ulangi,

Ada orang yang TIDAK PERCAYA PADA APA YANG DITELITI DAN DIPELAJARI MANUSIA DENGAN METODE ILMIAH tetapi PERCAYA PADA KITAB SUCI YANG KONON KHABARNYA TURUN LANGSUNG DARI ALLAH … aneh nggak ?

39. espito - Februari 27, 2009

gak usah bawa2 agama ke ranah ilmu-pengetahuan; dan gak perlu bawa2 ilmu-pengetahuan ke dalam wilayah agama.
agama itu kajian mitologis: apa yg ditelaah (tuhan) adalah apa yg tidak ada. ilmu-pengetahuan, sebaliknya, mrpkn kajian rasional-empiris.
agama gak butuh ilpeng sbg alat pembuktian; ilpeng gak butuh agama sbg alat pembenaran.

tabik buat darwin !!

40. massto - Februari 27, 2009

@espito
makanya jangan kebanyakan ngelamun,..nanti hasilnya kaya kamu yang cuma njeplak bersemangat berdasarkan lamunan doang…
kalo msh hobi baca komik,..terusin aja dulu hobimu itu,..

agama mitologis gundulmu!!!

urip sepisan kok ekstrim.., belum pernah hidup di dunia nyata kali lu tuh ya???

oiya,..darwin juga gak butuh lu,..so,gak usah pake tabik2 segala,..

41. andrimanggadua - Februari 28, 2009

To surendra

Saya kira anda terlalu percaya dengan “akal”. Padahal dengan akal juga akhirnya manusia mempertanyakan kembali apa sebetulnya yang bekerja dalam “akal”. Apa itu nalar? Imajinasi? Fantasi? Atau kegilaan? Atau semata mata hanya “desire”? Atau boleh jadi tak ada apa-apa dalamnya? Boleh jadi yang ada hanya rentetan prosedur dari tuan-tuan pemegang hegemoni. Atau dari rentetan simbol dari fase-fase psikologis warisan dari orang tua saja.

Andai saja upaya membangun, membongkar, dan membangun lagi konstruksi dalam sains semudah yang anda katakan. Andai saja semua itu tidak memerlukan pergulatan politik. Andai saja.

Teori evolusi tak cukup untuk menjelaskan kekayaan alam yang melimpah ruah. Tak juga cukup untuk menjelaskan asal-usul manusia. Malahan dengan mempercayai teori evolusi dan sains secara keseluruhan, dunia mungkin tak seindah, tak semenakjubkan, dan tak se”mistis” seperti yang dilihat seorang anak yang baru pertama kali melihatnya. Dunia mungkin hanya tergambar seperti rentetan rumus.

Bukankah kisah penciptaan dalam kitab suci juga tak mampu menyembunyikan puisinya sendiri?

Saya kira kita butuh Heidegger di sini. Sebagai penyeimbang bahwa kitab suci, meski tak mampu dibuktikan, bisa mengilhami manusia sebagai puisi.

42. surendra - Februari 28, 2009

buat andrimanggadua

Tentang percaya pada akal:
Saya tidak punya jalan lain kecuali menggunakan akal untuk memahami dunia, bahkan untuk mengkritik (baca: membahas) akal, orang harus menggunakan satu2nya jalan yakni via akal. Saya tidak bilang bahwa segalanya adalah kita sadari, tapi semua pemahaman kita itu lahir dari otak kita. Penegasan saya adalah, walaupun orang percaya pada kitab suci, pemahaman yang diperoleh darinya adalah hasil akal dia. Semua keyakinan-agama lahir dari otak orang yang memiliki keyakinan tersebut.

Soal membangun dan membongkar teori-saintifik:
Memang ada kelembaman dalam setiap pemahaman seseorang, tidak terkecuali dalam teori sains (apalagi dalam keyakinan-agama). Namun sains selalu progres karena alasan sederhana: kemampuan eksplanasi dan prediksi. Semakin tinggi kemampuan suatu teori dalam eksplanasi dan prediksi, semakin diterima oleh komunitas ilmiah.

tentang teori evolusi
Sudah saya katakan, teori memang tidak eksak, selalu terdapat lack of knowledge, dan tidak akan memberi jawaban tentang makna hidup, walaupun bisa mengajukan problem makna hidup. Saya kira, teori evolusi, teori relativitas einstein, dan teori mekanika kuantum telah benar-benar memicu pertanyaan-pertanyaan filosofis yang serius. Dan itu memang bukan garapan sains.

sains dan seni
feynman pernah bilang, orang memang lebih menyukai seni ketimbang sains. Saya tidak tahu sebabnya, mungkin karena tidak mudah menangkap keindahan sains, mungkin memang seni lebih indah ketimbang sains. Tapi kesukaan kita akan keindahan adalah bagian dari akal, bagian dari otak kita.

Anda sempat menyinggung kisah penciptaan, saya tegaskan bahwa itu bukan monopoli agama-agama-berkitabsuci. Banyak kebudayaan yang memiliki mitos-mitos yang selalu menyentuh rasa gelisah kita akan asal dan arah wujud alam-semesta dan manusia. Walaupun demikian, mitos sebagian mengisi ruang-ruang ketidaktahuan kita. begitu ruang tersebut sebagian diisi oleh sains, sebenarnya mitos mengalami degradasi juga. Toh keindahan mitos tetap saja membekas dalam diri kita. Agar netral, misalnya, mitos-mitos Yunani bisa kita tolak sebagai sesuatu yang faktual, tapi tetap saja menyentuh akal kita, bahkan sangat menggugah.

Dan tentu saja, di samping sains, banyak juga yang bisa kita nikmati dalam hidup ini. Kalau Heidegger biasa menikmati puisi Holderin, saya menikmati musik Jawa dan Sunda, tari Jaipong, dan tentu saja tulisan2 mas goen

43. Ajie - Februari 28, 2009

Kritik postmodern memang sebuah kerendahhatian. Dan mungkin sikap rendah hati sains juga yang sebenarnya ingin mas Surendra tekankan disini. Tak ada yang kontradiktif kayaknya. Saya hanya baru saja memahami kenapa dalam hal seni GM memilih melihat ke Heidegger dan kenapa ‘puisi kitab suci’ memang sudah sepatutnya mendapatkan perhatian lebih.

44. andrimanggadua - Februari 28, 2009

Buat Ajie

Konsekuensi yang ditimbulkan dari penafsiran kitab suci secara metaforis bisa jadi adalah degradasi pada syariat. Sebab syariat biasanya ditafsirkan harfiah dan sedemikian gamblang. Saya berpendapat bahwa penafsiran metaforis kitab suci bisa digunakan, tapi tidak berlaku pada seluruh isi kitab suci.

Buat Surendra

Kelihatannya anda meringkus semua penerima input pada kategori “akal”. Bagaimana dengan hati?

Tentang bongkar membongkar:
Saya pernah membuktikannya. Komunitas ilmiah, dalam hal ini lembaga pendidikan, bukan cuma lembam tapi juga bebal. Mereka umumnya memperlakukan sains sebagai ladang nyari proyek. Saya tidak mempermasalahkan itu bila porsinya sesuai. Dan bukan cuma itu, bila datang “ilmu baru” yang tidak mereka kuasai, mereka biasanya menganggap itu sebagai ancaman, bukan malah menyambut dengan euforia.
Tentu saja kasus saya hanya sebatas komunitas saya.

Tentang sains dan filsafat:
Saya mau nanya, siapa sebetulnya yang duluan? Sains atau filsafat?
Konon Nietzsche terpengaruh teori evolusi, konon Hegel terpengaruh teori organisme.

Tentang keindahan saintifik:
Saya kira alasan kenapa orang kurang menyenangi sains cukup jelas. Kebanyakan orang membayangkan mukjizat itu semacam membelah laut, atau semenggetarkan tetralogi pulau buru Pramoedya Ananta Toer, bukan belasan lembar derivasi “best linier unbiased estimator” ekonometri. :p

Oiya, saya ngga gitu suka tari jaipong, saya suka tarian (dan penarinya) yang bersemangat. Hmmm….
Saya musisi, soalnya
Dan kerendahan hati tak menyelesaikan semuanya.

45. Maximillian - Maret 1, 2009

Darwin adalah seorang pengamat natural ( Natur Observer). Kalau mau tahu cara Tuhan berbahasa, maka salah satu caranya, adalah menjadi manusia yang bisa membaca semesta dalam kacamata sains.

Tuhan jangan didikte dong. Kalau memang Dia menggunakan mekanisme evolusi sebagai salah satu metode penciptaan, ya itu kan terserah Dia, Dia Mahaberkehendak

Relativitas, gravitasi, evolusi molekuler, metabolisme, itu mukjizat dan sangat indah. Maka nikmat Tuhan manakah yang akan kamu dustakan ?…Ah, label agamawan atau struktur dalam sistem tata nilai wahyu adalah klaim manusia, terkadang malah bikin ribet.

So, stay “Iqra”, on becoming observer ^_^ Nice Bang GM

46. Ajie - Maret 1, 2009

@andrimanggadua
Tepat sekali. Karena itulah saya memakai kata “puisi kitab suci memang sudah sepatutnya mendapatkan perhatian lebih” (bukan menulis..sebagai satu-satunya jalan keluar misalnya”) karena dengan perhatian lebih itu tadi kita bisa berharap bisa mengurangi kecenderungan statis dalam sistem kepercayaan kita selama ini. Saya juga punya firasat konsekuensinya akan seperti bung Andri katakan dan mungkin bisa menjadi kritik juga untuk GM atau orang-orang yang menjadikannya sebuah bentuk ekstrim lain.

47. espito - Maret 1, 2009

@massto

wah, elu kali yang lagi ngelamun dan hidup dlm imaginary world :-) .. emang situ bisa buktiin toh kalo manusia pertama adlh adam-hawa – dan bukan hasil evolusi dr spesies lain, hah?
mitologi bukanlah sesuatu yg buruk, bung! mitologi mrpkn upaya manusia menemukan makna eksistensinya, sekaligus juga memenuhi kebutuhan spiritualnya dan membangun hukum moral di atasnya. saya hanya bilang bahwa agama serupa mitologi; saya tak mengatakan bahwa agama adalah buruk (sebagaimana mitologi yg juga punya nilai2 positif di dlmnya). bagaimana? [saya harap anda-lah yg tidak sekedar njeplak!]

setuju sama adjie: kritik posmodern adlh sebuah kerendahhatian.
saya jadi teringat dekonstruksi-nya derrida: “tunda dulu klaim kebenaran atas apa yg kau pikirkan,” begitu kira2 simpelnya.
segala hasil pikiran, entah itu penafsiran teks2 agama ataukah riset ilmupengetahuan, mesti menunda dulu klaim kebenarannya demi membuka kesempatan bagi suara para liyan..

48. espito - Maret 1, 2009

@massto

wah, elu kali yang lagi ngelamun dan hidup dlm imaginary world :-) .. emang situ bisa buktiin toh kalo manusia pertama adlh adam-hawa – dan bukan hasil evolusi dr spesies lain, hah?
mitologi bukanlah sesuatu yg buruk, bung! mitologi mrpkn upaya manusia menemukan makna eksistensinya, sekaligus juga memenuhi kebutuhan spiritualnya dan membangun hukum moral di atasnya. saya hanya bilang bahwa agama serupa mitologi; saya tak mengatakan bahwa agama adalah buruk (sebagaimana mitologi yg juga punya nilai2 positif di dlmnya). satu kesalahan umum dlm membaca teks agama adalah memahami maknanya secara harfiah, pdhl bahasa kitab suci adlh bahasa puitis (yg itu berarti multi-tafsir). bagaimana, bung massto? [saya harap anda-lah yg tidak sekedar njeplak!]

setuju sama adjie: kritik posmodern adlh sebuah kerendahhatian.
saya jadi teringat dekonstruksi-nya derrida: “tunda dulu klaim kebenaran atas apa yg kau pikirkan,” begitu kira2 simpelnya.
segala hasil pikiran, entah itu penafsiran teks2 agama ataukah riset ilmupengetahuan, mesti menunda dulu klaim kebenarannya demi membuka kesempatan bagi suara para liyan.
mungkin itulah sisi positif posmo..

49. espito - Maret 1, 2009

@massto

wah, elu kali yang lagi ngelamun dan hidup dlm imaginary world :-) .. emang situ bisa buktiin toh kalo manusia pertama adlh adam-hawa – dan bukan hasil evolusi dr spesies lain, hah?
mitologi bukanlah sesuatu yg buruk, bung! mitologi mrpkn upaya manusia menemukan makna eksistensinya, sekaligus juga memenuhi kebutuhan spiritualnya dan membangun hukum moral di atasnya. saya hanya bilang bahwa agama serupa mitologi; saya tak mengatakan bahwa agama adalah buruk (sebagaimana mitologi yg juga punya nilai2 positif di dlmnya). satu kesalahan umum dlm membaca teks agama adalah memahami maknanya secara harfiah, pdhl bahasa kitab suci adlh bahasa puitis (yg itu berarti multi-tafsir). bagaimana, bung massto? [saya harap anda-lah yg tidak sekedar njeplak!]

setuju sama ajie: kritik posmodern adlh sebuah kerendahhatian.
saya jadi teringat dekonstruksi-nya derrida: “tunda dulu klaim kebenaran atas apa yg kau pikirkan,” begitu kira2 simpelnya.
segala hasil pikiran, entah itu penafsiran teks2 agama ataukah riset ilmupengetahuan, mesti menunda dulu klaim kebenarannya demi membuka kesempatan bagi suara para liyan.
mungkin itulah sisi positif posmo..

50. massto - Maret 1, 2009

@ espito
kalo emang manusia berasal dari spesies yang lain (monyet),..seperti katamu itu,..pertanyaannya kenapa monyet2 yang ada sekarang nggak pernah membuat keturunan (ato sekedar berevolusi menjadi serupa) manusia???…
manusia adalah manusia,..monyet adalah monyet,..

masalah mo dibuktikan adam hawa manusia pertama ato bukan, itu bukan urusan akal saya,..juga bukan urusan ilpeng yang kamu agung2kan itu tuan profesor espito yang terhormat,..tapi,itu urusan iman saya,..isLam saya,..(baca tulisan saya sebelumnya, tentang syariat berwudlu)
urusan kamu mo percaya ato nggak, bukan urusan saya,..

saya cuma tidak suka gaya2 sok muslim yang menutup kecerdasan berpikir akal manusia,..banyak hal yang belum dijelaskan secara langsung oleh kitab suci+hadits yang membutuhkan pengertian,..dan satu2nya jalan adalah pakailah akal,..bukan dengkulmu kuwi,..

darwin memberikan sumbangsih dalam perjalanan sejarah manusia,..negatip/positip (juga bukan urusan saya)…
gak usah sok membela kaya PETD (pembela teori darwin),..kaya mo dapet reward dari alm. darwin aja lu!!!

51. espito - Maret 2, 2009

@massto

wah.. dari komennya nih kayaknya bung masto berduga-sangka belaka pada saya.. ;-) saya cuma bilang: agama gak butuh ilpeng, ilpeng pun gak butuh agama.. (tapi manusia mungkin butuh keduanya). Dan ketika ilpeng mendapati bukti yg mengarah pada adanya evolusi dlm semesta kehidupan, sementara itu bertentangan dengan teks agama (bila teks agama tsb dipahami secara harfiah, tentunya), apa kita masih ngotot utk memahami teks agama scr harfiah sembari menutup mata pada hasil riset ilpeng? tidakkah anda berpikir kisah penciptaan adam “dari tanah yg ditiupi ruh” itu sbg kisah metaforis? dan bukankah bahasa kitabsuci adalah bahasa puitis/metaforis yang, sudah barangtentu, tak bisa dibaca/dimaknai secara harfiah? Membaca teks kitabsuci secara harfiah, bukankah itu justru sebuah tindakan kekerasan diskursif terhadapnya?

Iman yg rontok gara2 ilpeng mungkin bukan “iman manusia dewasa”. Ia lebih menyerupai “iman yang kekanak-kanakan.” saya harap iman anda bukan iman yg seperti itu.

“seorang terpelajar,” pernah pram berkata, “harus adil sudah sejak dari dalam pikiran.” itu artinya, kurang-lebih, tidak menuduh orang lain atas dasar syak-wasangka belaka…
Moga2 bung massto bisa berpikir jernih, tidak lagi gampang menuduh dan berprasangka pd org lain. Tabik!

52. massto - Maret 2, 2009

@espito

walah lah mas mas.., nduwe akal kok mencla mencle,..
baru tak kasih pertanyaan segitu aja wis ganti lagi…

makane dari kemaren2 saya bilang: udah tau blum kalo darwin tuh pengidap sindrom asperger (googling dulu sana!!),.. coba dari situ mungkin ada riwayat sejarah baru tentang darwin, kenapa sampe dia punya pikiran seperti itu!!

jadilah adil sejak dalam pikiranmu!!!

jangan segala apa yang dari barat (berkedok ilpeng) dibenarkan, dipuja puja,..trus kalo produk lokal dicampakkan,..

sapa tau dalam perjalanan sejarahnya Darwin tuh cuma manusia yang selevel sama Lia aminudin, ato heru lelono, ato cuma profesor autis yang sibuk dengan dunianya sendiri,..

makane mas,.. urip ojo kebanyakan dipikiri,..tapi dijalani,.. sukur2 nggak cuma mengandalkan kekayaan/warisan ortu,..kaya si darwin ini,..

tabik buatmu espito,..

53. espito - Maret 2, 2009

@massto

tuh kan masih main tuduh dan berprasangka dan emosional *heran dech..*
udah wes, saya gak mampu lagi bertukar pikiran dgn sampean yg nampaknya keraskepala begitu..

daagghhh..

54. massto - Maret 2, 2009

maaf mas espito, sekedar menambahi saja,..

saya ndak tau anda ini pernah mempelajari agama islam ato nggak???..tapi sejauh yang saya yakini,..dalam keislaman saya,.. iman dan ilpeng adalah saling melengkapi,..bukan seperti pemikiranmu itu!!
islam nggak sekedar mitologi dogmatis,..
dalam keislaman saya yang masih seujung kuku ini,..akal sebagai titik tolak ilpeng,..diberi kebebasan untuk sebanyak2nya memperkuat keimanan itu sendiri,.. dan insya allah iman islam saya sesuai harapan mas espito diatas,..

saya tuh aneh aja sama manusia terpelajar nusantara sekarang,..yang terpukau barat dengan ilpengnya(seperti saya waktu msh SD),..padahal kita nggak pernah nyadar implikasi ke kehidupan kita sendiri,..apakah itu bagian dari propaganda penghisapan ato bukan,..

ingat bung,.. sudah lama nusantara cuma jadi ladang bercocok tanam para penghisap,..termasuk bercocok tanam filsafat katrok,..

kita aja yang tertipu,..dipusingin hal2 katro,..
sementara mereka terus2an panen dari ladang2 kita,..

sing eling,..

55. isoelaiman - Maret 2, 2009

Sangat beruntung ikut diskusi di “daerah perbatasan”, asyik juga. Kadang geram, menderu, menerawang, melayang-layang di dunia antah berantah.
Maafkan saya menuliskan pikiran dengan menyebut nama dan kalimat tuan-tuan, agar lebih fokus. Pertama, saudaraku surendra, “intinya: iman itu juga produk akal.” Ya, benar dan setuju banget. Hanya, kurang cukup. Usul saya adalah, iman itu disamping produk akal, juga produk petunjuk Tuhan. Istilahnya “hidayah”. Sebab, sekaliber apapun intelektual seseorang tidak menjamin bahwa dia itu beriman. Tidak otomatis seseorang yang akalnya hebat akan menjadi orang beriman. Ada campur tangan Tuhan. Makanya, di kitab suci disebutkan “…akh sama saja Anda beri peringatan atau tidak, orang kafir itu tak akan beriman.”
Saudaraku espito, “… emang situ bisa buktiin toh kalo manusia pertama adlh adam-hawa – dan bukan hasil evolusi dr spesies lain, hah?”. Pertanyaan ini menarik, maksud kalimat yang saya pahami, pertanyaannya seperti ini. “buktikan dulu secara ilmiah –seperti ilmiahnya teori evolusi–, bahwa Adam dan Hawa ciptaan Tuhan, baru gue percaya. Bagi orang yang beriman tak bersusah payah untuk membuktikannya. Cukup, dia percaya 100% apa yang tertera secara jelas –tak perlu metafora lagi– dalam Al-Qur’an. Namun juga orang beriman tak bersikap melarang –bahkan menghormati–pada orang yang ingin membuktikannya. Meski, apapun hasilnya, orang beriman tetap pada kitab suci. Kenapa, karena Tuhan Maha Benar yang Mutlak, sedangkan akal manusia relative, nisbi, dzan. Buktinya bantahan terhadap teori evolusi dengan kualitas sebanding tetap membuntutinya. Itulah makanya relative.
Masih espito, dengan mengutip derrida, “…segala hasil pikiran, entah itu penafsiran teks2 agama ataukah riset ilmupengetahuan, mesti menunda dulu klaim kebenarannya demi membuka kesempatan bagi suara para liyan..”.
Pernyataan yang bernada “ketentuan” atau “aturan” ini sangat menarik dan saya sangat hormat. Pertanyaannya mesti menunda sampai kapan? Bila begitu ketentuannya, kita, –paling tidak saya– akan menemui masalah yang sangat serius. Yakni, menunggu “kebenaran bakal datang”, demi membuka kesempatan bagi suara liyan.. Siapa liyan itu, hingga punya otoritas bagaikan “menyaingi” Tuhan? Apakah liyan itu mempunyai ilmu penelitian dan metode ilmiah yang sangat hebat sehingga mempunyai otoritas dalam penciptaan manusia? Atau apakah ini bukan bentuk lain dari “penghindaran” dengan sekaligus memandang sinis sembari mengatakan mitogi-lah, kolot-lah, sok benar sendiri-lah.
Manusia, dalam hidupnya membutuhkan pegangan untuk diyakini kebenarannya sebagai dasar untuk berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan. Agak sulit membayangkan –meski mungkin ada–, bahwa manusia hidup dalam keraguan yang terus menerus, atau skeptisime yang sistematis? Paling tidak, manusia membutuhkan keyakinan itu sebelum sakarat menjemputnya.

56. massto - Maret 2, 2009

ijinkan saya menjawab pertanyaan mas isoelaiman diatas,..derrida, mesti menunda sampai kapan???

jawabannya adalah menunda sampai habisnya segala kesuburan ladang2 kita,..nanti kalo bangsa kita sudah kere sekere-kerenya,.. diangkut semua hasilnya sama anak cucu derrida,..kebo bule berpayung perusahaan multinasional, rentenir berkedok IMF, World Bank,.. juga tetep jualan kondom, tespack, pake promosi seks bebas tapi sehat,..

baru saat itu terjawab pertanyaan derrida diatas!!!

sing elinga yen dadi menusa,..

57. Ajie - Maret 2, 2009

nggih bung massto….:)
Thanks udah mampir kemaren…

58. massto - Maret 2, 2009

hehehe,..kikuk kikuk kikuk…

makasih juga mas ajie..,

kesuwun…

59. vina kamisama - Maret 2, 2009

hmm…. apa salahnya sih mempertanyakan tuhan?

bingung saya..

60. jajang - Maret 2, 2009

wah.. lucu tenan iki.. monyet-monyet pada berdebat soal teori evolusi.. ada monyet konservatif yg getol belain agama.. ada monyet liberal yg ngotot ngebela sains.. tapi ada gak ya di atas monyet teroris yg bakal memasang bom di makam darwin buat balas dendam karena kedok kemonyetannya di bongkar lewat coratcoret teori evolusi? (hei massto, jangan2 ente monyet fundamentalis ya, kok dendam kesumat bgt ama bule?)
ah, dasar monyet kabeh tenan..
wes ra sah tukar padu, podo2 monyete wae kok tukaran.. ndang podho bali nang alas kono, husshh !!!

61. pambudi - Maret 2, 2009

@ isoelaiman
emang kamu tahu: apa, siapa, dan dimana tuhan itu (bila ia adalah seperti apa yg kamu persepsi?)

@ massto
sebelum ngebacot yg enggak2 sembari nyatut derrida, mending pelajari dulu itu dekonstruksi. jgn jadi terpelajar yg blo’on dan geblek yg cuma bisa teriak2 di jln kayak kernet mikrolet.

@ vina kamisama
setuju; gak ada salahnya mempertanyakan tuhan kecuali bagi: (1) orang yg hidupnya sudah bahagia, (2) orang yg gak punya waktu luang buat berpikir ttg tuhan, (3) orang yg takut cerita neraka, dan atau (4) orang yang idiot (include terpelajar yg wawasannya sempit dan fanatik pd agama)..

62. Mulyadi (bapak'e jajang) - Maret 2, 2009

Jajang…Jajang…disuruh manjat ngambil kelapa kok malah internetan…mbaca Caping lagi… :D
Ojo nesu…tambah aneh ntar…wis iso ngenet…ee… iso mbaca n nesu pisan. Piss..

63. jajang - Maret 2, 2009

iya nih bapak mulmul.. abis kelapanya abis digarong bajing. yg ada tinggal degan. bapak mulmul doyan degan kan? (eh, bapak, sini jajang bisikin: degan manjur buat nyuburin sperma. biar air mani bapak mulmul nyemprot deras gitu :-) )
pisss.. currr..

64. andrimanggadua - Maret 2, 2009

Tentang Tuhan

Saya ingat Kierkegaard ketika menceritakan Nabi Ibrahim dengan perspektif yang sangat menarik. Saya kembali membuka-buka Quran setelah membacanya. Dan anehnya, saya hanya menemukan beberapa hal sederhana.

1. Nabi Ibrahim rupa-rupanya paham betul bahwa manusia membutuhkan Tuhan. “Sesuatu” yang mampu memberikan manfaat dan mudarat, sesuatu yang setiap saat siap siaga, sesuatu yang bisa dipercaya, tidak tidur dan tidak mati.

2. Nabi Ibrahim berfalsifikasi.
Maksud saya, kebutuhan akan kriteria Tuhan di atas tidak dapat dipenuhi oleh berhala-berhala buatan bapaknya. Dia hanya yakin bahwa patung, bulan dan matahari itu bukan Tuhan. Sedangkan wujud Tuhan itu bagaimana, dia tak pernah tahu. Di sinilah timbul pertanyaan, jangan-jangan Tuhan tak ada?

4. Nabi Ibrahim minta bukti nyata dari Tuhan. diceritakan Nabi ibrahim menyaksikan burung yang sudah mati, di pencar-pencarkan bagian tubuhnya, kemudian Tuhan menghidupkan kembali burung itu. Tak ada keterangan Nabi Ibrahim pernah melihat Tuhan.

Sedangkan kita, yang bukan Nabi, mungkin hanya sampai pada tahap 3 di atas. Wajar saja kita nanya macem-macem. Ngga ada masalah.

Namun demikian, cobaan untuk Nabi Ibrahim, ketika banyak hal ia dapatkan dari akalnya, Ia justru diuji untuk melawan akalnya sendiri. Diceritakan bahwa kemudian Nabi Ibrahim diperintahkan Tuhan untuk membunuh anaknya sendiri. Sebuah tindakan Immoral dan tak dapat ditiru. Tapi Nabi Ibrahim datang memenuhi cobaan itu.

65. massto - Maret 2, 2009

hwalahh,..nyet nyet,.. gak iso jawab pake akal sing asli manusia po?? jebule mung boso monyet thok,..

kalok situ ngrasa yakin turunan monyet,..yowes urusanmu sana,..

saya cuma tanya,..tunjukan secara ilpeng,..kenapa monyet yang ada sekarang kok nggak pernah membuat keturunan (ato sekedar berevolusi serupa) manusia??

silahkan dijawab??
nb: rasah nggo boso monyet,..ketok monyete,..wkkkkk

66. jajang - Maret 2, 2009

weee.. masstopengmonyet marah nich ;-) ada lagi monyet lain yg pengen marah buat nemenin monyet di atas?

67. massto - Maret 2, 2009

walah,..njebul meneh tho monyete,..

yowes,.. piss ah nyet,.. gw mo keliling dulu bawa nenek moyangmu nggolek duit,..

wokehh,..

si jajang senior pergi ke pasar,… wkakakakaka

68. isoelaiman - Maret 3, 2009

Vina kamisama yang lagi bingung (?), “hmm…. apa salahnya sih mempertanyakan tuhan?” Selamat atas kebingungan Anda. Maaf Vina, menurutku, ini bukan soal salah dan benar. Tapi, lebih ke persoalan ethical, pantas, tata susila, peradaban. Wajar, si tercipta “mencari” penciptanya. Dan ini jenis tindakan paling mulia. Karena itu, saya sangat hormat kepada mereka semuanya. Jadi, semua itu adalah proses pencarian dan penemuan.
Perkenankan saya menuliskan yang saya baca. Ternyata apa yang dalam Al-Qur’an itu benar adanya dalam dunia nyata, kini dan disini. Polemik zaman rasul dan nabi, hadir kembali, persis sama. Hanya istilahnya saja rada beda. Pesan yang disampaikan sama.
Bahwa ada yang begitu berani “menantang” Tuhan, seperti kisah bani Israil, persis. Ada yang menjadikan agamanya sebagai bahan olok-olokan. Ada yang keraguannya pada Tuhan itu begitu mendominasi dirinya, hingga dirinya meraba dalam gelap. Ada yang keberadaan Tuhan itu harus lewat uji empiris akalnya. Ada juga yang mukanya tunduk, hatinya bergetar penuh rasa takut bila disebut nama Allah.
Saudaraku Pambudi, “..emang kamu tahu: apa, siapa, dan dimana tuhan itu (bila ia adalah seperti apa yg kamu persepsi?)..” Jawabku, yaaa nggak lah yaw. Mene ketehe? Maksud ane, apalah daya nalar ane untuk mengetahui-Nya. Yang kutahu, tentang Tuhan, itu ada dalam Al-Qur’an. Nabi Muhammad juga, mana tahu kalau tak dapat wahyu dari Tuhan? Dia pernah bilang “…aku manusia biasa seperti kalian juga, cuma aku dapat wahyu”. Gitu aja. Misalnya disebutkan Tuhan itu lebih dekat dengan dirimu, ketimbang urat lehermu (hablul wariid). Berarti Tuhan itu immanen, kan. Hadir, kan?
Mas Pambudi, kini tinggal sikap kita terhadap kebenaran wahyu itu. Boleh tunggu dulu, boleh ingkar, boleh percaya, boleh teliti dulu, silahkan. Hanya, saya yakin, semua mereka yang ekstrim menerima atau menolak itu, akan kembali kepada-Nya. Bukti-Nya, tak ada kan manusia yang berumur lebih dari 150 tahun?

69. andrimanggadua - Maret 3, 2009

Dear massto,

Yang anda maksud itu barangkali “mata rantai yang hilang” dalam teori evolusi. Itu sudah dibahas GM di atas. Mas Surendra menyebutnya “lack of knowledge”.

Saya juga mau mengajukan kritik Giddens untuk dekonstruksi:
Tanpa mengurangi rasa hormat pada sumbangan mereka, dekonstruksi sejauh ini hanya mampu membongkar, belum ada bukti bahwa mereka mampu membangun konstruksi kembali….

Btw, surendra ko ga kedengeran lagi….

70. massto - Maret 3, 2009

makasih mas andri,..

tp,..maaf,..saat ini saya lagi sibuk nggolek yotro mas,..

ya,.. walopun panas,.. tapi terpaksa mas,.. keliling komplek,..

71. jajang - Maret 3, 2009

wealah… nyemot2 masih berpolemik soal evolusi tho! pesan sesama nyemot: janganlah jadi kacang yg lupa akan kulitnya ;-)
monggo pon diteruske diskusine…

72. surendra - Maret 4, 2009

Memang betul, andrimanggadua, saya meringkus semuanya ke dalam istilah akal, baik itu pikiran, perasaan, hati, sadar atau tak-sadar dst.. Hal itu karena memang bagaimana kerja pikiran itu tak begitu jelas, walaupun steven pinker berusaha memperjelas. Saya misalnya melihat naluri akan keamanan dan keselamatan mempengaruhi secara tak sadar akan putusan-putusan sadar kita, juga misalnya perasaan nyaman dalam kelompok juga mempengaruhi putusan2 tersebut.

Sebenarnya dalam postingan saya kemarin sudah jelas mau saya, saya hanya menegaskan bahwa walaupun orang mendasarkan pemahamannya pada kitab suci, pemahaman tersebut adalah hasil akal dia, dan orang lain yang sama2 mendasarkan dirinya pada kitab suci bisa saja memiliki pemahaman yang 180 derajat bedanya dengan orang pertama karena memang kedua-duanya menggunakan akalnya untuk menghasilkan pemahaman tersebut. Walaupun isoleiman dengan menyitir ayat mengatakan adanya hidayah keimanan, toh keyakinan isoleiman akan hidayah juga hasil dari usahanya memahami ayat tersebut. Saya bisa mengajukan kritik pada penafsirannya bahwa toh orang2 yang tuhan katakan tidak akan beriman tersebut akhirnya pada fathul makkah juga beriman (Apakah sebelumnya mereka tidak diberi hidayah kemudian belakangan tuhan memberi mereka hidayah? Setelah mereka kalah? Jika memang tergantung pada hidayah, apakah tuhan hanya main2 saja?). Tapi saya tidak akan masuk ke detail perdebatan ttg ayat itu.

Menafsirkan kisah2 di kitab suci secara metaforis tidak mengurangi sedikitpun keimanan seseorang. Walaupun memang arus utama pemikiran keagamaan meyakini bahwa kisah2 di kitab suci adalah faktual, toh masih ada ahli, misalnya muhammad khalafallah, yang memandang kisah2 tersebut merupakan perumpamaan yang memiliki dorongan agar umat yang beriman pada kitab suci mengarah kepada kebenaran. Saya juga tidak berpretensi untuk mengatakan keseluruhan isi kitab suci adalah metafor, tapi pemilahan mana yang umum mana yang khusus, mana yang metafor dan mana yang faktual, mana yang pokok dan mana yang cabang, merupakan produk akal penafsir juga.

Saya kira ini akhir dari postingan saya dalam tema ini, saya undur diri dari polemik ini karena saya merasa sudah menyampaikan semuanya.

Semoga akal kita menuntun pada kebenaran, apapun kebenaran itu.

73. isoelaiman - Maret 4, 2009

Amiieen, mas surendra, selamat undur diri. Terima kasih berat penjelasannya. Sungguh saya belajar banyak. Pertama, kini, saya jadi mengerti. Sikap manusia terhadap ayat suci itu hanya melalui satu pintu, yakni akal. Jadi, status ayat suci, kemudian jatuh “derajat”nya ke daerah akal, karena manusia menafsirkannya, memahaminya melalui akalnya. Dan, karena akal bisa bener dan bisa salah, maka ayat suci itu lalu terkena “hukum” yang bisa bener, dan bisa salah. Okh begitu, tokh. Saya benar-benar belajar dengan logika seperti ini. Makanya, mas surendra, menulis seperti ini “…dan orang lain yang sama2 mendasarkan dirinya pada kitab suci bisa saja memiliki pemahaman yang 180 derajat bedanya dengan orang pertama karena memang kedua-duanya menggunakan akalnya untuk menghasilkan pemahaman tersebut.” Ck,ck,ck.
Kedua, “… Jika memang tergantung pada hidayah, apakah tuhan hanya main2 saja?).” Ya, mas surendra benar, memang tergantung pada hidayah. Jangankan itu, mas surendra, sabda Allah pada Muhammad Rasulullah, “Ku-dapati kamu sesat, maka Ku-beri petunjuk”. Jadi, jelas, Nabi Muhammad sendiri bila tak dapat petunjuk, akan sesat. Ayat suci itu menyatakan begitu. Jadi, memang tergantung petunjuk, bukan akalnya Muhammad. Meski, sebelum dan beristrikan Khadijah, tiap bulan Ramadhan Muhammad ‘uzlah ke Gua Hira sebulan penuh, hingga kurus dan mukanya pucat pasi . Ini bagian ikhtiyar manusiawinya.
Ketiga, soal pendekatan terhadap ayat suci; metafor (metaphor, kiasan), faktual, umum, khusus. Sepenuhnya saya sependapat, ada ayat metaphor, misalnya “yadullah fauqa aidiihim”, harfiahnya, tangan Allah di atas tangan mereka. Tergantung derajat akal manusia, –itulah dahsyatnya Al-Qur’an–, boleh ditafsirkan faktual, boleh juga metafor. Sangat berterima kasih bila mas surendra bisa menunjukkan perbedaan para penafsir atas suatu ayat yang mana atas pernyataan mas, bahwa “bisa saja memiliki pemahaman yang 180 derajat berbeda”. Bisa, sih, dalam pengandaian akal kita. Buktinya?
Sekali lagi, terima kasih, mas surendra telah merasa menyampaikan “semuanya” dan lalu undur diri. Meski, sedikit usil, apakah dengan telah “semuanya”, kemudian itu menjadi kebenaran? Atau kita-kita, –paling tidak, saya– kok gak paham-paham yang mas mau. Mau, mau, mau, benar, benar, benar!

74. espito - Maret 4, 2009

@isoelaeman
mohon ijin sebelumnya tuk sedikit urun rembug:
“…dan orang lain yang sama2 mendasarkan dirinya pada kitab suci bisa saja memiliki pemahaman yang 180 derajat bedanya dengan orang pertama karena memang kedua-duanya menggunakan akalnya untuk menghasilkan pemahaman tersebut.”
saya setuju dgn pernyataan sdr surendra tsb. contoh gamblangnya: ada orang yg mengutip ayat untuk kemudian berbuat kebajikan atas dasar pemahaman ayat tsb. tapi ada pula org yang mengutip ayat bukan untuk berbuat baik namun justru melakukan tindak kejahatan. contoh yg kedua ini adalah para ekstremis agama yg gampang menumpahkan darah sembari menebar ancaman teror. ingat bahwa tiga khalifah setelah abu bakar semuanya tewas dibunuh orang islam sendiri, dan mereka mendasarkan tindakan pembunuhan itu pada ayat2 kitab suci. pertanyaannya: berisi perintah baik dan perintah jahatkah kitab suci itu? ato kalo tidak maka bukankah akal manusia yg menafsirkannyalah yg bisa “lurus” namun bisa pula “bengkok”?
msh kurang terangkah?
memahami kitabsuci spt halnya kita membaca buku manual petunjuk pemakaian ponsel, misalnya, tentu mrpkan “cara yg tak tepat”.
sekian..

75. jokopetir - Maret 4, 2009

@isoelaeman

“Hanya, saya yakin, semua mereka yang ekstrim menerima atau menolak itu, akan kembali kepada-Nya. Bukti-Nya, tak ada kan manusia yang berumur lebih dari 150 tahun?”

saya kira ini sebuah logika yg kekanak-kanakan dan amat gegabah serta jauh dari kelaziman diskusi ilmiah..
bagaimana bila kemudian ada seorang ateis yg menanyakan ke anda begini misalnya: bagaimana anda tahu keberadaan tuhan dan bagaimana pula anda menyimpulkan hal tsb lha wong buktinya manusia mati dikubur lalu jadi tanah, ato dibakar lantas jadi abu! si ateis pun akan mengira anda sedang mengalami waham atau gangguan jiwa karena begitu yakinnya mengatakan sesuatu yg tak pernah ada bukti empiriknya.

saya kira meyakini agama scr buta bukanlah sikap dewasa, arif dan bijaksana..
kita perlu mendengar suara lain agar tak berat sebelah dlm menilai hidup ini..

76. Ajie - Maret 4, 2009

@isoleman
Ya kenyataannya begitu Bapak Isoleman…makanya ada Syah…Suni..yang walaupun sama2 islam bisa saling bunuh….dll…dll. Nada2nya neh anti multi tafsir ya :D wah..wah..

77. Ajie - Maret 4, 2009

Mohon maaf jika salah duga
Piss..

78. Dodo - Maret 4, 2009

@isoleman
“…..Tergantung derajat akal manusia, –itulah dahsyatnya Al-Qur’an–, boleh ditafsirkan faktual, boleh juga metafor.”

Agak-agak kontradiktif neh….hehe.
Yo wis gini aja. Mas iSoleman kasih contoh…mana yang bagian “akal” mana yang bagian “hidayah” (mungkin dalam artian “non-akal”/nerimo/tanpa tafsir/atau apalah….).
C’mon….kasi kami contoh biar bisa saling memahami…

79. andrimanggadua - Maret 4, 2009

Buat Surendra

Jangan pergi, dong…. ;)
Ada fesbuk ngga? Heheheheehe
Aku nikmatin sekali tulisanmu

80. isoelaiman - Maret 5, 2009

Mas Dodo dan Mas Jokopetir, yang kalimatnya bernada mirip. Bisa dibaca misalnya di Surat An-Naz’iat, 10 – 14, (Orang-orang kafir) berkata, “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat? Mereka berkata, “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”.
Pada ayat berikutnya, masih di Surat An-Nazi’at, Allah menegaskan, “Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi”.
Dalam ayat-ayat ini dijelaskan bahwa orang kafir itu ragu, bahkan tak percaya bila mayat yang sudah hancur, apa karena dikubur atau dibakar, bisa hidup kembali. Namun Allah Maha Kuasa untuk itu, bahkan pengembalian itu hanya dengan satu kali tiupan saja. Subhanallah.
Adalagi, kisah di Surat Al-Kahfi yang didalamnya ada kisah, pemuda beriman “dimatikan Allah ratusan tahun, dan juga anjingnya, kemudian dihidupkan lagi, mereka bilang hanya tidur sesaat.” Kisah ini menurutku bukti empiris. Dan sulit bagi akal untuk dapat menerimanya, walau pun itu benar-benar terjadi.
Nah, Mas Jokopetir, apakah sebaiknya kita harus membuktikan secara empiris dulu, tulang-belulang bisa hidup, agar orang kafir itu beriman? Atau, menurut Mas, bagaimana menyikapi ayat-ayat seperti itu, dan ayat-ayat lain yang serupa pesannya?
Jadi, apakah bukti empiris itu menjamin manusia untuk beriman? Di Surat At-Tagabun ayat 2, “Dialah yang menciptakan kalian, maka diantara kalian ada yang kafir dan diantara kalian ada yang beriman”.
Bahkan, orang-orang kafir itu mengakui sendiri kekafirannya, Surat Al-A’raf ayat 37, “… dan mereka mengakui terhadap diri mereka, bahwa mereka adalah orang-orang kafir”.
Mereka yang percaya tanpa harus ada atau tidak ada bukti empiris dulu, itulah yang dinamakan beriman, dan itu, karena –sekali lagi,– mereka itu percaya karena mendapat hidayah Allah. Ini yang saya pahami.
Tentang kalimat saya “…semua mereka yang ekstrim menerima atau menolak itu, akan kembali kepada-Nya.” Maksudnya, semua manusia itu akan mati, dan itu berarti kembali kepada-Nya. Mau tidak mau, pasti menghadap kepada Allah. Makanya kala ada orang yang meninggal, orang Islam mengucapkan “Innaa lillaahi wainnaa ilaihi roji’uun”, sesungguhnya kita semua dari Allah dan sesungguhnya

Buat Mas Dodo, kalimat saya “…boleh ditafsirkan faktual, boleh juga metafor.” Maksud saya jelas, “yadullah…” dalam ayat suci itu bisa dipahami secara metafor dengan makna “kekuasaan”. Tapi, saya yang ndeso, memahami tajassum, faktual, bener-bener tangan. Dan itu tidak dilarang. Kedua, Al-Qur’an yang 30 juz itu, menurutku adalah Kalam Allah, makanya dalam implementasinya ada petunjuk operasionalnya, yakni hadist (tindakan, ucapan dan ketetapan) Nabi Muhammad.

Buat Mas Espito, yang menulis “… ada orang yg mengutip ayat untuk kemudian berbuat kebajikan … dst, … contoh yg kedua ini adalah para ekstremis agama …dst-nya. …berisi perintah baik dan perintah jahatkah kitab suci itu? ato kalo tidak maka bukankah akal manusia yg menafsirkannyalah yg bisa “lurus” namun bisa pula “bengkok”?”

Bila betul bahwa pelaku kejahatan itu dalam melakukan kejahatannya mengutip ayat, bolehkah saya balik tanya, benarkah mereka dalam melakukan kejahatannya mengutip ayat suci. Bila, betul, bolehkah Mas tunjukkan ayat suci yang manakah yang bisa dikutip untuk pembenaran kejahatan?

Buat Mas Ajie, yang menulis, “Nada2nya neh anti multi tafsir ya wah..wah..” Ya, jujur saja, belum banyak kitab tafsir yang saya punya dan baca seluruhnya. Yang saya tahu, ada kelompok Syiah yang meragukan otentisitas Al-Qur’an yang sekarang ini. Mereka bilang ayat Al-Qur’an itu 17.000 ayat, bahkan ada katanya yang paling ekstrimnya mengatakan bahwa Sahabat Ali itu tuhan, atau ma’shum, subhanallah. Belum, Khawarij, yang saat Rasulullah masih hidup, sudah mengatakan bahwa nanti dari keturunan orang itu akan lahir kelompok begini dan begini. Makanya, Rasulullah menyabdakan bahwa ummat Islam akan pecah menjadi 73 golongan dan seterusnya.
Mas Ajie, boleh tanya kan? Untuk menjadi multi tafsir, berapa kitab tafsir minimal harus dipunyai, dibaca, dipahami? Boleh kasih tahu, siapa penulisnya, judulnya dan dapat diperoleh dimana? Sangat berterima kasih, Mas.

81. Ajie - Maret 5, 2009

Jujur untuk pertanyaan terakhir saya tidak tau mas isoleman dan kalaupun saat ini ada yang mengetahui atau memiliki otoritas memutuskannya,selalu akan dipertanyakan dan tak serta merta saya mengiyakannya dan merekomdasikannya ke mas Isoelaiman.

Maksud saya diatas – berkaitan dengan kalimat mas Surendra sebelumnya -…. “orang lain yang sama2 mendasarkan dirinya pada kitab suci bisa saja memiliki pemahaman yang 180 derajat bedanya dengan orang pertama karena memang kedua-duanya menggunakan akalnya untuk menghasilkan pemahaman tersebut”….

Kemudian mas Isoelaiman menaggapi :
“….Jadi, status ayat suci, kemudian jatuh “derajat”nya ke daerah akal, karena manusia menafsirkannya, memahaminya melalui akalnya. Dan, karena akal bisa bener dan bisa salah, maka ayat suci itu lalu terkena “hukum” yang bisa bener, dan bisa salah…”

Kata ‘berbeda’ dalam memahami disini bukan berarti terkena “hukum” benar dan salah seperti mas Isoelaiman katakan. Satu menjadi lawan yang lain. Satu meniadakan yang lain.
Berbeda maksudnya adalah adanya beragam pendekatan baru dalam memahami tafsir seperti pendekatan sastra,post-strukturalis,kontekstual,feminisme,dll. yang bertujuan agak tidak terjadi pemaknaan tunggal terhadap teks yang mungkin dikonstruk oleh hegemoni kelompok tertentu. Kekhawatiran mereka karena pemaknaan tunggal bisa berpotensi menindas, ahumanis, dan asosial.
Jadi, tunda dulu menyimpulkan jadi perkara mutlak benar-salah (kerjaannya Derrida ini nunda2 mulu :D )

82. Ajie - Maret 5, 2009

@Isoleiman lagi
O ya, tentang ‘tuduhan’ muti tafsir, setelah membaca jawaban untuk mas Dodo sepertinya saya memang sedikit salah duga. Maafkan saya (kok gak ada icon yg lagi2 mohon2 ya :P )

83. iyan - Maret 7, 2009

weleh.. weleh iki ono opo to….
kok pada ngeributin Adam manusia partama, darwinisme …
itu kuno…
mbok ya ada yg melirik Cina untuk dijadikan selir
reinkarnasi …
biasanya selir itu lebih cantik ketimbang ratu
hehehehe..

84. espito - Maret 7, 2009

saya lebih suka kalo manusia pertama adalah wanita, bukan laki2.
dan jangan2 manusia pertama itu inul, soale dr goyang ngebornya umat manusia mbrojol mak brudulll…
wakakakak..

slamat datang iyan..

85. fi_am - Maret 9, 2009

Menurutku percaya pada teori evolusi bukan berarti tidak percaya akan adanya Tuhan. Toh baik saintist yang pro maupun kontra, punya bukti-bukti yang kuat, dan kita hanya bisa mangut-mangut saja. Bisa jadi toh, Tuhan sengaja menciptakan beberapa makhluk yang punya kemampuan berevolusi dan beberapa makhluk yang tidak berevolusi, sebagaimana Tuhan menciptakan makhluk yang bisa berenang dan yang bisa terbang.Jika tidak maha kreatif bukan tuhan namanya…

Jadi silakan daripada bertengkar melulu bikin pusing, sekarang masing-masing bercermin untuk mengamati, apakah dikau termasuk yang berbulu atau yang klimis, sehingga terjawablah pertanyaan klasik, “Where do you come from?”

@espito
Hai, ketemu disini. Bagaimana, apakah dirimu termasuk yang berbulu atau yang klimis???

86. massto - Maret 9, 2009

saya punya temen namanya adi,..dia suka sama liverpool,..so, dia seneng banget kalo dipanggil adi red,..

dia suka baca,..hobi banget,..sampe2 kertas koran bekas bungkus nasi angkringan juga dilalap habis,..yang ada rangkaian huruf trus jadi kata,..dirangkai jadi kalimat,..ya dibaca!!!

akhir2 ini dia tambah aneh,..sejak keranjingan baca caping,..trus, banyak komen yang nulis2 derida,..dekonstruksi,..rasa penasaran adi pun timbul,..dia maksain temannya untuk pinjemin buku2 derida di perpus kampus temannya,..alhasil, hari2nya kini berisi baca derida ditemani sama nasi angkringan,..hmmm yummii,..

waktu pun berlalu,…entah kenapa si adi ini sekarang kalo pake celana mirip kaya superman,..celana dalamnya dipake diluar??..kalo ditanyain dia selalu jawab,..saya mau mendekonstruksi diri saya,..wong liyan pake celana dalem seperti biasa kan karena mereka belum baca buku favorit saya sekarang!!! makane aku saiki mo total mendekonstruksi,..wkkkkk,..adi,..adi,.. orang2 pun cuma bisa mengelus dada liat tingkah si adi red,..

entah besok2 apalagi yang mo diperbuat sama adi red,..moga2 saja kalo dia sampe punya istri (kalo laku??) istrinya nggak disuruh macem2 apalagi disuruh ngeseks didepan mukanya sendiri mentang2 mo mendekonstruksi,..

adired,..adired,…
nggak nyadar kalok dari nama saja dia tuh cuma mbolak mbalik thok,..wkkkk

87. fi_am - Maret 9, 2009

sepakat, Surendra ok banget. jangan mundur dunk, oom…

88. tukul - Maret 9, 2009

@tomass
nayamul juga lawakan ente tomass. boleh kapan2 kesting buat gantiin aku di bukan empat mata. kontrakku mo abis nih. ntar kalo gak lulus kesting aku kasih kamu kerjaan jadi sirkus di ragunan. key..?

89. Podolisasi prima - Maret 12, 2009

Terwakili kah dengan sajak GM sendiri: “Dengan Raung Yang Tak Terserap Karang”.
Sisanya:Gimmick Intelellectual..

90. iyan - Maret 14, 2009

@espito
manusia pertama itu bukan wanita, tapi lebih dari itu…
tuhan itu wanita,
byk yg bilang tuhan itu indah dan menyukai keindahan,
tuhan itu menitipkan keindahan pada wanita,
manusia itu masterpiecenya tuhan
yg lebih mendekati kedirinya ya wanita daripada pria

kl untuk kt gnti tuhan selama ini He, dia laki2 dan huwa (arab) dia laki satu orang, itu karena hegemoni bhs dunia yg patriarkhi, aku blum menemukan negeri perempuan di dunia ini kecuali dalam film kera sakti ama dono, kl ada negeri perempuan mungkin kita akan diperkaya dengan ekspresi bahasa yg matriarkhi…

tabik…

91. espito - Maret 14, 2009

yo’i iyan…
bahkan gagasan bahwa tuhan adalah “laki2″ (juga tuhan “yang bersabda”, yang “terpisah” dari dunia) adalah problematis dan ahistoris. tuhan macam begini ini adalah konsepsi khas masyarakat patriarkis. tuhan macam begini lebih banyak menuntut dan memerintah alih2 melindungi dan mengayomi. tafsir konvensional agama2 ibrahimiyah punya andil bagi “tampilan” tuhan yg garang macam demikian.

pada mulanya adalah matriarkhi. pada awalnya adalah tuhan “yang terlibat sepenuhnya” dalam dunia (dengan perbuatannya – bukan sekedar “ngebacot’ dari atas singgasananya).

dan selanjutnya patriarkhi mengambil alih, hingga detik ini…

92. isoelaiman - Maret 16, 2009

Dalam Islam, Tuhan itu immanen, hadir. Bahkan ada ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan itu lebih dekat dengan manusia ketimbang urat leher manusia itu sendiri. Bahkan, ada ayat yang menyebutkan, kala manusia menanam, kaliankah yang menanam atau Tuhan yang sesungguhnya menanam. (Surat Al-Waqi’ah).
Dalam diskusi, ada baiknya kita pakai istilah yang sopan berkenaan dengan Tuhan. Allah Maha Mengetahui yang kalian kerjakan, bahkan isi hati kalian. Agar, diskusi ini menjadi lebih beradab.

93. dino - Maret 18, 2009

@massto
Alah alah. Badut. Isinya cuma mbanyol doank. Chop..chop..

94. cindy natalia.Xa - Maret 22, 2009

”Nature is as full of contraptions as it is if contrivance”
itu adalah kalimat yang di ucapkan Darwin..
dan kita harus bisa melakukan apa yang di katakan oleh Darwin tesebut……

95. fi_am - April 8, 2009

@massto

Temen mu si adi itu yang punya nama tengah “ora” kah? menurutku sebagai perempuan, dia charming kok. Cuma, mnama tengahnya itu memang nggak seksi sama sekali dan bikin sedikit ill feel. Mestinya dia ganti dengan nama tengah lain yang lebih kul dan kereeen, ya gak?

96. hetlotoborsos - April 8, 2009

@iyan
lancar deh bicaranya. data termuktahir atau referensi karen armstrong?

97. Jelokot - Mei 17, 2009

Melihat partisipan diskusi disini, terlihat beberapa yang GM wannabe :D

Sisanya nggak ngerti apa yang diomongin, sisanya lagi para peserta program doktorat yang gagal jadi profesor :D

98. hetlotoborsos - Mei 21, 2009

halahh gaya lu sejuta jelokot..
Datang dan pergi kaya ingus aja. hahaha

99. Zul Azmi Sibuea - Mei 22, 2009

semua spekulasi ilmiah menghasilkan “statistically right”., kebenaran ilmiahnya darwin kita anggap kebenaran mutlak, ya, salahnya kita sendiri, yang berakhir dengan ribut sendiri. “awal kehidupan itu berawal dari random dan berakhir pada random” kata derrida.
atawa dari andrimanggadua no.6, “untuk bisa bertahan , protein protein itu saling bekerja sama membentuk protein yang lebih baik dan konleks strukturnya” atau sebaliknya “protein protein itu saling memakan dan mematikan untuk mempertahankan strukturnya yang baik dan kompleks” – statistically masih fifty, fifty -. menyambung derida diatas, dia mengatakan kalau kita sudah menemukan dalam kerandoman itu ada tuhan, maka kita sudah berhenti berfilsafat, artinya filsafat bubar. dapat disimpulkan bahwa ,kita tidak bisa ketemu dengan tuhan melalui filsafat, sebaliknya kita tidak bisa menafikan tuhan dengan filsafat. diawal tulisan diatas GM sudah mengatakan “lelaki pemalu itu, tak ingin membunuh Tuhan”.
salam

.

100. denioktora - Desember 18, 2009

Bible adalah Novel fiksi # 1 best seller yang terjual di seluruh dunia, disusul Al-quran pada no 2.

lucu sekali melihat kaum Theist menghina habis-habisan karya darwin sebagai pepesan kosong belaka. semua yang dilakukan darwin sebagai seorang scientist tentu berdasarkan fakta dan evidence di lapangan, lalu di tarik kesimpulan. teori evolusi tidak semakin goyah, sebaliknya kian berkembang di negara-negara berbasis science dan teknologi (Amerika serikat, inggris, Swedia, Jepang, Rusia).

baca dulu buku The God delusion, dan the greatest show on earth : the evidence for evolution karya Richard dawkins. disitu dawkins memaparkan bahwa bukti evolusi sangatlah nyata dan dekat dengan tiap species. bahwasannya segala species mengalami evolusi dan seleksi alam akibat penyesuaian diri dengan alamnya masing-masing sepanjang rentang waktu jutaan tahun. tidak ada design dalam hal ini. tidak ada peran Tuhan / Allah / Yahweh / Yesus / zoroaster / Brahman dalam hal ini.

berbeda dengan teori Adam dan Hawa yang bukti secuilpunnya tidak dapat ditemukan di lapangan sama sekali. nihil. kosong. hampa. fiksi. mitologi. imajinasi. khayalan.

Bukti adalah alasan untuk orang-orang yang berpikir kritis. sementara “iman” adalah alasan untuk orang-orang yang “buta” akan ilmu pengetahuan dan miskin akan pengetahuan.

101. Take One Picture - Juli 10, 2010

Makasih banyak … Take One Picture.

102. kota salju - November 1, 2011

pada akhirnya tak ada desain yang cerdas, rumus yang siap, selamanya kita hanya mencoba-coba, loncatan gelap ke depan, kadang berhasil kadang gagal. jadi bertawakallah……………………………………………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 346 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: