jump to navigation

Estaba la Madre April 20, 2009

Posted by anick in All Posts, Elegi, Fasisme, Pepeling.
trackback

”Ibu itu di sana, berdiri, berkabung…”

Kesedihan terbesar mungkin bukan kesedih­an manusia karena Tuhan mati, tapi kesedihan seorang ibu yang anaknya menemui ajal dalam penyaliban.

Pada zaman ini kesedihan besar itu tetap tak terban­dingkan. Tapi pada saat yang sama juga menyebar. Kini tak hanya satu ibu yang sedih, dan tak hanya satu anak yang disalibkan.

Kita ingat Argentina, 1976-1983. Negeri ini hidup di bawah titah pemerintahan militer yang menculik dan melenyapkan ribuan orang, termasuk anak-anak muda. Diperkirakan 30 ribu orang hilang.

Renee Epelbaum, misalnya, seorang ibu, menemukan bahwa anak sulungnya, Luis, mahasiswa fakultas kedokteran, diculik. Tanpa sebab yang jelas. Itu 10 Agustus 1976. Takut nasib yang sama akan jatuh ke kedua anaknya yang lain, Lila dan Claudio, Renee pun mengirim mereka ke Uruguay. Tapi di sana mereka justru dikuntit sebuah mobil dengan nomor polisi Argentina—dan akhirnya, 4 November 1976, Lila dan Claudio juga lenyap.

Bertahun-tahun kemudian, seorang perwira angkat­an laut menceritakan apa yang dilakukannya terhadap anak-anak muda yang diculik itu. Pada suatu saat mere­ka akan dibius dan ditelanjangi. Para serdadu akan mengangkut mereka ke sebuah pesawat. Dari ketinggian 4.000 meter, tubuh mereka akan dilontarkan hidup-hidup ke laut Atlantik, satu demi satu….

Komponis Argentina, Luis Bacalov, pernah hendak mengingatkan orang lagi akan zaman yang buas itu. Ia menciptakan sebuah opera satu babak, Estaba la Madre. Saya tengok di YouTube: di adegan pertama, ketika perkusi dan piano mengisi kesunyian dan pentas gelap, tampak laut. Makam yang tak bertanda itu muncul seje­nak di layar. Kemudian: wajah, puluhan wajah. Di antara itu, sebuah paduan suara yang semakin menggemuruh.

Tapi bukan sang korban yang jadi fokus opera ini, melainkan sejumlah perempuan yang tak lazim. ”Inilah orang-orang gila itu,” begitu kita dengar di pembukaan.

Para ”orang gila”, umumnya separuh baya, berbaris di jalan, dengan kain menutupi rambut, dan duka menutup mulut. Tapi sebenarnya mereka tak diam. Estaba la Madre mengutip kisahnya dari sejarah: perempuan-perempuan itu ibu yang berdiri, yang berkabung, bertanya, menuntut, karena anak-anak mereka telah dihilangkan. Me­reka ”gila” karena di negeri yang ketakutan itu, mereka berani menggugat. Tiap Kamis mereka akan muncul di Plaza de Mayo, di seberang istana Presiden. Tiap Kamis, selama 20 tahun.

”Saya tak bisa melupakan,” kata Renee Epelbaum. ”Saya tak bisa memaafkan.” Ia pun jadi salah satu pemula himpunan ibu orang-orang yang hilang itu, yang kemudian dikenal sebagai ”Para Ibu di Plaza de Mayo”—sebuah bentuk perlawanan yang tak disangka-sangka. Mula-mula, akhir April 1977, hanya 14 perempuan yang berani melawan larangan berkumpul. Berangsur-angsur, jumlah itu jadi 400.

Tak mengherankan bila kemudian para ibu pun jadi sebuah lambang yang lebih luas cakupannya ketimbang Plaza de Mayo. Ia menandai yang universal. Opera Estaba la Madre, misalnya, mengambil asal-usul pada Stabat Mater dalam C minor yang digubah Pergolesi, menjelang komponis ini meninggal dalam umur 26 tahun pada abad ke-18. Kata-katanya berasal dari lagu puja seorang rahib Fransiskan pada abad ke-13 tentang penderitaan di Golgotha: ”Stabat Mater dolorosa iuxta crucem lacrimosa dum pendebat Filius…”—”Ibu itu di sana, berdiri, berkabung, di sisi salib tempat sang anak tergantung.”

Dan ketika dua orang dari para ibu Argentina itu pekan lalu datang ke Indonesia, mereka pun menghubungkan kisah mereka dengan apa yang terjadi di sini, di antara keluarga Indonesia yang ”hilang”.

Tentu ada beda antara Sang Ibu dalam Stabat Mater dan para ibu di Plaza de Mayo: tak ada tubuh sang anak yang mati di Argentina. Dalam pentas Estaba la Madre, kita akan menemukan Sara, ibu Si Samuel. Ia dan suaminya menanti anaknya. ”Kamis, mereka menunggunya untuk makan malam di rumah,” demikianlah paduan ­suara meningkah. Tapi Samuel tak kembali.

”Ini pukul sembilan.

Ini pukul 10.

Tengah malam

Fajar datang,

dan ia tak pernah pulang.”

Sampai hari ini orang masih bertanya, kenapa itu mesti terjadi. Mungkinkah sebuah kekuasaan yang dijaga ribuan tentara bisa begitu ketakutan?

Saya tak tahu jawabnya—meskipun saya menyaksikannya juga di Indonesia, di tahun di pertengahan 1990-an, ketika ”Tim Mawar” dibentuk untuk menculik dan menyiksa, mungkin sekali membunuh, sejumlah anak muda yang sebenarnya tak cukup kuat untuk menjatuhkan rezim Soeharto. Barangkali paranoia adalah bagian utama dari kekuasaan yang bertolak dari kebrutalan dan pembasmian—kekuasaan yang selamanya merasa tak yakin akan legitimasinya sendiri.

Mungkin sekali para petinggi tentara itu tak bisa lagi membedakan khayalan dengan keinginan. Dalam Estaba la Madre ada adegan yang tak mudah dilupakan, baik di Argentina maupun di Indonesia: tiga jenderal muncul di pentas atas, suara mereka mengancam si lemah dan meng­ajukan dalih kebersamaan—hingga terdengar menggelikan:

Hidup kemerdekaan!

Kemerdekaan bicara dan membuat orang bicara.

Hidup kemerdekaan mengaku dan membuat orang

mengaku.

Hidup kemerdekaan menjerit dan membuat mereka

menjerit.

Yang tak mereka sangka: yang menjerit tak akan bisu. Kekuasaan militer Argentina akhirnya runtuh. Dan di tembok jalan layang, di dinding kios koran, di pel­bagai sudut di Buenos Aires, kata-kata ini tertulis, bukan hanya dari Renee, tapi dari mana-mana yang dianiaya: ”Kami tak memaafkan. Kami tak melupakan.”

~Majalah Tempo Edisi Senin, 20 April 2009~


About these ads

Komentar»

1. Zul Azmi Sibuea - April 30, 2009

adakah set back kembali pada pen-sipil-an tentara, atau sebaliknya pen-tentara-an sipil ????, dalam menjaga ibu pertiwi (Esto la Madre) , tak juga sesederhana itu, no way.
rasa aman dengan massa mengambang berlanjut pada partai mengambang ditambah memori kolektif akan memberi aras aman ibu pertiwi.

“Stabat Mater dolorosa iuxta crucem lacrimosa dum pendebat Filius”, tetapi hidup harus terus berlangsung, dan berlangsunglah seperti biasa, sebagaimana mestinya, dengan gambaran seperti :
waktu pdi menang gus dur presiden
waktu golkar menang sby presiden
waktu demokrat menang sby presiden, prerogratif presiden seperti cawapres dan menteri tidak menjadi didagang sapikan, koalisi hanya valid di parlemen.

berlangsung seperti biasa dan sebagaimana mestinya

2. Estaba la Madre - April 30, 2009

[...] post:  Estaba la Madre Posted in Catatan Pinggiran | Tags: all posts, juga-menyebar-, kapitalisme, menemui-ajal, [...]

3. widatdo - April 30, 2009

Darah Juang

Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur, Tuhan …

Di negeri permai ini,
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami,
Tuk membebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami,
Padamu kami berjanji
Padamu kami berbakti

lagu darah juang ini cocok untuk menabahkan ibu-ibu itu, walau tetap saja ” kami takkan memaafkan”, “kami takkan melupakan”

4. Moro W - April 30, 2009

aku hanya bisa turut mendoa semoga para ibu tetap kuat menatap hari. dikalahkan dalam sistem memang tak pernah mudah. tapi aku percaya seorang ibu adalah sosok yang kuat, yang mengasihi dan bijaksana. kedurjanaan tak akan pernah mampu merubahnya. dan aku percaya orang yang menyuarakan nurani akan tetap kuat. walaupun kekuasaan mencoba membungkamnya.

5. Asbari - Mei 2, 2009

ada 3 orang jendral..ada seorang ibu..tapi ia tak pernah kehilangan anak meski semua kita tahu bahwa ibu ini dan kita kehilangan ayahandanya. 3 jendral 1 ibu, dimana kecendrungan GM kiranya?

6. isoelaiman - Mei 4, 2009

Caping kali ini ibarat, “Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih jenderal sepanjang laras sepatu”.
Ssssttttt, ada yang lagi “mengaum”, haus mangsa, haus duka.
Berbulu domba, berhati serigala, bercanda ria bagai manusia,
Citra kuasa, selalu dibenaknya,
Hadang sekarang, semampu kalian,
lebih mudah, lebih murah,
agar jangan sempat berlaras sepatu,
Dendangkan, aku benci kamuuuuuu

7. neno - Mei 4, 2009

selama perut kami terisi jendral, walau berapa kalipun kami dikuliti. kami akan memaafkan. selama kami bisa punya uang, walau berapa kalipun darah kamu harus tercecer. kami akan melupakan. karena kami hanya butuh makan dan uang untuk hidup, tidak lebih.

bagaimana mereka tidak bisa memaapkan, karena ketika perut anak-anak mereka lapar, mereka akan mencari apapun untuk mengisinya. dan darimana hal itu berasal? dari recehan tetesan keran yang dibuka sedikit oleh para penguasa, dan ajaibnya, mereka bergembira.

bagaimana mereka tidak bisa melupakan, ketika raungan anak-anak mereka yang sakit karena habis nonton mtv, bisa dibungkam dengan kucuran uang dari pipa yang sengaja dilobangi disana-sini, kunfayakun; mereka lupa.

8. raz ghaz - Mei 16, 2009

sangat membuka pikiran. gimana lagi ceritanya kalu dikait ama sikon di mynmar? Aung San Su Kyi yang begitu lama jadi ikon dan hampir pasti jadi martir dalam proses melawan kekuasaan sang jeneral.yang tak pernah puas menghilang jeritan dan suara orang ramai, walaupun sudah puluhan tahun.

9. Zul Azmi Sibuea - Mei 18, 2009

hanya untuk mengingatkan kita pada Kartini, caping ini dibuat – Putri Indonesia, harum namanya.

10. siti - Mei 22, 2009

seringkali orang Indonesia itu lupa akan sejarahnya dan termakan manisnya hidangan di depan mata


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 355 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: