Bukan-Jawa Juni 1, 2009
Posted by anick in All Posts, Identitas, Politik.trackback
Karena kau bukan orang Jawa,” kata orang itu kepada saya dengan senyum mengasihani. ”Karena itu kau tak mengerti….”
Pertunjukan telah selesai. Saya merasa lega. Terus terang, saya tak menyukai tarian itu sebuah karya abad ke18 yang tak menggugah. Mungkin sebab itu orang itu, yang duduk di sebelah saya, menyimpulkan saya ”tak mengerti”.
Ia (seorang tokoh setengah fiktif) seorang Eropa yang sudah 20 tahun hidup di Solo, berbahasa Jawa dengan bagus, pandai memainkan saron dan rebab. Komentarnya mengingatkan saya akan katakata seorang jurnalis Belanda kepada Minke, tokoh Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer: seorang Eropa yang merasa lebih kenal rakyat di Jawa lebih baik ketimbang Minke, sang inlander.
Dalam novel Pramoedya, Minke merasa bersalah. Dalam kasus saya, saya bingung: apa artinya saya ”bukan orang Jawa”? Apa itu ”Jawa”?
Kata ini telah lama beredar, dan makin lama makin dianggap jelas, padahal tak pernah dipertanyakan. Kini orang mengatakan Sultan Hamengku Buwono X itu ”raja Jawa”, sementara kita dengan sah juga bisa mengatakan bahwa ia—dengan segala hormat—tak lebih dari seorang sultan dari separuh Yogyakarta. Orang juga mengatakan Bung Karno ”Jawa”, tetapi bisa juga dikatakan sebenarnya bukan; ia seperti halnya sekarang Boediono, calon wakil presiden yang mendampingi SBY: seorang yang lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur, dan sangat mungkin bahasa masa kanaknya bukan bahasa Surakarta.
Sebutan ”Jawa” barangkali seperti sebutan ”Padang” bagi siapa saja yang datang dari Sumatera Barat, atau ”Ambon” bagi siapa saja yang datang dari Maluku: sebutan yang sebenarnya tak mengacu ke sesuatu yang tetap….
Saya pernah masuk ke sebuah penjara di Wamena, Papua, tempat sejumlah orang yang dianggap penggerak ”separatisme” disekap. Untuk mengelabui polisi, saya menyamar jadi pastor Katolik dari Bali; teman saya, seorang Amerika yang ingin menulis laporan buat sebuah lembaga hak asasi manusia, mengaku utusan dari sebuah gereja Kristen di Boston. Di hadapan kami, salah seorang tahanan menyatakan kesalnya kepada ”orang Jawa” yang ”telah banyak membunuh” orang Papua.
Waktu itu saya mencoba meluruskan. Kekerasan itu, kata saya, tak bisa dijelaskan dengan dasar kesukuan. Kekerasan itu dilakukan oleh sebuah pemerintahan militer, yang pada 19651966 juga telah membunuhi ”orang Jawa”, bahkan dalam jumlah yang jauh lebih besar. Tapi saya tak yakin apakah tahanan Papua yang penuh kemarahan itu mengerti. Kata, sebutan, bahasa, pada akhirnya punya kekerasan dan penjaranya sendiri.
Sepulang dari sana, saya baca kembali buku John Pemberton On the Subject of ’Java’. Buku itu membantu saya yang sudah agak lama mencoba melacak dari mana ”Jawa”, sebagai identifikasi, berasal. Saya merasa perlu melacak itu. Saya dibesarkan di pesisir utara Jawa Tengah di mana orang menggunakan bahasa yang berbedabeda, dan di antaranya jauh dari bahasa yang dipakai di Surakarta dan Yogyakarta, di mana orang lebih sering menonton wayang golek dengan lakon Umar Maya ketimbang wayang kulit dengan lakon Mahabharata, dan di mana orang tak mengenal serimpi melainkan sintren. Bagaimana jutaan orang dengan keragaman yang tak tepermanai itu dimasukkan ke satu kelompok dan dengan gampangan disebut ”Jawa”?
Buku Pemberton terkadang terasa terlampau panjang, tapi saya menyukai telaahnya yang dengan tajam melihat hubungan lahirnya wacana tentang ”Jawa” dengan modernitas. Wacana itu dan keinginan membentuk identitas itu—muncul justru ketika modernitas, dalam bentuk tatapan orang Eropa, masuk menerobos pintu gerbang dua istana yang terpisah dan bersaing di Surakarta: Keraton Sunan Pakubuwono, yang biasa disebut ”Kesunanan”, dan istana yang biasa disebut ”Mangkunegaran”.
Dari keduanyalah mulamula orang bicara tentang ”Jawa”. Dunia ”Kesunanan” adalah dunia ”Jawa” yang cenderung bergerak ke pinggir, ke luar dari tatapan dan pemahaman para pengelola kolonialisme Belanda. Dunia ”Mangkunegaran”, yang lebih muda umurnya, punya kecenderungan sebaliknya: ada keinginan bergerak ke tengah pemahaman itu. Contoh yang tak mudah dilupakan diberikan Pemberton: busana resmi yang disebut ”Langenharjan” adalah kombinasi yang pintar yang diciptakan Mangkunegara IV pada 1871: paduan antara busana formal Belanda (rokkie Walandi) yang dipotong ekornya dengan keris dan kain batik. Berangsurangsur, rokkie Jawi itu diterima sebagai pakaian resmi ”Jawa” bahkan di upacara pernikahan orang di luar istana.
”Jawa” dengan demikian tak merupakan sesuatu yang kuno, permanen, dan utuh. Namun bukan hanya itu. Di balik dinding tinggi kedua istana di Surakarta itu tersimpan apa yang oleh Pemberton disebut sebagai the sense of hidden ’Java’. Ada yang kemudian membuatnya sebagai misteri yang memikat tentang ”Jawa”. Tapi, bagi saya, janganjangan yang disebut oleh Mangkunegara IV sebagai (dalam bahasa Belanda!) ”kawruh rahasia Jawa” atau ”de geheime Javaansche wetenschap” itu satu pengakuan akan tak mungkinnya bahasa mana pun merumuskan ”Jawa”. ”Jawa”, sebagaimana identitas mana pun, sebagiannya selalu berada di negeri Antah Berantah.
Mungkin itu sebabnya saya tak mengerti, kenapa orang Eropa itu menganggap saya—yang berbahasa Jawa dengan baik dan benar, tapi kecewa kepada satu nomor tarian klasik ”bukan orang Jawa”. Sebagaimana saya tak mengerti kenapa dia merasa mengerti apa itu ”Jawa” sebuah sebutan yang, seperti umumnya nama, hanya untuk memudahkan percakapan, atau permusuhan, atau pertalian.
~Majalah Tempo Edisi 01 Juni 2009~



[...] the original here: Bukan-Jawa Posted in Catatan [...]
Sebagaimana saya tak mengerti kenapa dia merasa mengerti apa itu ”Jawa” sebuah sebutan yang, seperti umumnya nama, hanya untuk memudahkan percakapan, atau permusuhan, atau pertalian.
Gadis pantai P.A.T ..
Atau juga sebuah kesumat yg membebaskan..
P.A.T melawan untuk identitas yg satu itu.
GM sepertinya bukan hanya bicara soal identitas di caping ini, sepertinya ada yg tersirat dari pilihan politik. Bahwa nanti akan memilih Incumbent., pasangan yg sangat “Jawa” itu. So what?
interesting….
njawani, adalah topik diskusi yang selalu diulang-ulang, terutama menjelang pemilu presiden.
dalam penerbangan jkt-mdn april lalu, saya ngobrol dengan seorang pengamat poltik (ikrar) – antara lain ia mengatakan “dalam keadaan seperti sekarang ini, negeri memelukan penguasa yang lebih energik, bersemangat, muda dan lebih hingar-bingar ketimbang yang kalem, njawani, untuk pasangan capres dan cawapres”.
mestinya ia memaksudkan njawani lebih kultural ketimbang keulayatan – jadi soal ekspressi – dalam menghadapi krisis ekonomi dunia yang makin dalam.
i like this….
Identitas diri tidak dapat lagi sekadar dihakimi berdasarkan asal usul etnis, lokasi tempat tinggal, atau bahasa.
yah,kadang-kadang kita begitu gampang menidentifikasi seseorang dengan sebutaqn “jawa”, “Sunda”, dsb. saya orang sunda, dan hidup di jogjakarta dengan beban stigma,”play-boy”. aneh banget. meskipun setiap orang sadar bahwa tiap individu lahir dengan keunikannya masing2, selalu saja ada keinginan untuk menjd sok tahu, dengan berkata ,”ahhh dasar Sunda!”. dengan sinisme pula. mungkinkah itu sudah dasarnya manusia, malas mencari tahu hingga gampang berkata, “jawa,sunda,ambon,papua…dsb…dsb”.
Indonesia adl Bhinneka Tunggal Ika.
Pengkotak2an suku, daerah asal justru mempersempit ke Indonesiaan kita bukan ?!
Hhmmm.. kalimat ini dalam bgi saya pribadi :
” Jawa, sebutan yang, seperti umumnya nama, hanya untuk memudahkan percakapan, atau permusuhan, atau pertalian”
Orang Jawa ya berarti mewarisi budaya jawa. Orang sunda, batak dan lainnya mewarisi budayanya masing-masing. Sebenanya tidak perlu dilebur jadi bubur sumsum yang serasa. Biarkan saja jadi gado2.
Konsep GM tentang suku memang sangat murni dan universal. Tapi hal seperti itu jauh sekali dari realitas yang ada di sekitar kita. Ia hanya ada dalam dalam pikiran orang2 yang seperti GM. Dan itu mungkin juga terikat dengan waktu2 di mana GM sedang berada pada kondisi moral dan pikiran yang lagi jernih. Kita semua yang diatas 17 tahun, tahu kok bagaimana idealnya memandang dan menyikapi perbedaan secara sehat. Tapi di Indonesia ini, yang ideal itu selalu buyar tatkala menghadapi sedikit saja hambatan dan tantangan. Apatah lagi jika tantangan itu terlalu besar. Inilah fakta
Diluar itu semua, yang ada hanya sesuatu yang telah akrab disebut konflik kepentingan.
biarpuin jawa itu kan di indonesia kan jadi bhinekanya kesatuan terdiri dari mana aja
salam kenal semua kawan2
GM… TEMPO… makan pesanan tempe bacem…
sudah terlalu serakah untuk, dari , dan oleh JAWA….
artikelnya bagus.thanks
dalam reaslitasnya, jawa selalu menjadi superior, selalu menjadi pusat nilai, inti segalanya, yang di luar itu nonsens, rekayasa-rekayasa norma seperti, luar jawa, artinya di luar jawa itu nomor sekian, kenapa tidak di balik di luar mataram atau papua?
Superior?..nanti dulu…saya kalau sedang tugas malam menjadi satpam, ada aja orang yang nanya, “mas dari jawa ya?”…atau kalau sedang libur menjadi satpam dan sedang disuruh orang mengecat dinding atau pagar rumahnya, ada aja orang yang nanya, “mas dari jawa ya?”, atau juga malam-malam pergi kepasar untuk membeli singkong karena saya doyan singkong rebus,ada aja orang yang nanya, “mas dari jawa ya?”–; dimana superiornya?
salam,
posting yang bagus, sorry ngikut thread komentar ini sbg salam kenal… saya Agus Suhanto