Si Buntung Agustus 3, 2009
Posted by anick in Agama, All Posts, Bencana, Elegi, Fundamentalisme, Islam, Terorisme, Tuhan.trackback
JANGAN bicara kepada saya tentang jihad. Hari ini saya sudah tak tahu lagi apa maksudnya.
Tuan bisa berkata, jihad bukanlah kekerasan. Tapi berbareng dengan itu orang lain berkata jihad itulah yang membenarkan bila orang yang dianggap kafir atau murtad dibunuh. Tiap tafsir bisa dibantah tafsir lain. Kepada siapa saya bisa minta kata akhir tentang apa sebenarnya yang diperintahkan agama?
Maka jangan bicara kepada saya tentang jihad. Terorisme tak perlu dan tak bisa diterangkan dengan sabda atau fatwa. Bom yang diledakkan untuk membunuh dan bunuh diri itu justru mungkin akan lebih jelas bila dilihat sebagai sesuatu yang tak dapat diutarakan oleh (dan dalam) sabda dan fatwa.
Siapa yang melihat hubungan antara terorisme dan ajaran, apalagi ideologi, melupakan bahwa ada sesuatu yang lebih dahulu, dan lebih bisu, ketimbang ajaran dan ideologi—yaitu luka.
Yang menyedihkan dalam sejarah ialah bahwa luka itu tampaknya tak terelakkan. Akan ada selalu orang-orang buntung. Kata ini tak menunjukkan luka potong yang harfiah; di sini, ”buntung” adalah lawan kata ”beruntung”. Seorang teman di Bonn tadi pagi mengirim sebuah tulisan Hans Magnus Enzensberger dan di sana saya menemukan apa yang saya maksud. Dalam bahasa Jerman Enzensberger menyebut si buntung ”Verlierer”; dalam bahasa Inggris ”loser”.
Si buntung—dan ia tak hanya seorang—lahir dari semacam kecelakaan yang niscaya ketika manusia mengorganisasi dirinya sendiri. Enzensberger menyebut ”kapitalisme”, ”persaingan”, ”imperium”, dan ”globalisasi”, tapi kita bisa menambahkan bahwa terbentuknya negara-bangsa atau lembaga agama—bahkan dalam sejarah kota dan banjar—juga menyebabkan ada orang-orang yang terbuncang, tertinggal, kalah, bahkan separuh atau seluruhnya hancur. Mereka yang luka. Si buntung.
Sejarah juga mencatat, si buntung bisa memilih untuk menerima nasib. Si korban bisa menuntut pampasan. Si kalah bisa menunggu kesempatan lain. Tapi ada yang oleh Enzensberger disebut sebagai ”si buntung radikal”: ia yang mengisolasi diri, menjadikan dirinya tak kelihatan, merawat khayal atau phantasma-nya, menyimpan tenaga, dan menanti sampai saatnya datang.
Tapi saat itu bukanlah saat untuk menebus nasibnya yang parah. Si buntung radikal, menurut Enzensberger, mengatakan kepada dirinya sendiri: ”Aku buntung, dan tak bisa lain selain buntung.” Ia tak melihat hidupnya berharga, dan tak memandang hidup orang lain berharga pula. Maka ketika saat itu tiba dan ia menggebrak, si buntung siap membinasakan orang lain sekaligus dirinya sendiri.
Tapi agak berbeda dari Enzensberger, saya tak menganggap bahwa seluruh momen penghancuran itu sebuah pernyataan keberanian yang putus asa. Yang meledak juga bukan hasrat terpendam untuk mengekalkan ke-buntung-an. Bukankah pada saat itu, seperti dikatakan Enzensberger sendiri, akhirnya si buntung radikal bisa melihat dirinya jadi ”tuan dari hidup dan kematian”? Ia jadi seorang militan. Ia jadi subyek. Sejenak ia membebaskan diri dari statusnya yang celaka: untuk memakai kata-kata dalam sebuah sajak Chairil Anwar, ”sekali berarti, sudah itu mati.”
”Ber-arti”, atau mendapatkan harga dan makna, itulah yang diberikan oleh ajaran atau ideologi. Tentu saja karena ada kecocokan antara si buntung radikal dan ajaran atau ideologi itu: petuah dan petunjuk itu, tentang jihad atau perang, lahir dari tafsir yang diutarakan dari sebuah situasi luka.
Enzensberger memaparkan luka itu—dalam sejarah Islam—sebagaimana yang umumnya sudah diketahui. Jika ”Islam” adalah nama bagi sebuah peradaban, yang terjadi adalah sebuah riwayat panjang tentang arus yang surut. Enzensberger mengutip sajak penyair muslim kelahiran India, Hussain Hali (1837-1914), yang menggambarkan bagaimana peradaban yang pernah jaya pada abad ke-8 itu akhirnya ”tak memperoleh penghormatan dalam ilmu/tak menonjol dalam kriya dan industri”.
Yang kemudian berlangsung adalah Islam yang hanya memungut, cuma meminjam, dan tak bisa lagi memperbaharui. Terutama di dunia Arab, yang pada satu sisi bangga telah jadi sumber dari sebuah agama yang menakjubkan tapi di sisi lain terus-menerus menemukan kekalahan. Enzensberger menulis: ”Bagi setiap orang Arab yang peduli untuk merenungkannya, tiap benda yang kini hampir mutlak dipakai di kehidupan sehari-hari … mewakili sebuah penghinaan yang tak diucapkan—tiap kulkas, tiap pesawat telepon, tiap colokan listrik, tiap obeng, apalagi produk teknologi tinggi”.
Bahkan terorisme—dari gagasan, gaya, serta peralatannya—datang pada abad ke-20 dari ”Barat” yang mereka haramkan. Lingkaran setan tak dapat dielakkan lagi. Yang terpuruk jadi merasa tambah terpuruk justru ketika ingin membebaskan diri. Dalam lingkaran itu kebencian pun berkecamuk—gabungan antara kepada ”mereka” dan juga kepada diri sendiri. Tak mengherankan, di wilayah ini, si buntung radikal berkelimun.
Akankah ada pembebasan? Mungkinkah pembebasan? Saya percaya, jadi buntung bukanlah hukuman yang kekal. Tapi untuk itu agaknya diperlukan sebuah lupa. Si buntung perlu tak mengacuhkan lagi luka sejarah. Ia perlu melihat kekalahannya sebagai bagian dari pengalaman dan memandang pengalaman itu sebagai, seperti kata petuah lama, guru yang baik.
Tapi saya sadar, si buntung radikal akan sulit untuk bersikap demikian. Terutama ketika ia menerima ajaran bahwa lukanya adalah luka di luar sejarah. Maka bom diledakkan, surga yang kekal dijanjikan, jihad ke kematian jadi langkah awal dan akhir. Dan selebihnya beku.
~Majalah Tempo Edisi 3 Agustus 2009~



jadi terrorisme adalah trauma sejarah kekalahan, peradangan sebagai akibat dari ketidak berartian diri, rasa ketidakbergunaan – benarkah ?????
peran serta seperti apa yang didamba dalam hegemoni scientisme, apa yang dikatakan ideologi itu mengenai peran-serta. adakah tindakan yang dinamai jihad berarti membunuh orang tak berdosa, orang yang tidak ada sangkut paut dengan persoalan, menikam society hingga berdarah-darah, sadis.
Enzensberger menggambarkan fundamentalisme dari akar berfikir filsafat jerman yang subjeknya bersaing ketat, tegang dan saling meniadakan, social darwinism, dan sudah tentu akan berakhir pada randomnya posmo (popper, darwin, derrida).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa “sesungguhnya mereka yang menjadi korban, lebih merupakan sesembahan para petarung kepada idole (tuhan baru) mereka, pada faham Kesatuan dan faham Pluralisme”.
Seperti membaca kisah seorang yang tidak beruntung, yang kecewa, menyimpan dendam, merasa hidupnya tak berharga, dan merasa bahwa hidup orang lain juga tak berharga (wah, ini yang berbahaya). Tanpa bertemu dengan ajaran atau ideologi apapun, orang seperti ini, suatu saat – atau kapan saja – siap membinasakan orang lain dan dirinya sendiri.
aku gak mau komentar ah, nanti disalahkan oleh salah satu pihak
kenapa musti takut berpendapat sari?
to speak is a sin?..
Bung Gunawan,
Berikut Penjelasan yg insya Allah bisa mencerahkan hati Anda seputar “Apa itu Jihad?”, Terorisme, dan khususnya jawaban yg terkait soal Pengakuan seseorg dalam kejadian Bom Marriot II beberapa waktu lalu.
Semoga bermanfaat.
=============
Sumber: MAJELIS RASULULLAH
Saudaraku yg kumuliakan,
mereka ini saudara saudara muslimin kita yg dangkal dalam pemahaman Syariah, cuma menggunting ayat lalu memaksakan pemahaman mereka dg kemauaun mereka.
ayat ayat tsb adalah kekerasan orang mukmin kepada kuffar adalah kepada kafir harby yg memerangi muslimin, sedangkan kafir yg tidak memerangi muslimin maka Rasul saw berlemah lembut pada mereka, hal itu jelas pada belasan bahkan puluhan ayat dan riwayat shahih,
Islam adalah kesatria, bukan pengecut, jika musuh memerangi dg senjata maka perangi dg senjata, jika dg siasat maka perangi dg siasat, jika dg harta maka perangi dg harta,
lalu bagaimana dg pemuda yahudi yg berkhidmat dirumah Rasul saw dan Rasul saw menerimanya berkhidmat, bagaimana seorang kafir yahudi itu masuk kerumah Rasul saw bahkan diterima sebagai khadim beliau saw, Rasul saw tidak menghardik dan mengusirnya atau memaksanya masuk islam, adakah orang yg lebih benci pada kekufuran melebih Muhammad saw?, namun beliau menerimanya bahkan tinggal dirumah beliau saw, sampai kemudian pemuda itu sakit, Rasul saw menjenguknya dan ia disakaratulmaut, dan ia masuk islam, demikian dalam shahih Bukhari.
juga kemarahan Rasul saw terhadap muslim yg menampar yahudi yg mengatakan Nabi Musa lebih mulia dari Nabi Muhammad saw, maka muslim itu menamparnya, maka Rasul saw menegur keras muslim tsb (Shahih Bukhari)
lalu bagaimana dg Abu Lahab yg menggali lobang untuk perangkap Nabi saw dan ia sendiri yg terjatuh kedalamnya, tangan mulia Rasul saw yg menolongnya keluar dari perangkapnya sendiri, kenapa Rasul saw menolong gembong kafir jahat yg sudah dilaknat oleh Allah swt dalam Alqur’an ini?
lalu bagaimana dg Doa Rasul saw pada penduduk Thaif yg melemparinya dan menganiayanya : Wahai Allah beri hidayah PADA KAUMKU, sungguh mereka tidak mengerti.
bagaimana Rasul saw mengatakan kepada kafir jahat itu KAUMKU..??
lalu bagaimana dg kejadian perang Uhud saat panah besi menembus rahang beliau saw, dan Ibunda Agung Fathimah ra binti Rasul saw dan Sayyidina Ali kw membersihkan luka dan darah diwajah beliau saw, dan Rasul saw malah sibuk menjaga agar darah tidak jatuh ketanah dari wajah beliau saw, maka para sahabat berkata : Wahai Rasulullah, biarkan dulu darah itu, kita benahi lukamu terlebih dahulu.., Rasul saw berkata : Demi Allah, jika ada setetes darah dari wajahku menyentuh bumi maka Allah akan menumpahkan azab pada mereka (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari).
demikia Nabi saw menjaga musuh musuhnya agar tidak terkena azab dari Allah..
lalu bagaimana dg Nabi saw yg mendoakan orang Yahudi dg doa beliau : Yahdiikumullah wayushlih Baalukum, (semoga Allah memberi kalian petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian).
lalu bagaimana dg perbuatan Nabi saw pada sahabatnya yg mencaci seorang munafik, lalu Rasul saw berkata kenapa kalian mencacinya munafik?, para sahabat berkata : Sungguh perbuatannya dan ucapannya adalah sebagaimana perbuatan kaum munafik, maka Rasul saw berkata : Jangan kalian mencacinya, Sungguh Allah telah mengharamkan api neraka bagi mereka yg mengucap Laa ilaaha illallah karena ingin mendapat ridho Allah (Shahih Bukhari).
lalu bagaimana dg seorang pemabuk yg dihukum lalu ia mabuk lagi, dihukum lagi, lalu mabuk lagi, maka Umar ra melaknatnya dan Rasul saw menghardik Umar ra dan berkata : Jangan kau caci ia, Sungguh ia mencintai Allah dan Rasul Nya (Shahih Bukhari).
lalu bagaimana dengan Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafik di madinah yg berhati kufur, berkedeok islam, ia selalu mengabarkan rahasia muslimin pada kuffar quraisy, jika Rasul saw berangkat berjihad maka ia berusaha menghalangi dg kata kata fitnah, ini musim panas, ini musim dagang, pasukan kuffar terlalu kuat, dlsb, namun diam diam ia kabarkan bahwa pasukan muslimin berjumlah sekian, dan seluruh rahasia kepada kuffar quraisy, jika Rasul saw pulang selamat maka ia menyambut Nabi saw dg sambutan hangat, menangis gembira, dan mohon ampunan karena tak ikut peperangan, namun ia tetap dalam kemunafikannya.
saat ia sakratulmaut dan wafat maka Rasul saw datang menyolatinya, menguburkannya, dan anaknya yg juga bernama Abdullah adalah orang yg beriman, dan meminta baju Rasul saw untuk dikafankan pada ayahnya yg munafik itu, Rasul saw memberikannya, lalu turun ayat bahwa Allah tak akan mengampuni Abdullah bin Ubay bin Salul, Rasul saw berkata pada Umar ra : Allah melarangku memohonkan pengampunan untuknya, walau 70X kuistighfari pun dia tak akan diampuni Allah, namun jika seandainya Allah akan mengampuninya jika kuistighfari lebih dari 70X, maka aku akan kuistighfari ia lebih dari 70X agar ia diampuni Allah, namun aku mengetahui memang Allah tak mau memaafkannya (Shahih Bukhari)
apakah Rasul saw salah..?
siapa panutan para teroris ini..?
kita kenal Umar bin Khattab ra, namun ia bukan pengecut yg suka sembunyi, demikian pula Hamzah ra yg sengaja memakai tanda didadanya berbeda dg orang lain, agar para kuffar tahu dan cepat mengenal bahwa ia adalah Hamzah, bukan sembunyi lalu menyerang dari belakang sebagaimana teroris ini.
kalau teror ini ajaran Rasul saw, maka saat Rasul saw masih sedikit di Makkah dan lemah, mestilah teror dilakukan untuk memerangi Kuffar qurtaisy, namun Rasul saw malah memilih hijrah meninggalkan kampung halamannya, apakah Rasul saw pengecut..?
bahkan salah seorang Istri Rasul saw adalah Yahudi, dan istri Rasul saw pula seorang Nasrani yg keduanya telah masuk islam.
bagaimana orang orang non muslim itu akan masuk islam?, bukankah dg mengajarkan kedamaian islam?, jika muslimin meneror dan berbuat bengis terhadap kuffar, maka mustahil ada orang masuk islam, bahkan orang islam akan banyak yg murtad.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a’lam
“ayat ayat tsb adalah kekerasan orang mukmin kepada kuffar adalah kepada kafir harby yg memerangi muslimin, sedangkan kafir yg tidak memerangi muslimin maka Rasul saw
berlemah lembut pada mereka, hal itu jelas pada belasan bahkan puluhan ayat dan riwayat shahih,”mas, sy cuman orang awwam, jadinya mau sedikit bertanya tentang yang saya coret, karna saya pernah baca kalau rasulullah itu paling keras dengan orang kuffar, namun kadar kerasnya itu yang berbeda akan tetapi ga sampe
“berlemah lembut pada mereka (orang kuffar)”, di buku mana ya bisa saya dapat tentang hal ini ? trimakasihMas Abu,
Coba simak respon Imam Besar Masjid Al Aqsa Palestine ttg aksi yg dilakukan oleh Nurdin M Top berikut ini:
————————————-
Simak selengkapnya di sini
Jihad itu bukan menghacurkan negara
Enzensberger : ”Bagi setiap orang Arab yang peduli untuk merenungkannya, tiap benda yang kini hampir mutlak dipakai di kehidupan sehari-hari … mewakili sebuah penghinaan yang tak diucapkan—tiap kulkas, tiap pesawat telepon, tiap colokan listrik, tiap obeng, apalagi produk teknologi tinggi”.
Komentar saya :
Menggelikan sekali!!!
Produk, sebagai hasil produksi, sama sekali tidak mewakili penghinaan atau pun pujian.
Bagi siapa yang merasa demikian, dia lupa bahwa produk berasal dari “supply” dan “demand”.
Apakah bila produk kursi rotan Cirebon banyak dibeli dan dipakai di luar daerah atau luar negeri berarti juga menghina pembeli dan pemakainya??
Apakah musik blues atau jazz yang berasal dari kulit hitam itu menghina pendengar dan pemain musik kulit putih??
Apakah kalau saya beli dan mengoleksi majalah Tempo berarti saya terhina oleh anda??
Bagi setiap orang yang peduli untuk merenungkannya, ucapan Enzensberger adalah dusta.
Apakah bila produk kursi rotan Cirebon banyak dibeli dan dipakai di luar daerah atau luar negeri berarti juga menghina pembeli dan pemakainya??
Apakah musik blues atau jazz yang berasal dari kulit hitam itu menghina pendengar dan pemain musik kulit putih??
Apakah kalau saya beli dan mengoleksi majalah Tempo berarti saya terhina oleh anda??
Bagi setiap orang yang peduli untuk merenungkannya, ucapan Enzensberger adalah dusta..
Maka jangan bicara pada saya tentang untung dan buntung. Saya sudah tak tahu lagi artinya. Ketika transaksi dianggap sebagai sebuah penghinaan terselubung, ketika konsumen yang juga menguntungkan produsen dihina, ketika ucapan bodoh dan irrelevan dikutip, ketika sebuah pembunuhan dibayar dengan “merendahkan” islam, ketika anda sendiri adalah konsumen, produsen, muslim, si untung, dan si buntung.
Males baca tulisaan GM kalo dah nulis -Teror & Agama..
Sering bgt bnyk pengulangan. Di caping 6 terutama..
Tendensi plus bias kadang-kadang….
Nyari apa si GM? hipokrit dia pernah bilang…. Berlaku juga untuk dirinya sendiri!
Salah satu agenda Jihad yang salah adalah memusuhi negara. Ada kesamaan tafsir dan doktrin jihad di Indonesia, pakistan, India, dan Afganistan. Apapun katanya, sikat habis paham radikal di Indonesia. Bukan mausia yang menghakimi manusia.
@ibra: gw tau elo suka filsafat, tapi jangan mulai muntir2 kata2 deh.
Jelas bahwa yg dimaksud kutipan tadi adalah bagi orang Arab yg punya rasa percaya diri yg tinggi sbg pemilik suatu agama yang hebat, yang tak terkalahkan, tapi selalu takluk oleh kaum lain dan berusaha menolak segala sesuatu dari kaum “yang lebih rendah keutamaannya”. Sejarah Arab memang isinya kekalahan terus-menerus – terutama semenjak berakhirnya kejayaan Abbasiyah dan Andalusia – entah dari Persia, dari suku2 Turki, dari kaum kristen Kastilia, dan kemudian hegemoni kekuatan2 imperialis Eropa hingga sekarang: AS.
Setiap orang Arab yang mencoba berkompromi dg kenyataan akan dicap “rendah” oleh khalayaknya: antek Barat. Nasib yg sama dialami GM, yg walau bukan arab tapi dicap oleh para Arab-wannabe (yg juga bukan arab). Loser …
Disebut Muntir2 kata atau tidak, apa pun itu maksudnya, tetap saja pijakan saya terang benderang. Saya berpijak pada ilmu ekonomi dan identitas sosial.
Saya juga tidak mencoba mengingat-ingat transfer ilmu pengetahuan yang sempat terjadi dari Arab ke Eropa, seperti yang dengan gamblang pernah dikemukakan oleh S. Takdir Alisyahbana dan banyak pemikir Eropa sendiri. Kenapa?? Sebab bicara tentang identitas berarti juga bicara tentang ironi.
Loser….
Pengarang Jerman itu bernama Hans Magnus Enzensberger, yang awal maret lalu publish karyanya berjudul : “Schreckens Männer – Versuch über den radikalen Verlierer”. – kira-kira artinya : “rahasia manusia, essay tentang sibuntung radikal”.
buku ini mematahkan thesis bahwa si kalah perang – akan cenderung lebih cepat maju dari yang negeri lainnya – contoh nya : Jerman setelah Hitler, Itali setelah Mussolini, Jepang setelah PD II, tetapi sangat terbalik dengan Islam setelah Abasysysiyah, bukan maju malah menjadi radikal, amok, dan uring-uringan tak berketentuan.
seperti saya sudah koment diatas, filsafat jerman hanya melihat manusia dari sisi pertentangan antar subjek, salaing bersdaing dan saling mematikan (social darwinisme) – islam hanya dilihat sebagai musuh bagi eropa dimasa abasysyiyah, – logika jerman itu kaku, sekaku sosialisme jerman dalam lingkungan kapitalis. itu sebabnya Hans berkesimpulan “radikalen Verlierer” – sibuntung radikal
teror yang dilakukan kaum mafia jauh lebih baik dan terarah. ia hanya memilih target tertentu, dan teknologi diterapkan untuk menjaga agar dampak bom yang diledakkan tetap terlokasir hanya pada target. Tidak mengenai orang lain..
Islam is Rahmatan Lil ‘Alamiin.. Finish Story
Klu ngebahas ke arah agama, pastilah pro dan kontra ga juntrungan
semoga si buntung sadar bahwa gak semua nya itu selalu buntung
Jangan sampai mensalahartikan Jihad yang sebenarnya, karena ada beberapa yang berpendapat bahkan melakukan Jihad yang tidak pada tempatnya dan merugikan orang lain yang tak bersalah.
jihad yang diusung oleh para pahlawan kesiangan itu hanya jokes yang garing dari orang2 yang hopeless memperjuangkan nasibnya sendiri.
semoga mereka bisa memahami makna kitab suci tidak secara harfiah dan dari perspektif sendiri.
sebuah interview dengan sang teroris yang saya dapat dari pertemuan dengan nurdin ini membuktikan betapa mereka adalah guyon ngawur
bila agama digunakan sebagai baju untuk membunuh dan bunuh diri, lalu apa kirakira yang ada dibenak si pemakainya mengenai baju itu?
ada kritik pedas dari christopher hitchens: religion poisons everything !!
tak terlalu benar kiranya kritik itu, tapi juga tak sepenuhnya keliru…
@zul azmi sibuea
“Dengan demikian dapat dikatakan bahwa “sesungguhnya mereka yang menjadi korban, lebih merupakan sesembahan para petarung kepada idole (tuhan baru) mereka, pada faham Kesatuan dan faham Pluralisme”.”
saya sungguh tak paham dengan logika berpikir bung zul azmi… atau jangan2 bung hanya berprasangka belaka??
@ Markesot,
Saya kira semua penafsir tidak berangkat dengan tangan yang sebelumnya kosong. Ia membawa sesuatu yang disebut Heidegger sebagai Vorhabe (apa yang ia miliki), Vorsicht (apa yang ia lihat), dan Vorgriff (apa yang menjadi konsepnya kemudian).
Dan “bawaan” itu adalah juga merupakan “prasangka” yang tidak sepenuh keliru. Kritik bahkan muncul dari situ, kata Ricoeur.
Mestinya saudara Markesot yang membuktikan bahwa prasangka Zul Azmi itu keliru.
Memahami agama, memahami Kitabullah dan As-Sunnah. Geografi Arab, sebagai pernah menjadi tempat numpang lahir. Meski, prosesi haji dan ‘umrah, juga lokasinya, masih sama sebangun dengan yang di kitab suci.
Tapi, menyerang Islam dengan sasaran Arab, sama halnya menyerang GM dengan sasaran Batang, tempat lahir GM. Sama sekali tak relevan. Islam itu ‘alamiin, meliputi alam semesta. Kaitan ke-islaman umat Islam sedunia dengan Arab adalah haji dan umrah dan sejarah Islam, ini tak bisa diubah. Selebihnya, dengan kitab suci, ummat Islam, dimana pun di dunia ini bisa menyelamatkan akhiratnya. Asal menaati kitab suci, Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Nah, jihad itu artinya penuh kesungguhan. Siapa saja yang bersungguh-sungguh sepenuh hati “menuju-Ku”, akan “Ku-tunjukkan” jalan “menuju-Ku itu”.
Dengan adanya bom dan apa yang di sebut teror itu, para pembenci Islam menjadi sangat senang karena mereka mendapatkan alasan yang mereka anggap cukup bagus dan kredible untuk semakin menyudutkan Islam. Sebelum ada bom, mereka hanya punya suatu kebencian yang tanpa alasan.
Kita semua pasti tahu betapa menderitanya orang2 yang membenci sesuatu tapi tak punya cukup bukti menunjukkan kebenaran perasaan mereka.
Orang2 akan tetap berjuang mencari alasan untuk meyakini yang ia imani dean memusuhi yang ia benci. Bukti atau mukjizat hanya angin lalu.
Dear GM,
Anda pasti yakin bahwa suatu saat tak akan kita temui lagi caping tiap minggu di tempo dan forum ini. Apa yang anda lakukan dalam hidup sekarang, akan menjadi komentar orang2 di forum ini.