jump to navigation

Ahmadiyah Agustus 2, 2010

Posted by anick in Agama, All Posts, Elegi, Fundamentalisme, Identitas, Indonesia.
trackback

Pada suatu hari di bulan November 1936, Bung Karno menerima sepucuk pos. Di zaman ketika komunikasi masih sangat terbatas, surat itu diki rim seseorang dari Bandung dengan kapal biasa ke Kupang, di Pulau Timor bagian barat; dari sana ia diterbangkan sebagai vliegpost (pos udara) ke Ende, tempat Bung Karno waktu itu hidup sebagai orang buangan.

Surat itu ditulis seorang teman. Ia bercerita bahwa harian Pemandangan memuat satu informasi kecil: Bung Karno telah mendirikan cabang Ahmadiyah dan ”menjadi propagandis Ahmadiyah” wilayah Sulawesi.

Saya tak tahu kaget atau tidakkah Bung Karno mendengar cerita fiktif tentang dirinya itu. Mungkin tidak. Ia sudah siap mendengar tuduhan yang bermacam-ragam, termasuk ”anti-Islam”, karena pandangannya yang kritis tentang perilaku umat Islam di Indonesia. Meskipun demikian, Bung Karno membantah. Dengan tenang sekali.

”Saya bukan anggota Ahmadiyah,” demikian ditulisnya dalam suratnya bertanggal 25 November tahun itu, yang bisa kita temukan dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. Karena ia bukan anggota, kata Bung Karno pula, ”Mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandisnya.” Apalagi untuk wilayah Sulawesi: ia tak akan sampai ke sana. Sebagai orang yang diasingkan dan diawasi pemerintah kolonial Belanda, Bung Karno bahkan tak akan diizinkan untuk ”pelesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil sahaja dari Ende”.

Tapi dari peristiwa ini tampak: Islam di Indonesia punya problem yang tiap kali seperti didaur ulang. Tahun 1936, seperti 2010: ada kecurigaan kepada orang yang mengemukakan pendapat lain tentang Islam. Tahun 1936, seperti 2010: ada sikap berseteru terhadap gerakan dan keyakinan Ahmadiyah.

Di tahun surat Bung Karno ditulis itu, permusuhan terhadap Ahmadiyah sudah sekitar tujuh tahun umurnya. Meskipun mula-mula tak ada gejolak apa pun. Pada awalnya sekitar 20 pemuda Islam dari Sumatera Barat datang ke India untuk belajar agama di Qadian. Tahun 1925: mubalig pertama Ahmadiyah Qadian sampai ke Tapaktuan, Aceh. Ia kemudian ke Sumatera Barat. Pada 1926, organisasi Jemaat Ahmadiyah berdiri.

Sampai di sini, belum ada konflik yang tercatat, meskipun kalangan Ahmadiyah Qadian percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang pembaharu dan sekaligus ”nabi” tapi nabi yang tak membawa syariat baru.

Konflik pertama justru terbuka di Yogya, dan ini berhubungan dengan Ahmadiyah Lahore, yang tak meng anggap Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi, melainkan seorang mujaddid (pembaharu).

Awalnya sebuah ukhuwah. Tahun 1924, dua pendakwah gerakan ini, Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad, datang ke Yogya. Djojosugito, sekretaris Muhammadiyah, mengundang mereka untuk berpidato di muktamar, dan menyebut Ahmadiyah sebagai ”organi sasi saudara Muhammadiyah”. Tapi, setelah sebuah perdebatan, Muhammadiyah melarang paham Ahmadi. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-18 di Solo, pada 1929, dinyatakan bahwa ”orang yang percaya akan Nabi setelah Muhammad SAW adalah kafir”. Djojosugito dipecat. Ia mendirikan Gerakan Ahmadiyah Indonesia, 4 April 1930.

Takutkah Bung Karno dikaitkan dengan paham ini? Dari nada suratnya, tidak. ”Saya tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi dan belum percaya ia seorang mujaddid,” katanya. Tapi Bung Karno memuji pelbagai buku dan tulisan dari kalangan Ahmadi. ”Saya dapat banyak faedah daripadanya.” Salah satunya, yang dalam bahasa Belanda disebut Het Evangelie van den daad, oleh Bung Karno disebut ”brilliant, berfaedah bagi semua orang Islam”.

Apalagi Bung Karno melihat ada tenaga yang positif dari kalangan Ahmadiyah:

”… pada umumnya ada mereka punya ’features’ yang saya setujui: mereka punya rationalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme, mereka punya hati-hati terhadap hadits, mereka punya streven Qur’an sahaja dulu, mereka punya systematische aannemelijk making van den Islam.”

Bung Karno bukannya menyetujui semua. Ia menolak ”pengeramatan” Mirza Ghulam Ahmad dan ”kecintaan” kalangan Ahmadi ”kepada imperialisme Inggris”. Tapi, tulis Bung Karno pula, ia ”merasa wajib berterima kasih” kepada pandangan yang termaktub dalam karya-karya mereka.

Di masa itu, seperti tampak dari Surat-surat Islam dari Endeh, (korespondensinya dengan T.A. Hassan, tokoh ”Persatuan Islam” di Bandung), Bung Karno memang sudah menunjukkan keinginannya. Ia hendak mendorong umat Islam ke masa depan, bukan berbalik ke masa lalu. ”Kenapa kita mesti kembali ke zaman ’kebe saran Islam’ yang dulu-dulu? Hukum Syariat?” tulis Bung Karno dalam surat bertanggal 22 Februari 1936. ”Islam itu kemajuan!”

Maka tak mengherankan bila ”kemajuan” itu yang ia lihat pada gerakan Ahmadiyah. Tapi, lebih dari itu, Bung Karno tak mungkin mengabaikan apa yang dibawa sejarah: benturan dan pertemuan pelbagai buah pengalaman.

Dalam kaitan itu, Bung Karno melihat ”cacat” ”Persatuan Islam” yang dipimpin T.A. Hassan, yaitu ”sektarisme”: hanya paham sendiri yang dianggap benar; gagasan lain dimusuhi.

Padahal, dengan ”membuka semua pintu budi akal kita bagi semua pikiran,” kata Bung Karno di akhir suratnya, akan lahir Islam yang ”tiada kolot dan mesum”, yang bukan ”hadramautisme”. Akan lahir Islam yang ”cinta kemajuan dan kecerdasan”.

Mengapa saya ingat Bung Karno, Ahmadiyah, tahun 1936? Memang aneh bahwa saya harus mengutip surat tua itu untuk berbicara tentang ”kemajuan dan kecerdasan” bagi umat Islam di Indonesia. Mungkin justru karena kedua hal itu makin dibiarkan terjerumus ke dalam ”sektarisme”. Hari-hari ini, ”sektarisme” itu bahkan ditegaskan dengan kekerasan.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 02 Agustus 2010~

About these ads

Komentar»

1. Jacobian - Agustus 4, 2010

kekerasan antar umat beragama khususnya ahmadiyah emang harus di hentikan.dan seharusnya pemerintah bisa lebih mengerti.

2. arashi kensho - Agustus 5, 2010

numpang lewat bos…..

3. Prayitno - Agustus 6, 2010

Tambah jelas kalau ingatan kita pendek, atau memang kita ini susah mencari obat untuk penyakit ‘amnesia sejarah’ yg menahun itu ya, mas GM? Rupanya sejak masa para ‘generasi emas’ dulu kita punya catatan yg muram kalau menyangkut perlakuan thd Ahmadiyah… O ya, ngomong2 bulan lalu mas GM juga nulis ttg Bung Karno. Ada apa ini? Bukannya Bang Ali presiden buat mas GM? Salam kenal. Saya ‘ngintil’ tulisan mas GM sejak ‘Potret Seorang Penyair Muda…’

4. Ibra - Agustus 6, 2010

jika agama dan etika adalah sebuah wacana, pertanyaannya adalah :
siapa yang menentukan tafsir dan penilaian mana yang paling benar?

untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya membawakan Contoh konkret sekaligus ironis pada ranah hukum:

Untuk mengantisipasi “perbedaan konsep keadilan” sistem pengadilan diciptakan agar masing-masing pihak dapat berargumentasi mengenai konsep mereka masing-masing, di mana negara sebagai penentu keadilan via hakim yang akan menentukan konsep keadilan siapa yang paling sesuai dengan undang-undang. dan jika undang-undang tidak mencukupi, mereka berkewajiban untuk melakukan “penemuan hukum”. demi keadilan.

namun dari sini pun kita akan dihadapkan dengan pertanyaan :
dari mana sang hakim membuat suatu penilaian terhadap argumentasi mana yang paling benar?
apakah sang hakim bisa keluar dari arus doktrin, atau propaganda, atau hegemoni yang sedang berkuasa, atau kepentingan diri dan kelompoknya?

masalahnya kemudian akan bertambah, jika kemudian kita sadar bahwa Negara, sang penentu kebenaran dan keadilan itu, adalah juga sebuah wacana. yang mana arah penilaiannya sangat tergantung dari siapa yang berkuasa di dalamnya.

5. divansemesta - Agustus 6, 2010

Biasa aja ah, Kakek Goen. Rasulullah juga melakukan kekerasan. Kekerasan emang ada di dalam Islam. Pernah merintahkan untuk menggal ratusan orang malah.

Masalahnya, kakek itu kan bukan muslim, tapi rada sok tahu ketika bicara tentang islam. Begitulah. Tabik, Kek.

6. harry.uncommon - Agustus 7, 2010

Membahas “pembaharuan” Ahmadiyah, rasanya bukan hak eksklusif Muslim saja, khan? Toh, Om Goen khan Muslim sejati..!

Agama adalah iman. Iman adalah response manusia terhadap Tuhan. Namanya response, ia adalah interpretasi. Namanya interpretasi, ia bebas untuk berbeda. Iman bersifat berbeda. Agama bersifat berbeda. Ahmadiyah bersifat berbeda. Perbedaan, jelas tak sama,hanya Tuhan saja yang sama, tetap, tak berbeda-beda. Manusialah yang punya hak berbeda dengan Tuhan.

Jika Ahmadiyah atau Saksi Yehovah berbeda, ya biarkan saja. Tuhan saja membiarkan perbedaan. Jangan jadi hakim atas manusia, atau perusuh atas manusia. STOP kekerasan atas nama perbedaan apalagi takut tersaingi. Sempit sekali. Luaskan pikiran dan lapangkan dada. Gbu

7. tha danardhono - Agustus 8, 2010

..ada hal mendasar yang harus diselamatkan dari kekerasan apapun bentuknya yaitu KEMANUSIAAN…yah itu pun kalo kita masih manusia

8. harry.uncommon - Agustus 9, 2010

Terakhir, s/d kemarin, 8 Agustus 2010, polisi masih berjaga-jaga di tempat ibadah Ahmadiyah di Kuningan Jabar dari oknum yang mau menyegelnya..hmmm..[lagi-lagi..satu lagi..main paksa dan hakim sendiri..]

9. divan - Agustus 10, 2010

Muhammad itu combattan. Itu sudah jelas. Anggapan anda, bung Harry, tak akan menyurutkan kepercayaan terhadap Muhammad SAW yang melakukan kekerasan di satu sisi, kehalusan disi lainnya.

Gunawan Muhammad itu bukan muslim :), meski di KTP muslim, dia bukan muslim.

Bagi muslim, perkataan, tingkah laku Gunawan bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan rujukan, kalau pertimbangan, yah sedikitlah asal tidak melanggar syara.

10. chury - Agustus 12, 2010

sy ingin mmbandingkan kasus ahmadiyah dengan kasus di zaman rasulullah dimana ketika itu ada sebuah mesjid yg dihancurkan oleh para shahabat rasulullah. Kenapa mesjid itu dihancurkan, dikarenakan karena mesid itu dibangun oleh segolongan orang2 munafik yg ingin memecah belah persatuan dan kesatuan umat islam. Mesjid itu dibangun untuk menandingi dan menyaingi masjid yg telah dibangun rasulullah dan para shahabat. Mesjid itu dibangun untuk menarik para umat islam agar tidak lagi berkumpul dan shalat pada mesjid yg dibangun oleh rasulullah.
Jika ditilik dari kisah ini, tentulah GM akan menudingnya sebagai kekerasan atau aksi vandalisme, tapi pernahkah kita berpikir bhw itu dilakukan karena tdk lain bhw org2 munafik itu tdk ingin melihat soliditas dari umat islam yg pada zaman rasulullah saja sudah ada gerakan macam itu apalagi di zaman setelahnya. Dan sy yakin org2 islam abangan macam GM dan sejenisnya yg tdk punya ghirah islam akan kentara dari kata dan perbuatannya. Dan yakin saja bahwa GM bisa sj expert atau maestro dalam bidang sastra tapi cetek ilmu islamnya..

11. juwita - Agustus 14, 2010

Kita main tebakan katrok saja:
Warnanya putih, kalo dipegang panas…Apa hayoo ?
(Jwb: Nasi baru mateng..)

12. divan - Agustus 16, 2010

Nah tuh, bagaimana bisa membantah bahwa kekerasan itu nggak ada di dalam Islam. itu pernah dilakukan rasulullah kok (dengan berbagai syarat).

Sistem kepercayaan secara general seperti itu. Ada polisi, ada militer, ada milisi.

Nah, lebih percaya Muhammad Rasulullah atau Kakek Goen?

Ujian sebagai muslim atau non muslim atau orang munafik, jelas di sini. :)

13. divan - Agustus 16, 2010

Jangan-jangan, yang tadinya muslim, dah pada pindah agama nih. Jadi agama humanisme :)

14. harry uncommon - Agustus 16, 2010

man-teman..sebaiknya kita hentikan prasangka ke Om Goen ya..
salam Ramadhan penuh damai di hati..

15. Ibra - Agustus 16, 2010

bahkan Humanisme bukanlah segala-galanya. sebagaimana layaknya sebuah wacana, Humanisme pun punya batasnya sendiri. ia adalah juga sesuatu yang tak kebal dengan segala argumen dan penilaian dalam ruang waktu.

ada satu kalimat menarik ketika saya membuka kembali tulisan Tan Malaka : MADILOG tak mampu merangkum semua kuasa Tuhan dan imanku padaNya.

penekanan tulisan GM di atas terhadap “cela” PERSIS seakan menutup rasa terima kasih Soekarno pada A. Hasan dan PERSIS. saya sendiri yang pernah melihat lebih dalam dunia PERSIS tidak menilai bahwa “rasa tidak senang” pada gagasan lain bukan dalam taraf permusuhan. akantetapi sebuah ajakan dan tantangan berpolemik. barangkali Soekarno sendiri salah menilai itu.

saya juga tidak sepakat dengan para kiai yang berkoar bahwa islam tidak mengajarkan kekerasan. hanya karena wacana populer yang beredar adalah HAM dan Humanisme, mereka telah menjadi musuh bagi agama mereka sendiri. tak aneh. dari dulu memang para ulama adalah musuh para nabi.

dalam batas tertentu islam mengajarkan kekerasan. dan apakah itu bertentangan dengan HAM dan Humanisme? jawabnya dalam batas tertentu adalah : Ya.

16. divan - Agustus 18, 2010

Bukan prasangka pak Harry :) ini tentang pertarungan ide/counter ide (salah sendiri, Kakek Goen ngomongin Islam pdhl dia bukan muslim). Rasulullah pun mengajarkan demikian.

17. harry uncommon - Agustus 18, 2010

Mas Divan, apakah ngomongin Amerika, jika kita bukan orang Amerika itu juga salah? Maaf nih mas Divan, hanya sekedar mengganggu sedikit saja..he..he..Gbu
Mas iBRA, terima kasih atas pencerahannya, bahwa Islam mengajarakan dan praktis melakukan kekerasan. Makanya FPI selalu suka kekerasan ya? Ya, itulah Islam. Makanya warga Islam LEBIH kepanasan dengan adanya Ahmadiyah di sebelah [yang tidak mengajarkan kekerasan..?] ketimbang kegerahan melawan FPI yg di depan mata ya? Orang lebih ngotot memberantas Ahmadiyah dari pada menuntaskan FPI..begitu mas Ibra? many thanks.Gbu

18. Ibra - Agustus 18, 2010

pada titik mana yang harus menggunakan kekerasan, disitulah pertimbangan dan penilaian bermain.
dan penilaianku tentang FPI? mereka bodoh.

19. Dadang hermawan - Agustus 18, 2010

harry = lebay :)

20. divan - Agustus 19, 2010

Itu benar Pak Harry, logikanya cantik.

Intinya memang ga papa ngomongin Islam, tapi yang muslim harus faham bahwa yang jadi sandaran dalam bertindak itu bukan kakek Gun. Tapi Quran dan rasulullah.

Kan, saya selalu kembali mengajak berdialog dlm tataran episteme… dan pernyataan bapak sama sekali tidak menjawab apa yang sy sampaikan sebelumnya.

Bapak muslim? lantas kenapa menolak kekerasan yang dilakukan rasulullah? kekerasan yang beliau lakukan ada syaratnya. setahu sy fpi pun (meski sy nggak melulu setuju mereka) melengkapi syarat sebelum melakukan amar maruf, mereka melampirkan surat pemberitahuan sebelum melakukan aksi. kadang bs tahunan sebelum aksi berlangsung.

Kenapa pemerintah khususnya aparat keamanan tidak disalahkan. kan logikanya, fpi nggak akan melakukan aksi kekerasan kalau surat2 mereka ditanggapi (ini bukan terkait ahmadiyah), kalau aparat main mata sama bandar prostitusi, pabrik minuman keras dsb?

Mengenai Ahmadiyah, silahkan saja hidup di negeri ini asal jangan ngaku Islam, karena Islam sudah punya garis batas mengenai kemusliman. Kan ini nggak.

Nah, yang Pak Harry rujuk itu siapa? HAM, Gunawan atau Rasulullah. Itu intinya Pak. Kecuali kalau bapak bukan muslim. kalau bukan muslim ya wajar saja… dialognya harus ditataran akar berpikir. ditataran keyakinan fundamental.

21. empty brain - Agustus 20, 2010

differences in perspective ..

22. Dadang hermawan - Agustus 21, 2010

amerika dan inggris berkoar tentang HAM dan HUMANISME sekaligus menjadi produsen senjata terbesar di dunia.

oiya, pejuang kemerdekaan indonesia juga menggunakan kekerasan.

23. empty brain - Agustus 22, 2010

..right-hand scroll of the law, punishment means the left hand.

24. Dadang hermawan - Agustus 25, 2010

“Whenever I hear people talking about ‘liberal ideas,’ I am always astounded that men should love to fool themselves with empty sounds. An idea should never be liberal; it must be vigorous, positive, and without loose ends, so that it may fulfill its divine mission and be productive. The proper place for liberality is in the realm of the emotions.”

(Johann Wolfgang von Goethe)

25. zul azmi sibuea - Agustus 26, 2010

selain kedua permasalahan, dibawah ini :
*Qadian percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang pembaharu dan sekaligus ”nabi” tapi nabi yang tak membawa syariat baru.
*Ahmadiyah Lahore, yang tak menganggap Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi, melainkan seorang mujaddid (pembaharu).

masih banyak permasalahan fikih ikutannya seperti, teks qur’an, syahadat, lafal adzan, haji dst, dst.

seperti pada alinea akhir tulisan diatas, saya lebih melihat bahwa ahmadiyah adalah sekte yang disuburkan dan dipelihara penjajah inggeris di india sebagai agama politik untuk memecah belah kesatuan ummat Islam dengan cara memecah belah keimanan Islam khusus pada posisi Ghulam Ahmad sebagai nabi.

yang membuat runyam ialah, sekte itu diserang dengan kekerasan oleh pihak yang juga adalah merupakan “sekte baru”. saya tidak suka dengan kekerasan, tidak ada masalah yang dapat diselesaikan dengan kekerasan.

untuk tidak menimbulkan korban lebih banyak dan berkepanjangan, lebih baik dibuka ruang dialog, perundingan – toh masih tersisa Tauhid (kepercayaan pada Ke-Esa-an Ilahiyah) sebagai interest bersama.

26. divan - Agustus 28, 2010

Saudara Zul,

Dalam melakukan pembelaan terhadap jemaah Ahmadiyah, biasanya orang-orang menggunakan ilustrasi historis yang menunjukan bahwa segala macam protes mengenai jemaah Ahmadiyah seharusnya tidak dilakukan. Hal ini di landasi sejarah bahwa pada awalnya pun Kristen di intimidasi oleh Yahudi setelah agama tersebut keluarkan perjanjian baru (perjanjian ke dua antara manusia dan tuhan). Intimidasi pun terjadi atas nama agama Kristen ketika Islam mengeluarkan perjanjian baru ke tiga dalam bentuk Al Quran.

Landasan itulah yang menjadikan usaha Bakorpakem untuk mem-band jemaat Ahmadiyah menjadi sikap sekumpulan orang dungu yang dianggap tidak mempelajari sejarah. Intinya: dulu kita (muslim) tidak ingin diperlakukan demikian (di band), tapi kenapa sekarang kita (muslim) memperlakukan jemaat Ahmadiyah seperti halnya Kristen dan Yahudi ketika Islam muncul? Kalau tidak mau di seperti itukan (dulu), kenapa sekarang kita men-seperti itukan Ahmadiyah?

Statement seperti itu sebenarnya sudah salah di awal. Ilustrasi historis perkembangan agama-agama samawi di awal tidak bisa direlevansikan dengan perkembangan Ahmadiyah, sebab: di masa lalu Kristen tidak pernah mengaku sebagai agama Yahudi, dan Islam pun tidak pernah mengaku sebagai agama Kristen. Ahmadiyah berbeda. Jemaah ini bukan Islam karena pokok akidahnya berbeda dengan Islam, tetapi mengatasnamakan jemaatnya sebagai jemaat Islam.

Wajar jika banyak muslim yang menjadi brutal, padahal kalau Ahmadiyah mengklaim sebagai agama (baru) tentunya lain soal. Sikap brutal bisa di redam, dan Ahmadiyah sebagai agama bisa hidup tenteram, setidaknya di republik ini.

27. divan - Agustus 28, 2010

Memang tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan tapi hukum alam mengajarkan kekerasan bisa menyelesaikan masalah. Negara pun membutuhkan militer meski memiliki perangkat diplomatik. Di dalam tubuh manusia pun terdapat antibodi, yang merupakan alat penangkal yang dalam ‘perang’ melawan kuman/virus/bakteri menimbulkan kesakitan pada tubuh kita. Hitler tidak akan hilang dari muka bumi, kalau tidak dikerasi.

Itu secara logika.
Tapi, saya berusaha merujuk (Dan seharusnya kita pun demikian) pada apa yang dilakukan rasulullah. Disatu sisi rasulullah adalah pembangun jembatan islah dan kedamaian, di sisi lain beliau bisa jadi seorang kombatan. di medan badar, di uhud dan lain sebagainya.

Berkenaan dialog?
Dialog sudah dilakukan bahkan jalan tengah pun sudah diberikan. Hanya sampai kapan? Sebagai muslim reaksi yang diberikan merupakan penjagaan dari dien ini. Itu wajar. Pilihannya sudah jelas. memilih Islam atau pluralisme dan toleransi ala liberalisme?

28. Pito - Agustus 29, 2010

Orang2 yg melakukan kekerasan atas nama Tuhan adalah para pembajak dan pencoreng Tuhan.. Dia Yang Mahaluhur dan Tak Terpermanai dijadikan bemper untuk napsu angkara murka.. Jadi inget lagu Imagine John Lenon ;-)

29. Dadang hermawan - Agustus 30, 2010

pito,
Argumen deductive anda valid tetapi tidak sound karena premisenya salah.

piss, man!

30. Ibra - Agustus 30, 2010

:p
aku percaya teks punya nada.
dan dari nadanya sih itu bukan argumen deductive, tapi seductive
:D

31. divan - Agustus 30, 2010

Kalau muslim bawalah nama Muhammad dan Quran juga dengan logika hukum syara Pak Dadang :), bukan ayat logika Plato, Aristoteles, atau logika mantiq dan matematika …

Mas Pito, ayat darii mana tuh? Ayat-ayat kristus dan agama langit lain aja, ada kekerasan dalam teksnya. itu ayatnya Anand Khrisna? atau ayatnya pluralisme beragama :)

32. Dadang hermawan - Agustus 30, 2010

divan,
ilmu pengetahuan itu tidak datang serta-merta seperti sulap. ilmu pengetahuan melewati proses yang panjang untuk sampai seperti ini.

saya kasih tau biar saudara divan nggak malu2in lagi ngomong kayak di atas.

ilmu islam jaman bagdad itu berkembang pesat karena ilmu yunani. aristoteles, bapak logika itu, pengaruhnya sampai ke banyak sekali ilmuwan islam.

belajar yang banyak. jangan sempit dan picik jadi orang islam itu. malu.

33. divan - Agustus 30, 2010

:) saya paham itu kok… bukan dalam artian sy menafikan logika matematika. Komputer yang sy pegang ini racikan kehebatan matematika. Subhanallah pak. Ilmu pengetahuan bukan pula milik umat Islam, tapi ummat manusia karena di lanjutkan secara estafet. diatas Baghdad, atau peradaban Islam ada peradaban Romawi, di atas romawi ada yunani, diatasnya ada Mesir, ada juga Babilon ada Mesopotamia… saya sepakat. Tapi itu untuk science. bahkan dalam situasi penyerbukan qurma (science) rasulullah menyerahkan pada ahlinya, tetapi tidak untuk kasus-kasus terkait pengaturan kehidupan masyarakat (termasuk apakah kekerasan diperbolehkan dalam islam, dan sejauh mana batasannya).

Kalau muslim bawalah nama Muhammad dan Quran juga dengan logika hukum syara Pak Dadang :) artinya menggunakan : adakah di dalam Quran, pendapat yang Bapak lontarkan, atau adakah di dalam hadist, dicontohkankah oleh rasulullah. Kalau memang permasalahan baru, bagaimana teks-teks syara digabungkan dengan logika syari, sehingga menghasilkan kesimpulan yang nyari pula.

Sampai disini, saya sudah menjawab, dan selalu menjawab pertanyaan dan pernyataan bapak. Dan dari awal bapak belum sekalipun menjawab pertanyaan saya…lantas?

34. divan - Agustus 30, 2010

oh iya, sampai saat ini saya belum pernah mencela pak dadang lho…

35. divan - Agustus 30, 2010

Oh ya, saya salah komen pak… yang bapak bilang tentang logika-logika-an deduktif-seduktif itu sebenernya untuk Fito… (bukan untuk saya). Mohon Maaf…

tapi tetap saja bapak punya pr lho.

36. zul azmi sibuea - Agustus 30, 2010

ada potensial energy dalam ahmadiyah yang ingin dimanfaatkan Bung Karno, misalnya (alinea 12)

”… pada umumnya ada mereka punya ’features’ yang saya setujui: mereka punya rationalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme, mereka punya hati-hati terhadap hadits, mereka punya streven Qur’an sahaja dulu, mereka punya systematische aannemelijk making van den Islam.”

tetapi, Ia menolak ”pengeramatan” Mirza Ghulam Ahmad dan ”kecintaan” kalangan Ahmadi ”kepada imperialisme Inggris”.

jadi mengapa kita harus bunuh-bunuhan sekarang, setelah 74 tahun berlalu dari tahun 1936.

kita masih punya butir pertama pancasila (tauhid)sebagai interest bersama baik dengan ahmadiyah bahkan dengan berbagai agama dan penganut agama.

37. divan - Agustus 30, 2010

Sumber hukum muslim bukan pancasila Pak Zul yang baik :), jika dengan adanya Pancasila malah menjadikan saya harus mengkompromikan dien islam, untuk apa? toh pancasila ciptaan manusia, sementara Islam dibuat oleh pencipta manusia.

Pancasila itu tidak merepresentasikan Islam, meski memang ada sedikit nilai-nilainya yang islami. Padahal kita dituntut untuk kaffah/menyeluruh di dalam berislam.

Yang dilakukan oleh ‘kita’ saat ini justru memasukan/memaksakan islam untuk masuk ke dalam panasila, padahal sekali lagi saya sampaikan:

“pancasila adalah ciptaan manusia, sementara Islam dibuat oleh pencipta manusia.”

Saya kagum terhadap sukarno, tetapi kekaguman saya tidak untuk menundukkan diri saya terhadap hukum negara yang dibuatnya.

Saya memiliki prinsip dalam ketauhidan (memilih berhukum dengan hukum Allah itu juga tauhid. tauhid itu bukan hanya mengakui tuhan esa. mengakui tuhan esa hanya sekelumit kecil diantaranya), akan tetapi tidak membuat hubungan sy dengan non muslim menjadi hancur… Rasulullah pun bersikap baik kepada non muslim, bahkan kepada yahudi yang tidak memerangipun beliau bersikap baik. lantas untuk apa saya menyalahi apa yang dilakukan rasulullah dengan melakukan bunuh-bunuhan dengan non muslim yang tidak memerangi?

Mengenai tindak kekerasan terhadap ahmadiah bapak bisa melihat posting sy sebelumnya.

38. empty brain - Agustus 30, 2010

eternal life by the way ..

39. zul azmi sibuea - Agustus 31, 2010

saya mau declare “kita sedang mengalami krisis Teori Ilmu”, kita hidup dan berkembangan dalam lingkungan keilmuan yang materialism, dan liberalism. epistemologi ilmu pengetahuan politik/ekonomi/sosial yang kita anut adalah rancu – berawal dari materialism dan berakhir pada materialism, pendekatan epistemologi evolusionernya sesuai “social darwinism”, dengan seleksi hierarkhis yang Popperian, sehingga menurut epistemologi semacam ini, disimpulkan bahwa “kita berawal dari materi random dan berakhir pada materi random pula”.

silakan anda cek dan recek, bahwa ilmu pengetahuan “tidaklah bebas nilai”, tergantung pada “Pandangan Hidup” atau worldviewnya. harapan saya etika, moral, agama kiranya bisa terselip pada worldview.

Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa Pandangan hidup Islam dan Pancasila beririsan pada imperative atau amar “TAUHID’.

40. divan - Agustus 31, 2010

Beririsan ia, tapi tetap saja kita harus kembali pada sumbernya kita. bukan berarti di dalam pancasila ada sisi islamnya, kemudian kita malah membela mati-matian pancasila, mereduksi ajaran islam untuk dasar negara indonesia ini.

Seingat sy, jika hal itu dilakukan, maka bisa dianggap menjadikan islam sebagai objek, bukan subjek perubahan.

sebenarnya sy lebih cocok dengan konsepnya al attas mengenai islamisasi ilmu, tapi tetap saja dalam konsep dia, islam tetap menjadi sebagai subjek. sebagai tempat kembali. tidak seperti yang islam lib lakukan.

41. zul azmi sibuea - Agustus 31, 2010

arah lain sesudah islamisasi ilmu – nya Alattas, saya kira akan tiba pada “amar kesatuan pada tatanan sosio-saintifik”, melalui penyatuan kembali apa yang telah dipisahkan oleh Kant ( a priori dan a posteriori) karena keduanya tak ada berkaitan satu sama lain, tidak interaktif, tidak ada integrasi pada “dualist” tersebut sehingga tidak evolusional.

jadi bukan islamisasi ilmu pengetahuan tetapi, tauhidisasi teori ilmu pengetahuan (epistemologi).

by the way, dihadapan saya foto-copy buku “The Unicity Precept And The Socio-Scintific Order” karya Masudul Alam Choudhury professor pada School of Arts and Social Sciences University College of Cape Breton, Sydney, Nova Scotia, Canada.

42. agiek - September 2, 2010

Semoga saya dijauhkan dari keangkuhan menganggap diri bisa menghakimi orang lain dlm soal iman. -GM on Twit

43. divan - September 2, 2010

agiek: nggak amin :D

44. Prabu - September 17, 2010

Divan, kita lebih terinspirasi oleh Kakek Goen daripada pemahaman Islam picik seperti yang anda anut. Renungan2 Goen membuat kita jadi lebih manusiawi daripada pemahaman Islam picik yang anda yakini. Kita lebih beruntung memiliki satu orang GM daripada memiliki seribu orang berkeyakinan kayak Anda.

45. agiek - September 17, 2010

@Prabu
Orang2 berpahaman seperti divan inilah, yang sama bung karno dahulu disebut sebagai Islam Sontoloyo (bc:surat2 islam dari endeh). Bigotry, memang masih menjadi penyakit akut bagi umat :)

46. devil red- - September 17, 2010

ketetapan = kaku + beku

47. anung - September 17, 2010

sebenarnya sih nggak perlu kekerasan kalo mau bubarin ahmadiyah, cukup pemerintahan aja yang turun tangan,dijamin tertib insya Allah

48. divan - September 18, 2010

Agiek, Devil, Prabu justru dengan berkomentar seperti itu kelihatan yang mana yang ini dan yang mana yang itu. Saya hanya butuh jawaban. Kalau makian saya pun bisa, tapi saya nggak mau kan?

49. purnomo - September 21, 2010

kita harus segera berbagi cahaya pada mereka yg tenggelam didalam jurang kegelapan.tak tahu kemana akan berjalan.tak sampai ke tujuan,,,,inngih mas??
trims.pur.gubeng suroboyo

50. melki - September 26, 2010

Saya sangat setuju bahwa islam adalah kemajuan. Karena memang semua batasan ada disana dan agar tidak kaku maka diperlukan pembaharuan.

51. isoelaiman - September 30, 2010

Pesan penting Goen adalah di kalimat terakhirnya, “Hari-hari ini, ”sektarisme” itu bahkan ditegaskan dengan kekerasan.”
Jadi, intinya Mas Goen ingin, citra Islam yang anti kekerasan. Dalam berbagai tulisan sebelumnya, pesan seperti ini nampak jelas. Yakni, Islam yang ”cinta kemajuan dan kecerdasan”, minus kekerasan.
Goen tidak membahas perang dilakukan di zaman Rasulullah dan sahabat, karena bila itu yang dia bahas, referensinya bukan Bung Karno yang kenes. Dan diskusi di atas, yang mengkait-kaitkan dengan perang di zaman Rasul dan sahabat, itu menjadi tak relevan sama sekali.
Konkritnya, dia prihatin dengan FPI dan semacamnya yang melakukan kekerasan terhadap Ahmadiah. Bahwa lalu ada analisa yang mengatakan FPI itu mencari pembenaran kekerasannya itu didasarkan pada perang di zaman Rasulullah dan sahabat, itu kan baru analisa. Atau mungkin, analisa itu berupa penyederhanaan. Atau itu baru merupakan dugaan. Jadi, kenapa mesti diributkan?
Kecuali jika FPI memberikan pernyataan dasar pembenaran kekerasannya memang demikian halnya.
Jadi, tidak lantas, bila FPI itu melakukan kekerasan, lalu kita otomatis membenarkan kekerasan ala FPI itu semata karena di zaman Rasulullah dan sahabat, juga dilakukan perang.
Di dalam Al-Qur’an ada perintah ‘amar ma’ruf nahi munkar dengan hikmah dan cara yang baik.

52. divan - Oktober 1, 2010

Islam yang anti kekerasan itu nggak diajarkan di zaman rasulullah dan para sahabat. sama halnya islam yang anti perdamaian itu nggak diajarkan oleh rasulullah dan para sahabat juga.

Nilai Islam ada di titik ekuilibrium dan gunawan muhammad nggak mau Islam yang ky zaman rasulullah.

Dan saya melihat rasulullah itu sosok sempurna ketika dia turun. Beliau adalah penggabungngan antara musa yang luar biasa keras (tegas) dan Isa yang mengajarkan cinta kasih.

Ditangan Rasulullah, dunia beliau menengahi ketegasan dengan cinta kasih. Allah menggabungkan dua kekuatan tersebut dalam sosok Muhammad SAW.

Jika disatu sisi rasulullah adalah seorang penyayang dan pengampun tapi disisi lain rasulullah adalah seorang kombatan.

lagipula seperti yang saya bilang sebelumnya gunawan itu bukan muslim, tapi sayangnya banyak muslim yang berkiblat dengan idenya. Ini yang jadi masalah. Itu memang pilihan tapi pilihan saya pula mengatakan apa yang saya yakini.

Lagipula tahu apa Gunawan tentang FPI? Ditulisan2an yang sering menyudutkan dia tidak pernah berbicara tentang proses yang dilalui FPI ketika melakukan kekerasan.

Sekedar cerita sedikit, mas Anwar yang baik. Di kampung sy (Blok Armin) di Bogor ada tempat perjudian yang seharinya ditaksir perputaran uangnya sampai 3 milyar perhari.

Kami, warga resah karena hal tersebut. Kemudian, diajukanlah surat penolakan ke Walikota, tapi setelah melayangkan berkali kali dan menunggu bahkan sampai satu setengah tahunan pemda sama sekali tidak digubris. Hingga akhirnya, pada satu malam warga kami yang jumlahnya puluhan mendatangi tempat perjudian tersebut. Kami datang dengan damai, tapi dengan ketegasan pula. Sempat pula bersitegang dengan penjaga keamanan di sana. Kami beri batas waktu. Esok malam, tempat tsb masih beroperasi. Kami datangi lagi tempat itu dan kali ini saya dan paman mengaku sebagai anggota FPI (padahal berdusta nih) Walhasil, tempat perjudian itu tutup, hingga hari ini.

Dan setahu sy, FPI juga punya standar operation procedure, dulu saya pernah baca di websitenya, sekarang coba saja melacaknya.

Salah satu sop-nya, mereka (FPI) selalu memberitahukan pada aparat yang berwajib bahwa di tempat tertentu ada tempat yang berpotensi merusak moralitas masyarakat lokalisasi arena perjudian dsb. Dan di dalam sop tersebut, kekerasan digunakan jika sudah memberi tahu tidak digubris juga. Dan tahapan ‘anarkis’nya pun lama (bisa sampai 1-2 tahun). Dan itupun masih dengan syarat: masyarakat sekitar resah.

Kalau nggak resah FPI tidak berbuat apa-apa kecuali dakwah lisan di masyarakat sampai masyarakat tersebut kemudian memahami dan resah (resah karena sesuatu hal kadang menjadi barometer keimanan).

Dan mengenai tanggapan sy tentang ahmadiyah sy pikir komentar yang sebelumnya saya sampaikan sudah cukup, kecuali kita memang penyebah sukarno, atau Goen.

53. isoelaiman - Oktober 4, 2010

Paling tidak, ada 3 hal yang saya merasa perlu ikut diskusi yang disajikan Saudara divan di atas. Pertama, pernyataan dia bahwa “…gunawan muhammad nggak mau Islam yang ky zaman rasulullah”. Kedua, … gunawan itu bukan muslim”, dan ketiga, “… banyak muslim yang berkiblat dengan idenya”.

Pertama, bagaimana sdr divan bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Tulisan Goen yang mana dan apakah sudah konfirmasi kepada yang bersangkutan? Kalaulah benar, maka Islam zaman Rasulullah yang mana yang diingkarinya? Apa dia mengingkari perang yang dilakukan Rasul dan Sahabat? Bila demikian, bukankah Rasul itu hanya melaksanakan perang berdasar perintah Allah. Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah terdapat sejumlah ayat perintah perang. Apa lalu Goen mau menghujat Tuhan? Sabda Rasul, “khairuz zamanii qarnii …dst”. Jadi, bila Goen tidak mau Islam zaman Rasul –yang saya masih belum yakin hal ini–, maka dia mengambil Islam secara sepotong-sepotong, apa alasannya bila demikian, untuk pengikut di dunia?
Kedua, … gunawan itu bukan muslim”. Kita perlu ekstra hati-hati untuk mengemukakan tuduhan atau pernyataan seperti ini. Sejauh Goen itu pernah membaca syahadat, maka dia tetap seorang muslim. Sejauh dia tidak murtad, dia tetap muslim. Adapun pendapat-pendapatnya yang kritis yang kadang bernada menghujat Islam yang dipraktekkan atau menghujat kelompok Islam tertentu, tidak lantas secara otomatis dia keluar dari Islam. Kita harus bersikap adil dan proporsional sesuai syariat Islam. “…la yaskhor qaumun minqaumin ‘asaa an yakuunuu khairan minhum…” Janganlah suatu qaum mencerca suatu kaum, yang jangan-jangan kaum yang kalian cerca itu bisa jadi lebih baik ketimbang yang mencerca…”.
Ketiga, “… banyak muslim yang berkiblat dengan idenya”. Nah, ini dia. Begini, mas. Di dunia ini, ada orang yang memang bangga bila pendapatnya diikuti banyak orang. Mesti untuk itu seseorang itu harus mengorbankan agamanya. Begitu juga dengan logika kekuasaan, kekayaan duniawi, keturunan dan sejenisnya. Artinya, itu tergantung niatnya. Dari sisi lain, memang banyak juga pengikut atau pengekor pendapat, dan mereka merasa bangga bila dirinya dikelompokkan sejajar atau sedekat dengan sang tokoh. Hal demikian itu lumrah. Bukankah tukang sihir zaman Fir’aun juga demikian? Sebelum berhadapan dengan Nabi Musa, tukang sihir itu dijanjikan upah, antara lain upah tersebut berupa kedekatan dengan Fir’aun. Seberapa banyak pun pengikut Goen, bila itu batal, yang tetap saja jadi sampah neraka. Bila pendapat Goen benar –dalam pengertian sejalan dengan Al-Qur-’an dan As-Sunnah–, mereka memang benar. Jadi, standardnya adalah jelas. Siapa pun, tokoh kaliber apa pun bila tak sesuai bahkan bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, seberapa gemerlapnyapun, mereka itu batal. Bakal menjadi sampah neraka.
Jadi, saudaraku divan, tak usah geram,tak usah risau, dunia ini kan panggung sandiwara, tetap saja manusia itu kembalinya kepada Tuhan-Nya, istilahnya “wainnaa ilahi raaji’uun”.
Karena itu, selalulah dalam berargumentasi didasarkan pada dua kitab yang takkan pernah sesat, Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Tentang FPI, biarkan mereka jalan terus, tak perlu menunggu pujian atau persetujuan Goen. Saya merasa banyak masyarakat yang memperoleh manfaat dari tindakan FPI, meski ada juga yang merasa dirugikan. Dan umumnya yang dirugikan itu penyedia maksiat, pengingkar Al-qur’an dan As-Sunnah.
Tentang Goen itu, positifnya ya pikiran kritisnya. Dan memang, dia pernah menokohkan pezina wanita Gunung Bolo Tulungagung, sebagai pahlawan. Apa nggak huebat.

54. divan - Oktober 5, 2010

Awalnya saya harus ucapkan terimakasih atas nasehatnya, mas isolaeman.

Mengenai Goen itu bukan muslim, saya pernah baca wawancara di Tempo, mengenai pandangan dia tentang Quran. Dia menganggap Quran itu sama-saja dengan kitab lain. Co dia membandingkan dengan zarathustra. Dia bilang apa yang disampaikan Nietzche lebih berbobot. Dan al Quran itu di isi kelemahan (bukan kelemahan penafsiran lho. tapi kelemahan) sama juga dengan kitab yang lainnya, sama dengan novel-novel atau buku buku inspirasi lainnya yang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Sebenarnya saya cukup moderat menyikapi hal itu. Wajar saja jika umat Kristiani mengatakan kitabnya yang paling benar, atau pengikut lia eden pun memiliki pandangan yang sama mengenai kitab quran tidak sempurna dan lain sebagainya. Tidak ada masalah buat saya.

Saya hanya memberikan batasan mana muslim dan mana bukan. Yang sudah tidak percaya kesempurnaan Quran ya, bukan muslim lagi. Mengenai percaya atau tidak, tidak saya permasalahkan, tapi saya pun harus bilang mana yang muslim mana yang bukan. apa salahnya? tidak ada salahnya seperti halnya orang yahudi mengatakan saya kafir, karena mereka punya definisi sendiri tentang siapa jews siapa bukan. dan islam pun demikian.

saya mungkin beranggapan beda. saya pun membaca memperhatikan tulisan kakek Goen, saya pun membaca apapun yang bisa saya baca, dan saya menempatkan hikmah kebaikan yang disampaikan oleh penulis madzhab apapun, aliran apapun bisa kita ‘islamisasikan’. namun fenomena sekarang campur baur. bukan di islamisasikan, tapi islam yang berusaha di cocok-cocokkan, islam yang diliberalisasi, sosialisasi, komunisasi, lesbianisasi dan lain sebagainya…. dan sekali lagi terimakasih nasihatnya… (Jadi, saudaraku divan, tak usah geram,tak usah risau, dunia ini kan panggung sandiwara, tetap saja manusia itu kembalinya kepada Tuhan-Nya, istilahnya “wainnaa ilahi raaji’uun”).

Itu artinya saya, kita memang harus ‘mengkosongkan’ diri. Penyampaian hanya penyampaian, tak perlu geram tak perlu sakit hati, tak perlu resah melihat ada atau tidak adanya perubahan. Dunia terus berjalan, dan kita pun berjalan melakukan apa yang kita bisa.

Ampuni kami ya Allah, sucikan hati kami.

gina - Februari 8, 2011

@divan (yang sepertinya kalah tenar dgn Pak goen)

Kenapa anda yg repot mengurusi agama orang? mau Pak Goen or siapapun? hanya Tuhan yg tahu hati manusia, bukan anda. Pak Goen mau menganggap Al-Quran ada kurangnya, itu urusan dia, bukan urusan anda.

Mau berpikir humanis or whatever, itu urusan dia. Saya pernah baca dulu Nabi Muhammad SAW tahu di zamannya ada 4 orang mengaku Nabi, dibiarkan saja oleh beliau. Beliau sama sekali tidak menekankan kekerasan seperti beberapa kutipan anda diatas.

Islam adalah rahmatan lil alamin, kalau orang seperti anda (yg suka ngomporin) terus ada di dunia ini, saya nggak tau gimana nasibnya org2 terdekat anda..?!! untung saja cuman tau divan ini hanya di dunia maya.. Cih!

divansemesta - Februari 9, 2011

Masa dibiarin yang ngaku Nabi :) Mana sumbernya Gin? Pengen dong.

Kalau mau berpikir humanis atau what ever, ya urusan saya juga dong ngritik Gunawan. Kau kok nggak what ever ke saya?

Suka ngomporin? kehidupan sosial saya baik-baik saja kok, saya mengasihi sahabat sy yang kritiani, ada yang atheis juga saya bantu :). Saya yakin persahabatan saya dengan orang -orang diluar keyakinan saya lebih banyaak dari Gina :)tapi hal itu tetap tidak membuat saya mencampur adukan ajaran agama.

Analisa kamu, analisa cewek yang lagi marah. Jangan marah ah Gin, make cih segala :). Lagian saya buat komentar2 ini emang buat para pendukung kakek Goen kok, kalau kamu marah ya alhamdulillah.

55. Ukat - Oktober 11, 2010

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita agar tidak terjerumus ke dalam firqoh sesat seperti Ahmadiyah

56. isoelaiman - Oktober 11, 2010

Di Fatkhul Majid disebutkan, “orang yang pandai adalah, orang yang sungguh-sungguh berusaha menyelamatkan akhiratnya”. Itu Sabda Rasulullah. Bukankah waktu di akhirat itu lamanya tak terhingga? Lalu apa yang telah kita siapkan menuju hari agama itu?
Telah dekat hisab manusia, namun, kenapa manusia itu lalai dan berpaling alias tidak peduli?
Hanya orang yang bernalar dan memanfaatkan nalarnya untuk keselamatan akhiratlah yang insya Allah bakal selamat.
Sungguh benar firman Tuhan dan celaka manusia yang tidak peduli betatapun kini hebat, kuasa, pinter, berharta dan lain-lain.

57. fransiskus borgias m. - Oktober 13, 2010

catatan pinggir ini sungguh cerdas dan indah… semoga yg terkait bisa terpanggil kpd kecerdasan dan keindahan… salam…

58. re - Oktober 15, 2010

divan selalu keren dalam berargumen..terima kasih div, sy terus belajar bagaimana memahami pluralitas tanpa termakan pluralisme :)

59. kabareskrim - Oktober 18, 2010

at least saya menEmukan caping di sini. dulu, dulu banget, sy penggemar caping. kalau buka tempo yg pertama sy tatap caping. entah sy extase banget menikmati kata perkata yg cantik dan tema yg melanglang.
tapi pas mulai era reformasi ketika semua org bisa melampiaskan protes tanpa saringan, maka caping tak lagi perlu bereufemisme.
nyindir2 nggak jaman lagi.
opini, lirik lagu, etc semuanya to the point.

apalagi ditambah gunawan yg anti islam dan pro kesesatan membuat sy makin murka ke gunawan dan setiap bagian dari jasmani dan rohaninya.
alhamdulillah Allah tdk menjAdikan sy seperti gunawan. khawatir kita atau anggota keluarga kita akan sakratul maut dalam kondisi beragama pluralisme seperTi juga nurcholis majid. nauzubillahi mindzaalik.
TO THE POINT

60. ga ada apa2nya - Oktober 21, 2010

barangkali surga diperuntukan bagi orang2 yg masih berfikiran polos..

61. joel - Oktober 27, 2010

berdasar al Quran, yang tafsir mana ??
bekali-kali lik divan berdasar al quran dan sunnah. tafsir siapa ?

inilah hikmah kamis kelabu.

62. divan - November 1, 2010

Joel:

Saya sudah menyampaikan tafsir banyak ulama: Al Banna, Taqiyuddin an Nabhaniy, Dien Syamsuddin, Komunitas INSIST (Adhian Husaniny, Fahmy Hamid Zarkasyie), Abdullah bin Nuh, ulama internasional dsb… sekarang saya tanya bali Joel, tafsir mana yang kamu ingin sampaikan: kutip quran dan hadist dan significan dengan situasi saat ini mengenai ahmadiyah harus dibagaimanakan kemudian kita diskusikan.

Kebanyakannya orang bicara tentang tafsir yang mana, namun kebanyakannya hanya berlari. Coba paparkan pada saya penafsiranmu.

alam - Februari 10, 2011

Tinggalkan Balasan Cancel reply

You

63. alam - Februari 10, 2011

Al Quran das ding an sich (dalam dirinya) adalah kebenaran mutlak absolut tetapi ketika ada di tangan manusia dan telah masuk pd nalar manusia yg kita ketahiu bahwa manusia itu lemah dhaif tidak sempurna maka pengertiannya pada pada Al quran menjadi relatif,,,(tidak lagi mutlak absolu),,, jd manusia mn yg bs mengklaim bahwa penafsirannyalah yg paling benar? hanya Allah yg mutlak maka penafsiran yg absolut benar hanya dari firmannya sendiri (das ding an sich)

64. zul azmi sibuea - Februari 14, 2011

tuan-tuan Alam,Isoelaiman,Divan dll,
diskusi mengenai kebenaran tidak kan pernah ketemu bila masing-masing pihak berada pada worldview yang berbeda. diskusi ini seperti mewakili worldview,

POSMODERNISME v/s ISLAMIC SALAFI

satu hal yang perlu diingat adalah bahwa tuhannya posmo itu adalah relativitas, random. setiap kebenaran tidak pernah mutlak dan stabil karena harus diuji, refute (popper) sehingga tatanan sosialnya mengacu pada social darwinism (kelompok masyarakat yang kuat secara ekonomis akan menelan kelompok masyarakat miskin dan tak berdaya – jadi posmo itu asosial, atheis, liberal.
lihatlah gerakannya sangat terstruktur – misalnya, belum jelas apa yang terjadi di Cikeusik,belum tahu siapa aktornya – fpi langsung dibidik bubar.

65. Pilar - Maret 5, 2011

Setelah saya mengucapkan 2 kalimat syahadat, tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad rasul Allah…

maka Ahmadiyah, FPI, Muhammadiyah, NU, bahkan islam, kristen, jahudi, atheist dan lain-lain kelompok keyakinan atau grup religi…. tidak lagi berhak mengklaim mewakili kekuasaan Allah, tidak bisa lagi sebagai pengganti rasul dimuka bumi.
Mereka, kelompok2 agama itu sekedar bentuk lain dari partai politik….alat kekuasaan didunia.

Untuk berteman dengan Rajif Siddiq FPI, anda mungkin perlu ngaku Islam, untuk berteman dengan Steven Hawkin anda mungkin perlu ngaku atheist…
tapi untuk berteman dengan Allah swt…anda gak perlu ngaku-ngaku, gak perlu juga maksa orang ngaku.

66. kota salju - November 9, 2011

islam berada pada titik ekuilibrium (keseimbangan)

67. dewo - November 16, 2011

pantesan om.. temen2 saya pada berpaling alias berenti langganan majalah TEMPO…, ya maklum kalo gitu daripada dicekoki ahamadiyah mulu!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 351 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: