jump to navigation

Mesh Maret 7, 2011

Posted by anick in All Posts, Kapitalisme.
trackback

Kalau ada sumur di ladang


Boleh aku menumpang mandi

 

TIAP kali ke luar rumah, saya mengutuk. Atau mengeluh. Di dalam mobil.

Mobil, akhirnya, sebuah kontradiksi. Ia berasal dari kombinasi kata auto + mobile. Tapi ”auto” itu pelan-pelan hilang, karena akhirnya tak istimewa lagi ada kendaraan yang bisa bergerak sendiri. Kini kata ”mobile” yang ke depan—dengan arti ”gerak yang cepat dan mudah”. Tapi itu sebabnya saya mengutuk: berada di jalan-jalan Jakarta, mobil ternyata menentang maknanya sendiri.

Tak pelak lagi, benda ini telah berubah peran. Saya coba baca sejarahnya. Ia dimulai sebagai sesuatu yang eksklusif, salah satu bentuk ”kekayaan posisional” dalam pengertian Fred Hirsch. Tapi dengan segera tak demikian lagi. Sejak awal abad ke-20, di Prancis Panhard et Levassor sudah memproduksi mobil secara massal. Tahun 1893, Duryea Motor Wagon Company jadi perusahaan pembuat mobil pertama di Amerika, disusul oleh Cadillac dan Ford yang memproduksi ribuan mobil dengan cepat. Transformasi pun terjadi: kendaraan ini kini sebuah bentuk ”kekayaan demokratik”—yang diharapkan akan bisa dimiliki siapa saja. Contoh terakhir: mobil murah Tata Nano di India.

Semangat ”kesetaraan sosial” abad ke-20 punya dampak di sini: tiap orang punya hak sama untuk punya benda-benda yang dulu bukan dianggap bagian hidup kelas bawah.

Tapi tak cuma itu. Perluasan pasar kapitalisme tak putus-putusnya menebarkan impian baru. Masyarakat pun membiasakan hasrat untuk ”punya”. Berkecamuklah sikap yang ”dungu dan satu-sisi”, untuk meminjam kata-kata Marx: orang anggap sebuah barang hanya jadi bagian dari diri bila langsung dimiliki untuk jadi modal, atau langsung dimakan, diminum, dikenakan, dihuni. Sebuah sejarah yang muram sebenarnya: seluruh hasrat dan kapasitas manusia, kata Marx, digantikan oleh kesadaran akan ”punya”, der Sinn des Habens.

Mobil—yang di Jakarta lebih dari 80% milik pribadi—kian menunjukkan sejarah yang muram itu ketika ia jadi contoh gejala kongesti. Mobil saya terenyak di antara sekitar lima setengah juta kendaraan pribadi di Jakarta, yang jumlahnya bertambah rata-rata 9,5% per tahun, ketika panjang jalan hanya bertambah 0,1%.

Macet, kongesti, mandek. Tampaknya tak ada satu kekuasaan yang bisa menyetop kecenderungan itu. Negara bukan saja dikacau birokrasinya sendiri, tapi juga dilumpuhkan persekongkolan gelap yang membuat apa yang ”publik” dicincang-cincang kepentingan privat yang terpisah-pisah.

Pilihan yang ditawarkan pasar memang mampu membebaskan individu dalam mengambil keputusan. ”Sayangnya,” sebagaimana dikatakan Hirsch dalam The Social Limits to Growth, buku lama yang masih saya anggap penting, ”pembebasan individual tak membuat kesempatan-kesempatan itu akhirnya membebaskan semua individu bersama-sama.”

Demikianlah kita beli motor, mobil, sesuai dengan hak dan kemampuan kita. Tapi akhirnya kita tak jadi lebih bebas. Macet pada tiap kilometer, mustahil kita mencapai tujuan dengan waktu yang kita pilih.

Tapi sebenarnya saya capek mengeluh. Apa yang bisa dilakukan?

Mungkin kita perlu menghitung. Juga mengenang. Kita menghitung apa yang terbuang. Berapa jam dalam sehari sebenarnya kita perlu mobil di kota ini dalam keadaan normal? Kira-kira kurang dari 5 jam. Tapi kita ingin menguasai milik itu 24 jam. Berapa ruang yang diambil satu mobil di jalan dan di tempat parkir, sementara pengendaranya hanya dua manusia? Sekitar 12 meter persegi. Kepentingan privat yang terpisah-pisah akhirnya telah membuang begitu banyak dana, waktu, ruang bersama. Sebuah telaah memperkirakan, jika sampai tahun 2020 tak ada perbaikan dalam sistem transportasi di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, kerugian ekonomi akan mencapai Rp 65 triliun per tahun, termasuk kerugian nilai waktu perjalanan: Rp 37 triliun.

Maka kita perlu mengenang: bukan ke masa ketika mobil belum ditemukan, tapi ke masa ketika orang masih bisa berbagi. Saya teringat lagu itu: ”kalau ada sumur di ladang…”. Bukan saja sumur masih terletak di tempat terbuka, tapi juga orang masih bisa ”menumpang mandi”.

Yang tersirat dari pantun itu adalah sesuatu yang dulu lumrah tapi kini terasa luar biasa: jika sumur—atau mobil, atau kamar apartemen, atau rumah peristirahatan—hanya dipakai sesekali oleh yang punya, alangkah baiknya jika di saat sisanya orang lain juga bisa memakainya. Ini bukan cuma sebuah pesan moral. Ini pesan cara survival.

Di Jakarta, di mana ada orang bisa punya banyak mobil dan banyak tempat tinggal (yang tak mereka pakai), keserakahan dan kemubaziran pun bertaut. Kita bukan saja hidup dengan ketimpangan sosial. Kita juga makin membuang ruang untuk hal yang tak banyak digunakan—hingga kita tak punya taman, wilayah pohon-pohon, arena bertemu dan bermain.

Itu sebabnya gagasan yang dirintis di tahun 2005 oleh Rudyanto, seorang warga Lippo Village, Karawaci, Tangerang, dengan membuat komunitas online yang ia beri nama nebeng.com, bisa jadi model untuk membangun cara dan sikap hidup alternatif. Bergabung untuk nebeng satu mobil mungkin satu jalan kecil ke arah kebebasan dari sikap ”dungu dan satu-sisi”, dari cengkeraman der Sinn des Habens.

Lisa Gansky, penulis dan entrepreneur yang menunjukkan pentingnya sharing (bukan owning), akan menamai ide Rudyanto sebagai contoh ”mesh”: jalinan saling berbagi pelbagai hal, sebuah ekonomi yang dibangun oleh sikap yang tak biasa dianggap ”ekonomi”. Di situ berbagi tak berarti mengurangi kekayaan, tapi justru mengembalikan kekayaan: hidup di dunia yang lebih sehat dalam sikap saling mempercayai, sikap yang selama ini dilupakan.

Jika itulah yang akan saya dapatkan di Jakarta, saya pasti tak akan mengutuk lagi.

Majalah Tempo Edisi Senin, 07 Maret 2011

About these ads

Komentar»

1. penjernih air - Maret 8, 2011

Betul sekali pak..banyaknya mobil bikin macet di jalan dan saya sebagai penumpang kendaraan umum merasakan sekali bagaimana macetnya jakarta pada saat berangkat dan pulang kantor.

2. Kepompong Sutra - Maret 8, 2011

Terima kasih, Pak Goen. Membaca caping kali ini, membuat saya tersadar akan matematika berkehidupan (perhitungan ruang, waktu, dan bendawi). Di sana, segala sesuatu tak harus, tak mesti dijumlah, dikali, atau dikurangi. Namun, juga yang berbilangan besar perlu dibagi (kemudian menjadi berbagi atau shared). Sayang, kata ‘bagi’ kadang jadi tak mudah untuk yang kadung merasa memiliki.

3. Hari Prabowo - Maret 8, 2011

Weleh, yang pantes ngutuk + ngeluh pan yang ga punya mobil yo? Om GM aneh deh. Masalah kemacetan di Jakarta cuma kebetulan aja. Kebetulan pas Om GM berpikir untuk pake mobil ke luar, sekitar 5 juta orang Jakarta lainnya pun mikir hal yang sama. Coba kalow pikirannya dibalik, pasti antrian busway dan krl mbludak, bus kota penuh sesak, para tukang ojek dan supir taksi kipas-kipas. Atau mau coba budidaya sepeda?

4. Bayu Probo - Maret 10, 2011

yap benar, kita perlu belajar berbagi

5. Alief - Maret 14, 2011

Ya,..sekarang kayaknya sudah banyak kndaraan seperti mobil & motor.

6. daeng rompa - Maret 16, 2011

Keluhan tentang kemacetan dituangkan apik dalam tulisan menggugah ini.. Sepertinya kita memang harus menyempitkan ruang pribadi kita agar bisa lebih bebas.. Jalan kaki dan bersepeda bisa jadi solusi mungkin.

7. Zka June - Maret 19, 2011

Terimakasih untuk pelajarannya yang sangat berharga..

Semoga saya dan kita semua selalu dianugrahi rasa syukur dalam bentuk berbagi.. Amin..

8. Khairul aisyam - April 7, 2011

Pak Goenawan,

Saya dari penerbit Malaysia, mahu mengirimkan karya penyair dan pelukis Latiff Mohidin kepada Pak Goenawan seperti yang diamanahkan.

Justeru, saya mhon jasa baik Pak Goenawan untuk memberikan alamat/address agar mudah saya mengirimkan buku tersebut.

Sebuah blog juga sudah dibina untuk buku ini. Mudah-mudahan ada yang sudi berkunjung: http://catatan-latiffmohidin.blogspot.com/

Terima kasih.

9. goop - April 19, 2011

dalam setiap keluhan tersimpan harapan
mungkin ini yang mendasari tulisan kali ini
dan izinkan saya, menawarkan jok belakang motor saya untuk siapa saja yang mau nebeng :D

10. Jual Brankas - Lemari Besi - April 22, 2011

itulah fenomena politik pak Goen, kalau semuanya berpikir rasional dan tidak mementingkan kepentingan pribadi, transportasi umum yang baik bisa diciptakan. cuma ya itu, terlalu banyak kepentingan yang bermain. terkutuklah manusia yang bersenang-senang di atas penderitaan banyak orang.

11. kota salju - Agustus 2, 2011

hmmmmmmmmmmmmm, dengan mempersempit ruang pribadi kita, justru kita akan lebih bebas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 352 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: