Sensor Januari 28, 2008
Posted by anick in All Posts, Film, Kebebasan.30 comments
Kami, sejumlah juru sensor, duduk di ruangan gelap seperti seregu malaikat yang waswas.
Kami tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Tuhan, (meskipun kami tak tahu ke arah mana semestinya), dengan mata gundah: tidakkah Ia terlampau optimistis tentang manusia ketika Ia memutuskan untuk menciptakan makhluk yang merepotkan ini? Tidakkah Tuhan lalai menduga bahwa manusia akan menyebarkan kejorokan di muka bumi?
Kami, para juru sensor, sungguh khawatir. Memang Tuhan pernah mengatakan kekhawatiran itu tak berdasar. ”Aku tahu apa yang kalian tak tahu”, kata-Nya. Tapi kami tetap tak percaya manusia akan berfiil baik, berakhlak tinggi, dan berjiwa kuat. Bagi kami, manusia pasti akan mudah tergoda syahwat dan kemudian mencandu seks. Manusia, terutama yang muda-muda, pasti akan terhanyut tenggelam oleh arus hal ihwal yang erotis. Tentu, ini baru dugaan, tapi lebih baik kami siaga.
Sebab kami, para juru sensor, sebenarnya tak ikhlas ketika Tuhan memberi begitu besar kemerdekaan kepada Adam + Hawa beserta keturunannya. Kami mendengarkan baik-baik kata Allah, tapi kami tersenyum kecut ketika mendengar beberapa kalimat dalam Al-Baqarah bahwa Ia mengangkat manusia sebagai ”khalifah”-Nya di bumi.
Sebab, bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin makhluk yang lemah ini—yang kadang-kadang memandang dengan berahi sebuah foto Happy Salma atau berpikir cabul tentang Tom Cruise—bisa diandalkan sebagai wakil-Nya? Bagaimana mungkin kita harus merayakan kedaulatan manusia?
Hati kami menampik. Manusia tak bisa dipercaya. Tentu, kami, para juru sensor, para alim ulama dan pengkhotbah moral, juga manusia. Tapi rasanya kami lain: bahan kami mungkin lempung yang lebih unggul. Jangan-jangan malah kami diciptakan dengan campuran api. Kami memang oknum luar biasa. Buktinya: kami telah dipilih Pemerintah Republik Indonesia sebagai sekelompok kecil yang tentu tak akan tergoda bila menonton, misalnya, adegan malam pengantin baru dalam film Berbagi Suami.
Sebab kami tak sembarangan. Kami yakin bahwa orang yang bukan kami, mereka yang bukan juru sensor, akan rusak bila melihatnya. Kalau tidak rusak, pasti bingung, atau salah paham. Kasihan, ’kan? Karena orang-orang di luar gedung lembaga yang luhur ini belum sematang kami. Mereka belum terdidik. Mereka lemah iman, suka melamun, bolos ibadah, penuh dosa, dan, maaf, bodoh-bodoh. Mereka harus dilindungi.
Lagi pula mereka tak butuh kebebasan untuk memilih apa yang akan mereka tonton, tak perlu kemerdekaan untuk berpikir sendiri dan mengutarakan pendapat. Kebebasan itu kemewahan. Atau dikatakan secara lain: kemerdekaan itu harus ada batasnya.
Kami tahu, mereka tak tahu mana batasnya. Sebab itulah kami yang akan bikin rambu-rambu. Bagaimana cara kami membikin, dan apakah rambu-rambu itu adil dan dapat dipertanggungjawabkan—ah, sudahlah, tak perlu dibicarakan. Pokoknya, inilah tugas kami.
Ini tugas yang mulia, sebagaimana mutu diri kami yang mulia. Kami menjaga manusia Indonesia dari pelbagai bahaya yang mengancam mereka—dari bahaya masturbasi sampai dengan bahaya aborsi, dari bahaya film biru sampai dengan koran kuning. Bukankah ada seorang tua yang mengatakan, (dan seperti lazimnya orang tua, mengatakannya berkali-kali), kita sekarang sedang diserbu ”gerakan syahwat merdeka”?
Tentu, sinyalemen itu menggelikan. Sebab sebenarnya tak ada ”gerakan”, tak ada aktivitas yang terarah dan terorganisir. Yang terjadi adalah dinamika kapitalisme: ketika ekonomi pasar mulai bangkit, tampak celah-celah untuk memasarkan hal-hal yang terkait ”syahwat”. Tapi jika kata ”gerakan” dipakai, itu cuma bagian dari sebuah bualan—sebuah siasat retorika untuk membuat orang dag-dig-dug. Sedikit menyesatkan tak apa-apa, asal tujuan tercapai.
Namun ada ”gerakan” atau tidak, lebih baik kami mendahului: kami harus tegakkan benteng. Lebih baik kami awas, sejak awal.
Sebab manusia terlampau lembek. Harus kami katakan, Tuhan salah. Tuhan terlalu optimistis. Itu juga yang diutarakan Sang Pengusut Agung dalam satu bagian novel Dostoyewski yang termasyhur itu, Karamazov Bersaudara.
Dalam cerita ini, kardinal di Sevilla, Spanyol, yang berusia 90 tahun, dengan bengis dan yakin menangkap orang yang dituduh murtad, mengusut imannya sampai sejauh-jauhnya, dan membakarnya hidup-hidup. Tiap hari, api unggun tampak di mana-mana. Orang ketakutan, sampai akhirnya Yesus sendiri turun kembali ke bumi untuk membebaskan mereka.
Tapi sang Kardinal tak gentar. Ia juga tak menyesal. Malah ia berani bicara agresif kepada Tuhan: ”Apa yang Paduka telah tawarkan kepada manusia? Apa yang dapat Paduka tawarkan? Kebebasan? Manusia tak dapat menerimanya. Manusia butuh hukum-hukum, sebuah tata yang mapan yang terperi untuk seterusnya, yang akan menolongnya membedakan yang sejati dan yang palsu….”
Membangkangkah dia? Bukankah Sang Pengusut melakukan semuanya untuk menyelamatkan dunia? Jawabnya ”ya” dan ”tidak”.
Dalam Kitab Suci, ada cerita bahwa Iblis, yang merasa tak terbuat dari lempung, melainkan dari api, menampik untuk mengikuti Tuhan yang memberi kepercayaan kepada manusia. Dengan demikian bisa dikatakan, sang Pengusut Agung tak tampak berbeda dari Iblis. Tapi apa salahnya? Kami bukan Iblis, namun kami juga sepakat dengan sikapnya yang memandang manusia sebagai makhluk yang tak dapat diandalkan. Sebab itulah kami ada: manusia harus dijaga, dilindungi, diawasi, diatur, dikekang….
Dunia mencemaskan. Dunia dan manusia gampang berdosa dan najis. Mencatat semua itu memang bisa sama dengan meragukan, layakkah Tuhan diberi ucapan terima kasih dan kita bersyukur. Para juru sensor, yang duduk di ruangan gelap seperti seregu malaikat yang berwajah suram, tahu apa jawabnya.
~Majalah Tempo, Edisi. 49/XXXVI/28 Januari – 03 Februari 2008~
Bergman Agustus 6, 2007
Posted by anick in Agama, All Posts, Film, Tokoh, Tuhan.13 comments
Tuhan pernah jadi beban bagi Ingmar Bergman. Tapi kemudian beban itu lepas, bahkan jauh sebelum sutradara film ini meninggal dalam usia 89—dengan nama harum ke seluruh dunia—di Pulau Farö di Laut Baltik, 30 Juli yang lalu. ”Superstruktur keagamaan saya yang berat ke atas telah runtuh,” katanya pada suatu kali—dan ia merasa lega.
Tuhan pernah jadi beban bagi Bergman karena dalam hidupnya, Yang Maha Kuasa diwakili sosok angker seorang ayah. Ayah itu pendeta Lutheran Swedia yang keras, yang tak jarang mengurung Ingmar kecil di ruang gelap—seperti yang bertahun-tahun kemudian digambarkannya dalam tokoh Pendeta Edvard Vergerus, ayah tiri yang tanpa belas kasih itu, dalam film Fanny och Alexander (1983).
Film ini adalah kisah Alexander, bocah berumur 10 tahun. Ia anak yang peka rasa, agak pelamun, dan terbuka pada khayal yang hidup. Dibesarkan dalam keluarga Ekhdal yang longgar, sensual, gembira, dan artistik, ia kemudian masuk ke dunia Pendeta Vergerus, setelah rohaniwan Lutheran ini menikahi ibunya: sebuah dunia dengan iman yang teguh, puritan, represif, dan bengis.
Di sela-sela itu, Alexander menemukan dunia yang magis dan remang di antara boneka-boneka antik sebuah keluarga Yahudi. Satu dimensi lain pun muncul: dalam hidup ada sesuatu yang ajaib dan mempesona, sesuatu yang bukan duniawi, tapi jauh dari akidah agama.
Fanny och Alexander, yang mengandung anasir otobiografis yang tebal, praktis sebuah gugatan kepada ruang terkunci yang bernama ”akidah agama”. Masa kecil Bergman—seperti dalam kisah si Alexander—adalah tahun-tahun yang dirundung trauma dalam ruang terkunci itu. Salah satu perasaan yang paling menusuk, bagi Bergman, adalah perasaan direndahkan. Kini ia melihatnya sebagai salah satu sebab ia memandang muram ajaran agama. Ia ”menentang agama Kristen dengan sangat,” katanya dalam Bergman on Bergman, Interviews with Ingmar Bergman, ”karena agama ini dilekati motif penghinaan yang sangat ganas.” Bagi ajaran agama Kristen yang ia warisi, manusia adalah pendosa sejak lahir. Ia selalu berada dalam posisi untuk diawasi.
Memang agak aneh, Bergman tak melihat segi lain dari iman Kristen: adanya keyakinan akan Kasih dan Penebusan. Mungkin karena dalam hidup Bergman Tuhan hadir lebih sebagai tiran—dan teramat kuat pula pembangkangannya lantaran itu. Dalam The Magic Lantern, otobiografinya, ia mengatakan: ”Saya telah bergulat seumur hidup saya dengan sebuah hubungan yang menyakitkan dan tanpa suka cita dengan Tuhan”.
Hubungan yang menyakitkan itu pula yang agaknya mendasari film Der Sjunde Inseglet (versi Inggris, The Seventh Seal, 1957). Dalam film ini aktor Max von Sydow memainkan peran kesatria Antonius Block yang pulang dari Perang Salib, letih, murung, dan guncang iman. Diiringi pembantunya, Jöns, ia kembali ke negerinya yang dikerkah wabah. Di tengah jalan, Ajal menjemputnya. Block mencoba menawar dengan menantang bermain catur: jika ia kalah, ia bersedia dibawa Ajal pergi. Di sela-sela permainan itu, ia masuk ke sebuah gereja kecil. Ia pun mengutarakan kerisauan hatinya kepada seorang pastor—yang ternyata sang Maut sendiri.
Ajal: ”Apa yang kau tunggu?”
Block: ”Pengetahuan.”
Ajal: ”Kamu mau jaminan.”
Dengan kata lain, Block perlu kepastian—yang ia beri nama ”pengetahuan”—karena ia berpijak di sebuah dasar yang sudah guyah. ”Aku ingin Tuhan ulurkan tangan-Nya, tunjukkan paras-Nya, bicara padaku.”
Block memang di ambang murtad. Tapi siapa yang gandrung kepada ”pengetahuan” yang menjamin adanya Tuhan sebenarnya menanggungkan Tuhan sebagai obsesi. Tak mengherankan bila di depan seorang perempuan yang dihukum bakar karena dituduh jadi dukun penyebar sampar, Block hanya tertarik pada persoalan adakah pada saat kematiannya wanita itu melihat Tuhan. Sang kesatria tak tergerak membawakan air untuk si terhukum. Justru Jöns yang tak beriman yang punya belas.
Dengan kata lain, antara soal Tuhan dan manusia, mana yang lebih didahulukan? Di satu sisi, kita saksikan Block dengan obsesi mendapatkan jaminan tentang Tuhan. Di sisi lain, di bawah matahari yang cerah, kita lihat hidup sederhana dan bahagia keluarga Jof, si pemain akrobat, yang tak memerlukan itu.
”Saya selalu bersimpati kepada orang seperti Jöns dan Jof…,” kata Bergman. Sebaliknya, ia memandang obsesi Block sebagai fanatisme: orang yang pikirannya mengabaikan manusia di dekatnya.
Mungkin itu sebabnya, ketika membuat Vargtimmen (The Time of the Wolf, 1968) Bergman merasa menemukan makna kesucian yang lain: dalam manusia sendiri. ”Pengertian cinta,” katanya, ”adalah satu-satunya bentuk kesucian yang bisa kita pikirkan.”
Di sekitar masa itulah ia merasakan ”struktur keagamaan” dalam dirinya, yang ”berat ke atas”, telah digantikan dengan apresiasi kepada yang ada di ”bawah”: hidup di bumi yang fana dan penuh salah, tapi mengandung sesuatu yang suci dan mempesona.
Ia merasa lega. ”Ketika segi religius dari kehidupanku terhapus,” katanya, ”hidup terasa lebih mudah dijalani.”
Agaknya kesimpulan yang mirip bisa ditarik dari ”trilogi keimanannya”, Såsom I en Spegel (Through a Glass Darkly, 1961), Nattvardsgästerna (Winter Light, 1962), dan Tystnaden (The Silence, 1963).
Dalam Såsom I en Spegel, Karin yang menderita skizofrenia adalah fokus cinta yang tak mudah dari ayahnya, David. Tapi dengan itu David juga yang bisa mengatakan bahwa ”cinta ada di dunia nyata”. Dalam Nattvardsgästerna, Pastor Tomas Ericsson yang susut imannya akhirnya menjalankan ritual di gereja kosong itu untuk Marta, kekasihnya, yang konkret hadir di bangku sunyi itu.
Tanpa persentuhan hati semacam itu, kita akan hidup dalam keterpisahan, seperti kakak beradik Ester dan Anna yang menginap di sebuah kota asing dalam Tystnaden. Artinya, sekali kita memutuskan Tuhan tak menjawab lagi, neraka adalah orang lain yang tak peduli.
~Majalah Tempo, Edisi. 24/XXXIIIIII/06 – 12 Agustus 2007~
Babel Februari 19, 2007
Posted by anick in Agama, All Posts, Film, Identitas, Kisah, Tuhan.17 comments
Mereka tiba di tanah Sinear di sebelah timur. Mereka berniat menetap. Mereka berencana membangun ”kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit”. Mereka ingin ”cari nama”, agar tak ”terserak ke seluruh bumi”.
Tapi kisah Alkitab tentang Menara Babel ini berakhir muram. Tuhan murka. Tampaknya Ia melihat niat itu sebagai siasat manusia meraih kekuasaan adidaya. Tuhan pun turun ke Sinear. Ia buncang orang-orang itu ke pelbagai penjuru, dan Ia kacau-balaukan bahasa manusia hingga mereka tak saling mengerti lagi.
Kenapa itu yang dilakukan-Nya? Kenapa Ia gagalkan proyek menara itu, juga ide merumuskan satu identitas (”cari nama”) itu, dan ia ”serakkan” manusia ke seantero bumi? Kenapa tak dibiarkan-Nya mereka jadi ”satu bangsa dengan satu bahasa”?
Saya bukan penafsir Alkitab. Saya hanya mengulang pertanyaan yang tak kunjung selesai dijawab. Anda bisa katakan, tindakan Tuhan itu sebuah laku divide et impera yang purba, modus si kuasa menghadang lawan yang hendak menandinginya. Tuhan, dalam Kitab Perjanjian Lama (dan juga dalam sajak Amir Hamzah), memang disebut ”cemburu”.
Tapi Anda juga bisa katakan, yang terjadi hanyalah pengukuhan nasib manusia: terserak-serak, tanpa bahasa yang universal, tanpa makna yang dapat diterima jelas kapan saja dan di mana saja.
Anda juga bisa kemukakan, dari nasib itu bisa datang sebuah kearifan. ”Tiap peradaban dan tiap kebudayaan adalah sebuah Menara Babel,” kata Reinhold Niebuhr pada 1937. Ketika mengemukakan itu, theolog Protestan itu menyebut perlunya sikap rendah hati, juga dalam agama.
Agama yang sejati, katanya, selalu menyimpan rasa gundah (uneasiness). Orang tahu, Tuhan yang disembahnya melampaui takaran ”manusia yang terbatas”. Sementara itu manusia sendiri ”terus-menerus tergoda untuk lupa akan keterbatasan kebudayaan dan peradabannya”, dan mengira mampu menangkap kebenaran yang terpuncak. Di situlah kisah Menara Babel membantah: manusia memang piawai, tapi daif. Kita perlu hidup bersama orang lain dengan (istilah saya) sebuah ”etika kedaifan”.
Bahasa adalah paradigmanya. Bahasa bukanlah pucuk super-tinggi yang dapat menangkap seluruh ”kenyataan”. Di atas bumi, bahasa adalah percobaan terus-menerus dalam ruang & waktu untuk menerjemahkan dan diterjemahkan—sebuah proses yang selamanya dirundung frustrasi.
Ada satu ilustrasi yang tajam tentang frustrasi itu. Dalam film Babel karya sutradara Alejandro González Iñárritu, Chieko—si gadis bisu-tuli di Tokyo yang riuh—tersisih, ditolak, dan putus asa ketika ia hendak menjangkau orang lain dengan kata-kata yang bukan miliknya. Bahkan juga ketika ia mencoba memakai bahasanya sendiri: tubuhnya yang nyaris tak bersuara.
Diperankan dengan memukau oleh Rinko Kikuchi, Chieko mengungkap malangnya posisi manusia dalam ”penjara bahasa”, untuk memakai ungkapan Nietzsche: selalu ingin berkomunikasi, tapi terperangkap kurungan sempit.
Chieko, si gagu, yang juga terperangkap, harus mengguratkan huruf di selembar kertas bila ia bertanya-jawab. Ia menempuh proses terjemahan yang tak mudah—dan kita tahu terjemahan selalu tidak pas. Jika Chieko terus-menerus ditolak, baik dalam pertandingan voli maupun dalam hubungan seks, ia mengingatkan kita akan kondisi kita sendiri. Seperti tampak pada si bisu, komunikasi itu sesuatu yang mustahil, tapi niscaya, atau sebaliknya niscaya, tapi mustahil.
Juga di tengah derap dunia baru yang katanya ”tanpa perbatasan” kini….
Di sinilah Babel—dibuat pada 2006—sebuah bantahan. Ia meruntuhkan ilusi tentang sebuah ”dusun global”. Film ini memaparkan bagaimana manusia, dipertemukan di perbatasan, justru dihubungkan oleh salah paham yang kejam dan paranoia yang pekat. ”Dunia Ketiga” tampak sebagai teror kekal bagi ”Dunia Pertama”. Di tepi gurun, turis Amerika itu waswas bahkan terhadap es batu bikinan Maroko (”Kau tak tahu dari air apa itu dibuat,” katanya). Di bagian lain, seraya memasuki Kota Meksiko, si bocah Amerika dengan cemas berkata, ”Kata Mama, Meksiko itu berbahaya.”
Babel, sebuah portmanteau, memang serangkai cerita tentang kontak antarmanusia yang tak terelakkan tapi tak membuahkan pertemuan. Seorang anak gembala di bukit-bukit Maroko ingin menguji ampuhnya senapan yang baru dibeli bapaknya, dan seorang perempuan Amerika, seorang turis, luka parah karena tindakan yang tak sengaja itu. Pemerintah Amerika pun berteriak, ”Teroris!” dan seorang bocah ditembak mati. Sementara itu, Amelia, batur Meksiko yang bekerja di sebuah keluarga Amerika, membawa kedua anak majikannya ke kampung untuk ikut pesta pernikahan yang asyik. Tapi keasyikan dan hangatnya persaudaraan berakhir di tapal batas yang angkuh, di hadapan kekuasaan Negara yang brutal: gerbang imigrasi. Dari Tokyo, seorang turis Jepang penggemar berburu menghadiahkan senapannya ke seorang Maroko. Tapi tanda persahabatan itulah yang menghancurkan hidup sebuah keluarga miskin.
Manusia terserak, komunikasi retak.
Tapi tak selamanya jalan hanya buntu. Ada sebuah dialog pendek yang ditulis Kafka tentang Babel:
”Apa yang kau bangun?”
”Aku ingin buat lorong di bawah tanah. Harus ada kemajuan biarpun sedikit. Posku di atas sana terlampau tinggi.”
”Kami menggali liang Babel”.
”Liang”, bukan ”menara”: kiasan untuk sesuatu yang rapat ke bumi, seperti kubur, lorong yang akrab dengan mereka yang dicampakkan dan yang tak berdaya. Di sinilah—bukan di langit—komunikasi berlangsung sebagai empati, bahkan di antara sesama yang berbeda sejarah.
Dalam filmnya, Iñárritu menampakkan momen itu di se-buah rumah buruk di satu kota kecil Maroko. Perempuan Arab tua penghuni rumah itu membelai rambut si wanita Amerika yang luka dan terbujur ketakutan; ia merawatnya, ia menenangkannya, ia bisikkan Surah Alfatihah di dekat kupingnya. Meskipun wanita itu tak dikenalnya.
~Majalah Tempo, Edisi. 52/XXXV/19 – 25 Februari 2007~


