jump to navigation

Sepatu Tua Oktober 29, 2007

Posted by anick in Agama, All Posts, Kapitalisme, Tuhan.
10 comments
Victor yang baik,
Percik darah saya yang pertama
Di bumi ini tumpahnya

Rendra menulis Sajak-Sajak Sepatu Tua: jika ada hubungan yang intim dan mendasar antara seseorang dan sepetak tanah—dan hubungan itu tumbuh jadi puisi—kita menyaksikan sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh kapitalisme.

Kapitalisme akan mengubah petak tanah itu jadi ruang yang bisa dipertukarkan. Setelah itu, atau berbareng dengan itu, dikonsumsi. Konsumsi adalah laku menghabisi. Si petak tanah mengalami proses seperti nasi tumpeng: ia mempunyai sesuatu yang indah ditata dan diberi makna simbolik, tapi setelah itu akan berubah jadi santapan, benda yang siap dikunyah dan ditelan. Mengkonsumsi adalah membikin ludes.

Sepatu tua yang menemani kakiku bertahun-tahun, yang begitu kenal dengan raut telapak dan jariku, yang merupakan bagian pengalaman hidupku, oleh kapitalisme akan dianggap sebagai sesuatu yang mendekati habis. Kata ”tua” akan menjadi sama dengan ”bekas”: sepasang sepatu yang aus, perlu dibuang, dan harus diganti dengan yang baru.

Dalam arti tertentu, kapitalisme memisahkan hampir segala hal. Dengan memberi harga, kekuatan modal dan pasar bisa membelah sepetak tanah dan sepasang sepatu ke dalam nilai guna dan nilai tukar, memisahkan apresiasi dari konsumsi, memisahkan yang kreatif dari yang produktif, memisahkan penghayatan dari sukses—dan kemudian menindas yang disebut pertama. Sepatu itu tidak lagi bagian dari hidupku; ia dilepaskan dari sejarah tubuh dan kenanganku. Ia, sebagai bekas, akan jadi benda yang tak perlu disimpan. Ia hanya elemen dalam perputaran perdagangan, termasuk perdagangan di pasar loak.

Pemisahan seperti itu yang menyebabkan sebuah komoditi jadi semacam hewan korban. Dipisahkan dari statusnya sebagai sesuatu yang unik, yang singular, ia bisa dipertukarkan dengan sesuatu yang datang dari yang tak tampak. Dalam agama, ia disebut ”rahmat Tuhan”; dalam kapitalisme ia disebut ”harga” yang ditentukan oleh ”tangan yang tak terlihat”.

Maka ada benarnya ketika Walter Benjamin, dalam salah satu karyanya yang diterbitkan setelah ia meninggal, melihat kapitalisme sebagai agama. Yang dikatakan Agamben dalam Profanations (Zone Books, 2007) tentang perkara ini membuat saya memikirkan kembali satu segi agama dan kapitalisme yang dapat membuat mereka bergandengan—gejala yang kini tampak di mana-mana.

Agama, dalam arti yang dikenal di bahasa Barat, bukan berasal dari kata religare, sesuatu yang mengikat dan menyatukan yang insani dengan yang ilahi. Menurut Agamben, asal kata religio adalah relegere, yang mengacu kepada sikap penuh hati-hati dan cermat yang harus kita miliki ketika berhubungan dengan para dewa. Harus ada kekhusyukan yang waspada di depan bentuk dan formula, yang harus ditaati ketika kita memisahkan mana yang sakral dan mana yang profan. Religio bukan menyatukan manusia dan dewa, melainkan meneguhkan bahwa masing-masing terpisah jelas.

Sebab itu, kata Agamben, yang menentang agama bukanlah sikap tak beriman kepada yang ilahi, melainkan sikap abai, atau perilaku yang bebas dan tak terpaku oleh pemisahan itu. Melakukan sesuatu yang profan, kata Agamben, berarti membuka kemungkinan untuk sikap yang acuh tak acuh, atau lalai terhadap pemisahan antara yang sakral dan yang tidak.

Namun saya kira ada yang dilupakan Agamben: apa yang terjadi setelah pemisahan. Seperti saya sebut di atas tentang pemisahan yang terjadi oleh kapitalisme, ada penindasan yang satu oleh yang lain. Demikianlah nilai guna ditindas oleh nilai tukar, dorongan kreatif didesak oleh dorongan produktif, apresiasi atas satu barang ditenggelamkan oleh konsumsi yang membuat barang itu ludes dan terbuang.

Dalam agama, perpisahan antara yang insani dari yang ilahi akhirnya juga dicoba dilenyapkan ketika kehidupan yang profan dicengkeram oleh gairah untuk membuat semuanya jadi wilayah Tuhan, ketika ”kota manusia” hendak dilindas oleh ”kota Tuhan”.
Itu sebabnya para dewa atau Tuhan ”cemburu”, dalam pengertian Perjanjian Lama dan sajak Amir Hamzah, ketika manusia abai. Atau ketika ia lebih akrab dengan sebuah benda, atau sepetak tanah dan segala yang dianggap tak layak menyaingi-Nya. Seperti halnya kapitalisme tak akan dengan mudah membiarkan benda-benda tak dipertukarkan, bebas lepas dari harga, uang, dan proses komodifikasi.

Tapi akan menyerahkah manusia? Mungkin ya—tapi tak selamanya. Terutama jika ia menemukan cara membebaskan hal ihwal melalui apresiasi yang tanpa perhitungan—lewat permainan, misalnya, atau lewat puisi, dan keakraban dengan pengalaman yang datang dari hidup. Dengan kiasan Rendra, lewat sajak-sajak sepatu tua: sesuatu yang tak kekal, tetapi lebih berarti ketimbang mati, sesuatu yang tak berguna dan bisa dibuang, tetapi tak akan bisa dicampakkan. Sesuatu yang bisa bertahan dari keangkeran agama yang merengkuh ke mana-mana dan mampu mengelakkan desakan kekuatan yang disebut pasar yang menjerat apa saja. Suatu sikap abai, tapi bisa mengembalikan apa yang bermakna.

~Majalah Tempo Edisi. 36/XXXVI/29 Oktober - 04 November 2007~

Shanghai Maret 5, 2007

Posted by anick in All Posts, Identitas, Kapitalisme, Modernisme, Nasionalisme, Novel.
6 comments

Shanghai: sebuah kota yang dilecut. Gedung-gedung menyeruak ke langit seperti berlomba untuk dapat tempat, atau nama, atau masa depan. Arsitektur seakan-akan dipesan mendadak; deretan bangunan itu tampak tegang, riuh, tak jarang sumbang. Dari distrik Waitan (orang Inggris menyebutnya “The Bund”), dari boulevard sepanjang Sungai Huangpu,  orang akan terkejut, atau tertawa geli, melihat di seberang menara TV “Mutiara Timur” mencuat penuh ambisi hampir 500 meter — kaku, berpucuk runcing dan agresif, mirip jarum suntik yang dibikin besar untuk mencocok awan.

Modernitas selalu tergoda kecepatan, terbujuk hasrat menjulang dan dengan agresif menjangkau. Tapi tak berarti dengan langkah bergegas itu baru sekarang Shanghai masuk ke dalamnya. Riwayat kota dari abad ke-11 ini berbeda dari kota Asia yang lain. Setelah Perjanjian Nanking di tahun 1842, setelah Cina terdesak karena kalah dalam Perang Candu, negara (dan modal) Barat mendapatkan wilayah dan hak-hak khusus di kota itu. Mereka membawa yang baik dan yang buruk dari dalam yang “modern”, yang belum pernah ada sejak Dinasti Sung.

Asosiasi pialang saham terbentuk pada 1898. Pasar Modal Shanghai 1904. Kini bangunannya konon tiga kali lebih besar ketimbang Pasar Modal Tokyo, dan tak mengherankan bila ia bisa jadi episenter sebuah gempa kapitalisme: Selasa yang lalu Indeks Gabungan pasar modal kota itu turun hampir 9 persen, dan di seluruh dunia saham pun berjatuhan.

Shanghai sebuah kekuatan tersendiri tampaknya; ia sejarah blasteran besar. Sejak dulu orang hidup dengan “budaya Yangjingbang”, kata yang diambil dari nama kali yang kemudian diurug jadi jalan, tanda wilayah yang dikuasai orang asing. Dengan kata lain: di sini hidup manusia liplap. Tak urung, mereka yang membenci ketidak-murnian itu menyebut Shanghai “Cabo Asia”.

Tapi sifat itulah yang membentuk dinamika dan tragedinya.

Dalam novel Andre Malraux yang termashur itu, La Condition Humaine, (“Keadaan Manusia”, terbit 1933, dengan latarbelakang Shanghai tahun 1926), dinamika dan tragedi itu berpadu pada pembrontakan. Tokoh Tchen dan Kyo Gisors orang revolusioner (dengan kata lain: modern) yang hendak mengubah masyarakat Cina jadi adil, tapi gagal. Tchen, sang teroris, tewas ketika mencoba meledakkan bom bunuh diri; Gisors, si pemimpin pembrontak, tak hendak menyerah dan menelan racun.

Novel Malraux menampilkan Shanghai sebagai latar “manusia”. “Cina” adalah bagian dari yang humaine itu. Bersama Tchen dan Gisors, ada Baron De Clappique, seorang Prancis penjudi; May, isteri Kyo, seorang Jerman. Dengan kata lain, pembrontakan itu sebuah perlawanan “anak semua bangsa” yang tanpa tapal batas. Dengan kata lain, perlawanan itu tak mengindahkan wilayah manusia yang dipagari tapal batas secara palsu. Itu agaknya yang membuat novel Malraux klaustrofobik: hampir seluruh kejadian berlangsung di ruang-ruang tertutup. La Condition Humaine tak menggambarkan jalanan, sungai, taman, dan unsur lain lanskap kota Shanghai. Semua itu – yang seharusnya merupakan ruang bersama  – tak relevan karena tak lagi bisa buat bersama. 

Kini gambaran Malraux itu tentulah tak berlaku lagi, meskipun orang asing tetap terpisah: para “expat” tinggal di wilayah Hongqiao dan Gubei yang mahal, setelah orang Cina yang miskin digusur.  Shanghai 2007 tak akan berontak. Kota yang di tahun 1960-an menembakkan salvo pertama “Revolusi Kebudayaan” itu – yang mengganyang habis para penempuh “jalan kapitalis” — kini kembali memanggil modal dari mana saja. Menara IBM dan menara Passat tegak mencolok dan 25 lebih perusahaan multinasional buka cabang di Shanghai (hanya 11 di Beijing). Penduduk ramai-ramai berjudi di pasar modal yang mereka sebut du bo ji, mesin berselot penadah uang.

Setelah “Revolusi Kebudayaan” gagal, setelah Mao terpacak seperti dewa yang jauh, “budaya Yangjingbang” dilanjutkan “budaya Xingbake” – nama sebuah usaha kopi Shanghai yang meniru Starbuck. Tapi lebih dari di masa lalu, bahkan merk blasteran itu dikalahkan merk asli yang justru milik asing. Tahun lalu Hakim Lu di Paradilan Rakyat  menganggap pengusaha “Xingbake” menjiplak secara tak sah Starbuck. Orang lokal itu didenda 62 ribu dollar.

Kini “keadilan” memang tak selamanya menguntungkan yang lemah; “keadilan” tak selalu sama dengan “pemerataan”. Dan di situlah soalnya. Shanghai dilecut modernitas tapi dihantui sejarahnya, ketika “pemerataan” (semangat Revolusi Mao) identik dengan “keadilan”. Jika hal ini tak menimbulkan bentrokan besar, itu karena orang tak bebas berbicara dan berpolitik – seraya ingat betul sisi lain masa lalu: protes dan pergolakan bisa amat destruktif. 

Tapi dilema itu tetap: tiap pertumbuhan ekonomi yang pesat dibarengi ketimpangan sosial yang berat. Cina 2007 membantah kesimpulan Mahbub ul-Haq. Tiga dasawarsa yang lalu, pakar ekonomi itu mengatakan bahwa pembangunan sosialis Mao yang mendahulukan “pemerataan” lebih bisa membuat perekonomian tumbuh ketimbang cara India yang “borjuis”.  Kini ceritanya terbalik. Perekonomian Cina tumbuh spektakuler sampai 9%, ketika, seperti ditunjukkan laporan Akademi Ilmu-Ilmu Sosial, 10% keluarga terkaya memiliki lebih dari 40% asset swasta, sedang 10% yang termiskin hanya menikmati kurang dari 2% kekayaan total.  Menurut Bank Dunia, koefisien Gini di Cina tahun 2005 – yang mengukur jarak antara si kaya dan si miskin – lebih tinggi ketimbang India.  Juga ketimbang Indonesia.

Mungkin inilah la condition humaine kini: di dunia yang tak mau melarat lagi, orang harus menjawab pertanyaan sulit “neo-liberalisme”: bagaimana “pemerataan” dicapai tanpa intervensi Negara? Tapi bagaimana intervensi Negara tak menimbulkan korupsi dan kesewenang-wenangan? 

Di episenter gempa kapitalisme,  di mana pertanyaan itu belum terjawab, saya bayangkan sebuah kawah. Di dalamnya bergolak magma kegelisahan yang entah akan jadi apa.

~Majalah Tempo Edisi. 02/XXXIIIIII/05 - 11 Maret 2007~

Rosa Desember 11, 2006

Posted by anick in Agama, All Posts, Kapitalisme, Marxisme, Perempuan, Sosialisme, Tokoh, Tuhan.
6 comments

Saya ingin bercerita tentang harapan yang tak selamanya berkaitan dengan Tuhan, meskipun ini bulan Desember. Juga tak ada hubungannya dengan kabar baik yang ditawarkan katedral baru kapitalisme, di mana lagu Malam Sunyi disebar di ruang terang-benderang bukan untuk menyambut sunyi—ruang-ruang Pondok Indah Mall, Senayan City, dan entah apa lagi.

Saya ingin bercerita tentang harapan justru dari sebuah sel gelap yang menyekap seorang yang menolak kapitalisme dan menampik Tuhan. Ia Rosa Luxemburg, tokoh besar dalam sejarah sosialisme Eropa yang akhirnya mati dibunuh.

Syahdan, pada bulan Desember 1917, Rosa menulis sepucuk surat dari Penjara Breslau. Perempuan ini disekap pemerintah Jerman karena ia, seorang warga negeri baru, dengan berani dan berapi-api menentang perang yang tengah berlangsung dengan gegap-gempita genderang patriotisme.

Tahun-tahun itu banyak hal terjadi: revolusi, aksi massa buruh, perpecahan kaum sosialis, nasionalisme yang berkibar-kibar, dan ketegangan politik Eropa dalam perang. Rosa Luxemburg disekap—setahun kemudian ia dibunuh—tapi aneh, sepucuk surat itu tak membahas hal-hal besar itu.

”Di sinilah aku terbaring,” tulisnya, ”dalam sebuah sel gelap di atas lapik yang keras seperti batu; gedung ini sesunyi sebuah pelataran gereja, begitu rupa hingga orang sama saja dengan dikuburkan.”

Seraya rebah itu ia melihat seberkas kecil cahaya jatuh lewat jendela ke atas dipan, cahaya dari lampu yang menyala sepanjang malam di depan penjara. Sekali-sekali didengarnya lamat-lamat suara gaduh kereta yang lewat atau, tak jauh dari tempat tidurnya, suara batuk kering penjaga bui yang dengan sepatu larsnya yang berat jalan-jalan sejenak untuk meluruskan kaki. Tapi dalam keadaan bosan, tak bebas, dan kedinginan itu ada perasaan ganjil:

”…jantungku berdetak dengan rasa riang yang tak terukur dan tak dapat dimengerti, seakan-akan aku tengah memasuki cahaya matahari yang cemerlang yang melintasi ladang bunga. Dan di dalam gelap aku tersenyum kepada hidup, seakan-akan akulah pemilik tuah yang memungkinkan aku mengubah semua yang keji dan tragis ke dalam ketenteraman dan bahagia”.

Kenapa? Kenapa ia bisa tersenyum kepada hidup justru dalam sel yang dijaga itu? Ia mencoba mencari jawab dan merenungkannya, tapi inilah kesimpulannya: ”Aku tak menemukan sebab apa pun, dan hanya dapat menertawakan diriku sendiri.” Entah kenapa ia percaya, seperti dikatakannya kemudian, bahwa kunci pembuka teka-teki ini ”semata-mata hidup itu sendiri”. Ditulisnya pula:

”…malam yang gelap pekat ini lembut dan cantik seperti beledu, jika saja kita memandangnya secara demikian. Geretau kerikil lembab yang terinjak oleh langkah pelan dan berat si penjaga bui juga seperti sebuah nyanyi kecil yang manis kepada hidup – bagi ia yang bertelinga untuk mendengar”.

Rosa Luxemburg tersenyum dalam gelap, riang dalam kungkungan, mendengarkan ”nyanyi kecil yang manis” biarpun dari suara langkah penjaga yang bersenjata. Dan ia tak tahu persis kenapa. Sebagaimana kita tak tahu adakah itulah saat waham datang, kita juga tidak tahu pasti apa maksudnya dengan ”hidup itu sendiri” yang ia sebut sebagai kunci pembuka teka-teki tentang perasaan itu.

Atau barangkali kita harus mencari jawabnya di tempat lain? Kita ingat pandangan hidupnya yang terbentuk oleh Marxisme. Kita ingat bahwa Marxisme memang sebuah paham yang yakin akan kemenangannya sendiri. Marxisme adalah ”ilmiah”, kata orang-orang sosialis pada zaman itu, dan ”ilmiah” berarti mempunyai kesahihan. Maka jika Marx meramalkan kelak kaum proletariat akan dibebaskan dan membebaskan, keadaan itu pasti akan terjadi. Seorang Marxis juga seorang yang yakin akan dialektika: hidup berubah, tesis akan mendapatkan anti-tesisnya, dan akan tercapai, melalui tempuk-junjung (Aufhebung), sebuah sintesis.

Rosa Luxemburg tentu belum tahu waktu itu, meskipun sudah ada yang tahu, bahwa yang diramalkan Marx tak terbukti. Itu akan terjadi 70 tahun kemudian. Ia bahkan tak tahu bahwa setahun setelah Penjara Breslau itu ia sendiri akan dibunuh oleh kaum kanan, dan gerakan sosialisme Jerman terpukul.

Bagaimanapun Rosa Luxemburg dapat dikatakan telah mencapai sesuatu yang kini mustahil kita capai, yakni harapan yang terbit karena ada kepastian dalam arah sejarah. Mungkin itu sebabnya dalam sel gelap itu ia masih mampu seakan-akan memasuki ladang kembang di bawah matahari: baginya, ia mati atau ia hidup terus, ia keluar dari sel itu atau tidak, sosialisme pasti menang.

Tapi jangan-jangan ada yang lebih kuat selain penjelasan yang bertolak dari Marxisme. Jangan-jangan, seperti John Lennon yang juga mati dibunuh, Rosa tak percaya kepada mati. Mati, bagi Lennon, hanyalah seakan-akan pindah dari mobil yang satu ke mobil lain.

Jika demikian, seseorang bisa punya kabar baik yang tak hanya berupa Natal dan iklan-iklan. ”Riwayatnya, hidupnya, karyanya, surat-suratnya, semua mengukuhkan kehidupan dan bukannya ajal,” tulis Simone Weil, pemikir Prancis perempuan itu, tentang Rosa Luxemburg. ”Tapi dengan demikian Rosa berharap ke arah aksi dan tak ke arah pengorbanan.” Dalam arti itu, kata Weil pula, tak ada yang bersifat Kristen dalam watak Rosa.

Tak ada sifat Kristen, bahkan tak ada iman. Tapi ternyata dalam posisi itu seseorang bisa menunjukkan bahwa syukur dan sabar bisa datang dalam sunyi yang mendengarkan ”nyanyi kecil yang manis kepada hidup”.

~Majalah Tempo, Edisi. 42/XXXV/11 - 17 Desember 2006~