Fitna April 7, 2008
Posted by anick in Agama, All Posts, Film, Fundamentalisme, Islam, Kebebasan.39 comments
Kita hidup di sebuah zaman ketika benci bisa jadi advertensi. Jika tuan teriakkan rasa muak, geram, dan tak sabar tuan kepada sekelompok manusia—dengan teriakan yang cukup keras—tuan akan menarik perhatian orang ramai. Tuan bahkan akan dapat dukungan.
Geert Wilders tahu betul hal itu.
Dalam umur 44, politikus Belanda ini adalah sosok yang cocok bagi zaman yang celaka sekarang. Tiap kali ia mencaci maki orang imigran—para ”non-pribumi” muslim yang hidup di Negeri Belanda—ia dengan segera tampak mumbul seperti balon jingga di langit Den Haag.
Dalam sebuah wawancara dengan harian De Pers pertengahan Februari 2007, inilah yang dikatakannya: ”Jika orang muslim ingin hidup di Negeri Belanda, mereka harus menyobek dan membuang setengah dari isi Quran.” Katanya pula: ”Jika Muhammad hidup di sini sekarang, saya akan usul agar dia diolesi ter dan ditempeli bulu ayam sebagai ekstremis, lalu diusir….”
Syahdan, 15 Desember 2007, radio NOS pun mengangkat Wilders sebagai ”politician of the year”. Para wartawan surat kabar yang meliput parlemen memuji kemampuannya mendominasi diskusi politik dan memperoleh publisitas, berkat ucapan-ucapan ringkasnya yang pas waktu. Ucapan dengan abab yang panas dan bau tentu.
Demikianlah Wilders jadi tokoh publik yang mendapat tepuk tangan karena benci memperoleh tempat yang strategis. Pada awal November 2004, sutradara film Theo van Gogh digorok dan ditikam di sebuah jalan di Amsterdam oleh seorang pemuda Islam, Mohammad Bouyeri, yang menganggap korbannya layak dibinasakan. Van Gogh, seperti Wilders, adalah penyebar kebencian yang dibalas dengan kebencian. Tak ayal, dukungan melimpah ke partai yang dipimpin Wilders. Sebuah jajak pendapat mengindikasikan bahwa partai itu, PVV, bisa memperoleh 29 dari 150 kursi di parlemen seandainya pemilihan umum berlangsung setelah pembunuhan yang mengerikan itu.
Kini bisa diperkirakan film Fitna yang dibuatnya akan membuat Wilders lebih berkibar-kibar—terutama jika benci yang ditiup-tiupkannya disambut, jika orang-orang Islam meledak, mengancam, atau berusaha membunuhnya. Wilders bahkan memperoleh sesuatu yang lebih: bila kekerasanlah yang terjadi, Fitna, yang ingin menunjukkan betapa brutalnya ajaran Islam, akan dikukuhkan.
Saya menonton film ini di Internet. Saya tak menikmatinya. Isinya repetitif. Apa maunya sudah dapat pula diperkirakan. Dimulai dengan karikatur terkenal dari Denmark, karya Kurt Westergaard itu—gambar seorang berpipi tambun dengan bom di kepala sebagai sorban hitam, yang dikesankan sebagai ”potret” Nabi Muhammad—film ini adalah kombinasi antara petilan teks Quran dalam terjemahan Inggris, suara qari yang fasih membacakan ayat yang dimaksud, dan klip video tentang kekerasan atau kata-kata benci yang berkobar-kobar.
Ayat 60 dari Surat Al-Anfal yang ditampilkan pada awal Fitna, misalnya—perintah Allah agar umat Islam menghimpun kekuatan dan mendatangkan rasa takut ke hati musuh—diikuti oleh potongan film dokumenter ketika pesawat terbang itu ditabrakkan ke World Trade Center New York, 11 September 2001. Kemudian tampak pengeboman di kereta api di Madrid. Setelah itu: seorang imam yang tak disebutkan namanya bangkit dari asap, menyatakan: ”Allah berbahagia bila orang yang bukan-muslim terbunuh”.
Pendek kata, dalam Fitna, Quran adalah buku yang mengajarkan khotbah kebencian yang memekik-mekik dan tindak biadab yang berdarah. Wilders sebenarnya hanya mengulang pendapatnya. Pada 8 Agustus 2007, ia menulis untuk harian De Volkskrant: Quran, baginya, adalah ”buku fasis” yang harus dilarang beredar di Negeri Belanda, seperti halnya Mein Kampf Hitler. ”Buku itu merangsang kebencian dan pembunuhan.”
Salahkah Wilders? Tentu. Penulis resensi dalam Het Parool konon menyatakan, setelah membandingkan film itu dengan Quran secara keseluruhan, ”Saya lebih suka bukunya.” Sang penulis resensi, seperti kita, dengan segera tahu, Wilders hanya memilih ayat-ayat Quran yang cocok untuk proyek kebenciannya. Semua orang tahu, Quran tak hanya deretan pendek petilan itu. Dan tentu saja tiap petilan punya konteks sejarahnya sendiri.
Tapi Wilders tak hanya sesat di situ. Ia juga salah di tempat yang lebih dasar: ia berasumsi bahwa ayat-ayat itulah yang memproduksi benci, amarah, dan darah. Ia tak melihat kemungkinan bahwa Al-Qaidah yang ganas, Taliban yang geram, imam-imam dengan mulut yang penuh api—mereka itulah yang mengkonstruksikan Quran hingga jadi sehimpun kata yang berbisa. Ajaran tak selamanya membentuk perilaku; perilaku justru yang tak jarang membentuk ajaran.
Tapi dalam hal itu Wilders tak sendiri. Kaum ”Islamis” juga yakin, ajaranlah yang mampu membentuk manusia. Dan seperti Wilders, mereka juga memilih ayat-ayat yang cocok untuk agenda kebencian mereka. Dan seperti Wilders, mereka tak mengacuhkan konteks sejarah ketika sebuah ayat lahir.
Benci memang bersifat substraktif. Benci membuat pelbagai hal jadi ringkas—dan membuat sang pembenci tegas, jelas, menonjol. Benci adalah advertensi Wilders dan iklan para imam dengan demagogi ”Islam”.
Itulah sebabnya Wilders salah tapi dibenarkan. Ia salah, bila ia hendak menunjukkan hubungan antara Surat Al-Anfal ayat 39 dan pemenggalan leher wartawan Eugene Armstrong menjelang akhir film. Tapi bukankah para algojo itu melakukannya karena merasa mengikuti firman Tuhan?
Apa mau dikata: inilah zaman ketika firman berkelindan dengan fitnah, ketika yang sakral bertaut dengan yang brutal. Kita hidup pada masa ketika Jonathan Swift, satiris penulis Gulliver’s Travels dari abad ke-17 itu, terdengar kembali arif dan sekaligus menusuk: ”Kita punya agama yang cukup untuk membuat kita membenci, tapi tak cukup untuk membuat kita mencintai….”
~Majalah Tempo Edisi. 37/VII/07 - 13 April 2008~
Fouda Maret 3, 2008
Posted by anick in Agama, All Posts, Buku, Elegi, Fundamentalisme, Islam, Kebebasan, Kekerasan, Kisah, Tokoh, Tuhan.44 comments
Pada tanggal 8 Juni 1992, mereka bunuh Farag Fouda di Madinat al-Nasr, Kairo. Dua orang bertopeng menyerangnya. Fouda tewas tertembak, anaknya luka-luka parah. Kelompok Jamaah Islamiyah mengatakan: “Ya, kami membunuhnya.”
Bagi kelompok itu, tak ada dosa bila Fouda dibinasakan. Bukankah lima hari sebelum itu sekelompok ulama dari Universitas al-Azhar memaklumkan bahwa cendekiawan ini telah menghujat agama, dan sebab itu boleh dibunuh? Seorang ulama, Muhammad al-Ghazali, membela para algojo: tindakan mereka adalah pelaksanaan hukuman yang tepat bagi seorang yang murtad.
Tapi tak seorang pun tahu sebenarnya, benarkah Fouda, yang tewas pada umur 46, orang yang murtad. Terutama jika kita baca buku yang baru-baru ini diterbitkan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama, Kebenaran Yang Hilang, yang juga memuat kata pengantar Samsu Rizal Panggabean.
Lima bulan sebelum ia dibunuh, Fouda ikut dalam perdebatan di Pameran Buku Kairo. Dalam acara yang konon diikuti 30.000 orang itu ia menghadapi ulama macam Muhammad al-Ghazali. Perdebatan berkisar pada masalah hubungan antara agama dan politik, negara dan agama, penerapan syariat Islam dan lembaga khilafah.
Pendirian Fouda dikemukakan dengan gamblang dalam serangkaian bab al-Haqiah al-Ghaybah-nya yang diterjemahkan oleh Novriantoni. Ia memang bisa mengguncang sendi-sendi pemikiran kaum “Islamis”: mereka yang ingin menegakkan “negara Islam” berdasarkan ingatan tentang dunia Arab di abad ke-7 ketika para sahabat Nabi memimpin umat.
Bila kaum “Islamis” menggambarkan periode salaf itu sebagai zaman keemasan yang patut dirindukan, Fouda tidak. Baginya, sebagaimana ditulis Samsu Rizal Panggabean, periode itu “zaman biasa”.
Bahkan sebenarnya “tidak banyak yang gemilang dari masa itu”, demikian kesimpulan Samsu Rizal Panggabean. “Malah, ada banyak jejak memalukan.”
Contoh yang paling tajam yang dikemukakan Fouda ialah saat kejatuhan Usman bin Affan, khalifah ke-3. Sahabat Rasul yang diangkat ke kedudukan pemimpin umat pada tahun 644 itu–melalui sebuah musyawarah terbatas antara lima orang–berakhir kekuasaannya 12 tahun kemudian. Ia dibunuh. Para pembunuhnya bukan orang Majusi, bukan pula orang yang murtad, tapi orang Islam sendiri yang bersepakat memberontak.
Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari, jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan”. Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang bersembahyang untuknya. Siapa saja dilarang menyalatinya. Jasad orang tua berumur 83 itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3 itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi.
Tak diketahui dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi kepada seseorang yang oleh Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Fouda mengutip kitab al-Tabaqãt al-Kubrã karya sejarah Ibnu Sa’ad, yang menyebutkan satu data yang menarik: khalif itu agaknya bukan seorang yang bebas dari keserakahan. Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat 30.500.000 dirham dan 100.000 dinar.
Kaum “Islamis” tak pernah menyebut peristiwa penting itu, tentu. Dan tentu saja mereka tak hendak mengakui bahwa tindakan berdarah terhadap Usman itu menunjukkan ada yang kurang dalam hukum Islam: tak ada pegangan yang mengatur cara mencegah seorang pemimpin agar tak menyeleweng dan bagaimana pergantian kekuasaan dilakukan.
Ketika Usman tak hendak turun dari takhta (ia mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan melepas baju yang telah disematkan Allah kepadaku!”), orang-orang Islam di bawahnya pun menemui jalan buntu. Sebagaimana disebut dalam Kebenaran Yang Hilang, para pemuka Islam waktu itu mencari-cari contoh dari masa lalu bagaimana memecahkan soal suksesi. Mereka gagal. “Mereka juga mencari kaidah dalam Islam…tapi mereka tak menemukannya,” tulis Fouda. Maka perkara jadi runcing dan mereka mengepung Usman–lalu membunuhnya, lalu menistanya.
Tampak, ada dinamika lain yang mungkin tak pernah diperkirakan ketika Islam bertaut dengan kekuasaan. Dinamika itu mencari jalan dalam kegelapan tapi dengan rasa cemas yang sangat. Orang memakai dalih agama untuk mempertahankan takhta atau untuk menjatuhkan si penguasa, tapi sebenarnya mereka tahu: tak ada jalan yang jelas, apalagi suci. Di satu pihak, mereka harus yakin, tapi di lain pihak, mereka tahu mereka buta.
Itu sebabnya laku mereka begitu absolut dan begitu bengis. Pada tahun 661, setelah lima tahun memimpin, Ali dibunuh dengan pedang beracun oleh seorang pengikutnya yang kecewa, Ibnu Muljam. Khalifah ke-4 itu wafat setelah dua hari kesakitan. Pembunuhnya ditangkap. Sebagai hukuman, tangan dan kaki orang ini dipenggal, matanya dicungkil, dan lidahnya dipotong. Mayatnya dibakar.
Ketika pada abad ke-8 khilafah jatuh ke tangan wangsa Abbasiyah, yang pertama kali muncul al-Saffah, “Si Jagal”. Di mimbar ia mengaum, “Allah telah mengembalikan hak kami.” Tapi tentu saja ia tahu Tuhan tak pernah menghampirinya. Maka ia ingin tak ada lubang dalam keyakinannya sendiri (juga keyakinan orang lain) tentang kebenaran kekuasaannya. Al-Saffah pun mendekritkan: para petugas harus memburu lawan politik sang khalif sampai ke kuburan.
Makam pun dibongkar. Ketika ditemukan satu jenazah yang agak utuh, mayat itu pun didera, disalib, dibakar. Musuh yang telah mati masih terasa belum mutlak mati. Musuh yang hidup, apa lagi….
Itu sebabnya, bahkan sekian abad setelah “Si Jagal”, orang macam Fouda harus dibunuh. Ia mempersoalkan keabsahan posisi khilafah. Ia pengganggu kemutlakan. Tapi itu terjadi di Mesir lebih dari 10 tahun yang silam–bukan di Indonesia. Mungkin ini ciri Islam yang mengagumkan di sini: justru Departemen Agama-lah yang menerbitkan Kebenaran Yang Hilang.
~Majalah Tempo Edisi. 03 - 09 Maret 2008~
Sensor Januari 28, 2008
Posted by anick in All Posts, Film, Kebebasan.28 comments
Kami, sejumlah juru sensor, duduk di ruangan gelap seperti seregu malaikat yang waswas.
Kami tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Tuhan, (meskipun kami tak tahu ke arah mana semestinya), dengan mata gundah: tidakkah Ia terlampau optimistis tentang manusia ketika Ia memutuskan untuk menciptakan makhluk yang merepotkan ini? Tidakkah Tuhan lalai menduga bahwa manusia akan menyebarkan kejorokan di muka bumi?
Kami, para juru sensor, sungguh khawatir. Memang Tuhan pernah mengatakan kekhawatiran itu tak berdasar. ”Aku tahu apa yang kalian tak tahu”, kata-Nya. Tapi kami tetap tak percaya manusia akan berfiil baik, berakhlak tinggi, dan berjiwa kuat. Bagi kami, manusia pasti akan mudah tergoda syahwat dan kemudian mencandu seks. Manusia, terutama yang muda-muda, pasti akan terhanyut tenggelam oleh arus hal ihwal yang erotis. Tentu, ini baru dugaan, tapi lebih baik kami siaga.
Sebab kami, para juru sensor, sebenarnya tak ikhlas ketika Tuhan memberi begitu besar kemerdekaan kepada Adam + Hawa beserta keturunannya. Kami mendengarkan baik-baik kata Allah, tapi kami tersenyum kecut ketika mendengar beberapa kalimat dalam Al-Baqarah bahwa Ia mengangkat manusia sebagai ”khalifah”-Nya di bumi.
Sebab, bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin makhluk yang lemah ini—yang kadang-kadang memandang dengan berahi sebuah foto Happy Salma atau berpikir cabul tentang Tom Cruise—bisa diandalkan sebagai wakil-Nya? Bagaimana mungkin kita harus merayakan kedaulatan manusia?
Hati kami menampik. Manusia tak bisa dipercaya. Tentu, kami, para juru sensor, para alim ulama dan pengkhotbah moral, juga manusia. Tapi rasanya kami lain: bahan kami mungkin lempung yang lebih unggul. Jangan-jangan malah kami diciptakan dengan campuran api. Kami memang oknum luar biasa. Buktinya: kami telah dipilih Pemerintah Republik Indonesia sebagai sekelompok kecil yang tentu tak akan tergoda bila menonton, misalnya, adegan malam pengantin baru dalam film Berbagi Suami.
Sebab kami tak sembarangan. Kami yakin bahwa orang yang bukan kami, mereka yang bukan juru sensor, akan rusak bila melihatnya. Kalau tidak rusak, pasti bingung, atau salah paham. Kasihan, ’kan? Karena orang-orang di luar gedung lembaga yang luhur ini belum sematang kami. Mereka belum terdidik. Mereka lemah iman, suka melamun, bolos ibadah, penuh dosa, dan, maaf, bodoh-bodoh. Mereka harus dilindungi.
Lagi pula mereka tak butuh kebebasan untuk memilih apa yang akan mereka tonton, tak perlu kemerdekaan untuk berpikir sendiri dan mengutarakan pendapat. Kebebasan itu kemewahan. Atau dikatakan secara lain: kemerdekaan itu harus ada batasnya.
Kami tahu, mereka tak tahu mana batasnya. Sebab itulah kami yang akan bikin rambu-rambu. Bagaimana cara kami membikin, dan apakah rambu-rambu itu adil dan dapat dipertanggungjawabkan—ah, sudahlah, tak perlu dibicarakan. Pokoknya, inilah tugas kami.
Ini tugas yang mulia, sebagaimana mutu diri kami yang mulia. Kami menjaga manusia Indonesia dari pelbagai bahaya yang mengancam mereka—dari bahaya masturbasi sampai dengan bahaya aborsi, dari bahaya film biru sampai dengan koran kuning. Bukankah ada seorang tua yang mengatakan, (dan seperti lazimnya orang tua, mengatakannya berkali-kali), kita sekarang sedang diserbu ”gerakan syahwat merdeka”?
Tentu, sinyalemen itu menggelikan. Sebab sebenarnya tak ada ”gerakan”, tak ada aktivitas yang terarah dan terorganisir. Yang terjadi adalah dinamika kapitalisme: ketika ekonomi pasar mulai bangkit, tampak celah-celah untuk memasarkan hal-hal yang terkait ”syahwat”. Tapi jika kata ”gerakan” dipakai, itu cuma bagian dari sebuah bualan—sebuah siasat retorika untuk membuat orang dag-dig-dug. Sedikit menyesatkan tak apa-apa, asal tujuan tercapai.
Namun ada ”gerakan” atau tidak, lebih baik kami mendahului: kami harus tegakkan benteng. Lebih baik kami awas, sejak awal.
Sebab manusia terlampau lembek. Harus kami katakan, Tuhan salah. Tuhan terlalu optimistis. Itu juga yang diutarakan Sang Pengusut Agung dalam satu bagian novel Dostoyewski yang termasyhur itu, Karamazov Bersaudara.
Dalam cerita ini, kardinal di Sevilla, Spanyol, yang berusia 90 tahun, dengan bengis dan yakin menangkap orang yang dituduh murtad, mengusut imannya sampai sejauh-jauhnya, dan membakarnya hidup-hidup. Tiap hari, api unggun tampak di mana-mana. Orang ketakutan, sampai akhirnya Yesus sendiri turun kembali ke bumi untuk membebaskan mereka.
Tapi sang Kardinal tak gentar. Ia juga tak menyesal. Malah ia berani bicara agresif kepada Tuhan: ”Apa yang Paduka telah tawarkan kepada manusia? Apa yang dapat Paduka tawarkan? Kebebasan? Manusia tak dapat menerimanya. Manusia butuh hukum-hukum, sebuah tata yang mapan yang terperi untuk seterusnya, yang akan menolongnya membedakan yang sejati dan yang palsu….”
Membangkangkah dia? Bukankah Sang Pengusut melakukan semuanya untuk menyelamatkan dunia? Jawabnya ”ya” dan ”tidak”.
Dalam Kitab Suci, ada cerita bahwa Iblis, yang merasa tak terbuat dari lempung, melainkan dari api, menampik untuk mengikuti Tuhan yang memberi kepercayaan kepada manusia. Dengan demikian bisa dikatakan, sang Pengusut Agung tak tampak berbeda dari Iblis. Tapi apa salahnya? Kami bukan Iblis, namun kami juga sepakat dengan sikapnya yang memandang manusia sebagai makhluk yang tak dapat diandalkan. Sebab itulah kami ada: manusia harus dijaga, dilindungi, diawasi, diatur, dikekang….
Dunia mencemaskan. Dunia dan manusia gampang berdosa dan najis. Mencatat semua itu memang bisa sama dengan meragukan, layakkah Tuhan diberi ucapan terima kasih dan kita bersyukur. Para juru sensor, yang duduk di ruangan gelap seperti seregu malaikat yang berwajah suram, tahu apa jawabnya.
~Majalah Tempo, Edisi. 49/XXXVI/28 Januari - 03 Februari 2008~


