jump to navigation

The Death of Sukardal Juli 19, 1986

Posted by anick in Elegi, Kisah, Politik, Tokoh.
trackback

Sukardal, 53, tukang becak mati gantung diri, karena becaknya tgl 2 juli 1986 disita petugas tibum. Seorang dari sekian ratus ribu yang kehilangan mata pencarian di indonesia. ia mati tapi tidak membisu. SUKARDAL menggantung diri pada umurnya yang ke-53.

Tukang becak tua ini kehilangan becaknya, pada tanggal 2 Juli 1986 malam, di sebuah perempatan Kota Bandung. Para petugas Tibum, sesuai dengan peraturan dan perintah atasan, menyita becak itu.

“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi putus asa adalah dosa,” kata para pemberi petuah (dan iklan tabib). “Ekstrem,” kata seorang pejabat. “Barangkali ada pihak ketiga,” kata pejabat lain.

Sukardal mungkin tidak tahu siapa pihak ketiga, siapa pihak pertama, siapa pihak kedua. Ia telah mencoba berebut mempertahankan becaknya dari sitaan petugas. Ia telah diseret ke arah parit. Ia telah menendang. Ia telah diseret lagi dan dinaikkan ke mobil. Ia telah berontak dan berhasil turun dari mobil.

Tapi ia melihat becaknya telah diangkut truk, ia melihat sumber hidupnya terbang, maka ia kembali meloncat ke arah mobil Tibum yang berjalan. Ia menggandul pada mobil itu, dan berteriak-teriak, “Saya mau bunuh diri …. Saya mau bunuh diri ….”

Dan benar: Sukardal kemudian menggantung diri, di sebuah pohon tanjung, di depan sebuah rumah di Jalan Ternate.

“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi kami hanya menjalankan tugas,” kata para petugas Tibum. “Dan pers jangan membesar-besarkan perkara ini,” kata seorang pejabat.

Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari 18.000 becak di Kota Bandung adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang yang kehilangan mata pencaharian di Indonesia kini adalah soal kecil. Lagi pula, pada saat satu Sukardal mati, di sebuah sudut, satu genius yang sama hebat dengan Habibie mungkin baru lahir di sudut tanah air yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa….

Penderitaan manusia?

Beberapa saat sebelum mati, Sukardal menulis sepucuk surat wasiat. Ia bicara kepada anaknya yang sulung: “Yani, adikmu kirimkan ke Jawa, Bapak sudah tidak sanggup hidup. Mayatku supaya dikuburkan di sisi emakmu.” Dan Yani, 22 tahun, yang bersama tiga adiknya yang kecil-kecil tinggal di sebuah bilik 4 x 4 m (yang disewa), tak sanggup. Wasiat itu terlalu berat. Mengirimkan jenazah ke Majalengka dari Bandung, bagi mereka, bukan perkara kecil.

Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?

Seorang bapak yang selama ini sendirian merawat anak-anaknya, dan jarang marah, adalah sesuatu yang besar bagi anak-anak itu. Sebuah becak yang seharga Rp 50 ribu, dan baru saja lunas dicicil, adalah sesuatu yang besar bagi keluarga itu.

Satu setengah meter dari pohon tempat Sukardal mati, ada tembok. Di sana tertulis (kemudian dihapus oleh petugas kepolisian): “Saya gantung diri karena becak saya dibawa anjing Tibum”.

Becak saya, kata Sukardal. Ada kebanggaan memiliki. Ada rasa marah karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan sekaligus putus asa. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia justru terbit pada seorang yang begitu kecil.

Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang lahad.

Seperti sebuah sajak, ditulis oleh seorang penduduk Chichibu, di sebelah barat Tokyo, ketika Jepang belum lagi kaya di akhir abad lalu, setelah petani-petani miskin mencoba berontak di tahun 1884 dan kalah dan terkubur:

Angin bertiup
Hujan jatuh
Anak-anak muda mati.
Keluh kemiskinan
Berkibar seperti bendera . . .
Kata di nisan kami,
Yang tertimbun badai salju 1884,
Tak nampak oleh yang berkuasa
Maka di saat-saat begini
Kami harus menjerit setinggi-tingginya.

Sukardal juga sebenarnya mencoba menjerit tinggi-tinggi. “Kalau betul-betul negara hukum, Tibum harus diusut,” tulis tukang becak itu sebelum mati, pada tembok. Dia bilang, kalau betul-betul. Dia tidak bilang, karena ini negara hukum….

Sukardal meminta, dengan leher terjirat dan nyawa melesat, dan itu berarti dengan keras — karena ia sesungguhnya tidak begitu yakin.

Bagaimana ia bisa yakin? Ia pasti tahu ia bukan termasuk mereka yang bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang. Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah. Sukardal telah lewat setengah abad: sudah teramat tua untuk memilih kehidupan lain, terlampau tua untuk berontak. Tapi ia, yang tamat sekolah menengah, yang datang dari sebuah kampung di Yogya dan berdagang kecil di Jakarta, toh masih merasa perlu menuliskan pesannya. Ia mati, dan ia tidak membisu. Dan hidup kita, kata seorang arif bijaksana, terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu.

~Majalah Tempo, Edisi. 21/XIIIIII/19 – 25 Juli 1986~

Iklan

Komentar»

1. yuli - Juli 31, 2007

menangis saya pakdhe… membaca the death of sukardal.
terguguk saya di depan layar monitor. karena itu yang saya bisa.
kenapa ya pakdhe, di negara kita yang kaya raya ini tidak pernah ada tempat untuk rakyat kecil….. ?

2. pamumngkas dhewa - Agustus 2, 2007

“apa yang kecil, apa yang besar”… the deth of sukardal adalah salah satu favorit saya, sudah puluhan kali saya baca dan selalu terasa kedalamannya. Hal yang Kecil, hal yang besar saya selalu tertegun dan berfikir bahwa selama ini saya selalu berada dalam sebuah sudut pandang yang egois dalam melihat sebuah realitas..

thx GM

3. widhi hardiyanto - Agustus 9, 2007

“Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa.”
“Ia mati, dan ia tidak membisu. Dan hidup kita, kata seorang arif bijaksana, terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu.”
Sungguh membaca GM,bagi saya adalah membaca pembelaan wakil dari dunia yang “Murung” mengetuk langit para “Dewa”

Terimakasih banyak G[Susatyo]M.
wasalam.

4. faiz - Januari 26, 2008

mmm. terasa baru kembali, padahal aku dah baca 3 tahun lalu. barangkali ada yang terus beranjak sebagai teks, bukan lagi sebagai sesuatu yang tetap disebut “hal”

5. ajie - Maret 13, 2008

menyentuh….pernah baca, 4 taun lalu kalau gak salah…skr dibaca lagi…hahhhh gak pernah bosan

6. padjar - Maret 14, 2008

Tulisan ini yg akan saya jadikan contoh esai buat anak sekolahan kalo saya jadi guru bahasa indonesia.
Esai terbaik yg pernah saya baca, tak habis2nya menggugah.
GM menyalurkan rasa keprihatinan yg pekat ke dalam tulisan dg luapan emosi yg terjaga, tetap kreatif dalam pemilihan ide kalimat, dan menunjukkan karakter sarkasme yg kuat tapi justru berhasil membangkitkan empati atas kematian sukardal.

7. Jagunk Poenya » Blog Archive » GM emang KEREN - September 19, 2008

[…] The Death of Sukardal […]

8. hamidin krazan - September 25, 2008

Balada Sukardal, Rabu (24/9) diungkap lagi oleh budayawan Pantura Atmo Tan Sidik, di rumah dinas Wakil Walikota Tegal Dr maufur, dalam tausiyah di depan Paguyuban Tukang Becak Ridho Illahi Tegal, Jawa tengah. Dimana Maufur sebagi pelindung dalam paguyuban itu. Selain maufur memabca sajak bahasa Tegal ‘Urip Brayan’ dan sajah bahasa Indonesia ‘Balada Tukang Becak’, Atmo tan Sidik dalam tausiyahnya membuka referensi tentang Tukang becak baik dalam syair lagu Bimbo, lagu tegalan Najib, juga sejumlah peristiwa terkait dengan tukang becak. “pada diri tukang becak ada pelajaran kerja keras dalam memperjuangkan hidup, rela bersusah-susah meski , di tengah bangsa yang makmur? ini.

9. indonesianetwork - November 5, 2009

Thanks for sharing, I enjoyed reading this article. If you don’t mind, please visit my blog Indonesia Page.

10. zul azmi sibuea - November 6, 2009

“Kalau betul-betul negara hukum, Tibum harus diusut,” …….
ia berandai-andai menggambarkan dengan ragu, saya juga ragu….karena : apa negara hukum, apa negara, apa hukum, dari situlah Tibum membenarkan dirinya, “kami hanya melaksanakan tugas”. Jadi, masing-masing melaksanakan tugas, tidak usah perduli bahwa orang lain akan kehilangan mata pencaharian, kehilangan harapan dan kehilangan nyawa.

supaya lebih ekstrim tugas adalah pekerjaan, panggilan jiwa, profesi, dan kalau mau diperpanjang, sukardal juga akan mengatakan hal yang sama : “saya hanya melaksanakan tugas, sudah menjadi menjadi nasib/garis tangan saya bertugas hingga akhirnya menjadi Tukang becak untuk inilah saya diciptakan Tuhan, menjalani hidup saya “.

ini adalah balada mengenai kemelaratan yang saling memelaratkan, kemiskinan berkolerasi positif untuk saling memiskinkan, dari jauh terlihat sungguh-sungguh merupakan sebuah pengrusakan kreatif.
(creative destruction).

11. Vitalis Wolo - Juni 26, 2010

Mengenang Eskoda

Oleh: Olanama
Tak ada yang ingat persis, kapan ia melenceng dari jalan dan membentur pagar tembok di jalan Eltari. Isi kepalanya terburai. Rekan-rekannya di Flores Pos, harus membolak-balik koran lama, untuk mengingat tanggal kematiannya. Dia hanyalah lelaki dekil yang tidak sempat menikah. Hidup di kamar darurat. Merokok. Melukis. Sesudah itu mati. Dan tentang kematian, ia menulis:
Kuusung jenasahku sendiri
Menyinggung tepian samodra
Angin yang mengawal pantai
Menebar bau kematian ini
Kumakamkan diriku sendiri di sini
Tanpa kembang seribu janji
Tiada pula syair-syair kebangkitan…
Puisi yang tercatat di seri Buku Vox ini, ditulis Eskoda tahun 1999 ketika masih belajar di Ledalero. Waktu itu ia masih berkemauan menjadi seorang imam. Tapi idealisme membawanya pergi dari biara, dan mengabdikan hidupnya hanya kepada seni. Lihat saja berbagai karikatur yang pernah menghiasi halaman Dian dan Flores Pos antara tahun 2000-2003. Lihat saja berbagai lukisan yang tergantung, baik di Nita Pleat, Maumere, semasa masih kuliah, maupun di Biara santu Yosef, Ende, semasa menjalankan orientasi pastoralnya. Om Sius teman kosnya di jalan Eltari seperti masih mencium bau cat dari sisa lukisan Eskoda. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa selain mati sebagai pelukis, Eskoda yang mantan wartawan Flores Pos itu, juga adalah seorang penyair. Puisi-puisinya tersebar di setiap terbitan majalah dinding kampus, maupun di halaman seri buku Vox. Tesisnya tentang Chairil Anwar menunjukkan besarnya minat pada puisi. Bahkan cara ia merokok, tak ubahnya Chairil Anwar dalam kumpulan puisi: Aku Ini Binatang Jalang.
Apa pentingnya Eskoda? Idealismenya. Ketika sama-sama bekerja di dapur majalah Vox, Eskoda telah menyatakan niatnya untuk menggali sastra Flores, yang menurutnya, masih seperti lahan tidur. Para pegiat sastra Flores masih bisa dihitung dengan jari, itu pun hanya sekedar memenuhi hobi. Kita hanya bisa mencatat Dami N. Toda yang mendunia. Selebihnya, tak seorangpun benar-benar terjun ke dunia sastra. Ada John Dami Mukese dengan Doa-Doa Semesta dan Puisi-Puisi Jelatanya. Mukese, sehari-harinya adalah seorang pastor. Ada Maria Matildis Banda, juga tidak benar-benar purna waktu. Dan ada puluhan penulis lainnya yang menyebarkan tulisan secara temporal di koran lokal. Satu-satunya terobosan, telah dibuat oleh Ledalero lewat festival yang menghasilkan kumpulan Cerpen dan Puisi: Tapak-Tapak Tak Bermakna.
Idealisme yang ditawarkan Eskoda, masih berupa mimpi yang telah coba diterjemahkan dalam hidupnya. Dalam pembicaraan suatu hari di tahun 2000, ia sempat ragu antara memilih jalan imamat dan jalan sastra. Saya meyakinkannya dengan sebuah surat dari Rusia. “Tentu, teman menyisakan pertanyaan tentang bagaimana tugas pokok sebagai imam. Tapi imamat adalah suatu tamasya yang menyenangkan. Kapal yang membawamu pergi akan menyinggahi seribu tempat untuk melahirkan puisi yang tidak akan kau ciptakan bila kau diam di rumah dan mengurus anak-istrimu. Kau hanya akan sedikit direpotkan dengan doa untuk menyenangkan penderma dan para pemimpin agamamu, dan tentunya merayakan misa seperti apel bendera di senin pagi. Tapi ada beda, bahwa dulu pada setiap hari senin kita menggerek sepotong kain kumal untuk mendengar amanat inspektur upacara yang klise dan membosankan. Sedangkan kini dalam khotbahmu, engkau menggerek beribu-ribu lembar Kitab Suci yang isinya penuh muatan sastra, lebih-lebih Perjanjian Lamanya yang mempesona.
Di kemudian hari ketika Eskoda meninggalkan biara, saya tahu, surat itu tidak mempan. Dia tidak membalasnya. Tapi dengan tekun saya mengikuti setiap investigasinya di Flores Pos. Ia memburu berita. Ia Melukis. Ia menulis puisi dan artikel. Sendirian. Tidak menikah. Mati. Tak seorang pun peduli idealisme apa yang pernah Eskoda usung. Tapi dari produktivitasnya yang tercecer di sana sini, dia telah menyumbang sesuatu yang berharga bagi seni.
Lalu bagaimana dengan sastra Flores yang pernah sesumbar untuk ia gali? Sepertinya kematian memenggal segala. Ia yang sendirian di liang kuburnya, telah memproklamirkan kesedihan itu. “Kuusung jenasahku sendiri menyinggung tepian samodra. Angin yang mengawal pantai menebar bau kematian. Kumakamkan diriku sendiri di sini.Tanpa kembang seribu janji. Tiada pula syair-syair kebangkitan.
Eskoda telah berjuang untuk mengusung idealismenya. Lilin yang coba ia nyalakan tak kuat melawan angin. Ia memakamkan kegagalannya sekaligus memadamkan lilin yang coba ia nyalakan. Ia juga seperti ragu akan kebangkitan. Hingga ajalnya, tak pernah ada perbincangan tentang sastra Flores. Jika sekali kelak Flores mewujudkan diri sebagai provinsi, kita pun harus bicara tentang tradisi kebudayaan dan khasanah sastra daerah. Tapi jejaknya tidak pernah kita tahu dari mana. Tidak juga dari Eskoda.
Sedianya saya menulis lagi sebuah surat untuk menantang. Di catatan harian, tertulis 14 April 2003. Siapa mengira kalau tanggal itu adalah hari kematian Eskoda? Surat itu tak jadi dikirim setelah mendengar berita kematiannya. Membaca ulang surat itu terasa seperti menggali potongan mimpi yang terpenggal.
“Eskoda….
Gairah untuk memperistrikan sastra menggebu-gebu di sini, ketika kita mendapati hampir semua orang amat gemar membaca. Di ruang-ruang tunggu, di bangku-bangku metro dalam kepadatan penumpang, bahkan di atas jambangan selagi mencemplungkan tinja, orang tak berhenti membaca. Tentu tidak semua membaca sastra. Tapi menilik kenyataan bahwa para sastrawan besar Rusia sangat dimanjakan oleh apresiasi masyarakatnya, kita bisa memastikan bahwa karya mereka tidak tinggal diam di rak-rak buku berdebu. Kita bisa dengan gampang menemukan satu bait puisi Aleksander Pushkin pada sesobek kertas. Kita bisa menjumpai patung Gorki atau Tolstoi atau Destoyevski yang tegak di setiap kota kelahiran mereka. Dan kita bisa mendengar karya mereka dibacakan pada setiap peringatan hari ulang tahun. Satu langkah lagi kita harus memindahkan gairah ini ke sebuah pulau kecil, Flores, tempat di mana sastra akan dikawinkan dengan tradisi budaya kita yang kaya namun belum terjamah.
Kini, setelah empat tahun kematiannya, tak ada tanda kebangkitan yang berarti. Seperti ingatan yang kabur tentang kapan meninggalnya seorang Eskoda.

12. Valerianus Kopong Tupen - Juni 29, 2010

Z A K H E U S

Oleh: Valery Kopong*

KETIKA saya diminta oleh ketua lingkungan untuk mencari nama pelindung lingkungan yang baru dibentuk waktu itu, saya menyodorkan satu nama sebagai pelindung lingkungan yaitu Zakheus. Nama yang saya tawarkan sepertinya menjadi racun bagi setiap telinga yang mendengarnya. Orang-orang lingkungan secara serta merta menolaknya dengan alasan yang beragam. Ada yang mengatakan bahwa ia (Zakheus) terlalu pendek orangnya sehingga nama ini menjadi bahan tertawaan lingkungan lain. Ada lagi yang mengatakan bahwa ia sang koruptor.
Saya coba menampung aspirasi umat sambil tetap mencari alasan apa yang mendasar sebagai bukti otentik untuk meyakinkan masyarakat bahwa Zakheus juga berharga di mata dunia. Waktu itu, kebetulan seorang pastor menginap di rumahku selama seminggu dan saya coba berkonsultasi dengan dia dan herannya, nama yang saya tawarkan ini menjadi kisah yang menarik dan menjadi bahan diskursus yang hangat antara saya dan romo. Romo sendiri mengiakan kepantasan nama itu (Zakheus) karena walaupun dunia memandangnya dengan sebelah mata, tetapi justeru ia membuka diri bagi Yesus untuk datang dan berada di rumahnya.
Rumah Zakheus adalah sebuah “ruang publik” yang dapat memungkinkan siapa saja yang masuk ke dalamnya. Yesus adalah orang pertama yang berani masuk ke dalam rumahnya. Kehadiran Yesus menjadi tanda yang mengingatkan peristiwa masa lampau yang serba kelam. Dan kehadiran Yesus sendiri seakan merombak pola pikir masyarakat tentang dia dan keluarganya. Labelisasi yang dikenakan padanya yakni sebagai koruptor perlahan hilang oleh sebuah kejujuran yang mengantarnya menuju jalan pulang. Kehadiran Yesus di rumahnya membukakan matanya untuk secara tajam melihat seluruh sepak terjang perjalanan karirnya yang manipulatif dan koruptif. Kehadiran Yesus juga merupakan saat teduh baginya untuk berefleksi serta menuding diri, berapa ribu orang yang telah diselewengkan pajak-pajaknya.
Kerinduan terbesar dalam diri seorang Zakheus adalah mau melihat, siapakah Yesus sebenarnya. Kerinduan ini tersembul dari balik tumpukan uang yang merupakan hasil pemerasan pada rakyatnya. Memang, menjadi pengalaman dilematis seorang pegawai pajak ketika berhadapan dengan tumpukan uang. Mau menghamba pada “mamon” ataukah percaya pada Allah, sumber kekayaan itu sendiri. Peristiwa pertemuan antara Yesus dan Zakheus adalah sebuah peristiwa iman yang sanggup mengembalikan hati yang pernah berpaling dari Allah sendiri. Zakheus, selama dalam menjalani kehidupan yang oleh masyarakat dilihat sebagai pekerjaan haram, menjadikan ia semakin jauh dari sentuhan kasih Allah sendiri. Karena tenggelam dalam perbuatannya yang tak terpuji maka ia sendiri menjadi “buta” dan tidak sanggup melihat Yesus sebagai penyelamat. Badannya yang pendek tidak semata-mata diartikan secara fisik tetapi lebih dari itu membahasakan kekurangan iman sehingga ia harus naik ke pohon ara, “pohon iman” agar mata batinnya dibuka untuk melihat Tuhan yang lewat.
Di tengah jejalan manusia yang ingin melihat Yesus dalam perjalanan-Nya dari desa ke desa, dalam hati Yesus, Ia ingin berjumpa dengan seorang bernama Zakheus. Kalau dianalisis lebih jauh, memunculkan beberapa pertanyaan rujukan untuk memahami kedekatan batin antara sang koruptor dan Mesias. Zakheus tentu sebelumnya menjadi bahan pembicaraan yang menarik dan mungkin menjadi pemberitaan lisan tentang tingkahnya yang mengecewakan masyarakat. Di sini, kontrol sosial menjadi kuat, namun tidak menyanggupkan hati seorang Zakheus untuk berbalik.
Yesus yang lewat, tidak dibiarkan begitu saja menghilang ditengah jubelan manusia namun ia menyadari betapa pentingnya ia mencari seorang penyelamat untuk mengembalikan reputasi dan harga diri yang selama ini jatuh tertindih tumpukan uang. Kehadiran Yesus membuka jalan baru, jalan keselamatan. Kehadiran Yesus tidak bertindak sebagai penggeleda kekayaan Zakheus tetapi hanyalah ungkapan solidaritas dan silahturahmi. Yesus bukanlah penyidik yang menuding, siapa-siapa lagi yang terjebak dalam kasus yang sama. Dengan mengatakan “Zakheus, turunlah, Aku mau ke rumahmu,” dilihat sebagai “interupsi ilahi” di mana Yesus sendiri menciptakan peluang sunyi bagi introspeksi diri seorang Zakheus. Ia mau ke rumahnya, menunjukkan betapa Yesus peduli terhadap pribadi dan keluarganya. Kunjungan Yesus ke rumahnya merupakan titik awal Ia menanamkan nilai-nilai pertobatan. Rumah Zakheus setelah dikunjungi Yesus sepertinya mengalami sebuah transformasi, dari rumah “berlandaskan” strategi kebohongan menjadi rumah “bertiangkan” metanoia. Rumahnya juga menjadi ruang publik dan “ruang produksi nilai-nilai pertobatan” dan akan didistribusikan kepada siapa saja yang membuka diri pada keselamatan.
Yesus sudah berkunjung ke rumahnya, tetapi di mata masyarakat, ia tetap sebagai koruptor. Zakheus menjadi ikon pemanipulasian pajak dan menjadi hidup di setiap generasi yang berbeda. Orang-orang dan dunia umumnya seperti telah memancangkan prasasti abadi tentang Zakheus sehingga orang tidak mudah melupakannya. Tetapi Zakheus mengalami kegembiraan dan kehormatan ketika si Tuhan datang menemui dia dalam kondisi tak berdaya oleh cara pandang yang keliru dari masyarakat umum. Kegembiraan yang dialami juga bukan merupakan “kegembiraan instan” karena ia menghayati kegembiraan ini dalam terang iman pertobatan.
Orang-orang di lingkungan saya menolak keras bila nama Zakheus menjadi pelindung lingkungan itu. Dan apabila setiap instansi pemerintah mencari seorang kudus sebagai pelindung, maka Direktorat Pajak pasti berpelindungkan Zakheus, sebuah nama yang membuka historia biblis dan mengingatkan setiap pegawai pajak akan uang-uang pajak yang ditagih dari masyarakat. Dunia dan Indonesia khususnya membenci Zakeus, tapi herannya pola perilaku koruptif yang merupakan warisannya ditumbuh-suburkan dalam lahan “republik korupsi” ini. Andaikata Zakheus masih hidup sampai dengan saat ini pasti ia berujar, “hari gini masih korupsi, apa kata dunia?” ***

13. Pengagum GM - Desember 19, 2010

esai yang fenomenal.
saya jadikan esai ini sebagai bahan panduan saya menulis esai jurnalistik.
sangat kaya akan informasi dan data.

sekali lagi kata GM:
“ide tak boleh membebani gaya, dan gaya tak boleh membebal dari ide”

14. Juman Rofarif - Juni 13, 2011

kali kesekian baca… tetap terharu.

15. birjon - Desember 11, 2011

Tersentuh baca artikel ini, ternyata nurani pejabat di negeri ini benar2 telah hilang, semoga tidak sampai ada sukardal2 lainnya yg harus “MATI” karena pemerintah tidak mendegarkan jeritan rakyatnya.

TABIK !!!

16. Heru Fianisal - Desember 12, 2011

Izin membagi dengan mereka yang belum membaca.
Terima kasih.

17. kota salju - Desember 15, 2011

“APA YANG BESAR, APA YANG KECIL”?

BUKANKAH BESAR KECIL ITU RELATIF?

“BENARKAH NEGARA INI BETUL-BETUL NEGARA HUKUM”?

BUKAN, NEGARA INI ADALAH NEGARA JUAL BELI

18. Reza - Desember 27, 2011

membaca tulisan ini,.. hmmmm… saya merasakan, sekitaran tempat duduk saya sekarang seperti diliput mendung. angin berhenti berhembus barang sebentar dua bentar. ada yang senyap! gelap. ketika sesuatu yang besar dengan angkuh ‘membantai’ si kecil. sedang si kecil ternyata punya suatu harapan besar yang diperjuangkannya dengan tulus dan tak pernah berjalan mulus. alam sebentar senyap. dan barangkali kesenyapan ini adalah pertanda bahwa hormat hening cipta kepada si kecil merupakan hal yang patut. atau boleh jadi senyap ini adalah cemoohan ghaib tentang persepsi besar kecil di otak manusia.

19. The Death of Sukardal Juli 19, 1986 – Goenawan Muhammad | - Maret 28, 2012

[…] lain yang tidak membisu.Sumber:~Majalah Tempo, Edisi. 21/XIIIIII/19 – 25 Juli 1986~https://caping.wordpress.com/1986/07/19/the-death-of-sukardal/ Share this post : yankur Leave a comment Click here to cancel […]

20. Aulia Akbar Pulungan - Agustus 10, 2012

Hhhhh.. bukan hanya karena ceritanya yg sangat mengharukan dan syarat makna, namun gaya penulisan essay nya sungguh sempurna.. luar biasa..

21. Burglar Alarms - November 6, 2012

Utterly composed content , Really enjoyed looking through .

22. RAYA - April 17, 2013

SY BARU BACA TULISAN INI, KLO ADA YG LAIN SDH BACA 3 DAN 4 KALI, BERARTI ESAI MEMPUNYAI KEKUATAN “MAGIS”MENGHIPNOTIS PEMBACANYA….SY SDG MENLAAH APAKAH SY JG AKAN KENA MAGIS ITU..YA MAGIS TULISAN GM..TENTUNYA. ESAI INI MASIH KONTEKSTUAL SLAGI BANGSA INI MASIH TDK PEKA DG REALITAS KEMISKINAN AKIBAT SISTEM DN ORANG-ORANG YG SALAH KAPRAH..

23. casino - Juli 10, 2013

Woah! I’m really enjoying the template/theme of this site. It’s
simple, yet effective. A lot of times it’s tough to get that “perfect balance” between user friendliness and appearance. I must say you have done a awesome job with this. Also, the blog loads very quick for me on Internet explorer. Superb Blog!

24. Edy - September 3, 2013

Sukardal sebenarnya masih hidup. Ia tak pernah mati. Karena itu, jangan pernah mengira Ia telah terkuburkan. Ia berada di sana, diantara orang-orang yang menjumputi harapan hidupnya untuk tak segera mati.

Yang mati, dan yang terkubur, justru rasa kemanusian itu. Ia tak lagi bisa tersentuh dan menyentuh. Ia tampak tak lagi utuh. Ia pun tak lagi mampu melawan rasa “adigang – adigung” itu.

25. Agar Pengendara Ojek Tidak Menjadi Sukardal | MIDjournal.com - Juni 20, 2015

[…] jadi ingat Sukardal, seorang tukang becak yang mati gantung diri, karena becaknya disita petugas ketertiban umum. […]

26. Jangan Adalagi Sukardal Baru | KAKI DI DUNIA,HASRAT MELANGIT - April 13, 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: