jump to navigation

Jasih Desember 20, 2004

Posted by anick in All Posts, Bencana, Ekonomi, Kisah, Tokoh.
2 comments

Jasih mati membakar diri, dan kita bersalah. Kita harus mengaku…. Kita mungkin ikut membunuhnya, atau kita berdiri di kamar kita dengan dosa sejenis itu, karena kita sampai tak tahu bahwa ada ibu berumur 39 tahun yang begitu berputus asa hingga ia menghabisi nyawanya sendiri dan nyawa Galuh, anaknya yang berumur 4 tahun, yang terserang kanker otak dan tak ada lagi biaya untuk mengobatinya. Kita bersalah karena Jasih begitu miskin–utangnya yang lima juta rupiah kepada para tetangga itu begitu menekan–dan kita selama ini ingkar. Kita tak pernah menengok. Kita tak pernah ingat.

Malapetaka itu tak dapat kita cegah, dan kita bersalah. Jasih tak hidup di negeri yang jauh. Ia mati tak di tempat yang jauh. Kejadian itu, di Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, pada pertengahan Desember 2004. Artinya, bukan masa lalu. Artinya, sebenarnya terjangkau dari tempat saya. Juga terjangkau dari tempat Anda. Lagoa bukan di seberang lautan dan di balik benua. Kecamatan itu hanya beberapa puluh kilometer saja dari orang-orang (mungkin teman-teman kita) yang baru membeli sebuah apartemen di Paris, menikahkan anak di Convention Hall Jakarta, memberi kado istri dengan berlian 500 juta, menyogok rekanan dengan 3 miliar, menyumbangkan uang untuk gereja sebesar 70 juta, naik haji ketiga kalinya seraya mentraktir 10 orang teman ke Mekkah, berjudi di London sampai kalah 1.000 poundsterling, atau hanya menyimpan uang beberapa miliar di bank seraya menunggui bunga sekian persen?. Daftar itu bisa diperpanjang. Dan bersama itu, kesalahan kita kian jelas.

Tuan akan berkata, tentu, “Ah, tidak jelas!” Tuan akan bertanya kenapa Tuan disangkutkan ke dalam “salah”. Maaf, beribu-ribu maaf. Saya punya bahasa yang kasar kali ini: jika kita (Tuan dan saya) tidak tahu, jika kita (Tuan dan saya) tidak merasa bersalah karena kematian di Lagoa itu, jika kita merasa tak berurusan dengan Jasih dan Galuh yang putus asa, itu berarti kita dungu atau tak punya hati. Tuan tahu bahwa sebuah kota, sebuah negeri, bukanlah tempat yang selama-lamanya longgar, dengan kekayaan yang berlimpah-ruah. Tak ada bagian dunia yang bebas dari kelangkaan dan kekurangan; itulah sebabnya ekonomi terjadi: orang berproduksi terus, tukar-menukar tak henti-henti. Dan jika kita berbicara tentang Indonesia, kita akan lebih tahu apa artinya kelangkaan dan kekurangan itu. Bahkan kita akan tahu apa yang ada di baliknya: kekayaan yang begitu timpang, kesempatan yang begitu selisih. Dari sini Tuan tahu apa yang menyebabkan tak ada pengobatan yang murah bagi Galuh. Inilah daftarnya, meskipun tak lengkap: karena dokter-dokter yang tak pernah mengulurkan bantuan ke rumah orang miskin, karena industriawan obat yang hanya memikirkan the bottom line, karena pejabat Departemen Kesehatan yang mencolong dana buat pelayanan medis dan pencegahan penyakit di kampung-kampung, karena wartawan-wartawan (rekan-rekan saya) yang menerima suap dari dokter, industriawan obat atau pejabat dan sebab itu lalai untuk menceritakan putus asa di kekumuhan itu kepada publik, juga karena para wakil rakyat yang?setelah beranjangsana ke luar negeri dengan uang ribuan dolar?tak menegur kepala daerah yang tak banyak berbuat. Tuan dan saya tambah bersalah bila Tuan dan saya tak tahu itu?apalagi berpura-pura tidak tahu itu. Tuan bersalah, tapi harus saya tambahkan memang: kesalahan Tuan lebih kecil sedikit ketimbang dosa saya, yang menulis tulisan ini dan sudah terlambat, yang menulis dan mendapatkan nama, yang ingin menangis untuk Jasih dan Galuh tapi kemudian merasa bahwa saya juga yang akhirnya mendapatkan manfaat, juga dari tangis itu. Jasih, Galuh, dan kakaknya, Galang, yang luka-luka, dan Mahfud, bapak anak-anak itu, yang kehilangan segala yang berarti baginya, tetap tak tertolong. Miskin. Berutang. Hari-hari yang sudah cacat.

Mereka itu yang benar mengalami: kota begini sempit. Tiap jengkal yang kita miliki berarti tiap jengkal yang tak dimiliki orang lain. Saya kira itulah yang traumatis dalam sebuah masyarakat–apalagi masyarakat ini. Ada seorang yang mengatakan bahwa pada saat seseorang memaklumkan, “Inilah tempatku di bawah cahaya matahari,” itulah bermula perebutan tak sah seluruh muka bumi. “Kematian orang lain memanggilku untuk ditanyai,” kata Emannuel Levinas, “seakan-akan, karena sikap acuh tak acuh yang mungkin aku ambil kelak, aku bersekongkol dengan kematian yang dihadapkan kepada orang lain, kematian yang tak dapat diketahuinya.”

Jasih, saya tak berharap saya layak kamu maafkan.

~Majalah Tempo Edisi. 43/XXXIII/20 – 26 Desember 2004~

Iklan

Van Gogh Desember 6, 2004

Posted by anick in Elegi, Fundamentalisme, Islam, Kekerasan, Kisah, Tokoh.
2 comments

Bagaimana kita bisa bicara tentang Mohammad B.? Pada suatu hari di bulan November 2004 yang dingin, ia membunuh Theo Van Gogh dengan tenang dan brutal di sebuah jalan di Amsterdam. Ketika seniman film itu bersepeda, Mohammad B. menghadangnya, dan menembakkan pistolnya delapan kali. Terkena lutut, Van Gogh terjerembap. Ia diseret. Dalam keadaan luka itu ia memandang orang yang menembaknya dan mencoba berbicara. Tapi Mohammad B. tak menyahut. Dengan mantap tenggorokan Van Gogh dipotongnya, hampir putus. Setelah itu, satu statemen lima halaman dipasang ke tubuh Van Gogh, direkatkan dengan sebilah pisau yang menghunjam sampai tangkai ke jantung si mati.

Kesimpulan sementara: Mohammad B. membunuh karena Van Gogh dianggapnya menghina Islam. Delapan minggu sebelumnya film Submission diputar di TV. Kata orang yang telah melihatnya, salah satu adegan menunjukkan ayat-ayat Quran tertulis di atas tubuh perempuan-perempuan yang mengenakan pakaian menerawang, dengan buah dada tampak. Ayat-ayat itu konon menyebut perkenan Allah bagi laki-laki untuk memukul istrinya. Wajah perempuan-perempuan dalam film bikinan Van Gogh itu tampak bengap, runyam.

Di belakang ide film itu adalah Ayaan Hirsi Ali, seorang perempuan kelahiran Somalia, anggota parlemen Belanda. Ayaan Hirsi ingin menggambarkan perlakuan buruk Islam terhadap perempuan. Ia pernah menggambarkan riwayat hidupnya sebagai seorang anak yang meninggalkan Somalia dalam umur 6 tahun, lalu hidup di Arab Saudi, Etiopia, dan Kenya. Menjelang umur 20 tahun, orang tuanya menyuruhnya menikah dengan laki-laki yang tak dipilihnya sendiri. Ia harus menyusul calon suaminya di Kanada, tapi di tengah perjalanan ia berhenti di Jerman, lalu naik kereta api ke Belanda. Di sinilah ia belajar, berhasil, masuk ke kehidupan politik, dan bergabung dengan Partai Liberal.

Setelah Van Gogh terbunuh, Ayaan Hirsi tak tampak lagi di depan umum, dan Belanda tercekam dengan apa yang selalu terjadi setelah kekerasan: benci yang menular. Sekolah muslim dan masjid dicoba dibakar, dan satu juta orang Islam di antara 16 juta penduduk Belanda harus berhadapan dengan soal mendasar tentang hidup di sebuah dunia yang mereka pilih, yang juga sebuah dunia tempat seorang Van Gogh punya kemerdekaan untuk berbicara dengan cara menghina apa yang amat berharga, bahkan suci, di hati mereka.

Bagaimana kita bisa bicara tentang Mohammad B.? Dia mewakili perilaku Islam, kata sebagian orang. Bukankah pembunuhan sudah terjadi sejak zaman Nabi, bila ada orang yang dianggap berbahaya bagi agama? Bukankah hal yang sama berlanjut terus sampai abad ke-20? Satu daftar dapat dibuat: pada 1947, seorang pengacara Iran, Ahamd Kasravi, harus mati karena tuduhan seperti itu. Empat tahun kemudian, kelompok radikal yang sama membunuh Perdana Menteri Haji Ali Razmara. Di Mesir, Farag Foda, penulis Al-hakika al-gha’iba (The Missing Truth), yang menganjurkan sekularisme, dibunuh dalam umur 47 tahun. Pada 1993, Tahar Djaout, seorang novelis Aljazair, diserang dan tewas. Pada 1994 novelis Naguib Mahfouz, pemenang Hadiah Nobel, ditikam. Dan kita ingat Salman Rushdie yang “dijatuhi hukuman mati” (tentu tanpa pengadilan) oleh Ayatullah Khomeini, dan Rushdie harus bersembunyi bertahun-tahun, sampai akhirnya penguasa Iran mencabut fatwa itu.

Tidak, kata yang membantah, Mohammad B. tak mewakili Islam. Memang untuk berbuat kejam (“keras”), orang selalu dapat mengutip Quran dan hadis. Itu yang dilakukan oleh mereka yang membunuh Kaswavi dan mencoba menghabisi Salman Rushdie. Tapi kenyataan tetap: sebagian besar muslim tak pernah membunuh atas nama agama mereka. Bahkan dari seluruh penduduk muslim Belanda, kata sebuah sumber di Dinas Rahasia, hanya 150 orang yang dapat dikategorikan “radikal” dan mendekati “teroris”.

Kenapa kita tak melihat Mohammad B. sebagai seseorang dengan keputusannya sendiri yang sunyi? Kenapa perkaranya tak hanya dibatasi sebagai perkara kriminal, dan bukan perkara “kultural”? Kenapa sumbernya ditarik jauh ke ajaran Islam? Bukankah ajaran Islam selalu bersifat tafsir orang, dan dari sana dapat lahir pembantaian tapi juga perdamaian? Bukankah hal yang sama berlaku untuk agama Yahudi dan Kristen juga dalam sejarah Eropa— yang menyebabkan orang bisa mengeluh: alangkah membingungkannya Sabda Tuhan?

Tak kalah membingungkan adalah kata-kata manusia. Persoalan sebuah negeri yang dihuni oleh beragam orang dengan beragam iman ialah ketika “multikulturalisme” jadi kebijakan publik. Kebijakan ini akan bergantung pada bagaimana “kultur” dipetakan dan bagaimana “identitas” diresmikan. Orang cenderung lupa bahwa “identitas” tak pernah ada dalam hidup orang seorang. Label “Islam” tak sepenuhnya mencakup (dan menguasai) kita. Kita tak akan pernah bisa tahu benarkah Mohammad B. seorang “Islam”, meskipun ia menyebut diri demikian, sebab kita sebenarnya tak ada jaminan seluruh dirinya mencerminkan “Islam”—sebab tak ada “Islam” yang membentuk para pemeluknya bagaikan sebuah cetakan yang sudah siap.

Bagaimana kita bicara tentang Mohammad B.? Kita belum tahu apa sebenarnya yang dicarinya. Adakah pembunuhan pada hari itu cara dia menunjukkan sebuah jalan buntu, ketika dialog macet—ia tak akan dapat mengubah Van Gogh dari sikapnya yang menghina itu? Bahwa argumentasi pada akhirnya ditentukan oleh mana yang kuat, dan sebab itu Van Gogh dapat menyiarkan filmnya dan Ayaan Hirsi dapat mempunyai forum untuk menyampaikan kecamannya?

Mungkin akhirnya Muhammad B. berkesimpulan, yang kuat adalah yang dapat membisukan yang lain—dan satu juta muslim itu pada akhirnya toh tak berdaya. Tapi mungkin ia tak tahu atau tak peduli: jika kekuatan berarti pembunuhan, tak akan ada negeri yang dapat menjadi negeri, dan yang ada hanya jutaan bangkai.

~Majalah Tempo, Edisi. 41/XXXIII/06 – 12 Desember 2004~