jump to navigation

Perempuan April 2, 2006

Posted by bocah in All Posts, Hukum, Islam, Perempuan, Pornografi.
trackback

Seorang isteri guru ditangkap polisi di Tangerang. Ia berada di jalan di sekitar pukul tujuh malam. Ia harus membuktikan dirinya bukan pelacur. Peraturan Daerah mengharuskan itu. Tuan-tuan yang berkuasa di Tangerang tampaknya berpendapat, tiap perempuan yang berada di luar rumah dalam remang itu perlu dicurigai sebagai “jalang”… 

Bisakah Tuan-Tuan itu memperkirakan, kini “kaum perempuan di Tangerang dicengkram ketakutan”?.  

Tapi mereka mungkin tak mengacuhkan pernyataan Forum Solidaritas Perempuan Banten, 22 Maret 2006 itu – juga tak membayangkan para ibu yang cemas bila anak mereka pulang terlambat dari kursus di malam hari dan saudara mereka kembali dari pabrik setelah senja. 

Mungkin Tuan-Tuan itu akhirnya akan menjawab (dengan dukungan Majelis Ulama):  perempuan memang harus tinggal di rumah, “dilindungi”.  Tuan-Tuan itu pasti bukan kelas bawah yang perlu dapat tambahan penghasilan dari upah isteri yang jadi pemijat, penunggu kios rokok atau bakul jamu. Lagipula ayat suci bisa dikutip, sebagaimana di Arab Saudi Qur’an dan Hadith dikutip untuk memutuskan: perempuan tak boleh berpakaian lain selain purdah, perempuan tak boleh menyetir mobil, dan tentu saja tak boleh jual jamu… 

Perempuan selalu dekat dengan dosa – itulah mungkin pikir Tuan-Tuan di Tangerang, seraya mendengar agama berbicara.  

Tentu saja agama yang datang dari Timur Tengah.  

Saya tak tahu persis kenapa di sana perempuan selalu ditilik demikian. Mungkinkah karena sebuah pengalaman, yang kemudian jadi paradigma, juga metafor – yaitu dahsyatnya gurun pasir?  

Siapa tahu. Sebab ada seorang tua bernama Apa Sisoes. Ia seorang biarawan di Mesir abad ke-4. 

…murid Apa Sisoes itu berkata kepadanya, “Bapa, bapa telah tua. Mari kita pindah sedikit ke dekat tanah yang telah dihuni.“  Orang Tua itu menyahut, “Di mana tak ada perempuan, ke tempat itulah kita harus pergi”. Murid itu pun berkata kepadanya, “Tempat apa lagi yang tak ada perempuannnya, kecuali gurun pasir?”. Dan Orang Tua itu berkata, “Bawa aku ke gurun pasir”. Kisah itu diceritakan kembali oleh Peter Brown, gurubesar sejarah di Princeton University, dalam The Body and Society, sebuah paparan penting tentang iman dan seksualitas, ketika  perempuan  ditampilkan sebagai sumber godaan yang tak habis-habisnya di masa awal agama Kristen — ketika seorang biarawati yang menepuk kaki  bapak uskup yang sepuh dan sakit sudah bisa dianggap merangsang untuk bersetubuh.  Maka tak mengherankan bila di Mesir masa itu ada seorang rahib yang mencelupkan jubahnya ke bangkai seorang perempuan yang sudah membusuk; ia berharap, bau baseng itu tak akan membuatnya mau berfantasi tentang wanita.  

Bahkan ada seorang calon biarawan yang menggendong ibunya yang tua menyeberangi sungai seraya membungkus tangannya dengan kain, sebab ia tak mau bersentuhan dengan kulit ibunya sendiri.  “Daging semua perempuan adalah api”. 

Perempuan adalah api — daya yang bisa merusak, bagian dari “dunia”, begitulah waktu itu ada petuah agama yang berkata. Wanita harus dijauhi dan dijauhkan.  Ia tak termasuk “gurun pasir”.  

“Gurun pasir”, bentangan alam yang garang itu, waktu itu punya makna tersendiri. Gurun pasir, dalam catatan Brown, “muncul sebagai tempat yang tak tertandingi dalam heroisme Kristen”.  Di sanalah laki-laki bisa hidup keras dan khusyuk melatih diri bebas dari nafsu apapun. Dalam kekhusyukan itu, batas harus tegas antara “gurun pasir” dan “dunia”. 

Maka ketika dunia diliputi “dosa”, di gurun itu — terbentang dari tepi Danau Maryût sampai ke arah Iskandariah, terutama di Wadi Natrûn —  tinggallah ratusan apotaktikoi,  “para penampik” yang tak menghendaki hidup  dengan panca indera yang mencicipi nikmat bumi. 

Penampikan itu tentu saja akhirnya tak hanya terbatas di gurun pasir, dan juga tak hanya di Mesir. Bahkan sejak abad ke-2,  para alim Masehi memandang perempuan sebagai pangkal kematian. Di bawah pengaruh ajaran Tatian, pelbagai kelompok Gereja Kristen Suriah meyakininya. 

…dan mereka bilang, Juru Selamat sendiri berkata:  “Aku datang untuk membatalkan kerja perempuan”… “Perempuan” di situ ditafsirkan sebagai hasrat seksual, “kerja” diartikan  kelahiran dan maut. Demikianlah dengan was-was komunitas Kristen yang terserak sampai ke kaki-kaki bukit
Iran memandang “dunia”:  kelahiran, perempuan, kematian.
 Tapi tak hanya mereka sebenarnya. Juga dari sekitar gurun pasir Timur Tengah, agama Yahudi mengawali rasa was-was itu. Aliran ortodoksnya menggariskan kol isha yang melarang lelaki mendengarkan perempuan menyanyi.

Ada yang hanya mengharamkan mereka menyaksikan pertunjukan nyanyi yang “sugestif”..

Ada yang lebih ketat: mereka melarang lelaki mendengarkan suara perempuan bahkan dalam rekaman. Dan tak cuma itu. Dalam komunitas Yahudi ortodoks zaman modern sekalipun, perempuan tak boleh berbaju tanpa lengan, memakai blouse dengan potongan krah rendah. Celana ketat dilarang. Lutut harus ditutupi. Halacha, syariat Yahudi, mengharuskan perempuan yang sudah menikah menutup rambutnya… 

Saya tak tahu, kenapa dari sekitar gurun pasir Tuhan bertitah agar perempuan diperlakukan demikian. Kenapa di Bali, misalnya, tidak? Mungkinkah karena di sini tak berlaku paradigma “gurun pasir”: para pertapa tak mengalami alam yang kosong dan garang, melainkan hutan  tropis yang semarak, gua yang dirias pohon dan rumpun, akar dan kembang, bunyi burung dan biru gunung?   Dengan kata lain: sebuah “dunia”, di mana yang indrawi tak ditampik, hingga pertapaan bukianlah tempat apotaktikoi? Dalam cerita wayang, di situ malah lahir ksatria Bambang Sumantri dan  gadis Shakuntala.yang gemulai. 

Apapun sebabnya,  di kesunyian hidup brahmana dan resi tak tampak rasa was-was kepada “dunia”, kepada perempuan. Di sana,  tafakur adalah bersyukur.   

Tapi itu dulu. Siapa tahu kita telah berubah, dan Tuan-Tuan Tangerang lebih suka paradigma baru: “
padang pasir”..

Komentar»

1. Chalie - November 11, 2006

Caping kini, menjadi candu yang tak berpangkal, seperti bergumul dg bidadari surga fana.

Tahnks GM, go ahead created esai and poet !!!

2. yuli - Agustus 8, 2007

Ahh… sebegitu hebatkah perempuan mengganggu angan dan mimpi para laki-laki?

3. ibra - September 2, 2007

saya tidak tahu apa betul batas-batas untuk perempuan dalam paradigma “padang pasir” berawal dan berjalan seperti pikiran anda, pak gun….
setahu saya batas-batas itu justru merupakan upaya menghormati dan melindungi perempuan…
saya tidak tahu juga.
tapi jangan-jangan anda yang salah memahami itu…

4. Guyonae - April 3, 2008

@ibra
Mungkin juga anda salah memahami Catping…dan saya juga…
Makanya GM menulis “Saya tak tahu, kenapa dari sekitar gurun pasir Tuhan bertitah agar perempuan diperlakukan demikian” dan diakhir kalimat GM menulis “Siapa tahu kita telah berubah, dan…..”. Sikap yang bagus untuk kita semua🙂

5. Widdi - April 3, 2008

Siapa bilang Tuhan bertitah cuma buat sekitaran padang pasir?
Maaf sebelumnya..Apakah teritori Tuhan hanya sekitaran padang pasir? Cari tau dulu dengan mendetil tentang titah tuhan tsb, baru kita bisa bicara dan berpendapat dgn lebih objektif.
@Guyonae : Jangan terlalu terpukau dengan bahasa dan permainan kata…

6. Guyonae - April 4, 2008

@Widdi
Maaf saya tak merasa terpukau dengan permainan kata dan saya tidak lagi bermain dengan kata-kata mbak (mending maen PS dah)😀
Cuma menunjukkan ada keragu-raguan yang menjadi ciri khas caping…dan itu bagus menurut saya pribadi. Tidak mandek. Saya bisa salah, anda juga, GM juga…..

7. antarix temennya oBelix - April 6, 2008

Saya juga ‘bertanya’ ketika wanita2 di Jawa yang terbiasa dengan ‘kemben’-pun ternyata ‘tidak menimbulkan masalah berarti pada masanya’, juga wanita2 di Papua yang bahkan memakai pakaian yg sangat minim (kalau saya, mgkin akan langsung masuk angin:D), mereka juga bergaul dan bekerja keras bersama dg para lelaki. Itu membuktikan bahwa kulit (=& juga rambut) perempuan tidak perlu ditakuti.
So, saya lebih ‘meyakini’ bahwa titah Tuhan mutlak bukan hanya utk teritori padang pasir, Tuhan sudah merencanakan dengan sangat ‘teliti’ bahwa titahnya dapat diimplementasikan bagi seluruuuuuh mahlukNya, tentunya tidak hanya dengan ‘persepsi padang pasir dan pada saat itu’.

8. melao - September 28, 2008

perempuan itu bukan musuh.. begitu pula tubuhnya…….

9. Guam - Desember 9, 2009

LOL… iya bener – Island of Guam.

10. sunflower - Desember 9, 2009

perempuan bumi – laki2 angkasa.
perempuan tubuh – laki2 fikiran

11. anung - September 24, 2010

perempuan itu berharga karena itu perlu dilindungi,karena itu mereka ditempatkan di rumah. coba lihat hsil yang diinginkan para pejuang emansipasi sekarang ini,lihatlah. dengan kluarnya wanita dan bercampur baur dng pria apakah itu mengangkat derajat wanita dan melindungi mereka ?coba lihat iklan2 apa aja, wanita dikomersialisasikan dengan sangat “murah”,di usahakan bagaimana menarik uang sebanyak mungkin dengan mengumbar aurat wanita sepuas-puasnya. apakah ini yang ingin kalian prjuangkan wahai para pejuang emansipasi?

12. tuin - Mei 7, 2011

bestel je zant bjij de $$#%#%mooiste zandbetellen

13. Godfrey Gregory - Juni 13, 2011

I think this is one of the most significant information personally. And i’m pleased reading your article. But should memor on few general things, The site style is fantastic, the articles is actually nice: D. Great job, cheers


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: