jump to navigation

Ayaan Oktober 2, 2006

Posted by anick in Agama, All Posts, Elegi, Fundamentalisme, Identitas, Islam, Kekerasan, Kisah, Perempuan, Politik, Tokoh.
4 comments

Ayaan memulai pemberontakannya di sebuah gedung bioskop. Ketika itu ia tinggal sebagai anak keluarga pengungsi di Kenya di akhir 1980-an.

Pada usia remaja itu ia jatuh cinta kepada seorang pemuda yang ia beri nama rahasia “Yussuf”. Bagi keluarga Ayaan, hubungan itu salah. Pacaran terlarang bagi tiap gadis Muslimah.

Maka di dalam gelap di depan layar itulah Ayaan menemukan jalan bagaimana bisa dekat dengan “Yussuf”. Mereka bersentuhan tangan. Tapi hatinya berdebar keras oleh gairah dan rasa bersalah. Sementara itu, di depan mereka A Secret Admirer – sebuah komedi Hollywood — diputar, dan mereka melihat nun di sebuah dunia lain, anak-anak muda berciuman tanpa takut.

Ayaan bukannya tak datang dari sebuah keluarga terpelajar. Ayahnya, Hirsi Magan Isse, ahli bahasa yang pernah belajar di AS. Ia seorang aktivis. Somalia berada di bawah kediktaturan Mohammad Said Barre, dan Hirsi melawan. Ia dipenjarakan. Ketika itu Ayyan lahir. Keluarga itu pun berpindah-pindah, ke Nairobi, Saudi Arabia, Kenya, dalam pengungsian yang panjang dan lewat perubahaan yang tak selamanya terduga.

Anak gadis itu pernah duduk di sebuah sekolah Islam. Seorang gurunya mengilhaminya untuk menutup brukut tubuhnya dari ubun sampai ke kaki. Tapi kemudian nasib membawanya ke Belanda, menjadikannya seorang yang menuding Islam sebagai penyebab pikiran terbelenggu dan petrempuan tertindas – sebuah perubahan yang benar-benar radikal. Sebuah konfronasi yang sengit..

Di awal November 2004 konfrontasi ini mencapai klimaksnya (bukan akhirnya) pada pembunuhan di sebuah jalan di Amsterdam: Theo van Gogh ditembak dan disembelih. Dalam Murder in Amsterdam (terbitan The Penguin Press, New York, 2006), Ian Buruma dengan prosa yang cerah dan kepekaan akan nuansa dan hal-hal pelik dalam konfrontasi itu, menampilkan sosok Ayaan dan mereka yang membencinya – para pelaku dalam drama Eropa kini, dengan dilema, ketakutan, rasa curiga dan benci, juga hipokrisi ketika di benua yang pernah bangga akan Pencarahan itu terhenyak, ketika ternyata ide tentang toleransi dan ke-universal-an Aufklärung tampak gagap dan kacau menemui realitas baru.

Kita ingat pembunuhan itu. Pembuat film, pengasuh acara debat talk-show yang bermulut kasar itu, Theo Van Gogh, dihabisi nyawanya dengan buas oleh seorang pemuda keturunan Maroko, Mohammad Bouyeri. Di pisau kecil yang tertancap di dada korbannya, Bouyeri menyematkan sepucuk statemen buat Ayaan Hirsri.

Ayaan, disebut sebagai “serdadu iblis”, adalah sasaran berikutnya: ia telah meninggalkan agamanya, dan kemudian bersama Van Gogh membuat film 12 menit berjudul Submission yang memang dimaksudkan untuk menunjukkan buruknya Islam bagi perempuan.

Ada apa dengan Ayaan? Apa yang dimauinya?

Dalam kisah yang dicatat Buruma, konfrontasi Ayaan berjalan setapak demi setapak sejak di bioskop di Kenya itu. Ia yang pernah tergerak oleh gagasan “Ikhwanul Muslimin” untuk mengubah dunia jadi “Islam” adalah gadis yang pada akhirnya merasakan, betapa atas nama “Islam”, perempuan ditampik: perempuan bukan sebagai sesama manusia yang berhak. Pada usia 22, Ayaan diperintah jadi isteri seorang sepupu yang hidup di Kanada. Ia dikirim ke sana. Tapi ketika di perjalanan itu ia singgah di Frankfurt, ia melarikan diri.

Dibantu sebuah organisasi Belanda yang bekerja untuk menolong para imigran, Ayaan masuk ke negeri itu – berpura-pura jadi pengungsi dari perang saudara di Somalia, dan memakai nama yang diubah: “Ayaan Hirsi Ali”. Bahwa ia berniat keras untuk jadi bagian negeri angkatnya tampak dari perjalanan hidupnya: pekerja pabrik itu akhrinya jadi anggota Parlemen. Tentu ia tak menyangka ia akhirnya akan diusir, ketika Belanda makin ketakutan untuk menerima para penetap dari dunia lain.

Ayaan yakin, di negeri tempat Spinoza lahir, — filosof besar yang di pertengahan abad ke-17 diusir para rabbi Yahudi karena dianggap murtad — seorang pembangkang iman akan punya tempat.

Pembangkang, itulah dia sejak membaca “Manifesto Atheis” dari tangan pacarnya sampai dengan ketika ia jadi wakil Partai VVD yang ingin menjaga “nilai-nilai Eropa” dari ancaman “asing”, dan “asing” kali ini berarti “Islam” – meskipun Islam, seperti dikatakan sarjana Prancis Olivier Roy, kini juga sebuah agama Eropa.

Tentu saja bagi Ayaan Islam bukan “asing”, tapi tetap harus ditolak. “Yang dibutuhkan kebudayaan Islam”, begitu tulis Ayaan, “adalah buku, puisi, lakon dan lagu… yang mengejek aturan agama”. Ia ingin berperan sebagai Voltaire yang di abad ke-18 menghajar Gereja Katolik. Eropa bisa bangkit karena meninggalkan sebuah keyakinan yang menyempitkan manusia dan masuk ke pemikiran yang universal, pemikiran “Pencerahan”.

Bagi Ayaan, Islam terus menerus menampik yang universal itu. Ia tak sabar menyaksikan penyempitan diri itu kian keras dan kian menteror. Yang tak ia lihat ialah bahwa kaum “Islamis” juga, seperti dikemukakan Buruma, hendak memperjuangkan sesuatu yang bukan ”Pencerahan”, tapi juga universal: ajaran yang satu untuk siapa saja di mana saja kapan saja.

Tapi yang-universal sering berakhir seperti rumus ilmu pasti: tak merasa bermula dari yang-partikular dan sebab itu menista yang-partikular. Acap dilupakan, baik ide-ide Pencarahan maupun Islam sebenarnya berangkat dari sebuah sudut bumi di suatu masa. Meskipun keduanya bersemangat hendak mewakili nilai-nilai yang universal — sebuah semangat yang mulia tapi tak kunjung terpenuhi, dan sebab itu sebenarnya harus tiba di kerendahan hati.

Tragedi kita ialah bahwa baik kaum “fundamentalis Pencerahan” dan “fundamentalis agama” tak mengenal kerendahan hati itu. Akibatnya ialah penyingkiran, dengan darah atau bukan. Dua tahun setelah Van Gogh dibunuh, Ayaan diusir dari Belanda oleh pemerintah yang dulu didukungnya. Ia didakwa memalsu alasan yang dipakainya ketika ia masuk jadi imigran.

~Edited version of Majalah Tempo Edisi. 32/XXXV/02 – 8 Oktober 2006~