jump to navigation

Korupsi Desember 18, 2006

Posted by anick in All Posts, Kisah, Politik.
trackback

KORUPSI adalah korupsi karena sebuah garis batas. Kita ingat Si Mamad. Ia mengambil setumpuk kertas milik kantor yang kemudian dijualnya—dan ia merasa bersalah. Rasa bersalah itu begitu kencang mengganggu pegawai kecil ini, hingga ia menggelikan dan sekaligus mengenaskan, dan sebab itulah film Sjumandjaja dari tahun 1973 ini, yang diolah dari sebuah cerita Anton Chekov pada abad ke-19, jadi satu kisah menarik. Ia tak memaparkan kejahatan, melainkan kesadaran. Mamad, dengan baju dinasnya yang kuno dan kereta anginnya yang tua, sadar bahwa ada sebuah garis batas yang telah dirusaknya, dan tindak itu adalah korupsi.

Tapi dari mana datangnya garis itu, sebenarnya?

Di permukaan, ia bermula dari perbedaan antara konsep “milik sendiri” dan “milik orang banyak”. Dalam bentuknya yang terburuk, milik “orang banyak” itu adalah milik “publik”. Seorang koruptor bukan seorang pencopet yang mencuri dompet milik orang seorang. Namun benarkah Si Mamad (dalam cerita aslinya ia bekerja di sebuah kementerian) merasa bersalah karena menyadari ia korupsi?

Mungkin tidak. Ada pendapat, pengertian “publik” adalah bagian dari kesadaran modern. Di dunia tradisional, demikian dikatakan, tak ada garis batas antara yang “negara” dan yang “pribadi”, sejajar dengan tak ada garis batas antara yang “publik” dan yang bukan. Ketika Bupati Lebak dalam novel Max Havelaar meminta rakyat memberikan persembahan bagi dirinya, Havelaar, asisten residen Belanda itu, mendakwanya “korupsi”. Tapi benarkah? Ada yang membela bahwa sang Bupati (seperti Raja Louis XIV yang menyatakan l’état c’est moi) memang sejak dulu menganggap Lebak, juga rakyat dan upeti mereka, adalah bagian dari miliknya, bahkan dirinya.

Dengan kata lain, Havelaar yang berapi-api itu memakai sebuah dalil “modern” ke sebuah dunia “pra-modern”. Ia meleset.

Namun saya mengerti kenapa Si Mamad merasa bersalah dan Havelaar marah. Bukan sebab kesadaran “modern” rasanya, tapi karena di situ ada sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam, yakni soal “adil” dan “tak adil”—ihwal yang telah merisaukan manusia sejak sebelum datang negara modern dengan legislasinya. Saya kira dari situlah lahirnya garis batas yang saya sebut tadi.

Korupsi dianggap salah karena ia “tak adil”: perbuatan itu menghasilkan sesuatu yang berlebihan—uang, kekuasaan, nama baik, juga kekejaman—yang secara berlebihan pula merugikan orang lain yang sedang ada dalam status dan posisi lain. Maka bisa dimengerti kenapa bukan cuma Havelaar yang marah. Seperti ditulis sejarawan Sartono Kartodirdjo dalam karyanya yang terkenal tentang pemberontakan petani Banten pada abad ke-19, orang-orang udik itu pun melawan, seraya berharap datangnya “Ratu Adil”.

Angan-angan atau bukan, ratu yang adil tak selamanya dianggap berasal dari seberang samudra dongeng. Dulu saya pernah membaca satu fragmen sejarah Jawa Tengah abad ke-7, tentang Ratu Sima yang melarang orang mengganggu barang yang bukan miliknya. Syahdan, suatu hari seorang pangeran melihat sekantong emas di jalan. Ia menyepaknya. Baginda Ratu pun menghukum anak kandungnya itu. Dongeng atau bukan dongeng, cerita ini mencerminkan hasrat untuk yang “adil”: di sana hukum berlaku bagi siapa saja, dan ada penangkalan terhadap “nepotisme”—biarpun ini abad ke-7.

Kemudian lahir negara modern. Juga di Indonesia. Negara modern sesungguhnya adalah sebuah bangunan yang berusaha agar soal “adil” dan “tak adil” tidak diputuskan hanya karena kebetulan dan karena nasib. Seperti dibayangkan Hegel (dari Eropa yang dirundung perang dan persengketaan), “Negara” (dieja dengan “N”) berarti Negara Rasional, yang mengelola kebersamaan tanpa anarki ataupun tirani. Di sana hukum dipatuhi sebagai pengejawantahan akal budi yang universal, bukan karena dorongan nafsu dan kepentingan tertentu. Di sana birokrasi digambarkan sebagai struktur yang ajek dan mengikuti nalar.

Marx memang kemudian menunjukkan bahwa Hegel hanya menutup-nutupi fiil yang buruk. Bagi Marx, “Negara” adalah sesuatu yang menindas. Baru ketika tak ada lagi kelas sosial yang punya kebutuhan untuk represif, Negara akan lingsir. Tapi seperti Hegel, Marx membayangkan Negara sebagai suatu kehadiran, utuh, kompak, bergeming—seakan-akan tak akan pernah terjadi saling terobos antara yang “Negara” dan yang “bukan-Negara”, antara yang “publik” dan yang “privat”. Hegel dan Marx tak membayangkan Negara sebagai sesuatu yang tak kunjung selesai.

Seandainya mereka melihat Indonesia sekarang….

Di negeri ini, Negara adalah sebuah paradoks: ia represif dan sekaligus rentan, cerewet dan sekaligus ceroboh. Polisi yang dengan rajin menyetop sopir yang dianggap melanggar aturan Negara adalah juga polisi yang siap menerima sogok. Birokrasi yang dengan produktif mengeluarkan regulasi adalah juga birokrasi yang mengharap agar peraturan pemerintah sering dilanggar, dan dengan itu si pelanggar akan membayar.

Dengan kata lain, korupsi bukanlah tanda bahwa Negara kuat dan serakah. Korupsi adalah sebuah privatisasi—tapi yang selingkuh. Kekuasaan sebagai amanat publik telah diperdagangkan sebagai milik pribadi, dan akibatnya ia hanya merepotkan, tapi tanpa kewibawaan. Keadilan yang dikelola oleh kejaksaan dan kehakiman bisa dibeli dengan harga tertentu, maka ia berperan tapi tak menjadi keadilan. Kekerasan yang dimonopoli Negara, dan dipegang oleh polisi dan tentara, bisa jadi komoditas seperti jasa tukang pijat, ketika seorang marinir bisa disewa untuk membunuh dan seorang anggota Kopassus bisa dibayar untuk jadi bodyguard.

Berangsur-angsur, korupsi, yang melintasi sebuah garis batas, berakhir jadi cerita hantu. Hantu itu bernama “Negara Kesatuan Republik Indonesia”—sesuatu yang sebenarnya bukan 100 persen “Negara”, bukan pula “kesatuan”, sesuatu antara ada dan tiada, seram dan tak menentu.

~Majalah Tempo, Edisi. 34/XXXII/20 – 26 Oktober 2003~

Catatan:

Minggu ini Caping tak nampak batang hidungnya di Majalah Tempo, entah kenapa. Kesalahan Tempo adalah masih mencantumkan “Catatan Pinggir” dalam daftar isinya. Tulisan ini adalah pemuatan ulang dari Caping Oktober 2003, untuk mengisi kekosongan. Karena isu korupsi sedang ramai sekarang ini, maka saya pilih Caping ini sebagai pengganti.

Iklan

Komentar»

1. swanvri - Desember 22, 2006

state yg sejatinya jadi the guard of nation malah menjadi master of nation…….., korup lagi !!!!!:((

2. Dono - Desember 27, 2006

Ass.wr.wb,
memang negri kita ini amat kaya dgn hasil buminya, mengakibatkan setiap pemimpin2 terpedaya olehnya. Perhatikan saja adakah mereka yg beres?
Seolah2 negri ini kepunyaan pribadi bukan kepunyaan bersama.
Mana hak kelahiran dan asasi bangsa indonesia?
Terlalu banyak burokratis sehingga kemajuanpun terhambat.
Kenapa kok kita pada banyak suka kerja dipemerintah?
Power of egoism.Ketidakdewasaan inilah yg menghancurkan hak asasi bangsa indonesia tercinta. wassalam.

3. kuyazr - Februari 20, 2007

mana yang bisa dicontoh untuk dijadikan prototipe manusia indonesia…tidak ada! mungkin korupsi adalah prototipenya, ya sudah…mari kita korupsi bersama-sama, haha!

4. azmi - Februari 20, 2007

mungkin klo tdk ada korupsi tdk ada manusia yg kaya

munafik stiap insan manusia yg blg dirinya suci

tdk ada manusia yg tdk prnh KORUPSI

korupsi mnjd makanan kta sehari2

korupsi bgaikan dunia fantasi yg menghanyutkan

yg mmbw kta kdlm lembah……

korupsi itu spt mainan

5. abu - Maret 18, 2007

terimakasih atas informasinya…
semoga kita bisa bareng2 belajar untuk tidak menjadi manusia2 yang koruptif

6. an-Nadzif - April 22, 2007

“adil” sebuah kata kuno. Ilustrasi kuno. Tapi betapa bahkan batu-batu pun merindukan eksistensinya. seandainya mereka diberi kesempatan, satu menit saja, untuk mengekspresikan kegelisahannya itu. entah apa yang akan mengalir dari jantung manusia. mungkin bukan lagi darah, ataupun kekecewaan. karena saya yakin, kekecewaan dan penyesalan, dua kata ini, tak akan cukup representatif untuk mengungkapkan betapa selama adanya Indonesia, tak sedetikpun alam, rakyat, dan apa yang bernama indonesia ini merasakan keadilan.

atau bahkan kita sudah tak dapat lagi mengeja antara adil dan tak adil. karena untuk antre saja, kita sering tak sabar untuk menginjak “garis batas”………….

7. zaki - April 23, 2007

Begitulah Indonesia.

8. heriyanto - Mei 22, 2007

seandainya saja tidak ada korupsi barangkali indonesia menjadi negara dengan kekayaan yang luar biasa dan rakyat indonesia akan sejahtera. namun kita sudah terlanjur hidup di negara yang sangat permisif dengan korupsi. lantas apa yang bisa dilakukan? sepertinya kita perlu meniru cina yang berani menghukum mati para koruptor! digantung di tengah kota dan dipertontonkan di depan umum. supaya mereka yang mau koruspi takut.
ok bos!

9. adi - Juli 23, 2007

Bukan..bukan begitulah Indonesia…
Indonesia negara kita tercinta ini seharusnya bisa lebih baik dari sekarang ini…kita punya segalanya…laut yang luas, bhan tambang beraneka ragam, keindahan alam….
tapi kenapa kita jadi seperti ini?? salah satunya karena korupsi…(atau mungkin penyebab utamanya karena korupsi)
jangan2 ni ya…ini cuman kira2 aja…
jangan2…semua akar permasalahan negeri ini,jika dirunut ke belakang, asal muasalnya dari korupsi…
kapal yang tenggelam, kereta api yang anjlok, pesawat hilang, minyak goreng langka, susu yang mahal…ujung2 nya ternyata korup dan suap….
jadi kita musti liat korupsi itu sebagai musuh bersama…
korupsi itu bukanlah budaya kita…kita musti tolak itu…
korupsi itu membunuh bangsa….ayo bareng2 bangkit lawan korupsi..
tolak suap….
jangan terima gratifikasi…

salam

10. S. Ikbal - Desember 25, 2008

gimana nggak korupsi!! lihat dialog komentar di sini sogok menyogok jabatan http://www.benss.co.cc/tentang-benss/76-riwayat-pekerjaan

11. redaksi - Januari 7, 2009

PESAN DARI SURGA BUAT PARA KORUPTOR

Engkau menuliskan senandung nyanyianmu di atas wajah suci kaummu; lalu engkau membiusku dan perlahan-lahan merampas hartaku… seperti itulah yang dilakukan para koruptor…

Demikianlah, negara ku kini menduduki peringakat 3 negara terkorup se-Asia Tenggara, dan aku lemas, lunglai tak berdaya di tengah melimpahnya kekayaan kita. Kalbuku mengerang kesakitan, ku meraung kepedihan menahan luka gores sayatan yang menggores batin ini oleh perselingkuhan orang kepercayaan.

Dulu dalam fahamku, kau ku pilih karena kau orang yang tepat di posisimu, kau pengelola managemen dasyat dari segala kehebatan negeriku. Maka itu ku serahkan tanpa syarat semua kepadamu. Dengan maksud kita bersama-sama menyeberangi tepian bahagia menjadi bangsa bermartabat.

Tapi kini, rencana janjimu adalah angin lalu, semua ucapan manis mu kau buang di ngarai hampa. Ketahuilah semua kepalsuan yang kau ucapkan, aku tak percaya lagi!! Aku tidak ingin bersama mu di pemilu 2009 mendatang.

Semalam dua sebelum anggota KPK datang menjemput, aku mempersiapkan sepatah dua patah untuk kusampaikan kepadamu, namun engakau persiapan hanyalah persiapan, aku tak bisa melepas siratan hati karena penjagaan ketat garda polisi.

Sekarang di antara persidangan hati sekalian, aku katakan kepadamu ” aku akan boikot pemilu tgl 5 april 2009, kami akan golput!!!” agar kau merasakan seperti apa luka yang kau berikan.

sumber : http://www.asyiknyaduniakita.blogspot.com

12. syafii ali - Juli 1, 2011

BENAR-BENAR “KLEPTOKRASI” YA BANG…..

13. kota salju - Juli 2, 2011

kita ini paradoks, polisi yang menghentikan para pelanggar lalu lintas adalah juga polisi yang rajin menerima suap, birokrasi yang menciptakan regulasi adalah juga birokrasi yang ingin regulasi itu dilanggar untuk sebuah transaksi hitam.

HUFFFFFFTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

ANTARA ADA DAN TIADA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: