jump to navigation

1:87 Desember 20, 2006

Posted by anick in All Quotes, Book 1.
trackback

…kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa, pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. Kematian dengan demikian diberi tafsiran bukan sebagai lawan dari kehidupan, melainkan kelanjutannya. Di ujung sana Tuhan lebih tahu…

~Catatan Pinggir 1, h. 87~

disclaimer

Komentar»

1. Pendeta Budiman - Desember 25, 2006

4 desember 2006, Axel (putera sulungku yang berusia 6 tahun) menghantarkanku pada tahbisanku. 7 desember 2006, aku, istriku dan puteri kecilku menghantarkannya pada keabadiannya. Kehadiran Axel melahirkan narasi. kali ini, kami menulis lagi narasi tentang ketidakhadirannya. “Aku berkabung untuk keabadian, aku berkabung untuk ia yang dalam dirinya kutanam-dan-kupupuk keabadian”. Helene Cixous, Deluge. Kutipan ini aku dapat dari Caping. Terima kasih mas Goen! Kami diingatkan lagi tentang bagaimana menghadapi yang tidak mungkin dalam hidup ini. salut untuk Mas Goen! Seandainya, aku bisa bertemu dengannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: