jump to navigation

Barbar Januari 8, 2007

Posted by anick in Amerika, Demokrasi, Elegi, Fasisme, Kisah, Tokoh.
trackback

Tubuh Saddam Hussein terayun ke bawah dan lehernya langsung tercekik tali gantungan—dan kita melihatnya di sebuah rekaman video yang melukiskan kembali saat dramatis itu, dan kita mungkin berbisik: seorang diktator mati di sebuah ruang pengap, sebuah demokrasi lahir.

Tapi apa sebenarnya yang bisa kita katakan tentang demokrasi?

Di Eropa dan Amerika, orang-orang yang beradab merasa ngeri dan mual dan berkata: ”Ah, barbarisme negeri Arab!” dan mereka lupa bahwa demokrasi yang mereka kenal juga dimulai dengan sebuah pertunjukan leher raja yang putus. Charles Monnet menggambar adegan penting dalam Revolusi Prancis itu, disebutnya Journée du 21 Janvier, dan Isidore-Stanislas Helman kemudian membuat karya-cetaknya. Gambar itu beredar luas. Di sana bisa kita lihat bagaimana kepala Raja Louis XVI yang berlumuran darah tercengkeram di tangan algojonya, setelah dipungut dari dasar guillotine, untuk dipertontonkan ke khalayak ramai yang hadir di lapangan eksekusi itu.

Pada saat seperti itu, kepala sang raja tampak bersih, tak suci, tak berpengaruh, juga kepala Saddam Hussein di atas tulang leher yang patah. Kekuasaan, betapapun besarnya, tak bisa memberi dirinya sendiri garansi untuk tak tersentuh najis dan terancam kejatuhan. Sejak Revolusi Prancis, orang sadar bahwa jika si berkuasa bisa diibaratkan sebagai kepala, sebuah masyarakat perlu bersiap untuk kecewa.

Demokrasi berangkat dari prinsip itu: demokrasi adalah sebuah sistem yang selalu harus mencari cara bagaimana sebuah tubuh komunitas bisa bertahan tanpa sebuah kepala yang pada suatu hari akan copot.

Mencari berarti juga menemukan. Maka lahir pikiran-pikiran politik yang tajam, media massa yang tak terkekang, pasar yang sibuk, ekspresi yang bebas di pelbagai lapangan hidup. Risalah ilmiah, laporan jurnalistik, karya sastra yang menyampaikan kesunyian atau protes, ilmu yang menemu-ciptakan hal baru dan menangkis pengetahuan lama—semua itu bermula dari kesadaran, mungkin juga keresahan, bahwa sang penghulu hanya mampir dan sang penentu akan selalu dipenggal.

Demokrasi dengan demikian sebuah ruang pernyataan peradaban. Tapi mau tak mau ia kadang kala terciprat darah. Kalimat termasyhur Walter Benjamin berlaku persis di sini:

”Tak ada dokumen peradaban (atau, dalam versi Jerman, ”Kultur”) yang tak juga merupakan sebuah dokumen barbarisme”.

Yang hendak diingatkan Benjamin adalah perlunya kita mengakui bahwa jarak antara peradaban dan barbarisme sebetulnya tak jauh. Bukankah kemajuan yang menakjubkan di Eropa di bawah kapitalisme sebenarnya mengandung sesuatu yang merisaukan—yakni pengisapan kaum buruh—seperti halnya megahnya piramida para Firaun dibangun dengan modal penderitaan para budak di tanah Mesir?

Kebudayaan yang menyembunyikan apa yang tak beradab dalam dirinya—dengan tampil sebagai scene yang tak mengakui diri juga sebagai ob-scene—pada akhirnya memberikan peluang bagi kebiadaban baru.

Kebiadaban baru itulah yang antara lain dilakukan kekuasaan Nazi di Jerman. Naziisme memuja peradaban Yunani kuno seakan-akan dirinya kelanjutan dari sejarah gemilang negeri di selatan itu. Tapi sebagaimana orang Yunani pada masa silam membuat kategori ”barbar” bagi siapa saja yang tak datang dari kalangan mereka—sebagai usaha menegakkan dan meneguhkan identitas ”Yunani”—di Jerman penguasa Nazi melahirkan ide tentang makhluk yang ”bukan-Arya” untuk menggariskan dan menegaskan sifat ”Arya” dalam bangsa Jerman. Seperti halnya Herodotus menggambarkan orang-orang ”barbar” sebagai manusia yang ”tak dapat berpikir rasional”, yang dikuasai ”syaitan” dan ”tak mampu hidup menurut hukum yang tertulis dan hanya secara setengah hati membiarkan raja mereka berkuasa”, juga Hitler menganggap orang Yahudi dan Slavia dan Gitana sebagai kotoran yang perlu dibasmi.

Yang ”barbar” selamanya hanya mereka yang di luar, bukan diri kita. Ilusi itu—atau mungkin juga kemunafikan—tidak baru, juga ketika tubuh Saddam Hussein terayun ke bawah dan lehernya tercekik tali gantungan. Beberapa saat sebelum Saddam menjalani hukuman mati—dengan sikap yang tampak berani—sebuah bisik terdengar di antara yang hadir di ruang sempit itu: ”Moktada, Moktada….” Nama pemimpin kaum Syiah itu disebut, seperti untuk mengingatkan Saddam sesaat sebelum ia tercekik mati: hari itu orang Syiah ingin menegaskan ingatan bahwa Saddam pernah melakukan kejahatan besar kepada mereka.

Yang jadi problem ialah bagaimana ingatan akan berperan selanjutnya. Sering kita dengar hukum harus ditegakkan, diktator macam Saddam harus digantung, sebab, kalau tidak, peradaban akan mati. Tapi suara di kamar eksekusi itu mengisyaratkan bahwa hukum itu mengandung sesuatu yang biasanya tak diakui sebagai tanda peradaban: pembalasan dendam.

Sebenarnya tak ada salahnya orang membalas dendam. Tapi bagaimana ia memutuskan sebuah pembalasan yang ”setimpal”? Dalam Alkitab, ada lex talionis yang disebut dalam Eksodus 21: 23-27: ”satu mata dibalas satu mata, sebentuk gigi dibalas dengan sebentuk gigi….” Seperti halnya Hukum Hammurabi yang dipahatkan ke sebuah tiang batu lebih dari 1.700 tahun sebelum Masehi, doktrin Alkitab bukanlah sekadar pengakuan akan adanya dendam, tapi sebuah aturan bagaimana mengelola dendam. Tanpa manajemen pembalasan itu, satu nyawa yang hilang akan bisa dibalas dengan mencabut 1.000 nyawa—praktis tanpa batas yang pasti.

Kini satu nyawa tercabut—leher Saddam Hussein tercekik tali gantungan—tapi setimpalkah hukuman itu?

Mustahil untuk menjawabnya. Kebiadaban ada di mana-mana dan tak bisa dibandingkan. Kita pun akhirnya tahu, ada yang tak pasti dan tak semena-mena di balik tiap penegakan hukum. Ada barbarisme di tiap kehendak ”keadilan”. Ada kebutuhan untuk mengakui bahwa lembaga-lembaga peradaban, termasuk mahkamah agung sekalipun, selalu daif, selalu berdosa.

~Majalah Tempo, Edisi. 46/XXXV/08 – 14 Januari 2007~

Iklan

Komentar»

1. Syair Maulana - Januari 9, 2007

Memang selalu ada ironi dari sebuah kemasyhuran. Juga pada setiap yang agung dan mempesona. Disana ada yang miris dan menorehkan luka. Peradaban -yang suci;yang menawan- digamit dengan semangat barbarian – yang najis;yang muram dan kejam-.Peradaban yang ditegakkan dengan semangat barbarian adalah altar pemujaan yg belepotan najis. Saddam yg tercekik lehernya di tiang gantungan, mungkin sebuah pesan; betapa barbar cara “barat” membangun sebuah “peradaban”.

2. nurfath - Januari 9, 2007

Saya menangis membaca tulisan GM ini, membayangkan Tubuh Saddam Hussein yang lehernya tercekik di tali gantungan adalah orang terdekat kita yang mati sia – sia.

3. Kang Adhi - Januari 9, 2007

Ada barbarisme di tiap kehendak ”keadilan”.

Saya kagumi GM, kecuali kalimat ini. Tidak setiap kehendak keadilan mesti diawali dengan barbarisme, setidaknya itu yang saya tangkap dari pemikiran Tariq Ramadan, atau gagasan-gagasan pokok Dalai Lama. Kalau toh sejarah belum pernah mencatat cara itu, kita bisa memulainya.

4. swanvri - Januari 11, 2007

😕 entahlah, hidup dalam semesta bahasa seakan kepala ditodongpitol dibarengi teriakan “harta atau nyawa !”. sama-sama celaka :((

5. damai - Januari 15, 2007

Mana yang lebih berharga seorang saddam dengan puluhan ribu rakyat Irak yang dibantai oleh serdadu AS atau ratusan orang kurdi yang dibunuh oleh Saddam?
Kalau mau bicara tentang kemanusiaan, kenapa baru setelah saddam digantung kita baru merasa ada barbarisme di timteng?
Tanpa sadar Pak GM telah terjebak dalam dehumanisasi pandangan terhadap konflik Irak. Dan tragisnya lagi adalah jika ini merupakan indikasi tentang cara kita memandang kemanusiaan. Di Aceh dan Timtim juga ada orang yang dipenggal dan diarak oleh serdadu dan dimakan jantungnya setelah di culik dirumah malam2 tanpa ada pengadilan (seperti dalam film yang di sensor oleh panitia sebuah festival baru2 ini). Dan itu sudah berlangsung sekian lma dengan sistematis tanpa ada sorotan sama sekali. Semua bersikap dingin dan pura2 tidak tahu.
Inilah bukti tentang bangsa yang penuh kepura2an. Semut diseberang lautan nampak tapi gajah dipelupuk mata tak tampak.

6. lawrance - Januari 20, 2007

timur tengah memang maish barbar… selalu saja terbagi bagi dalam identitas tertentu…. syiahlah, sunnilah…. sedikit2 bertikai dan ingin menguasai ala abad ke-7…

sistem disanalah yang mengakibatkan barbarisme… tidak adanya pengakuan terhadap kemanusiaan membuat manusia di sana penuh dengan prejudice….

jadi jangan salahkan ketika segelintir penguasa negara adidaya yang berotak barbar ikut memancing di air keruh di wilayah yang jiwa dan hatinya penuh dengan pikiran barbar, kebencian, dan keinginan untuk mendominasi….

7. kuyazr - Maret 2, 2007

bagaimana kalau bukan Saddam yang digantung melainkan kita sendiri? Apa yang akan saudara sekalian lakukan? berdoa?

8. amz - Mei 21, 2007

sedikit kritik untuk bung GM, tentang “pyramid dibangun diatas penderitaan para budak”, saya rasa kurang sesuai. dalam penelitian terbaru Dr. Zahi Hawass yang meneliti pyramid Giza dimesir, dalam film dokumenternya “into the great pyramid” dinyatakan bahwa “pyramid dibangun diatas cinta”. didalam film tersebut begitu jelas digambarkan tentang cara pembangunan pyramid oleh para pekerja, rakyat biasa, bukannya para budak. begitu jelas juga digambarkan kehidupan para pekerja selama masa pembangunan piramid giza selama 30 tahun, tentang cara hidup pekerja, makanan mereka yang berkualitas, tempat makan mereka, tentang rumah2 mereka, keluarga dan anak2 mereka yang ambil bagian dalam suksesnya pembangunan pyramid dengan penyediaan konsumsi dan lain2. jika melihat film tersebut, tanpa ragu orang akan mengatakan bahwa pyramid dibangun diatas cinta dan rasa hormat yang besar kepada raja, bukan dengan penderitaan dan paksaan dari raja.

9. sulaiman - Desember 3, 2008

barbarisme negeri Arab? mungkin ada benarnya jika orang berkata bangsa yang sangat munafik, bagaimana dangan bangsa kita?

10. BAR BAR COMMUNITY - April 7, 2011

Budaya saling menghargai inilah yang seharusnya lebih dikedepankan dan semua bangsa dan negara pasti punya masa lalu baik maupun tidak baik tergantung diri kita sendiri .

Jadi tidak ada penghargaan yang ada adalah rasa saling menghargai, rasa ini akan timbul jika tidak ada harga artinya semua didasarkan pada kesadaran diri sendiri.

11. al Husna - Mei 2, 2011

setiap kali berbicara tentang barbar, mengapa kita selalu terbayang dengan sesuatu atau bangsa yang kejam, sadis, ga berperikemanusiaan, otak kita memang benar-benar telah dicuci oleh eropa, padahal kalau kita mau melihat kebelakang, siapa sebenarnya barbar itu, barbar itu adalah pejuang muslim yang berhasil menaklukkan eropa, terutama andalus, eropa menggunakan istilah barbar untuk sesuatu/seseorang yang tidak lagi punya hati karena kebencian mereka terhadap moslem.

12. cheap twelve south bookbook - Januari 5, 2012

There is apparently a lot for me to learn outside of my books. Thanks for your amazing read.

13. woolrich jassen sale - September 13, 2014

Today, I went to the beach with my children. I found a sea shell and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She placed the shell to her ear and screamed. There was a hermit crab inside and it pinched her ear. She never wants to go back! LoL I know this is entirely off topic but I had to tell someone!
woolrich jassen sale http://jsconsultancy.nl/wp-content/themes/woolrichjassen/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: