jump to navigation

Adonis Januari 15, 2007

Posted by anick in Kisah, Sastra, Tokoh.
trackback

Seorang eksil adalah seorang yang ditundung. Ia hidup di luar negerinya sendiri, terusir, seperti puluhan orang Indonesia yang tak bisa pulang setelah 1965 karena paspor mereka dicabut tanpa dipastikan apa alasannya. Seorang tundungan pada dasarnya hidup dalam perpindahan yang belum sampai ke mana pun juga: di dalam dirinya tersemat sebuah negeri yang tak terlupakan namun harus ditinggalkan, sementara itu ia menemukan sebuah negeri lain yang kini jadi alamat tinggal namun bukan sebuah tempat pulang.

Tak mengherankan bila ada yang retak di situ. Seperti ditulis dalam puisi Adonis, yang mengambil kiasan tokoh epos Yunani kuno, Odiseus, pendekar perang yang pulang dari Troya dan menempuh wilayah-wilayah yang ganjil dan mengancam:

Namaku Odiseus
datang dari negeri tanpa batas
dipanggul orang ramai.
Aku sesat di sini, sesat di sana
dengan sajakku
Dan kini aku di sini, cemas dan jadi alum
tak tahu bagaimana tinggal
tak tahu bagaimana pulang

Adonis adalah Ali Ahmad Said, sastrawan yang lahir pada tahun 1930 di Al-Qassabin, dekat kota Lakasia, Suriah. Meskipun ia baru bersekolah ketika berumur 12, anak seorang petani yang juga imam masjid ini sudah belajar menulis dan membaca dari seorang guru desa. Pada 1944 ia masuk sebuah sekolah Prancis di kota Tartus dan lulus pada 1950.

Di masa muda itu kegelisahannya sudah kelihatan: ia menerbitkan kumpulan sajak pertamanya dan ia dipenjara karena pandangan politiknya. Pada 1956 ia meninggalkan tanahairnya dan pindah ke Lebanon bersama istrinya. Sampai lebih 20 tahun ia tinggal dan jadi warga negara di tanah jiran itu, sampai perang saudara pecah dan tentara Israel memasuki Lebanon di tahun 1980-an. Di tahun 1986 Adonis pindah ke Paris.

”Saya akui bila saya dengar kata ’perbatasan’, saya rasakan ia berubah jadi rantai yang berdencing dalam diri saya. Bila saya bayangkan ia dalam citra perang, dalam citra pagar kawat berduri, dan saya lihat bagaimana ia mulur memanjang ke dalam diri dan pikiran orang banyak sebagaimana ia meregang di atas tanah, rasa ngeri mencengkam saya dari segala penjuru.”

Itu kata-katanya di tahun 2001. Pada saat itu ia sudah mengatasi ”rasa ngeri”-nya. Sebab ia menemukan dalam kata ”perbatasan” sesuatu yang lain: ”bukan sebuah tembok atau ujung, melainkan sebuah jendela dan sebuah awal dari jalan lain, pengetahuan lain, pencarian lain, dan ikatan lain”….

Tundungan itu telah berubah jadi tampungan, bahkan kesempatan. Adonis punya argumen untuk itu, sesuatu yang menurut pendapatnya sudah tercantum dalam karya puisi lama Arab, yang menaruh pengertian tanahair bukan dalam kerangka geografis, melainkan dalam kaitannya dengan hakikat kemanusiaan: sebuah tanahair adalah tempat menumbuhkan kehormatan, seperti kata al-Mutanabi. Adonis bahkan mengutip kearifan Kalif keempat, Ali bin Abu Thalib: ”Tak ada negeri yang lebih patut bagimu ketimbang negeri lain. Tanah utama adalah yang melahirkan kamu dengan baik.”

Kutipan itu agak kurang pada tempatnya. Sebab tanah yang ”melahirkan dengan baik” tak sepenuhnya dapat dengan pas ditemukan. Adonis sendiri mengatakan, dalam imajinasi orang Arab ada sebuah wilayah yang tak bisa diketahui; ia ada bahkan dalam negeri yang diketahui dan dihuni. ”Seakan-akan ada dua bagian, yang satu tampak dan yang lain tidak. Yang pertama diperintah oleh institusi, yang kedua oleh imajinasi. Yang terakhir ini kita kenal melalui mimpi, intuisi, imajinasi dan pengharapan, sedemikian rupa hingga ia seolah-olah penuh sesak dengan manusia yang tersembunyi, dalam bentuk jin, malaikat, penenung, pencinta, orang gila, dan petualang seperti Sinbad yang semua mencari yang baharu dan tak lazim.”

Identitas kota yang tak tampak dan terletak di lapis bawah ini seakan-akan berasal ”bukan dari awal atau akar, melainkan dari apa yang akan datang—dari sebuah masa depan yang dicitakannya.” Inilah kota yang mewujudkan ”pintu keluar yang dinamis, eksit dari diri sendiri ke pertemuan dengan sesuatu atau seseorang lain.”

Tampak bahwa sang penyair—sudah tentu ia bagian dari penghuni kota di bawah, bersama pencinta, orang gila dan petualang—merayakan eksit, bukan esensi. Esensi berkait-an dengan apa yang disangka sebagai ”akar” dan ”awal”, masa lalu. Saya kira Adonis termasuk yang menampik esensialisme: ia tak percaya bahwa ada ”sifat Arab” (atau ”sifat Timur”, ”sifat Barat”) yang hakiki, tak berubah, dan dapat dirumuskan. Ia lebih percaya kepada apa yang tak menetap, dan baginya, penderitaan Odiseus—kalaupun terdengar sebagai sesuatu yang pedih—justru sesuatu yang heroik dan dipujikan:

Meski kau pulang, ah, Odiseus
meski kau terbendung ruang,
dan pemandumu punah terbakar
di parasmu yang kehilangan
atau rasa ngerimu yang akrab
kau akan tetap sebuah cerita kelana
kau akan tetap di negeri yang tak berjanji
kau akan tetap di negeri yang tak kembali

Tapi bisakah kita hidup, juga sebagai orang tundungan, dalam eksit terus-menerus? Saya kira bisa. Namun saya merasa, dalam keadaan retak—antara asal yang telah jadi nostalgia dan ”negeri yang tak berjanji”—seorang tundungan justru bahkan tak dapat mengklaim seperti yang dinyatakan Adonis: membuat frontier—yang sebenarnya memang berarti ”wilayah depan”—bukan lagi tapal batas. Ia sendiri pernah menulis: ke sebuah rumah yang tanahnya kubawa sepanjang kembara, kutundukkan kepalaku.

Tiap ”wilayah depan” selalu mengandung ”wilayah belakang”, tiap pantai selalu punya pedalaman. Ketegangan antara keduanya bukanlah sesuatu yang mengasyikkan. Itulah sebabnya tundungan adalah peristiwa yang mengandung luka. Tiap eksit mengandung trauma.

Adonis agak mengabaikan luka itu pada akhirnya. Tapi ia memang dapat memberi inspirasi bagi kegairahan di dunia para orang gila dan penenung dan Sinbad, tempat yang baharu dan tak lazim senantiasa dicari. Hidup akan mati berkali-kali hanya dengan institusi.

~Majalah Tempo, Edisi. 47/XXXV/15 – 21 Januari 2007~

Komentar»

1. Zaki - Januari 16, 2007

Siapakah aku yang sebenarnya. Dimakah aku sekarang. Kemana aku akan kembali.
Hidupku di dunia fana ini hanya sekitar 100 tahun.
Dimana aku 1000 tahun yang lalu.
Dimana aku (dan namaku) 1000 tahun lagi.
Jasad fana
Roh kekal (karena itu bagaimana roh-ku 1 triliun abad mendatang ?).
Laailahaillallah Muhammadurrasulullah.

2. swanvri - Januari 16, 2007

ketika manusia masuk ke sistem defferensial bahasa manusia ‘terusir’, tertundung dan tak mungkin kembali. ibarat telur dadar meninggalkan kulitnya, begitu telur pecah, maka terluka……

luka yang perlu, keterusiran yang niscaya, karena jika tidak, maka kita tidak bisa dinegosiasi dan menegosiasikan dunia.

luka itu kemudian menjadi even traumatik di masa dewasa, menggedor-gedor kesadaran minta dipedulikan……….

3. Kang Adhi - Januari 16, 2007

Kalau mau agak konkret, mencari contoh: fenomena Israel yang “pulang ke tanah terjanji” (menurut mereka) ada di tanah Palestina. Itu sebuah set back atau sebuah kegairahan imajinatif?

4. mochtar han - Januari 17, 2007

saya baca sajak kedua itu kok agak kurang pas peletakannya, dari kata Tapi bisakah kita hidup…sampai…kutundukkan kepalaku, sepertinya itu tulisan GM. mungkin bisa diletakkan pd tempatnya mas Anick,

saya cenderung syak dengan karya-karya arab, semacam adonis juga, krn orang arab begitu bangganya dgn masalalu mereka, pun dengan sejarah yang bakal mereka ceriterakan kepada non-arab, sy khawatirkan ada unsur ta’ashub itu tercampur, dalam sebuah karya tentunya. kalau menurut saya sih lebih logis sajak-sajak yang ditulis nizar qobbani.

sama tertundungnya juga, saya kira.

5. Nur Faishal - Januari 17, 2007

Lalu bagaimanakah dengan nasib tundungan yang diterima Muhammad oleh masyarakat Jahiliyah Mekkah? Apakah Muhammad terlepas eksistensi dirinya ketika berada di Madinah (tempat singgah Muhammad dari tundungan)? Terkadang menerima sebuah tundungan adalah sebuah pilihan untuk menemukan eksistensi diri, bukan?

6. dion - Juli 12, 2007

honestly Im really new in this. I hope that someday you would deign to explain it vastly. Thank You.

7. andik - Agustus 7, 2009

sebuah pencarian dari kerasingan diri karena jauh dari tanah air membuat adonis tercipta sebagai seniman terdedikasi …..”akan aku cari dalam keterasingan ini, maka aku temukan diriku sendiri”

8. kota salju - Februari 27, 2012

jadilah sinbad, temui tempat baru yang tak lazim, lupakan akar, masa lalu dan juga nostalgia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: