jump to navigation

Mati Januari 22, 2007

Posted by anick in Agama, All Posts, Bencana, Elegi, Film, Kekerasan, Kisah, Sastra.
trackback

Dan kematian makin akrab.

Begitu banyak orang mati di dekat kita hari-hari ini: dalam sekejap, beberapa ratus meninggal, bahkan lenyap, karena kecelakaan pesawat terbang di udara yang pekat dan guncang, karena tenggelamnya kapal di laut yang gaduh, karena tanah longsor yang membunuh, karena flu burung yang konon berkecamuk—meskipun di sini kematian relatif tidak kerap—atau karena anjloknya kereta api….

Dan kematian makin akrab—sepotong kalimat dalam sajak Subagio Sastrowardojo.

Kalimat itu mengejutkan, memang. Sebab, dalam imajinasi manusia berabad-abad, tak terbayangkan ada keakraban antara kematian dan kita sehari-hari. Dalam Kitab Wahyu 6:8 ada gambaran yang mengusik dan mengilhami imajinasi orang Nasrani dari zaman ke zaman: imaji seekor kuda berwarna putih pucat yang berderap datang, dan Maut duduk menungganginya….

Di situ Ajal datang dari jauh. Ia datang dengan deras.

Tapi kalimat puisi Subagio tak aneh, bila, dalam meditasi yang senyap, kita bisa merasakan betul bahwa ajal sebenarnya tak datang dari ufuk nun di sana. Kematian tersemat dalam hidup. Ketiadaan berada di dasar ada.

Mungkin jarak antara ajal dan kehidupan adalah beda yang dirumuskan nenek-moyang kita ketika mereka kemekmek, ngeri, tapi tak mampu memecahkan misteri asal dan akhir manusia. Bahasa pun memberi nama ”Maut”, dan kita bayangkan ia sebagai satu sosok yang mengancam: satu makhluk lain dari benua yang terpisah dan tak diketahui.

Dalam pewayangan Jawa, sang Maut adalah Yamadipati, putra Sang Hyang Ismaya dan Dewi Sanggani. Asal-usulnya dapat ditemukan pada keyakinan Hindu, yang menggambarkan Yama dalam bentuk buruk dan ganjil dengan kulit yang berwarna hijau atau merah. Ia duduk di atas punggung kerbau, memegang seutas jerat di tangan kirinya. Dengan jerat itu, ia sambar nyawa manusia.

Kematian adalah kekerasan—begitulah agaknya yang tersirat dalam citra jerat itu. Sama dengan yang kita temukan dalam tradisi Eropa: maut adalah sosok yang membawa sabit panjang, dan dengan itulah kehidupan ditebang dan nyawa dibabat.

Kematian sebagai sesuatu yang datang dari luar diri kita, dan cepat mencekik atau menebas leher—semua itu menunjukkan penolakan manusia atas ajal. Tapi penampikan yang percuma. Manusia akan senantiasa kalah. Di situ pula rasa murung merebak ke dalam pelbagai ekspresi—dalam bentuk doktrin agama, upacara persembahan dan korban, ukiran pagoda, lukisan gereja, doa di depan altar, kata-kata dalam mantra, kisah sastra, bahkan gambar dalam sinema.

Kita ingat film Ingmar Bergman yang dibuat pada tahun 1957 itu, Tera Ketujuh: kesatria Antonius Block pulang dari Yerusalem yang jauh setelah Perang Salib; di negeri Utara itu, ketika penduduk diserang wabah, ia bertemu dengan Maut. Ia menantangnya bermain catur; jika ia menang, hidupnya akan lepas dari akhir itu.

Tapi kita tahu apa yang kemudian terjadi. Yang menarik dari karya Bergman ini—dengan gambaran Maut yang diambilnya dari sebuah lukisan abad ke-15 di gereja di Täby, Swedia—adalah kehendak untuk membuat kematian merupakan negasi ganda: manusia dikalahkan olehnya, tapi juga manusia direnggutkan dari arti hidup.

Di sebuah gereja kecil Block membuat pengakuan di depan satu sosok berjubah: ”Aku berseru kepada Tuhan dalam gelap, tapi kadang-kadang seakan tak ada siapa pun di sana.”

”Bisa saja tak ada siapa pun di sana,” jawab sosok berjubah itu.

”Jika begitu, seluruh hidup hanya horor tanpa makna. Tak seorang pun dapat hidup dengan maut sebelum ia mati, jika ia merasa bahwa akhirnya ia hanya tak diacuhkan.”

Yang tak diketahui Block ialah bahwa si sosok berjubah adalah Sang Maut sendiri.

Bagi saya, Bergman melukiskan Maut sebagai sebuah kekuatan yang julig: dengan muslihat ia kabarkan betapa tak pastinya arti hidup, sebelum ia mengakhiri hidup itu. Memang dalam agama orang menemukan sebuah penangkal bagi gambaran yang merisaukan itu, tapi justru itu yang hendak digugat Bergman: dengan agama kita sebenarnya mencoba menutupi keraguan kita, benarkah ada Tuhan yang memberi makna, bukan hanya Tuhan yang berkuasa. Tera Ketujuh menandaskan rasa jeri kita.

Tapi di sini Bergman, sang atheis, akhirnya hanya mereproduksi bayangan umum yang dibawa agama Kristen sejak Abad Pertengahan: Maut memberat bagai kutukan. Bayangan itu tak universal. Di Bali, misalnya, upacara ngaben mengandung suasana kebersamaan yang meriah. Dengan kata lain, ada masyarakat yang menerima kematian dengan hati lebih ringan. Di Indonesia, kita menyebut orang mati dengan eufemisme: ”meninggal(kan) dunia”, sebagaimana orang Romawi dulu—menurut mereka yang mengetahui—memakai kata discessit e vita, ”ia telah meninggalkan kehidupan”.

Bahkan di Eropa yang Kristen pun orang tak selamanya mau menanggungkan kemuraman ala Bergman. Di sebuah kuburan di perbatasan Rumania dan Rusia, ada sebuah dusun yang punya tempat pemakaman yang unik: tiap kubur diberi nisan salib dari kayu yang digambari secara lucu satu corak penting hidup si mendiang.

Ada juga sebuah anekdot tentang Maharaja Maximilian I ketika ia berkunjung ke sebuah biara. Di sana dilihatnya sebuah lukisan yang menggambarkan Maut sebagai kerangka hidup—satu model yang lazim di Eropa, konon sejak benua itu ditimpa wabah besar. Maximilian tak berkenan. Dipanggilnya kepala biara untuk menyuruh ubah jerangkong itu dengan gambar badut.

Syahdan, sejak itu, gambar tentang Maut berubah. Agaknya dari sini pula terbit citra tentang maut yang menari-nari, danse macabre: yang mengerikan bertaut dengan yang grotesk dan kocak.

Dan kematian makin akrab. Bila kita dengan pilu mengalami serta menyaksikan beratus orang meninggal seketika pada hari-hari ini, mungkin kita bisa ingat, Maut tak pernah jauh. Ia bukan oposan, tapi bagian dari hidup yang juga bisa meriah. Bukankah sebelum Ada, sesungguhnya Ketiadaan?

~Majalah Tempo, Edisi. 48/XXXV/22 – 28 Januari 2007~

Komentar»

1. swanvri - Januari 23, 2007

the real yang kita tinggalkan ketika masuk ke sistem bahasa hanya bisa dicapai kembali dengan kematian…… (kira2 yg kufahami dari Lacan)

2. nurfath - Januari 23, 2007

maut datangnya hanya satu kali, bersiaplah untuk menjemput kedatangannya.

3. Nazdan Meuraxa - Januari 23, 2007

maut memang tidak pernah jauh.
ia senantiasa memeluk kita sejak ruh ada dalam jasad.
ia menjaga kita dari waktu.
terlalu cepat atau terlalu lama.
bila sampai pada waktu yang ditetapkan,
ia mengajak kita menghadap yang kuasa.

maut adalah sahabat kita yang setia…

4. Syair Maulana - Januari 23, 2007

Maut adalah seorang kekasih yang sangat setia. Entah dimana ia kini, tapi yang jelas suatu saat dia akan datang menjemput kita. Menepati janjinya………mengajak kita berhijrah pada kesejatian….

5. firman firdaus - Januari 23, 2007

Mari mempelajari kematian, dengan begitu kita akan tahu bagaimana cara hidup.

6. zaki - Januari 24, 2007

Bayangkan:
Besok pagi tepat jam 8.15 WIB anda semua akan dihukum mati oleh satu regu tembak.

Tiba2 besok pagi tepat pada jam 7.55 ada pengumuman (revisi 1) bahwa hukuman mati anda akan ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Namun hal itu tetap akan dilaksanakan meskipun dengan cara yang tak harus oleh regu tembak, jadi anda harus siap kapan saja.

Begitulah kematian kita yang bisa datang kapan dan dimana saja. Kata Nabi Muhammad SAW, Orang yang paling pintar adalah orang yang sering mengingat mati.

7. madjid - Januari 27, 2007

yang pasti, di sana (kematian), kita akan ditagih dan, barangkali juga menagih. tanpa sadar, kita mengambil hak orang lain dan dengan teriakan menyayat langit, kita tuntut keadilan dari orang yang ada di atas kita: memimpin kita. dan mungkin bumi pun hanya diam

8. Iqbal @l_Imam - Januari 27, 2007

Tapi, ‘kematian’ tidak sama dengan ‘berita tentang kematian’. Kita bercerita hanya tentang yang kedua.

9. mohasoda - Januari 31, 2007

sebenarnya ada kematian yang bisa kita jemput sebelum maut menyambut. Ya, kematian angkara jiwa. Karena untuk lepas dari jeratan tempat dan waktu, manusia bisa memilih tiga pintu. Mati, Tidur, Atau Tazakki (prosesi sufi untuk memberangus nafsu).

Karenanya dalam terjaga; kita sadar, bernafas dan berkomunikasi. Sedang dalam tidur kita terlelap, masih bernafas, namun tetap bisa main catur, ketakutan di kejar anjing, menikmati rasa senggama, yang bukan dengan tangan ia memindah biji catur, atau dengan kaki ia lari dan dengan mulut ia mencumbu. Ada indera yang lebih sutera yang berfungsi di sana.
Sedang maut, hanya sekedar mencabut nafas kita, tanpa menghentikan komunikasi dan rasa manusia.
Maka barangkali tidur, bisa menjadi guru yang bijak untuk memahami dunia kemudian.

Disinilah kenapa Rosul berpesan
” Mutu qabla antamutu..”
“Matilah kamu sebelum mayatmu”

Dan lalu akan menjadi tidak seram, apakah maut masih terasa asing atau ia telah begitu akrab?

HambaCinta

10. kuyazr - Februari 12, 2007

vote me for being GOD

2007…
Mati. Ya, kata itu mungkin saja berlaku di tahun yang sebentar lagi datang dengan sangat tiba-tiba. Tak sempat aku menyapanya dengan penuh luapan kegembiraan seorang pengembara yang kembali pulang menemui istrinya yang cantik. Yang masih melebarkan kedua tangannya untuk memeluk mesra kehidupan. Rencana hanyalah tinggal asa. Kita bisa tahu seberapa jauh, namun seberapa lama lagi kita bisa tahu akan seberapa jauh itu?

Mati. Ya, kata itu. Hanya satu kata itu. Apakah aku siap menyambutnya? Hatiku berteriak: jangan!…jangan!…tolong jangan sekarang! beri aku waktu lagi..beri aku waktu lagi…namun, daun itu telah jatuh, sinarnya juga telah redup bahkan hilang.

Mati. Ya, kata itu. Hanya satu kata itu yang akan memaksa tanpa paksaan. Kata itu yang menciptakan kata selamat jalan. Selamat jalan semoga cepat sampai tujuan. Tujuan yang belum terbayangkan akan kejadiannya. Kata ini juga yang akan mempertemukan antara yang fana dan yang abadi. Yang liar dan yang penuh kelembutan. Yang bodoh dan yang tahu.

Ya… mati akan membuatku mengerti bahwa aku fana, liar, dan bodoh.

11. vina - April 25, 2007

mati..
Karena hanya dengan kematian.. Kita akan lebih menghargai hidup.. Dalam hidup diajarkan bagaimana menakutkannya kematian.. slah besar..tidak seharusnya kita takut pada kematian, takutlah pada kehidupan yang tidak membuatmu merasa hidup..

12. Veny - April 27, 2007

Vina, saya tidak paham “takutlah pada kehidupan yang tidak membuatmu merasa hidup”…..

Apakah kamu pernah merasa benar-benar “hidup” ?

Kalau pertanyaan ini dimaknai secara biologis, tentu sudah. Tapi kalau tidak dimaknai dari titik itu.., maka -menurutku- kehidupan justru butuh kematian.

13. OCART GINTS - Maret 7, 2008

kehidupan bukan satu hal yang harus kita takuti,kematian juga bukan hal yang bisa kita hindari,untuk itu berbuatlah yang terbaik,dan jangan pernah biarkan orang2 di sekitarmu merasa sepi hinga dia bersedih tapi buat dia ceria tersenyum bahagia maka kamu akan mengerti akan kehidupan yang sebenarnya,karna kematian gak kan pernah bisa di bahas sampai tuntas,bukankah belum ada yang pernah kembali dari kematian.

tanya pada dirimu siapa aku ini,dan bila kamu mau jawabanya ada pada dirimu………..renungkan .dengan hati yg tenang.!

14. dEy - Februari 20, 2015

Manusia adalah pengada. Ia berada di dalam “ada”, dan menjadi subjek dalam “ketiadaan”. Bagaimana kita menyebut “ada ” dan “ketiadaan”, tanpa memposisikan “pengada”, diantara kedua kata itu.

Manusia, sebenarnya, menyadari akan ketiadaannya di dalam ada. Untuk itulah ia berusaha sekeras mungkin untuk tetap bertahan hidup. Terlebih, kehidupan sendiri tak pernah menjajikan manusia untuk tetap hidup. Bukankah keberadaan manusia di bumi ini pun sebenarnya tak pernah menjadi kehendaknya sendiri. Kita, “terlempar” begitu saja di muka bumi ini, tanpa kunci dan rumus-rumus untuk bertahan hidup. Justru rumus yang kita terima sangat nyata – “setiap yang ada akan musnah”.

Kematian selayaknya tak perlu ditakuti. Tak perlu juga di tunggu. Ia akan tetap datang, dengan atau tanpa undangan. Bahkan di kalangan tertentu, kematian perlu “dirayakan”, layaknya kita
“pulang kampung”.

Sementara di kalangan masyarakat Jawa, kematian yang paling ditakutkan adalah kematian yang tampak tersemat, di saat manusia masih tampak hidup. Tampak hidup, tapi, sebenarnya sudah mati. Mereka menyebutnya dengan ” mati sajroning urip”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: