jump to navigation

Nasionalisme Februari 26, 2007

Posted by anick in All Posts, Buku, Identitas, Nasionalisme, Sejarah.
69 comments

Kita hidup dengan kontradiksi di tapal batas. Kini dengan cerdik dan cekatan pelbagai hal—buruh, komoditas, korupsi, agenda politik, terorisme—melintasi perbatasan. Tapi di sana-sini tembok nasional dibangun makin tinggi. Dunia menyempit, dunia kian sengit, dan wajar jika kita bertanya: Bisakah nasionalisme dielakkan? Haruskah?

Nasionalisme punya sejarah, punya jejak, dan untuk menjawab pertanyaan itu penting kita lihat jejak itu kembali. Ada masanya ketika yang tersimpan rekaman kisah yang buruk. Rabindranath Tagore pernah menggambarkan sebuah keadaan ketika ”bangsa-bangsa yang saling ketakutan intai-mengintai seperti hewan buas di malam hari”. Dan penyair besar India itu pun bertanya, ”Haruskah kita bertekuk lutut kepada semangat nasionalisme, yang menebar-siarkan benih rasa takut, rakus, curiga… ke seluruh dunia?”

Tagore mengucapkan itu pada 1916, ketika sastrawan berbahasa Bengali yang mendapat penghargaan Nobel pada 1913 itu berkunjung ke Tokyo. Waktu dan tempatnya penting: kaum nasionalis Jepang sedang menghalalkan postur militer negerinya. Dalam hubungan itu bahkan Tagore secara tak sengaja mengecam pandangan yang tercantum dalam The Awakening of Japan, buku berbahasa Inggris yang terbit pada 1904, yang membenarkan penjajahan Jepang atas Korea: ”Korea terletak bagaikan sebilah keris yang selamanya terhunus ke jantung Jepang”.

Kalimat itu penting sebab bukan suara seorang militer. Ia ditulis seorang Okakura Tenshin. Okakura justru seperti Tagore: hidup dan menulis dalam lingkungan di mana seni dan pengalaman tentang keindahan diletakkan begitu pen-ting dalam hidup manusia. Kedua orang itu bahkan saling kenal, dan dalam arti tertentu, berteman.

Dalam bukunya terbaru, Another Asia, Rustom Bharuscha—dari mana saya dapatkan kutipan buat tulisan ini—menggambarkan dengan cermat dan menilik dengan tajam peri kehidupan kedua ”sahabat” itu. Dari sini dapat kita lihat kembali soal-soal yang timbul tatkala bagian dunia yang disebut sebagai ”Asia” ini—dengan definisi dan geografi yang tak sepenuhnya jelas—harus bergulat dengan pertanyaan yang fundamental tentang identitas atau posisinya dalam sejarah. Diinjak-injak kolonialisme negeri-negeri Eropa, ”Asia” kemudian melihat bagaimana sebuah negeri Eropa, yakni Rusia, dikalahkan Jepang pada 1905. Sejak itu ”Asia” sibuk untuk ”bangun”. Nasionalisme adalah jawabannya.

Tapi itu bukan jawaban tanpa sisi yang gelap. Telah disebut bagaimana nasionalisme Jepang melahirkan imperialisme tersendiri, mula-mula di Korea. Kontradiksi ini sudah terasa ketika berkumandang suara—seperti juga yang diartikulasikan Okakura Tenshin—bahwa ”Asia” itu ”satu”, bahwa ”Asia” punya ciri yang tersendiri, sebagaimana dinyatakan dalam kesenian dan kehidupan sosialnya.

Dalam bukunya, Bharuscha menunjukkan kontradiksi itu lebih jauh dengan mengutip pelbagai ucapan Okakura: justru di bangunan ”Asia” yang ”satu” itu, Jepang tak persis berada di dalamnya. Jepang berada di atas, dimulai dengan posisinya dalam seni. Bagi Okakura, seni rupa Jepang—lahir dari alam yang berbeda—berada di tingkat yang lebih unggul ketimbang seni Cina, yang ditandai ”keluasan yang monoton” dan ketimbang seni India yang punya ”kekayaan yang terlampau membebani”. ”Seni Jepang berdiri sendiri di dunia,” katanya, sebagaimana halnya ”Jepang berdiri sendiri menghadapi dunia”.

Yang diabaikan Okakura ialah bahwa dalam kata ”menghadapi dunia” ada ”yang lain” yang dihadapi.

Okakura sendiri sebuah persona. Ia sebuah penampilan. Ia menyusun sebuah koreografi untuk hadirin yang dihadapinya. Dalam foto-fotonya, ia selalu tampak mengenakan kimono. Dalam karya-karyanya, Okakura berbahasa Inggris. Bharuscha mengemukakan satu kutipan menarik, yakni sepotong nasihat Okakura kepada anaknya: ”Janganlah berpakaian Jepang jika bahasa Inggris kamu patah-patah.”

Ke-”Jepang”-an sebagai koreografi penampilan, seni yang unik yang menandai identitas nasional, bangsa yang homogen sebagai nasib—itu semua menunjukkan apa yang tak diakui Okakura dan kaum nasionalis: ketika kita bayangkan bangsa sebagai sesuatu yang esthetis, kita lupa ”orang luar” sebenarnya ikut mendesak dan membentuk diri kita, dan ada yang brutal dalam prosesnya.

Kimono yang dikenakan Okakura, yang menyertai lidah yang fasih berbahasa asing, mencoba menghilangkan sisi dirinya yang tak murni Jepang. Seni yang disebut ”unik” menampik sejarah akulturasi: sejak abad ke-8 pelukis Jepang datang ke Cina buat belajar. Dan ketika bangsa ”Jepang” hanya dibayangkan sebagai kelanjutan ”ras Yamato”; telah terhapus orang Ainu dari ingatan.

Tak berarti nasionalisme sepenuhnya cerita penghapusan yang berbekas darah dan besi. Dalam riwayatnya, nasionalisme punya saat-saat yang membebaskan dan membangun. Kecaman Tagore mengabaikan apa yang pernah dan dapat tercapai ketika sebuah komunitas bersama dianggit (imagined, kata Benedict Anderson), sebuah negara-bangsa berdiri, dan sebuah mekanisme politik bekerja, dengan segala kekurangannya, untuk hidup komunitas itu sehari-hari.

Partha Chatterjee benar ketika ia mengecam pemikiran Tagore: dalam hidup sehari-hari ”kita mengikuti aturan lalu lintas, membayar pajak, memberikan suara atau tidak, menyiapkan anak kita ikut ujian, mengecam pemerintah yang tak berfaedah dan politisi yang disogok”.

Kita hanya bermimpi indah jika kita anggap semua itu ada di luar kita.

Tak berarti mimpi indah harus diberangus. Ada yang menyebabkan wacana tentang negara dan bangsa tak sepenuhnya menguasai ruang hidup. Di dunia Okakura dan Tagore, seperti ditunjukkan The Other Asia, kita bersua dengan pengalaman tentang keindahan. Di sanalah wacana yang perkasa, seperti nasionalisme dan anti-nasionalisme, menemui batasnya.

~Majalah Tempo, Edisi. 01/XXXIIIIII/26 Februari – 04 Maret 2007~

Iklan

5:52 Februari 23, 2007

Posted by anick in All Quotes, Book 5.
3 comments

… mungkin John Lennon benar: kita ukur rasa sakit kita dengan memakai Tuhan. “God is a concept by which we measure our pain” … 

Babel Februari 19, 2007

Posted by anick in Agama, All Posts, Film, Identitas, Kisah, Tuhan.
18 comments

Mereka tiba di tanah Sinear di sebelah timur. Mereka berniat menetap. Mereka berencana membangun ”kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit”. Mereka ingin ”cari nama”, agar tak ”terserak ke seluruh bumi”.

Tapi kisah Alkitab tentang Menara Babel ini berakhir muram. Tuhan murka. Tampaknya Ia melihat niat itu sebagai siasat manusia meraih kekuasaan adidaya. Tuhan pun turun ke Sinear. Ia buncang orang-orang itu ke pelbagai penjuru, dan Ia kacau-balaukan bahasa manusia hingga mereka tak saling mengerti lagi.

Kenapa itu yang dilakukan-Nya? Kenapa Ia gagalkan proyek menara itu, juga ide merumuskan satu identitas (”cari nama”) itu, dan ia ”serakkan” manusia ke seantero bumi? Kenapa tak dibiarkan-Nya mereka jadi ”satu bangsa dengan satu bahasa”?

Saya bukan penafsir Alkitab. Saya hanya mengulang pertanyaan yang tak kunjung selesai dijawab. Anda bisa katakan, tindakan Tuhan itu sebuah laku divide et impera yang purba, modus si kuasa menghadang lawan yang hendak menandinginya. Tuhan, dalam Kitab Perjanjian Lama (dan juga dalam sajak Amir Hamzah), memang disebut ”cemburu”.

Tapi Anda juga bisa katakan, yang terjadi hanyalah pengukuhan nasib manusia: terserak-serak, tanpa bahasa yang universal, tanpa makna yang dapat diterima jelas kapan saja dan di mana saja.

Anda juga bisa kemukakan, dari nasib itu bisa datang sebuah kearifan. ”Tiap peradaban dan tiap kebudayaan adalah sebuah Menara Babel,” kata Reinhold Niebuhr pada 1937. Ketika mengemukakan itu, theolog Protestan itu menyebut perlunya sikap rendah hati, juga dalam agama.

Agama yang sejati, katanya, selalu menyimpan rasa gundah (uneasiness). Orang tahu, Tuhan yang disembahnya melampaui takaran ”manusia yang terbatas”. Sementara itu manusia sendiri ”terus-menerus tergoda untuk lupa akan keterbatasan kebudayaan dan peradabannya”, dan mengira mampu menangkap kebenaran yang terpuncak. Di situlah kisah Menara Babel membantah: manusia memang piawai, tapi daif. Kita perlu hidup bersama orang lain dengan (istilah saya) sebuah ”etika kedaifan”.

Bahasa adalah paradigmanya. Bahasa bukanlah pucuk super-tinggi yang dapat menangkap seluruh ”kenyataan”. Di atas bumi, bahasa adalah percobaan terus-menerus dalam ruang & waktu untuk menerjemahkan dan diterjemahkan—sebuah proses yang selamanya dirundung frustrasi.

Ada satu ilustrasi yang tajam tentang frustrasi itu. Dalam film Babel karya sutradara Alejandro González Iñárritu, Chieko—si gadis bisu-tuli di Tokyo yang riuh—tersisih, ditolak, dan putus asa ketika ia hendak menjangkau orang lain dengan kata-kata yang bukan miliknya. Bahkan juga ketika ia mencoba memakai bahasanya sendiri: tubuhnya yang nyaris tak bersuara.

Diperankan dengan memukau oleh Rinko Kikuchi, Chieko mengungkap malangnya posisi manusia dalam ”penjara bahasa”, untuk memakai ungkapan Nietzsche: selalu ingin berkomunikasi, tapi terperangkap kurungan sempit.

Chieko, si gagu, yang juga terperangkap, harus mengguratkan huruf di selembar kertas bila ia bertanya-jawab. Ia menempuh proses terjemahan yang tak mudah—dan kita tahu terjemahan selalu tidak pas. Jika Chieko terus-menerus ditolak, baik dalam pertandingan voli maupun dalam hubungan seks, ia mengingatkan kita akan kondisi kita sendiri. Seperti tampak pada si bisu, komunikasi itu sesuatu yang mustahil, tapi niscaya, atau sebaliknya niscaya, tapi mustahil.

Juga di tengah derap dunia baru yang katanya ”tanpa perbatasan” kini….

Di sinilah Babel—dibuat pada 2006—sebuah bantahan. Ia meruntuhkan ilusi tentang sebuah ”dusun global”. Film ini memaparkan bagaimana manusia, dipertemukan di perbatasan, justru dihubungkan oleh salah paham yang kejam dan paranoia yang pekat. ”Dunia Ketiga” tampak sebagai teror kekal bagi ”Dunia Pertama”. Di tepi gurun, turis Amerika itu waswas bahkan terhadap es batu bikinan Maroko (”Kau tak tahu dari air apa itu dibuat,” katanya). Di bagian lain, seraya memasuki Kota Meksiko, si bocah Amerika dengan cemas berkata, ”Kata Mama, Meksiko itu berbahaya.”

Babel, sebuah portmanteau, memang serangkai cerita tentang kontak antarmanusia yang tak terelakkan tapi tak membuahkan pertemuan. Seorang anak gembala di bukit-bukit Maroko ingin menguji ampuhnya senapan yang baru dibeli bapaknya, dan seorang perempuan Amerika, seorang turis, luka parah karena tindakan yang tak sengaja itu. Pemerintah Amerika pun berteriak, ”Teroris!” dan seorang bocah ditembak mati. Sementara itu, Amelia, batur Meksiko yang bekerja di sebuah keluarga Amerika, membawa kedua anak majikannya ke kampung untuk ikut pesta pernikahan yang asyik. Tapi keasyikan dan hangatnya persaudaraan berakhir di tapal batas yang angkuh, di hadapan kekuasaan Negara yang brutal: gerbang imigrasi. Dari Tokyo, seorang turis Jepang penggemar berburu menghadiahkan senapannya ke seorang Maroko. Tapi tanda persahabatan itulah yang menghancurkan hidup sebuah keluarga miskin.

Manusia terserak, komunikasi retak.

Tapi tak selamanya jalan hanya buntu. Ada sebuah dialog pendek yang ditulis Kafka tentang Babel:

”Apa yang kau bangun?”

”Aku ingin buat lorong di bawah tanah. Harus ada kemajuan biarpun sedikit. Posku di atas sana terlampau tinggi.”

”Kami menggali liang Babel”.

”Liang”, bukan ”menara”: kiasan untuk sesuatu yang rapat ke bumi, seperti kubur, lorong yang akrab dengan mereka yang dicampakkan dan yang tak berdaya. Di sinilah—bukan di langit—komunikasi berlangsung sebagai empati, bahkan di antara sesama yang berbeda sejarah.

Dalam filmnya, Iñárritu menampakkan momen itu di se-buah rumah buruk di satu kota kecil Maroko. Perempuan Arab tua penghuni rumah itu membelai rambut si wanita Amerika yang luka dan terbujur ketakutan; ia merawatnya, ia menenangkannya, ia bisikkan Surah Alfatihah di dekat kupingnya. Meskipun wanita itu tak dikenalnya.

~Majalah Tempo, Edisi. 52/XXXV/19 – 25 Februari 2007~