jump to navigation

Hujan Februari 5, 2007

Posted by anick in Bencana, Elegi.
8 comments

Mungkin hari ini kita menyaksikan metamorfosis hujan.

Dulu kita bernyanyi lagu Maluku yang indah itu, ”Kalau hujan sore-sore.” Dulu kita ikut bersenandung dengan nada lembut Titiek Puspa, ”rintik-rintik, hujan rintik-rintik.” Dulu hujan adalah melankoli. Kini, tiap kali curah air dari langit menderas, kita dengan telaten tapi cemas mengikuti berita radio tentang berapa meter tinggi air bah yang merasuki dusun dan kota, meringsek rumah dan sekolah, klinik dan restoran, melumpuhkan komunikasi telepon dan mengganggu perdagangan. Seakan-akan kita tengah mengikuti reportase tentang seekor naga buas yang tengah memporak-porandakan kampung kita.

Sesuatu telah berubah, memang. Kita telah tahu itu. Saya tak mengatakan hal yang baru jika di sini saya tulis bahwa banjir, tanah longsor, tanggul yang bobol, rel kereta yang rusak, roa-roa yang remuk—dan akhirnya bumi yang semakin panas karena lapisan ozon yang melenyap—adalah akibat ”kemajuan” yang rakus dan hasrat ”memperbanyak” yang tak jera.

Tapi apa mau dikata: tak selamanya kita sadar akan sifat tamak yang sering kita pelihara dan manjakan sendiri itu. Padahal tiap potong kursi yang dibuat dari kayu hutan tropis, tiap are tanah yang diambil buat pusat perbelanjaan, tiap lembar kantong plastik yang dibuang sebagai sampah, tiap tetes sabun deterjen yang tercecer, tiap liter bensin yang diuapkan sebagai karbon dioksida, tiap butir zat kimia sintetis yang mengalir ke kali—semua itu pada akhirnya menghimpun sebuah daya yang membalik dan destruktif: semula dengan gemuruh manusia mengalahkan alam, tapi kini ia seperti tak berdaya di depan alam yang hampir hancur.

Di situlah kekonyolan: ada kombinasi antara kebakhilan dan ketamakan yang menyebabkan hujan membawa kerugian di kota semegah Jakarta. Para pemilik hotel, kantor besar, apartemen tinggi di wilayah Kuningan, misalnya, pernah dirugikan miliaran rupiah oleh air bah, tapi saya tak melihat ada investasi yang disiapkan untuk mencegah bencana itu berulang.

Yang kelihatan: dengan pesat manusia memperbesar tempatnya—karena keserakahan atau karena beranak-pinak seperti marmut—tapi pada saat itu pula ia kehilangan dunung-nya.

Kata dunung saya pinjam dari bahasa Jawa. Dalam kamus yang disusun Empu Bahasa termasyhur itu, W.J.S. Purwadarminta, Baoesastra Djawa, yang terbit pada tahun 1939, dunung tak cuma berarti tempat (enggon) atau wilayah (wewengkon), tapi juga posisi yang pas (prenah).

Orang kehilangan dunung ketika ia mengutamakan tempat. Dengan membangun tempat, atau ”kavling”, kita memang menerangi ruang, mengukurnya, memetakannya dan memilikinya untuk digunakan. Dunia—yang sebenarnya berisi keragaman yang tak tepermanai, juga khaos yang rumit dan endapan sejarah yang dalam—telah direduksi jadi petak yang jinak. Dunia jadi sebuah gambar.

Tapi ”gambar dunia” itu (Weltbild, konon kata Heideg-ger) bukanlah gambar tentang dunia, melainkan ”dunia” yang ditatap, disetel, dan dikonsep sebagai ”gambar”. Kita tak akan dan tak pernah tinggal di sana sebenarnya. Bahkan di sanalah awal kita jadi terasing.
Sebab di manakah posisi yang pas bagi kita? Karena kita terbiasa mengukur ruang yang bak gambar itu dengan angka—dengan hektare, volume, dan rupiah—kita pun terbiasa menyangka bahwa yang pas adalah yang harus dapat dibandingkan dengan posisi orang lain, atau posisi kita sendiri sebelumnya, sementara perbandingan itu berlangsung tak habis-habisnya.

Ada sebuah cerita Leo Tolstoy tentang seseorang yang terus-menerus membeli tanah dan tak pernah kenyang memperluas milik. Pada suatu hari ia mencoba mengukur wilayah kekuasaannya. Ia membawa meteran, berjalan kaki menghitung petak demi petak. Perjalanan itu tentu saja jauh sekali, karena tanah itu nyaris tanpa batas. Pada suatu titik, ia lelah, rubuh, mati, dan dikuburkan. Akhirnya tempatnya adalah sebidang tanah yang tak lebih luas ketimbang balai-balai si miskin. Di situlah ia di-prenah-kan. Di situlah dunung-nya.

Dunung adalah pengertian yang lahir dari kesadaran akan kefanaan. Meskipun terasa sangat romantis, ada yang layak direnungkan ketika Heidegger berbicara tentang hubungan kata Gothis wunian dengan kata Jerman lama bauen. Keduanya berarti ”tinggal”, ”menghuni”. Tapi kata wunian juga berarti ”ada dalam damai”. Damai berarti tak tersentuh bahaya dan gejolak. Dari kedamaian itulah kita bisa menilai posisi yang pas bagi kita.

Posisi yang pas itu, dunung, adalah posisi dalam apa yang disebut Heidegger ”empat lipatan”: di atas bumi, di bawah langit, di antara makhluk yang fana, di hadapan yang ilahi. Di sanalah manusia tak terasing, sebab ia tak melepaskan diri dan tegak sendiri sebagai sang penakluk. Ia tahu ia tak akan pernah selesai merengkuh. Rakus—tak hanya dalam hal tanah, tapi dalam segala hal—hanya akan membawanya kepada ilusi tentang kenyang, yang bersifat sementara, setelah ia memperkosa bumi.

”Bumi seperti seorang anak yang kenal sajak,” kata Rainer Maria Rilke dalam Soneta Buat Orfeus. Bumi, tanpa kita sadari, mengenal ritme, kejutan, keakraban, keterpautan yang intens dengan kita—bumi yang menyebabkan hujan seakan-akan berbicara nyaman, bukan terancam, bukan mengancam.

Saya tak tahu bisakah kita kembali ke sana. Mungkin saja. Saya mencoba berharap. Tiap kali hujan menggerojok kota ini dengan dahsyat, akan ada saat berhenti. Di saat itu kita akan bisa melihat pohon-pohon tampak segar, semakin hijau, seperti dicuci dari debu dan rasa lesu dan terik yang keras.

~Majalah Tempo, Edisi. 50/XXXV/05 – 11 Februari 2007 ~

Iklan