jump to navigation

Babel Februari 19, 2007

Posted by anick in Agama, All Posts, Film, Identitas, Kisah, Tuhan.
trackback

Mereka tiba di tanah Sinear di sebelah timur. Mereka berniat menetap. Mereka berencana membangun ”kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit”. Mereka ingin ”cari nama”, agar tak ”terserak ke seluruh bumi”.

Tapi kisah Alkitab tentang Menara Babel ini berakhir muram. Tuhan murka. Tampaknya Ia melihat niat itu sebagai siasat manusia meraih kekuasaan adidaya. Tuhan pun turun ke Sinear. Ia buncang orang-orang itu ke pelbagai penjuru, dan Ia kacau-balaukan bahasa manusia hingga mereka tak saling mengerti lagi.

Kenapa itu yang dilakukan-Nya? Kenapa Ia gagalkan proyek menara itu, juga ide merumuskan satu identitas (”cari nama”) itu, dan ia ”serakkan” manusia ke seantero bumi? Kenapa tak dibiarkan-Nya mereka jadi ”satu bangsa dengan satu bahasa”?

Saya bukan penafsir Alkitab. Saya hanya mengulang pertanyaan yang tak kunjung selesai dijawab. Anda bisa katakan, tindakan Tuhan itu sebuah laku divide et impera yang purba, modus si kuasa menghadang lawan yang hendak menandinginya. Tuhan, dalam Kitab Perjanjian Lama (dan juga dalam sajak Amir Hamzah), memang disebut ”cemburu”.

Tapi Anda juga bisa katakan, yang terjadi hanyalah pengukuhan nasib manusia: terserak-serak, tanpa bahasa yang universal, tanpa makna yang dapat diterima jelas kapan saja dan di mana saja.

Anda juga bisa kemukakan, dari nasib itu bisa datang sebuah kearifan. ”Tiap peradaban dan tiap kebudayaan adalah sebuah Menara Babel,” kata Reinhold Niebuhr pada 1937. Ketika mengemukakan itu, theolog Protestan itu menyebut perlunya sikap rendah hati, juga dalam agama.

Agama yang sejati, katanya, selalu menyimpan rasa gundah (uneasiness). Orang tahu, Tuhan yang disembahnya melampaui takaran ”manusia yang terbatas”. Sementara itu manusia sendiri ”terus-menerus tergoda untuk lupa akan keterbatasan kebudayaan dan peradabannya”, dan mengira mampu menangkap kebenaran yang terpuncak. Di situlah kisah Menara Babel membantah: manusia memang piawai, tapi daif. Kita perlu hidup bersama orang lain dengan (istilah saya) sebuah ”etika kedaifan”.

Bahasa adalah paradigmanya. Bahasa bukanlah pucuk super-tinggi yang dapat menangkap seluruh ”kenyataan”. Di atas bumi, bahasa adalah percobaan terus-menerus dalam ruang & waktu untuk menerjemahkan dan diterjemahkan—sebuah proses yang selamanya dirundung frustrasi.

Ada satu ilustrasi yang tajam tentang frustrasi itu. Dalam film Babel karya sutradara Alejandro González Iñárritu, Chieko—si gadis bisu-tuli di Tokyo yang riuh—tersisih, ditolak, dan putus asa ketika ia hendak menjangkau orang lain dengan kata-kata yang bukan miliknya. Bahkan juga ketika ia mencoba memakai bahasanya sendiri: tubuhnya yang nyaris tak bersuara.

Diperankan dengan memukau oleh Rinko Kikuchi, Chieko mengungkap malangnya posisi manusia dalam ”penjara bahasa”, untuk memakai ungkapan Nietzsche: selalu ingin berkomunikasi, tapi terperangkap kurungan sempit.

Chieko, si gagu, yang juga terperangkap, harus mengguratkan huruf di selembar kertas bila ia bertanya-jawab. Ia menempuh proses terjemahan yang tak mudah—dan kita tahu terjemahan selalu tidak pas. Jika Chieko terus-menerus ditolak, baik dalam pertandingan voli maupun dalam hubungan seks, ia mengingatkan kita akan kondisi kita sendiri. Seperti tampak pada si bisu, komunikasi itu sesuatu yang mustahil, tapi niscaya, atau sebaliknya niscaya, tapi mustahil.

Juga di tengah derap dunia baru yang katanya ”tanpa perbatasan” kini….

Di sinilah Babel—dibuat pada 2006—sebuah bantahan. Ia meruntuhkan ilusi tentang sebuah ”dusun global”. Film ini memaparkan bagaimana manusia, dipertemukan di perbatasan, justru dihubungkan oleh salah paham yang kejam dan paranoia yang pekat. ”Dunia Ketiga” tampak sebagai teror kekal bagi ”Dunia Pertama”. Di tepi gurun, turis Amerika itu waswas bahkan terhadap es batu bikinan Maroko (”Kau tak tahu dari air apa itu dibuat,” katanya). Di bagian lain, seraya memasuki Kota Meksiko, si bocah Amerika dengan cemas berkata, ”Kata Mama, Meksiko itu berbahaya.”

Babel, sebuah portmanteau, memang serangkai cerita tentang kontak antarmanusia yang tak terelakkan tapi tak membuahkan pertemuan. Seorang anak gembala di bukit-bukit Maroko ingin menguji ampuhnya senapan yang baru dibeli bapaknya, dan seorang perempuan Amerika, seorang turis, luka parah karena tindakan yang tak sengaja itu. Pemerintah Amerika pun berteriak, ”Teroris!” dan seorang bocah ditembak mati. Sementara itu, Amelia, batur Meksiko yang bekerja di sebuah keluarga Amerika, membawa kedua anak majikannya ke kampung untuk ikut pesta pernikahan yang asyik. Tapi keasyikan dan hangatnya persaudaraan berakhir di tapal batas yang angkuh, di hadapan kekuasaan Negara yang brutal: gerbang imigrasi. Dari Tokyo, seorang turis Jepang penggemar berburu menghadiahkan senapannya ke seorang Maroko. Tapi tanda persahabatan itulah yang menghancurkan hidup sebuah keluarga miskin.

Manusia terserak, komunikasi retak.

Tapi tak selamanya jalan hanya buntu. Ada sebuah dialog pendek yang ditulis Kafka tentang Babel:

”Apa yang kau bangun?”

”Aku ingin buat lorong di bawah tanah. Harus ada kemajuan biarpun sedikit. Posku di atas sana terlampau tinggi.”

”Kami menggali liang Babel”.

”Liang”, bukan ”menara”: kiasan untuk sesuatu yang rapat ke bumi, seperti kubur, lorong yang akrab dengan mereka yang dicampakkan dan yang tak berdaya. Di sinilah—bukan di langit—komunikasi berlangsung sebagai empati, bahkan di antara sesama yang berbeda sejarah.

Dalam filmnya, Iñárritu menampakkan momen itu di se-buah rumah buruk di satu kota kecil Maroko. Perempuan Arab tua penghuni rumah itu membelai rambut si wanita Amerika yang luka dan terbujur ketakutan; ia merawatnya, ia menenangkannya, ia bisikkan Surah Alfatihah di dekat kupingnya. Meskipun wanita itu tak dikenalnya.

~Majalah Tempo, Edisi. 52/XXXV/19 – 25 Februari 2007~

Komentar»

1. swanvri - Februari 21, 2007

ah….., bahasa lagi…..!

2. Syair Maulana - Februari 21, 2007

Mungkin kita yang terserak di bumi adalah serpihan puzzle yg diciptakan Tuhan: Sebaran yang kelak akan menyatu kembali menjadi sebentuk gambar. Dan manusia, serpihan itu, -harus- terus menerus menaklukan perbatasan yg menghalangi proses penyatuan. Namun, sebuah perbatasan adalah ruang yg ambigu. di sana ada kegairahan untuk menyatu,tapi juga menyimpan daya tolak yg besar. Disanalah kesalahpahaman diproduksi; disanalah identitas dibuat,dipertanyakan kemudian dipertentangkan…….

3. kuyazr - Februari 22, 2007

lah? kita memang dan akan selalu berpisahan dan tak akan pernah bersatu. Buat apa dunia diciptakan? persatuan hanya akan terjadi di dunia setelah dunia. Yang baik akan berkumpul begitu pula yang buruk.

4. Syair Maulana - Februari 22, 2007

waton…..

5. zaki - Februari 22, 2007

Terimalah apa yang di berikan tuhan jika tidak Dia akan murka dan kalian akan di masukkan ke dalam neraka yang panas.
Jangan banyak cing cong, kalau tuhan mau Dia bisa mengambil semua yang ada pada kamu sekarang juga sehingga kamu tidak punya apa2 lagi. Mending kamu masih bisa bernafas dan buang air kecil. Kalau itu tak bisa memang mau apa? Berontak sama Tuhan, kalian tak akan bisa.
Kalau kalian tetap tidak mau menerima apa ketentuan Tuhan, carilah Tuhan yang lain dan carilah bumi yang lain sebagai pelarian. Tempat kamu berpijak sekarang adalah bumi tuhan dan kamu tidak berhak untuk banyak cing cong.
Sejak genesis pertama, manusia adalah sebuah problem, lihat kronologis penciptaan Adam dan kisah hidupnya. Manusia adalah sesuatu yang paling tidak alami yang ada di alam ini. Dan dalam ketidakalamiannya itu justru manusialah di antara komunitas alam ini yang paling bernafsu untuk menciptakan puisi.
Saya sendiri heran

6. Syair Maulana - Februari 22, 2007

Memangnya ada Tuhan lain??? dmn??

7. dobby fachrizal - Februari 22, 2007

bukan banyak cing cong zaki….belajarlah.

8. swanvri - Februari 23, 2007

:((

9. abah oryza - Februari 25, 2007

kita adalah wayang yang sempurna, bermain dengan sutradara tuhan namun berjalan (seolah) sendiri.

10. boy, BEM FTUI - Maret 1, 2007

Kembali ke babel…
yang saya tangkap dari film tsb malah lebih mengarah kepada penghormatan yang lebih terhadap orang lain (asing). yang harusnya kita sadari, bahwa perbedaan dan ‘perlawanan’ sosial yang ada dipengaruhi oleh banyak variabel kehidupan. bukan berarti semua orang arab itu terorris, semua orang jepang adalah workaholic yang cinta dengan dunia yang monoton, amerika yang secara mendasar (baca: fitrah) memiliki naluri yang baik (lihat kelakuan bocah2 mereka ketika dibawa ke meksiko) tidak bisa menunjukkan kesopanan, atau juga pre-assumption orang amerika thd dunia arab atau juga mungkin kepada kehidupan orang-2 meksiko yang selama ini kurang terekspos (haha, keren juga cara motong ayam ala meksiko, pake jurus plintir mampus, haha).

btw, kajian filosofis yang disampaikan GM mungkin tidak banyak disadari oleh banyak orang yg menonton babel (kata seorang teman, filmnya terlalu mikir, ga’ fun,hehe). tapi, secara keseluruhan, kajian GM membuat saya jadi lebih memahami akan pentingnya berjiwa moderat dan melihat suatu kondisi dengan lebih wise…

11. ibra - April 23, 2007

ada persamaan dari keluarga maroko,meksiko, jepang dan amrik dalam film itu. orang tua dari keempat keluarga itu sering meninggalkan anak2 mereka. dan hal-hal yang mencemaskan-pun terjadi.

saya mendapatkan garis singgung film itu dengan bangsa Babel yang ditinggalkan Abah (Tuhan dalam bahasa aramic) mereka.

cerita seperti itu sudah sering kita dengar, bahkan dalam awal sejarah manusia-pun kadang terasa seperti itu. Tuhan dalam konteks ini terlihat tak begitu khawatir meninggalkan manusia. sebab manusia dianggap mempunyai kelebihan manusia dari makhluk lain : kemampuannya dalam menamai. kemampuan yang kemudian diremehkan iblis.

kita tahu bahwa seluruh kata, suku kata, huruf, serta semua tanda dan penanda yang terdapat dalam seluruh bahasa adalah hasil penamaan. bahkan bahasa itu sendiri adalah sebuah nama tempat bersinggungan nama-nama.

Penamaan adalah sebuah ide tentang “mengenali” akan sesuatu yang sebelumnya belum dikenali. Penamaan berarti membuat suatu tanda menjadi “dikenali” lalu membuka persentuhannya dengan sesuatu yang ada diluarnya. disini penamaan mengandung arti penelaahan lebih lanjut, dan ada harapan yang dikandungnya. Harapan untuk kemudian persentuhannya membawa pada pembukaan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah terdeteksi sebelumnya.

dalam sejarah ilmu pengetahuan, pembukaan kemungkinan yang paling dahsyat mungkin diperkenalkan einstein dalam teori relativitas. algoritma-algoritma ketidak-mungkinan dalam dunia ini hampir seluruhnya dapat dibuang.

kita kemudian teringat dengan bard of Avon ketika dia menanyakan lagi ; apa arti sebuah nama?

saya pikir kita bisa menjawabnya dengan mengingat anak-anak Babel yang ditinggalkan Abah mereka, atau kita mengingat warisan apa yang ditinggalkan Abah kita, atau mungkin mengingat momen si gadis tuli jepang ketika masuk ke sebuah klub malam, dan tiba-tiba suara hingar bingar itu berhenti sekejap?

saya tidak tahu, tapi Tuhan yang tak dapat saya indrai kadang hanya merupakan sebuah nama, dan kadang itu adalah segala-galanya.

terutama untuk anak-anak yang ditinggalkan bapa mereka. yang seperti harus menjadi seorang yatim, padahal tidak…

12. yudex - Mei 7, 2007

tuhan menciptakan manusia bersuku suku berbangsa bangsa berbahasa bahasa agar saling mengenal …

13. ibra - Juni 12, 2007

Apakah Tuhan itu pencemburu?
Saya jawab: tidak!

Cemburu, versi KBBI berarti ; tidak atau kurang senang melihat ada pihak lain yang lebih beruntung. Dari arti itu, tuhan yang pencemburu berarti mengakui ada pihak lain yang –kurang lebih- setara denganya, atau ada pihak lain yang dianggap layak untuk dicemburui.

Sejauh mata saya memandang, tulisan pertama yang membahas hal ini datang dari Nietzsche tahun 1890an. Dalam “thus spoke Zarathoustra” yang diterjemahan Walter Kaufmann ;

“they did not end in twilight, though this lie is told. Instead one day they laughed themselves to death. That happened when the most god-less word issue from one of the gods themselves-the word; there is one God, thou shalt have no other god before me. An old grimbeard of a god, a jealous one, thus forgot himself. And then all the gods laughed and rocked on their chairs and cried: is not just like this godlike that there are gods but no god?

Ada beberapa hal yang akan saya bahas dalam tulisan ini, Pertama, kejangalan kontekstual. Perhatikan kalimat terakhir terjemahan Walter Kaufmann itu…yang juga kemudian diterjemahkan serupa oleh Prof. Dr Fuad Hasan.

Perhatikan betul klimat terakhir yang janggal itu, dan bandingkan dengan kalimat-kalimat sebelumnya yang justru menegaskan opposite terhadap hal tersebut.

Mari kita bandingkan bila saya terjemahkan seperti ini:

…Mereka (tuhan-tuhan) tidaklah sirna di waktu senja, meski kebohongan menceritakan demikian. Dan meskipun mereka tidak sirna di waktu senja, suatu hari mereka akan mentertawakan diri mereka sendiri sampai mati. Hal ini terjadi dikarenakan salah satu diantara tuhan-tuhan itu melontarkan kalimat yang paling “tidak bertuhan”, bahwa :“Akulah Tuhan Yang maha Satu, janganlah kalian -wahai manusia- mempersekutukan Aku”. Demikianlah, tuhan yang sudah tua ,berjanggut kelabu, dan pencemburu itu menjadi lupa diri. Para tuhan itu lantas tertawa terpingkal-pingkal di atas kursi mereka sambil berteriak ; bukankah dengan begitu justru akan lebih “bertuhan” dengan menyatakan “tidak ada tuhan”, bila dibandingkan dengan menyatakan “ada banyak tuhan”? …

dalam batas tertentu, saya melihat Nietzsche sedang berjuang melawan lokalitas doktrin trinitas katolik yang dianutnya. Sebuah perjuangan filsafat yang luar biasa, saya pikir.

Di Indonesia, kalimat “tuhan pencemburu” mungkin diperkenalkan oleh Amir Hamzah, kemudian banyak dikemukakan oleh penulis lain, seperti Prof Dr. Nurchalis Madjid (Alm), Emha Ainun Najib, GM, dan mungkin banyak lagi…

Saya tidak tahu apa yang ada dalam benak penulis2 itu ketika mengatakan “tuhan pencemburu”, tapi Prof Dr. Nurchalis Madjid (Alm) sempat menterjamahkan kalimat “la ilaha ilallah” dengan ; tiada tuhan selain Tuhan. Yang (mungkin) berarti menutup kemungkinan akan adanya pihak lain yang dianggap setara dengan Tuhan. Yang juga berarti menutup kemungkinan bahwa pihak lain itu layak untuk dicemburui Tuhan.

Islam tidak mengenal trinitas, islam tidak mengenal konsep “anak tuhan” seperti yang diklaim oleh umat Kristian dan Yahudi dengan ; Yesus, Uzair, adalah anak tuhan. Yang bila memang seperti itu adanya, dibuka kemungkinkannya oleh Nietzsche untuk saling cemburu-mencemburui.

Dalam islam, Tak ada satupun yang layak dicemburui oleh Tuhan, dan percakapan Imajiner Nietzsche di atas tidak terjadi dalam dunia imajinasi Islam. Dalam Quran malah terdapat pertanyaan sangat polos mengenai konsep Yahudi dan Kristian di atas : … tuhan ko’ makan….al ayah

Islam hanya mengakui Tuhan yang Maha Satu, tidak mempunyai anak, dan juga tidak diperanak-kan. Semua kekuatan adalah milik Dia, tak ada satupun yang menyerupai Dia, dan tak ada yang berkuasa selain Allah.

Terakhir, Ada sebagian devinisi tentang syirik (menyekutukan Tuhan)yang menarik dapat diambil dari Quran . Perhatikan ayat berikut;

(Aku berlindung dari godaan saitan yang terkutuk, saitan yang gemar membisikkan keraguan dalam benak manusia, saitan dari golongan jin dan manusia)
…maka tanyakanlah olehmu wahai Muhamad, siapa yang disembah kaum musyrik mekah itu? mereka pasti akan menjawab ; kami menyembah Allah, berhala-berhala ini adalah perantara kami menuju Allah…al ayah

dari sini, dapat diambil kesimpulan bahwa syirik bukan hanya menjadikan pihak lain selain Tuhan untuk disembah, akantetapi juga menjadikan pihak lain untuk dijadikan perantara menuju Tuhan.

semoga bermanfaat,
amin

14. Iqbal - Juni 13, 2007

Ibra…,

komentarmu sampai 633 kata. Mendekati tulisan GM yang 809 kata. Berarti kamu hanya butuh 176 kata lagi untuk jadi tulisan baru…

Luar Biasa….

15. ibra - Juni 14, 2007

kepanjangan ya?…sori….
lagi gugup….

16. audie - Mei 25, 2008

kok gugup ????

17. Suhartono - September 9, 2009

kenapa menara babel bisa runtuh, maka tanyalah sarjana civil ya, semua tu akan terjawab, jgn segalanya akibat dariNya

18. anung - September 25, 2010

memang “mengagumkan” banyak orang yang nggak pernah belajar alkitab, tapi bisa menafsirkan alkitab dan nggak pernah belajar tentang alquran, tapi bisa menafsirkan ayat-ayat alquran. kalo gitu nggak perlu belajar lagi, karena setiap orang dibebaskan untuk menafsirkan kitab-kitab itu sekehendaknya, dan setiap orang bisa jadi ahli tafsir kitab-kitab itu tanpa perlu belajar.enak kan..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: