jump to navigation

Drupadi April 30, 2007

Posted by anick in All Posts, Kisah, Tokoh.
trackback

SIAPAKAH yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya.

Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. ”Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?”

Yudhistira membisu. Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda Destarastra yang—dalam gelap matanya yang buta—toh pasti mendengar, dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus hati itu dengan mudah kalah, oleh Sangkuni yang pintar, sampai milik penghabisan. Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah tersita. Juga dirinya sendiri, yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu….

Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan berahi, menyeretnya pada rambut. ”Budak!” seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi. ”Hayo, layani aku, budak!” Suara tertawa—kasar dan aneh karena gugup—terdengar di antara hadirin. Sangkuni ketawa. Duryudana ketawa. Karna ketawa.

Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya, gemetar, mencoba menahan katup amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung lengan, tapi Arjuna menahannya. ”Apa boleh buat, Bima,” kata kesatria tengah Pandawa ini, ”merekalah yang menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu—perjudian ini juga sejak mula tak ditolaknya.”

”Baiklah, baiklah,” sahut Bima. ”Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah sumpahku” (dan ia tiba-tiba berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke segala penjuru). ”Hai, kalian, dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang menentukan antara kita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan kuku-kuku tanganku” (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram, menggeletar), ”lalu akan kuminum darahnya, kuminum!”

Balairung seolah baru mendengarkan petir menggugur. Beberapa bangsawan Kurawa mendeham mengejek—bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena ia secara sah telah jadi budak—tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu yang tak pantas telah terjadi di tempat terhormat ini.

Tapi, siapakah yang akan menolong Drupadi?

Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira itu. Kain terlepas…. Tapi entah mengapa, laki-laki perkasa itu tak kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu. Mungkin ada keajaiban dari langit, mungkin Dursasana terlalu meradang oleh nafsu, mungkin anggur telah memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan-akan menghadapi berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali selembar terenggut oleh tangannya yang gemetar, tiap kali pinggul Drupadi seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar.

Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi tidak: persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah merangkak, ke hadapan para bangsawan tua yang selama ini menyaksikan semuanya dengan mata sedih tapi mulut tertutup.

”Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?”

Kali ini Resi Bhisma—yang termasyhur arif dan ikhlas itu—menjawab, ”Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri.”

Tapi tak ada ucapan yang terdengar. Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara anjing menyalak, dan langit malam seperti retak. Agaknya sesuatu, yang bukan termasuk dalam ruang judi para raja itu, yang bisa menjawab: tak seorang pun dapat memiliki orang lain, juga dalam kemenangannya yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan antara Drupadi dan penaklukan, antara hamba dan tuan.

~Majalah Tempo Edisi. 10/XXXIIIIII/30 April – 06 Mei 2007~
Catatan: Naskah ini pernah dimuat di Tempo edisi 24 Januari 1987

Komentar»

1. yudex - Mei 22, 2007

drupadi = endonesia
dikuyo kuyo dari kanan dan kiri
ga ada yang bela
duh gusti nyuwun ngapuro

2. ibra - Mei 22, 2007

pertanyaanya:
1. kenapa si kelompok yang kalah judi dan sudah sangat keterlaluan itu malah dijadikan tokoh?
2. apakah dengan begitu kemudian acara balas dendam dihalalkan? padahal udah salah sendri, keterlaluan, pecundang, bodoh….. eeeh malah diangkat jadi pahlawan
3. setau saya film india kebanyakan begitu: balas dendam yang di desain jadi epik. tapi ko rasanya janggal kalau cerita seperti itu dijadikan sebagai sesuatu yang “sakral” atau diperlakukan seperti kitab suci…
aneh aja jadinya…

3. yOGA - Mei 23, 2007

jadi pengen dapet cerita2 wayang yang lainnya…….

4. nur - Mei 24, 2007

lalu apa yg terjadi dengan Drupadi? Mash jd istri Yudhistirakah?

5. hazza - Mei 26, 2007

yang saya pahami, dendam bima (dan saudara-saudaranya) bukanlah inti cerita dalam mahabarata. abiyasa, sang penulisnya, sedang bertutur tentang hidup. hidup tak perlu selalu suci. di sana ada lumpur, ada debu. di sana juga ada mimbar dan meja belajar.

6. yuliernawati - Agustus 5, 2007

perih… dan getir… benar nasibmu drupadi…..

7. gogon - Agustus 7, 2007

ah, ini cerita karangan atau memang dari kisah pewayangan?
baru denger

8. ibra - Agustus 10, 2007

@hazza
maksudnya meja belajar yang penuh debu dan lumpur?
yang bener aja….gimana belajarnya, dong?
tapi coba deh peratiin…hampir semua benda dianggap sakral ama cerita-cerita india…
dari mulai puun, gentong, baju…waduh repot bgt kayanya

dietazheeta - Februari 17, 2010

bharatyudha tu asli dari indonesia jgn liat sisi negatifnya tp ambil positifnya, wayang tu budaya asli bangsa indonesia wayang artinya bayang-bayang dan arti wayang adalah bayangan sifat-sifat manusia yang terlukis dan digambarkan dalam tokoh wayang tu sendiri….
Misalnya saja dalam kehidupan kita tidak ad orang yang tidak pernah berbuat dosa hal ini tercermin dari yudisthira yang danggap suci yng tidak mungkin berbohong namun akhirnya dy jg berbohong.
Ak fikir anggapan anda bhwa ini adalah cerita india adlah salah cz ne asli budaya qt…bhkan wayang jg dijadikan sarana penyebarab agama islam oleh wali songo

nikmaya - Februari 17, 2010

kebudayaan memberi andil bagi pembentukan karakter2. dan menjadi laku dalam kehidupan sehari di keluarga dan masyarakat di suatu tempat.

9. jasmine - April 2, 2008

@hazza
kayaknya benar deh, hidup itu gak harus selalu jujur. kadang-kadang bohong juga perlu

10. siti asma - Agustus 25, 2008

drupadi……drupadi……oh…drupadi…………

sungguh………seorang drupadi………

11. wayang - Agustus 28, 2008

setahu saya drupadi bukan istri yudhistira saja, menurut cerita aslinya yang versi india, drupadi di menangkan oleh arjuna, dalam suatu pertandingan, kemudian ketika kembali ke tempat saudara-saudaranya yang saat itu sedang dalam masa pembunagan dan menjadi pertapa, Arjuna mengucapkan salam pada Ibunya dan sambil bergurau dia mengatakan bahwa dia menbawa sedekah.
Ibunya yang tidak tahu bahwa yang dimaksud sedekah itu adalah drupadi mengatakan bahwa sedekah itu harus dibagi bersama saudara-saudara nya yang lain.
Sejak saat itu lah terpaksa drupadi menjadi istri dari kelima orang pendawa tersebut. jadi sebenarnya yang melecehkan drupadi tidak hanya dursasana saja tetapi juga pendawa lima.
kalau cerita versi indonesia sih drupadi di ceritakan hanya menjadi istri yudhistira saja, mengingat di indonesia yang mempunyai moral menolak adanya poliandri.

12. kaka - September 10, 2008

kalo aq jadi Drupadi, aq pasti lebih sayang sama Bhima bukan Arjuna.he9

13. ryane - September 15, 2008

nunggu pelem nya aja deh.. dian sastro pulaaa..🙂

14. hazza - September 15, 2008

@ ibra

well, kalau ingin belajar membuat keramik, ya kudu sudi bermain dengan tanah liat dan air. tergantung apa yang ingin dipelajari.

mungkin memang susah ketika kita melihat kesakralan di dalam segala sesuatu. ketika yang Ilahi tak cuma ada di langit, tapi Ia juga ada di balik pepohonan, desau angin, aliran air, batu dst… tak mudah hidup dalam kesadaran seperti itu.

Cheers,
MH

15. mizan - Oktober 16, 2008

wanita, kenapa selalu menjadi korban dari ego kaum lelaki?

16. durgandini - Desember 10, 2008

kok cara lihat nya gitu sih seolah Drupadi cuma korban, dia kan human agency juga.coba toh dengan cerdasnya Drupadi mengatakan atau bertanya apakah seorang Yudhistira yg tak lagi punya dirinya sendiri, punyahak untuk menjadikan Drupadi taruhan ? secara implisit ketika dia bertanya kok mengapa ke5 laki2suaminya itu tak bersuara, ketika dia dihinakan begitu keji? nah ini samasaja mengatakan eeeh para lelaki suamiku loh tuh yeee nggak berguna deeeh, untung ada Krisna, dewa penyelemat gue

17. susan - Desember 14, 2008

wow crtax keren abz. . .

18. Rano parno - Desember 27, 2008

Bodoh,.
Dah tau judi dilarang tp msh dilakukan !!
Inget pesan Bung Oma . .
Judiii,,, preet ! !

19. ayaz uhuy.. - Januari 17, 2009

kasian juga yah c drupadi…
tapi kayanya enak juga punya suami 5…
hihihi…
upz..upz..

20. Adith SawoKecik - Januari 30, 2009

Tp jangan lupa bahwa Drupadi adalah sesosok perempuan yang tegas dan memegang teguh pendiriannya dan jg sangat patuh terhadap suaminya!
Drupadi pernah bersumpah untuk tidak akan menggelung rambutnya sebelum rambutnya di cuci dengan darah Dursasana!
Klo tokoh Pendawa memang dari dulunya pny tabiat buruk semuanya…
Makannya..hati2 dengan org baik….
Hiihihihihihihi….

21. Lita - Maret 25, 2009

keren banget! emang budaya bangsa berupa cerita juga perlu dilestarikan! filosofis banget!
kayak gini masak sih kita gak bangga sama budaya bangsa yang sarat akan kearifan?
jangan sampai kita telat mengklaim lagii lo yaa..

22. yantie - Maret 25, 2009

aku suka tokoh drupadi, keren ya dia wanita yg sabar. Kalo aku jd drupadi aku mau lapor ke komnasham mau gugat cerai. tapi cerai ke siapa ya. Wong suaminya 5 hehe..

23. chayudin indramawan - November 15, 2009

sbnrnya drupadi adalah sosok yang dapatmenginspirasi para wanita masa kini, karena sosok drupadi yang anggun tapi tabah dan mantap dalam menapaki kerasnya kehidupan terutama dalam cerita tsb.tetapi sosok siapakah yg akan membela drupadi dlm pertaruhan tsb?apakah yudistra atau para saudaranya (pandawa).

24. Ibra - November 15, 2009

kartu, wanita, dan anggur. tiga bersaudara. sumber dari segala kenikmatan dan kedunguan

barmen lubis - November 3, 2010

memangnya wanita tidak menikmati ? dan lelaki dungu sudah tentu juga banyak.

25. zul azmi sibuea - November 16, 2009

ini adalah negeri dimana spekulasi adalah permainan yang rutin. spekulasi yang adil adalah random, atau tidak ada monopoli karena rupa, bentuk, berat, trend, dan pada setiap toss dapat probabilitas yang sama.

tapi ego manusia sebagai
– pemain selalu ingin menang
– penyelenggara selalu ingin menang
– penonton selalu ingin menang
– keluarga pemain selalu ingin menang
– tetangga pemain selalu ingin menang
– pengarang permainan selalu ingin menang

diantara game yang selalu menang dalam permainan itu adalah “interest rate / riba” dalam economic game. saat yang sama parmainan ril berubah jadi permainan imaji dengan harap-harap yang mengasikkan bagi perancang permainan derivatif.

26. ninil - Januari 20, 2010

menurut gw, drupadi nggak sebaik itu… coba dilihat cerita sebelumnya sewaktu drupadi menyelenggarakan lomba panahan, yg keluar sebagai pemenang akan menjadi suaminya. tapi ternyata ketika karna, seorang satria miskin keluar sebagai pemenang, drupadi dengan tegas menolaknya. terus gimana dia memegang omongannya???
di situasi yg lain, sewaktu yudhistira mengadakan pesta di rumahnya, duryodana dan dursasana yg terpukau tercebur di kolam di area pesta tersebut. apa yg dilakukan drupadi? dia menertawakan kedua org tsb sampai malu.
memang ada yg mengatakan bahwa drupadi adalah sosok yg baik, tp sy juga mendengar cerita yg sebaliknya. jadi sebelum menilai, ada baiknya kita menoleh sedikit ke belakang. mungkin apa yg dialami oleh drupadi di cerita ini merupakan pembalasan dari keangkuhan yg dilakukannya di masa sebelumnya.

rere - Januari 13, 2012

setiap orang pasti mempunyai sifat baik dan buruk ..!!

27. edicraft - Oktober 27, 2010

ceritanya memang seperti nyata dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kita !!!

28. Pilar - November 2, 2010

Pengungkapan impressif…. !!

Serasa menemukan kembali permata yang hilang…

lebih 30 tahun yang lalu saat saya tergila-gila oleh cerita-cerita sufi, saya juga tergila-gila oleh cerita wayang yang juga sufistik..

29. edy - September 17, 2011

Drupadi, dalam konteknya kini, bisa dianggap sebagai kurban trafficking/perdagangan manusia dan perbudakan.

Ketidakberdayaan Bima dkk mencegah aib ini berlangsung, karena mereka tak menganggap ini sebagai upaya perkosaan. Bahkan, Arjuna sendiri menegaskan” mereka yang menang. Mereka tak tak menipu.”

Namun,di sisi lain menegaskan, para gaek Bangsawan Tua Kurawa itu, telah mengalami kemerosotan moral luar biasa. Bukan saja di saat ia “menguliti” Drupadi, tapi bahkan di saat-saat terakhir ia bersepakat menerima “taruan” dari Yudhistira itu.

Kita bisa menduga, betapa puasnya, para bangsawan itu telah menistakan lawannya sampai di titik nadir. Kita juga bisa merasakan, begitu remuknya Drupadi, tak cuma di hadapan Kurawa, tapi bahkan di kalangan mereka sendiri.

Tapi, Arjuna dan Bima, justru menjadikan ini sebagai kawah Candradimuka yang lain. Mereka pun memulai dalam sebuah “laku”. Dan mereka membuktikan itu.

30. Nggawir - September 22, 2011

Komplit gambaran cerita di atas dari A to Z (barang kali), untuk menggambarkan sikon saat ini.
Kesimpulane :
Hakikatnya Kekuasaan Alloh yang punya, tidaklah ada mahkluq (sepintar apapun) yang kuasa menandinginya, walaupun setingkat Brahmana atau apalah sebutannya (yang sudah menjalani laku puasa dan lain-lain) dan seperkasa apapun tetap sedikit ilmunya.

31. calub - Februari 6, 2015

aduh sediih. perempuan..cuman bisa pasrah. gak adil!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: