jump to navigation

Makam Mei 28, 2007

Posted by anick in Agama, All Posts, Kisah, Sejarah.
trackback

Bumi berkarang Kota Yerusalem praktis sebuah kuburan tua yang kini tak jelas batasnya. Beribu-ribu tahun lamanya penghuni kota ini, apa pun agamanya, mengebumikan jenazah keluarga mereka di tanah itu. Tak mengherankan bila juga di dekat apartemen milik Tova Bracha itu, di Talpiot Timur, terdapat sebuah makam kuno.

Tak tampak ada yang istimewa di situs itu—sampai ketika Discovery Channel menyiarkan sebuah film dokumenter yang menyentakkan dunia. Para pembuatnya, sutradara TV Israel yang terkenal, Simcha Jacobovici, dan sutradara film Titanic, James Cameron, menyatakan makam itu adalah makam keluarga Yesus. Bahkan sisa-sisa tubuh tokoh yang disembah sebagai Kristus, sang Penebus, itu sendiri mungkin diletakkan dalam salah satu dari 10 ossuarium yang ditemukan di dalam rongga di tanah berkarang itu.

Yesus, yang tubuhnya dimakamkan, yang berkeluarga, bahkan mungkin punya istri dan anak….

Saya menonton versi pendek The Lost Tomb of Jesus pekan lalu di Teater Utan Kayu bersama hadirin yang berjejal. Setelah itu, ceramah Ioanes Rakhmat, seorang pendeta yang juga baru menerbitkan bukunya, Yesus, Maria Magdalena, Yudas dan Makam Keluarga. Baik presentasinya maupun bukunya adalah paparan yang jernih dan sangat terpelajar—yang menunjukkan, seperti juga yang hendak dikemukakan film Jacobovici dan Cameron, bahwa bukan mustahil Yesus sebenarnya tak pernah diangkat langsung dengan seluruh tubuhnya ke surga di hari ia disalibkan di bukit Golgotha.

Dengan kata lain: apa yang dituturkan dalam Perjanjian Baru dan dengan versi yang berbeda dalam Quran bisa ”salah”.

Tapi apakah ”salah”, apakah ”benar”? Makam di Talpiot itu memang membuat kita berdebar-debar. Mungkin saja saya salah. Mungkin akhirnya tak akan ada suatu guncangan yang dramatis dalam ketaatan religius di abad ke-21 ini. Apabila 10 ossuarium itu akhirnya membuktikan bahwa keajaiban Tuhan tak terjadi di Golgotha dan sesudahnya—Yesus ternyata wafat sebagaimana manusia biasa, dengan tubuh yang dimakamkan di bumi—mungkin banyak orang akan kembali menemukan cara untuk terus tetap beriman. Seperti dikatakan Jacobovici, orang akan percaya pada yang ia ingin percayai.

Yang kemudian akan tertinggal bagi mereka yang tak mau berhenti berpikir adalah ulangan perdebatan klasik: mungkinkah mukjizat yang begitu dahsyat—tubuh manusia masuk ke surga, yang selama ini dilukiskan sebagai bagian dari dunia roh—bisa terjadi dan Tuhan bisa mengalahkan hukum alam, juga hukum alam yang dikehendaki-Nya? Sejauh manakah beda dan jarak antara Tuhan dan sejarah?

Betapa tak gampang untuk dijawab. Kehidupan Yesus memang mengundang ketakjuban dan skeptisisme. Dalam Yesus, Maria Magdalena, Yudas, Ioanes Rakhmat mencoba menjelaskan dimensi ke-tuhan-an Yesus dan ke-insaniah-annya, dari kata-kata Paulus: ada pembedaan di antara ”Allah” Sang Bapa dan ”Tuhan” sebagai sebutan Yesus. Ada kontinuitas dan diskontinuitas antara kedua ”entitas” itu. Dalam diskontinuitas, dengan sendirinya ”Yesus sejarah” akan didekati sebagai sosok dalam ruang dan waktu.

Itulah sebabnya, sejak abad ke-18 di Eropa, ketika Zaman Pencerahan mulai membuka jalan seluas-luasnya bagi rasio— persisnya sejak Hermann Samuel Reimarus (1694-1768)—para penelaah mencoba menjelaskan ”Yesus sejarah” itu dengan bersemangat. Reimarus, misalnya, melihat pada diri Yesus dari Nazareth seorang revolusioner yang menjanjikan datangnya Messiah, yang karena kegagalannya menyebabkan para pengikutnya mencuri tubuhnya sehabis disalibkan, dan dari sini kisah kebangkitan kembali mulai—juga kelanjutan hidup sebuah agama baru.

Reimarus hanyalah pemula. Dan tak semua yang berbicara tentang ”Yesus sejarah” berkehendak menggugat iman. Bahkan seperti disebutkan dalam karya Albert Schweitzer yang terkenal, Von Reimarus zu Wrede (dalam versi Inggris: The Quest of the Historical Jesus ), para pakar theologi Kristen mencoba mendekati kesejarahan Yesus dalam usaha mereka menjawab apa yang jadi kecenderungan zaman, ketika mukjizat tak dapat lagi diterima sebagai mukjizat, melainkan sebagai gejala alamiah.

Pleidoi itu bisa dimengerti, dan bukan mustahil. ”Kekristenan sendiri,” tulis Ioanes Rakhmat, ”sebenarnya mengakui bahwa Yesus itu seorang manusia juga.” Dari dasar ini rasionalisme abad ke-19 melahirkan pemikir dan theolog yang, seperti Schleiermacher, seorang penerus Kant, berusaha keras dengan nalar membela agama Kristen dari para pengecamnya.

Tapi tak berarti ”Yesus sejarah” memadai. Schweitzer mengungkapkan hal ini dengan mengingatkan akan keimanan Paulus, seseorang yang, berbeda dengan rasul-rasul lain, tak pernah bertemu dengan Yesus sendiri. Kita mengalami apa yang dialami Paulus, tulis Schweitzer, ”ketika kita datang lebih dekat ke Yesus sejarah… bahkan sudah mengulurkan tangan untuk menariknya ke dalam zaman kita, kita harus menyerah dan mengakui kegagalan kita.” Ia mengingatkan pesan Paulus yang paradoksal: mengenal Kristus dalam daging sebenarnya tak mengenalnya lagi.

Jarak atau dalam kata Ioanes Rakhmat ”diskontinuitas” itu agaknya harus ditekankan kembali. Di abad ke-20, sehabis Perang Dunia I, Karl Barth adalah suara yang menegaskan ini. Tuhan dan manusia berbeda secara radikal. Manusia tak akan mengetahui-Nya. Manusia hanya bisa menunggu, dalam agama, datangnya wahyu.

Tapi jika jarak antara Tuhan dan manusia begitu mutlak, bila antara keduanya tak ada dialektika, hanya mungkin ada ”diastatasis”, bagaimana Ia bisa menggerakkan hati kita, bagaimana pula kita memahami-Nya? Bukankah akan lebih mudah bila kita bayangkan seorang manusia, yang kesakitan dan mati sebagai manusia, karena ia tahu betapa dekatnya Tuhan dengan kita yang fana?

Terus terang, saya tak berani menjawab.

~Majalah Tempo, Edisi. 14/XXXIIIIII/28 Mei – 03 Juni 2007~

Komentar»

1. ibra - Mei 29, 2007

perkenankan saya berbeda.

biasanya GM menarik garis yang cukup aman ketika membicarakan iman. kali ini tidak, dia mulai progresif, atau mungkin agresif.

biasanya GM hanya membuka kemungkinan bahwa setiap tafsir bisa salah, kali ini dia membuka kemungkinan bahwa kitab suci bisa salah.

perkenankan saya bertanya : apa bukti itu makam isa almasih?
ayat Quran mana yang GM maksud “bisa” salah?

ayat apa tafsir? yang jelas, doong….jangan sok tau
malah keliatan udik yang sok2an keren jadinya tuh…

makanya kalo baca tafsir, ya semuanya…
baca Quran juga semuanya dooong…
jangan asal “bisa” “mungkin” dan “pernah salah”
yang jelas kalo bawa warta!

2. Dion. S.Soegijoko. - Mei 30, 2007

………..Ketika ada orang lain menyodorkan versi yang berbeda dari apa yang ada dalam teks-teks keagamaan yang dianutnya, umumnya orang menjadi tidak bersahabat…….defensif….!..bereaksi keras…….bahkan sangat keras…….”merasa menjadi pembela Tuhan”…”pembela agamanya”…..Kitab keagamaan yang lazimnya dilekati dengan label “suci”, seakan-akan tabu/tertutup untuk diinterpretasi secara lain. Seolah Tuhan akan marah besar kalau kita mulai berpikir ……meneliti…..dan menemukan versi lain dari yang sudah tertulis. Umumnya para pemeluk agama “sudah puas”…sudah merasa cukup…..dengan membaca tulisan yang berisi kisah yg “itu”. dan merasa sudah menjadi “suci” dengan…(maaf..) “memamah biaknya”….Padahal kita juga tahu kalau kitab suci tidak jatuh dari langit….”blug” ! sudah dikemas rapi dengan sampul warna-warni. Kitab itu hasil interpretasi dengan “cara tertentu” oleh manusia, diproses (termasuk diedit) dengan cara manusiawi……tersebar dibumi oleh tindakan manusiawi pula. Tetapi karena dilekati “label suci” (padahal manusia juga yang melabelnya)……tiba-tiba kita perlakukan secara sangat lain……bukan menjadi inspirasi sekaligus tolok ukur perilaku kita….tetapi menjadi “sekedar tameng” atau malah seperti “baret/jaket” parpol sekedar identitas pembeda dengan orang/kelompok lain. Kita juga tahu, kitab-kitab itu memuat banyak keajaiban….mukjizat, dan umumnya orang beragama sudah puas dengan meletakkan tanggungjawabnya pada Tuhan. Kalau ada kawan mempertanyakannya …..siap dengan “gebuk” atas nama Tuhan. Sementara kita juga tahu, kejadian sehari-hari hidup kita….melalui proses jatuh-bangun secara sangat nature….jauh dari keajaiban-keajaiban itu. Kita sudah puas dengan “mengagumi mukjizat”….menjadi pendengar mukjizat….! benarkah itu yang namanya beriman ? Apakah bukan orang yang beriman adalah mereka yang justru bekerja keras untuk mengupas,…terus meneliti…..agar secara obyektif mendapatkan “versi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan”, versi terbuka untuk diragukan dan diteliti oleh siapapun ? Kisah yang suci dalam kitab “suci” mungkin lebih punya daya panggil kalau berkisah lebih nature…..Rasanya kita juga dapat memahami apabila para pendahulu mengisahkan banyak “keajaiban mukjizat”…..bukankah alam pikiran mereka masih dekat dengan jaman yang sarat dengan mythologis ? tetapi apa iya….di milenium ini dan milenium selanjutnya kita masih puas dengan mythologi ? Kalau itu yang terjadi, tidakkah “daya panggil” -daya pencerah agama menjadi tumpul………Orang akan “beragamakan ilmu-teknologi-seni”. Agama menjadi sumpeg pengap. Lagi-lagi anak-cucu kita akan kita bebani dengan PR yang gagal kita selesaikan……Jangan pula kita membatasi Kemahakuasaan Tuhan YME dengan menafikan “versi”yang lebih nature, lebih alamiah, …..justru dalam kitab suci agama-agama yang ada banyak menampilkan “yang illahi” melalui jalan manusiawi yang hina-dina. Banyak kedosaan, kepapaan menjadi sarana karya Tuhan YME……. Orang beragama hendaklah terbuka berhadapan dengan fakta yang jujur. Kritisi hasil penelitian dengan penelitian……..tetapi jangan mengedepankan sikap defensif. Dunia akan tertawa melihat sikap anda. Salam.

3. an-Nadzif - Mei 30, 2007

Entahlah..saya merasa begitu dekat dengan Tuhan…tapi akal saya buntu untuk membayangkannya….

4. ibra - Mei 31, 2007

dunia tertawa?, ya biarin aja tertawa…kasian udah lama ga denger yang spontan…

mau beragama seni kek, budaya kek, iptek kek, ya silahkan saja…kenapa memang? memang kenapa?

tapi tolong inget, saya tidak mempertanyakan iman seseorang. saya mempertanyakan Quran mana yang dimaksud GM “bisa” salah….
ayat apa tafsir? kalo tafsir, tafsir siapa dan yang mana?

lu bego apa pura2 bego sih…..masa mesti gw tulis dua kali…ga bersahabat? hah? biarin…napa memang? memang napa?

saya tidak meragukan kualitas intelektual, ketangkasan berfilsafat, keuletan, dan keberanian GM…tapi saya ragu kalau GM sudah baca Quran dan tafsir-tafsir secara komprehensif. sebab saya tidak mendapatkan itu dalam tulisannya…

saya “rasa” dia cuma denger dari mulut orang tentang alur quran yang menceritakan Isa al masih…

ada informasi yang hilang bila anda menyandarkan itu tanpa menelaah dengan cermat, bung…dia kan bawa warta buat banyak orang…saya minta dia tanggung jawab yang bener…

atau jangan-jangan…anda terkena stigma kalau setiap “yang GM bilang” itu benar? …hehehe…. pembela GM….

ngapain ada kalo sama aja, dan ngapain beda juga kalo ga ada gunanya…bukankah ini adalah kritis setelah menelaah, dan mengkritisi kembali…

5. eagle - Juni 5, 2007

Mas dion, yg mas Ibra tanyakan tafsir quran yg mana dan versi siapa yg mana yg bisa “salah”. pertanyaan yg sebenarnya gampang dan lugas.

Tapi mas Dion merasa mas Ibra seperti kebakaran jenggot karena ada org yg mengkritisi kitab suci..
dilain tulisan anda katakan bahwa jgn terlalu alergi thdp sikap kritis.

Anehnya sikap mas Ibra yg kritis seperti yg anda inginkan apalagi hanya terhadap pendapat manusia GM anda anggap sebagai sikap defensif…..

harusnya anda konsisten, salah satu ciri intelektual.
jawab saja ayat berapa dan intrepretasi siapa kan jelas….

salam..

6. Dion. S.Soegijoko. - Juni 7, 2007

Agak terlambat…….saya baru membukanya……Terima kasih atas tanggapan “mas” atau “mbak” eagle……(karena nama samaran ……jadi saya susah menebaknya). Sikap anda santun-simpatik, so saya menanggapinya. Maaf saja, kalau ada komentar yang bernada marah-marah dengan “kata bego” segala, saya merasa tidak perlu menanggapinya……………..,biarlah kata-kata itu kembali sendiri kepada penulisnya. Bukankah tulisan juga mengungkapkan pribadi yang menulisnya ?
Pertama-tama saya perlu mengklarifikasi beberapa hal: – Saya tidak dalam posisi “membela” pikiran mas GM ataupun “pengikut mas GM”, secara pribadi juga tidak saling kenal. Soal pertanyaan ayat ke mas GM, tentu yg berwenang menjawab atau tidak adalah mas GM sendiri bukan orang lain….iya toh ? Saya hanya orang biasa di pinggir jalan (jadi bukan intelektual…..ataupun sok intelektual wahhh…jauh….) yang suka membaca & sedikit tulis2…..A-B-C…..kebetulan nyasar ke blog Caping ini. Jadi komentar saya, anggap saja ” komentar orang di pinggir jalan”. Sejujurnya, saya hanya mengomentari masalah reaksi umumnya orang apabila ada telaah/ pendapat yang mengemukakan versi lain dari versi yang diyakininya dalam agama/terkait dengan agama……woow….”serem” tapi “lucuuuu tenan”…..Juga dalam hal makam yang “diduga” makam Yesus Kristus”. Lha kalau orang masih terus dikit-dikit “melotot” dan ngomong atawa nulis yang bernada “berantem”, bagaimana mewujudkan tugas agama menjadi Rahmat bagi alam & isinya ataupun menjadi Kabar Gembira bagi dunia ini……
Ok gitu dulu rekan Eagle, salam hangat kembali untuk anda………peace !

7. ibra - Juni 11, 2007

gue ga dapet salam hangat ya….🙂

8. Toni - Juni 11, 2007

Isa dalam Islam tidak disalib, dan juga tidak diangkat. Kalaupun menggunakan kata mengangkat, artinya bukan fisik melainkan kemuliaan. Sebagaimana juga Allah mengangkat kemuliaan orang beriman dan berilmu pengetahuan.

Jadi, untuk GM sedikit lebih baca lagi tafsir Al Qur’an!

9. vata - Juni 12, 2007

baru nemu situs ini..

saya kristen.. dan saya merasa GM lebih kristen dari saya..

rgds

10. zaki - Juni 13, 2007

“Dengan kata lain: apa yang dituturkan dalam Perjanjian Baru dan dengan versi yang berbeda dalam Quran bisa ”salah”.”
“Tapi jika jarak antara Tuhan dan manusia begitu mutlak, bila antara keduanya tak ada dialektika, hanya mungkin ada ”diastatasis”, bagaimana Ia bisa menggerakkan hati kita, bagaimana pula kita memahami-Nya? Bukankah akan lebih mudah bila kita bayangkan seorang manusia, yang kesakitan dan mati sebagai manusia, karena ia tahu betapa dekatnya Tuhan dengan kita yang fana?”

Dua paragraph yang bisa mendatangkan kontroversi jika dikonsumsi oleh publik yang luas, meskipun kata2 “salah” dibuat dalam tanda kutip. Ini membuktikan bahwa pembaca caping hanya segelintir orang.
Saya kira GM telah membaca Quran (kalau memang pernah) dengan kacamata yang belum pernah digunakan oleh Ulama. Entah itu kacamata siapa gak jelas, mungkin mirip kacamata seorang pendeta yang berbau ambivalensi. Atau mungkin Sartre.

11. inas - Juni 18, 2007

Ibra, ibra jangan terlalu menggunakan kalimat “lu bego apa pura2 bego sih…..masa mesti gw tulis dua kali…ga bersahabat? hah? biarin…napa memang? memang napa?”.
Ntar kalo kamu benar, malah terasa hambar, bisa juga asin, atau masam karena kalimat itu. Gunakanlah “Qaulan baligha”.

12. ibra - Juni 18, 2007

iya….😦

13. Arif - Juli 26, 2007

Penemuan makam ini kan mestinya hanya menjadi problem buat pengikut yang memper-Tuhan-kan Yesus. Dengan begitu benar khayalan (dari sumber yang akurat) Dan Brown dalam Da Vinci Code bahwa Yesus punya keturunan. Menarik kita tunggu bagaimana mereka menemukan caranya untuk terus tetap beriman.

14. Ndaru - Juli 26, 2007

Halah.. halah.. gitu aja koq tegang-saraf. Terlalu serius sih… ktawa dulu ah… ha ha ha.

15. Guam - Desember 9, 2009

Makasih, menarik ceritanya.

Guam Chat.

16. anung - September 25, 2010

makanya sekali lagi hebat sekali orang zaman sekarang nggak pernah belajar tentang alquran bahkan ketika disuruh baca pun mungkin nggak bisa, tapi bisa menafsirkan alquran sekehendaknya,seprti seorang ahli tafsir yang telah belajar ilmu tafsir dengan seluk beluknya.
memang zaman sekarang banyak sekali ahli tafsir yang nggak perlu belajar tafsir sama sekali

17. fana - Desember 25, 2011

Siapa saja yang kebakaran jenggot setelah membaca tulisan Mas Goen ini jelas bukan seorang yang cerdas dan teliti. Mengapa? bagaimana tidak konyol, mencoba memahami agama kok lewat Mas Goen? apa yang Mas Goen Tahu tentang agama? jangankan tafsir, tajwid saja saya yakin tidak tahu bahkan mungkin juga tarikussholah.
Maka tanyalah kepada alumni IAIN atau pesantren. Bukan kepada seorang Goenawan, karena ia hanya sastrawan yang sok tahu Islam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: