jump to navigation

Isis Juni 11, 2007

Posted by anick in All Posts, Indonesia, Kisah.
trackback

Hutan tipis yang cuma sisa, burung penghabisan yang bersarang di tebing kering, dan manusia ter­akhir yang terdesak di sebuah bumi yang kian panasimajinasi ini memang muram, menakutkan. Tapi imajinasi ini juga bisa memudarkan ilusi: hidup ternyata bukan seperti yang dibayangkan George W. Bush. Dengan mesin perang yang besar dan tiap kali menghancurkan, dengan emisi karbon dioksida yang menghambur dari jutaan knalpot tak henti-hentinya, dunia tak selamanya secerah, seramah, dan setenang gambar-gambar Norman Rockwell atau iklan rokok Marlboro.

Tapi sebenarnya bukan hanya hari ini dipersoalkan apa yang terjadi.

Semenjak para ksatria dalam cerita wayang mbabat alas wanamerta membuka hutan dan memperluas wilayah kekuasaan merekadan dengan ekspansi itu memper­sempit daerah yang dihuni para pertapa untuk bersemadi, telah muncul sebuah tema perseteruan dua sisi, atau dua impuls, dalam sejarah.

Di satu sisi dorongan untuk merapatkan diri dengan gunung dan rimba, seperti ketika Arjuna bertapa dalam lakon Begawan Mintaraga. Di sisi lain dorongan menang dan menak­lukkan, seperti ketika Arjuna mencari senjata terdahsyat untuk perang memperebutkan kerajaan. Di satu sisi muncul kemampuan berempati kepada makhluk yang lain di tengah alam, seperti ketika Rama bersahabat dengan Kera Sugriwa. Di sisi lain menonjol keampuh­an destruktif tanpa perasaan benci, seperti ketika Rama membunuh Kera Subali yang tak bersalah apa pun kepadanya.

Di khazanah lain, dalam perumpamaan yang datang dari sejarah pemikiran Yunani, kedua dorongan itu jadi keyakinan sejak orang membaca kalimat Heraklaitos di abad ke-5 sebelum Masehi: phusis kruptesthai philei.

Dalam The Veil of Isis versi Inggris dari buku Pierre Hadot yang memaparkan sejarah perkembangan pengertian ”alam” dalam sejarah pemikiran Barat, diuraikan bahwa kalimat termasyhur itu sebenarnya punya bebe­rapa arti. Heraklaitos konon bermaksud berkata, ”Alam suka menyembunyikan diri.” Tapi ia juga bisa bermaksud mengatakan, ”Apa yang dilahirkan, ia akan menghilang.” Dalam tafsir Hadot, ketidakpastian makna itu khas pemikiran Heraklaitos, yang keseluruhannya menunjukkan ”ketakjuban di depan misteriusnya metamorfosis” dalam alam, juga ketakjuban dalam menemukan hidup dan kematian. Alam yang tak sepenuhnya dapat ditebak dan dipahami menyebabkan kita terkesima dan merunduk takzim. Alam yang bisa berubah-ubah, bahkan punah, dan menunjukkan betapa fananya dia, menyebabkan kita merasa bisa menguasainya atau, kalau tidak, merasa perlu membekukannya agar abadi.

Ada dalam diri manusia sesuatu yang bisa dilambangkan dalam sosok akan Prometheus. Tokoh mitologi sete­ngah dewa ini sering dikisahkan sebagai makhluk yang mencuri api yang disembunyikan Mahadewa Zeus agar tak terjangkau oleh pengetahuan insani. Prometheus membangkang dan memberikan rahasia itu kepada manusia. Dalam interpretasi Hadot, tokoh inilah model semangat untuk meraih dan mengetahui apa yang paling dalam dan jauh, sekaligus lambang kekuatan yang menyelidiki, menginterogasi, dan bahkan menyiksa. Di sini kita temukan kutipan dari sepucuk surat Francis Bacon: ”Saya sebenar-benarnya mendatangkan Alam dan anak-anaknya kepadamu, agar ia diikat untuk melayanimu dan membuatnya jadi budakmu.”

Dari kebrutalan itulah ilmu dan teknologi lahir dan tumbuh. Air gerimis dihentikan alirnya dan diurai jadi H2SO4. Sugriwa abad ke-20 dimasukkan ke dalam kandang laboratorium untuk jadi bahan eksperimen kimia, dengan nasib yang tak berbeda dari Subali yang dibantai di hutan-hutan.

Namun ada juga sifat manusia yang seperti Orfeus, yang dengan nyanyi dan puisi merayakan pohon hijau, bulan yang jernih, dan sungai deras di kaki bukit. Di sinilah kaum Romantik dan para penyair seperti Goethe berdiri. Hadot pun mengutip sastrawan Jerman itu: ”Misterius bahkan di terang siang, Alam tak membiarkan cadarnya ditanggalkan, dan apa yang tak diinginkannya untuk terbentang di pikiranmu, tak dapat kau paksa….”

Di kalangan para penyair ini alam dilambangkan sebagai Isis, dewi yang bertetek ba­nyak, yang bercadar. Sungguh menarik untuk mengetahui, dari penuturan The Veil of Isis, bahwa Goethe meskipun ia menggemari eksperimen ilmu membenci Newton yang menyiksa cahaya dengan membelah-belahnya jadi satuan-satuan warna. Cadar Isis telah dicoba direnggutkan, sang Dewi hendak ditelanjangi.

Tentu saja tema pertentangan antara tauladan Prometheus dan Orfeus ini bukan sesuatu yang baru dan dalam hal ini The Veil of Isis tak menyajikan wawasan yang segar. Bahkan agak terbatas. Risalah sejarah pemikir­an ini kurang mengemukakan pilihan-pilihan sulit yang dihadapi manusia di benua di mana kelangkaan sesuatu yang lebih mendasar ketimbang kemiskinan bukan saja membentuk ekonomi, tapi juga perilaku dan kebudayaan.

Kelangkaan pangan dan tempat hidup mendorong manusia membuat sawah dan rumah. Tapi seakan-akan hendak menebus apa yang direnggutkan oleh cangkul, bajak, ger­gaji, dan parang, manusia mencoba mengembalikan bayang-bayang keindahan pada teras sawah Bali, jejak keabadian pada padi yang disebut sebagai Dewi Sri, gema sua­ra alam pada bunyi merdu yang ditiup dari bangsi. Rumah pun dibangun, tapi akhirnya tak hanya atap, dinding, dan pintu. Ada arsitektur, cat merah daun jendela, dan kembang leli di dalam bokor. Yang terluka hendak dipupus.

Tapi memang ada suatu dinamika lain yang datang, yang membuat kelangkaan seakan-akan sisi yang tragis dari keserakahan. Itu agaknya yang menyebabkan Indonesia sebuah republik yang bukan bagian dunia yang kaya jadi negeri No. 3 di dunia dalam menyumbang besarnya emisi kotor yang mengganggu udara. Mereka yang pernah punya pengalaman traumatik dalam kelangkaan, telah dengan cemas meraih, meraih, meraih…. Dan hutan-hutan terbakar, dan kota-kota cemar.

~Majalah Tempo, Edisi. 16/XXXIIIIII/11 – 17 Juni 2007~

Komentar»

1. zaki - Juni 12, 2007

Tsunami Aceh bukan hanya mengejutkan kita dengan besarnya jumlah korban jiwa dan dahsyatnya kerusahan, tapi yang lebih mengejutkan adalah terbukanya mata kita – meskipun sebelumnya telah di ketahui secara sepintas – untuk melihat betapa besarnya potensi bencana yang terpendam di sepanjang tanah air, dari hutan gundul yang mendatangkan banjir reguler dan merapi yang siap merekah hingga lempeng bumi yang aktif. Dan semua itu apakah mungkin bisa dikalkulasi dan pelajari untuk meminimalisir efek negatif, sementara untuk memelihara yang baik dan sudah ada seperti hutan saja kita tdk becus. Memang tragic, disaat dunia penuh dengan wacana tentang back to nature dan pemanfaatan alam, Indonesia justru masih bergelut dengan perilaku merusak hutan dan wacana tentang penanganan bencana alam.
Dengan kata lain , di tanah air ini ternyata alam ikut2an dengan perilaku manusianya yang destruktif. Saya yakin tapi tidak bisa menjelaskan secara ilmiah dan kasat mata hubungan antara moral penduduk suatu negeri dengan perilaku alam. Hubungan semacam ini hanya bisa di pahami secara ghaib dan penuh keimanan. Tapi dalam Pancasila, yang dikatakan sebagai falsafah hidup bangsa, dasar pertamanya adalah tentang keimanan.

2. Iqbal - Juni 12, 2007

suer,

ini edisi berat..

3. zenrs - Juni 12, 2007

dan khusus edisi blognya, ini edisi yang paling banyak salah ketik. sungguh. jadi cape bacanya!

4. swanvri - Juni 13, 2007

berat memang……..😦

5. W.N.Padjar - Juni 13, 2007

Sepertinya ruang Catatan Pinggir terlalu sempit buat nampung unek-unek GM kali ini.

6. Pelangi - Juni 13, 2007

Atau mungkin terlalu terburu-buru?

7. Iqbal - Juni 14, 2007

tapi.. kalau dibaca pelan-pelan..

edisi ini jadi LUAR BIASA !!! (suer lagi)😐😐😐

8. Toni - Juni 15, 2007

Caping Isis, tidak berat. Cuma kurang bermutu!

9. Uthan Lumbantobing - Juni 19, 2007

orang orang [indonesia] kebanyakan tidak tahu arti pentingnya alam, penyempurnaan alam, dan hakikat alam itu sendiri. alam adalah kita sendiri. bukankah manusia tanpa alam, tidak dapat disebut sebagai alam? Veri Versa. alam memberi. dan akan selalu begitu. sementara manusia yang notabene hanya bagian dari alam, dan hanya menerima apa yang baik dari alam, tidak dapat [mau] berbuat apa yang terbaik buat alam.
alam adalah anda.
alam adalah orang indonesia
alam adalah orang amerika.
alam adalah kita.
alam adalah penduduk bumi.

10. an-Nadzif - Juni 19, 2007

Seorang filosof pernah membayangkan tentang sebuah penyatuan. Ikatan yang melebur tentang alam, Tuhan, dan manusia. Ketika ia dengan susah payah merenggutkan diri dari tembok tebal antara Adam dan dunia.

Di tengah asap hitam, kerak jelaga, gemuruh mesin, ia meratap.

Apakah memang harus ada batas antara Adam dan alam sehingga disana hanya tersisa dua pilihan, saling memperbudak atau berangkul tangan?

Apakah tidak dapat kita merasa diri sebagai satu? dengan penyatuan menyeluruh?

Gelegar pabrik semakin keras. Dan ratapan pun hanya tinggal potong ingatan.

11. thesarong - Juni 20, 2007

mungkin karena manusia indonesia terlalu jauh mengejar surga, yang bisa dibuatnya sendiri di ‘pekarangan’ rumahnya, di sini, di negeri ini.

salam,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: