jump to navigation

Pilkada Juni 18, 2007

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Politik.
trackback

”You got to make it out of Badness…. And you know why? Because there isn’t anything else to make it out of”

—Willie Stark, dalam All the King’s Men.

Sebuah pilkada, di sebuah musim yang gerah pada 32° C. Ekonomi muram dan timpang, korupsi setengah bersembunyi, dan kemarahan si miskin setengah ditelan. Ini Louisiana tahun 1930-an: hari-hari depresi, zaman hal-hal yang radikal berkecamuk, ketika Willie Stark datang, berteriak, dan menang—seorang dengan niat baik yang bergelora dan akal yang brutal yang menjamah apa saja. Orang ini akhirnya mati ditembak seorang yang lurus hati, tapi kematian itu tak menyebabkan apa yang kotor dalam proses politik tertebus.

Novel Robert Penn Warren, All the King’s Men, telah membuat cerita Willie jadi contoh klasik tentang bagaimana politik, juga di sebuah demokrasi di Amerika Serikat, datang dari harapan tapi bisa tak memungkinkan tumbuhnya harapan.

Willie dipilih dengan dukungan yang antusias. Ia dikenal sebagai seorang yang memprotes, ketika sebuah gedung sekolah roboh. Ia orang berani yang menunjukkan bahwa pemerintah daerah membuat bangunan itu dengan menunjuk seorang kontraktor yang curang. Semula protesnya tak didengar. Tapi beberapa tahun kemudian, tatkala sebuah tangga kebakaran roboh dan beberapa anak luka parah, orang ingat benarnya kata-kata Willie. Ia langsung jadi tokoh yang diharapkan, dan sejumlah operator politik daerah menyiapkannya untuk jadi calon gubernur.

Yang tak disangka-sangka para operator itu ialah bahwa Willie ternyata bisa tak tergantung kepada mereka. Dengan keyakinan bahwa ia adalah si jujur yang berani bicara dan bertindak, dengan kemampuannya memposisikan diri senasib sepenanggungan dengan para hicks yang miskin dan dibohongi, ia bisa bicara langsung dengan orang ramai itu, memukau langsung dan didukung langsung oleh mereka.

Dari politik populis ini Willie kian yakin akan keluhuran niat baiknya bagi orang banyak—sebuah keyakinan yang begitu terang benderang hingga menyebabkan pandangnya silau. ”Cahaya terang yang menerpa matanya membutakannya,” kata Jack Burden, sang pembawa cerita dalam novel ini. Kekuasaan dan keyakinan yang membuatnya jadi perkasa akhirnya membuat Willie kebal, juga terhadap rasa sakit orang lain. Willie menyuruh Jack membongkar masa lalu Hakim Irwin yang menentang rencana politiknya. Ketika Jack berhasil menemukan sesuatu yang kotor di masa lalu itu, hakim tua itu bunuh diri.

Baru kemudian Jack tahu, Hakim Irwin adalah ayah kandungnya sendiri. Tapi anak muda ini tak berhenti mengabdi pada Willie—bahkan ketika Willie mengambil Anna jadi gundiknya. Anna gadis yang bagi Jack sejak masa sekolah telah membuat dirinya seperti diciptakan kembali dari lempung.

Sepasang manusia telah membuat novel ini memukau secara muram. Keteguhan Willie untuk tak tersentuh oleh rasa sakit orang lain bertaut dengan pandangan Jack tentang tak pentingnya subyektivitas dalam laku dan pilihan moral. Anak muda yang pernah ingin menulis sejarah hidup seorang tokoh ini pada perkembangannya percaya bukan kepada manusia, melainkan kepada apa yang disebutnya the Great Twitch. ”Kedut agung” ini, dalam pandangannya, adalah yang menentukan hidup. ”Semua kata yang kita ucapkan tak berarti apa-apa dan hanya ada degup darah dan kedutan saraf, seperti kaki seekor katak yang mati di tempat eksperimen ketika setrum listrik itu menjalarinya.”

All the King’s Men—jika novel yang ditulis seorang penyair ini agak disederhanakan—adalah catatan yang memaparkan nyaris hilangnya harapan. Kedua tokoh utamanya berbicara dan berlaku dengan keyakinan bahwa tak ada kapasitas manusia buat memihak Kebaikan, apa pun maknanya. Jack, yang percaya akan kuasa ”the Great Twitch”, menafikan tanggung jawab seseorang dalam perbuatan baik dan buruk.

Ini tentu saja semacam nihilisme, tapi juga determinisme: nilai-nilai, seperti halnya bahasa, dianggap tak berarti apa-apa, sebab manusia tak merdeka, sebab ia ditentukan oleh sesuatu yang lebih besar ketimbang subyektivitasnya. Willie juga demikian: manusia ada dan tak bisa bebas dari Keburukan. Badness, dan tak ada yang lain dari itu, mendasari semuanya. Dunia—juga kemuliaannya—dibangun oleh manusia-manusia yang culas dan korup.

Dengan pandangan itulah politik mereka jalankan di Louisiana. Bisa dikatakan All the King’s Men adalah sebuah gugatan kepada politik, juga politik demokratis, yang ternyata tak membuat kehidupan bersama bebas dari nihilisme. Baru di akhir novel Willie Stark dalam keadaan luka tertembak hampir mati berbisik kepada Jack bahwa keadaan sebenarnya bisa diubah; dengan kata lain, saat itu ia ingin berbisik: manusia sebenarnya bisa memilih.

Jack sendiri akhirnya tahu: ada yang lebih tahan menggerakkan hidup ketimbang the Great Twitch yang seperti mesin sejarah itu. Bukan rumusan baik dan buruk, bukan ajaran bukan agama, melainkan sesuatu yang lebih awal ketimbang itu semua: ketika manusia ternyata bisa menangis dan bertindak mengulurkan tangan ketika yang tak berdaya, yang kelaparan, yang dipermalukan dan dihinakan terkapar di halaman.

Politik memang sering menganggap bela rasa itu hanya instrumen. Tapi ada selalu kebutuhan praktis sebuah kota, sebuah polis, untuk terus-menerus melawan, mencegah, agar orang seperti Willie Stark, yang hanya tertarik kepada dirinya sendiri dan hanya percaya akan Keburukan, tak terus-menerus menguasai hidup dan percakapan. Di situ politik berarti sebuah kerja, ketika engkau mengajakku memulihkan kembali harapan: meskipun Kebaikan tak selamanya jelas, Keburukan bukanlah dasar segalanya.

~Majalah Tempo Edisi. 17/XXXIIIIII/18 – 24 Juni 2007~

Komentar»

1. W.N.Padjar - Juni 22, 2007

Makasih, Mas GM. Betul, dari pengalaman, kebaikan orang-orang, yang tidak saya kenal sekalipun, membuat saya bisa bertahan hidup seperti sekarang ini meskipun hal-hal yang buruk dari orang-orang yang selalu mementingkan diri sendiri sering membuat saya pesimis dengan hidup ini. Tapi itu tidak seberapa.
Kebaikan tidak selamanya jelas, tapi keburukan bukanlah dasar segalanya.

2. tukang ketik - Juni 22, 2007

good post

thx

3. zaki - Juni 22, 2007

Kata Goethe, kebijaksanaan tidak pernah bertentangan dengan moral.

4. Uthan Lumbantobing - Juni 25, 2007

politik ibarat kita sedang memainkan gitar. setiap senar yang dipetik adalah instrumen yang memberikan nada nada yang indah[seharusnya]. tapi yang terjadi justru adalah hal yang sama sekali bertolak belakang dengan yang kita inginkan.
politik jadi dianggap mempunyai itikad yang baik ketika politik itu sendiri mengatur kepada hal hal yang benar, tidak mendorong untuk saling menipu, dan saling membiarkan.
setiap senar memang akan memainkan setiap nada yang berbeda. tetapi alangkah akan jauh lebih baik, jika setiap senar dipetik secara bersama sama. agar tidak saling membiarkan. begitulah politik yang sehat.

5. ibra - Juni 25, 2007

jika memang algoritma dasar dari bahasa adalah sungai informasi, dan informasi diperlukan untuk mengurangi ketidak pastian, lalu sebuah karya bahasa tidak ditujukan untuk menjadi rumusan baik dan buruk, bukan ajaran bukan agama, maka tentunya ia menjadi sebuah ”pertunjukan”.

sebab sebuah “pertunjukan” seringnya punya daya gugah untuk kesadaran. kita pun ingat dengan Hamlet yang mengatakan : “kita akan menangkap kesadaran raja dengan pertunjukan”.

namun bila sebuah pertunjukan dianggap sebagai sebuah seni, maka biarlah ” seni, menjadi seni saja…kita memiliki seni agar kita tidak mati dalam menghadapi kebenaran” kata Nietzsche.

Dan bila sebuah karya bahasa memiliki nilai seni sekaligus daya gugah untuk kesadaran, tentunya karya itu adalah sebuah pertunjukan yang megah.

dan saya cinta itu, tentu saja.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: