jump to navigation

Kotor Juli 2, 2007

Posted by anick in All Posts, Kisah, Sejarah.
trackback

”Aku ini—tanganku kotor. Sampai ke siku. Telah kucelupkan ke dalam tahi dan darah.”

Ucapan Ketua Partai Komunis dalam lakon Les Mains Sales karya Sartre itu kini dikenang sebagai perumusan kembali petuah Machiavelli dari abad ke-15: siapa saja yang masuk ke kancah kekuasaan harus siap menyentuh najis. Pengertian Les Mains Sales, ”tangan yang kotor”, telah jadi kiasan abad ke-20 bagi sebuah kondisi ketika cita-cita yang baik terpaksa dicapai dengan cara yang tak baik.

Machiavelli menasihati agar para penguasa mampu bertindak bagaikan hewan, bak rubah yang licik dan singa yang ganas. Sartre menampilkan Hoederer, sang Ketua Partai, untuk mengatakan bahwa yang suci murni hanyalah ”gagasan para rahib dan fakir”. Ia mengecam para intelektual yang menyerukan la pureté. ”Kalian, kaum intelektual, anarkis borjuis,” kata Hoederer, ”kalian pakai kesuci-murnian sebagai dalih untuk tak melakukan apa-apa! Tak berbuat apa pun, tinggal diam saja, merapatkan lengan ke tubuh, mengenakan sarung tangan!”

Kata-kata Hoederer bukan tanpa arah ke luar panggung. Lakon ini pertama kali dipentaskan pada 1948, pada zaman ketika Eropa dibayang-bayangi intrik dan perebutan posisi dalam Perang Dingin – sementara para pemikir bergulat dengan persoalan moralitas dalam revolusi dan demokrasi.

Dengan Les Mains Sales, Sartre memasuki perdebatan besar ini. Tapi tiap lakon yang baik tak berangkat dengan satu premis dan berakhir dengan satu pendirian. Ceritanya berlatar tahun 1930-an, ketika sebuah negeri Eropa Timur bernama Illyria—negeri khayal yang juga dipakai Shakespeare dalam Twelfth Night—menghadapi ancaman pendudukan Jerman.

Oleh kawan-kawan separtainya, Hoederer dianggap berkhianat. Ia telah membentuk kerja sama dengan partai ”borjuis” untuk menghadapi musuh dari luar itu. Pemimpin partai yang lain memutuskan dia harus dihabisi, karena ia sangat berpengaruh. Yang ditugasi adalah Hugo Barine, seorang pemuda komunis yang sebenarnya lebih seorang intelektual yang masuk Partai karena keyakinan ketimbang seorang pembunuh.

Anak muda ini bersama istrinya, Jessica, berhasil menyusup sebagai sekretaris sang Ketua. Dalam percakapan dengan calon pembunuhnya itulah Hoederer mengutarakan argumennya: kerja sama dengan partai-partai ”borjuis” diperlukan karena baginya Partai Komunis tak cukup kuat menghadapi ancaman Nazi dari luar. Memang dengan demikian kemurnian prinsip jadi bengkok. Tapi mau apa lagi? ”Kau bayangkan orang bisa mengatur kekuasaan dengan tanpa dosa?” tanya Hoederer kepada Hugo—sebuah tanya yang tak bertanya.

Mengatur kekuasaan adalah sebuah posisi dan tugas yang pada akhirnya diarahkan kepada sebuah efek. Hasil adalah yang terpenting, dan segala hal lain dinilai berdasarkan itu. ”Semua cara dinilai baik,” kata Hoederer, ”bila efektif.”

Itu sebabnya ia tak ragu untuk menajiskan tangannya. Tapi apa yang najis dan kurang najis telah diporak-porandakan Sartre dengan menampilkan Hoederer. Pada akhirnya Hugo menembak mati Hoederer. Tapi bukan karena dorongan tugasnya. Ia cemburu. Jessica, istrinya, jatuh hati kepada Hoederer yang jauh lebih tua, lebih matang, dan sebenarnya orang baik yang gampang mempercayai orang lain.

Yang ironis ialah bahwa akhirnya Partai mengakui benarnya strategi Hoederer dalam membentuk front bersama dengan partai-partai ”borjuis”. Hoederer dibersihkan namanya. Ia dinyatakan sebagai pahlawan, bukan seorang yang dibunuh karena telah menyalahi garis politik, bukan pula karena soal cinta dan cemburu.

Ia akhirnya juga bagian dari dusta, bahkan ketika ia tak berada di kancah perjuangan lagi. Mungkin Jessica benar ketika ia berkata, ”Indah sekali, manusia yang bersendiri.” Tapi dengan itu sebuah dilema tak terelakkan. Dalam kesendiriannya, manusia tak perlu mempengaruhi, menguasai, atau bersekutu dengan orang yang berfiil jahat, tak perlu pula menggunakan siasat setengah atau 100 persen menipu, tak perlu menyogok dan tak usah menakut-nakuti. Tapi dalam kesendirian itu bagaimana ia akan mengerti yang baik dan buruk, dan mengubah hidup? Bagaimana, seperti kata Hoederer, ”orang bisa mengatur kekuasaan dengan tanpa dosa?”

Makna ”tangan kotor” dalam lakon Sartre memang harus dibedakan dengan cara mereka yang bergelimang najis untuk kepentingan diri sendiri. Tentu saja tak selamanya jelas, sejauh mana seseorang tahu, atau tulus, ketika ia mengatakan bahwa ia berbuat sesuatu dengan ”tangan kotor” untuk kepentingan yang lebih besar. Di Indonesia, bahkan tentara yang dikerahkan atas nama keamanan nasional atau keutuhan teritorial mungkin hanya berdasarkan perhitungan dana anggaran yang akan dicuri sejumlah jenderal yang gemar bicara tentang patriotisme….

Itu sebabnya ada kehendak yang sah agar mana yang najis, mana yang mulia, tak ditentukan berdasarkan tujuan sebuah tindakan. Ada yang, seperti Kant, menegaskan utamanya dasar nilai yang ”deontologis”: kita berbuat baik karena kewajiban moral, bukan karena akibatnya yang bermanfaat. Jika seorang pembunuh datang ke Anda dan bertanya di mana orang yang akan dibunuhnya bersembunyi, Anda tak boleh bohong, bila Anda tahu. Bohong, biarpun untuk tujuan baik, adalah sesuatu yang secara moral tak bisa dibenarkan.

Saya tak tahu akankah saya berbuat begitu. Ada yang menakutkan dalam tiap pemutlakan. Apalagi dasar nilai ”deontologis” bisa merupakan problem, karena dalam hal menentukan apa yang ”kotor” dan ”suci” mungkin terlibat sebuah proses politik yang diam-diam menentukan siapa yang menang untuk didengar. Hoederer mencoba membongkar konstruksi itu. Ia punya alasan yang kuat. Tapi ia salah ketika menyimpulkan bahwa ”dunia diciptakan buruk”. Sebab, jika demikian, yang ”baik” harus dibangun dari titik nol—sementara yang ”baik” bukan hal yang mustahil ada di antara dan di dalam kita. Bukankah kejahatan selalu berhadapan dengan kata ”tidak”?

~Majalah Tempo, Edisi. 19/XXXIIIIII/02 – 8 Juli 2007~

Komentar»

1. thesarong - Juli 3, 2007

Saya teringat pada percakapan antara Benjamin Kapanay dan Danny Archer dalam film Blood Diamond.

“Jika bertanya pada hati, aku percaya ada kebaikan di dalam diri setiap orang.” Kemudian Benjamin menambahkan dengan nada yang dalam namun tenang, “Tapi pengalaman (seringkali) menunjukkan sebaliknya. Bagaimana dengan tuan?”

Lalu lelaki muda itu menjawab, ”(Ah..) mereka hanya manusia!”

2. denai - Juli 5, 2007

saya baru ke sini

3. bat man - Juli 7, 2007

mari membersihkan diri – tobat………!

4. wonkndeso - Juli 8, 2007

mumpung masih sampai di siku, lekas cabut dan bersihkan dari tai dan darah itu……..!, bagaimana membersihkannya ? terserah anda !🙂

5. Fatoni - Juli 10, 2007

Politik memang kotor!

6. zombie - Juli 11, 2007

hitam putih, punya tempatnya sendiri di setiap sudut bumi ini!entah kalo di Mars apakah ada Marx disana!karena mungkin kita lupa, sangat absurd ketika berharap banyak untuk menguasai sebagian orang dengan sepenuh waktu. dan upaya penguasaan semua orang dengan sebagian waktu!goyang neeengg!

7. zaki - Juli 12, 2007

Kekuasaan memang kotor dan terbuat dari darah dan jiwa orang2 yang tidak menyerah pada pembodohan. Dan kita sekarang di Indonesia secara genetik adalah keturunan para penguasa2 lokal zaman belanda dan jepang dulu, yang menjilat penjajah dan menginjak jelata. Dan para jelata dan keturunannya itu tentu sekarang sudah punah oleh kelaparan dan penyakit karena tidak bisa beradaptasi dengan kondisi kotor itu. Sedangkan jika ada yang jujur dan berjuang untuk mempertahankan kebenaran tentu sekarang juga sudah punah karena di bunuh oleh penguasa.

Setelah 353 tahun mengalami penjajahan, ditambah masa2 rezim prabu dan raja2 di jawa, hingga tirani modern bernama orba, tentu hanya mereka2 yang bermental pengkhianatlah yang bisa bertahan untuk hidup dan berkembang biak hingga sekarang.
Maka jangan heran kalau sekarang kita melihat kenapa orang Indonesia, dari rakyat kecil hingga pejabat, semua bermental penjilat dan pengkhianat karena semuanya adalah keturunan dari nenek moyang yang pengkhianat, baik secara genetik maupun kultural dan struktural.
Maka jika ada yang membawa2 moral dan religiusitas dalam kancah politik sekarang, akan terlihat seperti suatu kemenduaan yang antagonis, yang mungkin berasal dari anomali sejarah. Tapi bagaimanpun kita harus memberi tempat pada kebenaran biarpun di suatu sudut kecil dalam republik yang luas tapi pengab ini.

8. bisma - Juli 13, 2007

Mungkin ada gemetar yang menyengat
tuk mengambil sebuah keputusan.
Gemertak karena harus berada pada dilema yang
berada di antara pemutlakan sesuatu dan sikap pembiaran yang (terkadang) konyol.

Wah, pergunain akal dan hati aja deh, Mas!

9. Rosencrantz - Juli 15, 2007

Di Indonesia, bahkan tentara yang dikerahkan atas nama keamanan nasional atau keutuhan teritorial mungkin hanya berdasarkan perhitungan dana anggaran yang akan dicuri sejumlah jenderal yang gemar bicara tentang patriotisme….

Yang paling penting bagi kita adalah hidup dengan cukup informasi.

10. yuli ernawati - Juli 31, 2007

nuwun sewu pakdhe… saya hanya ibu rumah tangga biasa yang tidak tahu menahu soal politik. meski karena politik itu pula harga-harga susu dan kebutuhan pokok jadi menjulang tinggi sehingga begitu banyak bayi di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini menderita kekurangan gizi…

11. Cerita buat teman,……Leo « drgsubur - Desember 6, 2007

[…] catatan pinggir GM […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: