jump to navigation

Gubernur Juli 9, 2007

Posted by anick in All Posts, Kisah, Tokoh.
trackback

Sancho Panza yang pendek, buncit, dan bodoh itu bermula sebagai sasaran olok-olok, tapi saya tak tahu adakah ia berakhir demikian.

Penggubahnya, Cervantes, memperkenalkan tokoh petani buta huruf dari La Mancha itu dalam bagian awal Don Quixote sebagai sosok yang lebih menggelikan sekaligus memelas ketimbang Don Quixote yang majenun itu sendiri. Sancho tahu, orang yang dengan setia diikutinya itu seorang yang sinting dirundung khayal—seorang yang berangkat meninggalkan dusunnya dan membayangkan dirinya seorang kesatria pengembara, yang gagah dan mulia hati, seperti dibacanya dari cerita-cerita kuno. Sancho tahu kesintingan ini, tapi ia mengikuti lelaki kerempeng yang mengenakan baju zirah zaman pertengahan itu ke mana saja, naik keledai, meskipun ia tak memahaminya. Ia percaya, janji orang yang menyebut dirinya Don Quixote itu akan terpenuhi: kelak, ia akan diangkat jadi gubernur di sebuah pulau, di sebuah ”insula”.

Di bagian kedua novel termasyhur ini, ternyata harapan itu terpenuhi—tapi kita menemukan dalam diri tokoh konyol ini sesuatu yang lain.

Syahdan, dalam perjalanan pengembaraannya ke pelbagai pelosok Spanyol, Don Quixote dan Sancho Panza bertemu dengan sepasang bangsawan. Suami-istri ini berniat menjadikan kedua orang yang berubah akal itu obyek permainan. Cara mereka: mereka layani fantasi Don Quixote dengan memperlakukannya sebagai kesatria pengembara betul-betul. Mereka kerahkan orang untuk membuat agar suasana seakan-akan kembali ke zaman dahulu. Salah satu olok-olok ialah mengangkat Sancho Panza jadi ”gubernur” di sebuah ”insula” yang sebenarnya sebuah dusun.

Demikianlah Sancho diarak ke Barataria yang dihuni sekitar 1.000 penduduk. Memasuki gerbang dusun ia disambut orang ramai, dibawa ke gereja terbesar, diserahi kunci desa, dan diiring ke kursi hakim di gedung mahkamah. Di situ ia diberi tahu bahwa ”menurut adat kuno” Barataria, siapa saja yang berkuasa di ”pulau” itu harus menjawab pertanyaan yang ”agak rumit dan ruwet”, hingga rakyat dapat mengukur kecerdasan gubernur baru mereka, dan dengan demikian dapat menentukan, akankah mereka bersukacita atau berkabung.

Ternyata Sancho Panza bukan lagi seseorang yang termakan ilusinya sendiri—justru ketika ia dijerumuskan ke dalam ilusi. Ia menolak disebut dengan gelar ”Don”. ”Kamu harus tahu, Bung,” ujarnya kepada orang yang dipasang jadi pembantunya. ”Aku tak punya gelar itu, juga tak seorang pun dalam keluargaku.” Dan dengan suara yang cukup radikal dalam sebuah novel pada abad ke-16, Sancho mengatakan, ”Saya kira di insula ini ada lebih banyak Don ketimbang batu, tapi cukup begitulah: Tuhan mengerti aku, dan jika jabatanku sebagai gubernur hanya berlangsung beberapa hari, aku akan babat para Don ini, sebab begitu banyak mereka….”

Kita tak bisa mengatakan Sancho seorang revolusioner. Ia mempertahankan privilese para priayi, menghormati agama, dan menjunjung tinggi para padri. Namun bagaimanapun, di Barataria itu ia jadi sosok yang menolak dikalahkan: ia meloncat keluar dari sistem yang dipasang.

Dalam sistem itu, seorang petani yang melarat diharuskan jadi lucu ketika ia tak jadi dirinya sendiri; Sancho justru jadi dirinya sendiri. Dalam sistem itu, seorang petani harus terbukti goblok jika berkuasa; Sancho justru mampu memecahkan soal-soal keadilan yang dihadapkan kepadanya.

Lebih dari keadilan, atau di dasar keadilan, ada hal lain yang tak diabaikannya: rasa belas, terutama ketika alasan untuk menghukum seseorang seimbang dengan alasan untuk membebaskannya dari hukuman. Ia ingat ada satu ajaran yang diberikan kepadanya oleh Don Quixote: ”bila hukum dalam keraguan, aku harus mengutamakan dan merangkul rasa belas”.

Ternyata, pada titik yang paling puncak dalam hidupnya, Sancho Panza tak bisa melepaskan pertautannya dengan mereka yang terkekang dan lapar. Agak lucu keluhannya kepada perlakuan Dokter Recio yang serba melarang pak gubernur yang buncit itu makan hal-hal yang dianggap tak sehat. Juga suratnya kepada istrinya, dan surat istrinya kepadanya—meskipun dituliskan orang lain—menunjukkan kuatnya ikatan Sancho dengan asal-usulnya. Suratnya kepada Don Quixote mengungkapkan sisinya yang tak kalah penting: ”Sejauh ini, saya tak menyentuh bayaran atau menerima suap, dan saya tak tahu apa artinya ini, sebab mereka katakan di sini bahwa orang-orang memberi atau meminjamkan banyak kepada gubernur yang biasanya datang ke insula ini, bahkan sebelum mereka datang, dan bahwa itulah praktek umum siapa saja yang pegang jabatan gubernur, tak hanya di sini….”

Pada suatu zaman yang korup macam itu, jabatan akhirnya sebuah kesempatan untuk jadi manusia luar biasa justru dengan jadi manusia biasa. Terutama dalam sikap terhadap kedudukan: ketika jabatannya membuatnya terasing dari dirinya sendiri, Sancho memilih untuk meninggalkan kursinya yang luhur.

Salah satu bagian yang mengharukan dalam Don Quixote ialah setelah Sancho dipermainkan habis-habisan. Pada suatu malam, ”insula” itu seakan-akan diserang musuh. Pak Gubernur harus dilindungi dengan dijepit perisai seperti seekor penyu. Dalam ”pertempuran”, ia terjatuh tergolek secara menggelikan. Ia pingsan. Tapi itulah titik akhir.

Fajar merekah ketika Sancho siuman. Ia pun berdiri, mengenakan bajunya dengan amat pelan karena luka-luka tubuhnya. Selama itu ia diam, juga ketika ia berjalan ke kandang tempat keledainya diinapkan. Orang-orang pun mengikutinya, di antaranya ada yang menyesal bahwa olok-olok mereka sudah berlebihan.

Di kandang itu, Sancho sang petani merangkul keledai yang selama itu menemaninya. Matanya basah: ”Kemari, teman perjalanan dan sahabatku, kawanku di sepanjang sengsara dan duka”. Ia tahu dengan hewan itu ia merasakan kebahagiaan. Di kursi gubernur itu tidak.

~Majalah Tempo, Edisi. 20/XXXIIIIII/09 – 15 Juli 2007~

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: