jump to navigation

Mereka Juli 16, 2007

Posted by anick in Agama, All Posts, Fundamentalisme, Identitas.
trackback

Mereka di luar dan terkutuk, kami tidak. Di sini, kami adalah penyelamatan; di sana, mereka sesat….

Di abad ke-21, suara seperti itu akan terasa sebagai gema dari sebuah zaman kusam berabad-abad yang lalu. Tapi benarkah itu suara yang telah lapuk oleh panas, lekang oleh hujan?

Tembok Vatikan berdiri tegak, tua, seakan tak terusik. Dalam bulan Juli 2007 ini Paus Benediktus menegaskan kembali apa yang dirumuskannya ketika ia masih Kardinal Joseph Ratzinger tujuh tahun sebelumnya. Doktrin ini, Dominus Iesus, telah menyebabkan para pemimpin Protestan menganggap Vatikan kini sebuah pintu yang ditutup kembali. Pertalian ekumeni dan dialog sesama iman Kristiani mungkin tak dapat diharapkan lagi. Seorang tokoh Protestan, Wolfgang Huber, ketua kelompok Gereja Evangeli Jerman, mengeluh: ”Harapan ke arah sebuah perubahan dalam situasi hubungan ekumeni telah digusur lebih menjauh….”

Paus yang sekarang, kata Huber, mengulangi ”statemen yang melecehkan” yang termaktub dalam Dominus Iesus. Pernah ada suatu masa harapan kerukunan akan tumbuh pesat, ketika Konsili Vatikan II dijadikan pegangan bagi Gereja Katolik untuk menerima dengan lebih hormat agama-agama lain. Tapi Konsili Vatikan itu kini berumur 40 tahun, dan di Takhta Suci duduk seorang Paus yang memandang cemas dunia pascamodern.

Kecemasannya memang mencemaskan. Ketika Dominus Iesus diumumkan, Presiden Federasi Gereja-Gereja Evangeli Italia, Domenico Maselli, bereaksi: teks itu merupakan ”sebuah langkah besar mundur dalam hubungan antara Katolik Romawi dan komunitas Kristiani lain”. Gereja Anglikan, ketika itu di bawah Uskup Agung Canterbury, George Carey, mengecamnya sebagai sesuatu yang tak dapat diterima.

Tapi doktrin ”tak ada penyelamatan di luar Gereja”, extra ecclesiam nulla salus, agaknya senantiasa dapat dipanggil kembali ketika dibutuhkan. Dan Paus Benediktus XVI melihat bahwa abad ke-21 adalah masa serba nisbi, tak ada ajaran yang dianggap benar secara mutlak, ketika manusia bingung mencari pegangan seakan-akan Tuhan benar mati. Ia membawakan ketakutan orang-orang tradisionalis, yang mengecam ”ekumenisme” Konsili Vatikan II, yang dianggap telah mengaburkan garis lurus ajaran. Doktrin telah dibuat lemah di hadapan ”agama-agama yang palsu”.

Tapi orang tak bisa menyalahkan sebuah zaman. Pintu yang tertutup selalu mengikuti tiap gereja—dan Roma tak hanya kali ini membuat palang pintu yang besar. Di tahun 1441, Gereja memaklumkan bula Cantate Domino, 1441: ”tak seorang pun yang ada di luar Gereja Katolik, tak hanya orang tak beragama, juga orang Yahudi, orang murtad… tak akan mendapatkan tempat dalam kehidupan abadi, tapi mereka akan masuk ke dalam api abadi yang disiapkan oleh Setan… biarpun mereka besar sedekahnya, biarpun mereka menumpahkan darah atas nama Kristus….”

Maka apa sebenarnya yang baru dalam pendirian Paus Benediktus XVI—dan apa yang aneh di sana, sebab hampir tiap agama membangun pintu benteng yang membatasi ”mereka” dengan ”kami”, dan menunjukkan gejala yang disebut oleh Bergson sebagai ”moralitas tertutup”?

Dalam risalahnya yang terkenal, karya besarnya yang terakhir, Dua Sumber Moralitas dan Agama, Bergson menyebut ”moralitas tertutup” itu tampak ketika agama hadir dalam sifatnya yang ”statis”. Moralitas ini berkembang dari kehendak untuk menjaga kesatupaduan sosial—sebuah kebutuhan yang tumbuh karena spesies tahu ia tak akan dapat hidup sendirian. Kelanjutan hidup komunitas itu mengharuskan adanya sikap patuh kepada aturan, ketika ada rasa terancam oleh elemen yang ada di luarnya. Bagi Bergson, ”moralitas tertutup” berurusan dengan perang. Di sini berperan ”fungsi fabulasi”: dengan inilah dihadirkan citra dewa atau tuhan yang mengawasi, agar kepatuhan dijaga.

Dari segi ini, extra ecclesiam nulla salus dan pelbagai variasinya dalam agama-agama lain pada hakikatnya berpegang pada apa yang keras tapi beku, kukuh tapi mandek. Berbeda dengan ”moralitas terbuka”. Bergson menggunakan kata ”terbuka” karena sifatnya yang inklusif, tak hendak menyisihkan ”mereka” dari ”kami” yang suci, dan mencalonkan mereka serta-merta ke api neraka yang kekal.

Moralitas ini lahir dari ”emosi kreatif”: emosi yang melahirkan (dan bukan dilahirkan oleh ) representasi, seperti ketika seorang musikus, karena dorongan emosinya, melahirkan nada-nada dalam notasi.

Dapat dibayangkan bahwa dalam hal ini bukan teks ajaran dan lembaga sang penjaga doktrin yang melahirkan hubungan aku dengan Tuhan. Hubungan aku dengan Tuhan lahir dari ”emosi kreatif”: dari kerinduan, diri pun menjangkau yang Maha-Agung.

Tentu saja ada sesuatu yang tak dapat diatur di sana—juga tak dapat dibatasi. Maka wajar jika ”moralitas terbuka” pada akhirnya tak akan berkutat pada perumusan siapa ”mereka” siapa ”kami”. Jika di sini orang bicara tentang ”penyelamatan”, ia tak didahului dengan membangun sebuah tembok yang kedap. Ia tak lahir dari ketakutan. Ia tak hendak berlindung dari kehancuran, sebab percaya bahwa Tuhan tak akan menghancurkan, sebab Tuhan akan selalu menjadikan, akan berada dalam proses yang tak tepermanai….

Tapi mungkin Paus seperti halnya mereka yang melihat bahwa ajaran dan komunitas harus selalu dijaga—kalau perlu dengan darah dan besi. Dalam pandangan ini hanya dengan ketakutan, dan dengan pintu tertutup, manusia dapat diselamatkan.

Itu juga wajah muram zaman ini.

~Majalah Tempo Edisi. 21/XXXIIIIII/16 – 22 Juli 2007~

Komentar»

1. W.N.Padjar - Juli 19, 2007

Ya memang.
Hingga sekarang saya percaya bahwa ajaran agama tidak dapat sepenuhnya tertampung dalam pikiran dan sikap seseorang. Seorang nabi sekalipun. Itu mungkin sebabnya semua nabi yang saya tahu lebih berendah hati ketimbang umatnya sendiri.

2. Florentius Indro Suprobo, Resistbook Jogjakarta - Agustus 4, 2007

Kemunduran itu memang telah terjadi sebagaimana diungkapkan oleh Domenico Maselli. Bahkan ketika Vatikan mengumumkan terpilihnya Ratzinger ini sebagai Paus, sudah ada tanda tanya besar dalam diri saya, “Mungkinkah Gereja Katolik Roma akan semakin lebar membuka jendela?” Kini, jawaban-jawaban atas tanda tanya itu sudah perlahan mengalir di hadapan mata.

Pandangan Ratzinger ini tentu merepotkan banyak pelayan dan warga Gereja, terutama mereka yang telah dengan jerih lelah menganyam pola hidup baru relasi dan dialog agama-agama, yang membongkar prasangka-prasangka purba, dan menyusun titian hidup bersama yang dilandasi hormat penuh martabat dan saling percaya dalam cara beragama yang lebih dewasa. Sungguh sayang bukan kepalang, primus inter pares yang satu ini barangkali tak bisa bertahan hati dalam menghadapi generasi yang sudah emoh untuk mendaku segala sesuatu yang serba pasti : keselamatan hanya ada di sana atau hanya ada di sini. Generasi yang ini bahkan mungkin dapat bersaksi dengan tulus dan rendah hati bahwa seringkali, keselamatan itu sudah hadir dalam genggam jemari yang saling mencari, menunduk diri di hadapan keagungan ilahi.

Sekarang ini pantaslah direnung dan dicerna bahwa Gereja Katolik tak hanya berwajah satu dan sama : wajah primus inter pares sang pemuka. Gereja Katolik bukan pula hanya berwajah Roma, apalagi hanya Paus-nya. Pantaslah diresapi dan dipercaya bahwa Gereja Katolik memiliki wajah beragam warna sesuai dengan konteks hidup sosial, politik, ekonomi dan budayanya. Di sanalah, para pecinta dan pengikut Yesus manusia, berduka-cemas, berharap-gembira dalam keseharian-lumrah bersama sesama yang beragam dan beda. Seringkali, mereka ini tanpa nama namun selalu setia mengerjakan apa yang telah dimulai oleh gurunya, Yesus manusia. Mereka ini juga yang lebih merasa bercerah budi apabila terus menerus dapat belajar dan berinspirasi dari banyak nabi.

Sekarang ini, Ratzinger bolehlah mengemukakan sabda, tetapi setulus dan sedalam hati, Gereja Katolik di mana-mana bolehlah pula untuk berbeda dalam pilihan-pilihan dewasa. Pembelaan harkat dan martabat manusia itulah yang utama, dan relasi dengan banyak kepercayaan maupun agama, selalu musti mengalir dari haribaannya. Karena memang demikianlah pada awal mulanya, Yesus yang manusia itu gelisah dan tergerak terutama oleh derita dan jerit lara para petani, buruh kota, dan manusia yang serba dihina-miskin-sengsara. Karena menurut Yesus yang manusia itu, kita dan mereka semua adalah anak-anak yang dikasihi Abba, sang Bapa.

3. Pormadi Simbolon - Agustus 23, 2007

Saya mendengar tulisan Goenawan Mohamad “Mereka” ini sudah ditanggapi oleh seorang Pastor Katolik yang studi di Roma dan tanggapan itu dimuat di Majalah Tempo juga. Ada yang bisa membantu saya?

noname - Oktober 1, 2010

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2007/07/30/SRT/mbm.20070730.SRT124622.id.html

Saya ingin memberikan komentar atas Catatan Pinggir dari Saudara Goenawan Mohamad dalam Tempo edisi 16�22 Juli 2007, halaman 14, berjudul “Mereka”. Beberapa hal yang dikatakan tentang Paus Benediktus XVI sama sekali tidak benar; secara total salah.

Pertama, tidak benar bahwa selama Juli ini Paus Benediktus mengeluarkan pernyataan yang terkait dengan apa yang dirumuskan dalam dokumen “Dominus Iesus”. Yang benar ialah pada 7 Juli 2007 Paus telah mengeluarkan dokumen “Summerum Ponlificum”, yang isinya memberlakukan kembali buku perayaan Ekaristi dari Paus Pius V yang diedit ulang dan dipromulgasikan oleh Paus Yohanes XXIII pada 1962.

Dalam dokumen ini sama sekali tidak ditemukan ekspresi Extra Ecclesiam nulla salus, di luar Gereja tidak ada keselamatan, atau hal-hal yang tertulis di dalam “Dominus Iesus”. Masuk akal jika tidak ditemukan, karena dokumen ini melulu untuk keperluan ibadat umat Katolik di seluruh dunia. Kesan saya, Anda tidak membaca dokumen terbaru ini. Hanya stereotipe.

Kedua, pada 10 Juli 2007, Komisi untuk Ajaran Iman yang diketuai Kardinal Yoseph Levada telah mengeluarkan dokumen “Jawaban-jawaban atas Pertanyaan-pertanyaan perihal Beberapa Aspek Ajaran tentang Gereja”. Dokumen ini telah menimbulkan keluhan dari beberapa pemimpin Protestan. Kalau tentang hal ini yang Anda dengar atau baca, maka saya dapat mengerti. Tetapi Anda salah karena Anda tidak bisa membedakan antara Paus Benediktus XVI dan Kardinal Levada.

Dalam siaran pers sekretaris komisi di atas pada 11 Juli 2007 dijelaskan tujuan dokumen ini untuk meluruskan pendapat yang tidak sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan kedua dari para teolog Katolik yang meragukan eksistensi historis Gereja Katolik. Dalam dokumen ini tidak ada sedikit pun seruan untuk menutup kegiatan ekumene. Bahkan justru mempersiapkan umat Katolik untuk itu. Silakan baca dengan hati terbuka dan tenang.

Ketiga, mengenai dokumen “Dominus Iesus” yang Anda singgung, kalau Anda baca secara teliti dan dengan hati terbuka dari halaman pertama sampai terakhir, pasti Anda tidak akan menemukan ungkapan Extra Ecclesiam nulla salus atau seruan untuk menghentikan kegiatan ekumene atau dialog dengan agama-agama lain. Bahkan pada nomor 20�22 Anda akan menemukan anjuran untuk berekumene dan berdialog dengan agama-agama lain. Sebab di luar gereja juga ditemukan unsur-unsur pengudusan dan kebenaran.

Akhirnya, Paus Benediktus XVI sampai sekarang masih tetap meningkatkan usaha-usaha ekumene dan dialog dengan agama lain. Juga, dua dokumen terakhir yang saya sebutkan tadi menganjurkan untuk tetap melakukan hal yang sama. Semua itu dituntut oleh semangat pembaruan Konsili Vatikan kedua. Kebebasan berefleksi dan menulis Anda amat saya hargai, namun saya juga percaya kebenaran dan kredibilitas suatu tulisan tentang fakta yang harus dijunjung tinggi, untuk tidak dikatakan sebagai kebohongan. Di negara kita sering diteriakkan: fakta diputarbalikkan. Itu juga wajah muram zaman ini.

Hilarius Janggat, OFMCap
Mahasiswa Pascasarjana Teologi Sistemik Universitas Gregoriana, Roma, Italia E-mail:jang73hila@yahoo.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: