jump to navigation

Murtad Juli 23, 2007

Posted by anick in Agama, All Posts, Kisah, Novel, Tokoh, Tuhan.
trackback

Saya tak akan berpindah agama—dan dengan demikian sebenarnya saya memilih agama saya sekarang. Tapi saya sedih benar mendengar cerita orang yang dilarang memilih agama yang ingin dianutnya. Saya sedih mendengar kisah Revathi Massosai.

Perempuan Malaysia ini, yang sudah menikah dan beranak satu, lahir dari ayah ibu yang beragama Hindu tapi kemudian berpindah jadi Muslim. Dari pasangan ini ia mendapatkan nama Muslim. Tapi ia dibesarkan oleh neneknya, seorang Hindu, dan Revathi memilih mengikuti agama sang nenek. Di Malaysia, ini jadi masalah. Di negeri itu, orang yang berayah Muslim harus jadi seorang Muslim. Dan sebagai Muslimah, Revathi dilarang berpindah agama atau menikah dengan seorang yang tak seiman. Ia dilarang murtad.

Tapi di tahun 2004 Revathi kawin dengan seorang pria Hindu. Pasangan ini mendapatkan seorang anak perempuan.

Januari yang lalu ia datang ke mahkamah pengadilan agar secara resmi ia disebut sebagai seorang Hindu. Bukan saja usahanya gagal; ia malah ditahan para petugas. Ia dimasukkan ke ”pusat pemulihan akidah”. Dia ditahan sampai enam bulan. Tujuan para pejabat syariah Islam ialah untuk menjaganya agar ia tetap berada ”di jalan yang benar”—tentu saja ”jalan yang benar” menurut para pemegang otoritas iman di Malaysia.

Selama enam bulan dikungkung itu, ia harus mengenakan jilbab, menegakkan salat, dan lain-lain. Yang kemudian diceritakannya kepada dunia ialah bahwa juga kepadanya disajikan daging sapi—sesuatu yang bagi orang Hindu merupakan pelanggaran.

Pengakuan itu agaknya menimbulkan suara marah dari kalangan Hindu di Malaysia, dan para advokat pembela penguasa syariah di Negara Bagian Malaka itu pun buru-buru menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Revathi tak benar. Mereka yakin, demikian dikutip BBC, bahwa perempuan itu masih bisa dibujuk untuk tetap tak meninggalkan Islam.

Revathi membantah.

Saya tak tahu, apa yang akan didapat para penguasa syariah Islam di Malaka itu sebenarnya: seorang Muslimah yang selamat rohnya dari api neraka, atau jumlah penganut Islam yang tak berkurang, atau seorang yang hanya pura-pura saja beriman kepada Allah tapi hatinya menderita dan tak ikhlas.

Saya tak tahu bagaimana orang-orang yang berkuasa di peradilan syariah itu menafsirkan kearifan terkenal Quran, bahwa ”tak ada paksaan dalam agama”.

Saya juga tak tahu pasti adakah segala usaha mencegah seorang dewasa memilih agamanya sendiri itu merupakan bagian dari politik waswas yang merundung Malaysia—yang menyebabkan soal identitas ”Islam” dipertautkan tetap dengan identitas ”Melayu”, hingga agama bukan lagi diyakini karena kesadaran, melainkan dipegang karena faktor genetik. Saya orang Indonesia, yang dengan agak bangga bisa mengatakan, di negeri ini keislaman tak secara otomatis dikaitkan dengan ras. Iman bukanlah sesuatu yang otomatis. Agama adalah akal, kata Nabi. Akal mengimplikasikan kemerdekaan berpikir dan memilih.

Memang harus saya katakan, saya seorang Muslim karena orang tua saya. Tapi saya sebenarnya bebas untuk tak mengikuti garis itu—sebagaimana orang-orang Arab dulu bebas untuk tak mengikuti kepercayaan nenek moyang mereka dan memutuskan untuk mengikuti Rasul Tuhan, dengan risiko dimusuhi keluarga sendiri dan masyarakat sekitarnya.

Memang harus saya katakan, saya memilih tetap dalam agama saya sekarang bukan karena saya anggap agama itu paling bagus. Saya tak berpindah ke agama lain karena saya tahu dalam agama saya ada kebaikan seperti dalam agama lain, dan dalam agama lain ada keburukan yang ada dalam agama saya. Sejarah agama-agama senantiasa terdiri atas bab-bab yang paling represif dan buas, tapi juga pasase yang paling mulia dan memberikan harapan. Agama menyumbangkan kepada kehidupan manusia secercah kesadaran, betapapun mustahilnya keadilan akan datang, nilai itu—dan segala sifat Allah—tetap memberi inspirasi. Agaknya itulah yang berada dalam inti iman.

Maka pada akhirnya yang penting bukanlah apa agama yang saya pilih dan Revathi pilih, melainkan bagaimana seseorang tetap berada dalam inti iman itu—bagaimana ia hidup dan bertindak.

Dalam inti iman, Tuhan tak dipersoalkan lagi. Bahkan seorang murtad tak bisa menggugat—sebagaimana tokoh Lazaro yang murtad tak bisa untuk tak merasa dekat dengan Don Manuel, pastor di kota kecil Spanyol dalam novel Migel de Unamuno, Saint Manuel Bueno, Sang Martir.

Saya teringat akan tokoh novel itu, sebab Don Manuel adalah seorang penolong, penyabar dan—menurut sang pencerita—suka mendahulukan ”mereka yang paling malang, dan terutama mereka yang membangkang”. Tapi ia juga padri dengan mata sedih.

Pandangannya meredup ketika ia mengatakan kepada seorang anak bahwa orang harus percaya kepada Neraka.

Bahkan Lazaro yang meninggalkan iman Kristennya menghormatinya dan jadi pembantunya. Berdua mereka merawat yang sakit, menemani yang kesepian, memberi makan yang lapar, menghibur yang berduka.

Pastor itu tak meminta Lazaro tetap jadi seorang Kristen. Ia hanya minta agar pemuda itu ”berpura-pura percaya”, meskipun tetap tak beriman, sekadar agar tak membuat heboh penduduk kota kecil itu. Don Manuel tak mendesakkan kebenaran, sebab kebenaran, seperti pernah dikatakannya kepada Lazaro, ”mungkin sesuatu yang begitu tak tertanggungkan, begitu mengerikan, begitu mematikan, hingga orang-orang biasa tak dapat hidup dengan itu”.

Ia sendiri mungkin tak percaya akan neraka; ia bersedih bila Tuhan membalas dendam. Tapi ia tak hendak meninggalkan agamanya, sebagaimana ia membiarkan Lazaro murtad. Pada saat yang sama, seluruh laku hidupnya menunjukkan bahwa harapan bisa terjadi—harapan sebagai bayang-bayang Tuhan yang hadir dalam tiap perbuatan baik dan ikhlas bagi mereka yang luka dan diabaikan.

~Majalah Tempo Edisi. 22/XXXIIIIII/23 – 29 Juli 2007~

Iklan

Komentar»

1. Remo Harsono - Juli 26, 2007

[1] “…bukan karena saya anggap agama itu paling bagus”
[x] Sepertinya anda lebih menganggap agama sebagai hasil budi daya manusia, mirip para ‘pakar’ JIL

[2] “…ada keburukan yang ada dalam agama saya”
[x] keburukan tersebut ada pada ‘agama’-nya ataukah ‘pemeluk’-nya?
Sebegitu tidak sempurnanyakah pencipta anda bila ‘agama-Nya’ memiliki keburukan?

[3] “…Sejarah agama-agama senantiasa terdiri atas bab-bab yang paling represif dan buas”
[x] Sejarah ‘agama’-nya atau ‘manusia’-nya?

[4] “Agama menyumbangkan kepada kehidupan manusia secercah kesadaran…”
[x] Agama yang mana?

[5] “…yang penting bukanlah apa agama yang saya pilih…”
[x] Kasihan…, semoga anda mendapatkan hidayah dari Allah SWT (tenang saja, saya sendiri juga belum dapat hidayah koq…)

adek - Desember 15, 2009

anda itu orang yang tidak punya akal dan hanya memikirkan kebenaran agama anda sendiri.anda pikir agama anda yang paling benar?anda hanya melihat kesalahan orang saja.lihat apa yang terjadi dengan agama anda

2. W.N.Padjar - Juli 26, 2007

Dengan pengertian ‘agama’ sbg ajaran Tuhan yang steril dari sejarah dan tafsirnya yg dibuat manusia, saya ingin nanggapin tanggapan mas Remo:

[1] “…bukan karena saya anggap agama itu paling bagus”
[x] Sepertinya anda lebih menganggap agama sebagai hasil budi daya manusia, mirip para ‘pakar’ JIL
[t] ‘bagus’ atau ‘tidak bagus’ jelas bukan kata yg pas disandingkan dengan ‘agama’. Tapi, mas Remo, kenapa harus dikaitkan dengan ‘mirip pakar JIL’.

[2] “…ada keburukan yang ada dalam agama saya”
[x] keburukan tersebut ada pada ‘agama’-nya ataukah ‘pemeluk’-nya?
[t] ‘keburukan’ tidak melekat pada ajaran Tuhan, tapi pada manusia yg keras kepala dg tafsir yg dibuatnya sendiri.

[3] “…Sejarah agama-agama senantiasa terdiri atas bab-bab yang paling represif dan buas”
x] Sejarah ‘agama’-nya atau ‘manusia’-nya?
[t] Ya sejarah manusianya penganutnya dong.. Namanya juga ‘sejarah ‘. Persis logika enteng pd judul buku ‘Sejarah Tuhan’.

[4] “Agama menyumbangkan kepada kehidupan manusia secercah kesadaran…”
[x] Agama yang mana?
[t] Itu pertanyaan yg nggak perlu, mas Remo. Kenapa seperti ngotot bahwa agama yg anda anut yang memberi secercah kesadaran. Apakah rahmat Tuhan tidak meliputi pula orang yang tidak percaya agama sekalipun?

[5] “…yang penting bukanlah apa agama yang saya pilih…”
[x] Kasihan…, semoga anda mendapatkan hidayah dari Allah SWT (tenang saja, saya sendiri juga belum dapat hidayah koq…)
[t] Jadi bingung nih siapa yang harus dikasihani.. orang yg dianggap belum mendapat hidayah atau orang yg merasa mendapat hidayah dan merasa orang lain belum mendapat hidayah.

3. harjono - Juli 26, 2007

ikutan ah,

[1] “…bukan karena saya anggap agama itu paling bagus”
[x] Sepertinya anda lebih menganggap agama sebagai hasil budi daya manusia, mirip para ‘pakar’ JIL
[t] ‘bagus’ atau ‘tidak bagus’ jelas bukan kata yg pas disandingkan dengan ‘agama’. Tapi, mas Remo, kenapa harus dikaitkan dengan ‘mirip pakar JIL’.
[t2] kl anda tdk percaya agama yg anda anut itu bagus, buat apa anda memeluk agama? Tafsiran saya, secara tdk lsg anda mengiyakan bahwa agama adalah hasil budidaya manusia. Dikaitkan dg JIL : Memang anda kenal JIL? Kl anda kenal JIL, berarti pernyataan Pak Remo cukup mendasar.

[2] “…ada keburukan yang ada dalam agama saya”
[x] keburukan tersebut ada pada ‘agama’-nya ataukah ‘pemeluk’-nya?
[t] ‘keburukan’ tidak melekat pada ajaran Tuhan, tapi pada manusia yg keras kepala dg tafsir yg dibuatnya sendiri.
[t2] darimana anda tahu kl suatu ajaran ditafsirkan semaunya dan oleh orang yg keras kepala selama anda sendiri tdk bisa menafsirkannya. Kl anda mendalami Islam -sedikit saja- akan anda temukan bahwa beberapa ayat Al Quran dan hadits nabi dimungkinkan terjadi penafsirkan berbeda oleh tulama yg ilmunya jauuh lebih utama dibanding anda dan saya.

[3] “…Sejarah agama-agama senantiasa terdiri atas bab-bab yang paling represif dan buas”
x] Sejarah ‘agama’-nya atau ‘manusia’-nya?
[t] Ya sejarah manusianya penganutnya dong.. Namanya juga ’sejarah ‘. Persis logika enteng pd judul buku ‘Sejarah Tuhan’.
[t2] jadi menurut anda, agama itu bagus apa tidak?

[4] “Agama menyumbangkan kepada kehidupan manusia secercah kesadaran…”
[x] Agama yang mana?
[t] Itu pertanyaan yg nggak perlu, mas Remo. Kenapa seperti ngotot bahwa agama yg anda anut yang memberi secercah kesadaran. Apakah rahmat Tuhan tidak meliputi pula orang yang tidak percaya agama sekalipun?
[t2]berarti kl anda sudah mendapat (tepatnya : merasakan) secercah kehidupan, anda tdk perlu beragama?

[5] “…yang penting bukanlah apa agama yang saya pilih…”
[x] Kasihan…, semoga anda mendapatkan hidayah dari Allah SWT (tenang saja, saya sendiri juga belum dapat hidayah koq…)
[t] Jadi bingung nih siapa yang harus dikasihani.. orang yg dianggap belum mendapat hidayah atau orang yg merasa mendapat hidayah dan merasa orang lain belum mendapat hidayah.
[t2] ya, sekarang kita semua tidak bingung lagi kan, siapa yg harus dikasihani?

4. Dion. S.Soegijoko. - Juli 26, 2007

Tindakan pemaksaan terhadap Revathi itulah yang mengerikan. Siapakah kita manusia ini……? sehingga sok berkuasa melebihi Sang Maha Kuasa…..; yang sering merasa paling tahu……melampaui Sang Maha Tahu. Kita dengan mudah “berlindung” di balik nama besar Tuhan, dan melempar kejelekan pada orang/kelompok lain……….padahal wajah kita coreng-moreng, tangan kita berlumuran darah………!

5. Ndaru - Juli 26, 2007

untuk memperpanjang masalah,

[1] “…bukan karena saya anggap agama itu paling bagus”
[x] Sepertinya anda lebih menganggap agama sebagai hasil budi daya manusia, mirip para ‘pakar’ JIL
[t] ‘bagus’ atau ‘tidak bagus’ jelas bukan kata yg pas disandingkan dengan ‘agama’. Tapi, mas Remo, kenapa harus dikaitkan dengan ‘mirip pakar JIL’.
[t2] kl anda tdk percaya agama yg anda anut itu bagus, buat apa anda memeluk agama? Tafsiran saya, secara tdk lsg anda mengiyakan bahwa agama adalah hasil budidaya manusia. Dikaitkan dg JIL : Memang anda kenal JIL? Kl anda kenal JIL, berarti pernyataan Pak Remo cukup mendasar.
[xyz] mungkin kita perlu mulai membudidayakan agama: karena bisa diekspor ke luar negeri, seperti asap dan tki. prospeknya lebih bersinar drpd budidaya jamur.

[2] “…ada keburukan yang ada dalam agama saya”
[x] keburukan tersebut ada pada ‘agama’-nya ataukah ‘pemeluk’-nya?
[t] ‘keburukan’ tidak melekat pada ajaran Tuhan, tapi pada manusia yg keras kepala dg tafsir yg dibuatnya sendiri.
[t2] darimana anda tahu kl suatu ajaran ditafsirkan semaunya dan oleh orang yg keras kepala selama anda sendiri tdk bisa menafsirkannya. Kl anda mendalami Islam -sedikit saja- akan anda temukan bahwa beberapa ayat Al Quran dan hadits nabi dimungkinkan terjadi penafsirkan berbeda oleh tulama yg ilmunya jauuh lebih utama dibanding anda dan saya.
[xyz] setiap pemeluk agama pasti melihat yg bagus2 dari agamanya sendiri, tapi jarang ada yg bisa menemukan ‘keburukan’ di dalamnya.

[3] “…Sejarah agama-agama senantiasa terdiri atas bab-bab yang paling represif dan buas”
[x] Sejarah ‘agama’-nya atau ‘manusia’-nya?
[t] Ya sejarah manusianya penganutnya dong.. Namanya juga ’sejarah ‘. Persis logika enteng pd judul buku ‘Sejarah Tuhan’.
[t2] jadi menurut anda, agama itu bagus apa tidak?
[xyz] manusia sering memproyeksikan kebencian, ke-xenophobia-an, amarah, ego, dll lewat agama. dan seringkali agama punya celah2 yang bisa dipakai untuk membenarkan tidakan sang manusia.

[4] “Agama menyumbangkan kepada kehidupan manusia secercah kesadaran…”
[x] Agama yang mana?
[t] Itu pertanyaan yg nggak perlu, mas Remo. Kenapa seperti ngotot bahwa agama yg anda anut yang memberi secercah kesadaran. Apakah rahmat Tuhan tidak meliputi pula orang yang tidak percaya agama sekalipun?
[t2]berarti kl anda sudah mendapat (tepatnya : merasakan) secercah kehidupan, anda tdk perlu beragama?
[xyz] setuju dengan [x] dengan sedikit menambah: Agama??? Yang mana???

[5] “…yang penting bukanlah apa agama yang saya pilih…”
[x] Kasihan…, semoga anda mendapatkan hidayah dari Allah SWT (tenang saja, saya sendiri juga belum dapat hidayah koq…)
[t] Jadi bingung nih siapa yang harus dikasihani.. orang yg dianggap belum mendapat hidayah atau orang yg merasa mendapat hidayah dan merasa orang lain belum mendapat hidayah.
[t2] ya, sekarang kita semua tidak bingung lagi kan, siapa yg harus dikasihani?
[xyz] hehehehe… (cuman bisa senyum)

6. Bambang S. Soedharto - Juli 26, 2007

Jadi teringat alm Romo Mangun. Beliau kalau ndak salah pernah bilang: The question is not ‘what religion are you?’, but ‘how religious are you?’

7. fertobhades - Juli 26, 2007

[1] “…bukan karena saya anggap agama itu paling bagus”
[x] Sepertinya anda lebih menganggap agama sebagai hasil budi daya manusia, mirip para ‘pakar’ JIL

cara mudah dalam berdiskusi : Ad Hominem 🙂

Cara membaca tulisan GM diatas adalah dengan bahasa spiritualitas : bahwa Tuhan memberikan cahayanya bagi semua makhluk ciptaanNya. Tuhan melampaui manusia, dan juga melampaui agama.

8. k'baca - Juli 26, 2007

=”Saya tak tahu bagaimana orang-orang yang berkuasa di peradilan syariah itu menafsirkan kearifan terkenal Quran, bahwa ”tak ada paksaan dalam agama”=
…….Barangkali ada kewajiban menjaga – bagi yg sudah mampir ke Islam dan ingin berusaha menggagalkan supaya jangan keluar dari Islam (Murtad) – namun ketika memang gak bisa dicegah lagi, apabolehbuat, menurut saya “petugas” itu sudah menjalani tugas…….
Dan menurut ayat itu, seharusnya: Jangan Dipaksa!

9. Remo Harsono - Juli 26, 2007

Yesss…akhirnya ada yang merasa kasihan 😀

Pertanyaan2 saya diatas cukup buat direnungken saya sendiri en sampean2 (itu kl sampean ga tergelitik bwat njawab he..he..he..)

Sedikit ralat untuk tanda quote: ‘mirip pakar JIL’ => mirip ‘pakar’ JIL (jadi asumsi saya bapak2 di JIL sono memang ‘pakar’…)

Udah dulu ahh, coding lagi…maklum programmer 😦

10. danalingga - Juli 26, 2007

Kalo saya nggak mau pindah agama karena saya lihat semua agama mengarah ke titik yang sama. So … buat apa coba saya capek capek pindah agama, jika toh hasil akhirnya sama saja? 😉

11. temen`e ndaru - Juli 27, 2007

buat ndaru,.loe gokil bnget..gw suka dgn perspektif loe,ancur abizz… heheheh…….! selalu mlihat sesuatu dari sudung pandang yang paling humoris,,biarpun orang lain ga setuju,tp se ndak2ny bisa bikin senyum.

12. Toni - Juli 27, 2007

SATU RUMAH BANYAK AGAMA?

Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi. (Ulil Abshar-Abdalla, “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, Kompas, 18/11/02)

Pendapat Ulil di atas dilandasi oleh keinginan bahwa umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai “masyarakat” atau “umat” yang terpisah dari golongan yang lain. Menurut Ulil, umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri.

Di samping alasan di atas, menurut Ulil, Al Qur’an sendiri tidak pernah dengan tegas melarang itu, karena Qur’an menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama.

Tentu saja pendapat Ulil ini, sebagaimana frame wacana Jaringan Islam Liberal (JIL), sangat membahagiakan para pelaku dan peminat perkawinan antaragama. Mungkin artis semacam Yuni Shara sangat berterima kasih kepada Ulil dan JIL karena status suaminya adalah non-­Islam. Bahkan seperti dilaporkan Media Dakwah (Jumadil A k h i r 1423/September 2002), di Batusangkar, Sumatera Barat setelah Dr. Zaenun Kamal, aktivis Paramadina dan salah satu konstributor JIL, melontarkan gagasan bolehnya wanita Muslimah kawin dengan lelaki Kristen, yang disiarkan lewat jaringan radio 68H Utan Kayu Jakarta, ­sejumlah wanita Muslimah dikawini lelaki Kristen.

Tapi bagaimana sebenarnya? M. Qurays Shihab, seorang ulama yang dianggap moderat pun, ternyata sependapat dengan jumhur ulama tentang larangan wanita Muslimah dinikahi lelaki non-Muslim sebagai sesuatu yang jelas telah diatur Al Qur’an. Dalam Wawasan Islam Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, beliau mengatakan, “Larangan mengawinkan perempuan Muslimah dengan pria non-Muslim­—termasuk pria Ahl Al Kitab—diisyaratkan oleh Al­ Quran. Isyarat ini dipahami dari redaksi surat Al ­Baqarah (2): 221, yang hanya berbicara tentang ‘ bolehnya perkawinan pria Muslim dengan wanita Ahl Al-Kitab, dan sedikitpun tidak menyinggung sebaliknya. Sehingga seandainya pernikahan semacam itu dibolehkan, maka pasti ayat tersebut akan menegaskannya.

Dalam pandangan Shihab, larangan perkawinan antarpemeluk agama yang berbeda itu agaknya dilatarbelakangi oleh harapan akan lahirnya sakinah dalam keluarga. Perkawinan baru akan langgeng dan tentram jika terdapat kesesuaian pandangan hidup antarsuami dan istri, karena jangankan perbedaan agama, perbedaan budaya, atau bahkan perbedaan tingkat pendidikan antara suami dan istri pun tidak jarang mengakibatkan kegagalan perkawinan.

Laki-laki Muslim Menikahi Ahl Al-Kitab?

Jika ulama sepakat—kecuali, tentu, kelompok Islam Liberal—bahwa wanita Muslimah haram dinikahi laki-laki non-Islam, maka ulama berbeda pendapat tentang bolehnya laki-laki Muslim menikahi wanita non-Muslim yang Ahl Al-Kitab.

Yang tidak membenarkan berargumentasi dengan merujuk pada surat Al Bagarah/2 ayat 221, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Dan janganlah kamu menikahkan orang-­orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman.”

Ayat di atas sekaligus menggugurkan surat AI Maidah/5 ayat 5 yang membolehkan laki-laki Muslim menikahi wanita Ahl Al-Kitab. Karena dalam pandangan kelompok ulama ini, sebagaimana diungkapkan Sahabat Nabi SAW Abdullah Ibnu Umar, bahwa tidak ada kemusyrikan yang lebih besar dari kemusyrikan seseorang yang menyatakan bahwa Tuhannya adalah Isa atau salah seorang dari hamba Allah.

Pendapat sebagian ulama yang membolehkan perkawinan lelaki Muslim dengan wanita Ahl Al ­Kitab juga penuh dengan catatan kaki. Pertama, apakah konsep Ahl Al-Kitab berlaku juga bagi Yahudi dan Nasrani sekarang. Para ulama berselisih tentang hal ini.

Kedua, yang berpendapat bahwa konsep Ahl Al-Kitab masih berlaku sampai kini, masih mengingatkan bahwa Ahl Al-Kitab yang boleh dikawini itu adalah Ahl Al-Kitab yang diungkapkan dalam redaksi ayat tersebut [Al Maidah/5: 5] sebagai “wal mukshanat minal ladina utul kitab”. Menurut Shihab, kata al-muhshanat di sini berarti wanita-wanita terhormat yang selalu menjaga kesuciannya, dan yang sangat menghormati dan mengangungkan Kitab Suci.

Ketiga, perkawinan itu tetap dengan persyaratan, sebagaimana diungkapkan oleh Mahmud Syaltut, seperti dikutip Shihab: “Pendapat para ulama yang membolehkan [pria Muslim mengawini wanita Ahl Al-Kitab] itu berdasarkan kaidah syar’iyah yang normal, yaitu bahwa suami memiliki tanggung jawab kepemimpinan terhadap istri, serta memiliki wewenang dan fungsi pengarahan terhadap keluarga dan anak-anak…Laki-laki diperbolehkan mengawini non-Muslimah yang Ahl Al-Kitab, agar perkawinan itu memmbawa misi kasih sayang dan harmonisme, sehingga terkikis dari hati istrinya rasa tidak senangnya terhadap Islam. Dan dengan perlakuan suaminya yang baik yang berbeda agama dengannya itu, sang istri dapat lebih mengenal keindahan dan keutamaan agama Islam secara amaliah praktis, sehingga ia mendapatkan dari dampak perlakuan baik itu ketenangan, kebebasan beragama, serta hak­hak yang sempurna, lagi tidak kurang sebaik istri.”

Selanjutnya Mahmud Syaltut menegaskan bahwa kalau apa yang dilukiskan di atas tidak terpenuhi­—sebagaimana sering terjadi pada masa kini—maka ulama sepakat untuk tidak membenarkan perkawinan itu, termasuk oleh mereka yang tadinya membolehkannya.

Kalau seorang wanita Muslim dilarang kawin dengan laki-laki non-Muslim karena kekhawatiran akan terpengaruh atau berada di bawah kekuasaann yang berlainan agama dengannya, maka demikian pula sebaliknya. Perkawinan seorang pria Muslim dengan wanita Ahl Al-Kitab harus pula tidak dibenarkan jika dikhawatirkan ia atau anak-anaknya akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, maka kampanye desakralisasi Islam lewat pernikahan beda agama tidak saja patut dipertanyakan keabsahan landasan hukumnya, melainkan juga motif dan tendensi di belakanganya.

Mohammad Nurfatoni

13. W.N.Padjar - Juli 27, 2007

makasih mas harjono. saya jadi merasa dapat hidayah.

14. Temen`e ndaru - Juli 27, 2007

@W.NPadjar. bagi dunkz.

15. ibra - Juli 29, 2007

jika agama dianggap sebagai sebuah wacana, mungkin agama dapat dilihat sebagai suatu rumusan ideal, dan juga sebagai jalan keluar dari kondisi yang tidak ideal.

dengan adanya perubahan, kondisi informasi yang asimetri, dan juga resiko yang bisa timbul akibat ketidak pastian tentang apa yang sudah terjadi, sedang dan yang akan terjadi di masa depan : secara akal, saya pikir kita akan susah melihat agama sebagai suatu rumusan yang ideal.

seberapa sempurna sih informasi yang kita punya?
seberapa luas sih cakupan ilmu pengetahuan kita?
seberapa hebat sih kita dapat mengintegrasikan suatu kajian -yang katakanlah dengan multi displiner bidang ilmu-untuk dapat menyimpulkan sesuatu?
seberapa dahsyat sih data yang kita miliki?
seberapa akurat sih data itu?
seberapa canggih sih tools kita?
apa tidak sadar kalau kesimpulan kita selalu berada dalam ranah kemungkinan?

saya pikir ada baiknya bila kita coba memandang agama sebagai suatu jalan keluar dari kondisi yang tidak ideal.
dari situ mungkin kita akan kembali merenung, betapa banyak karunia hidup yang sudah kita reguk.
betapa banyak kita telah diselamatkan dari pelbagai kondisi -yang mungkin pernah membuat dada kita sempit, nyawa kita terancam, kecemasan, kekhawatiran…

semoga Tuhan tidak menghukum kita karena kesalahan yang kita buat, semoga Tuhan memperbaiki kondisi kita.
amin

16. madjid - Juli 29, 2007

mungkin masalahnya bukan pada bagaimana kearifan sabda Tuhan “Tak ada paksaan dalam agama” menyelimuti kehidupan manusia dan menghujam di sanubari hati yang paling dalam, tapi kenyataannya yang tak tahu lebih banyak dari yang tahu. semuanya jadi luluh ketika berbicara tentang inti. tak ada sekat apalagi identitas. dan betapa banyak orang yang selalu menjaga kulit tanpa didasari di saat yang sama ia juga mendepak-depak nukleus nilai-nilai paling inti.

Goenawan Muhammad sangat berani bicara soal agama kali ini. agresif sekali, seperti dia ketika menulis tentang makam. bedanya, ia cukup berani menjawab. paragraf yang kusukai di caping kali ini adalah “Memang harus saya katakan, saya seorang Muslim karena orang tua saya. Tapi saya sebenarnya bebas untuk tak mengikuti garis itu—sebagaimana orang-orang Arab dulu bebas untuk tak mengikuti kepercayaan nenek moyang mereka dan memutuskan untuk mengikuti Rasul Tuhan, dengan risiko dimusuhi keluarga sendiri dan masyarakat sekitarnya.”

kita punya kebebasan untuk itu. tuhan telah membukannya untuk umat manusia. siapa yang dengan lancang mencoba menghempas perkenan Tuhan ini?

seorang kawan pernah bereceletuk kepada saya:
“Masjid akan nampak megah bilai dipandang dari dalam, tapi akan beda bentuknya bila ditatap dari puncak gereja.”

terima kasih

17. budaya - Juli 31, 2007

berikut ada berita yg terkaitanya dg caping MURTAD ini:

Malaysia ‘convert’ claims cruelty
By Jonathan Kent
BBC News, Kuala Lumpur

Revathi Massosai alleges harsh treatment in detention
A Malaysian woman held for months in an Islamic rehabilitation centre says she was subjected to mental torture for insisting her religion is Hinduism.

Revathi Massosai, the name by which she wants to be known, says she was forced to eat beef despite being a Hindu.

Miss Massosai was seized by the Islamic authorities in January when she went to court to ask that she be registered as a Hindu rather than a Muslim.

The case is one of a number that have raised religious tensions in Malaysia.

Miss Massosai was born to Muslim converts and given a Muslim name, but she was raised as a Hindu by her grandmother and has always practised that faith.

However, under Malaysia’s Islamic law, having Muslim parents makes one a Muslim and, as such, one is not allowed to change one’s faith or marry a non-Muslim.

But Miss Massosai married a Hindu man in 2004 and the couple have a young daughter.

Headscarf

When in January she asked a court to officially designate her a Hindu she was detained and taken to an Islamic rehabilitation centre.

Only the Islamic courts can allow a Muslim legally to change faith

Her detention was twice extended to six months, during which time she says religious officials tried to make her pray as a Muslim and wear a headscarf.

However, the claim that will particularly shock Hindus is that the camp authorities tried to force her to eat beef.

A lawyer representing the Malacca state Islamic department responsible for Miss Revathi’s arrest, rejected her allegations and said officials believe that she can still be persuaded to embrace Islam.

She is adamant that she will remain a Hindu. In the meantime, Miss Revathi and her daughter have been placed in the custody of her Muslim parents.

18. Remo Harsono - Agustus 1, 2007

[x] …Tapi saya sebenarnya “bebas”

hati-hati dengan kata BEBAS…kadang sebuah justifikasi 😦

19. budi setiawan - Agustus 5, 2007

Manusia memang selalu punya akal dan tafsirannya sendiri..apalagi hal itu menyangkut urusan “Wahyu Tuhan”…mereka sangat menjaga dengan presepsinya sendiri kebeneran “Wahyu Tuhan” tersebut.alhasil ..kasus Revathi Massosai selalu terulang dalam bentuk yang berlainan tetapi sangat mirip..dan itu terjadi dilingkungan orang orang yang menganggap dirinya selalu benar dengan presepsinya sendiri itu..padahal Tuhan selalu memberi kita kebebasan dalam berpikir dan meyakini apa yang diyakini benar..jadi sebenarnya dimana posisi kita yang selalu mengekang dan menbatasi sesamanya dalam memilih dan menjalankan aqidahnya ? Karena presepsinya sendiri maka ada Suni dan Syiah,ada Protestan dan Katolik,ada lain lain,ada yang pake nangis dalam ibadahnya,ada yang pake teriak2,ada yang menghalalkan darah sesamanya,,,ada,,ada,,,banyak lagi lainnya…Sekarang siapa yang berhak menyatakan dirinya paling benar..? hanya dirinya sendiri..mungkin Tuhan kita juga sedih meliat ajarannya dijabarkan secara sempit oleh umatnya…
Kebenaran sebenarnya ada juga pada orang lain….kalau kita trus menganggap diri kita yang paling benar maka dunia tidak akan pernah akur..kita menciptakan neraka kecil bagi lingkungan kita sendiri…mudah mudahan kita selalu diberi akal pikiran yang sehat….

20. si cantik - Agustus 6, 2007

agama kok diperdebatkan….jelas-jelas yang haq hanyalah Islam…kok ya masih pada bingung?! nylenehnya lagi, penafsiran kok dari pikiran manusia…padahal, akal tidak boleh didahulukan dari pada wahyu….mari kita belajar lagi mengenai apa itu Islam…Iman…Ihsan…

21. ibra - Agustus 6, 2007

@ si cantik “yang mudah-mudahan cantik beneran” :p

rasa-rasanya sih memang mendingan ngga ngerti sekalian aja semua, biar enak…

sebab sekali saja kita mendapatkan pemahaman, pemahaman tersebut memunculkan “kebutuhan” untuk dipahami lebih jauh, jauh, dan jauh lagi

Freud menjelaskan proses sublimasi kebutuhan tersebut sebagai suatu titik jenuh dalam suatu jenjang kebutuhan sehingga menuntut naik ke jenjang berikutnya,

sedangkan J.J. Lacan menjelaskan proses sublimasi kebutuhan tersebut sebagai hilangnya passion ketika sebuah jenjang kebutuhan terpenuhi.

Adam smith juga menjelaskannya lewat sisi emosional seperti rasa sakit terhadap kenyataan – akan memprovok orang untuk naik jenjang, perspektif yang katanya sebagai provakasi “ to looking over the shoulder an outsider-of the economic man, scrunitize every move he makes.

kesimpulannya : yo debat ngga apa apa toh mba…bukanya kecerdasan itu muncul dari percakapan?

:p

22. b0nK - Agustus 14, 2007

pdebatn ini tmpknya brgkt dr asumsi umum bhw agama bsifat suci n psti bnr, krn ia ddasarkn pd ktb suci yg tak lain adlh kumpuln wahyu Tuhan yg dturunkn pd rasul-Nya melalui bbrp cara yg kt semua sdh th.

scr teknis, wahyu itu dturunkn tdk dlm bhs yg bs lgsg dmngerti oleh manusia biasa (bukan nabi/rasul), krn dsini yg “bbicara” adlh Tuhan. jd adlh tugas rasul utk mntransformasikn bhs ilahiah itu ke dlm bhs lisan manusia biasa (terutama krn rasul ummat Islam tdk kenal baca-tulis), tnpa mngurangi ataupun mnambahi kalimat2 Tuhan yg dwahyukn pd beliau.

nah, ketika rasul msh hidup, smua kbingungn n ktidakjelasn mngenai apapun yg brkaitn dgn wahyu psti akan ddapat jln kluarnya krn bs dkonsultasikn lgsg kpd beliau. tp stlh beliau wafat, pselisihn paham dkalangn pr pngikut tdekatnya tlh tjadi bahkan SEBELUM jenazah beliau dkebumikn. hmm, well, gmn pun prbedaan adlh rahmat bkn??

krn ini bkn plajarn sjarah, mk bla.bla.bla.. smpai akhrnya pintu ijtihad pun “dgembok-mati” oleh pr ulama, fikih ditegakkn, islam sdh final..(katanya). but as the time goes by, ummat hrs bhdpn dg pradapn yg mmaksa dlakukannya kajian ulang atas tafsir dr wahyu Tuhan, akan tetapi… tafsir thd ayat suci tdk sm (identik) dg ayat suci itu sndiri, apalagi – selain rasul – siapapun ulama penafsirnya, ia jg tdk suci (tdk maksum), shg TAFSIRnya pun TDK suci.

in this very day, kt sering dpksa bhdpn dg bbagai tafsir dr bbagai klmpk/alirn mngnai byk hal dlm hdp kt, apalagi skrg agama sdh mnglami kapitalisasi (=komersialisasi), shg kt butuh pgangn: “kyakinn bhw kbenarn agama kt adlh mutlak”. BUT, wait a minute, itu agama mnrt ulama siapa? alirn mn? krn smua psti mgklaim plg benar,pdhl tdk ada tafsir yg plg benar krn psti hanya dia YG MAHA BENAR.

in the mean time, coba kt tanya dr sndiri, sbenarnya siapa sih yg kt sembah? Tuhan atau agama? there’s a fine line in between. dan soal kbenarn?? lakum dinukum waliyadin aja lah. Tuhan gak tidur kok…

23. hells - Agustus 20, 2007

untuk memperpanjang masalah,

[1] “…bukan karena saya anggap agama itu paling bagus”
[x] Sepertinya anda lebih menganggap agama sebagai hasil budi daya manusia, mirip para ‘pakar’ JIL
[t] ‘bagus’ atau ‘tidak bagus’ jelas bukan kata yg pas disandingkan dengan ‘agama’. Tapi, mas Remo, kenapa harus dikaitkan dengan ‘mirip pakar JIL’.
[t2] kl anda tdk percaya agama yg anda anut itu bagus, buat apa anda memeluk agama? Tafsiran saya, secara tdk lsg anda mengiyakan bahwa agama adalah hasil budidaya manusia. Dikaitkan dg JIL : Memang anda kenal JIL? Kl anda kenal JIL, berarti pernyataan Pak Remo cukup mendasar.
[xyz] mungkin kita perlu mulai membudidayakan agama: karena bisa diekspor ke luar negeri, seperti asap dan tki. prospeknya lebih bersinar drpd budidaya jamur.

[2] “…ada keburukan yang ada dalam agama saya”
[x] keburukan tersebut ada pada ‘agama’-nya ataukah ‘pemeluk’-nya?
[t] ‘keburukan’ tidak melekat pada ajaran Tuhan, tapi pada manusia yg keras kepala dg tafsir yg dibuatnya sendiri.
[t2] darimana anda tahu kl suatu ajaran ditafsirkan semaunya dan oleh orang yg keras kepala selama anda sendiri tdk bisa menafsirkannya. Kl anda mendalami Islam -sedikit saja- akan anda temukan bahwa beberapa ayat Al Quran dan hadits nabi dimungkinkan terjadi penafsirkan berbeda oleh tulama yg ilmunya jauuh lebih utama dibanding anda dan saya.
[xyz] setiap pemeluk agama pasti melihat yg bagus2 dari agamanya sendiri, tapi jarang ada yg bisa menemukan ‘keburukan’ di dalamnya.
[klm]tidak ada keburukan dalam agama,keburukan2 itu diciptakan oleh penganut agama

[3] “…Sejarah agama-agama senantiasa terdiri atas bab-bab yang paling represif dan buas”
[x] Sejarah ‘agama’-nya atau ‘manusia’-nya?
[t] Ya sejarah manusianya penganutnya dong.. Namanya juga ’sejarah ‘. Persis logika enteng pd judul buku ‘Sejarah Tuhan’.
[t2] jadi menurut anda, agama itu bagus apa tidak?
[xyz] manusia sering memproyeksikan kebencian, ke-xenophobia-an, amarah, ego, dll lewat agama. dan seringkali agama punya celah2 yang bisa dipakai untuk membenarkan tidakan sang manusia.
[klm]lagi2 tidak pantas kita menyalahkan agama untuk kesalahan segelintir orang yang mengatasnamakan agama untuk berbuat jahat

[4] “Agama menyumbangkan kepada kehidupan manusia secercah kesadaran…”
[x] Agama yang mana?
[t] Itu pertanyaan yg nggak perlu, mas Remo. Kenapa seperti ngotot bahwa agama yg anda anut yang memberi secercah kesadaran. Apakah rahmat Tuhan tidak meliputi pula orang yang tidak percaya agama sekalipun?
[t2]berarti kl anda sudah mendapat (tepatnya : merasakan) secercah kehidupan, anda tdk perlu beragama?
[xyz] setuju dengan [x] dengan sedikit menambah: Agama??? Yang mana???
[klm]agama kita mengajarkan kita kebaikan di dalam kesadaran tapi kesadaran kita sering dikalahkan oleh nafsu dunia kita

[5] “…yang penting bukanlah apa agama yang saya pilih…”
[x] Kasihan…, semoga anda mendapatkan hidayah dari Allah SWT (tenang saja, saya sendiri juga belum dapat hidayah koq…)
[t] Jadi bingung nih siapa yang harus dikasihani.. orang yg dianggap belum mendapat hidayah atau orang yg merasa mendapat hidayah dan merasa orang lain belum mendapat hidayah.
[t2] ya, sekarang kita semua tidak bingung lagi kan, siapa yg harus dikasihani?
[xyz] hehehehe… (cuman bisa senyum)
[klm]kalo bukan agama yang penting trs apa lagi yang lebih penting dari agama

24. Ndaru - Agustus 21, 2007

Silaken menempatkan agama di tempat terpenting. Tapi buat saya pribadi, ada yg lebih tinggi bin penting dr agama itu sendiri, yang ingin dituju agama-agama, yg bikin agama-agama ada… yaitu Sang Maha Ada, Sang Keberadaan (sekaligus) Sang Ketiadaan.. apapun nama yg orang2 beri buat Dia…

Dan, Dia menuntun setiap orang dalam jalannya masing-masing… jalan yang sangat pribadi. Kalau tidak, kenapa wahyu sang Nabi (yg sangat saya cintai) tidak terdengar oleh orang2 lain? Saya rasa tidak susah, kalo’ Gusti Allah butuh membuktikan ‘keberadaan-Nya’ kepada manusia, kenapa tidak Dia menunjukkan ‘suara-Nya’ di hadapan khalayak ramai. Bukankah Ia Maha Kuasa?

Kebanyakan dari kita cuman ngutip, meniru apa yg dikatakan dalam kitab-kitab suci… paling bedanya: ada yg suaranya lantang ada yg malu-malu.. Kalo demikian, buat apa debat–mana yg ‘paling’ bener??? Wong, kita belum pernah nyobain bener2 semua agama yg ada.. — Cape’ deh!!!!

25. agus al muhajir - September 10, 2007

Jika engkau tidak mempunyai ‘ilm dan hanya prasangka,
milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan. Itulah jalannya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!
Jika engkau tidak mampu berdoa dengan khusyu’,
maka persembahkanlah doamu yang kering, munafik, dan tanpa keyakinan!
Karena Tuhan dalam rahmat-Nya
tetap menerima mata uang palsumu.
Jika engkau mempunyai seratus keraguan kepada Tuhan,
maka kurangilah jadi sembilan puluh sembilan saja. Itulah jalannya!
Wahai pejalan,
Walau kau telah seratus kali ingkar janji, datanglah, dan datanglah lagi!
Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau mengangkasa, ataupun terpuruk dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku, karena Aku-lah Jalan itu.”

Jalaludin rumi

26. kinko - September 15, 2007

@ agus al muhajir, makasih pencerahannya

sometimes…
…ignorance is a bliss, really

27. Y silak - September 27, 2007

Aku bingung dech… mo ngomong apa. Tetapi yang jelas aku tidak peduli dengan agama. Yang terpenting dalam hidupku adalah memiliki Tuhan yang memberiku kedamaian, kesejahteraan dan menjanjikan keselamatan sekarang dan yang kekal. Walaupun aku berlutut dan sujud 1.000 kali seperti apa yang di ajarkan agama tetapi aku tidak merasakan kedamaian dan kesejahteraan apa gunannya saya mengikuti agama. Saya bukan atheis, saya punya Tuhan! jangan anda memaksa untuk menganut agamamu tetapi tunjukkan allahmu apakah ia (allahmu) memberikan lebih dari Tuhan yang aku sembah sekarang, akan aku mengikutinya.

Salam

Werene yalimu asue.

28. Ateis - September 28, 2007

Hai Setan, Aku telah mewahyukan hukum-hukumku pada manusia lewat beberapa orang nabi. Apa yang akan kau perbuat ?
Setan menjawab enteng “Aku akan melabelinya dengan Agama”

29. eNdz,Traz,Ndaz - Oktober 4, 2007

gW taU Loe bErsUlUtu Ma Setan..Y a jELas aja lOe Ga BakaL mErsasa keTeNangan daRi aGaMa Yfg loe aNut..tOh jelas2 loe aTheis..
mO sUjud seMbah Mpe jUngkiR balik jUga ga bakaL nGeBuat dRi Loe TeNang,,,pUnya OTAK ga seh Loe???
dimana2 klo loe pUnya agaMa n pUNya tUHan YaNg KiTa sEbUt “SANG KHALIK,YA ROBB,YANG MAHA UNBESCHRANKT”
paSti di dalaM dRi oe mRasa kTeNagan Yang MeNdalaM sehiNgga lOe Tau gMna RaSaNya kEkUasaaN aLLah YaNg TaK mUDah DijaBah oLeH Kata2

30. eNdz,Traz,Ndaz - Oktober 4, 2007

gW taU Loe bErsUkUtu Ma SeTaN..Ya jELas aja lOe Ga BakaL mErasa keTeNangan daRi aGaMa Yfg loe aNut..tOh jelas2 loe “aTheis..”
mO sUjud seMbah Mpe jUngkiR balik jUga ga bakaL nGeBuat dRi Loe TeNang,,,pUnya OTAK ga seh Loe???
dimana2 klo loe pUnya agaMa n pUNya tUHan YaNg KiTa sEbUt “SANG KHALIK,YA ROBB,YANG MAHA UNBESCHRANKT”
paSti di dalaM dRi oe mRasa kTeNagan Yang MeNdalaM sehiNgga lOe Tau gMna RaSaNya kEkUasaaN aLLah YaNg TaK mUDah DijaBah oLeH Kata2.

31. eNdz,Traz,Ndaz(UNBESCHRANKT) - Oktober 4, 2007

hNya OraNg2 bOdOhlah yaNg Mau bErsUkuTu DeNgaN Oe Wahai sETaN..KaRna SesUnggUHnya kaliaN yaNg bErsUkutu aKaN Kekal di nEraka seLaMnaya…

32. eNdz,Traz,Ndaz(UNBESCHRANKT) - Oktober 4, 2007

hNya OraNg2 bOdOhlah yaNg Mau bErsUkuTu DeNgaN MOe Wahai sETaN..KaRna SesUnggUHnya kaliaN yaNg bErsUkutu aKaN Kekal di nEraka seLaMnaya…

33. eNdz,Traz,Ndaz(UNBESCHRANKT) - Oktober 4, 2007

BACA TUH WAHAI KAUM ATHEIS YANG MENGAKU TIADA TUHAN SELAIN DIRINYA SENDIRI..DAN “AKU” SEBAGAI YANG PENCIPTAMOE AKAN SANGAT MURKA..KARNA AZABKU YANG ENGKAU TRIMA AKAN LEBIH SAKIT DARIPADA YANG ENGKAU KETAHUI…

34. eNdz,Traz,Ndaz(UNBESCHRANKT) - Oktober 4, 2007

BUKA TUH TOPENG LOE BIAR SMUA ORANG TAU ISLAM YANG LOE ANUT ITU ISLAM ALIRAN TAI….

35. eNdz,Traz,Ndaz(UNBESCHRANKT) - Oktober 4, 2007

MuNgkiN apa Yang KiTa TuLis TeRdeNgar sOk,,kaRna TeRlalU meNgagUngkan NaMa Mu ya ROBB..
tapi yang kaMi peRCaya baHwa eNgkaU adaLah ZaT tUNNgaL yaNg TiaDa TaRa DaN t!ada HeNti sEperti semua yang eNgkau cipTakan baik di dUNia,akHirat maUpuN di aLaM baka..Karna HaNya kekuasaaNmOe YaMg tak TerbeNdUng niLaiNya.kaRna Hanya iTu YaNg KaMi akan percaya SElaManya…aMieN…

36. ibra - Oktober 5, 2007

tulisannya kaya sms ala ABG
susah tuh nulis gitu…apalagi bacanya : bikin pusing!

37. keringat boemi - Oktober 5, 2007

he..he.. nda usah diambil pusing.
orang yg ngerasa ngewakili setan sama sintingnya dg yg ngerasa ngewakili Tuhan.

38. Boy - Oktober 8, 2007

Hehehe.. sabar..sabar.
Ayo bikin diskusinya tetep produktif, mana kerasa kalo gini bahwa perbedaan itu adalah rahmat Allah. 🙂
Bukan hak kita juga buat menjudge bahwa kita mendapat hidayah atau orang sedang digoda syaitan.

Mau minta izin ikut belajar.

Yang jelas mungkin, bisa jadi kita hanya membicarakan secara parsial bangunan dari islam itu sendiri. Bahwa dalam islam ada pokok-pokok tentang tauhid, akhlak, syariah dan lain sebagainya, insya Allah sudah kita sepakati sama-sama. Sama seperti, misalnya, konsep jihad. Tidak kita pungkiri memang ada dalam islam, dan jelas-jelas disebutkan dalam Al Qur’an.
Namun, dengan segala kerendahan hati, menurut saya semuanya tidak bisa saling mendahului.
Analoginya (maaf kalau saya salah) seorang anak memegang stir mobil berlari kesana kemari, dia berkata bahwa ini adalah mobil. Yang lain duduk di sebuah jok mobil sambil menekan-nekan pedal gas, menurutnya itulah mobil. Sementara yang lainnya sibuk berlari-lari sambil menggelindingkan ban, yang dia anggap bahwa sebuah mobil harus menggelinding. Kadang kita lupa ketika berdiri sendiri-sendiri semua itu hanya bagian-bagian kecil dari mobil itu sendiri.
Kerap kali, islam, ketika kita pandang sebagai agamapun begitu. Ada yang memang merasa bahwa islam harus militan, sehingga menganggap mereka yang tidak sependapat adalah islam yang lembek. Ada yang menganggap bahwa masalah ‘hati’ dahulu yang harus dibenahi. Ada pula yang larut fokusnya pada bahwa nilai-nilai islam tok hanya bisa dipahami lewat keperkasaan akal. Yang lain malah mengaggungkan islam karena hal-hal yang justru tidak bisa dijelaskan oleh akal. Golongan lain lalu hanya asyik masyuk memahami islam dari sisi filsafat-filsafat sufistik.

Proses pembelajaran tanpa henti kalau menurut saya, sehingga semakin lama, kita semakin disadarkan bahwa sedemikian agungnya Allah SWT menciptakan wahana ini untuk kita. Karena toh kita sangat rentan akan informasi dan lingkungan di mana kita berada.

Karena sebenar-benarnya persepsi kita adalah sangat tergantung terhadap hidayah itu sendiri, semoga hidayah-Nya senantiasa berlimpah untuk kita. Amin. 🙂

39. handayani - November 15, 2007

ini testimoni yang saya baca dari imarsatri (FFI):

BAGIKU ISLAM SUDAH TIDAK COCOK LAGI

Jumat 19 oktober 2007 kuputuskan utk meninggalkan Islam. Agama ini sudah tidak cocok lagi mengiringi dan menuntun keyakinanku. 32 tahun mungkin terlambat, tapi ini telah menjadi keputusan, ada alasan untuk itu, efeknya yg sudah terlalu berlawanan dengan hati nuraniku. Sepertinya sudah tidak ada jalan lain. Mungkin aku salah untuk memaknainya, namun salah atau tidak, aku harus tentukan jalan hidupku, aku harus bertanggung jawab atas diriku sendiri. Entah bagaimana aku akan berjalan setelah ini, sulit untuk meninggalkan paradigma lama dan memulai dengan paradigma yang baru… semoga saja ada sesuatu yang dapat membantu sebagaimana sesuatu menciptakan diriku…

KEYAKINAN DAN AGAMA

Keyakinan dan agama saat ini sepertinya terlihat sama dalam pengertiannya, ini difahami karena melihat fenomena hidup yang ada sekarang, sedangkan menurutku keyakinan dan agama sangat berbeda tapi ada hubungannya. Mungkin ini pula yang mendasariku sanggup keluar dari agamaku(dengan tetap pada keyakinanku).

KEYAKINAN

Ketenangan jiwaku adalah kunci dari pertanyaan yang harus kucari, ada banyak cara untuk mencapai ketenangan jiwaku, seperti membahagiakan orang lain dan mahluk lainnya, menghindari untuk menyulitkan orang lain dan mahluk lainnya.
Namun sebaliknya bagaimana bila aku dibuat tidak bahagia dan disulitkan oleh orang lain atau mahluk lainnya? Pasti ketenangan jiwaku terganggu. Ada yang salah? Aku rasa tidak. Aku meyakini Hukum Sebab-Akibat, sesuatu yang menimpa diriku, yang baik ataupun yang buruk adalah proses dari hukum sebab-akibat. Aku meyakini awal dari Sebab itu adalah bersumber dari yang menciptakan kita, hanya sebatas itu, diluar itu sulit untuk aku pahami. Masalahnya sekarang bagaimana kita berhubungan dengan yang menciptakan kita agar kita bisa bertanya, mengadu, marah, berterimakasih,memaki-maki dan lainnya, hingga kita mendapat ketenangan jiwa dari komunikasi tersebut(sebenarnya ini agak aneh tapi menurutku ini masih manusiawi dan aku meyakininya, karena aku selalu mengalami ketenangan jiwa dengan cara ini). Ini yang menurutku KEYAKINAN. Manusia yang merasa YAKIN bahwa mereka adalah hasil ciptaan, tidak satupun mempunyai keyakinan yang sama persis mengenai penggambaran penciptanya.

AGAMA

Orang-orang yang sepertiku, yang mencari ketenangan jiwa, yang merasa butuh komunikasi dengan penciptanya akan berusaha mencari CARA yang memudahkannya, beruntung aku berada dalam keluarga islam(saat ini islam buatku sudah tidak cocok lagi), dalam islam sudah ada cara-cara yang saya butuhkan. Cara lainnya ada pada Yahudi, Budha, Hindu, Kristen, Kejawen, Kongucu dan lainnya. Aku percaya PADA AWALnya mereka menciptakan cara-cara tersebut didasari dengan apa yang kuyakini, karena kebutuhan, mereka menciptakan cara-cara berkomunikasi dengan pencipta mereka masing-masing(tentu pencipta kita juga sebagai spesies yang sama) dengan aturan dan ajaran yang dipengaruhi dengan lingkungan, budaya dan informasi yang mereka punya.
Aku yakini cara-cara tersebut adalah yang dikatakan AGAMA.

MEREKA YAKIN DENGAN AGAMANYA

Dalam aturan dan ajaran setiap agama yang ada, selain cara berkomunikasi pada penciptanya ada tambahan aturan dan informasi lainnya yang menurutku tidak diperlukan. Memang agak subyektif kalau aku menganggap agama cukup berisi cara berkomunikasi dengan pencipta saja, aturan yang menyangkut dunia sebaiknya dibuat diluar agama. Alasanku sebenarnya didasari dengan pengertianku tentang AGAMA. Kalo ada yang berfikir lain tentang AGAMA ya sah-sah saja, tapi efeknya bisa anda lihat sendiri sekarang, banyak terjadi perang antar agama, mereka yang berperang tentu merasa yakin akan tindakannya karena ada ATURAN yang mengesahkan tindakannya dalam kitab suci agamanya, tapi hal itu bagiku sangat aneh dan lucu, dan menjadi pertanyaan bagikku, kok mereka perang hanya karena BERBEDA CARA berkomunikasi dengan penciptanya, sampai saling membunuh, padahal membunuh itu kan salah satu kelakuan binatang, buat apa manusia dikasih akal kalau cara berfikir binatang masih dipakai…. Jika binatang saling membunuh karena alasan makanan, teritorial, cari pasangan, dll. Tapi ada sebagian manusia saling membunuh karena hal yang belum pasti, yaitu KEYAKINAN atau mungkin lebih parah lagi..AGAMA…

AKU SEBAGAI MANUSIA

Saat ini aku meyakini bahwa setiap mahluk hidup yang diciptakan dihadapkan pada kondisi yang ada, tidak ada pilihan, masing-masing menjadi dirinya. Aku tidak tahu bagaimana aku ada di tubuhku, sama seperti ketidaktahuan setiap semut terhadap dirinya yang berusaha mencapai gelas minumku saat ini. Untung saja aku bukan salah satu dari semut itu….atau sebaliknya, mungkin semut-semut itu yang lebih beruntung..Tapi, sejujurnya, karena otakku, aku lebih tidak beruntung dari semut, karena otakku, “pertimbangan” menjadi tambahan yang memberatkan dalam melakukan sesuatu. Tapi tidak untuk semut, simpel saja, ada gula hidup bisa lebih lama, padahal hidupnya bisa saja lebih pendek karena jariku, bila dia mencapai susu dalam gelasku, tapi karena kapasitas otaknya, aku yakin tidak ada semut yang peduli itu…
Tak ada data dalam otakku saat awal lahir, kecuali data seperti apa yang di berikan pada binatang mamalia mirip manusia lainnya. Dalam perkembangan awalku orang tua dan lingkungan didekatku berperan penting untuk menambah data pada otakku, data-data ini selanjutnya menjadi dasar untuk berfikir dalam hidupku. Tidaklah salah kalau cara berfikirku selanjutnya tidak jauh berbeda dari orang tua dan lingkungan dimana aku berkembang. Permasalahannya sekarang, bagaimana bila hidup yang ku fahami dan cara berfikirku salah? Sadarkah aku? Mampukah aku menolak segera? Aku yakin untuk mengerti masalah itu aku perlu usaha, waktu, informasi dan sudut pandang berbeda. Hingga kini aku terus dan tetap mencari…

KEYAKINAN adalah KEPASTIAN

Masa kecilku tidak berbeda dengan anak kecil lainnya di sekelilingku, bermain dan bersenang-senang adalah hal yang mesti dilewati, sedikit sekali anak-anak yang menghindarinya, bila ada, ku yakin itu suatu ketidaknormalan. Disaat itu pula banyak informasi yang masuk dalam otakku, ada yang disengaja dan ada yang tidak disengaja. Tanpa disadari aku mulai bisa memilah baik dan buruknya suatu tindakan, namun seperti yang ku alami, anak kecil kurang peduli untuk mempertimbangkan tindakannya demi kesenangannya. Lain halnya bagi orang dewasa atau orang tua, mereka memanfaatkan kedewasaannya untuk membatasi kelakukan anaknya yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pahami, padahal didunia dewasa jelas-jelas perbedaan pemahaman itu ada.
Menolak atau menentang aturan orangtua bagi anak kecil adalah hal biasa, bagi orangtuaku hal yang termudah agar anak-anaknya bisa menerima aturannya adalah dengan memanfaatkan “pertimbangan” anak-anaknya. Pada awalnya orangtuaku memperkenalkan pada anak-anaknya bahwa kita ada yang menciptakan(hampir 100% orang percaya itu, termasuk aku hingga kini), lalu dosa, lalu pahala, lalu surga, lalu neraka, dst… yang mereka sendiri tahu bahwa itu sulit untuk memastikannya, tapi mereka berharap anak-anaknya untuk mempertimbangkannya hingga mereka meyakininya, dan akan lebih baik lagi bila menjadi suatu hal yang pasti.
Lagi lagi ini bukti ketidaksadaran orang dewasa bahwa keyakinan yang mereka anut adalah keyakinan yang tidak selalu sama bagi manusia lainnya didunia, orangtuaku tidak sadar bahwa keyakinannya tidak sama dengan apa yang tetangga anut, anehnya mereka tidak mempertanyakan itu. Disisi lain, karena aku anaknya, dan aku butuh mereka, mereka berhak memaksaku untuk meyakini seperti apa yang mereka yakini.

AKU BERKEMBANG DIANTARA 2 DUNIA

Setelah itu aku berkembang dalam dunia dan “dunia kecil” keyakinan orangtuaku. Begitu juga teman-temanku, mereka hidup di dunia dan “dunia kecil” orangtuanya. Memang lucu kalau dipikir, aku berkembang bersama teman-teman yang berbeda keyakinan dalam dunia yang sama, namun dalam hal-hal tertentu tiba-tiba dunia ini terpisah menjadi beberapa dunia kecil berikut penciptanya dalam satu paket, ukurannya dunianya berbeda-beda tergantung halal-haram, boleh-tidaknya aturan yang ada. Dan sewaktu-waktu dalam hal-hal tertentu dunia-dunia kecil ini menyatu kembali, terpisah, menyatu, begitu seterusnya, tergantung kita meyakini dunia kecil kita, semakin lama kita di dunia kecil kita, semakin sulit pula dunia kecil kita menyatu. Lebih parah lagi, semakin cintanya kita pada dunia kecil kita, kita lupa akan adanya dunia yang utuh sebelumnya dan menyangka dunia kecil kita adalah dunia yang utuh itu.
Bersukur tidak semua anggota di tiap-tiap “dunia kecil” menjadi cinta buta akan “dunia kecil”nya, mereka tetap sadar bahwa mereka juga bagian dari dunia yang utuh. Aku meyakini bahwa aku adalah salah satunya, aku mulai sadar setelah hampir 100% taraf cintaku condong pada dunia kecilku. Aku sebenarnya malu mengakui bahwa jatidiriku baru menguasaiku pada umur 32 tahun, sebelumnya aku adalah jatidiri orangtuaku. Dan jelas orangtuaku adalah korban jatidiri orang-orang sebelumnya. Aku yakin orang yang tidak mencari jatidirinya membatasi cara berfikirnya sebatas cara berfikir jatidiri orang yang mereka anut. Kasihan sekali.

ISLAM DALAM MUSLIM

Awalnya aku melakukan ritual Islam karena perintah orang tua dan pergaulan, tidak lebih dari itu, namun jujur saja makna dosa dan neraka sudah membebani hidupku lebih awal lagi sebelum aku tahu bahwa itu sumbernya dari Islam keyakinan orangtuaku. Pada waktu-waktu itu pula aku sudah yakin bahwa aku ada yang mencipta. Tapi siapa yang peduli buat anak seusiaku yang baru sekitar 5 tahun, belum ada masalah yang kuhadapi tanpa terselesaikan saat itu. Peran orangtuaku telah memenuhi ketenangan jiwaku. Aku belum butuh tuhan.
Islam bagi seusiaku saat itu hanyalah Larangan dan Pahala, memang cukup membebani, tapi namanya anak-anak, untuk suatu kepuasan mereka dengan mudah melupakan aturan itu. Seiring berjalannya waktu tanpa disadari aturan tersebut bercampur kedalam darah dagingku hingga membentuk karakter dan pola berfikir tertentu, dan orang lain mudah menebak bahwa aku adalah muslim, coba bandingkan karakter orang yang baru masuk islam pada usia dewasa, terlihat sekali perbedaannya. Malu tidak malu harus ku katakan bahwa teman-teman muslim yang kukenal bermasalah dalam mental dan cara berfikir, sulit dijelaskan, namun dapat dirasakan, ini aku rasakan sendiri, karena caraku berfikir dan karakterku juga seperti mereka, dengan alasan ini aku anggap kami normal-normal saja .
Selama perkembanganku aturan dan ajaran islam yang mengiringi hidupku selalu menghantuiku dalam setiap tindakan, memang mudah saja menghiraukannya, namun dengan mudah pula aturan dan ajaran itu masuk kembali dalam pikiranku. Aturan dan ajaran yang menghantuiku itu kebanyakan masuk lewat pendengaranku, selama ini yang ku pelajari dengan niatku sendiri hanya pada bagian ibadatnya saja, seperti tata cara sholat, Namun yang dominan menguasai diriku adalah ajaran dan aturan dari yang sering kudengar dari mesjid, radio, tv, yaitu dosa, pahala, neraka, surga dll yang tidak ingin kudalami. Kadang ku menolak, tapi akhirnya aku menyerah membiarkan hal tersebut menjalar dalam pikiranku. Lama kelamaan bagiku sepertinya aturan dan ajaran itu memang seharusnya ada pada setiap manusia secara alamiah, sebagai ilustrasi, saat itu aku yakin akan adanya neraka seyakin adanya planet jupiter, tidak perlu cari tahu, walau misalnya aku dibohongi bila sebenarnya planet jupiter tidak ada. Dan aku yakin hanya segelintir muslim indonesia yang berniat melihat langsung lewat teleskop untuk mengetahui bentuk sebenarnya planet jupiter. Ini salah satu efek ajaran islam, cukup dengan keyakinan saja sudah dibenarkan, jadi wajar saja bagi mereka bila ada yang keluar dari islam adalah menyalahi alam, menantang tuhan, sia-sia saja hidup menurut mereka kalau tidak dalam islam, di lain sisi makna bunuh diri akan berubah drastis bila demi islam. Padahal jelas, bunuh diri ya bunuh diri.

ALASAN MURTAD SAAT INI

Setiap umat islam yang cinta dengan agamanya, pasti cinta dengan rasulnya, alquran adalah kitab suci yang pasti dari Allah(ini berdasarkan pengalamanku, mungkin agama lain juga merasa seperti ini).
Cinta itu seperti mendarah daging, tidak bisa diusik. Untuk mempertahankan itu, cendikiawan islam yang menguasai informasi tentang islam, memilah informasi yang ada, yang buruk disembunyikan(kalau bisa dihilangkan) dan yang baik dikembangkan. Diharapkan kontradiksi dalam islam semakin mengecil …Cara ini mungkin tepat, namun seiring berjalannya waktu informasi menjadi penting bagi setiap manusia, tidak peduli dia golongan cendikiawan atau golongan awam.
Aku bisa bayangkan, saat ini Cendikiawan muslim merasa terpojok, karena bukti nyata tentang kekerasan islam tidak bisa ditutupi, informasi buruk islam yang disembunyikan(yang tidak mungkin dihapuskan, karena berhubungan dengan alquran dan shahihnya hadits yang mereka buat sendiri) mulai terkuak. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan agama islam nantinya. Saat ini islam masih tertolong karena masih mempunyai “sedikit” alasan untuk membenarkan tindakan negatifnya. Alasan yang masih masuk akal adalah kristen dan yahudi (mereka memang gudangnya kebohongan juga seperti mereka memandang islam). Selama menggunakan alasan itu, muslim yang awam akan percaya dan tidak akan bergeming dari islam. Namun para cendikiawan islam lupa (juga cendikiawan kristen, yahudi), setiap manusia mempunyai hati nurani. Bila masalah antara 3 agama ini tidak pernah terselesaikan, umat-umatnya akan mencari tahu lewat informasi yang ada dan diolah lewat cara berfikir mereka masing-masing. Informasi keburukan 3 agama tersebut sekarang mudah sekali didapati, diinternet, toko buku islam (keburukan yahudi-kristen), toko buku kristen (keburukan islam) dan lainnya. Sewaktu-waktu 3 agama itu akan ditinggalkan umatnya bila alasan-alasan masuk akal untuk meninggalkan agama mereka sudah didapati…
Aku berharap para cendikiawan tiap agama yang ada bisa lebih terbuka untuk memberi kebebasan umat tiap agamanya masing-masing untuk meyakini apa yang mereka yakini dan membantu mempermudah apa yang mereka yakini untuk disembah. Biarlah agama sebagai alat Bantu para mereka yang mencari tuhan, jangan ada paksaan didalamnya…. Bagi yang tidak percaya tuhan cukup dibuat aturan didunia untuk membatasi kebebasannya…

40. Tito - November 19, 2007

Belakangan ini pemikiran2 yg menghargai pluralitas semakin berkembang… semoga akan terus berkembang dan berkembang. Walaupun para puritan dengan segala cara berusaha menghabisinya karena mereka sangat alergi pada yg namanya pluralisme 😆

41. Indri - November 20, 2007

agama adalah hak seseorang tuk menganutnya. tak peduli itu salah menurut orang lain tapi jika itu benar menurut seseorang itu. just do it!

42. Bee - November 23, 2007

saya baca komentar anda semua diatas… dan saya sangat bahagia mengenal kalian melalui komentar kalian…saya benar-benar bahagia…hidup….yang berarti kita semua ber-ARTI, ber-MAKNA dan ber-RAGAM

43. RMY - November 23, 2007

Kita boleh saja pindah agama,agama menurut saya merupakan wadah ..Karena agama itu hanya wadah, maka tidak semestinya manusia dibeda-bedakan karena wadah itu…

Jika seorang manusia dengan kesadaran sendiri memillih dimana wadahnya (dengan segala ajaran dan ritualnya), maka saya rasa manusia itu sudah menjadi utuh.
Karena jarang sekali orang dengan kesadaran sendiri “menempati wadah itu”..

banyak orang hanya menempati wadah itu karena “warisan”…

sampai saat ini saya ada di “wadah katolik”—–> dan saya dapat wadah ini dari warisan.Terus terang saya “masih” merasa nyaman berada dalam wadah ini….

Nyaman belum tentu tau dan sadar, mengapa/apa yang mendasari saya harus melakukan ritual dalam wadah itu…kadang hanya menjadi rutinitas saja.

Untuk tetap tinggal di wadah itu pun harusnya juga melakukan proses perenungan tadi sehingga itu bukan warisan tetapi pilihan!!!

Untuk pindah dari satu wadah ke wadah lain tentu saja melewati banyak proses perenungan dan pengalaman iman…

Jadi saya sangat menghargainya…

44. w.n.padjar - November 23, 2007

bukannya ajaran agama itu justru mengkritik konsep manusia tentang ‘wadah’?

45. Vina - November 25, 2007

Agama? adalah bukan jawaban dari semua pertanyaan.. agama adalah kumpulan berbagai pertanyaan..

46. rosidah07 - Desember 11, 2007

yang tidak membela tulisan ini adalah orang-orang yang tidak mengerti akan Islam …. Semoga diberi Hidayah oleh Allah SWT, tau JIL juga baru kemaren , udah berani mengklaim bahwa semua pemikiran yang di luar tafsir mereka sesat dan sama kaya JIL .. duh gmn mau maju Indonesia

47. zaki - Desember 12, 2007

Manusia tetap butuh agama, karena itu lebih fitrah daripada kebutuhan biologis.
Masalah orang yang yang atheis atau sering pindah2 agama,terutama yang keluar dari Islam, lebih merupakan persoalan psikologis dari pribadi yang murtad itu dari pada persoalan religius. Kalau tidak percaya, anda boleh lihat, hampir semua orang yang keluar dari Islam memiliki kepribadian dan jiwa yang tidak normal dan labil, meskipun dia memiliki kecerdasan yang lumayan karena perkembangan jiwa sama sekali tidak linier dengan perkembangan otak dan pikiran. Contoh yang paling besar adalah Nietzsche.
Kalau masih bingung juga lari saja ke konsensus:
1000.000.000 lebih orang memeluk Islam dan bisa bertahan lebih dari 1500 tahun.

48. DANIEL! - Desember 13, 2007

tulisan GM ini begitu gamblang dan menyentuh.. tapi hanya bagi orang-orang yang beragama sama.. apapun agama itu dinamai..

49. sigitdj - Desember 19, 2007

Remo Harsono:
[x] Sepertinya anda lebih menganggap agama sebagai hasil budi daya manusia, mirip para ‘pakar’ JIL
[x] Sejarah ‘agama’-nya atau ‘manusia’-nya?

Cara berpikir yang sesat. Seolah agama itu sebuah entitas independen yang biasa dilepaskan dari sejarah dan manusia. Agama senantiasa adalah HASIL KEBUDAYAAN dan bercampur-aduk dengan pikiran dan hasrat manusia. Agama disampaikan lewat ‘bahasa’ yang notabene adalah kebudayaan (dengan cara apa lagi kalau bukan lewat bahasa??). Selain itu, agama disebarluaskan oleh ‘manusia’ yang notabene adalah bagian integral dari budaya maupun tradisi lingkungannya. Dengan disampaikan lewat bahasa dan oleh manusia, agama sudah selalu merupakan tafsir, sejak semula. Agama tidak pernah bisa steril. Ia adalah anak kandung kebudayaan dan karenanya tidak pernah bebas dari bias.

50. Wahyu Taranaita - Desember 25, 2007

Pengen nimbrung. Diskusinya seru dan tambah menantang hehe. Saya tidak akan komentar berpanjang-panjang. Saya hanya pengen mengajukan beberapa pertanyaan dan sedikit mengajak untuk kembali pada “INTI” persoalan.

Pertama; diskusi kita sepertinya sudah lari dari “INTI” persoalan. Apa yang diutarakan diatas. Mulai dari meyakini agama dan tuhan. Tidak meyakininya. Atau keluar, terus masuk lagi. Atau sama sekali tidak mau mengenal tuhan. Dengan menggunakan bahasa yang intelek, memaki, menghujat, menyindir, sinis, joke, dll, pada pokoknya atau pada INTI-nya adalah membicarakan mengenai “EKSISTENSI TUHAN”. Tentu pengertian Tuhan dalam “BAHASA” setiap agama. Dalam Islam yang saya pahami adalah membicarakan “ZAT ALLAH” dengan segala sifat-sifatnya. Dalam iman Kristiani adalah TRINITAS. Saya tidak paham kalau dalam agama Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, dan lain sebagainya. Suku-suku di Indonesia, kepercayaannya juga banyak. Kalau ini disepakati sebagai agama, mereka juga mengenal Tuhannya.

Bagi saya yang awam ini, terlepas dari segala perbedaan yang ada, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan : Siapa sich Tuhan itu? Siapa sich Allah itu? Siapa sich Trinitas itu? Mengapa kita harus menyembah-Nya? Dan mengapa kita berbeda-beda? Ada Islam, Kristen, Budha, Hindu dan setrusnya.

Jawabannya sederhana karena dikenalkan oleh orang tua kita, nenek moyang kita, para ustad, ulama dan pendeta kita, dan seterusnya. Mereka juga, para orang tua, ulama, ustad, pendeta mungkin sama. Dikenalkan oleh orang tua mereka dan seterusnya. Loh wong wahyu turun beribu-ribu tahun yang lampau. Kita dan orang tua kita belum lahir. Tau apa kita mengenai Nabi dan Rasul penerima wahyu.

Sampai disini. pada akhirnya bicara mengenai “TAFSIR”. Tafsir kita mengenai sejarah masa lalu. Sejarah wahyu dan para nabi/rasul.
Untuk membuktikan “KEBENARAN KEYAKINAN” kita.

Bagi agama-agama Ibrahimi, ruang dan waktu tentu menjadi problem tersendiri. Karena sejarahnya juga banyak berlumuran darah. Dan entah peradaban mana yang lebih agung. Menjunjung tinggi hak asasi manusia. Nilai-nilai universal, seperti rasa aman, tidak terancam, terintimidasi, atau berhak bebas berpendapat, berorgansiasi dan berekspresi, kesetaraan, egaliter, saling menghormati. Berada di peradaban yang mana? Agama-agama Ibrahimi harus menjawab ini.

Kedua, Wahyu Tuhan boleh memiliki “KEBENARAN ABSOLUTE”; tunggal dan sudah finish, gak ada lagi sesudahnya. Tapi seperti apa dia datangnya pada manusia? Disinilah “BAHASA” menjadi jawabannya. Karena bahasa inilah yang “SANGAT MEMUNGKINKAN dan SANGAT PASTI” bisa KELIRU dan mungkin bisa diselewengkan demi kepentingan politik dan ekonomi. Demi kepentingan individu, kelompok atau negara. Lalu demikan, menjadi RELATIF dong semuanya? Loh wong kita hidup di jaman sekarang? Mana tahu kita nabi menerima dan menyampaikan wahyu?

Ketiga, ini hal yang sangat penting untuk KITA PERIKSA kejadian akhir-akhir di Indonesia. Banyak individu, kelompok, insitusi bahkan negara sendiri (Indonesia tercinta ini) melakukan KEKERASAN terhadap beberapa komunitas agama di Indonesia. Argumentasinya enteng banget, MEREKA SESAT, tidak ikuti sifat Tuhan Islam, ZAT ALLAH. Pertanyaannya, apa benar mereka tidak mengikuti sifat Tuhan Islam, Zat Allah? Terus bagaimana dengan para pelaku yang melakukan kekerasan ini? Apa beda mereka dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh binatang buas? Saya jadi takut, jangan-jangan Tuhan atau Zat Allah dalam TAFSIR nya mereka adalah SUKA KEKERASAN dan SUKA MENUTUP PAKSA tempat ibadah pengikut yang berbeda dengan mereka. Tuhan, benarkah engkau suka kekerasan?

Semoga, KITA BISA BELAJAR dan MERENUNGKAN INI SEMUA.
Di akhir tulisan ini, saya hanya ingin mengatakan “Bebaskanlah Tuhan dari segala kekerasan di negeri ini”.

Wahyu Taranaita
Ternate

51. RAJAWALI - Januari 26, 2008

Maaf ! apa sih yg kalian semua bicarakan ini? memperpanjang pertanyaan atau bahkan mempersempit pokok permasalahan? ok la…biar ada pengecilan skop, coba kita fokus pada ini : seorang muslimah di Malaysia, yg kerana satu dan lain hal ( dipengaruhi @ kurang fahamnya ttg Islam yg Tauhid) ingin MURTAD dari keislaman nya.

Pihak yg berwewenang di nagara malaysia justeru menjalankan tugasnya, yg dilakukan adalah kewajiban muslim manapun. ingin menjaga saudara seagama dengannya..dgn mendekatinya semula, memujuk dan coba semampu mereka untuk memberikan pemahaman ttg Islam yg benar kepadanya. Islam yg cinta damai, yg indah dan membukakan pintu ilmu, pintu langit kepada umat manusia yg punya mata hati.
mereka bukan sebaliknya mendakwah dan mengimbau umat agama lain untuk dipaksa memeluk Islam, toh iman tidak boleh dipaksakan. ttp rasa empati & simpati kepada sesama saudaranya lah yg mendorong mereka meletakkan wanita yg ingin murtad itu di bawah satu program pemulihan akidah. Isu ini akan jadi lain jika umat agama lain yang dipaksa ke pusat tersebut, dengan dipaksakan dogma2 tertentu.

wahai…Memang tidak ada paksaan dalam agama. bukan isu paksaan yg muncul di sana. ttp adalah sebuah tugas, suatu tanggungjawab & kewajiban muslim menjaga keadaan umat yg seagama. dan ini menyangkut tata hidup yg terpola di sana, demi menjaga stabilitas umat Islam yg marah & tersinggung, yg jika tidak diperhatikan bakal merubah Malaysia menjadi Poso.

Dan memang, apa yg menyebalkan adalah bila ada pihak lain yg bermain dlm kaus ini..pihak2 yg mengusung paham yg berbeda (liberalisme, inklusifisme agama dll.) dengan Keislaman setempat (ahli sunnah wal jamaah).

saya melihat begini, Embel2 JIL ttg ketidakadilan kitab fiqh purba tidak laku disana. isu2 gender dan HAM lebih diperhatikan bila punya sandaran moral, biologis, fisik dll. gaya pikir yg sok barat dan post-modernisme, yg absurditas dan bikin pusing adalah tidak laku di sana.

kembali ke persoalan : murtad tidak boleh ditoleransi. Hidayah itu dari Tuhan, keimanan itu di dalam hati manusia. tp perlu ada yg menjaga agar iman Islam itu tetap terjaga. GM, anda sebenarnya menulis dengan hati yg masih Islam, kerana anda masih sayangkan Islam, dan masih punyai iman. titik!

52. shinta okta - Februari 4, 2008

saya percaya tidak ada kebetulan, kemaren saya baru saja membeli tempo bekas yang cat. pinggirnya ttg murtad ini.
dan hari ini saya membaca pembahasannya

bagaimanapun juga banyak sekali orang yang dengan gagahnya menjadi pembela ‘agamanya’
dan dengan gagahnya pula membuat satu definisi tersendiri dan larangan larangan di belakangnya..
kalian sibuk dengan persamaan,
kalian sibuk dengan menyatukan pendapat.
kalian sibuk dengan tidak boleh beda…

teman tidak seiman, disingkirkan…
teman keluar dari agama kalian… didiskriminasi..
adek/kakak memilih keyakinan laen, dianggap murtad dan sebagainya…

iklim di indonesia sich… dari kecil diajarin hanya ttg surga dan neraka.jadi kemudian kalian sibuk dengan kehidupan kalian setelah mati.
berapa pahalaku, berapa dosaku…
pernah denger lagunya ahmad dhani feat alm. chrisye
jika surga dan neraka tak pernah ada///
masihkah kau menyembahnya…
hahahhaha
aku yakin ngga
…..

so guys
open your mind
jangan hanya berhenti pada halal haram, surga dan neraka
kehidupan lebih besar dari itu
marilah kita mencintai sesama (BUKAN SESAMA AGAMA) tapi SESAMA MANUSIA…
seperti kita mencintai diri kita sendiri…
selama embel embel sesama agama, sesama muslim, sesama kristen masih melekat… kalian akan jatuh dalam labirin agama… selamat..
dan Tuhan akan tertawa disana..
dia bilang .. ‘pada ngapain sich orang2 itu…’

so,
selamat bercinta dengan SESAMA,
tidak perduli agamanya, rasnya, and anything else behind that.
takut dosa…?????
ke laut aje…

53. Raz Ghaz - Februari 5, 2008

dear shinta syg, dahsyat sekali anda cara anda melihat perkara2 d dunia ini. emangnya hidup anda sendiri gimana setakat ini? apa ketemu dgn ketenangan hati hasil garapan open your mind nya itu? soal2 yg berada dlm pelukan agama itu sebenarnya ingin agar hidup manusia tidak sia2. kasih syg sesama…itu kan tema yg diusung sejak beribu tahun silam lg oleh para rasul, bukannya muncul bila diketemukan oleh org2 yg sok filosofis jaman2 skrg ini loh…Kebetulan itu ngak ada. tapi berimanlah juga dgn qadha dan qadar dr Nya. salam kenal.

54. antarix temennya oBelix - Februari 22, 2008

Tulisan GM cuma tulisan dr manusia biasa seperti halnya kita semua yg coba membaca ‘kehidupan’ di sekitarnya, dimana tulisannya tidak ‘wajib’ dibaca seperti kitab2 Tuhan. Kalau ada yg tidak setuju ya tidak perlu sampai naik darahlah. Seperti membaca komik atau novel az, kalau memang tidak ‘pas’ membaca buku dg genre tertentu, ya tinggal cari buku yg lain. & kalau tidak setuju dg isi tulisannya GM, ya tinggal cari majalah or webblog yg lain. Bukankah dg begitu dunia akan jd lebih adem. Global warming nih!

Renungan dari Rumi:
“Di hadapan Keagungan-Nya,
awasi hatimu baik-baik
agar pikiranmu tidak membelenggumu.
Dia melihat kesalahan, pendapat dan hasrat
sejelas sehelai rambut di susu murni.

Manusia sungguh2 mengabdi,
dan berupaya keras ikhlas, mengharapkan pahala.
Ini sungguh dosa yang tersembunyi.
Perbuatan yang dianggap bersih oleh orang saleh ternyata kotor.”

Ada juga pepatah di buku Helminski:
“tatkala kita menilai orang lain, baik orang itu mengetahui atau tidak, maka kita menyakiti Tuhan”
krn menurutku manusia sbg mahlukNya tidak pernah diberikan KEWENANGAN sekecil apapun utk menilai atau menghakimi wilayah batin sesama ciptaanNya. ITU adalah HAK MUTLAK DARI SANG MAHA

jangan2 ada yg nanya lagi, ‘Tuhannya siapa??’, whuaaa tape’ dech…:-)

55. perempuan yahud - Maret 5, 2008

aku suka sekali dengan komentarnya “antarix temennya obelix”
“Tuhannya siapa??’, whuaaa tape’ dech..”hahhahahahahhaaaa

aku rasa iman itu hanya bisa dirasakan hati..kita semua berhak untuk mengakalinya karna memang “hak” adalah pemberian Tuhan yang paling mulia untuk manusia.

tapi keimanan itu hanya bisa diciptakan dari “cinta”, dan bagaimana kita bercinta dengan sesuatu yg kita Cintai itu diwujudkan dari agama. sebagai orang muslim, saya percaya kalau syariat islam yang saya lakukan itu adalah wujud,ekspresi,dan cara menunjukan cinta saya pada Tuhan.
dan saya yakin sekali semua yang berasal dari Dia adalah yang baik2. Dia mengajarkan semua syariat karna ada alasannya, kita sholat agar apa, puasa untuk apa, zakat biar apa, mengaji supaya apa,dll. semua itu hanya untuk membuat kita menjadi manusia yang baik terhadap sesamanya dan tentu saja terhadapNya.

dan saya rasa, semua agama pasti mengajarkan manusianya untuk menjadi manusia yang sempurna.
karna..saya tahu bahwa manusia memang tidak ada yang sempurna!!

tidak akan bermakna apa2 kalau kita memperdebatkan agama
mana yg paling bagus..perdebatan yang bermakna adalah yg mengarah pada keduniawian..bagaimana manusia bisa maju dalam berpikir dan bertindak sekuler..menurut saya sebetulnya ini adalah yang paling abstrak,ketimbang agama.

aaahh..tapi saya ini hanya orang sok tahu..yang kerjaannya cuman ngetawain cara bicaranya Cinta laura..hhahahahah!

56. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

kelihatannya menarik juga,Tapi yang menjadi masalah adalah: siapakah saya?,darimanakah saya berasal?,darimanakah semua ini berasal? , Apakah yang harus saya sembah? ,apakah saya harus menyembah sesuatu?.

57. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

Untuk Apa saya Ada?,Apa itu Rasa?,bagaimana saya bahagia dan tenang?,darimana keseimbangan alam berasal?,dan dimana tempat menghitung keseimbangan Alam?,Apa yang harus saya cari?.

58. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

dari mana asalnya rasa?,dari mana asalnya perasaan?,dari mana asalnya pikiran?,dari mana asalnya logika?,darimana asalnya matematik?,dari mana asalnya energi?,dari mana asalnya materi?,dari mana asalnya,metafisika?.

59. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

mana yang lebih nyata?, fisika atau metafisika?,apakah materi itu energi?,atau energi itu materi?.

60. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

mna yang lebih dulu tercipta?,materi atau metafisika?,dimanakah pencipta saya sekarang?, dia jauh atau dekat?,apakah pencipta ada di dalam manusia?atau manusia ada di dalam pencipta? ataukah keduanya?

61. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

siapakah pencipta itu?,siapakah ciptaan itu?,perlukah saya menjadi sombong untuk melindungi diri saya dari ketakutan?,apa itu sombong?,baik atau burukah sombong itu?,apakah gengsi itu?,baik atau burukah gengsi itu?,apakah sombong dan gengsi baik untuk forum?,apakah sombong dan gengsi baik pikran dan pemikiran?,

62. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

apakah agama itu?,siapakah tuhan itu?,siapakah pencipta itu?,apakah benar itu?,apakah salah itu?,apakah berjuang itu?,apakah meneror itu?,apakah bingung itu?,apakah pasti itu?,

63. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

apakah hak itu?,apakah kewajiban itu?,apakah hak pencipta alam?,
apakah ada hak asasi tuhan?,apakah ada hak asasi manusia?,

64. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

dimanakah aku sekarang?,ada apa di langit?ada apa di bumi?,mana ujung langit?,apa namanya ujung langit?,apakah alam ini semuanya materi dan energi saja?,kemana ruh pergi?

65. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

siapakah Tuhan?,apa bedanya dengan pencipta Alam?.

66. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

Apakah Tuhan itu pencipta alam?,ataukah pencipta Alam itu adalah Tuhan?

67. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

siapakah Tuhan?,Siapakah yesus?,siapakah ALLAH?,siapakah ALAH,siapakah IVH?,siapakah Elohim?,siapakah Dewa,siapakah Budha,siapakah sidartha gautama?,siapakah Yahweh,siapakah Pencipta Alam?

68. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

apakah patuh itu?,apakah memberontak itu?,Apakah fanatik itu?,Apakah berfikir itu?,Apakah kekanak kanakan itu?,Apakah Dewasa itu?,apakah pembaharu itu?,apakah kuno itu?,Apakah asli itu?,Apakah palsu itu?.

69. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

apakah kuno itu lebih modern?,ataukah modern itu lebih kuno?, ataukah kuno itu tetap kuno?,dan modern tetap modern?, ataukah semuanya benar?,

70. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

Apakah dunia itu?,apakah surga itu?,apakah selamat itu?,apakah celaka itu?,apakah kemusnahan itu?,apakah kelahiran itu?,apakah kehidupan itu?,apakah kematian itu?.

71. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

apakah dosa itu?,apakah pahala itu?,apakah neraka itu?,apakah menyesal itu?,apakah Apatis itu?,apakah egois itu?,apakah disiplin itu?,apakah malas itu?,apakah asal asalan itu?,apakah teliti itu?,apakah berterima kasih itu?.

72. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

apakah titipan itu?,apakah pemberian itu?,apakah penerimaan itu?,siapakah yang memberi?,siapakah yang menerima?,siapakah yang dititipi?,apakah menebus itu?,apakah miskin itu?,apakah kaya itu?.

73. Komnas HAM Sejati - Maret 7, 2008

apakah rugi itu?,apakah untung itu?,apakah iklhas itu?,apakah pamrih itu?,apakah setia itu?,apakah berkhianat itu?,

74. yuli ernawati - Maret 7, 2008

Whaduh…. ramai sekali tanggapan atas murtad ini…
Saya cuma sedih, karena saya pernah mengalami hal yang nyaris serupa, cuma tidak seheboh Revathi…
Saya belum sampai pada berpindah agama, hanya sekedar dekat dan ingin belajar agama lain, tapi sudah membuat seluruh keluarga besar dan teman-teman gempar….
Sekarang saya lebih memilih untuk “pura-pura beriman” demi kedamaian banyak orang dan demi menghindari pertanyaan-pertanyaan konyol yang tidak perlu dijawab.

75. komnas HAM sejati - Maret 9, 2008

mari kita teruskan renungan berfikir…………………
dalam agama:
apakah cinta kasih sebagai kedok?,ataukah kekerasan sebagai kedok?, apakah cinta kasih tanpa kedok?,ataukah kekerasan tanpa kedok?,apakah memanfa’atkan ayat suci?,atau dimanfa’atkan ayat suci?

76. komnas HAM sejati - Maret 9, 2008

apakah benar iu damai?, ataukah damai itu benar?, apakah perang itu benar?,ataukah benar itu perang?,apakah damai itu salah?,ataukah salah itu damai?,apakah perang itu salah?,ataukah salah itu perang?,

77. komnas HAM sejati - Maret 9, 2008

apakah meminta ma’af kepada Tuhan?,ataukah Tuhan meminta ma’af?

78. Ajie - Maret 10, 2008

“….Kalau tidak percaya, anda boleh lihat, hampir semua orang yang keluar dari Islam memiliki kepribadian dan jiwa yang tidak normal dan labil, meskipun dia memiliki kecerdasan yang lumayan karena perkembangan jiwa sama sekali tidak linier dengan perkembangan otak dan pikiran. Contoh yang paling besar adalah Nietzsche. Kalau masih bingung juga lari saja ke konsensus:
1000.000.000 lebih orang memeluk Islam dan bisa bertahan lebih dari 1500 tahun.”

Alkisah pada suatu hari..Nietzsche berkata “Allah sudah mati!”, dan Allah pun mendengar, tersinggung, lalu mengutuknya menjadi “gila”…..kita pun berkata “Rasain deh lu Nietzsche!!”.

Jika kita setuju dengan komentar tersebut, tanpa disadari kita sudah merendahkan Tuhan (dengan 99 sifat/namanya) menjadi Tuhan yang sensitif, mudah tersinggung, dan pemarah,sama persis seperti kita (Kena kau!!!Kata Nietzsche…:D). Rendah hatilah, kita tidak lebih mulia dibanding Nietzsche, dan tidak memiliki keberanian mencari Tuhan seperti dia.

79. Ajie - Maret 10, 2008

….Sekarang saya lebih memilih untuk “pura-pura beriman” demi kedamaian banyak orang dan demi menghindari pertanyaan-pertanyaan konyol yang tidak perlu dijawab.
Saya yakin anda tidak sendiri…banyak yang rindu dan ingin bertemu Tuhan sambil “sembunyi” karena takut (bukan kepada Tuhan tapi kepada orang2 yang mirip petugas “pemulihan akidah” seperti tulisan diatas).

80. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

saya bertabya karena memerlukan jawaban dan saya menjawab karena memerlukan pertanyaan.

renunganku……

apakah serigala berbulu domba,ataukah domba berbulu serigala?,apakah Tuhan maha besar?,ataukah besar itu adalah Tuhan?, apakah Tuhan itu maha suci?,ataukah suci itu adalah Tuhan?, apakah kita harus berterima kasih kepada Tuhan?,ataukah Tuhan berterima kasih kepada kita?,apakah Tuhan maha kaya?, ataukah kaya raya itu adalah Tuhan?,

81. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah Tuhan itu maha cepat perhitungannya?,ataukah cepatnya perhitungan adalah Tuhan?,apakah Tuhan maha mengetahui?, ataukah Pengetahuan adalah tuhan?,apakah Tuhan maha pengasih dan penyayang?,ataukah kasih sayang adalah Tuhan?.

82. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah Tuhan Maha benar?,ataukah Benar itu adalah Tuhan?.

83. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah pedang itu tajam?,ataukah tajam itu pedang?,apakah kita berfikir?,ataukah kita ini adalah pikiran?,apakah kita benar?,ataukah benar itu adalah kita?.

84. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah kita salah?,ataukah salah itu adalah kita?,apakah kita menyembah Tuhan ataukah Tuhan menyembah kita?,apakah Tuhan berkehendak,ataukah kehendak adalah Tuhan?

85. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah kita makan nasi dan lauknya?,ataukah nasi dan lauknya makan kita?.

86. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah penggembala kambing menggembalakan kambing?,ataukah kambing menggembalakan pengembala kambing?.

87. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah Tuhan itu adalah satu?,ataukah satu itu adalah tuhan?,

88. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah kebebasan adalah benar?,ataukah benar adalah kebebasan?,apakah ilmuwan menghitung?,atau perhitungan adalah ilmuwan?,

89. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah ayat suci itu kuno?,ataukah Kuno itu adalah ayat suci?.

90. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah serigala pada kumpulan domba?, ataukah domba pada kumpulan serigala?,

91. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah kita sesat?,ataukah sesat adalah kita?

92. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah daging babi itu Haram?, ataukah Haram itu adalah babi?,

93. Komnas HAM sejati - Maret 10, 2008

apakah Tuhan itu banyak?,ataukah Banyak itu adalah Tuhan?.

94. Yuda - Maret 10, 2008

Maksud lo? (untuk Komnas HAM sejati)….salut anda bisa mengarang pertanyaan sebanyak ini…jika ingin jawabannya…baca saja seluruh Caping…dan juga buku2 (atau kitab) para tokoh yang dimunculkan didalamnya. Dari situ mungkin anda bisa sedikit yakin bahwa kita saat ini sudah punya jawabannya.

95. Manga manga - Maret 10, 2008

Orang yang aneh….(to : Komnas HAM sejati)

96. komnas HAM sejati - Maret 11, 2008

dari renungan saya jelaslah kebenaran itu absolute,dan ternyata kita juga mengenal siapakah diri kita,renungkan dan pikirkanlah kembali renungan saya yang diatas,pertanyaan demi pertanyaan,apakah anda menemukan sesuatu?.

97. komnas HAM sejati - Maret 11, 2008

saya punya alamat web site yang cukup bagus dari seorang teman saya ,alamat tersebut adalah:

http://www.faithfreedom.myforumportal.com
selamat mencari kebenaran ,dan dan cobalah mengenal diri,mengenal Tuhan.

98. ajie - Maret 11, 2008

Dalam caping Tentang “Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada”, ada paragraf seperti ini….“lebih baik kita hidup dengan keterbatasan karena bahasa. Dengan kata lain, hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang—betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.”
Kita terus mencari dan mencari, menunggu-nunggu…sampai akhirnya hanya tinggal kerinduan dan sebuah kesadaran akan keterbatasan diri di ujung pencarian dan penantian. Disaat kita tidak menyadari keterbatasan itu, yang ada adalah keinginan seekor katak yang hendak jadi lembu.

99. Yuda - Maret 11, 2008

@ajie
Gw setuju. Berbahagialah orang yang sudah mengetahui keterbatasan dirinya sehingga bisa bersikap rendah hati dan tidak naif. Katak kok hendak jadi lembu…cape deh ^_^.

100. ucuf24 - Maret 12, 2008

@Komnas HAM Sejati
…dari renungan saya jelaslah kebenaran itu absolute,dan ternyata kita juga mengenal siapakah diri kita,renungkan dan pikirkanlah kembali renungan saya yang diatas,pertanyaan demi pertanyaan,apakah anda menemukan sesuatu?.
Tidak menemukan apa-apa sama sekali…saya serius. Anda melengkapi bukti apa yang GM katakan tentang keterbatasan sebuah bahasa. Apa yang anda tunjukkan hanyalah permainan kata-kata yang sebenarnya jauh-jauh hari masalah tersebut sudah terjawab. Dan GM menghadirkan potongan2nya dalam caping untuk kita renungkan.

101. vina_melao - Maret 19, 2008

Agama terlalu sederhana untuk manusia yang rumit.. sementara Tuhan adalah nama yang sementara dari apa yang tak sementara..

102. imarsatri - April 23, 2008

ngga ada yang tahu kita ini benar diciptakan apa ngga, yang percaya sebab akibat pasti yakin sesuatu itu diciptakan, yang ga percaya ya sah sah saja jadi atheis…
yang jadi masalah sekarang kenapa sama-sama percaya bahwa kita ada yang menciptakan, tapi kok bikin tuhan sendiri – sendiri… kalo mau ribut ya ribut sama yang ngga percaya sama tuhan.. seenggaknya ini lebih beralasan….

103. mike - September 2, 2008

Halo semuanya.
Klaim-klaim the-so-called kaum inklusivis luar biasa mesmerizing, mesmerizing-ly misleading, that is. Yang paling utama adalah klaim paling pokok mereka bahwa kebenaran agama adalah relatif jika dibandingkan dengan yang lain atau mutlak pada dunianya sendiri. How in the world you could base something absolute pada landasan yang relatif? Furthermore ‘pendiri’ agama-agama sendiri–budha, jesus, misalnya–tidak pernah menyatakan agama lain memiliki nilai kebenaran yang sama.
Maka is inclusivism is true or is it only in their mind? Or is it true in their–the so-called inclusivists’–own world?

104. putri rabbani - September 7, 2008

lakum dinukum waliadin .[ bagimu agama mu, dan bagiku agamaku]

105. Mengungkap Sosok Bernama Goenawan Mohamad | Pakai Otak Dong - November 30, 2008

[…] Dalam sebuah tulisan yang di beri judul Murtad, bapak Goenawan Mohamad menuturkan: Memang harus saya katakan, saya memilih tetap dalam agama saya sekarang bukan karena saya anggap agama itu paling bagus. Saya tak berpindah ke agama lain karena saya tahu dalam agama saya ada kebaikan seperti dalam agama lain, dan dalam agama lain ada keburukan yang ada dalam agama saya. Dikutip dari: Murtad-Caping. […]

106. dadat - Februari 3, 2009

Bagi Saya pengertian Murtad atau menjadi kafir bukan berarti seseorang yg berpindah agama, Seseorang menjadi murtad atau kafir apabila dia tidak menjalankan perintah agamanya untuk berbuat kebajikan, Seseorang dikatakan murtad apabila dia tidak tahu apa itu AGAMA, apa itu IBADAH/SHALAT, apa itu IMAN, dan dia juga tidak tahu bagaimana seharusnya menjadi seorang manusia dimuka bumi ini, Agama bagi saya adalah salah satu jalan menuju kesempurnaan manusia, jadi sebenarnya inti ajaran semua agama itu sama yaitu mendidik manusia berbuat kebajikan dan membuat manusia menjadi sempurna dimuka bumi .

Alif - Mei 28, 2010

Untuk Esa
(mungkin anda ganti saja nama anda menjadi tri atau tiga)

Saya mendengar pertanyaan anda seperti seseorang yang mengucapkan, ‘mengapa sih kita harus minum obat? padahal obat itu pait dan tak enak ditelan?’ padahal obat itu sangat berguna dan merupakan ‘drug of choice’ untuk penyakit anda derita.. Dari apa yang anda tulis di blog ini saya yakin anda bukanlah seorang ahli teologi, ahli dalam alkitab anda, apalagi ahli dalam agama lain terutama islam yang anda singgung di tulisan anda.. Saya yakin, jika anda adalah orang yang berkebalikan dari apa yang saya tuliskan dikalimat saya yang sebelumnya, anda tak akan berfikir sedemikian rupa.. Jika memang apa yang anda tuliskan mengandung kebenaran, saya heran, mengapa ya, banyak ahli teologi (para pendeta, professor, S3) dari agama yang anda anut beralih (atau saya katakan kembali) ke agama lain yang anda singgung di tulisan anda..
Saya yakini bahwa agama dan iman sejati itu dapat diraih dengan akal dan fikiran -yang telah tuhan anugrahkan pada kita-, dan tidak hanya oleh dogma dan keyakinan yang semu..
Saran saya-khususnya untuk saya dan anda, umumnya untuk semua yang membaca- carilah dulu ilmunya sebelum anda berkata-kata.. Mengetik itu mudah, tetapi mempertanggung-jawabkannya yang susah..
Saya memang tak ingin membahas substansi permasalahan yang anda tulis tersebut sekarang.. silahkan anda cari ilmunya dulu, bila tuhan menghendaki mungkin kita akan membahasnya dilain kesempatan..

107. Esa - Februari 11, 2009

agama yang baik akan menghasilkan umat yang baik dan tidak dengki mendengki, benci membenci dan dendam mendendam antara satu sama yang lain.. cinta kasih lah yang lebih utama dari segalanya, tampa kasih manusia tidak akan aman.. kasih yesus lebih dari kasih sesiapapun. kasih kepada manusia higga rela berkorban demi pengampunan dosa manusia. manusia suda di ampuni tapi bergantung kepada manusia mahu mengakui kesalahan atau tidak. umat islam suda mengetahui sejarah muhamad yang suka berdendam dan membunuh tapi kenapa umat islam buta dan sanggup mengukuti ajaran muhamad?

108. Esa - Februari 11, 2009

murtad dalam maksud sebenar ialah orng yang jauh dari Allah. orng yang tidak mengikut perintah Allah iaitu x mengikuti hukum taurat dan injil.. firman terbesar Allah dan firman pelengkap segalah firman iaitu mengasihi sesama manusia.. kasihi musuh mu dan berdoalah kepada mereka agar mereka juga saling mengasihi.. umat islam sering menghina kristian namun dalam masa yang sama kristian sering berdoa kepada mereka..

109. bowo - Mei 30, 2009

wah ramai bener debatnya. ada yang bisa saya katakan yaitu “manusia berpikir, dan Tuhan tertawa”

110. wem - Januari 5, 2010

ehmm

111. A - Mei 28, 2010

[1] Freemasonry selalu bergerak ke pusat kekuasaan, demi mempengaruhi, mengontrol, serta mengambil manfaat seluas-luasnya. Itu mereka lakukan sejak dulu sampai saat ini. Ingat, sasaran pertama Freemasonry di Indonesia adalah elit-elit keluarga bangsawan Jawa. (Mungkin kenyataan seperti inilah yang membuat banyak masyarakat etnis non Jawa kesal dengan pemimpin-pemimpin asal Jawa).

[2] Freemasonry tidak pernah memiliki obsesi untuk mensejahterakan kehidupan rakyat. Mereka bersikap elitis dan suka dengan struktur politik elitis. Boedi Oetomo dulu adalah organisasi para priyayi Jawa yang arogan dan elitik. Hanya dengan kultur elitik itulah anggota Freemasonry bisa bebas menindas manusia-manusia lainnya. (Ingat, dalam struktur gerakan Freemasonry berlaku sistem kasta-kasta yang amat sangat ekstrem, sampai 33 tingkatan. Padahal dalam Hindu paling hanya ada 4 atau 5 kasta saja).

[3] Freemasonry mengamalkan ilmu-ilmu sihir, upacara memanggil roh, ritual pengorbanan, mendalami ilmu-ilmu kebatinan, dan sejenisnya. Mereka ini orang-orang musyrik secara murni. Hanya saja, biasanya mereka terpelajar, intelek, berwawasan. Tetapi tetap saja musyrik. (Kita tidak heran kalau banyak pejabat-pejabat birokrasi dari etnis Jawa, banyak yang menganut Kejawen, penggemar mistik, pengamal ilmu-ilmu kebatinan).

[4] Freemasonry bergerak dengan cover gerakan kasih-sayang, toleransi, cinta-kasih, humanisme, peduli kemanusiaan, dan seterusnya. Tapi yakinlah, semua itu hanya kedok belaka. Bayangkan, para penganut sihir, ilmu-ilmu kebatinan, dan sejenisnya, darimana mereka akan berkasih sayang?

[5] Freemasonry katanya sangat membenci fanatisme agama, lebih suka sikap toleransi, menghargai keragaman. Tetapi dalam kenyataan, mereka sangat keras, fundamentalis, agressor yang bengis. Mereka amat sangat membenci Islam, dan mencintai apapun yang bersifat paganisme. Mereka berpura-pura mencintai adat-istiadat, budaya bangsa, warisan leluhur. Padahal intinya, membela paganisme, dan menyerang ajaran Tauhid Islam.

[6] Freemasonry sangat sering beralasan dengan isu-isu kebangsaan. Seolah mereka paling nasionalis, paling patriotik. Padahal tujuan mereka, hanyalah ingin membenturkan aparat negara dengan kalangan Islam. Mereka ingin mengadu-domba negara dengan kalangan Islam. Biar para aktivis, dai, pemuda-pemuda Islam disikat habis oleh alat-alat negara. Mereka amat sangat senang dengan merebaknya isu terorisme, sebab mereka memiliki alasan untuk menghabisi kekuatan gerakan-gerakan Islam, jika mereka mampu melakukannya.

112. Alif - Mei 29, 2010

Untuk esa(mungkin anda ganti saja nama anda menjadi tri atau tiga begitu)

Saya mendengar pertanyaan anda seperti seseorang yang mengucapkan, ‘mengapa sih kita harus minum obat? padahal obat itu pait dan tak enak ditelan?’ padahal obat itu sangat berguna dan merupakan ‘drug of choice’ untuk penyakit anda derita.. Dari apa yang anda tulis di blog ini saya yakin anda bukanlah seorang ahli teologi, ahli dalam alkitab anda, apalagi ahli dalam agama lain terutama islam yang anda singgung di tulisan anda.. Saya yakin, jika anda adalah orang yang berkebalikan dari apa yang saya tuliskan dikalimat saya yang sebelumnya, anda tak akan berfikir sedemikian rupa.. Jika memang apa yang anda tuliskan mengandung kebenaran, saya heran, mengapa ya, banyak ahli teologi (para pendeta, professor, S3) dari agama yang anda anut beralih (atau saya katakan kembali) ke agama yang anda singgung di tulisan anda..
Saya yakini bahwa agama dan iman sejati itu dapat diraih dengan akal dan fikiran -yang telah tuhan anugrahkan pada kita-, dan tidak hanya oleh dogma dan keyakinan yang semu..
Saran saya-khususnya untuk saya dan anda, umumnya untuk semua yang membaca- carilah dulu ilmunya sebelum anda berkata-kata.. Mengetik itu mudah, tetapi mempertanggung-jawabkannya yang susah..
Saya memang tak ingin membahas substansi permasalahan yang anda tulis tersebut sekarang.. silahkan anda cari ilmunya dulu, bila tuhan menghendaki mungkin kita akan membahasnya dilain kesempatan..

113. anung - September 25, 2010

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab(yahudi dan nashrani), marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita PERSEKUTUKAN Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” [Ali Imran:64]

“Agama adalah akal, kata Nabi” betulkah itu ucapan nabi?

“Agama adalah akal. Siapa yang tidak memiliki agama, tidak ada akal baginya.”

Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dari Abi Malik Basyir bin Ghalib.
An-Nasa’i berkata, “Hadits ini adalah BATHIL MUNGKAR.” Al-Albani berkata, “Hadits tersebut BATHIL. Menurut saya, kelemahan hadits tersebut terletak pada seorang sanadnya yang bernama Bisyir. Dia ini majhul (asing/tidak dikenal).”

Inilah yang dinyatakan oleh al-Uzdi dan dikuatkan oleh adz-Dzahabi dalam kitab Mizanul I’tidal dan al-Asqalani dalam kitab Lisanul-Mizan.

Al-Albani berkata lagi, “Satu hal yang perlu digarisbawahi disini ialah bahwasanya semua riwayat/hadits yang menyatakan tentang keutamaan akal TIDAK ADA yang shahih. Semua berkisar antara DHAIF(LEMAH) dan MAUDHU(PALSU). Saya telah menelusuri semua riwayat tentang masalah keutamaan akal tersebut dari awal. Di antaranya adalah apa yang diutarakan oleh Abu Bakar bin Abid Dunya dalam kitab al-Aqlu wa Fadhluhu. Disitu saya dapati ia menyebutkan bahwa riwayat ini tidaklah sahih.”

Kemudian Ibnul Qayim dalam kitab al-Manar halaman 25 menyatakan bahwa hadits-hadits yang berkenaan dengan akal semuanya adalah DUSTA BELAKA!

http://hadits-dhaif-maudhu.blogspot.com/2009/03/hadits-tentang-agama-adalah-akal.html

114. Jodee Neiman - November 21, 2011

Or maybe you’ve got found an training that the accomplice actually doesn’t get satisfaction from. In perhaps circumstance, fully free of charge whoever is sure, after which possess a conversation to identify what went improper and the way to suitable it inside the future. Underneath no problems need to bondage activity go on when a person communal gathering wishes to finish!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: