jump to navigation

Bergman Agustus 6, 2007

Posted by anick in Agama, All Posts, Film, Tokoh, Tuhan.
trackback

Tuhan pernah jadi beban bagi Ingmar Bergman. Tapi kemudian beban itu lepas, bahkan jauh sebelum sutradara film ini meninggal dalam usia 89—dengan nama harum ke seluruh dunia—di Pulau Farö di Laut Baltik, 30 Juli yang lalu. ”Superstruktur keagamaan saya yang berat ke atas telah runtuh,” katanya pada suatu kali—dan ia merasa lega.

Tuhan pernah jadi beban bagi Bergman karena dalam hidupnya, Yang Maha Kuasa diwakili sosok angker seorang ayah. Ayah itu pendeta Lutheran Swedia yang keras, yang tak jarang mengurung Ingmar kecil di ruang gelap—seperti yang bertahun-tahun kemudian digambarkannya dalam tokoh Pendeta Edvard Vergerus, ayah tiri yang tanpa belas kasih itu, dalam film Fanny och Alexander (1983).

Film ini adalah kisah Alexander, bocah berumur 10 tahun. Ia anak yang peka rasa, agak pelamun, dan terbuka pada khayal yang hidup. Dibesarkan dalam keluarga Ekhdal yang longgar, sensual, gembira, dan artistik, ia kemudian masuk ke dunia Pendeta Vergerus, setelah rohaniwan Lutheran ini menikahi ibunya: sebuah dunia dengan iman yang teguh, puritan, represif, dan bengis.

Di sela-sela itu, Alexander menemukan dunia yang magis dan remang di antara boneka-boneka antik sebuah keluarga Yahudi. Satu dimensi lain pun muncul: dalam hidup ada sesuatu yang ajaib dan mempesona, sesuatu yang bukan duniawi, tapi jauh dari akidah agama.

Fanny och Alexander, yang mengandung anasir otobiografis yang tebal, praktis sebuah gugatan kepada ruang terkunci yang bernama ”akidah agama”. Masa kecil Bergman—seperti dalam kisah si Alexander—adalah tahun-tahun yang dirundung trauma dalam ruang terkunci itu. Salah satu perasaan yang paling menusuk, bagi Bergman, adalah perasaan direndahkan. Kini ia melihatnya sebagai salah satu sebab ia memandang muram ajaran agama. Ia ”menentang agama Kristen dengan sangat,” katanya dalam Bergman on Bergman, Interviews with Ingmar Bergman, ”karena agama ini dilekati motif penghinaan yang sangat ganas.” Bagi ajaran agama Kristen yang ia warisi, manusia adalah pendosa sejak lahir. Ia selalu berada dalam posisi untuk diawasi.

Memang agak aneh, Bergman tak melihat segi lain dari iman Kristen: adanya keyakinan akan Kasih dan Penebusan. Mungkin karena dalam hidup Bergman Tuhan hadir lebih sebagai tiran—dan teramat kuat pula pembangkangannya lantaran itu. Dalam The Magic Lantern, otobiografinya, ia mengatakan: ”Saya telah bergulat seumur hidup saya dengan sebuah hubungan yang menyakitkan dan tanpa suka cita dengan Tuhan”.

Hubungan yang menyakitkan itu pula yang agaknya mendasari film Der Sjunde Inseglet (versi Inggris, The Seventh Seal, 1957). Dalam film ini aktor Max von Sydow memainkan peran kesatria Antonius Block yang pulang dari Perang Salib, letih, murung, dan guncang iman. Diiringi pembantunya, Jöns, ia kembali ke negerinya yang dikerkah wabah. Di tengah jalan, Ajal menjemputnya. Block mencoba menawar dengan menantang bermain catur: jika ia kalah, ia bersedia dibawa Ajal pergi. Di sela-sela permainan itu, ia masuk ke sebuah gereja kecil. Ia pun mengutarakan kerisauan hatinya kepada seorang pastor—yang ternyata sang Maut sendiri.

Ajal: ”Apa yang kau tunggu?”

Block: ”Pengetahuan.”

Ajal: ”Kamu mau jaminan.”

Dengan kata lain, Block perlu kepastian—yang ia beri nama ”pengetahuan”—karena ia berpijak di sebuah dasar yang sudah guyah. ”Aku ingin Tuhan ulurkan tangan-Nya, tunjukkan paras-Nya, bicara padaku.”

Block memang di ambang murtad. Tapi siapa yang gandrung kepada ”pengetahuan” yang menjamin adanya Tuhan sebenarnya menanggungkan Tuhan sebagai obsesi. Tak mengherankan bila di depan seorang perempuan yang dihukum bakar karena dituduh jadi dukun penyebar sampar, Block hanya tertarik pada persoalan adakah pada saat kematiannya wanita itu melihat Tuhan. Sang kesatria tak tergerak membawakan air untuk si terhukum. Justru Jöns yang tak beriman yang punya belas.

Dengan kata lain, antara soal Tuhan dan manusia, mana yang lebih didahulukan? Di satu sisi, kita saksikan Block dengan obsesi mendapatkan jaminan tentang Tuhan. Di sisi lain, di bawah matahari yang cerah, kita lihat hidup sederhana dan bahagia keluarga Jof, si pemain akrobat, yang tak memerlukan itu.

”Saya selalu bersimpati kepada orang seperti Jöns dan Jof…,” kata Bergman. Sebaliknya, ia memandang obsesi Block sebagai fanatisme: orang yang pikirannya mengabaikan manusia di dekatnya.

Mungkin itu sebabnya, ketika membuat Vargtimmen (The Time of the Wolf, 1968) Bergman merasa menemukan makna kesucian yang lain: dalam manusia sendiri. ”Pengertian cinta,” katanya, ”adalah satu-satunya bentuk kesucian yang bisa kita pikirkan.”

Di sekitar masa itulah ia merasakan ”struktur keagamaan” dalam dirinya, yang ”berat ke atas”, telah digantikan dengan apresiasi kepada yang ada di ”bawah”: hidup di bumi yang fana dan penuh salah, tapi mengandung sesuatu yang suci dan mempesona.

Ia merasa lega. ”Ketika segi religius dari kehidupanku terhapus,” katanya, ”hidup terasa lebih mudah dijalani.”

Agaknya kesimpulan yang mirip bisa ditarik dari ”trilogi keimanannya”, Såsom I en Spegel (Through a Glass Darkly, 1961), Nattvardsgästerna (Winter Light, 1962), dan Tystnaden (The Silence, 1963).

Dalam Såsom I en Spegel, Karin yang menderita skizofrenia adalah fokus cinta yang tak mudah dari ayahnya, David. Tapi dengan itu David juga yang bisa mengatakan bahwa ”cinta ada di dunia nyata”. Dalam Nattvardsgästerna, Pastor Tomas Ericsson yang susut imannya akhirnya menjalankan ritual di gereja kosong itu untuk Marta, kekasihnya, yang konkret hadir di bangku sunyi itu.

Tanpa persentuhan hati semacam itu, kita akan hidup dalam keterpisahan, seperti kakak beradik Ester dan Anna yang menginap di sebuah kota asing dalam Tystnaden. Artinya, sekali kita memutuskan Tuhan tak menjawab lagi, neraka adalah orang lain yang tak peduli.

~Majalah Tempo, Edisi. 24/XXXIIIIII/06 – 12 Agustus 2007~

Komentar»

1. yuliernawati - Agustus 6, 2007

terima kasih pakdhe, untuk tulisan ini.
mengingatkan saya supaya bisa memperkenalkan Tuhan dengan cara yang masuk akal dan penuh kelembutan.

2. Toni - Agustus 7, 2007

TUHAN TERKURUNG DALAM AKAL?

Tidak semua harus masuk akal. Karena akal adalaH bagian kecil dari sumber pengetahuan dan kebenaran.

Tuhan, tentu, tidak harus masuk akal. jIKA Dia berkehendak, tidak harus seiring dengan akal manusia. Seperti Tuhan yang merintahkah Ibrahim as untuk menyembelih Ismail as.

Jika dipaksakan Tuhan harus masuk akal? Lha yang jadi Tuhan itu akal atau siapa. Wong Tuhan kok terkurung dalam akal manusia?

3. tukang ketik - Agustus 7, 2007

Tahun 1999, awal-awal kuliah di Bogor, kos saya kedatangan mahasiswa bule asal Perancis. Saya sempat berbincang-bincang dengannya dan menanyakan apa agamanya. Diapun bertanya balik, untuk apa saya beragama. Ibu saya menikah ketika saya dalam kandungan 4 bulan. Agama di Perancis sudah berkurang peranannya. Gereja-gereja dipenuhi hanya oleh orang tua-orang tua. Gereja ramai ketika orang mengadakan upacara-upacara seperti pernikahan, pemakaman dan lain-lain.

Saya jadi membayangkan, mungkin sekitar 10-20-30 tahun lagi peran agama hanya akan sebatas pengurus upacara. Masyarakat Indonesia mungkin akan memanfaatkan agama hanya untuk mengurus pernikahan, pemakaman yang seperti terjadi di Perancis sekarang. Dan mungkin lebih ekstrimnya, 50% bangunan ibadah seperti Gereja, Mesjid, Wihara, Pura dan lain-lain akan menjadi museum saja. Mungkin…

4. Toni - Agustus 7, 2007

Tapi ingat! Jangan dilupakan fakta ini: kebangkitan kaum beragama (Islam) di mana-mana.

5. Majalah " Dewa Dewi " - Agustus 7, 2007

Renungan yang bener – bener meresap. Thanks atas artikel bermutu ini.

6. Zaki - Agustus 8, 2007

Bung GM dan kita semua harus berdoa kepada ALLAH SWT agar diberikan ilmu yang menguntungkan dan dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat (apalagi merugikan). Apakah anda masih mau berdebat lagi tentang definisi untung dan rugi?
Tidak ada peringatan apa2 bagi mereka yang terlalu banyak mempertanyakan sesuatu yang simpel dan jelas, melainkan hanya suatu teriakan saja maka mereka akan menyadari posisi mereka yang sebenarnya.
Untuk diketahui, sebelum kedatangan Islam, penduduk jahiliah Mekkah, bahkan orang semulia Saidina Umar, mengubur anak perempuan hidup2; menjadikan tengkorak manusia sebagai gelas arak; membelah perut wanita hamil untuk bertaruh apakah bayi yang dikandungnya cewek atau cowok. tapi setelah kedatangan Islam.,… Silahkan baca sejarah peradaban Islam. Tak ada kemulian yang paling sempurna dalam sejarah peradaban manusia melebihi keagungan dan kemuliaan Islam saat itu. Padahal hasil itu adalah hanya dari perjuangan dari nol oleh seorang manusia biasa (Muhammad SAW yang tanpa guru dan tanpa bacaan dan tanpa lingkungan yang kondusif) dalam waktu 23 tahun. Dan keagungan itu bertahan hingga 7 abad, terlepas dari berbagai noda yang terjadi dalam kurun waktu itu, seperti tragedi kerbala. Tragedi itu hanya pengecualian yang tidak bisa dijadikan upaya utk menampik keberhasilan dan kebenaran Islam, kecuali oleh mereka2 yang memang berupaya untuk memusuhi Islam. Apakah itu semua bukan keajaiban??????????

7. anna hape - Agustus 10, 2007

Tuhan ciptaan manusia, yang biasanya membelenggu…

8. iman brotoseno - Agustus 11, 2007

siapakah yang bisa menerjemahkan akal dan pikiran Tuhan,..manusia yang menafsirkan dalam sekat sekat primodial, agama

9. aW@l.com - Agustus 11, 2007

fanatisme agama kadang membunuh jiwa kita yg suci atas rasa humanisme. kebutuhan vertikal selalu menjadi obsesi dan tujuan utama, namun kita kadang lupa bahwa ada kebutuhan horizontal yg sebenarnya bagian dari jalan untuk menuju kebutuhan vertikal. rasa-rasanya terlalu egois mengenyampingkan lingkungan sekitar kita hanya untuk menuju kebenaran hakiki Tuhan, dan aku yakin Tuhan tidak akan suka dengan hal ini. Keseimbangan hidup akan selalu jadi tujuan dan mungkin akan lebih mulia jika dilakukan dg jiwa yg ikhlas, tulus dan sabar karena-NYa.

10. ibra - Agustus 15, 2007

kalo murtad diasosiasikan dengan ungkapan2 manusiawi dari block di atas, mungkin gw udah murtad dari semenjak gw “eling” di masa kecil dulu.

mungkin kita butuh menyamakan dulu persepsi kita tentang murtad, atheis, agama, dan entah apa lagi lah itu….

biar ketemu dulu di suatu konsensus kecil, setelah itu terserah mau berserak lagi apa mo gimana deh…

habermas bilang: komunikasi adalah jalan besar menuju konsensus. tentunya kita pun bertanya, komunikasi yang macam apa? dan kalau boleh saya jawab, tentunya komunikasi yang adil secara simetri dan juga proporsional.

tentunya komunikasi tersebut bukanlah komunikasi dengan “bahasa” yang berbeda.

11. kat - Agustus 16, 2007

Menurut saya sebenarnya film2 Bergman cenderung callow, dengan banyak self-conscious themes seperti modernity’s incapability to love, ego dan kehilangan Tuhan, dan to a certain degree, dia menyadarinya, seperti pernah ia akui dalam tulisan2nya. Tapi kepiawaian & estetika (terutama teatrikal)-nya dalam penyampaiannya–bukannya memisahkan form dari content–membuat karya-karyanya indah, menyentuh dan menggugah. RIP Bergman.

Terimakasih untuk artikelnya. Kadang2 berharap melihat lebih banyak tulisan2 GM mengenai film, apalagi barusan kita kehilangan juga Sembene dan Antonioni…

12. Trisno - September 11, 2007

Mas GM “lupa” mengutip kalimat Marta di akhir film “Winter Light” yang dirujuknya: “If only we could believe…” Mungkin itulah problem pokok yang ditembak Ingmar Bergman: bahwa kita tidak bisa lagi percaya, karena kita terlalu membebani begitu banyak pada kata “percaya” dengan permintaan bukti-bukti yang mendukung agar kita dapat percaya.

Saya jadi teringat fiqh Isa a.s., “Jika kau tidak menjadi anak kecil, maka kau tidak dapat masuk ke dalam kerajaan sorga”. Atau doa Thomas, si Peragu: Lord I believe. Help me to believe!

13. alia - Juni 19, 2008

saya sangat mengagumi bergman dengan tema-tema film yang ia angkat: kesunyian, kematian, tuhan, kegilaan, dll. bagi saya, dia bukan sekadar pembuat film, namun seseorang yang mampu memberikan inspirasi yang dalam untuk diri saya.

terima kasih bergman. rest in peace.

14. hirdit - Desember 7, 2011

Saya kira Winter Light adalah film dengan sudut pandang Theis dan Non-Theis yang porsinya tidak jomplang. Keduanya beradu sekaligus saling mengoreksi. Dan itu hanya bisa dihadirkan seorang yang telah merangkul, mengakrabi kedua sisi tersebut. Tema God’s silence yg sering diusung Ingmar Bergman senantiasa menjadi diskursus menggelitik yang tak pernah berujung. Saya kutip pernyataan oleh Block dari Seventh Seal” “Faith is a torment – did you know that? It is like loving someone who is out there in the darkness but never appears, no matter how loudly you call.” Di dalam kalimat itu saya merasakan keletihan dalam pergulatan keyakinan, namun rasa-rasanya ia belum mau berhenti. Apa sebab? Entah, namun saya sepertinya ia percaya bahwa ‘kotak hitam misterius’ itu pada akhirnya akan membuka dirinya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: