jump to navigation

Formula Agustus 20, 2007

Posted by anick in Agama, All Posts, Demokrasi, Nasionalisme.
trackback

Tiap gagasan luhur butuh sebuah cemooh. Dalam rekaman sejarah, manusia berkali-kali menggagas sebuah masyarakat yang sempurna, tapi akhirnya ia perlu sepotong khayal yang agak lucu. Ia perlu Raja Utopus.

Kini kita akan berpihak pada fantasi Thomas More itu. Utopus berhasil membangun sebuah negeri yang tanpa sengketa, tanpa ketimpangan, dan tanpa keserakahan—tapi untuk itu ia harus menggali sebuah kanal dan menegakkan tembok tinggi. Negeri yang sehat walafiat itu mesti dipisahkan dari negeri lain agar tak kena pengaruh buruk. Kesempurnaan hanya bisa terjadi dalam isolasi, dan isolasi hanya bisa dengan paksa. Sebelum Kim Il-sung dan anaknya di Korea Utara, Raja Utopus tahu akan hal itu.

Utopia, negeri itu, akhirnya bukan sesuatu yang layak diidamkan—atau sebuah kesempurnaan yang mustahil. Dalam kata ”Utopia” (yang bergerak antara uo-topos yang berarti ”tak bertempat” dan eu-topos yang berarti ”tempat yang baik”) terkandung ironi. Dalam hal ini, Utopia Thomas More, yang diterbitkan pada awal abad ke-16, telah mendahului suara akhir abad ke-20.

Pada akhir abad yang lalu, terbukti pelbagai angan-angan luhur telah gagal untuk membuat manusia bahagia. Terbitlah keperluan buat mengambil jarak dari cita-cita kita sendiri; kita harus meledeknya sedikit. Keraguan sebaiknya terbit sekali-sekali. Ironi itu sehat.

Tapi ironi mudah mati. Sampai sekarang pun tiap hari ia dihukum gantung di lapangan umum. Derap langkah mereka yang marah, yang penuh keluh dan protes kepada keadaan, dengan cepat akan membabatnya. Di pihak lain, mereka yang meluap-luap memimpikan dunia baru yang bagai surga juga akan memberantasnya. Benar, tiap gagasan luhur butuh tak hanya doa, tapi juga cemooh, namun cemooh selalu dicap subversi, pengkhianatan, atau paling sedikit pemborosan waktu.

Saya kira tak adanya ironi itulah yang tampak mencolok ketika Hizbut Tahrir menghimpun 70 ribu orang di Jakarta pekan lalu. Organisasi ini mencita-citakan berdirinya kembali ”khilafah” di dunia Islam, dan sekaligus ia menolak demokrasi. Tak tampak usaha mengambil jarak dari desain besar itu, tak terdengar selintas pun keraguan—apalagi cemooh—yang dibiarkan mengganggu. Tampaknya tak diperlukan segera renungan dan jawaban: Bagaimana sang ”khalifah” di pucuk pimpinan ditentukan? Oleh siapa? Bagaimana membentuk kekuatan yang bisa menghapus dan mengatasi kedaulatan nasional yang terbangun selama ini?

Ironi bukan kenakalan. Ia menandai sebuah kearifan. Sebenarnya kearifan itu bisa datang dari sejarah dunia muslim sendiri—jika sejarah ditafsirkan sebagai jalan hidup manusia yang banyak salah, proses di mana kesucian berhenti.

Tapi dengan sikap jiwa yang merasa terpuruk di jurang yang ruwet, para ideolog ”Islamisme” hanya melihat masa lalu seperti langit jernih penuh bintang. Seakan-akan di sana tak pernah ada prahara, bahkan hujan darah. Seakan-akan tak pernah ada Murad III (1574-95) yang punya 103 anak dari sederet istri—sebuah keadaan yang menyulitkan soal kekuasaan dalam khilafah Usmani. Anaknya, Muhammad III (1595-1603), memulai bertakhta dengan membunuh 19 orang saudaranya sendiri. Murad IV (1623-40) melakukan hal yang sama, dan hanya membiarkan seorang adik hidup hanya karena si adik lemah mental.

Pendek kata, sejarah—yang selamanya penuh dengan ketidakpastian—tak diantisipasi dengan sebuah sistem yang dapat mengelola ketidakpastian secara teratur, tanpa kekerasan, tanpa darah. ”Islamisme” gagal belajar dari kondisi itu. Yang dijalankannya adalah ”politik kesempurnaan”: karena Islam dianggap sebagai ”jawaban yang sempurna” untuk membangun sebuah masyarakat yang ”sempurna”, ada usaha menghapus wajah hidup yang tragis dan cela. Yang tragis, yang kurang, yang negatif, dianggap tak punya peran dalam politik.

Tak mengherankan bila Hizbut Tahrir, didirikan oleh Taqiuddin al-Nabhani, seorang qadi dari Yerusalem, pada tahun 1953, menampik demokrasi. Demokrasi berdiri dari kesadaran akan kondisi yang tragis: ”luruhnya marka-marka kepastian”, seperti dikatakan Claude Lefort. Dengan catatan: la dissolution des repères de la certitude itu tak hanya disadari sejak Revolusi Prancis. Masa lalu Islam telah memaparkan itu. Setelah Nabi wafat, terbuka ”tempat yang kosong” yang mau tak mau minta diisi—tapi untuk mengisinya tak seorang pun yang akan setara Rasulullah. Tak seorang pun, tak satu golongan Islam pun, yang dapat mengartikulasikan ke-Islam-an secara sempurna. Si pengisi harus bersedia diganti, atau akan terpaksa diganti. ”Tempat kosong” itu tak akan kunjung penuh.

Hidup memang tak cocok buat ”politik kesempurnaan”. Hidup adalah tempat ”politik kedaifan”—politik yang lebih tawakal dan tak cepat marah. Manusia berubah tapi keterbatasan menyertainya. Ia makhluk yang dilahirkan kurang. Peradaban justru lahir dari keadaan kurang yang tragis itu. Dostoiwesky benar ketika dalam catatan hariannya ia menulis: ”Semut tahu formula bukit semut mereka, lebah punya formula sarang mereka…. Tapi manusia tak punya formulanya sendiri.”

Sebuah formula memang ditawarkan Raja Utopus. Tapi ia makhluk khayal yang tak dengan sendirinya menyenangkan bila malam tiba. Di Utopia, bunyi trompet akan terdengar pada jam-jam tertentu, isyarat bahwa 30 keluarga akan bersantap bersama-sama dalam sebuah komunitas. Dunia privat praktis hilang. Keseragaman memerintah. Rumah dan kota semua tampak mirip. ”Kalau kamu sudah melihat satu, kamu sudah melihat semuanya,” kata tokoh dalam Utopia yang mengisahkan negeri ajaib itu, Raphael Hythloday.

Dalam bahasa Yunani, konon hythloday berarti ”pembicara omong-kosong”. Kita geli. Tapi bukankah di awal dan di akhir, ironi tak bisa diabaikan, dan cemooh bagian dari jalan ke kebenaran?

~Majalah Tempo Edisi. 26/XXXIIIIII/20 – 26 Agustus 2007~

Komentar»

1. Toni - Agustus 22, 2007

Tidak Salah Bercita-cita Kesempurnaan!

Tidak ada salahnya bercita-cita tentang kesempurnaan. Juga tidak ada yang salah jika GM selalu memandang semua fenomena tidak ada yang sempurna, sehingga punya bahan untuk mengrikit dan mencemooh.

Juga tidak ada yang salah orang memperjuangkan demokrasi, meski demokrasi juga mengandung sejumlah kemusykilan, bahkan juga sebuah utopia.

Maka, tentu juga, tidak ada yang salah jika Hizbut Tahrir mencita-citakan kekhilafahan baru, meski terkandung juga sejumlah kemusykilan.

tapi, memang kadang-kadang yang utopis justru para sastrawan; yang berdiri di kemegahan pena!

2. W.N.Padjar - Agustus 22, 2007

Tiap orang bercita-cita tentang kesempurnaan. Bukan soal salah dan benar kalau menyangkut cita2 menuju kesempurnaan.

Masalahnya, isi kepala orang berbeda dan gagasan tentang kesempurnaan pun berlainan. Sekalipun apa yg disebut ‘sempurna’ itu sama bagi kebanyakan orang, belum tentu akan sepakat pula dalam cara mewujudkan ‘sempurna’.

Jika saya bercita-cita akan kesempurnaan diri saya sendiri dan saya gagal, misalnya karena ide ‘kesempurnaan’-nya keliru, maka yg jadi korban saya sendiri. Ini tidak separah kalau saya ngajak banyak orang (orang2 yg nda kritis tentunya) menuju ‘kesempurnaan’ dengan konsep ‘kesempurnaan’ yg keliru. Banyak orang yg jadi korban ‘kebohongan’ saya.

Dulu ada Lenin dan Hitler yg punya cita-cita luhur akan kesempurnaan bangsanya. Bukannya terwujud malah bikin sengsara banyak orang. Sekarang Republik Rakyat Cina secara bertahap ‘mengkhianati’ cita-cita komunismenya Mao Tse Tung, tokoh penting yang melahirkan republik tsb yg perjuangannya digerakkan oleh visi tentang rakyat Cina yang ‘semputna’.

Cita-cita Hizbut Tahrir untuk membentuk ‘khilafah’ tidak salah. Yg salah adalah orang yg tidak belajar dg baik dari sejarah dan karenanya tidak kritis thd gagasan ‘kesempurnaan’ dari orang lain.

(Duh jadi kangen baca al-Muqaddimah nya Ibn Khaldun…)

3. Toni - Agustus 23, 2007

Yang juga tak kalah salah adalah orang yang pekerjaannya mengkritik gagasan orang!

4. W.N.Padjar - Agustus 23, 2007

Itu bergantung pada cara pandang anda sendiri: apakah kritik itu dilihat sebagai nasehat atau memberi koreksi atau pemberitahuan adanya yg keliru atau yg cacat atau semata-mata ungkapan ketidaksetujuan yg vulgar.

Bagaimana pun kritik itu tetap perlu. Sekalipun dari orang yg kerjaannya ngritik. Sekalipun kritikannya sangat omong kosong (setidaknya saya jadi tahu kritikannya itu hanya menunjukkan kelemahannya dan saya akan balas ngritik. Yg penting sabar ajah, orang lain akan bisa lihat mana yg bener.
Q.S. Al ‘Ashr:3 … saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.”)

Dulu ada orang yang bijak bilang hidup yang tidak dipertanyakan tidak layak dijalani.

5. Toni - Agustus 23, 2007

Saya setuju kritik itu perlu. Asal jangan dengan penuh nyinyir dan apriori.

Dalam beberapa kesempatan, saya juga mengkritik konsep khilafah yang coba mau diperjuangkan lagi oleh kawan-kawan HT, misalnya bagaimana cara menyatukan negara-bangsa menjadi satu kekhalifahan dalam posisi real seperti sekarang ini (bedakan dengan Nabi SAW yang memperjuangkan Islam dari nol kemudian menyebar ke berbagai penjuru, yang diteruskan para pengantinya). Lebih runyam lagi, apakah bisa menyatukan berbagai kelompok Islam yang lebih mementingkan kelompok dari pada kesatuan umat!

Jadi, saya kuatir, jangan-jangan nanti khilafah itu hanya milik HT!

Tapi, saya salut dengan idealisme mereka, juga perjuangan mereka. Pantang menyerah dan selalu mendapat dukungan. Tak heran 70.000 orang bisa kumpul di Gelora Bung Karno!

6. W.N.Padjar - Agustus 23, 2007

Ada tokoh ulama di sini yang berpendapat berdasarkan tafsirannya atas nash Al Quran, ciri seorang ul albab (orang-orang yang memiliki saripati segala sesuatu) adalah tidak terpukau pada jumlah banyaknya orang.

7. Toni - Agustus 23, 2007

Itu juga kritik keras terhadap demokrasi!

PEMILU, KEMUSYKILAN DEMOKRASI

Seluruh energi bangsa ini hampir habis terkuras untuk sebuah pesta demokrasi yang berupa pemilihan umum. Para elit, juga kaum alit, mencurahkan konsentrasinya pada pemilihan umum. Triliunan rupiah digelontorkan oleh negara, juga partai politik dan masyarakat kecil, demi pemilu. Semua itu dilakukan karena pemilihan umum diyakini sebagai pilar demokrasi yang akan menyelamatkan nasib bangsa dan negara.

Benarkah? Secara struktural mungkin ya. Karena pemilihan umum, sebagai salah satu ajaran demokrasi, sudah terlanjur dipilih untuk mengisi struktur-struktur negara seperti lembaga perwakilan, dan terakhir juga untuk lembaga eksekutif. Tanpa pemilihan umum tidak ada rotasi, juga tidak ada lejitimasi. Tanpa pemilihan umum, akan terjadi stagnasi dan pada gilirannya melahirkan otoritarianisme. Begitulah menurut teori demokrasi.

Tapi, sekali lagi, benarkah? Benar, jika pemilihan umum hanya dipandang dari sisi formalitas-rutinitas. Tapi, menurut saya, pemilihan umum bukanlah segala-galanya. Malah dia bisa jadi bencana bagi segala-galanya. Tentu, jika kita berkenan melihat pemilihan umum secara lebih kritis, dengan memakai kaca mata substansial-esensial. Maka akan terlihat beberapa kejanggalan dari sebuah pemilihan umum di tengah masyarakat yang sangat beragam tingkat kedewasaan dan pemahamannya tentang sebuah nilai.

Yang Menang, Yang Populer

“Jika ide tentang rakyat adalah ide tentang pasar, dan pemilihan umum jadi toko kelontong besar, demokrasi akan memilih seorang Arnold Schwarzenegger,” tulis Goenawan Mohamad dalam kolom Catatan Pinggir (Tempo, 24 Agustus 2003), sebulan menjelang pemilihan gubernur California, salah satu Negara Bagian Amerika Serikat.

Schwarzenegger akhirnya terpilih. Tapi apakah dia terpilih karena mutu kepemimpinannya? Atau dia terpilih karena program yang dia tawarkan? Memang, dalam kampanyenya, Schwarzenegger sempat menjajakan program, diantaranya “program lepas sekolah”. Tapi benarkah dia terpilih karena itu? Saya rasa bukan. Melainkan karena dia adalah sosok yang sangat populer—seorang selebritis Hollywood yang kaya raya, yang film-filmnya, diantaranya Terminator dan Total Recall, begitu tersohor.

Schwarzenegger adalah contoh mutahir, bahwa pemilihan umum akan melahirkan sosok pemimpin yang populer. Ibarat toko kelontong, bermacam ragam hal ditawarkan. Tak ada yang telah diseleksi lebih dulu, menurut jenis, tingkat mutu, dan segmen pembeli. Tapi orang memilih barang lebih karena pilihan laris dan praktis, yang semua itu sangat dipengaruhi oleh apa yang dalam pemasaran dan periklanan disebut brand-name, atau merek, atau logo, yang mudah dikenal. Praktis: tidak perlu menelisik dan mencari-cari lagi.

Karena itu jangan heran jika menjelang pemilihan umum 2004 di Indonesia, para kontestan bekerja keras membangun popularitas. Triliunan rupiah (Ekonom UI Mohamad Chatib Bisri memperkirakan, Rp 10-15 triliun dihabiskan untuk kampanye) dihamburkan untuk mendominasi bawah sadar masyarakat agar selalu ingat pada nomer sekian …, warna ini …, tanda gambar tertentu …, dan seorang tokoh X…!

Dari situlah kemudian masyarakat tergiring untuk memilih seorang pemimpin berdasarkan tingkat popularitasnya, bukan berdasarkan mutu dan karakter kepemimpinannya. Maka, model pemilihan pemimpin seperti ini bukan saja melahirkan Schwarzenegger atau Josep Estrada—presiden terguling Filipina, seorang bekas bintang film yang populer, melainkan juga mengokohkan George W. Bush sebagai presiden Amerika Serikat, hanya karena dia punya brand-name (“Bush”) yang sudah dikenal banyak orang.

Pertanyaannya adalah, model “pencarian” pemimpin seperti inikah yang kita kehendaki itu? Jika jawabnya ya, maka jangan menyesal jika nanti akhirnya yang terpilih sebagai pemimpin adalah seorang yang “bermoncong putih”!

Satu Suara Kyai = Satu Suara Pelacur

Al kisah, sebuah partai politik Islam, belajar dari kekalahnnya pada pemilu sebelumnya. Pada saat itu partai ini hanya mengandalkan kader-kader eksklusifnya, baik sebagai calon anggota legislatif maupun sebagai pemilihnya. Tak heran jika tidak banyak suara yang berhasil diraupnya, sehingga partai ini tidak memenuhi kuota minimal jumlah kursi di parlemen (electoral threshold).

Belajar dari kekalahan itu, kini partai politik tersebut sudah mulai terbuka. Sudah banyak calon anggota legislatif yang direkrut dari luar organisasi kadernya (bahkan untuk daerah tertentu sudah ada yang berasal dari luar Islam). Salah satu pernyataan yang mengokohkan keterbukaan itu pernah disampaikan oleh salah seorang pimpinan lokalnya, bahwa seorang PSK (pelacur) pun bisa menjadi calon anggota legislatif asal memenuhi syarat-syarat tertentu.

Mungkin partai politik Islam tersebut tidak benar-benar berminat merekrut pelacur sebagai calon anggota legislatifnya, tetapi maksud yang hendak dituju adalah bahwa partai politik tersebut sangat welcome. Rupanya partai politik tersebut mulai sadar bahwa kunci sukses dalam pemilihan umum adalah teraihnya kursi. Dan kursi bisa didapat jika berhasil diraup suara sebanyak-banyaknya. Sementara suara sebanyak-banyaknya tidak bisa dihandalkan dari para kader eksklusifnya, melainkan harus diambil dari berbagai lapisan masyarakat: dari kalangan agamawan sampai kalangan pelacur (kan tidak ada larangan bagi para pelacur untuk memilih partai politik Islam dalam pemilihan umum!).

Memang, dalam ajaran demokrasi ditegakkan aturan satu orang adalah satu suara (one man one vote). Suara seorang kyai sama nilainya dengan suara seorang pelacur. Suara seorang doktor sebanding dengan suara seorang buta huruf. Tak heran jika kini partai tidak hanya berkonsentrasi pada basis massanya, melainkan sudah melebarkan sayap pada kelompok-kelompok lain. Ironisnya, pelebaran sayap itu seringkali mengesampingkan prinsip-prinsip yang (pernah) dianutnya.

Sebuah partai politik yang berbasis massa Islam modernis sampai-sampai harus melakukan praktik “larung kepala kerbau”—sesuatu yang berbau TBC (tahayul, bid’ah, khurafat)—demi menggaet suara pada kalangan nelayan tradisional. Sebuah partai politik Islam yang dulu mengharamkan perempuan sebagai pemimpin, kini, harus meralatnya demi meraup suara kaum wanita yang lebih banyak.

Demikian juga partai politik sekuler. Pada musim-musim menjelang pemilu, mereka sangat giat menggarap suara kalangan santri. Tengoklah berbagai kunjungan mereka ke berbagai pondok pesantren! Lihat pula mimbar-mimbar kampanye mereka yang tak pernah sepi dari “ulama” dan istiqhosah! Mereka mau menutup fakta bahwa produk hukum yang mereka perjuangkan di parlemen seringkali bertentangan dengan aspirasi kaum santri (masih ingat hiruk pikuk penetapan UU Sistem Pendidikan Nasional?).

Tokoh-tokoh yang dulu dikenal sebagai tokoh Islam, kini harus melakukan metamorfosis diri menjadi tokoh pluralis. Hari ini mengucapkan “Selamat Idul Fitri”, esoknya “Selamat Natal”, lusa berucap “Gong xi fat cai”. Juga, tokoh-tokoh nasionalis sekuler kini berlomba-lomba mengubah dirinya menjadi nasionalis relijius. Berkalung sorban layaknya para kyai.

Ya. Semua itu dilakukan untuk meraup suara sebanyak-banyaknya. Tanpa memandang dari mana suara itu didapatkan. Lalu kita bertanya, bagaimana sebuah partai politik bisa memperjuangkan sesuatu yang luhur jika mereka justru melakukan pelacuran diri demi meraup suara sebanyak mungkin? Bagaimana pula pertanggungjawaban mereka atas konstituen lintas basis yang telah memberikan suara kepadanya?

Suara Rakyat adalah Suara Tuhan

Imajinasikan ini. Kuota 30% perempuan di parlemen terpenuhi. Asumsikan mereka semua adalah pejuang kesetaraan jender. Perjuangan mereka juga didukung oleh 21% laki-laki anggota parlemen. Lalu mereka, lewat berbagai “pintu”, berinisiatif mengimplementasikan isu jender menjadi produk hukum. Salah satu produk hukum yang ingin direvisi adalah soal pembagian harta waris. Saatnya kini 1:1, bukan lagi 2 untuk pria dan 1 untuk perempuan. Perjuangan mereka berhasil. Maka berlakulah hukum waris yang baru: 1 untuk perempuan, 1 untuk laki-laki.

Menurut teori demokrasi, produk hukum yang dihasilkan oleh parlemen tersebut adalah sah. Itulah kebenaran baru, cermin dari aspirasi rakyat yang disuarakan oleh wakilnya di parlemen. Sebab suara rakyat adalah suara tuhan (fox populi fox dei). Artinya apa yang diinginkan oleh mayoritas rakyat itulah yang berlaku sebegai nilai kebenaran. Meskipun itu bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran sejati? Tidak jadi soal. Karena ini demokrasi Bung!

Memang itu baru khayalan belaka. Namun, sejarah mencatat bahwa parlemen kita hampir saja berhasil memperjuangkan “suara mayoritas” menjadi kebenaran baru (misalnya RUU Perkawinan tahun 1973 yang banyak memuat pasal yang bertentangan dengan syariat Islam). Untung itu bisa digagalkan. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat akan lahir produk hukum yang bertentangan syariat Islam, jika suara di parlemen didominasi oleh mereka yang sekuler. Hal itu lumrah saja, sebab itulah konsekuensi dari ajaran demokrasi melalui pemilihan umum. Toh, di negara lain sudah ada contohnya, misalnya produk hukum yang melegalkan perkawinan sesama jenis. Menurut ajaran demokrasi, hal itu sah-sah saja karena banyak yang menginginkannya.

Persoalannya adalah, di tengah-tengah lautan masyarakat yang serba permisif ini, partai-partai yang mengusung ajaran moral, misalnya dengan jargon syariat Islam, akan sulit memperoleh suara dukungan, meskipun di negara yang mayoritas Islam (coba pikir, untuk menarik massa kampanye saja partai politik pengusung syariat Islam harus ikut arus dengan berdangdut megal-megol ria). Sebaliknya dengan partai-partai sekuler. Jadi, bagi yang percaya dengan pemilihan umum sebagai alat perjuangan, bersiap-siaplah menjadi bagian dari “ketok palu” keinginan suara rakyat = suara tuhan!

8. W.N.Padjar - Agustus 23, 2007

Kok terjebak “vox populi, vox Dei” ya? Padahal sudah jelas kan suara kebenaran tidak ada hubungannya dengan suara orang banyak.

Demokrasi kan dari sononya tdk dimaksudkan utk melahirkan keputusan yg mewakili ‘kehendak’ Tuhan. Itu cuma sebuah ikhtiar orang-orang (bentuk kesadaran akan keterbasan dan hikmah dari sejarah) dg maksud agar kekuasaan (juga decision making process atas kebijakan yg menyangkut hajat hidup orang banyak) tidak terkonsentrasi di satu tangan. Dan kekuasaan itu dapat dialihkan kepada tangan lain secara reguler dan tanpa kekerasan, secara enjoy aja.
Jaman dulu kan setiap pengalihan kekuasaan selalu jadi momentum pertumpahan darah.Sampai sekarang pun nggak ada yg rela menyerahkan kekuasaan.

Demokrasi tidak terlalu berkepentingan atas hasil pemilu atau hasil keputusan DPR. Baginya yg penting selalu ada akses thd pengambilan keputusan, mekanisme pengawasan, dan – ini yg penting – musyawarah (dlm Islam ini disebut prinsip ‘syura’) untuk kemaslahatan. (Oh ya, egalitarianisme juga adalah prinsip muamalah yg penting dlm Islam)

Demokrasi juga adalah bentuk keinsyafan bahwa tidak ada orang yang bisa mendaku dan menguasai kebenaran. Karena pada kenyataannya, kebenaran sering muncul dari orang, tempat, dan kejadian yg tidak saya sukai.

Seorang sineas berkebangsaan Iran pernah mengatakan (pernah dikutip GM):
“Kebenaran itu seperti cermin besar yang diturunkan Tuhan dari langit. Ketika jatuh ke bumi, cermin itu pecah berhamburan menjadi kepingan kecil. Manusia yang satu menemukan kepingan yang satu dan manusia yang lain mendapatkan kepingan cermin yang lain di tempat yang lain. Semakin banyak kepingan cermin dikumpulkan dan digabungkan, manusia menjadi tahu wajahnya sendiri, tubuhnya sendiri. Ia jadi lebih paham dengan jati dirinya. Yang celaka adalah ketika manusia merasa kepingan cerminnya adalah satu-satunya cermin yang utuh dari langit dan menganggap kepingan cermin yang lain adalah cermin yang tidak sejati karena berada di tempat yang tidak ia kenal, ditemukan manusia yang tidak disukainya. Lebih celaka lagi, ia menggunakan kepingan cerminnya itu untuk menikam manusia yang lain.”

NB: apa yg salah dg ‘satu suara Kyai=satu suara pelacur’, jika keduanya sama-sama manusia yang punya akal dan piilihan?
Kyai adalah kyai ketika dia sdg memberi menyampaikan ajaran Tuhan, dan pelacur adalah pelacur ketika dia sdg melacur. Sisanya adalah manusia biasa yg bisa khilaf dan bisa juga benar pd momen2 yg lain.

9. Toni - Agustus 24, 2007

Mengapa cermin jatuh ke bumi harus pecah! Sebuah analog yang kurang tepat, saya kira.

ABSOLUTISME PENDAPAT

Ketika kita menyadari bahwa Allah sajalah pemilik kemutlakan sedangkan yang lain serba relatif, maka dengan sendirinya kita, sebagai yang relatif, tidak akan mampu menjangkau wujud dan hakekat Allah yang Mutlak. Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda, “Pikirkanlah olehmu alam ciptaan-Nya dan jangan memikirkan Wujud Maha Pencipta, karena kamu tidak akan mampu memikirkan-Nya”.

Berpikir dan memahami tidak lain ialah membuat asosiasi dalam otak seseorang antara sesuatu yang belum diketahui serta yang ingin dipahami di satu pihak, dengan sesuatu yang telah diketahui serta yang ingin dipahami dalam simpanan ingatan atau pengertiannya, di pihak lain. Sedangkan apa yang kita ingat atau simpan dalam pengertian kita itu tidak lain ialah hasil penumpukan pengalaman dan pemahaman kita sebelumnya. Kita memahami sesuatu jika sesuatu itu analog, semisal atau sebanding dengan sesuatu yang sudah ada dalam simpanan pengertian kita (Pintu Pintu Menuju Tuhan, 1996:126).

Karena Allah mutlak, tidak analog dan tidak dapat diperbandingkan dengan suatu apa pun (”Tidak ada sesuatu apapun yang semisal dengan Dia” [As Syura/42:11; baca juga AI Ikhlash/112:4]), maka Allah tidak mungkin diketahui atau terjangkau oleh pengertian manusia. Kita mengetahui tentang Allah hanya berkenaan dengan beberapa sifat-Nya yang diberitakan kepada kita oleh para Nabi dan Rasul yang mendapat wahyu dari Allah sendiri.

Dengan kata lain, karena Allah yang Mutlak mustahil terjangkau oleh kita yang relatif, maka Kebenaran Mutlak pun tetap menjadi hak Allah. Artinya, sebagai penyandang sifat relatif, kita tidak bisa mengklaim sebagai orang yang mengetahui Kebenaran Mutlak secara sempurna. Oleh karena itu pemahaman, pandangan, atau tafsir kita tentang Kebenaran Mutlak tetap harus dibingkai sebagai sesuatu yang bisa benar dan juga bisa salah.

Jika kita bersikeras bahwa pemahaman kita terhadap Kebenaran Mutlak sebagai satu-satunya kebenaran dan pemahaman yang lain salah, maka pada dasarnya kita telah menjerumuskan diri kita kepada absolutisme pendapat, yang tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk lain dari sikap tiranik. Beriman kepada Allah berarti memandang diri sendiri sama dengan yang lain, dengan potensi yang sama untuk benar dan untuk salah. Maka iman membuat orang menjadi rendah hati (tawadhu’), tulus untuk menerima kebenaran orang lain dan mengakui kesalahan diri sendiri, bersedia melakukan musyawarah. Itulah modal awal untuk terhindar dari sikap tiran, diktator, totaliter, dan sebangsanya.

10. W.N.Padjar - Agustus 24, 2007

Exactly. Saya setuju.

Tawadlu. Itu kata kunci moral yg diajarkan Islam, selain ikhlas. Itu pula yg disimbolkan oleh bangunan Ka’bah sebenarnya, kata Ali Syari’ati.

Mudah2an anda konsisten. Khususnya dg paragraf terakhir anda.

11. Toni - Agustus 24, 2007

Saya kira, juga Anda, GM, JIL, dan sebagainya!

12. W.N.Padjar - Agustus 24, 2007

Inya Allah. Gimana Tuhan yang Berkuasa Membolakbalikan hati saya.
Oh ya, saya ikutan Cak Nun dari Jombang: NU dan Muhamadiyah sekaligus bukan NU dan bukan Muhammadiyah.Jadi masih masuk kategori ‘dan sebagainya’.
Dan sebenarnya juga JIL dari parahyangan: Jiwa Islam Leuyeupaneun.

13. Toni - Agustus 24, 2007

Ha .. ha… haa

14. gieb - Agustus 31, 2007

ayo, kita bebaskan iblis dan setan
agar jelas mana surga mana neraka
tanpa dunia di tengahnya. -sosiawan leak-

15. gieb - Agustus 31, 2007

jabaterat,
gieb

16. ibra - September 1, 2007

kritik buat gue adalah dobrakan terhadap dominasi.

gue mau lihat dari ekonomi aja.
dalam ekonomi, equilibrium adalah sebuah utopia. dan itu tidak pernah terjaadi.
equilibrium tetap menjadi sebuah tujuan. dan sebuah tujuan adalah penunjuk arah. juga tolok ukur untuk melihat seberapa jauh kenyataan telah melenceng dari tujuanya, atau seberapa efisien usaha yang sudah dilakukan.

17. soda - September 3, 2007

Kesempurnaan dan Kesakralan itu tidak dangkal….
tidak pakai emosi, bijak, hati-hati…
“Sebab hidup, Bukan Makna yang Terpejam..”

soda
Muslim Awam Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

18. naz - September 13, 2007

wah. jadinya malah numpang diskusi di caping. sip. seru. kita baca teruss…

19. kota salju - Juni 10, 2011

manusia dilahirkan kurang, membuat banyak hal menjadi tragis, kesempurnaan adalah bagian dari masa lalu yang luput dari catatan pena.

melankoli seorang GM

20. check over here - April 8, 2014

electronic cigarette kit Formula | Catatan Pinggir


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: