jump to navigation

Turki Agustus 27, 2007

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Sekularisme, Tokoh.
trackback

MUSTAFA lahir di tahun 1881 dari kandungan seorang ibu yang saleh, Zubaidah namanya. Perempuan ini kuat wataknya; ia tak mudah menyerah kepada kehendak sang suami. Khususnya dalam hal pendidikan buat anak lelaki mereka satu-satunya—seorang anak yang tak mereka sangka kelak akan dikenang dengan kagum sebagai Atatürk, ”bapak Turki [modern]”, tapi juga dikutuk keras sebagai penghancur Khilafah Usmani, sebuah imperium yang dianggap sanggup menyatukan bangsa-bangsa muslim selama beradab-abad.

Mustafa Kemal memang lahir di sebuah zaman ketika pertentangan tak terelakkan, bahkan sejak hari ia harus bersekolah.

Ali Riza, sang ayah, ingin agar Mustafa masuk sekolah umum. Tapi Zubaidah tetap bersikeras. Si buyung harus hafal Quran; ia harus jadi hoja, guru agama.

Mustafa pun dikirim masuk sekolah Fatimah Mullah Kadin, pendidikan Islam yang terkemuka di Kota Salonika itu. Diterima di sekolah itu agaknya sesuatu yang istimewa. Dalam buku Atatürk: The Rebirth of a Nation, Patrick Kinross mengutip penuturan Mustafa sendiri tentang upacara di hari pertama itu.

Di pagi hari, ibunya mendandaninya dengan pakaian putih dan kalung leher bersulam emas; sorban melingkar di kepala. Ia pun dijemput seorang hoja beserta ulama lain. Mereka melangkah ke jalan dalam semacam prosesi ke sekolah. Di sekolah yang bertaut dengan sebuah masjid itu, doa bersama pun dibacakan. Lalu sang guru membimbing Mustafa masuk ke sebuah ruang. Di sana sebuah Quran sudah siap terbuka.

Tapi ia tak lama bersekolah di situ. Ia membangkang karena disuruh duduk bersila di lantai. Ia benci membaca dan menulis huruf Arab. Ia gelisah.

Akhirnya ayahnya memindahkan Mustafa ke sekolah umum yang diasuh Shemsi Effendi. Di situ si buyung bersemangat. Kali ini Zubaidah tak berkeberatan.

Zubaidah memang berubah, seperti Turki. Salonika, sebuah kota perdagangan di Macedonia, bertaut dengan dunia luar tiap hari. Kota pelabuhan di teluk itu beragam penduduknya: Yahudi (meskipun sebagian telah jadi muslim), Bulgaria, dan Armenia. Ada konsulat Inggris, Prancis, Jerman, Austria, Italia, Portugal.

Ketika Mustafa berumur belasan tahun, kereta api buat pertama kalinya masuk ke kota itu. Dalam bukunya, Kinross mengutip kenang-kenangan seorang penghuni: ”Abad [ke-19] ini sedang mendekati akhir. Dengan diam-diam dunia Barat merayap masuk, mencoba memikat Timur dengan keajaibannya…. Dipamerkannya di depan mata kami sihir ilmu pengetahuan dan mukjizat temuan dan ciptaannya. Kami menangkap selintas kecemerlangannya dan dengan malu-malu mendengarkan nyanyian merdu dewi lautnya. Ibarat orang dusun yang ikut dalam sebuah jamuan besar, kami merasa rendah diri dan tingkah kami kikuk….”

Dari sini kita tahu, bukan Mustafa Kemal yang mengubah Turki, tapi Turki memang tak bisa seperti dulu lagi. Seperti kereta api yang mendengus dan berderak masuk ke Salonika, abad baru—dengan segala godaan dan kerisauannya—tak dapat dielakkan siapa pun.

Syahdan, anak yang pernah didandani sorban itu kini lebih tertarik kepada pakaian yang lain: seragam yang dikenakan dengan bergas oleh para prajurit. Ia ikut ujian masuk sekolah menengah militer. Ia lulus. Sejarah kemudian mencatatnya sebagai seorang perwira yang tangguh, cerdas, dan bisa menggerakkan pasukannya yang terpojok hingga menang. Pertempuran tentara Turki yang dipimpinnya melawan pasukan Inggris dan sekutunya di jazirah Gallipoli di tahun 1915 adalah sejarah kemenangan Turki yang tak terlupakan.

Tapi Kemal sadar, kemenangan itu tak akan selamanya di pihak Turki. Ia tahu ada yang hilang di ”imperium Usmani”: di wilayahnya yang terbentang luas, pelbagai negeri, termasuk Tanah Arab, mulai resah di bawah titah Istanbul. Pada saat yang sama, kekhalifahan kian merosot—sebuah proses yang telah mulai sejak hari-hari akhir Sulaiman yang Agung, setelah baginda jadi murung karena terpaksa membunuh putra-putranya sendiri yang mencoba merebut takhta. Berangsur-angsur, Khilafah Usmani jadi kekuatan yang gombyor dan lembek.

Abad ke-20 adalah abad yang kian mengingatkan bahwa mustahil ada kekuasaan yang dapat selamanya kencang dan mampu sepenuhnya mengisi ruang kehidupan—apalagi mengisinya dengan kepastian. Bahkan agama tak dapat dipakai untuk menopang takhta dan kepastiannya. Sejarah dinasti Usmani menunjukkan, pada akhirnya tafsir tentang ”Islam” masa itu dikaitkan dengan ”Islam” para sultan yang hidup antara seraglio yang penuh perempuan simpanan dan medan perang yang penuh dengan bangkai.

Ketika wibawa mereka runtuh, guyah pula wibawa ”Islam”. Akhirnya manusia, apalagi Kemal, tak bisa lagi berharap banyak dari mereka yang mengklaim punya satu hal yang bisa menjawab semua hal. Orang makin sadar, demokrasi diperlukan.

Demokrasi adalah sebuah pengakuan akan pentingnya nol: dalam keadaan tak berisi, terkandung sebuah awal ikhtiar untuk memberi isi; tapi dengan nol, manusia menampik ketakaburan.

Saya kira Kemal, dalam keresahan dan ketidaksabarannya, dalam semangat dan keterbatasannya, akhirnya menyadari hal itu: ia seorang diktator yang mencoba membangun demokrasi.

Ada sebuah anekdot. Pada suatu hari, dalam usahanya memperbaiki sistem politik Turki yang macet karena sikapnya sendiri yang otoriter, Kemal bertemu dengan seorang pegawai muda Kementerian Pendidikan, Hassan Ali namanya. Sang Presiden mengundang anak muda itu duduk di dekatnya. Dengan sikap seorang guru, Kemal mengujinya soal-soal dasar matematika: Apa itu titik? Apa itu garis?

Hassan bisa menjawab dengan baik. Lalu Kemal bertanya: ”Apa itu nol?”

Hassan Ali: ”Definisi nol yang terbaik adalah sesuatu yang sama dengan diri saya di depan tuan, Pasha.”

Kemal: ”Tapi nol itu penting!”

Hassan Ali: ”Begitu juga saya, Pasha.”

~Majalah Tempo Edisi. 27/XXXIIIIII/27 Agustus – 02 September 2007~

Iklan

Komentar»

1. zaki - September 2, 2007

Manusia adalah makhluk sosial yang dipengaruhi lingkungan, sedangkan kondisi lingkungan sendiri adalah ciptaan manusia. Maka kalau kita memperdebatkan mana yang duluan mempengaruhi, manusia atau lingkungan, sama halnya dengan memperdebatkan duluan mana penciptaan telur dan ayam.

Menurut Dostoyevsky, di dunia ini ada dua kekuatan besar, kekuatan Tuhan dan kekuatan Setan, dan tempat bertempur keduanya adalah hati manusia.

Di sini jelas bahwa individu lebih hakiki daripada kolektivitas (umum/demokrasi). Jika anda melemparkan suatu pertanyaan ke khalayak ramai, itu sama halnya dengan tak bertanya pada siapapun. Tema ini pernah diangkat oleh Iwan Simatupang dalam sebuah cerpen.

Kembali ke Islam dan rekayasa sosial (tema sentral dalam 7 caping terakhir GM), adalah suatu hubungan yang sangat ditentukan oleh sejauhmana intensitas (ruh) Islam wujud dalam suatu komunitas sosial tersebut. Jika ada hal2 negatif yang muncul dari suatu masyarakat yang menjadikan Islam sebagai pedoman dasar, seperti kisah pembunuhan para pangeran di Turky, itu harus dilihat sebagai hasil dari ketegangan antara 2 kekuatan besar, baik dan jahat. Karena pada saat panji2 Islam (kebenaran) benar2 tegakpun, kejahatan tak akan pernah mati, tetap hidup sebelum dunia kiamat. Dalam Islam ada philosofi shalat berjamaah sebagai sarana transformasi kemuliaan individual (dalam hubnugan dengan Allah) terhadap kolectivitas.

Hal yang paling menarik pada seekor kambing hitam adalah jika ada selembar bulu putih. Dan hal yang paling menarik dari seekor kambing putih selembar sejumput bulu hitam yang menyelinap seperti nyasar di antara bulu2 putih.

Yang paling menggelikan dari GM menurut saya adalah, ketika Islam belum apa2 di Indonesia, beliau sudah menegakkan bendera oposisi terhadap Islam. Seolah2 Islam (kebenaran sejati itu) sudah begitu kokohnya tegak di negeri ini. Di usia yang sudah lebih 8 windu, beliau masih memandang Islam sebagai suatu kekuatan yang punya potensi otoriter destructif, sehingga perlu diwaspadai.

Dimanapun, yang paling perlu diwaspadai adalah manusianya, bukan AD/ART nya. Sudah ada Islam dan agama2 lain saja, tapi moral seluruh lapisan manusia Indonesia masih begitu adanya, apalagi kalau Islam tidak ada. Contoh yang paling kuat tentang manusia- Indonesia-tanpa- Islam adalah seperti masyarakat primitif di papua dan kalimantan, atau seperti masyarakat Jawa pada zama batu yang masih percaya pada pohon besar dan roh halus.

2. ibra - September 2, 2007

siapa sih yang merasa aman oleh demokrasi?
siapa sih yang diuntungkan oleh demokrasi?
saya tidak tahu.
tapi bila demokrasi runtuh kemungkinan besar yang kena dampak paling parah sih keliatanya “ras unggul-kurang ajar” yang tidak dapat bersatu.
kayaknya kenal tuh :p

banyak ko yang ga pake demokrasi bisa pada maju. ga pake neoklasik juga gapapa. jepang dan jerman barangkali bisa dijadikan contohnya.

demokrasi buat gue cuma bisa jadi jalan keluar saat-saat mendesak saja. sedang saat-saat lain, banyaknya tidak butuh.

3. fertobhades - September 2, 2007

tapi moral seluruh lapisan manusia Indonesia masih begitu adanya, apalagi kalau Islam tidak ada. Contoh yang paling kuat tentang manusia- Indonesia-tanpa- Islam adalah seperti masyarakat primitif di papua dan kalimantan, atau seperti masyarakat Jawa pada zama batu yang masih percaya pada pohon besar dan roh halus.

Anda bermain dengan tendensi bahwa agama adalah JAWABAN/PANASEA atas SEMUA MASALAH didunia ini. Dan masyarakat yang tidak tersentuh agama adalah masyarakat yang barbarian dan tidak berbudaya [serta tidak bermoral]

Benarkah ? Coba lihat lagi sejarah dunia dan anda akan menemukan bahwa kebudayaan non 3 agama samawi lebih dulu berkembang dan besar/maju di dunia ini.

Ada apa dengan masyarakat Papua ? Pernahkah anda melihatnya dan meneliti kebudayaannya ?

*lack of evidence*

4. Toni - September 3, 2007

Turki Kini, Bagaimana?

Bagaimana GM menjelaskan fenomena Turki, kini, yang memperlihatkan berangsur-angsur kembalinya (kekuatan) Islam?

Sementara, sekulerisme (di dalamnya ada demokrasi), tidak memberikan harapan yang mencerahkan bagi masyarakat Turki!

5. W.N.Padjar - September 5, 2007

hmm.. komentarnya makin tidak bermutu.

6. wedulgembez - September 6, 2007

pertama-tama Demokrasi Islam ditegakkan oleh nabinya sendiri (Muhammad), bahwa setelah Muhammad meninggal, bukan anak-anaknya yang memimpin, tetapi para khalifah yang ditunjuk berdasarkan musyawarah (Abubakar-Umar-Usman dan Ali)…setelah itu entah kenapa jaman kerajaan kembali lagi. Islam tidak berdasarkan ajaran demokrasi Nabi Besar Muhammad, tetapi kembali ke jaman kerajaan lagi. Mengapa nabi bukan memilih anak2 nya untuk menjadi pemimpin?. karena nanti dakwah Islam akan bias. akan menimbulkan prasangka bahwa Muhammad menyebarkan Islam hanya untuk membangun Imperium Pribadi.

7. Kopral Geddoe - September 7, 2007

Sepertinya yang dilakukan Attaturk normal-normal saja. Ia membawa pembaharuan yang obyektif dan realistis. Sistem khilafah yang nota bene berlandaskan agama tentu tendensinya lebih ke arah idealisme beragama, ketimbang mengusahakan kesejahteraan umum. Pemerintahan agama selalu berbau fasis, karena memang meletakkan hak-hak warga negara di bawah kontrol sosial yang bernama agama itu.

Saya rasa Turki adalah salah satu contoh nyata bahwa ada saatnya agama mesti mengalah; ia bukanlah jawaban segala permasalahan. Pemerintahan yang mendekati sistem a la agama, nyaris selalu berakhir sebagai distopia. Tirani intelektual itu sudah pasti; sisanya hanya bonus. Dengan alasan yang sama, AS tidak cukup gila untuk membiarkan Pat Robertson duduk di kursi presiden pada akhir 1980an. 😆

8. oddworld - September 9, 2007

Justru menurut saya sekularisme Turki mulai mengambil jalan seperti sekularisme Eropa dimana Partai berbasis agama dengan nama seperti Partai Kristen Demokrat etc bisa ikut pemilu dan menang.
Sekularisme mampu merangkul semangat agama dalam kehidupan politik meski perjalanan ke arah itu berliku.

9. ibra - September 16, 2007

@W.N.Padjar
concern kita disini bukan mutu…
tapi bila memang anda menganggap demikian, apa yang anda dijadikan ukuran untuk menentukan sejauh mana sebuah komentar dianggap bermutu atau tidak?

bila hal tersebut hanya subjektifitas penilaian anda dan tidak anda sertai dengan alasan yang cukup, maka perkenankan juga saya menilai bahwa komentar anda tentang mutu : jauh lebih tidak bermutu!

bukankah itu yang dimaksud dengan paragragraf di atas … ” Demokrasi adalah sebuah pengakuan akan pentingnya nol: dalam keadaan tak berisi, terkandung sebuah awal ikhtiar untuk memberi isi; tapi dengan nol, manusia menampik ketakaburan” …

bahwa bila anda menganggap orang lain tidak bermutu, maka anda pun harus bersiap siap dianggap demikian oleh orang lain.

dan bila anda tetap menganggap diri anda punya mutu, komentarilah dengan komentar yang bermutu juga dooong…

kasih liat apa itu hegemoni modernitas, kasih liat ke kita ego itu…biar kita bisa liat : se rasional apa anda itu, se-bermutu apa anda itu, dan seberapa kuat argumen anda bila dihadapkan dengan argumen orang lain…

biar kita juga bisa lihat : apakah demokrasi radikal -yang dimaksudkan para filsuf pasca modern itu- benar adanya sebagai suatu keniscayaan…

sebab buat saya yang ada di luar garis politik, di luar kerumunan dan dominasi, itu cuma omong kosong dan tidak membawa kita kemanapun.

10. bambang - September 18, 2007

orang turki mulai ngeh bahwa demokrasi tidak membawanya kemana2. justru semakin jauh dari peradaban. kini ia sadar bahwa demokrasi hanya ganjel untuk menjaga mobil tidak kembali mundur. (ganjel yang ketika mobil sudah jalan ganjel tersebut bisa ditinggalkan).

tak ada ko negeri yg paling demokrasi. (jika demokrasi itu di sama dengankan dg keadilan).
berapa seeh umur demokrasi??
peradaban mana yang dihasilkan oleh demokrasi??

demokrasi hanya dipakai untuk simbol dan mitos. dan Amerika berhasil menjadikan demokrasi dan globalisasi sebagai sebuah mitos untuk menjalankan semua kepentingannya di seluruh dunia. Propaganda Dengan menggunakan simbol-simbol dan kode-kode tentang demokrasi, globalisasi, telah menginvasi hampir semua negeri. Dengan propaganda HAM, bermacam produk konsumerisme dan tentu saja gaya hidup telah mulai menjajah tak hanya negeri namun juga individu-individu.

aih..aih… demokrasi2 riwayatmu kini.

11. oddworld - September 18, 2007

Mungkin bisa dijelaskan korelasi antara ‘propaganda’ HAM dengan konsumerisme ?
Ttg peradaban yang menggunakan demokrasi sebagai salah satu bentuk pmerintahannya, ada Yunani, Romawi, Peradaban Barat setelah renaissance. Dalam pengertian pengambilan keputusan melalui musyawarah peradaban Islam pun bisa disebut menggunakan Demokrasi.

12. bambang - September 19, 2007

HAM. demokrasi, produk konsumerisme, gaya hidup, semua dipakai amerika (dgn propagandanya) untuk menjajah. jadi korelasinya HAM dan Produk konsumerisme sama-sama alat yang digunakan untuk menjajah.

Islam mungkin yang paling dekat demokrasi tapi ia bukan demokrasi.

13. oddworld - September 19, 2007

Jadi yang salah propaganda-nya dan bukan HAM-nya kan ? 🙂

14. Ateis - September 21, 2007

Prinsipnya sederhana saja; Demokrasi menyedikaan ruang yang cukup bagi kebebasan berfikir dan bagaimana memperjuangkan hasil pemikira tsb menjadi hal yg nyata. Sedangkan sistem yang kenegaraan yang didasarkan atas agama (samawi) cenderung mengekang kebebasan tersebut karena semuanya sudah dianggap final dan selesai dengan kitab suci. Sistem seperti ini membuat Manusia kehilangan essensi hidupnya unuk menyejarah.
Agama (samawi) dengan klaim monoteismenya lebih sering mengajarkan Tuhan yang PenCemburu yang menindas keragaman, yang pada akhirnya menindas Ide / pemikiran, melecehkan Hidup.

15. Kayla - September 21, 2007

Peace..

16. rezaroyyan - September 24, 2007

kalau saya melihat turki sekarang seperti pada saat kamal mengambil turki dari kekuasaan kekhalifaan, beda pada saat itu pengambilahan dengan cara pemaksaan dengan melarang simbul-simbul agama (islam) dimunculkan dalam kehidupan Negara, sedangkan sekarang lewat partai brbungkus islam dengan cara demokratis, dan saya melihat pelan tapi pasti simbul-simbul islam akan muncul lagi di turki ini bisa dilihat pada saat perdana menteri turki tayyep endogen mengatakan akan mengupayakan kebebasan pemakaian jilbab dikalangan wanita turki.

17. Troy - September 25, 2007

Turkey tidak identik dengan islam, islam ada di Turkey juga di negara lain dan agama lain pun ada di sana pula. Negara yang dipimpin oleh Islam (regulasi) akan lebih baik. Terbukti dan terjadi. Tapi jangan anda tanya negara mana, jelasnya islam ada di Al-quran dan Al-hadits.

18. jaka - September 26, 2007

Surat Maryam Jamilah kepada Al- Maududi yang berhubungan dengan turkey dan sekularisme, semoga bermanfaat.

Artikel saya yang pertama berjudul Sebuah Kritik terhadap buku “Islam in Modern History” yang ditulis oleh Prof. Wilfred Cantwell Smith, Direktur Islamic Institute di McGill University, Montreal. Saya menentang bagian demi bagian argumentasinya yang mengatakan bahwa sekularisme dan westernisme itu cocok dengan Islam dan bahwa “pembaharuan” Kemal Ataturk di Turki menawarkan model yang paling baik untuk ditiru oleh negara-negara Islam lainnya.

Artikel saya yang kedua berjudul Nasionalisme, Suatu Ancaman terhadap Solidaritas Islam menunjukan betapa tidak cocok dan tak terujukkannya konsep nasionalisme modern dengan konsep ummah atau persaudaraan Islam yang universal.

Artikel saya yang ketiga –dimuat dalam majalah The Islamic Review, bulan Juni 1960 dan majalah The Muslim Digest bulan Agustus 1960 merupakan bantahan terhadap argumentasi Asaf A. Fyzee (wakil Rektor Universitas Kashmir) tentang Islam yang terbaratkan, diperbaharui dan “diliberalkan” sampai suatu titik ia hanya menjadi ungkapan-ungkapan etika yang hampa dan kosong dan tidak mampu memberi dampak terhadap pembentukan masyarakat dan kebudayaan.

Artikel lain yang saya tulis membantah pendapat ahli sosiologi Turki, Ziya Gokalp, yang mencoba untuk memperdayakan pembacanya agar yakin bahwa nasionalisme dan sekularisme itu cocok dengan Islam (langsung daripadanyalah Kemal Ataturk memperoleh inspirasinya); Sir Sayyid Ahmad Khan yang menuhankan ilmu pengetahuan dan filsafat Eropa abad XIX; Ali Abdur-Raziq dalam buku Islam and the Principles of Government yang ditulisnya sesudah penghapusan kekhalifahan Usmaniyah yang mencoba menunjukan bahwa kekhalifahan tidak pernah menjadi bagian integral dari Islam, sehingga harus dijauhkan secara total dan terus-menerus dari negara; Presiden Habib Bourguiba yang tahun lalu menyerang puasa bulan Ramadan dengan menyatakan bahwa puasa Bulan Suci merupakan penghalang bagi pembangunan ekonomi Tunisia; dan Dr. Toha Husein, intelektual dan penulis Mesir buta yang telah mengemukakan dalam bukunya Future and Culture in Egypt bahwa Mesir adalah bagian integral dari Eropa, karenanya perlu melakukan sekularisasi dan westernisasi sepenuhnya.

Mereka yang sering disebut-sebut sebagai muslim “progresif” yang lebih berbahaya dari pada musuh-musuh dari luar, karena mereka menyerang landasan-landasan asasi Islam dari dalam. Tujuan saya menulis artikel-artikel tersebut tidak lain adalah untuk membuka mata kaum muslimin akan fakta ini.

Sekularisme, nasionalisme dan materialisme masa kini disadap dari filosof-filosof yang membangkitkan revolusi Perancis, seperti Voltaire, Rousseau, Montesquieau dan lain-lain. Mereka adalah pembenci-pembenci fanatik terhadap seluruh agama. Merekalah yang bertanggung-jawab terhadap adanya keyakinan yang menyatakan bahwa manusia dapat maju dan mencapai keselamatan tanpa Tuhan. Khayalan bahwa manusia tidak tergantung pada Allah dan bahwa Hari Akhir tidak ada, akan membawa kepada keyakinan bahwa tujuan utama kehidupan umat manusia adalah kemajuan material. Tanpa adanya suasana anti agama yang mematikan ini, maka faham-faham seperti Marxisme, Fascisme, Nazisme, Pragmatisme (seperti yang dipropagandakan oleh John Dewey) dan Zionisme (penyebab tragedi Palestina) tidak akan pernah mengakar. Saya merencanakan untuk menulis artikel lain tentang masalah ini dengan lebih terperinci.

Mungkin anda ingin tahu siapa saya sebenarnya. Saya adalah seorang gadis Amerika, umur 28 tahun, yang begitu tertarik kepada Islam sebagai satu-satunya harapan dalam hidup saya, sehingga saya sekarang ingin berpindah agama. Masalah saya yang pelik adalah kesulitan untuk bertemu dengan orang Islam di daerah pinggiran kota New York, tempat tinggal saya. Lagi pula saya merasa terasing, Karena itu tatkala saya dapati artikel anda dalam The Muslim Digest, segera saja saya kirim surat kepada redaksi majalah tersebut untuk meminta alamat anda dengan harapan akan anda balas surat-surat saya.

Bila anda bersedia, kirimkanlah kepada saya beberapa tulisan anda, khususnya brosur yang anda tulis beberapa tahun yang lalu yang berjudul The Process of Islamic Revolution. Karena kita saling berbagi cita-cita yang sama dan bekerja untuk meraih tujuan yang sama, maka saya ingin sekali menikmati hubungan persahabatan dengan anda dan menolong anda dalam perjuangan anda sebisa-bisanya.

Salam takzim,
Margaret Marcus

Surat Menyurat Maryam Jamilah Maududi
Judul Asli: Correspondence between Maulana Maudoodi and Maryam Jameelah

19. rindu islam - Agustus 20, 2008

perbedaan nyata antara ummatt islam dengan non islam, adalah ketika ummat non islam berpaling dari agamanya, maka mereka akan peroleh kemajuan dunia. tapi ketika ummat islam berpaling dari agamanya, maka mereka akan peroleh keterbelakangan.

20. rahmi - Januari 28, 2010

menyedihkan sekali…
begitukah tekad yang diperjuangkan negara yang menganut Islam…

apa saya boleh bertanya???
bagaimanakah arti sehelai kerudung yang menutupi bagian kepala wanita di mata negara Turkey???

21. anung - September 26, 2010

berarti Mustafa Kemal nggak bisa baca Al-Quran ya? oh berarti memang sejak kecil sudah ada benih-benih kebencian terhadap islam.

22. tengkuputeh - September 26, 2010

Turki ustmani hidup dipuing2 kekaisaran byzantium, dan dengan cepat meniru keburukannya. Sayang sungguh sayang. Jika ia tidak begitu mungkin banyak negeri muslim tidak harus terjajah. Seperti negara kita. Sungguh cerita yang murung.

23. kota salju - September 28, 2011

jangan terlalu membanggakan demokrasi. lihat kerajaan majapahit, lihat kerajaan sriwijaya. mereka tidak mengenal demokrasi tapi bisa mencapai masa kejayaannya. yang penting disadari, negara itu adalah angka nol, perlu ikhtiar untuk mengisinya tanpa ketakaburan.

24. qaisalft - November 10, 2012

bagus banget anekdotnya, like this


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: