jump to navigation

Ong September 3, 2007

Posted by anick in All Posts, Indonesia, Tokoh.
trackback

ong.gifSEJAK saya melihatnya pada tahun 1962 di sekitar Universitas Indonesia, Onghokham selalu tampak dengan baju dan celana khaki yang kusut. Ia selalu membawa satu tas kulit yang mencong; isinya—buku dan lain-lain—selalu berlebihan. Ia terkadang naik sebuah bromfiets yang mencemaskan karena bergoyang-goyang dengan bunyi sember yang seperti menderita.

Rambutnya sudah menipis, kacamatanya sudah sedikit merosot—satu hal yang mengesankan saya yang baru saja jadi mahasiswa. Cara bicaranya tak berubah sampai dengan masa Reformasi: tak koheren, dengan aksen Jawa Timur yang tak lekang, terkadang agak menyembur, tapi umumnya tak agresif, dan selamanya menunjukkan Ong yang perseptif dalam melihat dan memikirkan sekitar.

Kini, dalam obituari yang ditulis orang setelah ia mening­gal pekan lalu, ia disebut sebagai ”sejarawan”. Terutama sejak ia kembali dengan gelar doktor dari Universitas Yale pada tahun 1975. Ia sendiri punya versi lain tentang diri­nya. Ada dua hal yang dia bawa pulang dari Yale, ujarnya. Satu, gelar doktor itu. Dua, kepandaian memasak. Ia lebih bangga dengan yang nomor dua itu, katanya, tanpa senyum.

Tentu ada beda antara sejarawan dan juru masak, tapi jangan-jangan perlu juga dilihat bahwa beda itu tak teramat besar. Keduanya mengolah bahan dari detail, dengan metode dan sistem yang kurang-lebih ajek, dan menyajikan sebuah hasil dengan sentuhan personal.

Mereka yang menganggap sejarah sebagai ilmu yang terhormat tentu akan berkeberatan dengan kesimpulan itu. Tapi bukan hal yang baru untuk mengatakan bahwa karya sejarah tak pernah ditulis dari pandangan yang kekal, yang tak bermula dari satu titik dalam waktu. Tiap karya seorang sejarawan bertolak dari masa-kininya sendiri.

Mungkin bahkan bukan hanya itu. Ketika Foucault bicara tentang ”genealogi”, yang bisa dikatakan sebagai penulisan alternatif tentang masa lalu, yang tersirat di sana bukan saja pernyataan bahwa yang dituju bukanlah ”pengetahuan” dan ”kebenaran” tentang masa lalu itu, tapi sebuah tindakan terhadap masa kini.

Saya baca kembali kumpulan tulisan Onghokham dalam Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong. Hampir tiap bab tergerak untuk melakukan sesuatu bagi keadaan saat itu. Itu mungkin sebabnya Ong tak pernah lagi menulis sebuah buku utuh, kecuali yang berdasarkan skripsinya di Fakultas Sastra UI dan tesisnya di Universitas Yale. Ia menulis risalah pendek, hidangan sekali santap, selalu sebagai respons terhadap keadaan yang dialaminya waktu itu—dan hampir selamanya terasa tak selesai.

Sebagai editornya di saat-saat ia menyumbang tulisan ke majalah Tempo, saya punya problem dengan cara Ong menulis: saya selalu ingin menemukan paragraf penutup yang baik. Tapi kemudian saya pikir: jangan-jangan itu tak perlu bagi Ong. Makanan yang lezat tak pernah punya akhir, juga dengan cuci mulut.

Tapi dengan itu pula Ong memang tak hendak mengemukakan sebuah kesimpulan dan teori besar. Seperti Sartono Kartodirdjo, ia mengutamakan latar sosial-ekonomi sebuah peristiwa, yang menyebabkan sejarah bagi­nya bukan kisah orang ”atas”. Ia suka menemukan dan mengemukakan hal ihwal kecil—misalnya ”perhitungan hari baik” dalam masyarakat Jawa, atau jumlah gulden subsidi seorang bupati yang dibuang pemerintah kolonial. Tapi tampaknya ia bukan berambisi untuk jadi seorang Braudel, yang dari detail yang memikat melahirkan sebuah teori (tentang kapitalisme, misalnya) yang memukau. Ong bukan pula seorang sejarawan Marxis, yang dengan teori mengkonstruksikan temuan empiris. Ong menulis dengan cara hampir seenaknya—tak sampai berkeringat seperti ketika ia bekerja di dapur.

Ia seakan-akan dengan sengaja menunjukkan dirinya tanpa kategori. Apakah dia sebenarnya—”sejarawan”, ”kolumnis”, ”intelektual publik”, ”juru masak”—ia tak peduli. Ia keturunan Tionghoa yang akan menampik stereotip warga ”kebudayaan Cina”—yang disebut oleh Lee Kuan Yew sebagai ”sinic culture”, sebuah sistem nilai yang katanya berbeda, bahkan sebuah kontras, dari ”indic culture”, ”kebudayaan ala India”. Dengan bangga, pemimpin Singapura itu mau menunjukkan bahwa hanya mere­ka yang berakar pada ”kebudayaan Cina” yang cocok buat pembangunan ekonomi: pekerja keras, tak suka berleha-leha, dan pada dasarnya puritan untuk mencapai hasil optimal dalam kerja.

Onghokham menertawakan ”teori” Lee Kuan Yew yang sangat dekat dengan pandang­an rasialis itu. ”Lee bukan menggambarkan watak orang Cina,” katanya. ”Gambaran idealnya gambaran seorang Kristen Metodis.”

Ong tak menyukai mereka yang puritan, Kristen Metodis, para santri, para saudagar, atau ideolog ala Singapura. Baginya Puritanisme adalah represi demi mencapai surga atau kesempurnaan. Ong jauh dari mere­ka yang peduli akan prestasi tinggi, karya yang sempurna, atau posisi yang terhormat. Ia tak mendapatkan gelar ”profesor” karena ia anggap sepele tetek-bengek administratif buat memperoleh gelar akademis itu. Baginya yang memikat justru hal-hal yang dianggap ”dosa” oleh Puritanisme: makanan, minuman, waktu bergaul dan bersenang-senang.

Mungkin karena Ong lebih dekat dengan hidup ketimbang intelektual lain yang hanya berkutat pada ide besar tentang ”manusia” dan ”masyarakat”.

Saya ingat malam-malam di pertengahan 1960-an: saya termasuk sekelompok teman yang kemudian dikenal se­bagai penulis (Nono Makarim, Fikri Jufri, Arief Budiman, Wiratmo Sukito, Ismid Hadad, Salim Said, dan lain-lain) yang sering minum kopi di warung di Gang Ampiun, Cikini. Terkadang Ong muncul, dengan pakaian khaki yang lusuh dan tas yang penuh. Ia gemar mencemooh kami se­bagai ”intelektual kota”. Mungkin ia hendak meng­ingatkan, kami yang suka omong tentang ”Indonesia” acap kali lupa ada yang tak dapat dirumuskan dari sudut kota Jakarta itu. ”Indonesia” bukanlah hanya ide. ”Indonesia” adalah kehidupan. Dan Ong memang dekat ke dalamnya.

~Majalah Tempo Edisi. 28/XXXIIIIII/03 – 9 September 2007~

 ctt. gambar diambil dari sini

Iklan

Komentar»

1. ibra - September 4, 2007

saya sering kagum dengan keturunan tionghua di UI.
entah kenapa…

2. W.N.Padjar - September 4, 2007

Orang spt Ongkokham dengan tulisan ttg sejarahnya sering mengingatkan saya bahwa fakta sejarah lebih aneh dari fiksi saya sendiri tentang masa lalu bangsa ini khususnya. saya jadi paham pula bahwa sejarah yang mengatasi cara pandang saya, bukan sebaliknya.

Terima kasih, Pak Ong, atas dedikasinya pada penelaahan sejarah.

Have a rest in peace.

(NB: Nggak usah pikirkan lagi soal aparat kejaksaan yg masih ketakutan dengan sejarah)

3. wanie_agk - September 4, 2007

senang dengan tulisan ini. sangat tertarik

4. Wibisono Sastrodiwiryo - September 4, 2007

Hanya orang sekelas Ong yang bisa melihat dan menertawakan Lee Kuan Yew. Kita bangga punya sosok tokoh sekelas Ong Hok Ham.

5. zaki - September 4, 2007

“Ong tak menyukai mereka yang puritan, Kristen Metodis, para santri, para saudagar, atau ideolog ala Singapura. Baginya Puritanisme adalah represi demi mencapai surga atau kesempurnaan. Ong jauh dari mere­ka yang peduli akan prestasi tinggi, karya yang sempurna, atau posisi yang terhormat. Baginya yang memikat justru hal-hal yang dianggap ”dosa” oleh Puritanisme: makanan, minuman, waktu bergaul dan bersenang-senang.

Mungkin karena Ong lebih dekat dengan hidup ketimbang intelektual lain yang hanya berkutat pada ide besar tentang ”manusia” dan ”masyarakat”.”

Tanpa kesadaran akan hal seperti inipun, tanpa sadar, kita ini sudah jadi bangsa pelawak.
Lihat betapa banyak acara lawak di TV swasta; acara2 seriuspun harus dibumbui dengan lawak.
Negeri ini juga lebih banyak melahirkan pelawak daripada ilmuan. Anak sekolah dan remaja lebih hafal nama pelawak daripada nama sastrawan.
Bacaan komik dan humor lebih populer daripada karya sastra dan matematika.
Bahkan yang paling lucu, kita pernah punya presiden yang gemar melawak meskipun negara sedang kritis.
Kita harus sadar bahwa lawak tak lebih daripada miras yang hanya menghilangkan kesusahan sesaat
Apakah lawak identik dengan hidup?

Lihatlah Singapore sekarang. Lihatlah Malaysia sekarang.
Lihatlah Indonesia sekarang.

Apakah belum bosan jadi pelawak?
Atau: Mungkin kita tak ubah seperti kancil yang tak sanggup memetik anggur (kesenangan itu) lalu menggerutu dengan mengatakan, “anggur pahit, anggur pahit”.

Atau,
Mungkin saya salah juga, saya tak tahu persis gimana seharusnya kita bersikap menghadapi kondisi seperti hidup sekarang.

Tapi entahlah.

6. sumardika - September 5, 2007

Tulisan yang menarik. Ong salah satu tokoh idola saya.

7. ratuadilsatriapinandhita - September 5, 2007

ini cuma situs tahi.

mending baca yang ini:
http://ratuadilsatriapinandhita.wordpress.com/

8. daeng rusle' - September 5, 2007

saya dulu pernah menemukan tulisan pak Ong di Jurnal Prisma…
sejak itu saya menyenangi sejarah…
selamat jalan pak Ong

9. anna hape - September 6, 2007

Pak Ong, tokoh sederhana dengan pemikiran yang melampaui kesederhanaannya. Bahkan Brilliant.

10. firman firdaus - September 9, 2007

bagus ya si GM nulis. sial!

11. hurek - September 10, 2007

yah… saya berduka atas kepergian pak ong. RIP!

12. zepbees - September 13, 2007

OngHokHam adalah sejarawan hebat!
GM adalah penulis hebat!
You are my idols

13. bambang - September 16, 2007

Lihat betapa banyak acara lawak di TV swasta; acara2 seriuspun harus dibumbui dengan lawak.
Negeri ini juga lebih banyak melahirkan pelawak daripada ilmuan. Anak sekolah dan remaja lebih hafal nama pelawak daripada nama sastrawan.
Bacaan komik dan humor lebih populer daripada karya sastra dan matematika.

mungkin iya terlalu banyak acara lawakan di tv kita. (soalnya sy jg g begitu sering lihat acara tv). tapi mungkin itu juga yang dibutuhin oleh kebanyakan masyarakat kita. kebutuhan untuk mereduksi segala kelelahan karena tiap hari dipaksa, diperas untuk bekerja seharian. untuk menghilangkan kegetiran hidupnya.
coba saja di bayangkan: jenis orang seperti apa seeh yang paling banyak nonton tv. yang menghabiskan waktunya untuk duduk di sebuah kotak hitam.

tapi yang terlupa dalam setiap candaan yang sering kita dapatkan emang tidak ada apa-apanya. kosong.
padahal sebenarnya guyon, lawak, canda tak melulu sekedar melepas tawa. Pada banyak peristiwa, ia adalah aksi perlawanan, pernyataan resistensi, sebuah pembangkangan.
dan sekarng sudah jarang kita menemukan lawakan seperti itu.

+++++++
Ong sepertinya mampu menginspirasi bagaimana bertindak yang tepat dimasa yang akan datang dalam apa yang ia tulis tentang masa lalu. dan itulah salah satu keberhasilan beliau. banyak yang menulis sejarah tapi gagal dalam menginpirasi bagaimana bertindak terhadap masa lalu.

14. bambang - September 16, 2007

Masa lalu (kata terakhir) salah nulis seharusnya masa depan.

15. zaki - September 16, 2007

Selain lawak, tidak adakah hal lain yang lebih substansial dan relevan untuk memecahkan persoalan bangsa yang aneh ini? Pelarian tak pernah bisa jadi solusi.
Ibarat masakan, kita terlalu banyak penyedap sintetis. Penyedap memang penting tapi tak lebih dari sekedar sugesti, secara substansial ia tak ada artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan.
Dan yang kurang dari bangsa ini bukan segi nyelenehnya, justru kita udah kelewat nyeleneh saya kira. Bahkan dari pejabat hingga rakyat jelata. Dari tokoh agama hingga preman. Tokoh agama ? Ingatkan ketika bagaimana perilaku penasehat NU dan ketua MUI ketika meminta kita bertahajjud utk kemenangan Timnas sepakbola? Apakah ini bukan lelucon dalam konteks keislaman?

Yang kurang dari bangsa ini adalah hidup konsisten dalam tekanan yang sehat, profesionalisme, disiplin, moralitas.
Yang terlalu banyak justru adalah romantisme, sentimentalitas, kolusi, nepostisme dsj.

Jangan2 kita bisa bertahan dalam bingkai NKRI selama 62 tahun adalah karena terlalu lemah, sehingga menerima apapun kebijakan penguasa. Bukan karena kekuatan dari sendi yang paling penting, yaitu moralitas dan integritas warganya yang bebas berekspresi secara relevan, tanpa harus lari ke LAWAK.

16. nino - Januari 17, 2008

Pak Zaki, tidak ada yang salah dengan pelawak maupun lawakan atau lawak. Mereka–seperti juga para pencipta lagu-lagu melankolis semasa Pance Pondagh dkk berjaya–hanyalah melantunkan kondisi masyarakat yang memang sedang menderita. Saya turut sedih lantaran membaca tulisan anda yang nuansanya selalu terasa sangat skeptis dalam memandang hidup. Cobalah memahami perspektif Pak GM yang tulisannya selalu menyembunyikan tenaga kehidupan. Bahkan seorang tokoh yang ‘divonis mati’ seperti Bento pun, digambarkan mampu mengalahkan takdirnya sendiri. Saya tidak pernah merasa diprovokasi untuk berbuat atau tidak berbuat, untuk menurut atau tidak menurut, untuk berpihak atau melawan tokoh tertentu. Saya tidak merasa terserap hingga hilang kesadaran. Saya selalu kagum dengan kehebatan ungkapan-ungkapan GM, tapi saya tetap mengendalikan dan berkuasa atas kesadaran saya. Itu pula mungkin yang membedakan Catatan Pinggir dengan ayat-ayat suci. Karenanya Pak Zaki mungkin perlu mencoba membunuh prasangka sehingga bisa merasakan spirit yang tak terlihat dari ungkapan-ungkapan yang dirangkai melalui kata-kata.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: