jump to navigation

Puasa September 17, 2007

Posted by anick in Agama, All Posts, Fasisme, Islam.
trackback

DI hari-hari ini saya berpuasa dan merasakan sebuah privilese: saya dihormati. Dengan tekad saya sendiri saya berniat tak makan dan tak minum sejak dini hari hingga senja; selama itu saya sadar bahwa akan ada saat-saat saya bisa tergoda—tetapi saya selamat. Saya siap untuk terganggu, tetapi lihat: saya tak boleh diganggu.

Privilese itu kini sudah seperti sesuatu yang semestinya. Demi ibadah saya, yang saya niatkan sendiri, orang-orang lain tak bisa pergi pijat karena selama sebulan semua panti pijat harus ditutup—meskipun ini bukan tempat yang mesum sama sekali—dan sekian ratus pemijat tidak mendapatkan penghasilan. Demi ibadah saya, orang-orang lain tidak dapat minum minuman beralkohol selama kurang-lebih 30 hari, siang dan malam—meskipun mereka lazim melakukannya sebagai bagian dari hidup mereka—karena bar tak boleh buka dan kalaupun ada restoran buka, bir, anggur, wiski, konyak, vodka, dan lain-lain harus masuk kotak.

Terkadang saya tak tahu apakah saya merasa bangga, atau bersyukur, atau merasa bersalah, ketika di mana-mana dipasang anjuran: ”Hormatilah Orang yang Berpuasa”.

Tentu saja sikap menghormati adalah sebuah sikap yang bisa datang dari hati yang ikhlas dan sukarela. Tapi sikap itu juga bisa diperlihatkan khalayak ramai karena aturan pemerintah, para ulama, atau tekanan lain yang menakutkan. Kita sekarang tidak tahu yang mana yang menentukan. Jika ada polisi atau petugas kota praja—belum lagi kelompok orang galak yang dengan gampang menyerbu dan merusak—yang membuat penghormatan itu berlaku, saya tak pernah yakin sejauh mana penghormatan (atau lebih tepat ”apresiasi”) yang ikhlas yang sedang saya rasakan. Jangan-jangan semuanya adalah penghormatan (atau lebih tepat ”sikap merunduk”) yang dengan gerutu.

Tapi di sebuah negeri yang tak jarang memperdagangkan kepalsuan, akhirnya soal seperti itu tak dipersoalkan. Pokoknya: saya berpuasa, sebab itu saya harus dihormati.

Namun saya tak hendak mengomel. Sebab menghormati orang yang berpuasa dapat berangkat dari sebuah alasan yang bagus. Ramadan sering dikatakan sebagai bulan yang dekat dengan rohani. Tetapi tak kurang dari itu Ramadan sebenarnya menekankan pentingnya tubuh—justru dengan mengaktualisasikan tubuh yang tak penuh. Bulan ini adalah bulan yang berbicara tentang kondisi dasar manusia yang paling kurang. Puasa adalah penegasan diriku sebagai sesuatu yang lapar dan juga retak: sebagai aku yang ingin dan tak mendapat, aku yang menolak untuk rakus tapi juga merasa sakit.

Tapi saya, yang berpuasa ini, juga sering tak menyadari bahwa puasa dapat memberi diri sesuatu yang sama sekali bertentangan: rasa berkelebihan, bahkan supremasi. Aku seakan-akan dalam kesucian, sebagai yang ”berkorban” dan juga sebagai yang ”tak najis”. Orang lain? Mereka dosa, loba, penuh syahwat—pendeknya lebih nista dari diriku.

Itu barangkali asal mula orang lain dituntut untuk menghormati aku. Kalau tidak, orang lain harus aku jauhi. Kalau tidak, orang lain harus aku tobatkan. Aku, si suci, harus meniadakannya sebagaimana dia adanya, dengan menyisihkan atau mengubahnya.

Salah satu problem besar dunia ialah bahwa kita sering menemukan wajah yang bertentangan seperti saya sebut tadi dari orang yang berpuasa—atau dari orang dalam ibadat yang mana pun. Kontradiksi ini disembunyikan atau ditekan karena wacana yang ada diberi sanksi oleh sebuah bayangan tentang Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna yang menuntut keutuhan dan kekuatan, bukan sebuah bayangan tentang Yang Maha Rahman dan Rahim yang mengampuni si daif dan si retak-cacat.

Dalam wajah yang lapar, yang dekat dengan tubuh, dalam kekurangan dan kefanaan, manusia hadir mau tak mau mengalami dirinya bukan sebagai sebuah ide, bukan sebuah konsep yang abstrak. Perut yang meminta nasi dan tenggorokan yang sedikit bau basah tidak ada dalam Manusia dengan ”M”. Seraya bersentuhan dalam sifatnya yang konkret, manusia mengalami dan menyadari apa artinya perubahan, apa perlunya perbedaan dari waktu ke waktu, perbedaan dari satu situasi ke situasi lain.

Tetapi bila puasa bukan menandaskan wajah yang lapar, melainkan kesucian diri yang penuh, manusia merasa seakan-akan berada di atas segala situasi, di luar waktu, tak tersentuh perubahan, dan perubahan bahkan dapat berarti najis.

Di hari-hari ini saya berpuasa—dan apakah gerangan yang tumbuh dalam diri saya? Sesuatu yang menghargai yang fana dan sebab itu berterima kasih atas setiap momen empati? Atau sesuatu yang meminta dihormati, karena aku adalah sebuah prestasi, sebuah posisi di atas sana, di mana yang kekal dan sempurna mengangkatku?

Jika saya harus menjawab, saya akan mengatakan: saya takut dihormati.

~Majalah Tempo Edisi. 30/XXXVI/17 – 23 September 2007~

Iklan

Komentar»

1. iman brotoseno - September 19, 2007

Bulan puasa memang juga mengisyaratkan sebuah ketakutan pada agama secara absolut, bahwa Tuhan dipandang sebagai penjaga dengan pecut api di tangan kiri dan neraka di tangan kananNya

2. firman firdaus - September 20, 2007

ah, kang GM ini kang terlalu memusingkan banyak hal. padahal segala sesuatu berjalan normal-normal aja tuh…

3. )'.'( - September 20, 2007

Melakukan puasa berarti merelakan diri menjadi miskin, sebab sebenarnya puasa adalah ibadahnya orang miskin. Tak ada yang bisa dimakan ya puasa sebagaimana Nabi pernah melakukannya.

Lewat bulan Ramadhan Tuhan menyeruhkan pemiskinan masal dengan cara berpuasa penuh sebulan, meski ada kecenderungan kebanyakan kaum puritan untuk menyudahi sehari lebih awal sebagaimana kaum tradisional yang cenderung melengkapi hingga genap 30 hari. Dari sini awal perselisihan jatuh tempo Iedul Fitri.

Kedekatan kata ‘miskin’ dan ‘lapar’ sudah lama sejak sama-sama menduduki jabatan kata yang sama, yaitu sebagai kata sifat yang saling mensifati meski modus operandi kerjanya berbeda. Sepertinya, predikat miskin termasuk af’alul qulub sedangkan rasa lapar pastinya adalah bawaan dari af’alul buthun. Kemiskinan dan kelaparan selalu menjadi satu rangkaian tak terpisahkan. ‘gimana gak lapar wong gak ada uang untuk makan’ atau ‘apa yang bisa dimakan wong dompet gak berisi uang’ merupakan ungkapan-ungkapan naif menyedihkan yang mengundang solidaritas perasaan untuk bersama merasakan hal yang sama; lapar! to feel the hungry is not to feed the hungry but feel it by doing like what they feel (fast by order).

Solidnya hubungan kedua belah pihak tersebut (mispar:miskin lapar) cukup mengoda setan untuk menyajikan menu lain model pengkufuran, lewat makanan, bermula dari perut yang keroncongan berasal dari ketidak berdayaan finansial yang berwujud kemiskinan. Kaadal faqru an yakuuna kufron, terjemahan ngawurnya bisa jadi adalah ‘ sudah miskin gampang jadi kafir lagi’ (according to theory of translation, it’s okay, that is the target language). Lagi-lagi yang melarat yang bisa diperalat, dijadikan alat untuk mengkonstruksi jembatan kekufuran poverty is such an easier way to lead into the gate of the hell, padahal tanpa kita sadari meski kita telah banyak ketahui bahwa orang miskinlah yang duluan masuk sorga. Akhir paragraf ini menyisakan satu kalimat tanya; sudahkah kita tanggalkan status kaya kita dengan cara puasa?

Ps. berupa bualan bid’ah
‘puaskan puasamu lantaran puasa adalah upaya untuk menghilangkan rasa laparmu’

4. jaka - September 20, 2007

Berikut adalah ulasan Muhammad Husain Haikal tentang puasa

Dan bandingkan dengan ulasan GM. Betapa ulasan GM akan nampak sangat nyinyir terhadap puasa.

1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR’AN (3/6)
Muhammad Husain Haekal

Kalau tujuan puasa itu supaya tubuh tidak terlampau
memberatkan jiwa, sifat materialisma kita jangan terlalu
menekan sifat kemanusiaan kita, orang yang menahan diri dari
waktu fajar sampai malam, kemudian sesudah itu hanyut dalam
berpuas-puas dalam kesenangan, berarti ia sudah mengalihkan
tujuan tersebut. Tanpa puasa pun hanyut dalam memuaskan diri
itu sudah sangat merusak, apalagi kalau orang berpuasa,
sepanjang hari ia menahan diri dari segala makanan, minuman
dan segala kesenangan, dan bilamana sudah lewat waktunya ia
lalu menyerahkan diri kepada apa saja yang dikiranya di waktu
siang ia tak dapat menikmatinya! Kalau begitu Tuhan jugalah
yang menyaksikan, bahwa puasanya bukan untuk membersihkan
diri, mempertinggi sifat kemanusiaannya, juga ia berpuasa
bukan atas kehendak sendiri karena percaya, bahwa puasa itu
memberi faedah kedalam rohaninya, tapi ia puasa karena
menunaikan suatu kewajiban, tidak disadari oleh pikirannya
sendiri perlunya puasa itu. Ia melihatnya sebagai suatu
kekangan atas kebebasannya, begitu kebebasan itu berakhir pada
malam harinya, begitu hanyut ia kedalam kesenangan, sebagai
ganti puasa yang telah mengekangnya tadi. Orang yang melakukan
ini sama seperti orang yang tidak mau mencuri, hanya karena
undang-undang melarang pencurian, bukan karena jiwanya sudah
cukup tinggi untuk tidak melakukan perbuatan itu dan
mencegahnya atas kemauan sendiri pula.

Sebenarnya tanggapan orang mengenai puasa sebagai suatu
tekanan atau pencegahan dan pembatasan atas kebebasan manusia
adalah suatu tanggapan yang salah samasekali, yang akhirnya
akan menempatkan fungsi puasa tidak punya arti dan tidak punya
tempat lagi. Puasa yang sebenarnya ialah membersihkan jiwa.
Orang berpuasa diharuskan oleh pikiran kita yang timbul atas
kehendak sendiri, supaya kebebasan kemauan dan kebebasan
berpikirnya dapat diperoleh kembali. Apabila kedua kebebasan
ini sudah diperolehnya kembali, ia dapat mengangkat ke
martabat yang lebih tinggi, setingkat dengan iman yang
sebenarnya kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan firman
Tuhan – setelah menyebutkan bahwa puasa telah diwajibkan
kepada orang-orang beriman seperti sudah diwajibkan juga
kepada orang-orang yang sebelum mereka:

“Beberapa hari sudah ditentukan. Tetapi barangsiapa diantara
kamu ada yang sakit atau sedang dalam perjalanan, maka dapat
diperhitungkan pada kesempatan lain. Dan buat orangorang yang
sangat berat menjalankannya, hendaknya ia membayar fid-yah
dengan memberi makan kepada orang rniskin, dan barangsiapa mau
mengerjakan kebaikan atas kemauan sendiri, itu lebih baik buat
dia; dan bila kamu berpuasa, itu lebih baik buat kamu, kalau
kamu mengerti.” (Qur’an, 2: 184)

Seolah tampak aneh apa yang saya katakan itu, bahwa dengan
puasa kita dapat memperoleh kembali kebebasan kemauan dan
kebebasan berpikir kalau yang kita maksudkan dengan puasa
dengan segala apa yang baik itu untuk kehidupan rohani kita.
Ini memang tampak aneh, karena dalam bayangan kita bentuk
kebebasan ini telah dirusak oleh pikiran modern, bilamana
batas-batas rohani dan mental itu dihancurkan, kemudian
batas-batas kebendaannya dipertahankan, yang oleh seorang
prajurit dapat dilaksanakan dengan pedang undang-undang.
Menurut pikiran modern, manusia tidak bebas dalam hal ia
melanda harta atau pribadi orang lain. Akan tetapi ia bebas
terhadap dirinya sendiri sekalipun hal ini sudah melampaui
batas-batas segala yang dapat diterima akal atau dibenarkan
oleh kaidah-kaidah moral. Sedang kenyataan dalam hidup bukan
yang demikian. Kenyataannya ialah manusia budak kebiasaannya.
Ia sudah biasa makan di waktu pagi; waktu tengah hari, waktu
sore. Kalau dikatakan kepadanya: makan pagi dan sore sajalah,
maka ini akan dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya.
Padahal itu adalah pelanggaran atas perbudakan kebiasaannya,
kalau benar ungkapan demikian ini. Orang yang sudah biasa
merokok sampai kebatas ia diperbudak oleh kebiasaan merokoknya
itu, lalu dikatakan kepadanya: sehari ini kamu jangan merokok,
maka ini dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya.
Padahal sebenarnya itu tidak lebih adalah pelanggaran atas
perbudakan kebiasaannya. Ada lagi orang yang sudah biasa minum
kopi atau teh atau minuman lain apa saja dalam waktu-waktu
tertentu lalu dikatakan kepadanya: gantilah waktu-waktu itu
dengan waktu yang lain, maka pelanggaran atas perbudakan
kebiasaannya itu dianggapnya sebagai pelanggaran atas
kebebasannya. Budak kebiasaan serupa ini merusak kemauan,
merusak arti yang sebenarnya dari kebebasan dalam bentuknya
yang sesungguhnya.

Disamping itu, ini juga merusak cara berpikir sehat, sebab
dengan demikian berarti ia telah ditunjukkan oleh pengaruh
hajat jasmani dari segi kebendaannya, yang sudah dibentuk oleh
kebiasaan itu. Oleh karena itu banyak orang yang telah
melakukan puasa dengan cara yang bermacam-macam, yang secara
tekun dilakukannya dalam waktu-waktu tertentu setiap minggu
atau setiap bulan. Tetapi Tuhan menghendaki yang lebih mudah
buat manusia dengan diwajibkan kepada mereka berpuasa selama
beberapa hari yang sudah ditentukan, supaya dalam pada itu
semua sama, dengan diberikan pula kesempatan fid-yah. Mereka
masing-masing yang telah dibebaskan karena dalam keadaan sakit
atau sedang dalam perjalanan dapat mengganti puasanya itu pada
kesempatan lain.

Kewajiban berpuasa selama hari-hari yang sudah ditentukan
untuk memperkuat arti persaudaraan dan persamaan di hadapan
Tuhan, sungguh suatu latihan rohani yang luarbiasa. Semua
orang, selama menahan diri sejak fajar hingga malam hari
mereka telah melaksanakan persamaan itu antara sesama mereka,
sama halnya seperti dalam sembahyang jamaah. Dengan
persaudaraan demikian selama itu mereka merasakan adanya suatu
perasaan yang mengurangi rasa kelebihan mereka dalam mengecap
kenikmatan rejeki yang diberikan Tuhan kepadanya. Dengan
demikian puasa berarti memperkuat arti kebebasan, persaudaraan
dan persamaan dalam jiwa manusia seperti halnya dengan
sembahyang.

Kalau kita menyambut puasa dengan kemauan sendiri dengan penuh
kesadaran bahwa perintah Tuhan tak mungkin bertentangan dengan
cara-cara berpikir yang sehat, yang telah dapat memahami
tujuan hidup dalam bentuknya yang paling tinggi, tahulah kita
arti puasa yang dapat membebaskan kita dari budak kebiasaan
itu, yang juga sebagai latihan dalam menghadapi kemauan dan
arti kebebasan kita sendiri. Disamping itu kita pun sudah
diingatkan, bahwa apa yang telah ditentukan manusia terhadap
dirinya sendiri – dengan kehendak Tuhan – mengenai batas-batas
rohani dan mentalnya sehubungan dengan kebebasan yang
dimilikinya untuk melepaskan diri dari beberapa kebiasaan dan
nafsunya, ialah cara yang paling baik untuk mencapai martabat
iman yang paling tinggi itu. Apabila taklid dalam iman belum
dapat disebut iman, melainkan baru Islam yang tanpa iman, maka
taklid dalam puasa juga belum dapat disebut puasa. Oleh karena
itu orang yang bertaklid menganggap puasanya suatu kekangan
dan membatasi kebebasannya – sebaliknya daripada dapat
memahami arti pembebasan dari belenggu kebiasaan serta
konsumsi rohani dan mental yang sangat besar itu.

Apabila dengan jalan latihan rohani ini manusia telah sampai
kepada arti hukum dan rahasia-rahasia alam dan mengetahui pula
dimana tempatnya dan tempat anak manusia ini, cintanya kepada
sesama anak manusia akan lebih besar lagi, dan semua anak
manusia saling cinta dalam Tuhan. Mereka akan saling
tolong-menolong untuk kebaikan dan rasa takwa – menjaga diri
dari kejahatan. Yang kuat mengasihi yang lemah, yang kaya
mengulurkan tangan kepada yang tidak punya. Ini adalah zakat,
dan selebihnya sedekah. Dalam sekian banyak ayat Qur’an selalu
mengaitkan zakat dengan salat. Kita sudah membaca firman
Tuhan:

“Tetapi kebaikan itu ialah orang yang sudah beriman kepada
Allah, kepada hari kemudian, malaikat, Kitab dan para nabi;
mengeluarkan harta yang dicintainya itu kepada
kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang
yang melepaskan perbudakan, mengerjakan salat dan mengeluarkan
zakat.” (Qur’an, 2: 177)

“Kamu kerjakanlah sembahyang dan keluarkan pula zakat serta
tundukkan kepala (ruku’) bersama orang-orang yang menundukkan
kepala.” (Qur’an, 2: 43)

“Beruntunglah orang-orang yang sudah beriman. Mereka yang
dengan khusyu’ mengerjakan sembahyang. Mereka yang menjauhkan
diri dan percakapan yang tiada berguna. Dan mereka yang
mengeluarkan zakat.” (Qur’an, 23: 1-4)

Ayat-ayat yang mengaitkan zakat dengan salat itu banyak
sekali.

Apa yang disebutkan dalam Qur’an tentang zakat dan sedekah
cukup menyeluruh dan kuat sekali. Dalam melakukan perbuatan
baik, sedekah itu terletak pada tempat pertama, orang yang
melakukannya akan mendapat pahala yang amat sempurna. Bahkan
ia terletak disamping iman kepada Allah, sehingga kita merasa
seolah itu sudah hampir sebanding. Tuhan berfirman:

“Tangkaplah orang itu dan belenggukanlah. Kemudian campakkan
kedalam api menyala. Sesudah itu belitkan dengan rantai yang
panjangnya tujuhpuluh hasta. Dahulu ia sungguh tidak beriman
kepada Allah Yang Maha Besar. Juga tidak mendorong orang
memberi makan orang miskin.” (Qur’an, 69: 30-34)

“… Dan sampaikan berita gembira kepada mereka yang taat.
Yaitu mereka, yang apabila disebutkan nama Tuhan hatinya
merasa takut karena taatnya, dan mereka yang tabah hati
terhadap apa yang menimpa mereka serta mereka yang mengerjakan
salat dan menafkahkan sebagian rejeki yang diberikan Tuhan
kepada mereka.”‘ (Qur’an, 22: 34-35)

“Mereka yang menafkahkan hartanya – baik di waktu malam atau
di waktu siang, dengan sembunyi atau terang-terangan, mereka
akan mendapat pahala dari Tuhan. Tidak usah mereka takut, juga
jangan bersedih hati” (Qur’an, 2: 274)

Qur’an tidak hanya menyebutkan masalah-masalah sedekah serta
pahalanya yang akan diberikan Tuhan yang sama seperti pahala
orang beriman dan mengerjakan sembahyang, bahkan adab sedekah
itu telah dilembagakan pula dengan suatu tatacara yang sungguh
baik sekali.

“Bilamana kamu memperlihatkan sedekah itu, itu memang baik
sekali. Tetapi kalau pun kamu sembunyikan memberikannya kepada
orang fakir, maka itu pun lebih baik lagi buat kamu.” (Qur’an,
2: 271)

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada
sedekah yang disertai hal-hal yang tidak menyenangkan hati
Allah Maha Kaya dan Maha Penyantun. Orang-orang beriman,
janganlah kamu hapuskan nilai sedekahmu itu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti hati orang.” (Qur’an, 2:
263-264)

Firman Tuhan itu memberikan pula penjelasan kepada siapa
sedekah itu harus diberikan:

Sedekah itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus zakat, orang-orang yang perlu dilunakkan
hatinya, untuk melepaskan perbudakan, orang-orang yang
dibebani utang, untuk jalan Allah dan mereka yang sedang dalam
perjalanan. Inilah yang telah diwajibkan oleh Allah, dan Allah
Maha Mengetahui dan Bijaksana.” (Qur’an, 9: 60)

Zakat dan sedekah itu salah satu kewajiban dalam Islam,
termasuk salah satu rukun Islam. Tetapi apakah kewajiban ini
termasuk ibadat, ataukah masuk bagian akhlak? Tentu ini
termasuk ibadat. Semua orang beriman bersaudara, dan iman
seseorang belum lagi sempurna sebelum ia mencintai saudaranya
seperti mencintai dirinya sendiri. Dengan berpegang pada Nur
Ilahi antara sesama mereka, orang-orang beriman saling
cinta-mencintai. Kewajiban zakat dan sedekah terikat oleh
persaudaraan ini, bukan oleh akhlak dan disiplinnya serta oleh
hubungan antar-manusia dengan segala tata-tertibnya. Segala
yang terikat oleh persaudaraan, terikat juga oleh iman kepada
Allah, dan segala yang terikat oleh iman kepada Allah ialah
ibadah. Itu sebabnya maka zakat menjadi salah satu rukun Islam
yang lima, dan karena itu pula setelah Nabi wafat Abu Bakr
menuntut supaya Muslimin menunaikan zakatnya. Setelah
dilihatnya ada sebagian orang yang mau membangkang, Pengganti
Muhammad itu melihat pembangkangan ini sebagai suatu kelemahan
dalam iman mereka; mereka lebih mengutamakan harta daripada
iman, mereka hendak meninggalkan disiplin rohani yang telah
ditentukan Qur’an itu. Dengan demikian ini merupakan
kemurtadan dari Islam. Karena ‘perang ridda’ itu jugalah Abu
Bakr berhasil mengukuhkan kembali sejarah Islam itu
selengkapnya, dan yang tetap menjadi kebanggaan sepanjang
sejarah.

Dengan fungsi zakat dan sedekah sebagai kewajiban yang
bertalian dengan iman dalam disiplin rohanl ia dianggap
sebagai salah satu unsur yang harus membentuk kebudayaan
dunia. Inilah hikmah yang paling tinggi yang akan mengantarkan
manusia mencapai kebahagiaannya. Harta dan segala keserakahan
orang memupuk-mupuk harta merupakan sebab timbulnya
superioritas (rasa keunggulan) seorang kepada yang lain.
Sampai sekarang ia masih merupakan sebab timbulnya penderitaan
dunia ini dan sumber pemberontakan dan peperangan selalu.
Sampai sekarang mammonisma – penyembahan harta – masih tetap
merupakan sebab timbulnya dekadensi moral yang selalu menimpa
dunia dan dunia tetap bergelimang dibawah bencana itu.
Memupuk-mupuk harta dan keserakahan akan harta itulah yang
telah menghilangkan rasa persaudaraan umat manusia, dan
membuat manusia satu sama lain saling bermusuhan. Sekiranya
pandangan mereka itu lebih sehat dengan pikiran yang lebih
luhur, tentu akan mereka lihat bahwa persaudaraan itu lebih
kuat menanamkan kebahagiaan daripada harta, mereka akan
melihat juga bahwa memberikan harta kepada yang membutuhkan
akan lebih terhormat pada Tuhan dan pada manusia daripada
orang harus tunduk kepada harta itu. Kalau benar-benar mereka
beriman kepada Allah tentu mereka akan saling bersaudara, dan
manifestasi persaudaraan ini ialah pertolongan kepada orang
yang sedang dalam penderitaan, membantu orang yang
membutuhkannya dan dapat pula menghapuskan kemiskinan yang
akan menjerumuskan manusia kedalam penderitaan itu.

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

5. dedi - September 20, 2007

Kenapa, setiap menghadapi/memasuki bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri, selalu diberitakan akan kenaikaan harga barang/kebutuhan pokok dengan alasan menghadapi/memasuki bulan puasa. Seolah-olah puasa itu barang dagangan apa…? Anehnya dari tahun ke tahun selalu saja terjadi. Tujuan puasa sebenarnyakan “menahan diri”..

6. W.N.Padjar - September 20, 2007

Sepengetahuan saya emang nggak ada ya teks dalam Al Quran maupun hadits yg scr langsung atau tidak langsung menjadi dasar premis utk menyimpulkan bhw muslim yg berpuasa harus atau layak mendapat penghormatan dari org yg tidak berpuasa. (Mohon koreksi kalo saya keliru..)

Penghormatan kepada org yg berpuasa langsung datang dari Tuhan secara istimewa sbgmn hadits qudsi yg termasyhur yg menyatakan bahwa “…pahala orang yang berpuasa puasa adalah urusan-Ku”.

Pesan hadits itu mungkin agar orang bener2 ikhlas dalam berpuasa.

7. zepbees - September 20, 2007

Uuhh….sebuah sindiran yang sangat halus, namun “nyelekit”! Betul, Bang!

8. Shinta - September 20, 2007

refleksi GM bikin senyum-senyum 🙂 .

makasih buat usaha penulis blog! Sy yg ga langganan Tempo jadi bisa ikut baca.

9. yudhi - September 21, 2007

menusuk, mengiris dalam. mestinya bisa jadi renungan bagi sesuatu diluar sana yang pongah dan terkadang pandir …

10. bambang - September 21, 2007

saya masih heran dan merasa aneh, orang sehebat GM jalan berpikirnya masih seperti itu : egois (sempit bagi saya).

kalau (logikanya GM) dengan berpuasa itu berarti : mortal, lemah, suci, terbatas, bisa disakiti. maka harus ada pemimpin yang harus melindungi. harus ada orang dengan kekuatan untuk menjaga agar tidak disakiti. disinilah kebutuhan pemimpin. maka harus ada yang bersiaga untuk menjaganya dari yang kotor. (meskipun kita tahu pemimpin di negeri ini bertindak benar pada waktu dan tempat tertentu). karena kecenderungan manusia untuk selalu menguasai yang lemah. untuk membalas yang tidak berdaya.

maka dengan adanya penjagaan, bukan berarti menghapus ke-rendahhatian bagi orang yang berpuasa. menghapus sangkaan bahwa yang liyan, yang tidak berpuasa, juga punya cinta untuk dibagi. dan berbagi cinta dengan yang lain. bukan!! bukan untuk dihormati pula !

ini mungkin krn anggapan (menurut GM) puasa benar2 untuk dinikmati sendiri. tidak ada kaitannya dengan sosial, yang liyan.
takwaku hanya untukku sendiri. entah disebelah rumahku sedang kebakaran, atau berubah menjadi tempat pij*t. saya berpuasa terserah anda mo ngapain. takwa sendiri (mungkin)masuk surga sendirian.

dan ni yang tak perlu ditanggapi karena benar2 dilihat dari sudut yang berbeda: pemerintah harusnya tegas minuman alkohol (t4 bar, klub) harusnya dilenyapkan tidak hanya di bulan ramadhan saja.
t4 tersebut dilain menambah murka Allah jg membawa dampak negatif di masyarakat. saya yakin banyak orang yang ga mau bekerja di tempat seperti itu (apalagi panti pij*at) pemerintahlah yang harus menyediakan pekerjaan yang layak bagi budaya timur.

teropong kecil

11. goop - September 21, 2007

Ada pengetahuan yang baru, kesadaran baru, tekat baru setelah membacanya, dan ketakutan untuk dihormati yang sama, bila harus mengganggu keleluasaan sesama.

-Matur nuwun-

12. jaka - September 21, 2007

Gak usah repot2 jika anda gak ingin dihormati dan tak ingin dianggap orang yang gila hormat ketika sedang berpuasa. Caranya adalah dengan puasa sunat senin kamis atau puasa 6 hari di bulan syawal. Situasinya justru berbeda karena anda berpuasa pada saat orang lain merayakan lebaran dengan aneka kue2.
Terus terang, tulisan GM kali ini kurang bermutu, cuma bahasa khasnya aja yang nampak memikat, karena mengangkat masalah hormat-menghormati sebagai tema sentral puasa, padahal yang lebih sentral tentang puasa adalah tema tentang humanisme (lihat tuh di Bengkulu dan Sumbar, dan Aceh, dan bahkan di Jkt sendiri di bawah2 jembatan dan pinggir kali). Apa gak tersentuh, kenapa masalah hormat menghormati yang diributkan.

13. titik - September 21, 2007

kadang-kadang setelah banyak yang terjadi, aq pikir apapun yang dilakukan dan dibuat, karena melalui proses perasaan dan hati. dan aq maklum kenapa aku, kita dan dia minta dihormati dan menghormati. because qt manusia yang hidup dengan rasa.

14. Iqbal@l_Imam - September 21, 2007

SETUJU..!!!

Aku suka puasa. tapi aku benci bulan Ramadhan.

Karena BERISIK. 🙂

15. satyaning - September 21, 2007

alangkah kasihannya mereka yang berpuasa di eropa. mana waktunya lebih panjang dimusim panas, dan tidak ada yg “menghormati”. diluar semua tetap seperti biasa, tidak ada peraturan secuilpun yang melarang orang untuk tidak “menggoda” dan “melecehkan” yang berpuasa.
semua bersliweran seperti hari-hari lain. biasa-biasa saja. dan yang puasa juga biasa-biasa saja, tetap puasa.
berpuasa, sungguh biasa buat melakukan bagi yang beriman. tanpa peraturan dan perintah, tanpa rasa takut dsbnya …….

terimakasih mas goen,

16. ibra - September 22, 2007

kalau memang konsep “dosa” itu ada dan berlaku umum, kemungkinan besar kroteria itu dapat “di stempelkan” pada kelompok orang yang kerap mempermainkan hidup orang lain.

dengan mencermati pengalokasian APBD kurun waktu 1998 sampai dengan 2005, sebagian besar Pemerintah Daerah beserta DPRDnya ini dapat digolongkan dalam kategori di atas.

(kurun waktu di atas dapat jadi cerminan era sebelum OTDA dan sesudahnya)

jelas sekali mereka bukan orang yang kompeten. belum lagi kalau ditambah kebanyakan di antara mereka tidak becus bekerja.

apa-apan punya pemerintah macam begituan. sekalinya bikin aturan, eeeeh malah ngga jelas pula! apa apaan nglarang orang buka warung!!!
udah laah bikin patung aja sana!

sori, emosi nih…. 🙂

tapi ya sudahlah…mungkin benar juga seorang teman saya berteori tentang “rebutan pengaruhh” di ranah ide. bahwa kemungkinan besar konsensus tentang “ide yang lebih baik” yang terpilih hanya mimpi. yang ada hanya hegemoni. disitu yang lebih kuat katanya yang akan dianggap rasional dan lebih baik.

teman saya ini sebetulnya lebih suka dengan kriteria idealnya john rawls. bahwa mestinya yang lebih lemah mestinya dikasih tempat.

saya sepakat. saya malah menganggap itu sudah terjadi.

sebab mungkin, orang-orang di Pemda dan DPRD itu memang orang-orang yang lemah secara akal.

17. zaki - September 22, 2007

Puasa adalah oase dari sebuah tahun. Bayangkan betapa busuknya suatu “tahun” yang berlalu tanpa satu bulanpun yang di dalamnya penuh nuansa rohani dan insani meski kelihatan situasional dan simbolis. Tapi mayoritas masyarakat kita, bahkan dunia, masih berkutat pada tata nilai simbolis. Simbolis adalah permulaan menuju esensi. Dalam Islam, simbolisme itu adalah ibadah dan esensi itu adalah akhlak, dan jangan mimpi bisa mencapai akhlak luhur tanpa adanya ibadah. Tentu saja Ramadhan tidak serta merta sanggup membenamkan seluruh kebusukan di sekitar kita. Kalau tanpa Ramadhan, pembusukan itu akan berjalan seperti tanpa rem dan kendali. Meskipun rem itu kelihatan seperti sebuah pemaksaan, seperti imbauan (bukan larangan resmi dari umat Islam) untuk tidak membuka diskotik dan tempat pelacuran secara transparan. Jika pembusukan berlangsung tanpa kenal kompromi dan logika, kenapa pemaksaan untuk sesuatu yang baik harus memakai logika segala.

Ramadhan adalah ibarat sebuah cetakan yang bisa membentuk suatu nilai luhur yang bermartabat dalam masyarakat. Kalau memang ada orang yang terganggu hidupnya karena tidak bisa menjual bir atau melacur dalam bulan puasa, itu adalah konsekwensi yang sangat minimal yang harus dia pahami sebagai penduduk di negeri yang mayoritas Muslim. Kalau tidak mau dibatasi oleh norma2 seperti itu, silahkan pindah ke negeri2 yang mayoritas penduduknya non muslim. Konsekwensi ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan konsekwensi yang harus diterima oleh muslim2 di Eropa dan amerika sebagai Muslim yang minoritas yang terkadang harus terintimidasi dan terlecehkan tanpa ada pemberitaan.

Jadi menurut saya, jika ada umat non muslim yang merasa terganggu dengan imbauan moral selama bulan Ramadhan, itu adalah umat yang tidak tahu di untung.
Atau mungkin hanya GM dengan sentimentalitas khasnya mencoba membesar2kan masalah imbauan moral ini, sedangkan dalam kehidupan nyata semua normal2 aja.

18. danalingga - September 22, 2007

Ah, kenyataan memang tidak seindah ayat ayat suci. Terima aja kang, habis mau gimana lagi. *miris*

19. fertob - September 23, 2007

ah, di negeri ini banyak juga yang terlecehkan tanpa pemberitaan…

Bung GM, terkadang manusia beribadah bukan dengan rasa pasrah terhadap Sang Pencipta sambil mematikan ego, tetapi beribadah dengan menyombongkan diri dan meninggikan ego. Bung GM terlalu spiritualis dalam memandang fenomena beribadah. 🙂

20. Doel Dal - September 23, 2007

Sayogyanya menghormati itu berangkat dari nurani masing-masing, dari jiwa person atau memakai bahasa Mas Gun dari hati yang ikhlas dan sukarela. Tapi juga bisa berangkat dari sebuah aturan, dari sebuah tekanan. Selanjutnya timbul tanda tanya. kenapa harus seperti itu?

Mencoba saya menjawab, bahwa itu muncul karena tidak ada kesadaran dalam beragama. Di Negara yang saya injak sekarang, Mesir. Sama seperti indonesia. Semua berangkat dari tekanan, lebih tepatnya dari suatu aturan. Pernah pada suatu hari saya mengantar tamu. Tamu tersebut mintak tinggal di hotel dekat Nil yang ada ‘kehidupan malamnya’. Saya keliling ke semua hotel dan semua hotel memberi jawaban “bulan ramadhan tidak ada yang namanya ‘kehidupan malam’ buka”. Kehidupan malam yang saya maksud di sini bar dan saudara-saudaranya. Saya balik bertanya “kenapa?”. “ya begitulah aturannya”. Sambil mengangkat kedua lengannya penjaga itu menjawab. Seperti ada sebuah keterpaksaan. Persis seperti yang mas GM bayangkan bahwa kesadaran untuk hormat menghoramti kadang berangkat dari sebuah tekanan dan aturan.

Tapi kenapa seperti itu?. Aturan dan tekanan tidaklah berangkat dari hal yang kosong saya kira. Pemerintah dalam hal ini yang punya power untuk itu, sadar betul bahwa kita yang bernafsu, kita yang retak tidak bisa begitu saja sadar dan tau diri. Karena itulah perlu adanya aturan sebagai kendaraan atau pengingat untuk mencapai satu kesadaran. Spanduk-spandukpun di pampang dengan coretan “Hormatilah orang yang berpuasa”.

Saya teringat ketika saya di khan Halili (tempat belanja para pelancong di samping masjid Husain). Di tempat yang meski di bulan ramadhan orang makan dan minum itu sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa kita saksikan. Saya masuk ke salah satu tempat belanja, sebelum saya memilih barang penjaga tokoh bilang “kamu muslim?, “iya kenapa?”, “sorry aku masihi dan sorry aku merokok” jawab penjaga itu. Dan saya bilang “kamu punya hak (merokok) dan saya juga punya hak (puasa)”. “meski kau punya hak (puasa) dan aku punya hak (merokok) tapi saya juga di ajarkan dalam agama saya (masihi) untuk menghormati hak orang lain”. Saya tertegun mendengarnya dan seraya merangkul orang itu saya bilang “semoga tuhan memberkatimu”.

Dari pengalaman saya yang sempit itu saya menemukan bahwa kesadaran bisa muncul dari keikhlasan juga bisa muncul dari satu aturan atau tekanan. semuanya sah-sah saja saya kira.

yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah bagaimana kalau kesadaran itu tidak muncul dari individu dan keikhlasan?. Apakah dengan tekanan secara paksa dan aturan yang harus kita tempuh?, saya kira tidak perlu. Saya kira dalam semua agama pasti ada ajaran untuk saling menghormati. Kita sebagai manusia juga pemerintahlah yang punya kewajiban untuk berbenah dan memberi pengertian bagaimana beragama secara benar, bagaimana hormat menghormati diantara kita. Itulah yang perlu ditekankan saya kira. Bukan dengan satu pemaksaan, kalau seperti itu adanya mana hormat kita kepada orang diluar agama kita?, pun sebaliknya orang yang kita kasih kehormatan seperti itu seharusnya sadar dan mengerti sampai batas mana menjalani hidup dengan kondisi yang diluar mereka melakukan ibadah puasa. Intinya ada sebuah kesadaran dalam beragama.

Dalam tulisan mas Gun saya mencoba menangkap bahwa beliau tidak ingin di hormati karena persoalan individu beliau. agama itu privasi dan karena beliau islam maka beliau wajib puasa dan karena wajib puasa yang privasi itu beliau ingin semuanya berjalan seperti biasanya, seperti tidak ada yang puasa. Semua tempat pijat buka, semua minuman apapun jenisnya tersedia. Dengan seperti itu justru kita benar-benar diuji sampai mana batas kekuatan iman kita.

Meski semuanya boleh-oleh saja. Tapi lebih hormat saya kira kalau kita biarkan semua berjalan apa adanya. kita memberi hak terhadap mereka diluar kita yang tidak berpuasa. Dengan begitu semuanya akan jelas mana yang putih dan mana yang hitam. Karena sebenarya bumi ini bukan milik kita yang ‘puasa’ tapi milik kita atas nama ‘manusia’ apapun bentuk dan keyakinanya.

21. ama - September 23, 2007

GM 100 persen benar. Orang Islam di Indonesia cenderung manja, minta dihormati, sok suci, padahal korupsinya banyaaaaak.

22. b0nK - September 23, 2007

Bung Doel Dal, saya sependapat dengan Anda… Apalagi di Indonesia, ramadhan kini tak lebih dari sekedar peak season konsumsi dan belanja keluarga muslim, terlalu banyak gembar-gembor tentang kesucian tapi sekaligus obral “acara ramadhan” yang sebenarnya justru kontraproduktif terhadap kualitas “ber-ramadhan” setiap individu didalamnya. Seperti juga kata Sdr. Iqbal diatas, bulan ramadhan jadi terlalu berisik, rame gak keruan yang gak penting banget… Esensi ibadah privat karakteristik ramadhan jadinya malah gak kepegang, yang sisa tinggal lapar dan haus doang… Ramadhan harusnya bulan suci, bukan bulan “sok suci”…

23. zaki - September 23, 2007

Kalau saya pribadi sih sama sekali tidak butuh penghormatan dari manusia, baik dari orang Muslim sendiri, apalagi dari yang non muslim.
Karena saya tahu penghormatan dari manusia adalah semu, munafik dan penuh basa-basi.
Lalu sudah siapkah kita untuk hidup secara terbuka dan tanpa basa basi? Saya kira kita belum sanggup. Bagaimanapun juga dunia ini perlu basa basi. Karena basa basi adalah etika dari dunia yang gila dan penuh kemunafikan ini. Siapa bilang dunia ini waras. Siapa bilang tidak ada kemunafikan. Siapa bilang dunia ini jujur. Kita belum dan tak akan pernah siap untuk blak2an. Topeng tetap diperlukan, dan itu harus dihargai dalam konteks dunia yang penuh kemunafikan.
Bayangkan jika semua bicara secara jujur, terbuka tentang semuanya. Bahkan seorang yang dipandang tokoh agama dan negarawan pun punya rahasia yang ditutup dengan bermacam dalih. Bahkan diri saya sendiri, para komentator, penulis caping sendiri, pasti tidak akan siap untuk terbuka secara frontal dan hidup tanpa rahasia.

24. Toni - September 25, 2007

PUASA YANG MEMENJARAKAN TUHAN

Ramadan 1428 datang menghampiri kita. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan kita sambut dengan semangat suka cita, Marhaban ya Ramadan! Terkandung juga semangat perubahan di dalamnya. Berubah dan berbenah ke arah yang lebih baik, seperti pesan puasa itu sendiri

Namun, di samping mengandung semangat optimisme, ada pertanyaan penting yang perlu dikemukakan, berkaitan dengan semangat perubahan itu. Benarkah puasa telah benar-benar mengubah perilaku masyarakat kita?

Bertahun-tahun Ramadan datang, namun tetap saja masyarakat kita begini-begini saja. Tingkat korupsi malah meningkat tinggi, bahkan seolah sudah mendarah daging dalam berbagai sektor masyarakat. Jumlah penduduk miskin tidak malah berkurang. Vandalisme merajalela, main serobot hak orang lain makin membabi-buta, tingkat konsumerisme yang tinggi. Pemakaian narkoba, minuman keras, perselingkuhan, dan perjudian masih tetap jalan. Pertanyaannya adalah apakah ajaran puasa yang salah salah? Atau kita salah dalam memahami dan menjalankan ibadah puasa?

Puasa Normatif

Secara normatif, puasa selama ini dianggap punya beberapa “kesaktian” dalam memperbaiki perilaku pelakunya. Pertama, puasa adalah jalan untuk pengendalian hawa nafsu. Dalam puasa kita diuji secara ekstern untuk mengendalikan keinginan-keinginan, meskipun keinginan itu sah dan halal. Dengan teori itu, kita diharapkan mampu mengendalikan keinginan-keinginan yang tidak sah dan haram: jangan makan makanan haram (babi, bangkai, darah); jangan pula makan makanan yang diperoleh dengan cara haram (mencuri, merampok, korupsi); jangan minum minuman haram (bir, arak, tuak); jangan pula menenggak barang haram (narkotik dan obat-obatan terlarang); jangan mendekati dan berbuat zina (seks pra-nikah, selingkuh)!

Tidak cukup itu saja, puasa juga dianggap sebagai jalan menuju pola hidup zuhud (bersahaja, sederhana, tidak kedonyan). Dalam puasa, kita diajari bagaimana memanfaatkan kepemilikan secara bersahaja; tidak menghambur-hamburkan dan berfoya-foya, meskipun kita sadar itu milik kita, bahkan sesuatu yang berlimpah. Kita makan cuma dua waktu (buka dan sahur, dengan rentang waktu sekitar 14 jam).

Kedua, puasa adalah jalan menuju pola hidup sosial (berbagi empati, berbagi kepedulian, berbagi kelebihan). Dengan merasakan tidak makan dan minum dalam rentang waktu yang cukup panjang, kita diharapkan mampu berempati, betapa sengsaranya kawan-kawan kita yang serba kekurangan. Mereka lapar tapi tidak cukup tersedia makanan. Mereka haus, tapi tidak tersedia minuman. Puasa mengajari kita untuk perhatikan mereka yang tertindas, yang fakir-miskin, yang tergilas oleh mesin pembangunan. Maka penuhi hak-hak mereka yang selama ini kamu genggam erat-erat; bukankah dalam kelimpahan hartamu, terkandung hak-hak fakir-miskin.

Ketiga, puasa adalah jalan untuk proses berpikir dan bertindak jernih untuk kepentingan jangka panjang. Dengan bertahan untuk tidak tergoda oleh hal-hal yang menggoda selera sebelum waktunya tiba. Orang yang berpuasa pada dasarnya berlatih sekaligus memperagakan proses bersikap sistematis jangka panjang. Dengan mempertahankan kemurnian puasa melalui kalimat “inni shaimun” (sesungguhnya aku sedang berpuasa) ketika ada pihak-pihak lain yang memprovokasi untuk berbuat tercela, maka sesungguhnya kita telah memperagakan model berpikir jernih jangka panjang.

Keempat, puasa adalah jalan menuju kejujuran dan tanggungjawab. Dalam puasa sejati, kita tidak akan mencuri minum seteguk air pun, meskipun orang lain tidak tahu. Inilah peragaan penting sikap jujur dan rasa tanggungjawab kita. Bahwa jujur dan bertanggungjawab itu tidak tergantung pada pihak-¬pihak lain, melainkan sangat dipengaruhi oleh kesadaran kita sendiri sebagai makhluk yang selalu mendapat perhatian dan pengawasan Tuhan.

Penjara

Dalam perspektif normatif seperti diuraikan di atas, tentu puasa akan menjadi alat yang sangat ampuh untuk memperbaiki kondisi masyarakat kita yang mayoritas Muslim, dan tentu saja mayoritas juga menjalankan puasa. Tetapi faktanya, tidak seperti itu. Masyarakat kita sangat permisif, juga koruptif. Kejahatan terjadi di mana-mana. Sebutan preman bukan lagi dalam pengertian konvensional, melainkan sudah bergeser pada “preman berdasi”, juga “preman berjubah”. Pertanyaannya, mengapa puasa aktual tidak sama dengan puasa dalam ideal?

Salah satu jawabannya adalah kegagalan kita dalam memaknai pesan Rasulullah SAW berkaitan dengan puasa ini. Dalam pesan khutbahnya menyambut Ramadan, Rasulullah SAW memang memberi motivasi sangat kuat untuk berbuat kebajikan, dengan imbalan-imbalan yang istimewa. Misalnya Rasulullah SAW berpesan, “… Barang siapa melakukan salat fardhu, baginya ganjaran seperti melakukan 70 salat fardhu di bulan lainnya. Barang siapa memperbanyak salawat di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan yang lain ringan. Barang siapa di bulan ini membaca satu ayat Alquran, sama nilainya dengan mengkhatam Alquran pada bulan yang lain.”

Kegagalan dalam menangkap pesan itu adalah ketika kita menganggap hanya pada bulan Ramadan ini saja dianjurkan berbuat kebaikan karena pahalanya berlipat-lipat, dan dilarang menjalankan kejahatan. Sebagai akibat kegagalan memaknai pesan itu kita menjadikan bulan Ramadan sebagai “penjara” Tuhan. Seolah-olah Tuhan itu hanya ada di bulan Ramadan, sehingga kita benar-benar taat pada Tuhan. Kita berbanyak amal kebaikan dan sedapat mungkin meninggalkan keburukan di bulan ini.

Maka kita perhatikan orang berlomba-loma berbuat kebajikan di bulan Ramadan, bahkan zakat maal yang ketentuannya hanya berbunyi dikeluarkan setahun (tanpa menyebut bulan), harus pula dikeluarkan di bulan Ramadan. Masjid menjadi sangat ramai (malah bising) oleh pengeras suara orang membaca Alquran. Masjid-masjid penuh oleh jamaah salat tarawih, sebuah salat malam (tahajjud) yang sangat populer, tapi tidak populer di luar Ramadan. Jumlah peminta-minta di sekitar tempat ibadah meningkat tajam. Bahkan televisi pun sok alim di bulan Ramadan, menyajikan acara-acara yang bernuansa relijius. Sebaliknya, kejahatan sedapat mungkin dihentikan, sampai-sampai lokalisasi pelacuran dan tempat hiburan malam harus tutup khusus di bulan Ramadan.

Tentu, kebiasaan memenjarakan Tuhan pada bulan Ramadan memberi efek domino. Di luar bulan Ramadan, Tuhan pun akhirnya dipenjara pada tempat-tempat suci belaka. Bagaimana tidak disebut “memenjarakan” Tuhan, jika Tuhan hanya “digantung” di pojok masjid atau di mimbar majelis taklim! Sementara di kantor, di pasar, di pabrik, di pusat hiburan, atau di istana, Tuhan dicampakkan.

Artinya, ketika di tempat-tempat suci kita menjadi orang yang sangat santri, yang taat dan alim, tetapi ketika di kantor kita korupsi, di pasar kita melakukan kecurangan, di pusat hiburan kita mengumbar hasrat maksiat, dan di istana kita menjadi otoriter dan menindas. Jadi, meskipun kita percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak kita hiraukan sama sekali di luar tempat dan waktu suci. Di tempat-waktu itu perintahnya kita tendang dan larangannya kita jebol.

Seolah-olah kita adalah sosok manusia yang tidak mengenal Tuhan, sehingga bisa bertindak bebas nilai. Dan sebaliknya, ketika kita berada di tempat-waktu suci, kita berlagak sangat akrab dengan Tuhan. Berkerudung, berpeci, memisahkan jarak dengan wanita/pria (berhijab), khusyuk, tidak (berani) mengorupsi dana masjid, tidak mabuk-mabukan di masjid (mana ada orang mabuk di masjid?), dan sebagainya.

Memenjarakan Tuhan sama artinya dengan membatasi wilayah kekuasaan Tuhan, bahwa Tuhan hanya berhak mengatur kita di tempat-tempat sakral dan tidak berhak mengatur kita di tempat-tempat profan. Tuhan yang kekuasaannya mutlak hanya kita batasi pada wilayah kekuasaan spiritual. Sementara soal-soal dunia (bekerja dan bergaul) wilayah kekuasaannya kita kangkangi sendiri. (*)

25. sillaturahim - September 28, 2007

nice artikel

26. anggayuh - September 30, 2007

kata temen saya, jangan puasa! kita cuma ditipu orang arab
kata temen saya yg lain, puasa itu satu-satunya hubungan personal manusia dengan tuhannya
kata saya, kalau `kuat` ya puasa..kalau enggak `kuat` ya nggak usah puasa, just as simple as that

27. Mubayok - Oktober 8, 2007

Masalahnya sebenarnya, anda semua termasuk mas GM terlalu mempermasalahkan hal yang tidak sepenting esensi puasa sendiri. Sekarang, saya ajukan pertanyaan: diantara sekian banyak para komentator…siapa yang merasa puasanya sempurna..?? termasuk mas gun..?? kita hanya suka ngomong2 sok mantap..padahal..diri kita sangat jauh dari mantap..kalau suruh ngomong..semua orang juga bisa..tapi..mana buktinya..?? mana bukti “saya berpuasa, menyerahkan diri pada Allah..blabla..??” kalau sekedar bicara..apa gunanya..??

28. Engelbertus P Degey - Oktober 8, 2007

saya termasuk orang yang gemar membaca catatan pinggir dari Goenawan M. Setiap kali membeli tempo atau membeli Tempo hanya dengan tujuan mau membaca tulisannya Goenawan M.

Saya baru membuka situs ini dan terus saya akan membuka, untuk sekali lagi mau membaca tulisan-tulisan mas Goenawan M. TUHAN berkati, selamat berpuasa dan damai-damai selalu.

29. enaj - Oktober 9, 2007

ini tulisan buat penganut agama apapun… banyak orang beragama yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain… thanks, gm…

30. al fatih - Oktober 21, 2007

Allah akan merobek-robek mulut orang ini, di dunia maupun di akhirat.

31. Bee - November 9, 2007

saya pribadi sangat menjunjung tinggi pendapat siapapun disini karena saya merdeka..tanpa melihat dia siapa..muslim,kristen,hindu,budha,Goenawan M,manusia,jin,binatang or else..saya merdeka karena saya yakin siapa yang menjaga.
Puasa bagi muslim itu WAJIB (titik) biar jelas. Siapapun boleh menterjemahkan,mengapresiasikan,melihat dampak pribadi atau sosial dari puasa itu sendiri. Masalah hasil manivestasi dari puasa itu sendirinya “CUMA KITA DAN ALLAH SWT YANG TAU” , GM hanya mengetengahkan apresiasi dan kegilisahannya menurut versinya. Jadi kepada rekan2 silahkan berkomentar saja tanpa harus menghujat,menyumpahi satu sama lain. Belajardeh memerdekakan orang lain..

32. Muslim Jusuf - Februari 20, 2008

dihormati? gak juga tuh………
ngerusak kafe? nutup warung makan? belum dewasa beribadah kaleee … (maunya ga ada godaan)
cuma penulis ini seperti tulisan “anak SD yg baru belajar puasa”
semua serba ingin dilihat orang
padahal kan puasa “Aku yg langsung memberi balsannya (Hadist)”

33. antarix temennya oBelix - Februari 23, 2008

Jadi tersindir, takut jg nih:) Seperti halnya razia thd kafe2, banyak sekali dipertontonkan kepada kita semua “razia warung makan kecil oleh organisasi yang mengatakan dirinya sbg organisasi paling suci, dan juga razia oleh aparat2 pemerintah” ketika bulan puasa, ini adlh satu contoh nyata yg menyatakan bahwa yg puasa (=baca yg merasa lbh suci krn melaksanakan perintah Allah) ingin dihormati. Kalau menurut saya semestinya berkebalikan dg itu, yang berpuasa yg harus menghormati para “pedagang2” itu, dan juga tetap menghormati org lain baik yg berpuasa ataupun tidak, dan tidak perlu bersuudzon kalau mereka berniat ‘menggoda’ yg puasa, gak perlu keGRan ach….

34. pak de - Maret 17, 2008

wew…saya hanya merasa gregetan disini masih banyak yang dangkal membaca Caping dari GM

35. deddy arsya - Maret 19, 2008

al-fatih, tuhanmu tak akan merobek-robek mulut siapa pun.

36. deddy arsya - Maret 19, 2008

Muslim Jusuf,
ayo, ayo baca lagi!

37. Guyonae - April 3, 2008

@al fatih
“Allah akan merobek-robek mulut orang ini, di dunia maupun di akhirat.”
Kajam, sensitif, dan emosional kali Tuhan mu bang…

nb: Kalau emosi jangan bawa2 nama Tuhan…jangan dibiasakan ya dek!!

38. ODI - Mei 25, 2008

@al fatih
“Allah akan merobek-robek mulut orang ini, di dunia maupun di akhirat.”

ASTAGA !!KEJAM ,SERAM BERAT,…Tuhan seperti apa yang adek bayangkan,seram amat !

39. Mahavatar Dhammaraja - Agustus 2, 2008

muslim selalu bertingkah seperti tuan besar. nyamuk pun tertawa melihat muslim.

40. wis vayu tah dol-dolane - Agustus 3, 2008

@Mahavatar Dhammaraja
Jangan asal comment kalau gak ngerti permasalahan. Saya udah mampir ke blog anda…dan comment saya selalu di hapus (makanya saya menulis di blog ini 😛 ). Blog anda lucu juga…mendekati kegilaan…terobsesi sama film anak2…ngaku2 neo di film matrix…keturunan gatot kaca yang bisa terbang.. kapan anda berkuasa di dunia seperti yang anda katakan? Kan katanya anda ratu adil. Kebencian saudara tak menghasilkan apa-apa selain mempertontonkan kebodohan anda sendiri

41. ratu adil satriapinandhita - Agustus 3, 2008

kenyataannya islam memang menjijikkan kok…silahkan baca disini. Benarlah adanya kalau manusia adalah keturunan alien. Dan saya adalah neo yang diturunkan ke bumi untuk menyelamatkan manusia. Karena saya ratu adil. Dan usia saya bisa 9000 tahun. Jika saudara2 tidak mengikuti saya…tunggulah kehancuran dunia. Semua agama yang ada didunia sekarang ini tai kucing semua…kecuali agama Vayu yang saya sebarkan….ha..ha..ha

42. Inprodic - Agustus 3, 2008

@ ratu adil
Hua… haaa. haaa….
Kalau kita ini keturunan alien, kamu juga doonk…..
Kalau kamu neo, kamu bisa nge-hack ini blog doonk…
Kalau semua agama tai kucing, kota Mekkah, Vatikan, dan Yerussalem jadi bau doonk…

43. wakhit - September 2, 2008

aku suka dengan kesadarannya tentang aku, tubuh, dan sosial, yang pas dengan kondisi saat ini. pas juga cara bicaranya, hingga tak perlu mengajak Ponte, Camus, atau bahkan Foucoult. sudah tak perlu. makasih mas Gun.

44. gobel - September 4, 2008

Yap…paling takut dihormati. Karena penghormatan akan membawa kita kepada ke kukufuran. Belum tentu kita menjadi seperti yang di byangkan orang yang menghormati.

Lebih baik diam,,,,tundukkan kepala

45. Babu Ngeblog - September 5, 2008

tulisan seperti ini yang Rie cari

46. Brahmachari - September 6, 2008

Kenapa sih kita selalu terjebak dlm simbolisme?

organized religion bnr2 merusak, kembalilah ke personal religion!!

47. ilmi - September 27, 2008

Puasa selain mendekatkan diri dengan Tuhan juga mendekatkan diri dengan tubuh, dengan kekurangan dan kefanaannya.
Dan memang mau tak mau mengalami diri bukan sebagai sebuah ide dan konsep yang abstrak”
Lumayan merenungi kembali tulisan GM di bulan puasa kayak gini….

48. Zul Azmi Sibuea - Mei 4, 2009

yang mana yang dimaksud, puasa ibadat. atau puasa kultur
mestinya tidak usag ditabrakin keduanya, puasa ibadat , maka laksanakan puasa aja, sisanya terserah Tuhan – jadi menyerah , kalau puasa kultur, baiklah marik kita melaksanakan puasa secara kultural, kebiasaan masayarakat sini menuliskan “hormatilah yang berpuasa”, terserah kalau karena itu semakin hormat ya biarin aja ambil situ, tapi kalau itu tidak berarti bagi anda , yah.. ndak apa-apa juga.
pencampur adukan keduanya seperti nya memberi rasa aman , taoi takut dosa. menurut saya mah kalau mau puasa , puasa aja – that simple.

49. Norman Geohagan - Juli 9, 2011

I very much like your website’s articles and all and i like the theme including the visuals but probably it needs a new look, its been quite some time, who else agrees with me?

50. kota salju - Juli 13, 2011

privilease adalah sesuatu yang bertentangan dengan konsep rendah hati.

menghargai sesuatu yang fana, dan berterima kasih pada setiap momen empati.

51. Jarrod Ettinger - Agustus 9, 2011

Very nice post, visit again this fantastic blog

52. joko lelono - Juli 30, 2012

maka… dewasalah negeriku, bertumbuhlah.
saya takut juga dihakimi, mungkin karena imanku juga cetek… wuussh… kabur ah…

53. Edy - Agustus 5, 2012

Apapun puasanya, intinya adalah pengendalian diri.

54. baby gifts - April 10, 2013

Kossuth~ The unspoken word never does harm.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: