jump to navigation

Myanmar Oktober 1, 2007

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Elegi, Fasisme, Identitas.
trackback

Kau benar, Suu Kyi: keberanian bisa menular. Ia juga bisa menyentuh. Dunia kini tengah menyaksikan dengan kagum deretan 10 ribu biarawan dan biarawati berjubah merah berbaris dari Pagoda Shwegadon, menapak jalan-jalan kota Yangoon. Telah sepuluh hari lamanya mereka utarakan apa yang selama ini telah kau utarakan, mereka ucapkan apa yang selama ini dibisukan: pemerintahan militer tak bisa diterima! Myanmar tak bisa ditindas!

Mereka juga datang memasuki Avenue Universitas, mendekat ke rumah tempat kau ditahan selama sebelas tahun. Seratus orang polisi mencegah. Para biarawan itu mundur. Tapi akhirnya ada yang juga mendekat. Orang-orang melihat kau muncul di jendela. Kau melambai, menyambut mereka—dengan mata basah.

Aku ingin sekali berada di jalan itu, Suu Kyi. Tiap keberanian untuk keadilan adalah cercah harapan—benda langka di zaman yang sinis. Seperti berkah yang hilang, seperti wahyu yang selalu tertunda. Tapi keberanian, biarpun sejenak, bisa menular, kau pernah bilang. Aku tak heran ketika Aung Way, sang penyair, kemarin berkata, ”Besok banyak lagi yang akan serta!”

Hari ini, ada yang dihalau dari Myanmar. Tak akan banyak lagi yang akan bilang: ”Kita semua hanya memikirkan diri sendiri.” Kau pernah katakan, rasa takut itu mengkorup jiwa, tapi ada yang lebih jahat ketimbang itu, Suu Kyi: ketakpercayaan kepada yang baik dalam diri sesama. Sinisme itulah yang membinasakan kita.

Memang, orang bilang, sejarah tak selamanya dibikin dari optimisme. Sebab itu aku tak akan bicara tentang itu. Tapi jelas: kelaliman, kesewenang-wenangan, dan penindasan yang dirasakan luas adalah sebuah kehilangan yang menusuk hati. Dari liang luka itulah keadilan disebut sebagai hasrat yang kuat dan kebebasan jadi pekik yang keras. Tanpa seorang pintar pun yang mendefinisikannya.

Kau pasti tahu, dari pengalamanmu, sebuah rezim tak dengan sendirinya rubuh di depan pekik itu. Tapi para jenderal itu—dengan seragam mereka yang wagu tapi yakin—kini tak bisa lagi mengatakan, ”Hai, kalian tak mewakili bangsa ini! Kamilah yang mewujudkannya!” Kini ribuan jubah merah yang bergerak itu adalah tanda kesekian dari zaman yang bergerak, dengan suara yang menggugat: ”Tuan-tuan tidak mewakili kami! Burma telah jadi sebuah jurang!”

Tapi tentu saja Myanmar bukan sebuah jurang yang walau dalam tak punya udara lepas. Sebab bukan hanya protes seperti itu yang kini jadi berarti, Suu Kyi. Di bawah teror bahasa yang selama 45 tahun dikuasai koran resmi yang buruk, ucapan kecil, ungkapan lucu, saling tatap yang muram, bahkan senyum dikulum—semuanya jadi bagian dari penolakan. Karena tiap frase di Myanmar kini adalah klise, karena tiap klise adalah represi, dan tiap represi membuat gagu. Yang ajaib ialah bahwa gagu itu menjalar tak sepihak. Para jenderal di podium itu ikut terkena: bahasa mereka tak berbunyi lagi.

Aku ingat Zagana, komedian kota Yangoon yang selama ini dibiarkan oleh rezim karena cemoohnya dianggap tak berbahaya. Ia sebenarnya sudah lama membangkang, dengan ucapan-ucapan lucu, mengejek, yang pintar. Tapi kini ia lebih dari kocak. Aku dengar ia bilang akan menyediakan makanan dan minuman bagi para pemrotes. Itu bukan isyarat sepele—sebab tentara telah menembak sembilan orang mati, ratusan biarawan disekap, beberapa biara dikepung, dan jam malam diumumkan.

Beberapa bulan yang lalu, di puncak Bukit Mandalay, di balustrada yang memanjang dari patung perak Sang Buddha, biarawan muda yang aku belum berani sebut namanya itu menunjuk jauh ke bawah. Lihat deretan bangunan kuning itu, katanya. Penjara Myinchan. Dan aku tahu apa maksudnya.

Burma sebuah penjara, ia seperti menirukan Hamlet yang menyimpan dendam. Tahun 1988, ia berbisik dalam bahasa Inggris yang bagus. Kami semua ingat 1988. Apa yang terjadi di tahun itu? Ia menjawab: 3.000 demonstran ditembak mati.

Dan dunia tak bisa berbuat banyak. Kau pasti cemas, Suu Kyi. Dunia selalu tak akan bisa berbuat apa-apa kecuali mengeluarkan kata-kata jika nanti lebih banyak orang ditembak. Indonesia, negeriku, yang pernah menumbangkan sebuah rezim yang mirip, mungkin juga akan tak malu untuk hanya diam—sebagaimana ia juga dulu tak malu-malu membiarkan kaum fasis itu masuk ASEAN. Dan kami, yang di kejauhan menyatakan simpati, yang menulis, membuat statemen, mengenakan baju merah mengikuti protes di Yangoon dan Mandalay, hanya bisa sebatas ini.

Tapi keberanian tak hanya menular, Suu Kyi. Keberanian membangun sesuatu ke dalam diri. Hari-hari ini protes mungkin akan gagal. Tapi bangunan batin itu akan bisa tetap, mungkin makin meluas dalam mengalahkan ketakutan, mengusir sinisme. Mudah-mudahan ia akan lebih bertahan ketimbang sebuah rezim—biarpun begitu banyak kekecewaan dalam sejarah. Sebab Myanmar telah punya sebuah tauladan: engkau. Sebab sejak hari ini tiap pagi harapan memanjat naik, biarpun pelan, lebih tinggi ketimbang 1.000 pagoda.

~Majalah Tempo Edisi. 32/XXXVI/01 – 7 Oktober 2007~

Komentar»

1. kamat rubakat - Oktober 8, 2007

…”Karena tiap frase di Myanmar kini adalah klise, karena tiap klise adalah represi, dan tiap represi membuat gagu. Yang ajaib ialah bahwa gagu itu menjalar tak sepihak. Para jenderal di podium itu ikut terkena: bahasa mereka tak berbunyi lagi.” ..

Ini dia satu lagi caping yang bisa saya masukkan jadi kandidat 50 caping favorit. Menyentuh, tapi tidak terjebank melankoli. Caping ini membuat saya, di Jakarta ini, tertular keberanian Suu Kyi, di Yangon, Myanmar sana, yang tidak saya kenal.

2. danalingga - Oktober 9, 2007

dan, sampai sekarang saya hanya diam.😦

3. kamat rubakat - Oktober 9, 2007

akan bergerak menuju Myanmar setelah uang utk ongkos ke sana cukup terkumpul..entah kapan

4. zaki - Oktober 10, 2007

Apakah kita sebagai bangsa Indonesia memiliki posisi yang kuat secara moral untuk mengutuk junta Myanmar? Kalau di sana ada Su Kyi yang di bungkam, di sini ada Munir yang diracun. Kalau disana ada penembakan warga di sini juga ada peristiwa alastlogo. Begitulah kira2.

5. Hanara - Oktober 11, 2007

Dan, seperti halnya Danalingga, saya pun sekarang masih diam, tak berbuat tak bergerak!

Setuju Pak/Bu Kamat Rubakat, saya luar biasa tersentuh dengan Caping kali ini….

6. satyaning - Oktober 11, 2007

sebenarnya, inilah unggulnya caping.
menggelitik orang buat berpikir, dan bertanya…
betul mas zaki, junta dimanapun sama. menggunakan kekerasan dan kekuasaan buat meracun, menembak, membunuh dan menindas buat membungkam dan menghilangkan.
untuk ini, tentu terimakasih buat mas gun (dan mas anick) yang selama ini tidak hentinya menembus tembok pembungkaman.
karena dalam gelap jangan sampai menjadi kelam.

7. Mantan penguasa - Oktober 12, 2007

Indonesia, negeriku, yang pernah menumbangkan sebuah rezim yang mirip, mungkin juga akan tak malu untuk hanya diam—sebagaimana ia juga dulu tak malu-malu membiarkan kaum fasis itu masuk ASEAN. Dan kami, yang di kejauhan menyatakan simpati, yang menulis, membuat statemen, mengenakan baju merah mengikuti protes di Yangoon dan Mandalay, hanya bisa sebatas ini.

Kalau Indonesia mah lebih parah dari Myanmar, Lihat daritahun 1965 sampai sekarang. dari era orde lama sukarno hinngga era reformasi SBY, gak ada bedanya. Saking parahnya, dari rakyat biasa sampai intelektual pun sama saja larut dalam kegelapan.

Buktinya: GM sendiri menyatakan bahwa Indonesia bersalah karena membiarkan rezim myanmar masuk ASEAN. Dan sekarangpun hanya bisa diam.
Pernyataan dari kalimat ini seolah2 hanya sebatas itulah kekejian Indonesia: diam dan membiarkan. Ini adalah cara berpaling yang cukup halus dan khas seorang intelektual dari kenyataan yang lebih keji yang pernah terjadi di Indonesia. Ini adalah penipuan diri sendiri yang tanpa sadar. Ini adalah bukti larutnya GM dalam kegelapan di indonesia. Intelektual2 lain, bahklan tokoh agama yang dekat dengan rezim, jangan tanya lagi, pasti lebih parah. Penipuan diri ini telah berjalan begitu sempurna sehingga seorang yang peka seperti GM saja bisa terlarut tanpa sadar.

Itulah sebabnya dunia internasional kapok dalam menyoroti kebebalan Indonesia, tak ada lagi golongan yang dianggap pantas untuk di ajak bicara. Kalau di Myanmar ada SU Kyi, di Indonesia ada siapa ? Semua nyaris sama saja. Ketika Pinochet dan Marcos di jatuhi hukuman di negaranya, suharto yang lebih unggul dalam hal korupsi dan pelanggaran HAM justru tidak di apa2in di sini.

8. andy tirta, yeungnam univ, south korea - Oktober 14, 2007

sebelumnya, saya mau bilang… alhamdulillah bisa ketemu caping lagi. dah dua bulan ini saya ga baca tempo coz disini ga ada yang jual sih.

iya nih, kurang ajar junta militer myanmar!!! kesel banget saya. menurut saya, apa yang mereka lakukan adalah pengambilan kedaulatan (freedom) dari rakyat myanmar oleh penguasa negara… dalam bahasa yang lain, ini adalah penjajahan internal!!! padahal seharusnya penguasa/pemerintah adalah ‘project officer’ dari kemakmuran dan kenyamanan rakyat…

Indonesia dan pak SBY harus berkontribusi besar di masalah ini dong… mengapa, karena kita sudah men-state as democracy country dan kita ga setuju dengan ke-otoriteran penguasa di suatu negara. klo kita ga berbuat apa2 (yang konkret tentunya), apalah arti pembukaan uud 45 kita yang mendukung perdamaian abadi dan menolak segala penjajahan di atas dunia.

keep fighting, my bro ‘n sis in myanmar !!! hope you get your freedom

9. Doel Dal - Oktober 17, 2007

….dan penindasan adalah keabsahan bahwa mereka adalah hewan….
….dan kita diam….
….dan pada diam kita boleh tunduk….
….tapi jangan sekali-kali takluk….

10. sonn - Oktober 18, 2007

bukan cuma di sana saja, bukan?

11. dhany - Oktober 18, 2007

BURMA…!
semoga berhasil cita-2nya

12. Fajar - Oktober 20, 2007

para biksu mengamuk bersuara tika keadilan dan kebenaran dibantai di depan mata. tapi sayang para ulam kita di sini hanya diam seribu bahasa tika keadilan dikebiri dan kebenaran dijadikan omong kosong belaka.

13. Fajar - Oktober 20, 2007

para biksu mengamuk bersuara tika keadilan dan kebenaran dibantai di depan mata. tapi sayang para ulama kita di sini hanya diam seribu bahasa tika keadilan dikebiri dan kebenaran dijadikan omong kosong belaka.

14. indonluhung - Oktober 20, 2007

Itulah bedanya Indon dengan Myanmar. Indon tak ada apa2nya di hadapan kebenaran. Orang Indon hanya mau mengurusi sesuatu kalau kepentingan perut dan kelaminnya sudah terancam. Kalau perut dan kelaminnya belum terancam, emang gue pikirin? Sebaiknya orang indon tak usah banyak omong yang muluk2, karena isi perut dan otaknya udah di ketahui orang. Itulah wajah orang indon, lebih kurang sama seperti pantat inul.

15. aroengbinang - Oktober 20, 2007

sayangnya dibalik semua retorika sokongan terhadap demokrasi, selalu ada tersembunyi bayangan kepentingan politik ekonomi raksasa yg siap mencengkeram dan mencaplok kekayaan negara dan rakyat ketika demokrasi berhasil lahir dan masih berupa bayi merah.

semoga Myanmar tidak melewati alur yg sama

16. prodeo - Oktober 22, 2007

shwegadon atau shwedagon ?
mengkorup atau mengorup ?

cuman itu aja. caping tetep favorit gw🙂

17. Ferdy - Oktober 26, 2007

saya penggemar berat catatan pinggir dan kolom-kolom yang ditulis goenawan mohammad sejak kecil, pada saat majalah tempo masih main kucing-kucingan dengan harmoko. jika ada majalah tempo, catatan pinggir duluan yang saya baca.
saya suka dengan adanya blog catatan pinggir, karena itulah rss feed nya saya link ke blog saya di http://www.ferdiansyah.com mohon ijinnya ya pengelola

18. Ahmad Rodhi - Oktober 27, 2007

indonesia jangankan mikirin negara lain, mikirin negerinya sendiri aja banyak diam seribu basa dan mata tertutup. katanya diam itu emas. Apa sih bedanya diam dan bisu? diam itu bisa bicara tapi bisa bersuara sedang bisu diam dan hanya bisa berguman tapi berbuat. Lalu Indonesia ini termasuk yang mana? yang diam atau yang bisu?

19. dawami bukitbatu - Oktober 28, 2007

Sesuatu yang luar biasa, meski dengan kesunyian, penjara dan dikejar oleh junta. Maka kebenaran memang akan selalu menular. Sabas untuk itu suu kyi. SBY, dan pemimpin bangsa yang lain bersiaplah untuk merenungi kesunyian dari kekuasaanmu, sebab kebenaran itu menular. Apalagi merenungi kalimat ini ”tiap frase di Myanmar kini adalah klise, karena tiap klise adalah represi, dan tiap represi membuat gagu. Yang ajaib ialah bahwa gagu itu menjalar tak sepihak. Para jenderal di podium itu ikut terkena: bahasa mereka tak berbunyi lagi.” ..

20. liezmaya - Oktober 30, 2007

sungguh…@$@#$%$%*&&*(&)@!

21. benbego - Oktober 30, 2007
22. almanfaluthi - Oktober 31, 2007

Itu baru Myanmar….
Bagaimanakah GM menyikapi Negeri Jiran si tukang bajak itu?
Saya ingin dengar …opininya….

23. bambang - November 1, 2007

perubahan zaman bisa diraih jika ada yang berani berkata “tidak”.
dan Suu Kyi adalah seorang yang berani berkata tidak tersebut. Ia telah melahirkan anak perjuangan yang mengalir-rambat dirasakan oleh rakyatnya. untuk negerinya. untuk rakyatnya.
namun bagi siapa saja yang ingin mempunyai anak perjuangan ia harus mau merasakan rasa sakit melahirkan.

24. zaki - November 1, 2007

Langkah ke surga hanya 2: Langkah pertama injaklah hawa nafsu. Langkah ke 2 langsung masuk surga.
Tapi betapa nikmat dan gampangnya mengumbar segala jenis nafsu di negeri ini.

25. farid - November 1, 2007

Agama harus berperan di sini. Karena agama dihadirkan untuk mengubah segala ketidak-adilan dan kemunafikan yang timbul.

salam kenal buat GM. senang bisa berkunjung. saya sudah punya bukunya yang Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai

terima kasih jika mengunjungi blog saya.

26. jamil - November 3, 2007

salam

Bagaimana ya?
Saya pikir semua yang dituliskan pak Gun tentang Suu Kyi dan negerinya benar adanya. Ketidaksepakatanku hanya bermuara pada persoalan pemakaian nama Myanmar. Nama itu adalah pemberian junta. jadi tak elok rasanya kalau seorang penentang junta masih saja kukuh menggunakan istilah-istilah yang menurutnya klise dan tak lagi bersuara. Hal ini cukup penting mengingat para aktivis pembebasan negeri itu telah berulangkali meminta nama Burma kembali digunakan. Semoga pak Gun sedang alpa, atau barangkali tidak tahu. sebab alpa dan tidak tahu lebih baik ketimbang tidak alpa dan tahu tapi tak peduli.

salam

27. nol - November 14, 2007

Halah, akhirnya para biarawan dan demonstran itu keder waktu militer mengerahkan pasukan besar2an untuk membasmi mereka.
Emang gak kelihatan, soalnya media barat yang menguasai dunia gak mengeksposnya untuk kepentingan mereka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: