jump to navigation

Kreshna November 5, 2007

Posted by anick in All Posts, Kisah.
trackback

Di lereng selatan Himalaya itu malam ketakutan – dan pangeran dari Dwarawati itu merasakan suasana itu begitu ia tiba. Di bawah bulan yang jadi kusam, bahkan ular ikut menyembunyikan diri di bawah batu-batu karang yang menjorok melampaui tebing. Tak ada cerah yang tersisa, rasanya.

Deretan pertapaan hancur; begitu brutal tentara Raja Bhoma memporakpandakan wilayah itu. Di tepi hutan, ladang-ladang telah binasa bersama benih kering yang tertanam  di antara pematang. Ilalang hangus, rata. Sebuah padepokan yang asri musnah; dindingnya tak berbekas. Hari-hari murung. “Dan di pohon-pohon  beringin,  capung pun bertangis-tangisan sedih ditinggalkan oleh mereka yang mencintai keindahan.”

Itulah kalimat penyair penggubah Bhomantaka, puisi naratif Jawa Kuno yang ditulis di abad ke-12. Diterjemahkan oleh A. Teeuw dan S.O. Robson, puisi yang terdiri dari 118 canto ini mengisahkan perang antara pasukan Kreshna dan balatentara Raja Bhoma yang menyerbu dan merusak pusat-pusat pertapaan di sekitar Dwarawati.

Syahdan, tak lama setelah para pertapa datang meminta perlindungan, Kreshna pun mengirimkan Samba, putra mahkota, ke wilayah yang kena gempur. Canto 7 yang saya kutip di atas adalah adegan ketika Samba dan pasukannya tiba.

Perang yang segera terjadi melawan pasukan gergasi Raja Bhoma itu memang dahsyat, dengan ribuan gajah, kuda, dan manusia bertabrakan. Di mana-mana leher putus tertebas, perut robek, jantung tercincang. Samba sempat terluka parah dalam sebuah pertempuran malam hari yang tak terduga; ia akhirnya gugur. Juga Arjuna, dengan kematian yang diikuti pekik bumi dan gemuruh laut yang berkabung.

Tak urung, Kreshna pun turun gelanggang. Berhadapan dengan Bhoma yang ganas dan tak terkalahkan, ia dengan serta merta mengubah diri jadi Wishnu dalam bentuk yang mengerikan, yang dalam Bhomantaka digambarkan dengan fantastis: “Monster dari tiga dunia bergantungan dari tiap helai rambutnya, menghitam bagaikan semut, menghunus berbagai senjata, di antara gelimang darah dan untaian usus manusia…”

Di hadapan wujud yang luarbiasa itu, Bhoma pun kalah, tewas.  Kisah telah mencapai dan melampaui klimaksnya.

Sampai akhir, deskripsi Bhomantaka tak tertandingi indahnya oleh kesusastraan Jawa setelah abad ke-18; Ranggawarsita hanya akan tampak gagap bila dibandingkan dengan penyair yang tak bernama yang hidup di masa Jawa Hindu itu.

Tapi bagi saya yang menarik adalah adegan-adegan terakhir cerita ini.  Di dua bagian dikisahkan dengan khidmat bagaimana para dewa memberi Kreshna —  yang telah rela mengorbankan anaknya untuk melindungi para pertapa yang tak bersenjata —  sebuah anugerah.

Di canto 101-102, segera setelah Arjuna tewas, datanglah tawaran kepada Kreshna yang berduka cita: ia boleh memilih seseorang di antara yang tewas dalam perang itu untuk dihidupkan kembali. Pilihan itu harus segera diambil. Samba, putranya sendiri? Atau Raja Basudewa? Atau Arjuna?

Ternyata, tanpa bimbang, Raja Dwarawati ini tak memilih sanak saudaranya sendiri. Yang dimintanya kembali dari pelukan Maut adalah Raja Druma. Raja pendatang itu seorang yang tak punya apa-apa lagi. Ia terusir dari tahtanya, menghadap ke Kreshna untuk meminta perlindungan, tapi ia tewas bersama anaknya dalam peperangan di sekitar Gunung Rewata itu.

Di canto 111 kembali para dewa memberi Kreshna anugerah. Kali ini Kreshna minta lebih: agar semua dihidupkan kembali – termasuk musuh-musuhnya. Katanya:

Cedi, Karna, dan Jarasandha
Semua jelas musuh hamba
Tapi kembalikanlah juga  mereka dari kematian
Bersama keluarga mereka

Permintaan Kreshna dikabulkan.  Dengan permintaan  itu,  ia sebenarnya mengingatkan: tiap perang, tiap perjuangan untuk pembebasan, mengandung pengakuan bahwa ada yang universal dalam hidup manusia yang tak dapat diabaikan.

Bhoma, “najis pada seantero bumi”, kalêngka ning rat,  harus disingkirkan. Tapi bukan agar mampu meyakinkan secara universal tentang apa yang “najis” maka Kreshna menjelma jadi Wishnu. Ia jadi Wishnu, jadi subyek yang menakjubkan dan perkasa itu, justru karena Kebenaran tentang keangkara-murkaan Bhoma menggugah dan mengubah dirinya. Itulah saat “tiwikrama”.  Dalam arti itu Kebenaran yang dialami Kreshna adalah subyektif: ia jadi kukuh.  Tapi juga universal:  perang itu, kematian Bhoma itu, bukan buat dirinya sendiri, melainkan buat semua, juga musuh-musuhnya.

Sesuatu yang subyektif, namun juga universal — itulah paradoks tiap perjuangan politik.  Di awal perjuangan itu harus ada garis yang tegas dan kubu yang tertutup yang memisahkan kawan dengan lawan. Tapi mungkinkah ketertutupan itu hakiki? Dalam saat “tiwikrama”, ketika Kebenaran menggugahku, dan aku jadi perkasa, perjuanganku mendapatkan maknanya. Tapi pada saat yang sama, sifat universal dari Kebenaran itulah yang membuat makna itu begitu penting.

Tak berarti yang universal sudah ada rumusnya sebelum perjuangan dimulai.  Justru yang universal berangkat dari ketiadaan – sebuah situasi di mana aku tak punya apapun yang membebani identitas diriku. Ada sebaris kata-kata Marx di tahun 1843 ketika ia mencoba merumuskan arti “proletariat”:  “Aku bukan apa-apa, dan [sebab itu] aku harus jadi segalanya.”   Dari situasi ketiadaan itulah perjuangan ke pembebasan dimulai, tapi bukan pembebasan untuk satu kelas semata, melainkan untuk hilangnya semua kelas sebagai perumus identitas.

Dalam Bhomantaka, ada sebuah nasihat Patih Uddawa yang didengarkan Kreshna: “Jangan bersikukuh ketika si lemah datang kepada Paduka.”  Maka mantan raja Druma, yang tak punya apa-apa lagi, pun dipilih untuk dibebaskan dari kematian. Sebab si lemah, si “bukan apa-apa”, mengingatkan kita bahwa jika ada yang universal dalam manusia, itu adalah karena ia bisa hadir sebagai “segalanya”.  Ia tak hanya sebagai wakil satu satuan yang akan selama-lamanya dirumuskan oleh kubunya sendiri.

~Majalah Tempo Edisi. 36/XXXVI/05 – 11 November 2007~

Komentar»

1. ibra (bukan ibrahim kohar) - November 7, 2007

garis pemisah itu haruslah tegas! Berseru seru aku pada diri sendiri, memperingatkan.

2. Gandhi - November 8, 2007

ah

3. Wibisono Sastrodiwiryo - November 8, 2007

Saya berusaha mencernanya dalam konteks pemaknaan nilai universal yang sering digunjingkan akhir akhir ini. Dalam perasaan terpahami, tapi tak cukup kosa kata dalam ucapan untuk ditulis… hmm butuh waktu…

4. bumisegoro - November 13, 2007

jadi ingat pesan di salah satu serial kungfu yang baru kutonton: “perang diperlukan untuk kedamaian”.

5. qyai.rock - November 14, 2007

Untuk berhadapan dgn bhoma,kreshna merubah wujudny menjadi wisnu yg merupakan representasi dari wujud menakutkan,.Ini adalah preseden yg buruk dlm menyelesaikan persoalan,menyelesaikan masalah dgn masalah.Mengapa kreshna tidak bertahan saja dgn wujud aslinya,mengapa ia harus mengikuti perspektif bhoma,? Mungkin bhoma bisa dikalahkannya,tapi kreshna tidak menawarkan nilai yang lebih baik dari pada yg ditawarkan bhoma.

6. Teguh Iman Prasetya - November 28, 2007

Sejak SMA hingga bangku kuliah di Bandung saya menggemari Capingnya (Catatan Pinggir) Bang Gunawan, tidak ada yang berubah. Berangkat dari penghayatan realitas kehidupan dan nilai universalisme…

Karya Kresna ini sedikit aneh tidak ada nama pengarangnya pada abad ke 12.Kreshna dalam bentuk aslinya yang saya baca seperti di India mungkin tidak sedalam seperti anda dan pengarang tersebut. Bahkan lebih mirip dengan karya-karya puisi dan prosa kaum SUFI, seperti Attar dan Rumi yang berbisik FANA. Jika tidak salah pengaruh Islam sangat kuat di India terutama pada masa Dinasti Mughal Khan.

Bomantaka atau BOMANARAKASURA menurut karya purwanya komikus R.A. Kosasih yang mengambil dari versi India juga bagian dari keluarga Kresna raja Dwarawati, bahkan anak kandungnya sendiri dari hasil perselingkuhannya (lembu peteng). Kemudian diperangi karena keangkaramurkaan dan kesaktiannya yang luarbiasa.Tidak dapat mati. Akhirnya mati digantung tidak menyentuh bumi.Raksasa Kresna dengan 3 wajah atau TWIKRAMA dan dengan senjata CAKRA akhirnya mengakhiri hidup Bomanarakasura.

7. Teguh Iman Prasetya - November 28, 2007

Maaf TWIKRAMA ini hanya perubahan wujud saja, tentang 3 wajah itu tidak saya temui, terutama di komiknya R.A. Kosasih. hehehe…

8. Teguh Iman Prasetya - November 29, 2007

TRIWIKRAMA yg benar jga ttg asal usul Bomanarakasura. Kresna dianggap sebagai penjelmaan Sang Hyang Triwikrama, atau gelar Bhatara Wisnu yang dapat melangkah di tiga alam sekaligus. Ia juga dipandang sebagai perantara suara Tuhan dalam menjalankan misi sebagai juru selamat umat manusia, dan disetarakan dengan segala sesuatu yang agung. Kutipan di bawah ini diambil dari kitab Bhagawad Gita (percakapan antara Kresna dengan Arjuna) yang menyatakan Sri Kresna sebagai awatara/avatar (wikipedia lbh lngkap).

9. AndyTirta, Yeungnam Univ. - Desember 1, 2007

jujur, pengetahuan saya tentang dunia ‘perwayangan’ atau cerita2 seperti mahabrata dan ramayana dkk-nya belum begitu mendalam… ada yang punya link ttg hal2 tsb, so saya bisa dapat informasinya secara on line???

dari banyak Caping yang saya baca, GM sepertinya sering sekali mengankat ‘dunia’ tersebut. saya fikir GM banyak dipengaruhi oleh kisah2 tersebut.

buat mba anick, thanx banget ya buat postingannya. jadi pelipur dahaga di negeri perantaun mba, hehe. buat GM, semoga sehat selalu. btw, klo GM maen2 ke Korea kasih tau ya, mau jumpa nih hehe.

10. bomantara - Februari 1, 2008

bomantaka? nama saya bomantara. jangan2 kelak saya berhadapan dengan Sri Kresna?

11. dhuta - Mei 9, 2008

NICE BLOG🙂
postingannya berisi…

btw ada yang punya naskah lengkap bhomantaka nggak?tolong kirim kesini donk: dutzzaholic@gmail.com
makasih bgt.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: