jump to navigation

Bendera November 19, 2007

Posted by anick in All Posts, Identitas, Indonesia, Sejarah.
trackback

Di hotel dengan gaya art deco yang elegan dari masa sebelum perang itu, sebuah tim Anglo-Dutch Country Section menempati kamar No. 33.

Di jalanan, juga di Jalan Tunjungan itu, Surabaya serak oleh suara kemerdekaan. Republik Indonesia baru berdiri, dengan bangga, yakin, nekat, cemas. Ini revolusi, Bung, kita tak akan biarkan kolonialisme kembali! Surabaya mendengus siap perang. Sebuah transisi besar terasa tegang sampai ke saraf kaki.

Bisa diduga kenapa tim yang terdiri atas sekitar 20 orang asing itu ada di sana. ADCS adalah organisasi intelijen gabungan Inggris-Belanda yang berpusat di Kolombo, Sri Lanka. Kamar No. 33 hotel itu jadi kantor mereka untuk beroperasi. Mereka harus bekerja agar Indonesia tak lepas dari kekuasaan Belanda.

Ada yang simbolik dari hotel yang kini bernama ”Majapahit” itu. Saya coba bayangkan hari itu perasaan orang-orang Belanda yang ada dalam Kamar No. 33. Ketika mereka datang, hotel yang dibangun di tahun 1910 oleh Lucas Sarkies, orang Armenia, itu telah berubah nama; sampai tahun 1943, namanya ”Oranje”. Kemudian Jepang datang, pemerintahan Hindia Belanda bertekuk lutut, dan hotel itu jadi ”Yamato”—yang juga markas tentara. Militer Jepang telah mengambil alih semuanya, juga nostalgia. Dan ketika di bulan September 1945 Jepang tak berkuasa lagi, ”Nederlandsche Indie” juga sudah tak ada. Di mana-mana terdengar pekik ”Merdeka”, dan ribuan orang siap mati untuk kemerdekaan itu.

Saya bayangkan perasaan orang-orang Belanda itu: mereka tak hendak ditampar ketiga kalinya oleh sejarah. Maka pagi-pagi sekali, pukul enam, di atas hotel itu (ingat, namanya ”Oranje”!), mereka kibarkan Merah-Putih-Biru. Mereka berharap Surabaya akan bangun dari tidur dan melihat: Belanda tetap di sini….

Apakah sebuah bendera, sebenarnya? Selembar kain yang diberi harga untuk menandai ”kami” yang ”bukan-mereka” dan ”mereka” yang ”bukan-kami”. Bendera adalah saksi sejarah bahwa identitasku punya arti karena ada perbatasan dengan ”dia” yang di luar diriku. Dalam arti itu, yang di luar itu jugalah yang membentuk diriku, hingga ”aku” jadi sebuah totalitas yang seakan-akan utuh. Tapi sementara itu, yang di luar itu pula yang selalu mengancam akan melenyapkan aku. Identitas selamanya genting.

Pagi itu, bendera di atas Hotel ”Oranje” itu menegaskan kembali perannya dalam suasana genting. Di tahun 1572 ia bagian dari perlawanan orang Belanda menghadapi penjajahan Spanyol. Di tahun 1945, di Surabaya, ia bagian dari ingin kembalinya daulat Belanda yang terancam oleh para ”inlander” yang mau memberontak.

Tapi yang memberontak juga punya bendera. Mereka punya sebuah penanda yang maknanya secara a priori tak ada, dan sebab itu bisa disambut pelbagai unsur dan interpretasi yang berbeda-beda. Ketika pagi itu orang Surabaya melihat Sang Tiga Warna berkibar, mereka tahu: ada penanda lain, bukan milik mereka, yang dipasang oleh ”mereka” yang mengancam ”kami”.

Maka sebelum hari siang, Sudirman, residen Surabaya, wakil Republik, datang. Ia merasa punya otoritas dan kewajiban meminta agar bendera Belanda itu diturunkan. Tapi ia ditampik; konon seorang Belanda dalam tim ADCS itu bahkan mencabut pistolnya.

Di luar, berpuluh-puluh pemuda tak sabar lagi. Bentrokan tak dapat dielakkan. Seorang Belanda tewas ditikam. Empat orang pemuda Surabaya mati. Beberapa orang memasang tangga dan mencapai tempat tiang dipasang. Merah-Putih-Biru itu pun diturunkan. Warna birunya digunting, lalu dibuang. Sisanya, kini jadi Merah-Putih, dikibarkan di tempat yang semula. Di Jalan Tunjungan orang ramai menyaksikan bendera itu naik. Dengan mata yang jadi basah, mereka berseru, ”Merdeka! Indonesia merdeka!”

Apakah selembar bendera sebetulnya? Sesuatu yang mewakili sebuah wacana yang disebut ”Indonesia”. Sebuah signan yang dipilih untuk mematok wacana itu: dengan itulah, ”Indonesia”, sepatah kata yang tak henti-hentinya melahirkan arti, telah terpacak (setidaknya dalam satu atau beberapa jenak) dalam lambang Sang Merah Putih.

Yang menarik dari insiden itu ialah bahwa ”Indonesia” tak dipacak oleh konsep yang jelas dan lengkap, melainkan oleh perbuatan orang-orang yang tiba-tiba jadi dahsyat, seakan-akan tiwikrama, seakan-akan berubah dalam sebuah proses di mana kebenaran menggugah. Hari itu ”Indonesia” lahir dalam sebuah kejadian yang transformatif: untuk meminjam kata Alain Badiou, karena subyek yang bangkit oleh l’événement.

Tapi kebangkitan itu bukanlah suatu mukjizat. Ia tak datang dari langit. Merah-Putih itu beberapa menit yang lalu adalah Merah-Putih-Biru. Sebagaimana Merah-Putih-Biru itu juga lahir dari sejarah, dan sebab itu sebenarnya tak kekal (dulu ia disebut ”Oranje-Wit-Blau”), ”Indonesia” muncul bukan dari ketiadaan total. Ada masa lalu yang tetap membayang.

Tapi pada sisi lain, ”Indonesia” berkibar setelah sebuah pemotongan. Ada yang ditiadakan dari bendera yang terpasang di atas Hotel ”Oranje” jam 6 pagi tadi. Itu sebabnya saya selalu ingat: peristiwa di Hotel ”Oranje” itu sesuatu yang heroik, tapi para pahlawan memberi kita sebuah warisan yang terbelah dan kurang.

Ia terbelah, karena di satu pihak ia lahir dari sebuah kejadian yang transformatif. Tapi di lain pihak, masa lalu—bahkan masa lalu yang traumatik—terus-menerus membayanginya. Ia kurang, karena memang begitulah ia dibentuk: dari pemotongan.

Maka Indonesia tak akan henti-hentinya mendamba, berhasrat, agar dirinya utuh. Ia punya utopianya sendiri yang tak akan pernah ada: Indonesia sebagai sebuah harmoni yang lengkap. Tapi utopia itu bukanlah khayal tempat kita lari menghibur diri dari pedihnya ketakutuhan dan kekurangan. Utopia itu, untuk meminjam kata Paul Ricoeur, adalah ”satu tangan kritik”.

Dengan itu kita tahu, ”kerja belum selesai, belum apa-apa”, tapi tiap kali kita bisa memberinya arti.

~Majalah Tempo Edisi. 39/XXXVI/19 – 25 November 2007 ~

Komentar»

1. demis - November 23, 2007

dan bendera Indonesia, merah-putih, punya pengalaman yang pahit tersendiri dengan kesombongan bendera Belanda, merah-putih-biru. iya-iya-iya, bukan berarti bendera Indonesia tak mencakup makna-makna dari simbol “biru” yang dirobek oleh mereka, para pahlawan, namun karena para pejuang kita ingin memberontak. dan nasib hanya membuka satu jalan: merobek. merobek sesuatu yang sakral dan penting adalah bahasa kedua dari pemberontakan…

hormat merah-putih…..

2. zaki - November 23, 2007

Sampai sekarang, Indonesia masih merupakan sebuah negara yang membutuhkan pahlawan.
Memang menyedihkan jika sebuah bangsa tidak mampu melahirkan pahlawan.
Tapi yang paling menyedihkan sebenarnya adalah bukan ketidakmampuan melahirkan pahlawan tapi kondisi dari bangsa yang membutuhkan pahlawan. Keterikatan akan hadirnya sikap kepahlawanan dalam mengatasi suatu persoalan adalah menggambarkan betapa negara tersebut hanya bisa melahirkan persoalan tanpa kemampuan untuk mewujudkan sebuah sistem yang mampu menyelesaikan persoalan secara sistemik dan wajar, tanpa perlu heroisme.
Dengan kata lain heroisme lahir dari proses alami karena adanya suatu persoalan besar yang berlarut2 tak kunjung terselesaikan.

Dan lebih tragis lagi, ketika semua sistem macet, pahlawan tak kunjung muncul juga. Itulah gambaran Indonesia sekarang.

3. iszoe - November 24, 2007

kita, mungkin, sedikit kehilangan akal untuk memberi makna pada arti “merah-putih”. ketika, yang seumur dengan para pahlawan, asyik mahsyuk dengan kerakusannya, sementara yang lain mendendangkan bukan lagu yang merdu, untuk selembar uang, yang mungkin, hanya “segobang”. yang lainnya hanya memilki sedikit waktu untuk berseloroh, mungkin tentang “nagabonar”. tapi yang tersisa masih ada, paling tidak melirik sejenak dengan penuh harus ketika merah putih masih bisa berkibar dengan warna muram tapi masih menampakkan sebuah harapan bahwa jangan ada yang menjajah.

4. ENDAR - November 26, 2007

barangkali kita tak perlu lagi pahlawan. Sudah teramat banyak. Yang kita perlukan saat ini hanya kepercayaan. Lain tidak!!!. Percaya bahwa system yang dibangun akan berjalan. Percaya majikan tidak menipu atasan dan sebaliknya. Percaya birokrat melayani rakyat dan rakyat tidak ngemplang!. Mari kerja yang baik saja, karena semua kita adalah pahlawan atas diri kita.
Untuk Bung GM, ini berarti saya sudah membaca Catatan Pinggir untuk tahun ke 32 ( he he , saya membaca Tempo sejak bersiap-siap masuk SMP Tahun 1975 )

5. Ndoro Seten - November 27, 2007

Memang……perjuangan itu harus senantiasi dilanjutnya hingga ke masa anak cucu negri.

6. w.n.padjar - November 28, 2007

Betul, Mas Goen, pada masa sekarang ini Indonesia hanya bisa diberi arti oleh warganya secara personal aja. Rasanya sulit untuk merumuskan apa yang menjadi ‘musuh bersama untuk dilawan bersama’ yg menggantikan pemerintah-Belanda-pada-masa-revolusi. Pada saat ini sulit juga untuk menemukan tindakan seheroik merobek bendera merah-putih-biru di Hotel ‘Oranje’ itu.

Saya belum mendapatkan kebanggaan yg cukup sebagai bagian dari Indonesia. Tapi saya cukup bangga Indonesia menjadi bagian dari diri saya.

7. a.c.h. Fandi - November 28, 2007

mas gun, apa saya harus berubah status menjadi warga negara AS atau Iran agar saya bisa berbangga menjadi warga negara? Terus terang say a malu menjadi WNI. Di mana-mana dikecilkan dan dikucilkan?? Agenda ke depan bangsa ini apa sich sebetulnya?

8. jaka - November 29, 2007

Kalau gak ada lagi yang bisa dibanggakan dari bangsa yang besar tapi banci ini, lalu apa lagi yang perlu dipertahankan? Kalau seandainya hal seperti ini menimpa sebuah perusahaan, maka sudah saatnya perusahaan itu gulung tikar, atau diadakan privatisasi.
Banyak sekali contoh yang memalukan, yang paling transparan adalah dalam hal sepakbola:
1. ketika mursyid efendi melakukan gol bunuh diri saat melawan thailand karena takut ketemu vietnam pada babak semifinal piala tiger. hal ini memang masalah kecil menggambarkan begitulah watak dari bangsa indonesia pada umumnya, pengecut alias banci.
2. Nurdi halid yang seharusnya diturunkan oleh PSSI karena moralias korupnya, tapi justru FIFA yang harus turun tangan untuk memebereskan masalah sepele itu. Sudah diancam oleh FIFA pun masih belum mau turun juga. Padahal, jika bangsa ini memang punya moral, tak perlu harus menunggu intervensi dari luar untuk menegakkan fair play dan sportivitas. Lha, wong dalam masalah yang begitu transparan (diketahui semua masyarakat internasional) saja kita masih berani melanggar aturan, bagaimana lagi kalau dalam hal yang tak ada yang tahu, seperti dalam hal tender, seleksi CPNS, penetapan caleg dll. 100% pasti lebih parah.
Dan akhirnya anda semua hanya bisa teriak: kita celaka. Dan tak ada lagi yang bisa diperbaiki.

9. zainul - November 30, 2007

Perjuangan belum berakhir. Teruslah berjuang.

10. qyai rock - Desember 3, 2007

Kita seringkali tidak bisa menunjukan dengan pasti, apa yang menjadi identitas kita. karena kita terlalu sering mencoba memahami kita dengan apa yang bukan kita,kita mengalami krisis identias dan akhirnya mengalami krisis kepercayaan diri.

11. Ketika Bendera Berkibar Tanpa Jeda « Kumpulan Tulisan & Pemikiran - Januari 17, 2008

[…] arti sebuah bendera? Gunawan Mohammad dalam Catatan Pinggirnya dengan cantik memberi sebuah penjelasan. “Selembar kain yang diberi harga untuk menandai […]

12. aldy budiana - Juni 29, 2008

bendera merah putih mempunyai arti: merah( GALAK) melawan para penajahan sehingga perjuangan berakhir mencapai kemerdekaan putih(suci) para pejuang indonesia sebelum berperang mereka mempersiapkan peralatan seadanya seperti bambu runcing.dengan niat berani mati untuk mencapai kemerdekaan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: