jump to navigation

Minoritas Desember 10, 2007

Posted by anick in All Posts, Identitas, Seni.
trackback

Sederet tubuh hitam berbaring di pentas, berbaris, bergerak – terkadang seperti patung kayu dari Asmat, terkadang seperti adegan sehari-hari di sebuah distrik Papua, terkadang seperti sederet totem dalam warna gelap betutul-tutul putih yang  mobil, bergeser, menggedrukkan kaki, tarik menarik, berpindah-pindah. Koreografi Jacko Siompe, penata tari kelahiran Sorong, entah kenapa diberi nama In Front of Papua; yang pasti ia memikat kita: sederet anekdot yang menyambut hidup  dalam kontras dan keserempakan, gabungan antara yang jenaka dan yang sayu, antara yang biasa dan yang tak diduga, mungkin sebuah parodi, mungkin juga sebuah nostalgia.

Ragam geraknya, yang cenderung dekat rendah ke bumi, dengan tangan dan kaki ditekuk seperti menirukan kanguru, seakan-akan mengingatkan kita akan sebuah dunia sebelum manusia dipisahkan dari alam oleh pelbagai ambisi dan lagak.

Sebuah ekspresi khas Papua? Memang ada “warna lokal”, tapi pada akhrnya yang penting bagi sebuah koreografi yang kuat  bukanlah mencerminkan sebuah identitas, “daerah” atau “nasional”, “tradisional” ataupun “modern”, melainkan bagaimana membuat sebuah karya mencengangkan.

Salah satu kekuatan yang lahir dari karya seni justru bukan untuk mengukuhkan identitas, melainkan menunjukkan ada yang hidup: sesuatu yang tak dapat dirumuskan jadi identitas — apa yang disebut oleh Adorno sebagai “non-identitas”.

Pikiran itu terlintas di kepala saya, ketika sehabis menyaksikan In Front of Papua yang memukau di National Museum of Singapore awal Nopember yang lalu, seoang penonton bertanya: “Apakah ini tarian dari kebudayaan minoritas?”

“Minoritas” — tak seorang pun di Indonesia akan menggunakan kata itu buat orang Papua, ataupun sebuah suku kecil sekalipun di pulau itu. Tapi saya kira saya tahu mengapa orang ini bertanya demikian. Seperti kebanyakan orang Singapura, ia terbiasa hidup dengan ruang yang tak bersentuhan langsung dengan alam. Ia mudah melihat ekspresi yang “primitif”, “eksotik” – yang praktis  tak ada di London atau New York — sebagai sesuatu yang terpencil, ganjil, dan nyaris hilang.  Modernitas ada di mana-mana; yang beda dari itu adalah “minoritas”.

Aneh juga kata itu sebetulnya.  Di Indonesia ia biasa menandai mereka yang berdarah Cina, atau Arab, atau Eropa, atau India – seakan-akan sebuah klasifikasi biologis, tapi yang tak pernah digugat dengan pertanyaan dasar: mengapa klasifikasi penting? Dan mengapa berdasarkan ras?

Memang, orang telah lama mengenal perbedaan warna kulit dan  corak hidung yang berbeda-beda. Kita misalnya melihatnya dalam wayang kulit: ada sosok sabrangan yang besar dan kasar dan “raksasa” yang gempal dan bundar, yang berbeda dengan raut wajah dan bentuk tubuh para Pandawa dalam Mahabharata dan Rama dan Laksmana dalam Ramayana.

Tapi menata wayang – dengan pakem yang tetap — tak sama dengan menata manusia. Menata manusia adalah obsesi kekuasaan politik. Klasifikasi penduduk adalah keputusan sebuah sistem yang mau membereskan hal ihwal, mau menguasai dan mengarahkan.  Saya kira David Theo Goldberg benar, (di tahun 2002 ia menerbitkan The Racial State), ketika ia menunjukkan bahwa kategori “ras” lahir sebagai modus untuk mengelola krisis, mengelola apa yang dibikin sebagai ancaman, serta mengekang dan mengasingkan “tantangan dari apa yang tak diketahui”, the challenge of the unknown.

Demikianlah administrasi Hindia-Belanda datang dengan klasifikasi – sebagaimana layaknya  sebuah bangunan modern di kancah yang begitu beragam, yang terasa sebagai khaos dan kekaburan. Di luar kantor dan tata buku gubernemen, Indonesia harus dibuat rapi. Manusia pun dibagi dalam kategori: “pribumi”, “Timur Asing”, dan “Eropa”.  Dan yang “pribumi” dibagi lagi dalam “suku”.

Bagaimana menentukan klasifisikasi ini tak pernah jelas.  Sebab “pribumi” tampaknya ditentukan berdasar tempat kelahiran, sedang “Eropa” berdasar asumsi asal usul genetik. “Timur Asing” tampaknya berdasar atas “ras” dan sekaligus “tempat asal” – sebuah kategorisasi yang tak akan pas ketika “Timur” berarti juga penduduk yang berasal dari Thailand, Filipina, Vietnam, Malaya, yang menampakkan ciri-ciri tubuh yang sama dengan orang Minang, Makasar atau Jawa.

Kata “asing” juga rancu. Seorang Tionghoa atau Arab yang nenek moyangnya 400 tahun yang lalu sudah beranak-pinak di Singkawang atau Demak sama sekali tak asing bila dibanding seorang Melayu yang 10 tahun sebelumnya baru pindah dari Malaka ke Medan.

Dan apa sebenarnya “suku”? Kata ini tampaknya dipakai untuk membuat satu kategori baru di bawah “pribumi” dan “Timur Asing.”   Ada kesan bahwa satu “suku” mengandung satu identitas budaya, tapi bagaimana menentukan identitas itu tak jelas: jika bahasa dipakai sebagai cirinya, maka “suku Jawa”  tak pernah ada. Sebab yang disebut “bahasa Jawa”, yang diajarkan di sekolah, sebenarnya hanya bahasa yang dipakai di Surakarta dan Yogyakarta, tapi tidak di Tegal dan di wilayah Banyumas.

Maka tak bisa dikatakan “suku Jawa” adalah satu “mayoritas”.  Sama tak masuk akalnya menyebut orang Indonesia keturunan Cina “minoritas”: pemakai bahasa Hokian agaknya lebih banyak ketimbang pemakai bahasa Osing di Jawa Timur.

Dengan kata lain, kita sebenarnya mewarisi ambisi mengatasi kekacauan yang ternyata menghasilkan kekacauan baru. Dengan kata lain, kita harus bongkar Hindia-Belanda dari bahasa dan manajemen perbedaan kita. Menghadapi apa yang diduga sebagai khaos, menatap “tantangan dari apa yang tak diketahui,” merasa cemas dengan yang “lain” yang mengancam kerapian yang palsu, sebenarnya kita justru menemukan sebuah kearifan: Indonesia adalah bangunan minoritas-minoritas.

Atau serangkaian “non-identitas”: totem-totem gelap bertutul putih yang bergerak antara yang biasa dan tak terduga.

~Majalah Tempo Edisi. 42/XXXVI/10 – 16 Desember 2007~

Komentar»

1. Hareem - Desember 11, 2007

well said, Pak.. well said!

2. goop - Desember 11, 2007

jadi teringat “batas” …
dan benar bukan, bahwa batas itu ada😦

3. zaki - Desember 12, 2007

Siapa yang paling bertanggung jawab terhadap muncul dan suburnya isu dan aksi primordial di Indonesia??? Padahal, konon, sebelum kemerdekaan isu itu sama sekali tidak ada.

4. kangtutur - Desember 12, 2007

bukankah sebaiknya, kita itu satu golongan saja?
MANUSIA😉

5. DANIEL! - Desember 13, 2007

mengingatkan bahwa klasifikasi hanyalah memenuhi kebutuhan pragmatis. dengan kesadaran bahwa bahasa tak akan sepenuhnya mampu memindah makna.
thx GM..

6. padjar - Desember 13, 2007

Mengapa ya GM, dalam banyak caping dengan variasi judul dan sisnya, sering menulis tema tentang ‘identitas’, tentang ‘yang lain’, tentang ‘kami dan mereka’, dan tentang hal-hal yang menyangkut kenisbian batas teritori negara dan politik?

Apakah jika saya membaca dan memahami semua, atau setidaknya sebagian besar, buku2 yang dibaca GM (dan itu pasti pekerjaan sulit) akan mengalami hal yg sama: kegundahan akan kecenderungan kebanyakan orang, khususnya rezim politik, di sepanjang sejarah yg doyan membuat kategori sosial dan lalu terjebak di dalamnya?

Kalau itu memang tema pokok dari kebanyakan buku2 yg dibaca GM, saya sangat berrima kasih kepada GM. Setidaknya, GM (yg mau meluangkan waktu dan stamina untuk membaca dan berikhtiar memahami sekian banyak buku) membantu saya (yang tidak mau berdisiplin membaca buku2 serius) memahami hal-hal yang tidak dapat saya jangkau dalam pengamatan biasa. Dan terima kasih kepada GM atas tulisan2 caping yg lambat laun memberikan kesadaran kepada saya akan pentingnya untuk memberikan perhatian pada tema ‘identitas’.

7. AndyTirta, Yeungnam Univ - Desember 15, 2007

menurut saya, pe-label-an terhadap ‘kaum’ lain memang sangat berkaitan dengan siapa aku dan siapa mereka. secara psikologis, hal ini memang mampu memperjelas identitas pribadi, sehingga kemauan untuk menjadi lebih dari ‘mereka yang lain’ timbul dalam kehidupan masyarakat.

munculnya kata2 mayoritas dan minoritas, menurut saya, lebih mengarah kepada pengakuan atas usaha utk menguasai kelompok yang lebih kecil (minoritas). alhasil, minoritas tidak boleh ‘berisik’, berkuasa dan berbuat lebih baik dari mayoritas. tapi paradoks yang terjadi malahan: mayoritas terlena dengan label : mayoritas (baca: kekuasaan) yang akhirnya membuat mereka malas, tak ada perkembangan dan kemajuan dan dilain sisi minoritas lebih semangat untuk berbuat lebih baik. dan akhirnya… minoritas menang!

8. JarIK Bandung - Desember 17, 2007

Kami atas nama Pengurus JarIk (Jaringan Islam Kampus) Bandung memohon kepada Mas GM beserta pengelola website ini untuk memuat kembali beberapa tulisan atau sebagian pada blog kami.Makasih

Koord JarIK Bandung

9. zombie - Desember 22, 2007

mendamaikan, setidaknya!

10. Al adil - Desember 22, 2007

Kaum atau identitas dasar suatu komunitas tidak bisa dihilangkan, dengan nama atau dalih apapun karena ia lebih murni dan teruji oleh waktu. Justru keindonesiaan yang salah kaprah, karena mencoba menghilangkan sesuatu yang telah teruji oleh waktu. Pada kenyataannya identitas keindonesiaan yang justru nampak semu, karena yang bermain secara substansial dalam kancah keindonesiaan tetaplah kepentingan kaum atau puak masing2 dengan kulit (topeng) yang bernama indonesia. Dan kaum2 yang terseret dalam gelombang keindonesiaan sebenarnya tidak lebih daripada hipokrit2 yang membawa kepentingan kaum dan puaknya dengan dalih untuk kepentingan bangsa dan negara. Secara umum, kaum2 (suku) yang telah terjun dalam gelombang kemunafikan yang bernama indonesia itu adalah jawa, sunda, bugis, batak, minang.

11. Hareem - Desember 22, 2007

banyak masalah yg kita hadapi datang karena kita terlalu serius ‘bermain’ di dunia… nyantelah kawan2… dan jangan lupa senyum!

12. Ras « orang jawa di singapura - Desember 22, 2007

[…] membaca “Minoritas” yang ditulis Goenawan Mohamad beberapa waktu lalu. “Minoritas” didasarkan pada […]

13. daeng limpo - Desember 23, 2007

mayoritas minoritas hidup dalam minoritas mayoritas

14. Pian Yasma (belova) - Desember 31, 2007

Minoritas dan mayoritas adalah sebuah keniscayaan.
Besar dalam kuantitas belum tentu berkualitas.
Minoritas bisa jadi menguasai yang mayoritas.
Seharusnya, mereka yang menguasai harus mampu memberi ruang-ruang dan kebebasan untuk berekspresi dan menunjukkan identitas diri. Bemuara pada nilai2 humanitarian.

15. panji - Januari 13, 2008

Jadi ingat ketika diminta bantu menerjemahkan suatu literatur mengenai hak “indigenous people” dari bhs Inggris untuk diterapkan di Indonesia. Sempat bingung, lha, di Indonesia ini kita semuanya “indigenous” menurut pikiran saya. Ketika saya, yg dari Jkt, pindah ke suatu desa di Jawa Tengah maka saya “pendatang” dan mereka yg sudah lama di sana “indigenous”. Tapi kedua orang tua saya “Jawa” dan saya merasa sbg “orang Jawa”. Lantas, “Jawa”kah saya?

16. Brahmachari - Agustus 13, 2008

@ Al-Adil:

sama halnya dengan hipokrit2 Arab yang melanggengkan bias-bias tribal Arabia dalam Islam demi kepentingan kekuasaan dan monopoli interpretasi (Wahabi, rajam, dan poligami di antaranya)

-seorang minoritas-


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: