jump to navigation

Langka Desember 24, 2007

Posted by anick in All Posts, Islam, Kisah, Tuhan.
trackback

Pada mulanya bukanlah Langka. Tiap ekor hewan yang mati disembelih untuk korban adalah lambang pemberian yang tak hendak dibalas. Ibrahim bersedia membunuh anak yang dicintainya untuk Tuhan yang tak diharapkannya memberi sesuatu. Di hari itu Tuhan tak berjanji apa-apa. Dan seandainya pun ada kontrak bahwa pengorbanan itu akan mendapatkan imbalan, akankah itu punya arti bagi Ibrahim, setelah anak itu mati?

Pengorbanan adalah ”memberi”. Di dalamnya, waktu tak terulangi. Seperti yang dilakukan Ibrahim, kata kuncinya adalah ”ikhlas”. Tak ada pengharapan akan adanya pembalasan kelak. Baginya, tak ada ”kelak”. Waktu tak diperlakukan sebagai lingkaran dengan ujung yang akan bertaut kembali. Seperti dikatakan Derrida, bila waktu-sebagai-lingkaran amat penting dan menentukan, pemberian akan jadi sesuatu yang ”mustahil”. Yang terjadi adalah pertukaran antara jasa dan jasa atau jasa dan benda.

Kapitalisme membuat pertukaran jadi paradigma. Sumbangan besar Marcel Mauss dengan telaah antropologinya dalam Essai sur le don di tahun 1925 adalah melihat bahwa dalam kehidupan bersama ada proses lain yang penting: ”memberi”.

Dalam pemberian, benda berpindah tangan tanpa berdasarkan kontrak. Tersirat dalam kontrak adalah pembatasan: dalam kepercayaan, dalam solidaritas, dalam waktu. Ketika kita ”memberi”, batas itu tak ada. Waktu dihayati sebagai sesuatu yang tak melingkar, malah lepas tak terhingga. ”Memberi” mengandung premis bahwa ada yang turah, apalagi waktu, dalam hidup. ”Memberi” tak mengenal Langka.

Tapi hidup kian ribut oleh Langka dan manusia cemas. ”Memberi” makin jadi laku yang sulit. Yang berkuasa adalah perdagangan: proses tukar-menukar yang mengharapkan laba, dari mana orang menghimpun—dan menghimpun adalah cara menghadapi sebuah kelak yang masih akan dirundung Langka.

Bahkan sindrom Langka begitu kuat hingga masuk ke dalam wilayah di mana orang mencoba meniru jejak Ibrahim tapi tak bisa lagi memberi. Di sini pun cemas tak kalah akut, juga keserakahan yang terbit dari kecemasan itu. Rahmat Tuhan tak dilihat lagi sebagai sesuatu yang memancar tak terhingga. Rahmat jadi sesuatu yang harus diperebutkan.

Dengan kata lain, beribu tahun setelah Ibrahim, hubungan manusia dengan Tuhan akhirnya juga jadi proses pertukaran yang dikalkulasi. Manusia menyembah Tuhan dengan mesin hitung pahala yang dipegang dengan waswas: jangan-jangan Tuhan selalu kekurangan. Orang pun berlomba-lomba melipatgandakan ibadat dan jumlah umat, memamerkan masjid, gereja dan kealiman.

Ada keserakahan yang menyusup di situ, tapi kita tak bisa mengatakan, Rakus, yang lahir dari sindrom Langka, adalah sifat manusia yang mendasar. Ia dibentuk sejarah.

Dalam sebuah wawancara, Bernard Lietaer, pengarang The Future of Money: Beyond Greed and Scarcity, menawarkan satu teori yang diambilnya dari psikoanalisis Jung: 5.000 tahun sebelum zaman ini, manusia di Barat menyimpan ”Bunda Agung” sebagai archetype, sebagai citra yang terawat dalam jiwa individual maupun kolektif yang menggerakkan orang ke suatu arah tertentu. Dalam Sang ”Bunda Agung”—agaknya sama dengan Ibu Pertiwi—ada citra tentang kesuburan yang berlimpah dan karunia yang rela dan pemurah. Tapi archetype itu kemudian tersingkir oleh citra Tuhan sebagai Bapa yang membatasi manusia dengan hukum dan pembalasan. Lima ribu tahun lamanya Sang Bunda Agung tenggelam. Ketika manusia tak percaya lagi akan kedermawanan semesta, muncullah bayangan Langka dan Rakus.

Puncaknya, kata Lietaer, terjadi di masa puritanisme Inggris. Di masa itulah Adam Smith merumuskan pemikirannya tentang ekonomi: pada mulanya adalah Langka, dan Langka pun jadi gerak, dan gerak menuju ke kekayaan. Ekonomi berjalan dari premis itu. Apalagi dari Langka pula lahir nilai. Ketika kemudian yang berkuasa adalah ”nilai tukar”, uang dan bank pun kian berperan. Bank, yang memproduksi uang, sekaligus membuat uang sebagai sesuatu yang terbatas jumlahnya. Dengan memberikan pinjaman seraya memungut bunga, bank akan memperoleh lebih banyak uang tanpa ia harus memperbanyak uang yang beredar.

Bagi Lietaer, (ia pernah bekerja di bank sentral Belgia), uang dan sistem peredarannya itulah yang membuat Langka dan Rakus ”terus menerus diciptakan dan diperbesar”. Bank Sentral, yang merawat langkanya uang dengan menjaga suku bunga, secara tak langsung menguntungkan mereka yang menyimpan uang di bank. Investasi di sektor riil jadi tak selalu memikat—terutama ketika dana bisa dengan cepat melintasi batas nasional dalam rangkaian pinjam meminjam dengan bunga berbunga. Lapangan kerja makin sedikit. Ketimpangan pun menajam, seperti di Indonesia kini, dan kita tahu apa akhirnya bagi sebuah bangunan politik.

Lietaer mencoba menawarkan alternatif. Ia menganjurkan pemakaian uang lokal dan menyebut sistem Silvio Gesel di tahun 1890: dalam sistem ini si penyimpan uang bukannya mendapatkan bunga, melainkan harus membayar ongkos simpan kepada pemerintah. Dengan demikian, bank tak memberi kesempatan bagi si kaya untuk bertambah kaya seraya tidur.

Tapi mungkinkah pemikiran alternatif itu akan disambut? Mungkin, tapi entah kapan. Uang, seperti kata Lietaer, telah jadi sebuah cincin besi yang dipasang di cuping hidung manusia, dan menyeret manusia ke mana saja—juga ke arah menajamnya Langka dan kehancuran sosial.

Sejauh ini, kita masih terhibur, sebab ”memberi” masih tetap mungkin. ”Memberi” membebaskan manusia dari cincin besi itu, yang mengikatnya, kata George Bataille, di dalam ”keadaan yang tak hidup dari dunia yang profan”. Hanya dalam memberi, dalam berkorban, orang menemukan sesuatu yang suci, justru dalam tak adanya faedah.

Mungkin seperti Ibrahim di Moriah: ia tak tahu apa faedah perbuatannya bagi dirinya sendiri atau bagi Tuhan, tapi di saat ia membebaskan diri pamrih, ia tak terperangkap oleh Rakus, mengatasi rasa takut akan Langka di ”dunia yang profan”.

~Majalah Tempo Edisi. 44/XXXVI/24 – 30 Desember 2007~

Komentar»

1. goop - Desember 26, 2007

Wah padahal baru saja belajar mengenai teori keberlimpahan
eh ternyata masih saja langka ya😦

2. zaki - Desember 26, 2007

“Di hari itu Tuhan tak berjanji apa-apa. Dan seandainya pun ada kontrak bahwa pengorbanan itu akan mendapatkan imbalan, akankah itu punya arti bagi Ibrahim, setelah anak itu mati?

Pengorbanan adalah ”memberi”. Di dalamnya, waktu tak terulangi. Seperti yang dilakukan Ibrahim, kata kuncinya adalah ”ikhlas”. Tak ada pengharapan akan adanya pembalasan kelak. Baginya, tak ada ”kelak”. Waktu tak diperlakukan sebagai lingkaran dengan ujung yang akan bertaut kembali. Seperti dikatakan Derrida, bila waktu-sebagai-lingkaran amat penting dan menentukan, pemberian akan jadi sesuatu yang ”mustahil”. Yang terjadi adalah pertukaran antara jasa dan jasa atau jasa dan benda.”

Siapa bilang tak ada pembalasan di hari kelak.

Bagi kita mungkin balasan dari keikhlasan adalah surga (anda boleh percaya atau tidak).
Bagi Rabiah Al Adawiah mungkin Cinta. Dan untuk maqam selevel Ibrahim AS adalah hal2 lain dari Allah yang tak terpermanai di hari akhir. Bukankah Allah itu punya khazanah yang tak terbatas secara kwalitas dan kwantitas?

Pendek kata, Wacana tentang pengorbanan Ibrahim AS adalah wacana tentang pentingnya Iman dan Amal shaleh. Pentingnya sisi kemanusiaan. Pentingnya kita mengingat hari akhir yang lebih baik; pentingnya memngingat pahala yang mulia di yang ada di sisi Allah SWT; pentingnya untuk tidak serakah; pentingnya kejujuran; Pentingnya menyadari fana-nya dunia ini; Pentingnya keadilan dan nurani; Pentingnya Agama bagi manusia.

3. zaki - Desember 26, 2007

Di satu sisi GM gemar pada nilai2 luhur yang ada dalam sejarah Islam seperti kisa Ibrahim AS. Tapi pada sisi yang lain ia tak bisa menghindari “warna lintas kultural” yang berseliweran dalam benaknya sihingga tak heran ciri khas esay nya selalu adanya lompatan2 aneh antar tema dan tokoh yang sebenarnya gak ada hubungan sama sekali, kecuali hanya ada dalam estetika kepenulisan GM.

Saya berharap suatu saat GM bisa mendapatkan suatu gambaran yang utuh dan murni tentang Islam. Yang tentu saja bisa dipegang dengan penuh keyakinan tanpa perlu “diperindan” dengan kutipan2 dari orang2 yang begitu dikagumi oleh pemikiran barat.

4. Nomor Delapan - Desember 27, 2007

“…Puncaknya, kata Lietaer, terjadi di masa puritanisme Inggris. Di masa itulah Adam Smith merumuskan pemikirannya tentang ekonomi: pada mulanya adalah Langka, dan Langka pun jadi gerak, dan gerak menuju ke kekayaan.”

Smith, di tempat lain, menulis panjang lebar tentang sentimen moral. Tentang wajah yang tak melulu mau menang sendiri, seperti kisah perjamuan malam terkenal itu. Tentang pokok “memberi”, sebagai (juga) basis keputusan manusia yang absah dalam motivasi berbagi, hal mana diabaikan para ekonom, tak kurang para ekonom Melayu. Barangkali oleh GM juga. Setidaknya dalam tulisan ini.

Di lain hal, saya tergoda, mencoba membayangkan Majalah Tempo yang berjalan di luar “paradigma” langka dan rakus industri informasi. Seperti apa ujud bayangan itu, kira-kira?

http://www.nomordelapan.blogspot.com

5. kamat rubakat - Desember 27, 2007

dan buat zaki,
saya berharap suatu waktu anda dapat menarik suatu hubungan antar tema dan antar tokoh dalam tulisan caping yg anda anggap sbg “lompatan2 aneh”. Pernyataan anda, yaitu ” sebenarnya gak ada hubungan sama sekali”, justru memperlihatkan tingkat kemampuan anda dalam menangkap apa yang tersirat dalam suatu tulisan.Persis ketika anda berharap GM (atau orang lain) bisa mendapatkan suatu gambaran yang utuh dan murni tentang Islam, justru menunjukkan anda sendiri belum mendapat gambaran Islam yg utuh dan murni.
Menangkap apa yg tersirat dalam suatu tulisan sebenarnya tidak susah bagi orang yang mau bersabar dalam menarik kesimpulan dengan pemikirannya sendiri dan peka dengan pemikiran orang lain.

6. zaki - Desember 27, 2007

Tanpa terasa, kamat rubakat dan orang2 yang seperti kamat rubakat di republik ini telah menjadi korban dari efek negatif caping dan sesuatu yang seperti caping, karena ia mersa telah dengan mudah menangkap apa yang tersirat dalam caping.
Caping sama sekali tak punya integritas terhadap keagamaan tapi terkadang justru terpukau dengan sesuatu yang lahir dan terinspirasi dari agama, seperti cerita tentang Ibrahim AS. Ciri khas caping adalah melayang. Ada yang bilang ia terlalu prosais untuk dikatakan sebagai puisi, tapi juga terlalu puitis untuk dikatakan sebagai sebuah prosa. Isinya memang sama sekali tak bisa dicerna secara utuh, melainkan hanya bisa dikulum atau langsung ditelan. Nah, dengan ciri khas yang demikian, caping justru sering kali mengangkat tema tentang keagamaan dan hubungan manusia dengan Tuhan, apa nggak kacau. Dan orang2 yang seperti kamat rubkat justru telah mengklaim bisa menangkap hal2 yang tersirat dengan tanpa susah payah.

7. BAJUBARAT - Desember 28, 2007

Dan orang2 seperti zaki dan kamat rubakat ribut sendiri!!! Hey saya punya ide, kalian berdua menerbitkan majalah sendiri, saya usulkan namanya `tempe`, trus nulis kolom sendiri, saya usulkan juga namanya ` cater `-catatan (yang) terpinggirkan.

8. Pian - Desember 31, 2007

Adakah hal2 yang kita lakukan dalam hidup tak mengharapkan apa2.?
Mungkinkah?

9. Pian - Desember 31, 2007

Bukankah tak mengharapkan sesuatu adalah pengharapan itu sendiri?

10. Hareem - Januari 2, 2008

ah.. indah! ketimbang banyak berkomentar, pernahkah kita berhenti dan mencoba mendengar.. pasif.. ego-less? ah. gitu aja koq repot…

11. iszoe - Januari 4, 2008

GM “vs” ZAKI
Apa salahnya dengan “catatan”? GM telah memilih wacana ini untuk mengemukakan catatannya tentang apa saja dengan gaya “pribadi”. perjalannya cukup panjang, sejak Majalah Tempo berdiri dengan berbagai nama. Mulanya, hanya sekedar menulis tentang apa yang terjadi di majalah tersebut, yang ketika itu GM masih belum “pintar”. perjalanan panjang tersebut membuat GM semakin asik berbalap dengan pikirannya dalam Catatan Pinggir On Track. mungkin, tak semua suka apa yang diwacanakan. Zaki (anak saya namanya Zakir) hadir untuk membuat filter terhadap wacana yang dilemparkan GM, dan alangkah baiknya kalau terus menuliskan filter-filter itu, sehingga suatu saat kita akan membaca sebuah buku yang berjudul “CATATAN PINGGIR, tak enak dibaca, dan tak perlu”

12. ibra - Januari 4, 2008

keren

13. ibra - Januari 4, 2008

….pada mulanya adalah Langka, dan Langka pun jadi gerak, dan gerak menuju ke kekayaan….Apalagi dari Langka pula lahir nilai…

seperti “caping” -kah?

14. meis - Januari 22, 2008

Siapa bilang tak ada pembalasan di hari kelak?<–by Zaki

Saya rasa anda harus membaca dengan benar…
yang GM bilang adalah ” Tak ada pengharapan akan adanya pembalasan kelak”.. TIDAK ADA PENGHARAPAN! itu maknanya..

Intinya GM menyindir “pemberian dengan balasan” entah itu jasa, materi dl..dan ia mengambil Ibrahim sebagai tokohnya…

Saya yakin..disini orang2 membaca untuk menikmati..bukan untuk mencari2 sesuatu untuk dikomentari..

15. marfitdhan - Januari 23, 2008

10 buat meis!

16. ibra - Januari 26, 2008

10, tapi dalam skala 1000

17. Ozy24 - April 29, 2008

@Zaki
“Pendek kata, Wacana tentang pengorbanan Ibrahim AS adalah wacana tentang pentingnya Iman dan Amal shaleh.”
Kenapa sih anda gak mencoba melihatnya dengan cara lain seperti Caping diatas?
@iszoe
“Zaki (anak saya namanya Zakir) hadir untuk membuat filter terhadap wacana yang dilemparkan GM”
Sory…membaca tulisan-tulisan zaki membuktikan kalau Zaki bukan filter yang ‘memenuhi syarat’ untuk Caping.
@Nomor Delapan
“Di lain hal, saya tergoda, mencoba membayangkan Majalah Tempo yang berjalan di luar “paradigma” langka dan rakus industri informasi. Seperti apa ujud bayangan itu, kira-kira?”
Ha..ha..gw suka ini…sentilan yang bagus untuk Tempo juga GM.
@meis
Apa boleh buat bang…banyak yang membaca Caping (belum apa-apa) udah ‘negative thinking’ duluan dan (anehnya?) walau terlihat tidak suka tapi tetap saja terus membaca dan mengikuti.

18. depe - Mei 17, 2008

Konsep pemberian Tuhan adalah : Tuhan “menguduskan” manusia dan manusia “memuliakan” Tuhan.

19. Zul Azmi Sibuea - Mei 5, 2009

pemberian yang diulas oleh mauss adalah pemberian yang tulus, tidak memerlukan balas jasa karena pemberian itu – karena mereka ingin menjaga keserasian dan keharmonisan sosial secara kultural, saya bahasakan secara vulgar : mekanisme pemberian yang tak menghendaki pertukaran itu, tetapi tak juga terbendung adanya pertukaran dalam bentuk pembalasan pemberian benda-benda yang bernilai magis dan jimat yang memerlukan persetujuan kedua belah pihak dalam barter tersebut.

secara sederhana ada dua model pengkultusan yang bisa terlihat pada masyarakat yang teliti mauss.
pertama, mempertuhan secara kultural keutuhan sosial dalam pemberian atau berbagi.
kedua, mempertuhan secara kultural apa yang menjadi idola mereka sebagai kult, yang diwakili atau terimplementasi menjadi bentuk benda-benda magis untuk sesembahan atau jimat.
ketiga, merupakan kombinasi keduanya dimana tuhan kultur, mengayomi kehidupan setiap pribadi penyembahnya, pada saat yang sama juga mengayomi kelompok atau sosiety dimana mereka menyelenggarakan kebudayaan mereha sebagai anggota dari habitusnya.

kok ruwet, yah

20. anung - September 27, 2010

“Dan bersegeralah kalian menuju AMPUNAN dari Rabb kalian dan kepada SURGA yang luasnya seluas langit dan bumi yang DISEDIAKAN untuk orang-orang yang bertakwa,”( Ali Imran :133)

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu PERNIAGAAN yang dapat MENYELEMATKAN kalian dari azab yang pedih?yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui. Niscaya Allah akan MENGAMPUNI dosa-dosa kalian dan MEMASUKKAN kalian ke dalam SURGA yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kalian) ke TEMPAT TINGGAL YANG BAIK di dalam SURGA ´Adn. Itulah KEBERUNTUNGAN yang besar. (Ash-Shaff :10-12)

21. anung - September 27, 2010

ralat: kata di atas MENYELEMATKAN,seharusnya MENYELAMATKAN.

22. Lidia - Juli 26, 2013

Fantastic goods from you, man. I’ve understand your stuff previous to and you are just extremely magnificent. I actually like what you’ve acquired here, really
like what you’re saying and the way in which you say it. You make it entertaining and you still take care of to keep it wise. I cant wait to read far more from you. This is really a great web site.

23. show long does it take to get rid of cellulite - Juni 6, 2014

I leave a response whenever I especially enjoy a post on a website or if I have something to contribute to the discussion. It is caused by the passion communicated in the article I looked at.
And on this article Langka | Catatan Pinggir. I was actually excited enough to leave a thought🙂 I actually do have 2 questions for
you if it’s allright. Is it just me or do a few of the comments appear like
they are coming from brain dead people?😛 And, if you are posting at
other online social sites, I would like to follow you.
Would you list all of your communal sites like your Facebook page, twitter
feed, or linkedin profile?

24. Keyword advantage review Mark Thompson - Juli 22, 2014

What’s up, all the time i used to check web site posts here early in the dawn, because i like to learn more and more.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: