jump to navigation

Bhutto Desember 31, 2007

Posted by anick in All Posts, Elegi, Fundamentalisme, Islam, Kekerasan, Kisah, Nasionalisme, Perempuan, Politik.
trackback

Sejarah apakah ini, yang dicatat Rawalpindi?  Beberapa menit setelah pukul 5:30 sore 27 Desember 2007 itu, seorang lelaki kurus membunuh Benazir Bhutto yang baru selesai berpidato di rapat umum di Taman Liaquat Bagh. Setidaknya, itulah cerita menurut beberaoa saksi: tokoh politik itu sudah duduk dalam mobil tapi menjulurkan kepalanya ke luar kap atap. Sebuah tembakan terdengar. Sebuah bom meledak. Benazir rubuh. Dengan cepat mobil membawanya ke rumah sakit umum kota itu. Pada pukul 6: 16, ia tak bernyawa lagi.

Ledakan bom itu menewaskan sekitar 30 orang. Kelimun orang itu histeris.

“Semoga Tuhan menjaga keselamatan Pakistan”.

Itu kata-kata terakhir seorang pemimpin lain, di tahun 1951. Dia Liaquat Ali Khan, perdana menteri pertama. Ia juga tewas,  ditembak, setelah berpidato di taman yang sama – sebuah alun-alun  yang kemudian dikekalkan dengan namanya.

Jika kata-kata terakhirnya sebuah doa, maka doa  itu tak dikabulkan Tuhan agaknya. Di pagi hari 4 April 1979, tak jauh dari taman itu, di penjara Rawalpindi, Zulfikar Ali Bhutto, ayah Benazir, bekas presiden dan perdana menteri,  digantung mati oleh pemerintahan militer Jenderal Zia ul-Haq, dengan tuduhan ia telah membunuh seorang lawan politiknya…

Sejarah apakah ini, yang dicatat di Rawalpindi?

Benazir dibunuh: keluarga Bhutto adalah tragedi Pakistan.  Tiga dari empat dari anak Zulfikar dengan isterinya,  Nusrat, tewas. Di tahun 1985, Shanawaz, si putra bungsu, ditemukan mati di Riviera Prancis dalam umur 28. Keluarganya mengatakan ia diracun.  Di tahun 1996, adik Benazir yang juga jadi musuh politiknya, Murtaza, mati dalam tembak menembak dengan polisi Pakistan.  Fatima Bhutto, anaknya yang kini jadi penyair dan kolumnis, tak pernah memaafkan Benazir, sang bibi.

Walhasil, riwayat Bhutto adalah bagian dari sejarah kekerasan politik, sejarah kegagalan mengelola konflik, sejarah kekecewaan.

Pakistan berdiri  sebagai bagian dari India yang memisahkan diri,  hingga kedua republik itu lahir di tahun yang sama, 1947. Tapi sementara India kini mulai bangkit sebagai kekuatan ekonomi, Pakistan – dalam  kata-kata Penulis Tariq Ali di kotan The Guardian pekan lalu – hanya sebuah “conflagration of despair”, rasaputus asa yang menjalar bagaikan gelombang api.

Tentu, India juga mengandung sejarah kekerasan dan pembunuhan politik. Tapi sampai hari ini demokrasi di India bisa  bertahan, (meskipun terkadang  dengan ledakan yang menakutkan seperti bengisnya fundamentalisme Hindu), seraya membuktikan dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi sampai 9% setahun.

Pertumbuhan ekonomi Pakistan sendiri tak buruk amat, sampai 7%.  Aktifitas politik dan pers di negeri itu lebih bebas ketimbang di Malaysia atau Singapura yang tenang bak akuarium. Tapi lembaga yang menopang struktur politiknya dijalari ketak-pastian. Tiap rezim yang dijaga bedil tentara adalah sebuah rezim yang diam-diam meragukan legitimasinya sendiri. Maka berkecamuklah politik paranoia. Pintu dan saluran dijaga ketat. Dalam keadaan bumpet, desakan mudah jadi eksplosi.

Kenapa? Karena “Islam”?

Saya kira bukan. “Islam” adalah sebuah nama yang maknanya dirumuskan dengan beberapa patokan yang tetap. Yang sering diabaikan ialah bahwa patokan itu – katakanlah hukum syari’at — tak selamanya mampu mewakili “Islam” yang dianggit, yang diimajinasikan secara sosial dalam sejarah – imajinasi yang berlapis, beragam dan mengalir terus seperti, untuk memakai istilah Castoriadis, “magma.”

Di tahun 1930, ketika  Mohammad Iqbal, penyair dan filosof itu,  merumuskan argumennya agar minoritas Muslim di India punya tanahairnya sendiri,  ia tampak berpikir bahwa pengertian tentang identitas “Islam” adalah realitas yang sudah siap pakai seperti briket bata. Iqbal menganggap gampang dan jelas agenda mendirikan negeri kaum Muslimin tersendiri. Ia tak melihat bahwa tiap wacana tentang identitas sosial selalu mengandung konstruksi atas arus yang “magmatik”.  Konstruksi itu ditentukan oleh sebuah “pusat.” “Pusat” itu adalah sang pemenang dalam pergulatan mencapai posisi hegemonik.

Saya katakan “pergulatan”: ada gerak politik di dalam tiap perumusan identitas sosial. Itulah yang tak dilihat Iqbal.  Ketika Pakistan dimaklumkan kelahirannya bersama India, dengan segera tampak jarak antara niat luhur seorang filosof dan politik paranoia  yang mencemaskan.

Politik punya sejarah yang  tak hanya terdiri dari membangun imajinasi bersama dan memberi makna bersama. Machiaveli mengingatkan hal ini sebenarnya: ia berbicara tentang kekuasaan bukan sebagaimana “seharusnya,” melainkan sebagaimana “adanya.”  Politik sebagaimana “adanya” adalah yang kemudian dirumuskan dengan brutal oleh Carl Schmitt sebagai das Politische:  di dasarnya adalah antagonisme.

Itu sudah tampak sebenarnya ketika perpisahan India-Pakistan dilaksanakan. Tapal batas digariskan terkadang dengan seenaknya dari meja para administratior Inggris. Syahdan, sebanyak 14,5 juta manusia bertukar tempat.  Karena kedua republik baru itu belum siap mengelola sebuah migrasi besar-besaran, kebingungan yang meresahkan berakhir dengan bentrokan yang meluas.  Tanah berpindah tangan,  keluarga terpisah, komunitas asal retak – dan sekitar 500 ribu manusia mati hari-hari itu.

Lahirnya Pakistan dan India  memang bukan kisah  yang suci murni.  Tapi bila India lahir tanpa memakai label agama, dan sebab itu mengakui dirinya tak sempurna – hingga lebih siap menghadapi apa yang busuk, brutal, dan bingung dalam tubuhnya —  dalam kasus Pakistan  label “Islam” telah menutupi apa yang cacat dan yang celaka – juga menyembunyikan yang retak. Bertahun-tahun orang hidup dengan ideologi ”keutuhan” itu.  Akhirnya adalah kekerasan – atau ledakan amarah yang mencoba menolak apa yang tak bisa ditolak, bahwa “Islam” dan “Pakistan”,  (ya, bahkan “Bhutto”), adalah nama tentang sesuatu yang tak pernah utuh.

“Semoga Tuhan menjaga keselamatan Pakistan” – dan berkali-kali pembunuhan terjadi di Rawalpindi.

~Majalah Tempo Edisi. 45/XXXVI/31 Desember – 06 Januari 2008~

~dengan perbaikan dari penulisnya~

Iklan

Komentar»

1. bambu - Januari 1, 2008

“……Tapi bila India lahir tanpa memakai label agama, dan sebab itu mengakui dirinya tak sempurna – hingga lebih siap menghadapi apa yang busuk, brutal, dan bingung dalam tubuhnya – dalam kasus Pakistan label “Islam” telah menutupi apa yang cacat dan yang celaka – juga menyembunyikan yang retak……”
jika sadar – bukan hanya tahu- bahwa yang paripurna,gemah ripah adalah bukan di dunia, maka sepakat untuk bernaung di bawah label tak usah menjadi ketakutan. walau kadang jadi bumerang tentunya. jika terus merasa was-was, takut, gentar, kapankah identitas akan diteguhkan? perjuangan sesungguhnya justru terletak di sana: pada pergulatan menjaga apa yg telah disepakati sebagai label.

2. pelanggar - Januari 1, 2008

Buttho berhasil menutup lembar 2007 dengan tragis. Ini adalah sebuah lembar kisah yang paling sempurna sepanjang abad. Sebuah kisah nyata dengan ending tahun yang menggetarkan seluruh dunia.

3. Pian Yasma - Januari 1, 2008

Kekerasan dalam dunia politik kadang menjadi jalan untuk mecapai cita-cita kekuasaan. Ya, Bhutto harus membayar cita-citanya dengan meregang nyawa demi tujuannya itu. Tapi kekuasaan yang berdiri di atas tumpukan tengkorak manusia, tak akan bertahan lama. Demokrasi dan kebebasan menjadi nilai-nilai yang harus disandingkan dengan kekuasaan. Semoga…

4. bodrox - Januari 2, 2008

kekerasan… semoga tidak terjadi dinegeri kita tercinta ini. Semoga dunia belajar tentang kesalahan-kesalahannya dan menjadi tempat hunian yang baik
turut berduka, bukan karena kematian orangnya, tapi atas tragedinya…

5. bambang - Januari 2, 2008

O, apakah setiap peradaban harus dimulai dengan kebiadaban?

6. aquos - Januari 2, 2008

benazir adalah korban atas gelombang egoisme dunia barat yang menghanyutkan tubuhnya menuju pantai kematian…
dan juga korban atas dendam kesumat kematian keluarganya yang mengantarkan pada kematiannya dirinya sendiri…

7. ibra - Januari 4, 2008

saya ngga percaya yang ini:
…”Tapi bila India lahir tanpa memakai label agama, dan sebab itu mengakui dirinya tak sempurna – hingga lebih siap menghadapi apa yang busuk, brutal, dan bingung dalam tubuhnya –”..

ini harus pakai contoh

8. Yatak - Januari 6, 2008

“Semoga Tuhan menjaga keselamatan Pakistan” – dan berkali-kali pembunuhan terjadi di Rawalpindi.

Tak hanya Benazir Bhutto, sebelumnya ayah serta anggota keluarganya lain juga terbunuh. Mereka dibunuh dengan latar politik. Kematian mereka itu, tidak mungkin Tuhan tidak tahu menahu. Ataukah Tuhan membiarkan kematian mereka, sehingga sebuah gumam dalam tulisan GM, sebagaimana kutipan di atas. Berkali-kali pembunuhan di Rawalpindhi, sia-siakah kematian mereka?

9. mulut - Januari 6, 2008

welgedewelbeh

” Semoga Indonesia dan negara manapun didunia ini, segera dibebaskan dari orang-orang yang jahat dan rela membunuh dan memakan daging saudaranya sendiri sesama manusia hanya sekedar untuk tercapainya kepentingan pribadi atau golongannya”

10. zaki - Januari 6, 2008

Kenapa tatkala Bhuto tewas saja semua menaruh perhatian. Padahal sebelum ia tewas, pada saat ia kembali dari Dubai dan di sambut oleh para pendukungnya di Pakistan, bom juga meledak dan puluhan orang juga tewas pada saat itu. Secara tak langsung ini adalah pengingkaran terhadap persamaan hak dan kemanusiaan. Padahal semua nyawa berharga sama di hadapan Sang Pencipta. Bahkan kalau di tinjau secara moralitas, belum tentu Bhuto lebih mulia daripada manusia2 yang banyak tewas secara tragis oleh kekejaman penguasa, baik di Indonesia ataupun Pakistan.

Dan cara kita memandang kematian Bhuto dan kematian banyak orang di Pakistan dan Indonesia adalah gambaran moralitas dan tingkat rasa kemanusiaan kita

11. jelata tak mengabdi - Januari 7, 2008

kenapa nggak kamu aja zaki yg nulis soal orang-orang yg tewas di pakistan di selain bhutto. kan bagi-bagi tugas dan tema dengan gm.
sayang juga kan ada orang yg moralitas dan tingkat rasa kemanusiaannya tinggi tapi nggak pintar menulis.

12. jelata tak mengabdi - Januari 7, 2008

kenapa nggak kamu aja zaki yg nulis soal orang-orang yg tewas itu di pakistan selain bhutto. kan bagi-bagi tugas dan tema dengan gm.
sayang juga kan ada orang yg moralitas dan tingkat rasa kemanusiaannya tinggi tapi nggak pintar menulis.

13. Menggugat Mualaf - Januari 24, 2008

setuju.
“Islam” dan “pakistan” memang menjadi sesuatu yang tidak pernah utuh..
bahkan “islam” juga belum utuh di banyak belahan dunia..
maka, tantangannya
yuk mengutuhkannya..
gitu ga sih??

GM tulis dong tentang “islam” dan “indonesia” yang “utuh” dalam benak anda…
jadi pengen tahu..

anis

14. Widdi - April 3, 2008

….Bahkan Benazir sendiri sebelum terbunuh telah bersumpah di hadapan pendukungnya untuk memberangus kelompok2 Islam di Pakistan…
Kenapa …Islam dan Pakistan harus utuh…kenapa Islam dan Indonesia harus utuh? kenapa Islam di paksa untuk utuh dengan tiap hal padahal lebih banyajk yang menggugat islam daripada mendukung..seperti mbak yang diatas ???

15. Edy - September 13, 2013

Dari mana datangnya legitimasi. Dari mana pula datangnya kekuasaan. Ketika kekuasaan dibangun di atas puing-puing legitimasi, represi, tak lagi bisa dihindari.

Tapi, mungkinkah sebuah legitimasi identik dengan kemurnian. Legitimasi, sebenarnya, tak pernah menemukan dirinya dengan utuh. Di sana, tampak selalu ada yang tak ingin “menjadi” satu. Karenanya, pembentukan Identitas Sosial selalu bersifat magmatik, bergolak dan berproses. Ini sekaligus menandai dinamikanya suatu negara. Masalahnya, akan menjadi lebih baik atau sebaliknya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: