jump to navigation

Bento Januari 14, 2008

Posted by anick in Agama, All Posts, Kebebasan, Kisah, Sejarah, Tuhan.
trackback

— sebuah cerita untuk MUI

Bento dilaknat dan dicampakkan ketika ia baru berumur 24. Hari itu, 27 Juli 1656, majelis para rabbi di Sinagoga Amsterdam memaklumkan bahwa anak muda itu, yang pernah jadi murid yang pandai dalam pendidikan agama, dibuang dari kalangan Yahudi, dari ”bangsa Israel”, karena pendapat dan perbuatannya yang dianggap keji.

Pengumuman hukuman itu dibacakan dengan angker. Dari mimbar kata demi kata dilafalkan, seraya terompet besar yang meratap menyela sesekali. Sinagoga yang terang itu pelan-pelan suram. Lampu satu demi satu dimatikan, sampai akhirnya semuanya padam dan ruang jadi gelap: lambang kematian cahaya rohani dalam diri orang yang dikutuk.

”Terkutuklah ia di hari siang dan terkutuklah ia di hari malam. Terkutuklah ia ketika ia berbaring dan terkutuklah ia ketika ia bangun. Terkutuklah ia bila ia ke luar dan terkutuklah ia bila masuk.” Dan kalimat terakhir keputusan para sesepuh Dewan Eklesiastik itu berbunyi: ”…Tuhan akan mencoret namanya dari kehidupan di bawah Langit.”

Kalimat itu garang, tentu, tapi keliru. Berkali-kali sejarah mencatat, dengan keputusan seperti itu para pembesar agama menunjukkan keangkaramurkaannya dan juga kekonyolannya. Sejak itu Bento memang mulai harus hidup terasing dari sanak saudaranya. Tapi ia tak mau takluk. Ia meninggalkan usaha ayahnya yang pernah ia teruskan dan berhasil. Menumpang sewa dari rumah ke rumah di daerah murah, nafkahnya datang dari menatah lensa buat teleskop dan mikroskop. Ia mati sebelum umur 45 dan hanya meninggalkan dua pasang celana dan tujuh lembar kemeja. Tapi ia, Bento, nama panggilan Portugis bagi Baruch de Espinoza, atau Spinoza pemikir yang menulis Tractacus Theologico-Politicus, tak pernah tercoret dari muka bumi. Kutukan itu gagal.

Aneh, (tapi mungkin tidak) para ulama Yahudi Amsterdam itu mengambil keputusan sekeras itu. Mereka sendiri berasal dari para pengungsi Spanyol dan Portugal, tempat Gereja Katolik dengan lembaga Inkuisisinya membakar orang yang dianggap murtad hidup-hidup, tempat raja dan gereja memaksa orang Yahudi dan muslim memeluk iman Kristen. Pada suatu hari di tahun 1506, di Lisabon, 20.000 anak dipaksa dibaptis, sementara 2.000 orang Yahudi dibantai.

Tapi toh para tetua Yahudi di Amsterdam itu, yang punya kakek-nenek yang lari dari aniaya di Semenanjung Iberia, menunjukkan sikap tak toleran yang sama terhadap Spinoza, meskipun tak sekejam membakar orang di api unggun.

Mungkin ada dalam agama-agama Ibrahimi yang membuat iman seperti gembok: kita hidup dalam bilik yang tertutup dan terpisah. Di situ Tuhan pencemburu yang tak tenteram hati.

Tentu saja bagi pandangan macam itu suara Spinoza—yang diejek sebagai espinas (”duri-duri”)—bisa sangat mengganggu. Ia dianggap atheis.

Spinoza akan membantah itu. Ia percaya Tuhan ada—dan tak hanya itu. Novalis bahkan menganggap Spinoza ”orang yang gandrung-akan-Tuhan”. Tapi Tuhan baginya tak mengadili dan mempidana orang per orang. ”Tuhan tak memberikan hukum kepada manusia untuk menghadiahi mereka bila patuh dan menghukum mereka bila melanggar,” tulis Spinoza. Tuhan bukan person. Sebagaimana Ia tak bisa diwujudkan dalam arca, Ia tak bisa dibayangkan secara antroposentris. Siapa yang memandang Tuhan dengan memakai sifat dan fiil manusia sebagai model akhirnya membuat iman jadi absurd: bagaimana Tuhan cemburu dan menuntut dipatuhi bila Ia mahakuasa?

Bagi Spinoza, Tuhan itu ”substansi”. Substansi itu mengambil ”modus”, dan Tuhan mengambil modus sebagai Natura naturans, Alam kreatif yang membuahkan ”alam yang di-alam-kan”, Natura naturata. Ada kesatuan ontologis antara Tuhan dan ciptaannya.

Tapi dengan demikian Tuhan bagi Spinoza bukanlah Tuhan yang akan mencintai, atau membenci, atau membuat mukjizat. Pada saat yang sama, Tuhan ada di mana-mana, dalam segala yang ada.

Suara Spinoza tak akan diberangus seandainya ia hidup di zaman lain. Tapi seperti dikisahkan dengan mengasyikkan oleh Matthew Stewart dalam The Courtier and the Heretic, tentang pertemuan dan konflik pemikiran Leibnitz dan Spinoza, Tuhan adalah ”nama persoalan abad ke-17”.

Waktu itu Gereja telah dijatuhkan monopolinya oleh banyak aliran protestanisme; ilmu pengetahuan mulai mengguncang Kitab Suci; ekonomi dan politik mulai bebas dari intervensi lembaga agama.

Ada kebebasan berpikir, tapi juga rasa cemas menghadapi kebebasan. Spinoza sejenak merasakan kemerdekaan justru ketika ia dikeluarkan dari jemaat Yahudi—dan bersyukur ia hidup di negeri yang tak akan membinasakan orang ”murtad”. Namun pada akhirnya ia tahu: tak akan ada rasa aman begitu ia jadi duri bagi iman orang ramai.

Pada suatu hari seorang fanatik mencoba menusuknya dengan belati. Ia selamat. Tapi ia tahu ia harus berhati-hati. Ia, yang tinggal menumpang di Rhinsburg, dekat Leiden, dan di Den Haag, praktis menghabiskan waktunya menulis di kamarnya sambil tak henti-hentinya merokok—dan menyelesaikan beberapa buku. Tapi selama 10 tahun Spinoza tak berusaha menerbitkannya. Seorang penerbit yang mencetak pendapat yang dianggap berbahaya bagi iman telah dipenjarakan 10 tahun. Di tahun 1675, ketika Spinoza ke Amsterdam untuk mencetak satu karyanya, ia dengar desas-desus tersebar di kalangan para pakar theologi Kristen bahwa buku itu berusaha membuktikan Tuhan tak ada. Spinoza pun membatalkan niatnya.

Baru setelah ia meninggal karyanya yang penting, Ethica, terbit di tahun 1677. Sementara itu Tractacus-Theologico-Politicus yang terbit di tahun 1670, ketika ia masih hidup, muncul dengan tanpa nama—dan segera masuk buku terlarang.

Tak mengherankan, bila sejalan dengan pikirannya tentang Tuhan yang terpaut erat dengan manusia dan semesta—artinya Tuhan tak bisa digambarkan sebagai raja yang bertakhta—Spinoza menganggap kekuasaan politik para ulama dan pendeta harus ditiadakan. Iman yang tulus hanya tumbuh dalam kebebasan—dan justru pada kisah Bento yang diusir, kita tahu Spinoza benar.

~Majalah Tempo Edisi. 47/XXXVI/14 – 20 Januari 2008~

Komentar»

1. zombie idup - Januari 15, 2008

Masalahnya orang-orang MUI tu senang ga ya ama cerita? jangan-jangan membaca aja malas.ehhhhmmmm
Bravo buat Pak Goen. saya tunggu caping,buat Pak Harto yang lagi sekarat……..

2. zaki - Januari 16, 2008

Argumentasi GM untuk menyudutkan MUI (menyalahkan ulama) benar2 jauh dari realitas persoalan yang sedang dihadapi umat Islam, terutama menyangkut maraknya aliran sesat di Indonesia. Menurut saya, justru GM yang malas membaca mengenai Islam, terutama seluk beluk fiqih dan tauhid. Keuletan GM dalam menggali khazanah sastra dan filsafat dunia yang kerap dituangkannya dalam caping, semata2 karena memang sudah menjadi suatu kecanduan, bukan berasal dari semangat untuk mencari jalan keluar dari persoalan yng di hadapi bangsa ini, apalagi Islam. Terbukti, ulasan2nya sangat sedikit yang menyentuh Islam, kalaupun ada, sangat elementer dan hanya berdasarkan pendekatan filosofis dan seni.

Saya tetap membenarkan MUI. Masalah kutukan yang gagal itu, dan tetap “hidup”nya spinoza hingga kini adalah hal yang wajar. Saya gak tahu persis siapa itu spinoza, tapi bisa saja ia sekutu iblis, yang juga sama2 kena kutukan tapi tetap hidup hingga kini, bersama kekejian.

3. padjar - Januari 16, 2008

Caping kan cuma esai reflektif. Tidak dimaksudkan untuk menyampaikan ide baru, solusi cerdas atau menegaskan suatu argumentasi soal benar salah. Tujuannya kan agar pembacanya terlibat dalam tema yang diangkatnya secara intens.

Masalah akurasi informasi sejarah yang dikemukakan GM dalam Caping pernah dikritik oleh Nono Anwar Makarim. Tapi itu tak sedikit pun mengurangi minat orang untuk membaca Caping karena orang sadar kalau Caping bukan tulisan pelajaran sejarah dan bukan masalah akurasi itu yang dicari. (Ada uraian bagus dan sangat memadai dari Ignas Kleden dalam Majalah HORISON perihal bedanya tulisan tesis, esai, dan sajak)

Jadi, kenapa ambil pusing soal tulisan Caping yang dianggap menyudutkan MUI?

4. fatris moh, faiz - Januari 17, 2008

buat padjar

benar atau salah? atau kebenaran yang salah? harap klasifikasi kebenaran dengan serius. caping memang, barangkali, sebuah ‘bentuk’ baru dari prosa dan esai. mungkin juga puisi. tapi soal kebenaran? bukankan,”ANA-AL-HAQ’ adalah kebenaran bagi tiap manusia? benar, salah? cuma ada: kabur, dan remang. tak ada yang pasti dalam kekeliruan

5. fatris moh, faiz - Januari 17, 2008

buat zaki

ada sebuah kecenderungan yang terus dipertahan (pertuhan)kan seseorang: menghakimi. dari mana bung zaki tahu kalau GM kurang referensi tentang islam? apakah bung zaki telah membaca separuh tulisan GM?
soal kekurangan, barangkali benar. intelektual mana yang bilang: “saya telah cukup banyak membaca!”

6. icchankamin - Januari 17, 2008

saya tidak tahu apakah Mejelis Ulama Indonesia, mengerti akan cerita tentang ‘Bento’.

tetapi saya yakin beberapa diantara mereka (MUI) pasti tidak tahu bahwa lahirnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 diambil dari teori spinoza tentang ketuhanan…..bersama adam Muller dari jerman tentang teori integral, kirakira seperti ini iramanya :

…..menghendaki hubungan selaras, serasi dan seimbang antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, manusia dengan lingkungan alam sekitarnya, cita-cita hidup untuk kebahagiaan di dunia dan akherat, lahir dan batin, mikro kosmos dengan makro kosmos.

dan soepomo (pembuat UUD, menjiplaknya kedalam UUD 45)

Maka benarlah kritikan halus itu,

‘demikian Tuhan bagi Spinoza bukanlah Tuhan yang akan mencintai, atau membenci, atau membuat mukjizat. Pada saat yang sama, Tuhan ada di mana-mana, dalam segala yang ada’.

GM telah memberikan pencerahan kritik dengan menggambarkan Filsafat Spinoza…

7. icchankamin - Januari 17, 2008

kalau boleh saya menanggapi bung Zaki…

Mudahmudahan anda tidak seperti MUI….

Asal mengeluarkan Fatwa yang anehanehhh

Persoalannya siapa Goenawan… dia (moonmaap kalo saya melebihlebihkan} satusatunya orang yang tinggal di Indonesia, tetapi bukan ‘orang Indonesia’..

dalam satu tulisan Caping, kirakira berapa buku yang digunakannya….

kalo boleh saya bilang sedikitnya limabuku
dan sebanyakbanyaknya 100 buku bacaan pilihan

maka Jangan meragukannya…

dia punya kekurangan sebagai manusia di mata banyak penulis lain

karena dia tidak bisa tidak dihormati oleh pemula kebanyakan,….

8. zaki - Januari 17, 2008

Pembaca yang terhormat, saya minta maaf kalau terkesan kurang menghormati GM. Saya sendiri termasuk penggemar (korban) dari caping.

Suatu ketika saya pernah membaca caping berjudul Universitas. GM menyebut kalau universitas2 di Indonesia lebih banyak dijalankan dengan dengan kekuasaan ketimbang idealisme. Dia mengambil contoh nama2 universitas yang banyak berasal dari nama2 raja atau penakluk seperti Gajah Mada, Hasanuddin dan Syiah kuala. Idenya yang mengkritik lembaga pendidikan itu memang sangat benar. Tapi di sini juga terbukti kalau akurasi sejarah GM kadang menyesatkan pembaca: ketika ia mempersepsikan Syiah Kuala sebagai penakluk/penguasa sama denngan tokoh seperti Gajah Mada dan Hasanudin. Padahal Syiah kuala adalah tokoh ulama/guru.

Hanya itu yang saya tahu secara tak sengaja karena saya pernah kuliah di universitas Syiah Kuala beberapa tahun yang lalu, dan saya juga bukan penyelidik caping. Bisa saja data2 yang lain dalam caping tentang sejarah juga salah dan menyesatkan karena kita tak pernah banyak baca dan hanya menelan apa saja data sejarah dari caping.

Salam Hormat.

9. icchankamin - Januari 17, 2008

maap kalo saya juga salah

saya juga kuliah di Unhas (universitas Hasanuddin), dan tamat pula akhirnya tahun kemaren..

kalo tidak salah (maap kalo salah)…

bisa jadi maknanya begini
Gadjah Mada atau Pahlawan hasanuddin dari Makassar memang pada akhirnya seorang ‘penguasa’ (karena melawan yang dilawannya dan menang)

tetapi bisa jadi dia beda dengan penakluk…karena konotasi maknanya di kekinian dan memang faktanya para pahlawan itu menjadi penakluk karena sebuah nama dipatenkan untuk mengeruk keuntungan dari sebuah sekolah yang mencetak sarjanasarjana dengan syarat harus membayar sebuah upah serupa duit dalam bentuk semester, atau serupa proyek yang masuk melalui universitas … karena atas nama akademisi semua ditaklukkan dalam bidang manapun dengan mencatut nama Pahlawan tadi.. semisal Universitas Hasanuddin di Makassar, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas anda Universitas Syiah Kuala.

para universitas negeri yang bergelar pahlawan itu sebentar lagi akan menjadi penakluk bagi orangorang kaya.. mengingat statusnya yang sebentar lagi menjadi swasta…

salam hormat (moonmaap kalo saya salah)

10. zombie idup - Januari 18, 2008

bagi sebagian penikmat caping (sastra), ya seperti saya. caping hanya menghadirkan ‘sensasi’ yang untuk dinikmati selain sebagai bahan reflektif. mendalam, menggugah, menghadirkan pencerahan dengan gaya dan dari perspektif GM tentunya. Caping sebagai teks, GM nya dilepas dong.
mungkin, zaki hadir juga untuk mencari ‘sensasi’ yang lain. meskipun kita tidak mungkin menafikan ‘ruang’ ini untuk berbeda pendapat. taaapi lama-lama aku pribadi risih aja dengan semua komentarnya (maaf ya bUng Zaki!!!). bukan berarti kita ‘memberhalakan’ GM dan karyanya yang anti untuk dikritik, setidaknya komentar yang dihadirkan di kolom ini proporsional.
lagian apa sih saktinya MUI (konon lembaga ini dibentuk pada jamannya soeharto yang konon juga upaya untuk ……)? anjuran-anjurannya (fatwa2) juga hanya bersifat sosial tidak mengikat secara hukum. jangan-jangan orang-orang MUI juga mafia.kok kasih label halal pilih-plih.

11. daniel! - Januari 19, 2008

pernyataan sikap bahwa kita berbeda, seharusnya dalam kerangka kesadaran sesama manusia memang berhak berbeda.. bukan salah satu lebih tinggi derajatnya sehingga merasa berhak menghakimi yang lain.

Kebanyakan kita belum sampai kesadaran itu, dan MUI sama sekali tidak membantu. Jadi mereka memang perlu membaca caping ini..

12. zaki - Januari 19, 2008

Perbedaan yang terdapat antara MUI dan orang2 pluralis (istilah yang masih bias sampai sekarang) seperti GM adalah sangat mendasar dan dipisahkan oleh semacam iman. Bahkan saya kira perbedaan itu lebih dalam daripada perbedaan agama antara Islam dan kristen. Titik temu tak mungkin bisa ditemukan antara keduanya. Perbedaan Islam dan kristen tentu sudah sangat tua sehingga titik temu berupa toleransi antara keduanya sudah sangat teruji dan mantap. sedang pluralisme belum lama muncul dan kelihatannya lebih rumit dan kompleks. Jadi, ketimbang utk menjadi sesuatu yang memperkaya sisi kemanusiaan dan budaya, dia justru lebih berpotensi melahirkan konflik yang destruktif yang sangat tidak efisien karena menyita begitu banyak perhatian yang semestinya lebih layak utk ditujuklan terhadap hal2 lain yang lebih bermanfaat bagi bangsa yang sedang sakit ini.

13. zainal - Januari 19, 2008

Kenapa sih zaki ini tetap tidak bisa nangkep subtansi caping selama ini bahwa agama tidak bisa dijadikan legitimasi orang/kelompok/oraganisasi untuk melakukan represi kebebasan orang dalam memilih keyakinan atau menyuarakan pendapat.

Membandingkan perbedaan MUI dan pluralis dengan perbedaan Islam dan Kristen?. Ya nggak nyambung lah…

14. icchankamin - Januari 19, 2008

BUNG ZAKI,…yang tidak terhormat,….
moonmaap

ANDA TIDAK BODOH, TETAPI TENANG SAJA ANDA TIDAK AKAN MASUK NERAKA….KARENA BICARA TENTANG IMAN

APALAGI GOENAWAN MUHAMMAD, BELUM TENTU MASUK NERAKA KARENA MAKIAN ANDA..
GM JUGA BELUM TENTU MASUK SURGA KARENA MEMBERIKAN PENCERAHAN MELALUI CAPINGNYA

PERTANYAANNYA….

APAKAH MUI AKAN MASUK SURGA

KALAU IYA,..BIARLAH ANDA MENGIKUTINYA (mui)

DAN KAMI BELUM TENTU MENGIKUTI JEJAK GM MELALUI PENCERAHAN LEWAT ‘BENTO’

TETAPI MENAMBAH KEINGINTAHUAN APAAPA YANG TIDAK KITA KETAHUI ITU YANG AKAN KAMI CARI PEMBENARANNYA…

tak ada yang menjamin syurga dan neraka bukan…

mudahmudahan anda cuma purapura bego….

WASSALAM..

15. Menggugat Mualaf - Januari 20, 2008

@ zainal, yang bisa melakukan represi adalah orang yang memiliki kekuasaan atau kekuatan. Setidaknya orang merasa begitu. Jadi wajar kalo MUI merepresi karena MUI merasa memiliki kekuasaan/kekuatan untuk melakukannya. Di mana-mana seperti itu, ada yang pakai wajah polisi dunia seperti amerika, ada yang pakai wajah agama seperti mui, ada yang pakai wajah pemerintah (ini mah di mana-mana).
Kenapa protes?

16. Menggugat Mualaf - Januari 20, 2008

@icchankamin
Kalau anda tidak menghormati seseorang hanya karena tulisannya tidak sesuai dengan selera anda, menurut saya anda sama dengan MUI. Jaketnya saja beda, satu jaket agama satu lagi jaket tak jelas.

17. icchankamin - Januari 21, 2008

To menggugat muallaf…

menurutku anda yang tidak jelas, dan tidak memahami permasalahan…..

wassalam

18. zainal - Januari 22, 2008

hehehe..ternyata kita sama2 saling nggakngerti..

19. Toni - Januari 22, 2008

adakah kebebasan lepas
yang tak terbatas
tanpa pembatas
tanpa otoritas?

aku bertanya, adakah
dimanakah
kemanakah
aku bisa raih?

batas bukan pembatas
ia hanya merentas
jalan tak jelas
ia jutru melepas

jadi, MUI berhak berotoritas
meski tidak mutlak
dan Mas Goen boleh menulis
asal tak sekedar gertak

sidojangkung, 22/01/08

20. zainal - Januari 22, 2008

sajak aneh…garing…terlalu maksain

21. Menggugat Mualaf - Januari 22, 2008

Kalo menurut saya, boleh koq merasa benar dan merasa orang lain salah. Tapi bisa ngga kita tetap menghormati pikiran, pendapat atau pilihan orang lain meskipun menurut kita salah. Bukannya malah insulting dengan mengatakan tidak terhormat atau tidak memahami apa-apa.
Perilaku seperti itu mirip dengan orang yang suka membunuh karakter orang lain.

22. Toni - Januari 22, 2008

@ zainal
bolehkah aku menulis komentar
tanpa harus terbatas?

23. icchankamin - Januari 22, 2008

kalo Toni itu, bukan bersajak mas Zainal….cuma barisnya aja yang persih hehe..

trus kalo Mbak mualaf ini sepertinya ‘perlu belajar’ banyak… (maap),

kalo mnurutku katakatanya yang salah disini :
boleh koq merasa benar dan merasa orang lain salah. Tapi bisa ngga kita tetap menghormati pikiran, pendapat atau pilihan orang lain meskipun menurut kita salah.

coba pahami dech kalimat diatas baikbaik…

kebenaran itu subjektif dan akan selalu begitu yang penting jangan memaksakan ke-subjektifan kita terhadap pendapat orang lain… tuh aja ya…

baca permasalahannya dari awal baru ungkapkan kesubjektifan kita, yang penting ada alasan dan dasar yang kuat…

Dan menurutku GM mengungkapkannya secara universal tanpa menggugat MUI, tetapi memberi pencerahan..

Gitu aja Mbak Muallaf…

Aku punya teman seperti mbak.. yang muallaf dari katolik memilih Islam pada umur limapuluan tahun…, dan menurutku dia lebih hebat dari MUI..karena kesubjektifannya disimpannya rapat dalam hati, Agama itu pribadi manusia dengan tuhan…
Karena ini bukan lagi Jaman Muhammad, tak ada mukjizat lagi menjadi pemimpin umat..

kita hanya secuil kisah dari kisah akhir yang mungkin tidak akan dicatat tetapi masih memiliki mutlak, yaitu pilihan Syurga dan neraka

dengan mengikuti ajaranNya dan menjauhi laranganNya

(moonmaapkalo ada yg tersinggung sekali lagi)

wassalam

24. icchankamin - Januari 22, 2008

maap kalo nyelonong lagi…

blog ini mudahmudahan dibuat untuk saling berargumen asal jangan merasa menjadi yang paling benar tanpa alasan…..,

kita belajar sekedar bertukar pandang bukan…

dan saya yakin jika gunawan muhammad di amerika sana bersama dua orang anaknya dan menikmati hidup dengan seorang cucunya serta rokok mirip cerutu di teras rumah melalui komputer tenteng di teras depan rumah. pasti senang membaca perbedaan yang menggelitik diantara kita…

hehehe

wassalam……..

25. Toni - Januari 22, 2008

saya membayangkan dunia tanpa otoritas
tapi saya tak bisa membayangkannya

saya membayangkan semua serba bebas
tapi bagaimana ya itu mungkin terjadi

sepakbola saja, sebagai bentuk permainan belaka
mengandung aturan dan yang melanggar pun disemprit

dunia tetap membutuhkan otoritas
bisa bayangkan bagaimana jika semua orang bebas menafsir ayat
bukan kearifan yang didapat, malah kacau balau

saya kira MUI adalah satu dari bagian otoritas yang diperlukan umat

salam

26. panji - Januari 23, 2008

^ Kenapa saya tidak melihat kearifan dari MUI, jika ia merupakan bagian dari otoritas yang diperlukan?

27. Toni - Januari 23, 2008

arif tidak harus membuat semua orang merasa senang
seperti ibu yang melahirkan dan menyapih anaknya
pedih, sangat sakit tapi membahagiakan esok

28. padjar - Januari 23, 2008

Sebenarnya MUI itu tidak mempunyai otoritas dalam pengertian kekuasaan yang memaksa. MUI hanya punya kompetensi (bukan otoritas) keilmuan di bidang agama Islam. Dengan dasar keilmuan agama itu mereka (forum ulama) menyusun dan mengumumkan fatwa keagamaan dengan maksud agar fatwa itu bisa menjadi pedoman/rujukan bagi muslim di Indonesiad lm menghadapi masalah keagamaan yg bersifat tdk mengikat . Dan itu yg scr resmi mjd tujuan pembentukan MUI..
Karenanya ketika muncul masalah penyerangan orang2 thd kelompok Ahmadiyah, MUI menyatakan itu sdh masalah kekerasan sosial yg tdk ada hubungan dg fatwa MUI soal Ahmadiyah. Sedangkan pihak lain memandang penyerangan thd Ahmadiyah itu dipicu oleh fatwa MUI.

Jadi, tidak relevan menghubungkan MUI dg konsep otoritas (legitimated power) di Indonesia.

29. Toni - Januari 24, 2008

bukankah membuat fatwa adalah sebuah otoritas?

30. padjar - Januari 24, 2008

Cape deeh….

31. Menggugat Mualaf - Januari 24, 2008

ini mbak mualaf yang sebenarnya..
maaf, itu teman saya yang membuatkan blog mualaf menggugat dan mengisi komentar disini lewat blog tsb.

saya suka GM..
tidak bisa leterlek dalam membaca tulisannya..
saya suka caranya mengungkapkan sesuatu, tidak langsung tapi mencerdaskan..
cuma sayangnya, banyak yang ga secerdas GM di MUI
gitu ga sih??

anis

32. Toni - Januari 25, 2008

mbak mualaf!
jadi selama ini komentar palsu?

33. ibra - Januari 26, 2008

rasanya ngga semua teks memiliki multi tafsir, ya…
pembaca juga masih punya mata dan kepala untuk menilai mana yang multi tafsir, mana yang tendensius, juga mana yang punya tendensi untuk dianggap sebagai teks yang multi tafsir…

batasan-batasan itu -menurut saya- mesti diberi garis yang mencukupi, biar tidak terjadi salah paham…biar tidak terdengar seperti provokasi…biar tidak terdengar seperti “masa puber intelektual” yang dalam hal ini menyangkut orang-orang di sekitar GM

sebab bila tidak, GM sendiri yang bertanggung jawab atas dampak dari kesalah-pahaman itu

34. kartizah - Februari 1, 2008

Kok jadi panjang amat ya komentar-komentar fans caping??!! GM aja (“mungkin”) gak merasa ada yang salah kok dengan isi tulisannya, nah loh kok malah qta yang jadi aneh……
Dibaca aja deh, terus difilter eh disaring sendiri…
Caping tetap makanan favorit kan ketika kita “kosong”??

35. danalingga - Februari 5, 2008

Yup, tulisan ini hanya refleksi toh. Moga moga bisa mendapat pencerahan.

36. iqra - Februari 7, 2008

yup, kalian semua benar

37. pak de - Maret 13, 2008

Caping…tak perlu menakutkan……(saya membayangkan GM menulis seperti itu untuk kita he..he…)

38. Dedy - April 30, 2008

@Zaki
Bisa saja data2 yang lain dalam caping tentang sejarah juga salah dan menyesatkan karena kita tak pernah banyak baca dan hanya menelan apa saja data sejarah dari caping.
He..he…siapa bilang kita menelan begitu saja? Anda terlalu menyepelekan para pembaca caping disini. kami membaca Caping tidak seperti anda mas..sory

39. papabonbon - September 16, 2009

diskusinya berat berat. mantep banget sih. ayo deh, makan makan .. ^^

40. Sisi Lain Spinoza | JalanTelawi [Beta] - Februari 14, 2011

[…] apa yang diucapkannya, sekurang-kurangnya seperti yang dapat dilihat dalam dua gambaran berikut: “Bento”, tulisan Goenawan Mohamad; dan “Spinoza”, karangan Aqil Fithri. Tetapi, sebenarnya, tidak […]

41. kota salju - Juni 12, 2011

”mungkin kutukan itu telah gagal”

hmmmmmmmmm
apa arti sebuah hasil?

42. 15 Filosof Besar dan Sumbangsihnya (1) | VIP Station - September 21, 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: