jump to navigation

Slamet Januari 21, 2008

Posted by anick in All Posts, Elegi, Indonesia, Kisah.
trackback

Slamet adalah sebuah teriakan, ketika ia bunuh diri pada umur 48. Mungkin kota Pandeglang mendengarnya. Mungkin Banten dan Jakarta mendengarnya. Tapi hanya 10 menit.

Segera setelah itu, teriakan itu lenyap. Slamet hilang. Ia kembali jadi noktah yang melintas tipis pada layar radar, seperti berjuta-juta titik lain yang diabaikan. Jakarta sibuk. Tuan-tuan sibuk: tuan-tuan berbaris membesuk Suharto, sang patriakh yang gering terbaring di rumah sakit itu, dan dengan tekun tuan-tuan mengikuti naik-turun tekanan darahnya, menyimak jantung dan paru-parunya, berkomat-kamit membaca doa untuknya, dan berseru, makin lama makin keras, maafkan dia, maafkan dia …

Tentu, semua itu karena tuan-tuan orang yang beradab. Tapi tak ada peradaban yang tak berdiri di atas pengakuan bahwa ada mala yang besar, (meskipun tak disebut sebagai dosa), ketika di luar pintu seseorang rubuh, tertindih, hilang harap — dan kita tak menolongnya.

Slamet adalah indikator negatif peradaban.

Lelaki ini seorang pedagang yang tekun, meskipun tetap miskin. Sejak 1993 dengan angkringannya ia jajakan gorengan singkong, tahu, tempe, dan pisang di sekitar jalan Ahmad Yani di Pandeglang. Ia pernah yakin hidup akan lebih baik setelah ia berhenti bekerja di sebuah pom-bensin. Mula-mula memang ada harapan: ia bisa memperoleh untung sedikit sedikit. Kata isterinya, Nuriah, Slamet dapat membawa laba sampai Rp 20 ribu sehari.

Tapi kemudian harga kedelai naik cepat dari Rp 3.400 menuju ke Rp 8000 sekilo. Akhirnya Slamet hanya bisa membawa pulang rata-rata Rp 8000, sementara tiap kali ia harus belanja bahan sampai Rp 100 ribu.

Apa yang bisa dilakukannya? Utangnya memberat. Tapi bukan hanya itu yang menimpanya. Ia, yang lahir di Ciamis dan mati di Pandeglang, ia yang berkeluarga di rumah 7 x 7 meter persegi berdinding gedeg yang terletak di dekat Pasar Badak, ditentukan nasibnya tak di sana, melainkan di kejauhan: oleh para birokrat Departemen Pertanian dan Perdagangan, oleh pasar dunia yang bergejolak, oleh ladang dan lumbung di Amerika Serikat, oleh pusat-pusat makanan di Cina, oleh cuaca dan panen di Brazil, oleh struktur agribisnis di Argentina.

Apa daya Slamet di sela-sela jaringan raksasa itu? Seorang pakar Departemen Pertanian Amerika Serikat telah memperhitungkan, produksi kedelai tahun 2007-2008 akan turun 14% di negeri itu, dan pembaca koran tahu Amerika Serikat adalah salah satu produsen terbesar. Ketika para petani Amerika mendahulukan menanam jagung yang lebih menguntungkan untuk industri biodiesel, suplai kedelai pun merosot di dunia. Sementara itu, Brazil dan Argentina hanya meningkat sedikit panennya. Sementara itu, permintaan bertambah, terutama dari Cina dan India, dua negeri yang lebat penduduk dan sedang tumbuh pesat ekonominya. Maka harga pun membubung tak terelakkan. Di Pandeglang, Slamet terjungkal.

Apa yang bisa dilakukannya? Ia hidup di sebuah negeri dengan para birokrat yang seperti tak hendak tahu dan berbuat; trend memburuk di pasar dunia itu bukanlah sesuatu yang mendadak. Slamet adalah sebuah indikator keteledoran.

Ia juga gejala kegagalan. Di tahun 1974, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan kedelai dengan produksi sendiri, tapi sejak 1975 sudah mulai jadi pengimpor. Ketika di Jawa tanah-tanah pertanian yang subur dipergunakan untuk kebutuhan lain, kedelai kian tak dapat ruang yang cukup untuk ditanam. Seorang peneliti, Dewa K.S. Swastika, bahkan sejak tahun 2000 menghitung: tanpa terobosan yang berarti, defisit kedelai akan berlanjut.

Apa “terobosan” itu, saya, seperti halnya Slamet, tak tahu. Yang saya tahu, Indonesia tak mengalami apa yang dialami Brazil. Di sana, demokrasi yang menggantikan kediktaturan militer membongkar juga kendali pemerintah atas pasar, dan di antara 2002-2003 (ketika di Indonesia tak ada lagi harapan untuk swa-sembada) di negeri Amerika Selatan itu produksi kedelai naik hampir 300% dibandingkan dengan 1987-1988.

Lebih beruntungkah Brazil ketimbang Indonesia, yang kembali ke demokrasi dengan masyarakat yang telah dipangkas habis sumber-sumber kepemimpinannya? Saya tak tahu adakah ini soal malang dan mujur. Yang pasti, demokrasi datang dan negeri ini hanya punya sederet pengambil keputusan yang kacau, atau tak cerdas, atau bingung. Tampaknya cerita kedelai ini juga cerita keledai-keledai.

Tuan-tuan pasti tak mau seperti itu. Tapi jangan takut. Cerita Slamet bukanlah hanya cerita tentang tempe dan kekuasaan dan kebebalan. Ia juga cerita sebuah keadaan, ketika seorang bisa begitu putus asa dililit utang yang tinggal separuh dari Rp 5 juta, sementara tak jauh dari tempat ia menggantung diri ada orang-orang yang menghabiskan beratus juta untuk satu malam perhelatan. Cerita Slamet adalah cerita seorang yang dibunuh dengan acuh tak acuh. Maka ia juga cerita tentang kematian yang tak terdengar, tapi seperti sebuah teriakan.

Slamet memang tak menggugat siapa-siapa, tapi ia tetap sebuah kontras: ia kecemasan yang tak ditengok, ia bukan Suharto yang terus menerus dijenguk. Tapi ia lebih siap mati. Menjelang ia menggantung diri, dibelinya dua helai kaus putih. Ia bicara dengan Oji, anaknya yang masih di kelas tiga SMK Pariwisata dan sudah setahun belum membayar uang sekolah. Ia bisikkan bahwa ia akan segera meninggal.

Slamet akhirnya sebuah cerita selamat tinggal yang tenang. Putus-asa itu tampaknya menyebabkannya siap dan ikhlas. Ia adalah pemberitahuan, ia seperti sajak Subagio Sastrowardojo: pada akhirnya, apa sebenarnya yang dimiliki manusia?

Tak ada yang kita punya

Yang kita bisa hanya
membekaskan telapak kaki,
dalam, sangat dalam,
ke pasir
Lalu cepat lari sebelum
semua beakhir

~Majalah Tempo, Edisi. 47/XXXVI/21 – 27 Januari 200~

~dengan perbaikan dari penulisnya~

Iklan

Komentar»

1. icchankamin - Januari 22, 2008

Ini saya kutip dari berita kompas.co.id tanggal 18 Januari tentang slamet yang tewas itu….

Tragis. Gara-gara didera krisis harga kedelai yang terus membubung, seorang pedagang gorengan memilih mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri.

Harga mendera, nyawa bayarannya, demikian kredo yang, boleh jadi, dianut Slamet (45), pedagang gorengan yang bunuh diri itu.

Ia sehari-hari bekerja sebagai pedagang gorengan di Pasar Badak, tepatnya di tepi Jalan Raya A Yani, di Kampung Cidemang, Kelurahan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Sebagai seorang “persona”, Slamet bunuh diri karena kebijakan soal kedelai yang dianggap absurd. Sedemikian absurd, sampai-sampai ia mengakhiri hidup.

Absurd, enam huruf yang melatarbelakangi dan mendorong pedagang gorengan untuk memberontak (“revolt”).

Sebaliknya, seorang ibu pembuat tahu di Gunung Sulah, Bandar Lampung tampak terus menggoreng tahu sayur. Dengan mengenakan pakaian yang biasa digunakan sehari-hari, daster dan rambut yang diikat ke belakang, ia memegang alat penggorengan sambil terus membalik puluhan tahu dalam wajan yang berisi minyak goreng panas. Demikian foto yang dimuat oleh sebuah sebuah harian nasional pada Rabu (16/1).

Ibu itu tampil mewakili puluhan perajin tahu di sentra tahu Gunung Sulah atau Kampung Sawah Brebes, Bandar Lampung, yang kini dilanda kekhawatiran bahwa tahu yang mereka hasilkan tidak laku.

Tapi, mereka jelas terus melafalkan kata-kata bermakna; memberontak untuk mempertahankan hidup, dengan cinta.

Dia melakukan hal-hal yang terbilang “kecil” di mata warga perkotaan, untuk menyebut pekerjaan menggoreng tahu, namun jelas terekam dalam kamera. Meski begitu, dia melakukan pekerjaan dengan penuh cinta.

Ketika seorang ekonom di Jakarta berkata bahwa kebijakan pemerintah menurunkan tarif impor kedelai menjadi 0 persen merupakan kebijakan absurd karena tidak mempunyai efek apa pun terhadap harga dan kelangkaan kedelai saat ini, justru seorang pekerja di industri kecil tempe Arema, Jalan Jakarta, Bandung, terus mengaduk kedelai yang dicampur ragi untuk terus memproduksi tempe.

Bagi pekerja di industri tempe itu, meski absurd, dia terus berusaha, dan dia ada karena Pencipta adalah oase cinta yang tidak terkira bagi mereka yang dahaga di tengah ziarah kehidupan yang melelahkan.

“Kasus ini menunjukkan adanya kebijakan kosong dalam hal ketahanan pangan, khususnya untuk kedelai yang menjadi bahan baku tempe sebagai makanan rakyat yang sudah mendarah daging,” ujar Didik J Rachbini, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN).

Menurut Didik, sistem produksi kedelai hancur karena kebijakan pemerintah terhadap sistem komoditas ini adalah kebijakan pembiaran, yang tidak memberi stimulasi terhadap petani untuk mendapat insentif keuntungan dalam berproduksi.

Singkatnya, kebijakan itu bernuansa pepesan kosong, atau kebijakan yang jauh dari aras cinta.

Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada wartawan setelah memimpin rapat terbatas dengan menteri dan jajaran eselon I Departemen Pertanian, Jumat (18/1) mengungkapkan, perlunya perajin tempe-tahu beradaptasi menghadapi kenaikan harga kedelai di pasar dunia.

Bagaimanapun, ujar Presiden, kenaikan harga kedelai sampai 100 persen dapat menimbulkan guncangan pada industri berbasis kedelai di Tanah Air.

Dalam mengatasi kenaikan harga kedelai di pasar dunia dalam jangka pendek pemerintah telah menempuh berbagai kebijakan. Di antaranya menurunkan bea masuk impor dari 10 persen menjadi 0 persen.

Namun, ditengah upaya pemerintah untuk mencintai rakyatnya di tengah lilitan krisis kedelai, para pedagang tempe di Pasar Kosambi, Bandung, terpaksa membuang sebagian dagangannya yang tidak laku. Mereka menempuh langkah “revolt”.

Alasannya, sejak kenaikan harga kedelai, produsen justru mengurangi ukuran tempe meski tetap menjual dengan harga yang sama. Kondisi ini membuat dagangan tidak dilirik pembeli.

Semenjak kenaikan harga kedelai, menurut pedagang bernama Ade, penjualan menurun. Jika tidak terjual dalam waktu empat sampai dengan lima hari, maka barang dagangan itu terpaksa dibuang. “Percuma jika terus dipajang karena konsumen memilih tempe yang baru,” katanya.

Aura cinta untuk lebih memilih hidup ketimbang mengakhiri hidup juga dimiliki oleh pedagang lainnya. Budi, penjual tempe dan tahu di Pasar Cihaurgeulis, Bandung, menyebutkan, meski tempe dan tahu sulit dijual, ia tetap bertahan. Jumlah pembeli pun terus berkurang.

Mengapa para pedagang tahu dan tempe itu justru melakukan hal-hal yang relatif kecil dengan cinta besar besar ketika menghadapi krisis kedelai?

Seorang tokoh spiritual yang dikenal sebagai guru perdamaian dan persaudaraan, Bunda Teresa dari Kalkuta pernah mengatakan, “Kita tidak bisa melakukan hal besar di Bumi ini. Kita hanya bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar.”

Suatu ketika seorang wartawan bertanya, “Apa yang bisa dilakukan seseorang untuk menjadi lebih bahagia?” Bunda Teresa menjawab, “Lakukan sesuatu yang menyenangkan untuk orang lain.”

“Kamu akan melihat bahwa kalau kamu bersikap menyenangkan, maka dunia akan terlihat baik. Kalau kamu bersikap baik dan penuh perhatian, dunia akan mengembalikan kebaikan itu kepadamu,” katanya.

Akan tetapi mengapa manusia kerapkali memilih absurditas – misalnya dengan jalan pintas bunuh diri – ketimbang mencintai hidup ini?

Filsuf Prancis Albert Camus dalam karyanya “The Myth of Sisyphus” mengajukan pertanyaan, apakah hidup yang dijalani manusia memang berharga untuk dihayati, bernilai untuk dirayakan?

Rutinitas atau kebiasaan hidup keseharian, dari bangun pagi, bekerja, makan, nonton teve, tidur, dan begitu seterusnya menyeret manusia kepada pertanyaan, untuk apa kehidupan yang serba rutin ini?

“Manusia telah kehilangan ingatan akan rumah yang telah hilang atau ketiadaan akan harapan kepada tanah air keabadian. Apa yang kita rindukan justru apa yang harus kita tolak,” kata Camus.

Ketika menapaki 2008, publik ramai-ramai memproklamirkan resolusi hidup yang lebih optimistis ketimbang 2007. Absurditas terus mengintip dalam berbagai bencana alam dan penyakit, Camus pun menolak untuk berakrobat kemudian melakukan salto ke dalam agama.

“Manusia akan menjadikan agama semata-mata sebagai pembelaan diri (alibi) untuk melarikan diri dari kepahitan dan kegetiran hidup. Sekarang tinggal bagaimana manusia bersikap,” kata Camus.

Menurut dia, konsekuensi dari penghayatan akan absurditas justru berontak (revolt). “Revolt artinya berkonfrontasi terus-menerus antara manusia dan kegelapannya. Dalam pemberontakan tidak ada pengharapan. Pemberontakan tidak memecahkan masalah mengenai hidup yang tanpa arti ini. Pemberontakan hanya membawa manusia kepada permenungan (kontemplasi) mengenai absurditas yang justru memberi kebebasan dan kebahagiaan.”

Bebas dan bahagia untuk siapa? Bebas dan bahagia untuk diri sendiri, karena cinta mempromosikan diri kepada “aku” (promotion du toi), kata filsuf Prancis Maurice Nedoncelle.

“Mencintai berarti menghendaki penyempurnaan atas orang yang dicintai. Cinta itu memberi untuk menyempurnakan orang yang dicintainya. Cinta bahkan tidak akan membatasi diri kepada waktu-waktu tertentu. Cinta memiliki sikap mantap, tahan lama, dan merawat kesetiaan sepanjang waktu,” katanya

2. Guntar - Januari 22, 2008

Sepertinya kita memang belum punya prioritas yg disepakati bersama terkait apa2 yg perlu diunggulkan dari bangsa ini. Semoga bukan karena sikap merendahkan, “apa yg bisa dibanggakan di kalangan internasional klo kita kaya kedelai?”. Ironis memang ketika kedelai yg jadi komoditas dan bahkan budaya malah jadi barang langka.

tapi kita sendiri, sekarng bisa berbuat apa? 🙄

3. padjar - Januari 22, 2008

Jadi inget caping the death of sukardal..membuat kisah kematian orang kecil yang luput dari perhatian menjadi hal yang layak (dan mesti) diingat demi kemanusiaan.

Mudah-mudahan Tuhan menerima Slamet di hadirat-Nya dengan segala kesalahan karena putus asanya (yang tidak seberapa dibandingkan kesalahan orang-orang yang berkuasa yang menyebabkan putus asanya itu).

4. zombie idup - Januari 22, 2008

ayooo mas zaki, dimana kekuatan Tuhan dan Agama dalam persoalan sosial yang dekat dengan kita. yang kita akrabi setiap hari, sehingga kita lupa itu adalah masalah.
ternyata, Slamet lebih mempunyai kekuatan untuk meneriakkan “kita bangsa yang miskin dan tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan”; kita adalah hanya bangsa yang melihat ‘kekuatan-kekuatan misteri bin gaib’ tak beralamat, yang terus menghantui kapan saja dan dimana saja.
kekuatan keputus-asaan yang lebih nyata berat massanya di negeri ini, kekuatan yang tidak segampang mengatakan “jangan gilaaa doooong”

5. Toni - Januari 22, 2008

Slamet belum slamet

Yang kecil menjerit
ringkih oleh himpit
beban menjepit
lari terbirit

yang besar menggurita
menjelma raksasa
memenuhi angkasa
berkelana tamasya

sidojangkung, 22/01/08

6. watonmuni - Januari 22, 2008

Slamet2,riwayatmu kini

7. realylife - Januari 22, 2008

saya berharap sesuai dengan namanya dia akan slamet . slamet bertahan , survive dengan akal dan pikiran yang dipunya . Dramatisir keadaan boleh , namun hanya karena satu usaha yang gagal dan susah diraih kita putus asa dan menyerah ? bangsa ini mungkin harus dididik lagi untuk kreatif dan survive dalam berbagai keadaan , tanpa pasrah dan memilih jalan pintas , kita harus berpikiran maju meski di tengah himpitan ekonomi yang subhanallah , kayaknya ngga pernah mau pergi dari negeri ini.
ngga ada tempe dan ngga bisa jual tempe goreng , ya realitis mencari usaha lain. jangan pernah nyerah .

8. icchankamin - Januari 22, 2008

Slamet bin slamet

mana tau tentang bea masuk impor
juga harga kedelai yang naik 100 persen
dia hanya tau, dirinya tidak bisa begitu terus

penjualan sepi
hidupnya pun menepi
utang juga masih ada

tetapi,

hanya sepuluh menit dia diperhatikan
lewat cerita mulut ke mulut….

karena kematiannya masih kalah pamor
dan belum menggugah tuantuan kebun
siapa lagikah yang menunggu di kafani

garagara kacang kedelei….

9. rwinciyin - Januari 22, 2008

kacang kedele aj bisa mcabut nyawa seseorang?
mungkinkah qt tlalu pelit untuk berbagi,shingga menutupi suara hati.
rintihan dari negeri bumi pertiwi ini.

10. demis - Januari 22, 2008

kenapa cerita seperti ini selalu berulang di depan mata kita ya? dulu ada Sukardal, ada pula Jasih, ada Marsinah, sekarang ada Slamet?

kenapa harus terjadi? apa mereka tergilas mesin politik yang tak menengok sedikit pun pada mereka dan bahkan tak menaruh iba?

lalu, pantaskan politik disebut sebagai sebuah tugas sedih, Mas Goen?

sedih menghadapi Slamet, sedih pula, misalnya, hendak menghukum Bapak kita, Soeharto…

11. sitijenang - Januari 22, 2008

beruntunglah mereka yang tak perlu mengalami hidup seperti si slamet. mudah-mudahan kita selalu diberi rasa peduli terhadap sesama. dengan begitu, orang-orang seperti almarhum slamet tak perlu lagi berputus asa.

12. realylife - Januari 23, 2008

terima kasih sudah silaturahmi.
sering – sering silaturahmi ya

13. chi - Januari 23, 2008

orang sekarang ga takut mati…
tapiiieeeyyy….
TAKUT HIDUP…!!

14. DANIEL! - Januari 23, 2008

salut dan empati untuk pak slamet.. yang telah mengulur takdir sampai ujung asanya.. harus menjadi pelajaran bagi kita semua sebagai bangsa..

15. Nunur H - Januari 24, 2008

Sebagai bangsa, nyatanya kita telah lama bangkrut. Telah lama gulung tikar. Tetapi kita sungguh celaka hidup dalam negara yang kehilangan harapan…semoga Slamet, dimanapun ia kini, tidak hanya menjadi noktah kecil. tidak juga debu yang begitu saja hilang dari radar berjuta-juta manusia. Slamet, Sukardal, akan terus menggemakan ingatan kita sampai kapan-pun…AMIEN

16. Menggugat Mualaf - Januari 24, 2008

kadang saya pikir, SBY sedang sibuk bikin lagu tuk pak harto..
sampai lupa kalau disuruh ngurus negara.. ;-(

yang bisa saya lakukan sebagai ibu rumah tangga, adalah tetap membeli tahu dan tempe meski harganya meninggi..
bukan apa-apa, biarkan roda kehidupan ini tetap berputar, meski perlahan.. menanjak dan berat..
mereka saudara kita juga..

sebagai sebuah negara,
kita memang sedang “diajari” tuhan..
tak perlu disesali caraNya mengajari kita lewat begitu banyak kepedihan..
karena memang begitulah cara yang bisa buat kita mengerti..
selain cara itu, kita begitu bebal..

saya yakin, kepedihan dan penderitaan ini akan nyalakan apinya..
api dari rasa jiwa yang selama ini tertidur oleh mimpi-mimpi..
yang akan menyala dan terang benderang
menerangi jalan kita sebagai sebuah bangsa tuk memerdekakan diri dari jerat setan yang selama ini membelenggu..

dan yang pasti,
bukan nyala api hanya dari jiwa seorang yang sedang bikin lagu ditengah penderitaan ini..
tapi dari jiwa kita semua..
kehangatan dan terang dari rasa cinta yang menyala-nyala..

anis

17. raz ghaz - Januari 24, 2008

Tulisan GM & yg lainnya begitu bernada pembelaan. namun..memang diakui,
terasa getaran rasa peduli & semangat anak manusia dari komentar2 saudara2 semua. kita semua tak seharusnya putus asa untuk mencapai derajat mulia selaku nmanusia. bunuh diri..apapun alasannya tetap tidak boleh dibenarkan.sekalipun hidup terjerat berjuta problema. dan ianya bukan contoh yg baik bagi semua. SLaMET…tidak adakah jalan lain dari bangsa ini untuk membantu orang sepertimu?

18. padjar - Januari 24, 2008

Soal Slamet bunuh diri itu urusan dia dg Tuhan. Bunuh diri itu yg dia pilih secara sadar dan terencana (bukan merampok atau jadi maling).

Tapi bukan masalah tindakan yg dia pilih, bukan soal bunuh diri itu yg jadi ihwal utama melainkan kenyataan adanya andil orang (-orang) lain yg membuat Slamet merasa putus harap, merasa sgl masalahnya tidak ada jalan kelular, merasa tidak ada yg mau menolong, setidaknya utk memberinya uang utk menuntup utangnya yg tinggal separuh dari Rp. 5 juta, atau memberinya kemudahan utk memperoleh kredit dari bank tanpa perlu jaminan, atau menolongnya membiayai sekolah anaknya.
Baginya semua orang tampak seperti nggak mau tahu kesulitannya, dan karena itu dia putus harap, putus asa.

Dan spt yg sdh lama kita saksikan, di negeri ini setiap tragedi yg menimpa orang miskin seringkali disumbangkan oleh kebebalan orang yg berkuasa dan kepelitan orang kaya.

19. Dion. S.Soegijoko. - Januari 24, 2008

Pak Slamet………TUHAN Yg ESA jauh lebih BESAR dari semua kesalahanmu dan kesalahanku…juga kesalahan kita semua. Walaupun engkau pulang dengan caramu sendiri saya amat yakin DIA memahami kelemahanmu…..kelemahanku…..dan kelemahan kita semua……..dan DIA akan memaafkan…..karena DIA Pencipta dan tempat semua ciptaan kembali…..betapapun rapuh….lunglai dan jahat-kotornya…..
Ironisnya,….di sini di negeri ini….orang masih getol berdebat tentang “sepotong” “dua potong” ayat yang kadang seenak perut dicomot-lepas dari konteksnya…..Atau sekedar memamah-biak mengikuti pendapat para “ahli” terdahulu tanpa dikaji-ulang….Pembicaraan bisa njelimet……ngotot….dan kian lama sering kian ngawur…..! Sementara korban akibat kemiskinan…..salah urus….tak diabaikan, dicuekin….jatuh bergelimpangan dari hari ke hari……Apa artinya berAGAMA…kalau hanya asyik sendiri ….bersama kelompoknya…..bersama “majelis”nya….? Sibuk ritual, ziarah…..cari “credit point ke surga ? tapi melupakan kemanusiaan ……! Saatnya pemahaman TUHAN lebih membumi….lebih peduli kepada sesama…..tanpa memilah-dan memilih apa identitasnya…..berjenggot apa tidak….., bajunya warna apa ? dsb-dsbnya……….

20. Toni - Januari 25, 2008

aku prihatin atas himpitan yang menimpa Pak Slamet
meski aku sangat nelangsa cerita akhir Pak Slamet
sebuah akhir kesabaran yang kurang manis, wahai Pak Slamet

aku saksikan di sekitarku banyak “Pak Slamet”
yang susah dan menjerit laksana Pak Slamet
aku bangga karena mereka berani hidup meski belum slamet

berani hidup lebih sulit dari berani mati!
meski hidup penuh dera tanpa henti
tapi kita semua adalah saksi “mati”:

kita diam ada susah mengepung
bisu dalam lingkaran zona nyaman

Pak Slamet berhenti diri bukan hanya salah SBY dan kroni
tanggungjawab itu juga mengenai diri ini

21. zaki - Januari 26, 2008

“Lebih beruntungkah Brazil ketimbang Indonesia, yang kembali ke demokrasi dengan masyarakat yang telah dipangkas habis sumber-sumber kepemimpinannya? Saya tak tahu adakah ini soal malang dan mujur. Yang pasti, demokrasi datang dan negeri ini hanya punya sederet pengambil keputusan yang kacau, atau tak cerdas, atau bingung. Tampaknya cerita kedelai ini juga cerita keledai-keledai.”

Dalam Islam, merampok (korupsi) dan membunuh orang itu lebih baik daripada bunuh diri karena bunuh diri itu hukumnya kafir. Sedangkan merampok dan membunuh hanya dosa besar dan tak sampai membuat dia jatuh kafir.
Tapi entah kenapa saya jauh lebih bersimpati kepada Slamet daripada pembunuh atau koruptor. Menurut Islam, sikap saya ini pasti salah. Tapi saya tetap beriman kepada Allah SWT, meskipun aturanNya bertentangan dengan nurani saya.

Seandainya hidup ini seperti sebuah dinas, saya ingin mengambil cuti beberapa hari. Setelah itu kembali lagi menjalani hidup.

Sebenarnya hidup itu sendiri adalah sebuah keajaiban dan kekuatan. Hanya saja kita tak menyadarinya karena telah menjalani hidup semenjak lahir, sehingga menganngapnya biasa. Ini adalah masalah psikologis, bukan ekonomis semata2. Hidup juga berpotensi berakhir dengan bunuh diri jika kita terus menerus kaya dan senang di puncak menara gading. Toh banyak juga orang kaya yang bunuh diri karena masalah cinta atau rasa malu.

Kebahagiaan akan terasa karena adanya penderitaan sebagaimana terasanya terang karena adanya gelap. Jeruk akan terasa sangat manis di lidah setelah kita makan asam jawa. Yang paling penting dari hidup bukanlah mencapai kebahagiaan selama2nya karena kebahagiaan di dunia ini pasti relatif, akan tetapi bagimana kita mampu merasakan dan menghayati susah dan senang secara wajar.

Astaghfirullahal’adhim.

22. [Coda] : Tempe Yang Mewah « f e r t o b - Januari 27, 2008

[…] terkejut dan terharu lagi ketika membaca tulisannya Bung GM di blog Catatan Pinggir yang berjudul Slamet. Dan juga tulisan Mbak Maya yang berjudul […]

23. bodrox - Januari 27, 2008

membaca tulisan ini, kita sempat berpikir, wah.. sungguh ironis nasib bangsa ini atau “nasib sebagian anak bangsa ini”. Apakah sebagian itu menunjukkan keseluruhan? atau sebagian itu, dalam sebuah bangsa, akan menjadi keseluruhan?

24. kartizah - Februari 1, 2008

Tempe eh… tempe… gak ada tempe… makan tahu… gak ada tahu… siapa yang tahu apa yang mau dimakan??
Makan gak makan asal kumpul…..??????

25. tono - Maret 1, 2008

mas goen, kalo boleh tahu, judul puisi soebagio yang mas goen pakai untuk menutup tulisan ini apa?

sungguh, tak ada yang kita punya.

26. Haryadi - April 29, 2008

@Zaki
“Dalam Islam, merampok (korupsi) dan membunuh orang itu lebih baik daripada bunuh diri karena bunuh diri itu hukumnya kafir. Sedangkan merampok dan membunuh hanya dosa besar dan tak sampai membuat dia jatuh kafir.”
Masyaallah…muak saya membaca komentar anda, mudah-mudahan saya tak sendiri…

27. Sontoloyo - Mei 4, 2008

Quote:

“Apa yang bisa dilakukannya? Utangnya memberat. Tapi bukan hanya itu yang menimpanya. Ia, yang lahir di Ciamis dan mati di Pandeglang, ia yang berkeluarga di rumah 7 x 7 meter persegi berdinding gedeg yang terletak di dekat Pasar Badak, ditentukan nasibnya tak di sana, melainkan di kejauhan: oleh para birokrat Departemen Pertanian dan Perdagangan, oleh pasar dunia yang bergejolak, oleh ladang dan lumbung di Amerika Serikat, oleh pusat-pusat makanan di Cina, oleh cuaca dan panen di Brazil, oleh struktur agribisnis di Argentina.”

Blaming game seperti ini yang tidak lepas daripada “intelektual” Indonesia. Ok, blame America, blame pasar bebas. Blame petani Amerika.

Konyol dan stupid!! Kenapa tidak blame the Indonesian government and yourself? Maybe you, the writer of the article, have something to do with it–indirectly.

Indonesia negara pertanian, tetapi kenapa tidak bisa memproduksi kedelai? Ok tanahnya tidak cocok, tetapi ada sistem rekayasa. Atau kalau memang harga meningkat, apa tidak bisa government sementara subsidi sampai sejauh tertentu sampai dimana harga tidak sampai meningkat tajam?

28. ibra - Mei 4, 2008

@sontoloyo, penulis artikel ini sudah melaksanakan tanggung jawab sesuai dengan kapasitasnya. Ya, menulis untuk ‘mengingatkan’ para ‘policy maker’, jg kita semua akan tanggung jawab bersama. Tudingkan telunjuk anda pada siapa yg menjadi tanggung jawabnya!

29. ajie - Mei 5, 2008

@Sontoloyo
bukankah disini GM juga menulis bahwa ini juga cerita tentang kekuasaan dan kebebalan? para birokrat yang tak hendak tahu dan berbuat, kebijakan yang bernuansa pepesan kosong, keteledoran….apalagi?
Saya setuju Mas Ibra kalau telunjuk anda salah salah. Anda menganggap GM “have something to do with it–indirectly”. Ya ini dia. Caping namanya. Isinya mengingatkan kita. Ada masalah yang tak sederhana dibalik itu semua dan ada orang kecil yang terjungkal karenanya.

30. Dedy - Mei 5, 2008

Membaca ini saya juga teringat dengan caping death of sukardal. Sanggup mendatangkan empati pada Pak Slamet.
@Sontoloyo
Baca lagi Mas Sontoloyo! (hehe..sorry tulisannya seperti itu sih). Quote tentu saja tak lengkap dan tentu sah-sah saja…tapi menanggapi separagraf tulisan tanpa membaca isi keseluruhan ya bisa begini jadinya. maklumlah saya kalau memang anda terburu-buru menanggapinya. Tapi hati-hati menggunakan kata “Konyol dan stupid” karena tanpa sadar bisa kita sendiri yang menjadi seperti itu.

31. zaki - Mei 9, 2008

BBM mau dan akan terus naik lagi ni!

32. Sarno « arca dwarapala - November 23, 2009

[…] the loss, daripada hidup makin susah lebih baik meninggalkan hidup sekalian. Makin trenyuh membaca Catatan Pinggir GM di Tempo edisi pekan […]

33. laser teeth whitening system - Mei 18, 2011

I am also commenting to let you know of the incredible discovery my princess found viewing your webblog. She mastered a lot of details, with the inclusion of what it’s like to have an ideal giving nature to make a number of people clearly grasp several extremely tough matters. You undoubtedly surpassed people’s expected results. Thank you for distributing these valuable, trustworthy, revealing and cool thoughts on this topic to Janet.

34. Training Your Dog Tips - Juni 2, 2011

Hello.This post was extremely fascinating, particularly since I was browsing for thoughts on this issue last Tuesday.

35. Syaiful, Bukan Slamet | Sidekick - Januari 1, 2016

[…] Mohamad (GM) menuliskan kisah Slamet dalam salah satu Catatan Pinggir (Caping). Ia mengurai kematian Slamet dalam konteks yang lebih luas, krisis […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: