jump to navigation

Sensor Januari 28, 2008

Posted by anick in All Posts, Film, Kebebasan.
trackback

Kami, sejumlah juru sensor, duduk di ruangan gelap seperti seregu malaikat yang waswas.

Kami tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Tuhan, (meskipun kami tak tahu ke arah mana semestinya), dengan mata gundah: tidakkah Ia terlampau optimistis tentang manusia ketika Ia memutuskan untuk menciptakan makhluk yang merepotkan ini? Tidakkah Tuhan lalai menduga bahwa manusia akan menyebarkan kejorokan di muka bumi?

Kami, para juru sensor, sungguh khawatir. Memang Tuhan pernah mengatakan kekhawatiran itu tak berdasar. ”Aku tahu apa yang kalian tak tahu”, kata-Nya. Tapi kami tetap tak percaya manusia akan berfiil baik, berakhlak tinggi, dan berjiwa kuat. Bagi kami, manusia pasti akan mudah tergoda syahwat dan kemudian mencandu seks. Manusia, terutama yang muda-muda, pasti akan terhanyut tenggelam oleh arus hal ihwal yang erotis. Tentu, ini baru dugaan, tapi lebih baik kami siaga.

Sebab kami, para juru sensor, sebenarnya tak ikhlas ketika Tuhan memberi begitu besar kemerdekaan kepada Adam + Hawa beserta keturunannya. Kami mendengarkan baik-baik kata Allah, tapi kami tersenyum kecut ketika mendengar beberapa kalimat dalam Al-Baqarah bahwa Ia mengangkat manusia sebagai ”khalifah”-Nya di bumi.

Sebab, bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin makhluk yang lemah ini—yang kadang-kadang memandang dengan berahi sebuah foto Happy Salma atau berpikir cabul tentang Tom Cruise—bisa diandalkan sebagai wakil-Nya? Bagaimana mungkin kita harus merayakan kedaulatan manusia?

Hati kami menampik. Manusia tak bisa dipercaya. Tentu, kami, para juru sensor, para alim ulama dan pengkhotbah moral, juga manusia. Tapi rasanya kami lain: bahan kami mungkin lempung yang lebih unggul. Jangan-jangan malah kami diciptakan dengan campuran api. Kami memang oknum luar biasa. Buktinya: kami telah dipilih Pemerintah Republik Indonesia sebagai sekelompok kecil yang tentu tak akan tergoda bila menonton, misalnya, adegan malam pengantin baru dalam film Berbagi Suami.

Sebab kami tak sembarangan. Kami yakin bahwa orang yang bukan kami, mereka yang bukan juru sensor, akan rusak bila melihatnya. Kalau tidak rusak, pasti bingung, atau salah paham. Kasihan, ’kan? Karena orang-orang di luar gedung lembaga yang luhur ini belum sematang kami. Mereka belum terdidik. Mereka lemah iman, suka melamun, bolos ibadah, penuh dosa, dan, maaf, bodoh-bodoh. Mereka harus dilindungi.

Lagi pula mereka tak butuh kebebasan untuk memilih apa yang akan mereka tonton, tak perlu kemerdekaan untuk berpikir sendiri dan mengutarakan pendapat. Kebebasan itu kemewahan. Atau dikatakan secara lain: kemerdekaan itu harus ada batasnya.

Kami tahu, mereka tak tahu mana batasnya. Sebab itulah kami yang akan bikin rambu-rambu. Bagaimana cara kami membikin, dan apakah rambu-rambu itu adil dan dapat dipertanggungjawabkan—ah, sudahlah, tak perlu dibicarakan. Pokoknya, inilah tugas kami.

Ini tugas yang mulia, sebagaimana mutu diri kami yang mulia. Kami menjaga manusia Indonesia dari pelbagai bahaya yang mengancam mereka—dari bahaya masturbasi sampai dengan bahaya aborsi, dari bahaya film biru sampai dengan koran kuning. Bukankah ada seorang tua yang mengatakan, (dan seperti lazimnya orang tua, mengatakannya berkali-kali), kita sekarang sedang diserbu ”gerakan syahwat merdeka”?

Tentu, sinyalemen itu menggelikan. Sebab sebenarnya tak ada ”gerakan”, tak ada aktivitas yang terarah dan terorganisir. Yang terjadi adalah dinamika kapitalisme: ketika ekonomi pasar mulai bangkit, tampak celah-celah untuk memasarkan hal-hal yang terkait ”syahwat”. Tapi jika kata ”gerakan” dipakai, itu cuma bagian dari sebuah bualan—sebuah siasat retorika untuk membuat orang dag-dig-dug. Sedikit menyesatkan tak apa-apa, asal tujuan tercapai.

Namun ada ”gerakan” atau tidak, lebih baik kami mendahului: kami harus tegakkan benteng. Lebih baik kami awas, sejak awal.

Sebab manusia terlampau lembek. Harus kami katakan, Tuhan salah. Tuhan terlalu optimistis. Itu juga yang diutarakan Sang Pengusut Agung dalam satu bagian novel Dostoyewski yang termasyhur itu, Karamazov Bersaudara.

Dalam cerita ini, kardinal di Sevilla, Spanyol, yang berusia 90 tahun, dengan bengis dan yakin menangkap orang yang dituduh murtad, mengusut imannya sampai sejauh-jauhnya, dan membakarnya hidup-hidup. Tiap hari, api unggun tampak di mana-mana. Orang ketakutan, sampai akhirnya Yesus sendiri turun kembali ke bumi untuk membebaskan mereka.

Tapi sang Kardinal tak gentar. Ia juga tak menyesal. Malah ia berani bicara agresif kepada Tuhan: ”Apa yang Paduka telah tawarkan kepada manusia? Apa yang dapat Paduka tawarkan? Kebebasan? Manusia tak dapat menerimanya. Manusia butuh hukum-hukum, sebuah tata yang mapan yang terperi untuk seterusnya, yang akan menolongnya membedakan yang sejati dan yang palsu….”

Membangkangkah dia? Bukankah Sang Pengusut melakukan semuanya untuk menyelamatkan dunia? Jawabnya ”ya” dan ”tidak”.

Dalam Kitab Suci, ada cerita bahwa Iblis, yang merasa tak terbuat dari lempung, melainkan dari api, menampik untuk mengikuti Tuhan yang memberi kepercayaan kepada manusia. Dengan demikian bisa dikatakan, sang Pengusut Agung tak tampak berbeda dari Iblis. Tapi apa salahnya? Kami bukan Iblis, namun kami juga sepakat dengan sikapnya yang memandang manusia sebagai makhluk yang tak dapat diandalkan. Sebab itulah kami ada: manusia harus dijaga, dilindungi, diawasi, diatur, dikekang….

Dunia mencemaskan. Dunia dan manusia gampang berdosa dan najis. Mencatat semua itu memang bisa sama dengan meragukan, layakkah Tuhan diberi ucapan terima kasih dan kita bersyukur. Para juru sensor, yang duduk di ruangan gelap seperti seregu malaikat yang berwajah suram, tahu apa jawabnya.

~Majalah Tempo, Edisi. 49/XXXVI/28 Januari – 03 Februari 2008~

Iklan

Komentar»

1. Aris Susanto - Januari 29, 2008

Maka, Iblis dalam Al-Qur’an (bisa jadi) adalah sekedar sebuah simbol person kedirian kita. Pembangkang laknat itu adalah diri kita sendiri. Maka, maksud dari bacaan ta’awuz tak lain adalah agar Allah melindungi kita dari keterkutukan diri ini sendiri. Maka, ketika kita salah, tak usah Iblis (azzazel) dijadikan kambing hitam, kitalah iblis itu. Kitalah makhluk yang bodoh dan ingkar itu. Jangan salahkan syetan dan Iblis, mereka hanyalah para sales nafsu. Kendali ada di tangan kita sendiri. Ketika sebuah acara televisi menayangkan film yang didalamnya terdapat adegan “hewani”, kita bergulat dengan jiwa, dengan diri sendiri. Nah, sanggupkah diri ini menyensor setiap jengkal keinginan yang menggebu, ditambah si sales nafsu mondar-mandir di depan hidung?

Jawabannya berpulang pada diri masing-masing…

2. Aris Susanto - Januari 29, 2008

Maka, Iblis dalam Al-Qur’an (bisa jadi) adalah sekedar sebuah simbol person kedirian kita. Pembangkang laknat itu adalah diri kita sendiri. Maka, maksud dari bacaan ta’awuz tak lain adalah agar Allah melindungi kita dari keterkutukan diri ini sendiri. Maka, ketika kita salah, tak usah Iblis (azzazel) dijadikan kambing hitam, kitalah iblis itu. Kitalah makhluk yang bodoh dan ingkar itu. Jangan salahkan syetan dan Iblis, mereka hanyalah para sales nafsu. Kendali ada di tangan kita sendiri. Ketika sebuah acara televisi menayangkan film yang didalamnya terdapat adegan “hewani”, kita bergulat dengan jiwa, dengan diri sendiri. Nah, sanggupkah diri ini menyensor setiap jengkal keinginan yang menggebu, ditambah si sales nafsu mondar-mandir di depan hidung?

Jawabannya berpulang pada diri masing-masing…

3. Aris Susanto - Januari 29, 2008

Maka, Iblis dalam Al-Qur’an (bisa jadi) adalah sekedar sebuah simbol person kedirian kita. Pembangkang laknat itu adalah diri kita sendiri. Maka, maksud dari bacaan ta’awuz tak lain adalah agar Allah melindungi kita dari keterkutukan diri ini sendiri. Maka, ketika kita salah, tak usah Iblis (azzazel) dijadikan kambing hitam, kitalah iblis itu. Kitalah makhluk yang bodoh dan ingkar itu. Jangan salahkan syetan dan Iblis, mereka hanyalah para sales nafsu. Kendali ada di tangan kita sendiri. Ketika sebuah acara televisi menayangkan film yang didalamnya terdapat adegan “hewani”, kita bergulat dengan jiwa, dengan diri sendiri. Nah, sanggupkah diri ini menyensor setiap jengkal keinginan yang menggebu, ditambah si sales nafsu mondar-mandir di depan hidung?

Jawabannya berpulang pada diri masing-masing…

http://kontradiksi.wordpress.com/

4. zombie idup - Januari 29, 2008

kata cak Nun, iblis adalah Malaikat yang kehilangan unsur ke-Malaikat-an,nya. yang mencoba untuk mendapatkan makna kebebasan dengan berlaku kritis.
kata saya iblis cuma saudara tiri-nya Malaikat
kata mbah Harto, iblis cuma teman yang manja

ya… iblis sekedar pembabat alas pada jalan ambiguitas, sekali lagi kembali ke manusia untuk memilih. gak terlalu repot kok.kecuali ketika kita menjalin kontrak ke-Ilahi-an dengan Tuhan….”Alastu birabbikum?” “Balaa!” kita menjawab.
masalahnya (klo mau dibilang masalah), kita tidak punya cetak biru kontrak tersebut. tapi dalam harmoni alam dan kedamaian kita sebagai manusia, yakinlah! salah satu poinnya kita selalu dan harus berjalan dengan ‘regulasi alam’.
termasuk patuh atau membangkang terhadap regulasi tersebut. ini juga kan akhirnya, memaksa syaraf kita untuk memutuskan.

5. Toni - Januari 29, 2008

Juru Sensor Terteror

Juru sensor mencari makna di balik teror
teror yang tersensor
juga budayawan kesohor

kami butuh juru sensor
bukan karena kami ashor
hanya terjajah oleh kebebasan liar

tak ada salahnya dengan proteksi
seperti kita menyandang pakaian diri
bukan karena manusia lemah pekerti

adakah kebebasan tak bertepi

6. bodrox - Januari 29, 2008

wah ini pasti berkaitan dengan lembaga sensor film indonesia yang sedang gunjang ganjing, yang diprotes kaum sineas muda, mau gimana ya? setahu saya dulu waktu SMP kata guru saya, pancasila itu penyaring budaya “buruk” dari luar… Lembaga sensor tuh nyaringnya pake apa ya? Bolong2 gak ya? paling mereka, sineas muda itu, minta disensornya harus kembali ke-track asal, Pancasila. semoga sukses.

7. icchankamin - Januari 30, 2008

kali ini saya susah mnecerna tulisan GM..

tetapi GM yang waktu itu hadir menjadi saksi Ahli dari Lembaga Sensor Filem Melwan Sineas Muda Rirhie Rhiza, bersama Seno Gumira, Ninok Leksono

pasti juga setuju yang mungkin dikatakan Sukab (Seno Gumira..)

Sayang Sekali LSI bukan tuhan…..

8. panji - Januari 30, 2008

Kenapa sih publik Indonesia ngga bisa melakukan sensor-diri?

Kalau ada filem jelek ya ngga usah ditonton.

Kalo baru nonton setengah jam, ternyata filemnya jelek, ya ditinggal. Takut duitnya ngga balik? Ya ngga usah nonton di bioskop.

Ngga sabar nunggu DVDnya keluar? Emang hiburan cuma nonton filem aja.

LSF memang sebaiknya dibubarkan saja tp peraturan juga harus ditegakkan, sehingga publik bisa menilai langsung tentang kelayakan suatu filem/produk seni untuk ditonton. Kita ngga perlu buang2 anggaran untuk nggaji orang untuk ngelarang ini itu, kan?

Or, may be I am wrong?

9. DANIEL! - Januari 30, 2008

batas kebebasan seseorang adalah kebebasan orang lain.
seseorang bebas berkarya selama tidak melanggar kebebasan orang lain untuk tidak mengapresiasi karyanya.

yang harus dilindungi adalah anak-anak dan remaja pra-dewasa. pembuat film harus tegas menyatakan apakah film-nya untuk dewasa atau remaja atau anak-anak.
pemerintah harus tegas mengawasi dan menjamin peredaran film tersebut sesuai target penontonnya.

jangan karena nggak becus melaksanakan tugasnya kemudian cari cara gampang dengan memakai kekuasaan memangkas kebebasan orang lain.

10. Guntar - Januari 31, 2008

mas Bodrox, sebenernya yg menyaring kan bukan Pancasilanya itu sendiri. Tapi prinsip2 moralitas dan agama yg dimiliki masing2 pribadi. Itulah yg lebih sering diingat ketimbang pancasila nya.

11. pandom - Januari 31, 2008

Urusan senson menyensor ini paling pas adalah ungkapan jawa:”ngono yo ngono ning ojo ngono”. Gak jelas? memang!. Ketika harus mendefinisikan apa-apa yang boleh lolos dan tidak lolos sensor siapapun akan kesulitan, apalagi ditengah euforia kebebasan yang tengah berlangsung ini. Lantas bagaimana? coba kita lihat dari masing-masing sisi ekstrim, kemudian kita bawa perlahan-lahan kedua sisi itu ketengah, bisa jadi titik tengahnya tidak statis, bisa bergoyang ke kanan-kiri tergantung situasi. Maksud saya, bisa dipahami benar keberatan para penganjur ‘tanpa sensor’, namun juga, kita bisa bayangkan situasi tanpa sensor, dimana segala macam tayangan bisa ditayangkan sebebas-bebasnya tanpa batasan. Tayangan audio visual tentang sex, juga kekerasan, ada dosis dan porsinya masing-masing untuk siapa dan pada rentang usia berapa sepatutnya dihidangkan.

Benu
pandom.wordpress.com

12. Toni - Januari 31, 2008

kita berpakaian, bukankah itu sensor yang kita buat?
apakah berpakaian membatasi kebebasan?

13. DANIEL! - Januari 31, 2008

telanjang di depan umum, tentu melanggar kebebasan orang lain yg terpaksa harus melihatnya 🙂
tapi telanjang di dalam rumah sendiri ya bolah-boleh saja toh?

film harus di-rating sesuai isinya, pembatasan peredaran dan akses publik harus sesuai ratingnya.

perlu kerja keras, bukan asal nyensor..

14. Raz Ghaz - Januari 31, 2008

wahh..menggusarkan sekali keliatannya dunia sinies indonesia. padahal justru ngak ada aapa2nya. sebetulnya lembaga sensor itu perlu ada apa nggak sih? yg disensor filem yg masuk kategori legal- untuk tontonan bioskop. tp gimana ceritanya film2 porno yg begitu mudah didagangkan di pinggiran toko dan di celah2 lorong? sengaja membutakan matakah kita? kerna yg kita ributkan ya lembaga yg suka potong2 adegan di filem kita.

ttg manusia…betapa sinis sekalipun GM mensitirnya, aku adalah seorang yg tetap percaya ttg kebaikan hati manusia. toh nafsu yg menggemuruh kalo muncul nggak akan lama. manusia tetap kembali mencari ihwal hidup yg menenteramkan. yg tenang2 saja bah…kerana bukan mengurus nafsu seks nya itu gerangan ambisi kehidupannya.

GM, dikau mmg enak dalam memparodi dan mensatire kan sikap manusia yg ngerasa benar sendiri…tulisan itu isinya mendalam, tp penyampaiannya jd bikin tersenyum..lucu mengkali…thanks atas cara mas menbuka minda.

15. zaki - Januari 31, 2008

Nafsu itu lebih kurang seperti babi, kuat tapi bodoh. Iblis itu lebih kurang seperti kancil, pintar tapi lemah. Nah, celakanya adalah tatkala keduanya berkoalisi untuk menjatuhkan manusia.

Koalisi iblis dan nafsu itu bertempur dengan kekuatan malaikat. Medan tempur kedua pihak itu adalah hati manusia.

Menjinakkan nafsu adalah dengan menjaga pandangan , pendengaran dan menjaga lidah dan menjaga hati dari pemikiran cabul. Semua itu bisa kita lakukan dengan menjalankan prinsip2 puasa yang sempurna dan selalu berzikir kepada ALLAH.

Jika nafsu sudah mampu kita kendalikan, iblis akan jadi macan ompong. Biarin aja dia menggonggong sampai capek sendiri. Rabiah Al- Adawiah tidak membenci iblis karena ia telah berhasil menjinakkan nafsu sehingga ia gak pernah berurusan dengan iblis.

Memang mengamalkannya sulit tapi jangan pernah bilang gak bisa hanya karena anda tidak sungguh2 dan berjihad. Inilah makna jihad sesungguhnya yang lebih berat daripada perang. Tuhan Rabiah dan Tuhan anda sama. Agama anda dan agama Rabiah juga sama.

Simpel bukan ?

Kebenaran dan ajaran Islam itu sebenarnya mudah dan lebih sederhana daripada prasangka2 manusia seperti dalam tulisan GM ini. Manusia memang gampang berprasangka tanpa berusaha untuk belajar dan memahami dengan sabar. Dan tak syak lagi, kecenderungan jelek manusia ini adalah karena hidupnya yang jauh dari agama dan sibuk dengan dunia dengan dalih2 yang banyak dan penuh pembenaran.

16. zainal - Februari 1, 2008

sensor thd karya seni memang perlu buat orang2 yg gampang mikir ngeres, kotor, dangkal (khususnya buat yg masih doyan dihibur dg film dan situs porno).

dan karena di negeri ini kebanyakan penduduknya seperti itu, sensor karya seni masih diperlukan di sini.

yg udah punya kendali syahwat yg kuat dan punya apresiasi karya seni yg bagus, dan itu minoritas, harus mau ngalah sama mayoritas, ok?

17. kartizah - Februari 1, 2008

SENSOR???
Sensasi buat Kesohor ya?

18. derajat - Februari 1, 2008

another beautiful writing from the Maestro…

19. icchankamin - Februari 2, 2008

alamak….

setiap orang akan selalu mencari apa yang selalu di sembunyikan, tidak boleh dilihat…

hinga suatu waktu dia akan menyadari, belajar bagi yang mau belajar
dan kalo ngak mau ya udah kita kecanduan…

kalo aku ngak usah poake sensor segala…….

ngak ada yang sucisuci amat kok di dunia ini

20. ibra - Februari 2, 2008

galak, euy..

21. Sajak Akhir Tahun « Jurangmangu - Februari 3, 2008

[…] Akhir Tahun Barangkali Chril bercanda waktu bilang ingin hidup seribu tahun lagi Hari ini saja sudah tiga kali pacarku memaksa ini dan […]

22. shinta okta - Februari 4, 2008

yang jelas
indonesia tidak dibiarkan dewasa dengan resiko resikonya…
sensor aja tuh adegan adegan ‘seks’ yang biasa biasa aja..
sensor aja jarum suntik yang bikin ngeri
toh, film, cinema, yang beredar di bioskop adalah sebuah pilihan
kita menonton atas dasar pilihan…
paling2 film2 berbobotnya nia dinata, rudi sujarwo, riri reza dll juga ngga akan ditonton rakyat menengah kebawah…
mereka pasti cuman nonton film2 horor ngga keruan itu
INDONESIAAAAAAAA…….

hehehehe
jadi tenang aja mba, mas
yang nonton pasti punya intelektual cukup tinggi untuk mengerti dan memilah…
tapi itu yang bikin kita kesel ya.. kok ya adegan begitu saja disensor
kapan indonesia maju ya ????

23. danalingga - Februari 5, 2008

Saya kok jadi kasian sama orang orang LSF setelah baca ini ya?

24. Kurawa11 - Februari 8, 2008

@danalingga : sama g juga kasihan harus menyensor film tapi harus berjinah mata dulu demi kebaikan orang lain

25. hendy adhitya - Februari 10, 2008

memang rasanya batasan kebebasan itu berkait dengan budaya suatu bangsa. Selalu ada negasi antar kedua konsep itu.

Begitu juga rasanya tidak fair kalo (hanya) beberapa orang yang menjadi pengambil keputusan bagi kebebasan orang lain. Mereka menentukan apa yang “baik” dan apa yang “buruk”. Padahal ukuran baik dan buruk tidak bisa digeneralisasikan.

26. Dhanang - Februari 12, 2008

Aq mdukung pemikiran GM. Tren saat ini, tmasuk film dan sinetron, makin bergaya barat. Seolah klo tdk ada aroma baratnya, akan dianggap “ga gaul” ato ketinggalan jaman. Siapa sih yg membawa jaman? Ato apa pentingnya jaman itu shg kita harus susah payah mengejarnya sampe2 harga diri kita peloroti dan jati diri sendiri tidak kita akui.

Hitung saja wanita yg lbh suka pake – minimal motif – kebaya di jalan atau mall, mereka menolak jati diri sendiri dan beramai2 bergaya barat. Yg laki2, yg katanya ditakdirkan jd pemimpin, pun tak kalah bobroknya. Rambut dicat, dicukur ala artis barat. Semuanya bangga dgn apapun asal – kata jamroed – bau british.

Sementara bbrp usul, biar tiap pribadi yg jadi sensor utk dirinya sdiri. Lha wong free sex dimana2, majalah pria laris manis, film biru gampang dicari.. Sensor diri apa yg mau dibanggakan?? Kalo lembaga sensor film dihilangkan, tinggal nunggu bulan saja produksi film biru made in Indonesia dilegalkan!

@15. Zaky: Anda bbicara ttg ajaran agama ke GM? Pengetahuan agama Anda pun blm tentu ada sehelai rambut GM..

27. vina_melao - Februari 16, 2008

sensor adalah sebuah kesombongan manusia..
yang menganggap manusia lain lebih rendah moralnya..
dan merasa harus menjadi benteng atas yang lain.
tapi sebenarnya, bisakah kita menyensor pikiran kita sendiri?

28. ujang - Maret 4, 2008

Dan siapalah seorang Goenawan Muhamad untuk menganggap juru sensor sbg malaikat. Bukankah juru sensor itu profesi bung Gun? Padahal mereka adalah manusia: beribadah, juga bermasturbasi.
Bagaimana apabila wartawan (sbg profesi) dianggap pula sebagai malaikat?: ADa yang menerima amplop, ada yang menolak.

Udahlah! Musuh loe itu LSF! secara institusi! Bukan juru sensor!

29. Dylan mustafa - April 22, 2009

Riri reza,nia dinata atau siapalah….contoh nyata mental org indo yg digambarx oleh muhtar lubis, korban westoxication atau westomania kata ali syariati. Knp adegan2 yg mnjurus ke pornografi selalu hrs mjd syarat utama utk menghasilx suatu karya..jgn2 hal ini cm sbg pelarian krn tdk bs menghasilx sebuah karya yg berkualitas dan orisinil.mereka2 itu belum apa2 sdh belagu..lha wong mereka cm pecundang2 sj. Lihatlah di ajang academy award, mana ada film2 indo yg nongol, paling cm jago kandang doang. Saya salut sama Iran,tanpa membebek dan membeo ke barat toh juga bisa jadi jawara.. Children of heaven contohnya.

30. onesimpletech - November 3, 2009

Terima kasih atas informasinya semoga bermanfaat bagi semua warga Indonesia.

31. Guam - Desember 12, 2009

Menarik ceritanya, Guam Chat.

32. Weekly Chickenstrip 021: Blokir « Comicstrip, Linux, Ruby and Chickens Life. - Agustus 12, 2010

[…] dalam artikel ini sepertinya lebih realistis. Dan masalah lainnya adalah, kita bicara soal kata sensor di sini. Bukan mustahil hanya masalah waktu jika suatu saat “porn” berganti jadi […]

33. anung - September 27, 2010

Maha Suci Allah dari apa yang ia katakan!

34. Minneapolis Electricians - Januari 28, 2011

Outstanding blog publish, a bunch of fine information. I’m about to show my pals and ask them the issues they think.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: