jump to navigation

Kayon Februari 4, 2008

Posted by anick in All Posts, Kisah.
trackback

Setelah Duryudhana mati, dan berangsur-angsur pagi meluas, dan suara gamelan bertambah pelan, tancep kayon. Dalang menancapkan lambang gunung itu di tengah-tengah layar. Kisah berakhir, meskipun sebenarnya banyak hal belum diutarakan. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk itu selesai.

Kayon: lambang gunung, lambang hutan, isyarat untuk awal, isyarat untuk penutup. Dari jauh bentuk itu mirip sebuah siluet segi tiga di bawah cahaya. Tapi dari dekat akan kelihatan di gunungan itu tersembunyi (dalam ukiran yang renik) pohon-pohon rindang dengan cabang yang merangkul dan pucuk yang tinggi menyembul. Ada sebuah gapura dengan tempat kunci berbentuk teratai. Ada sepasang raksasa bersenjata yang tegak simetris. Ada harimau, banteng, kera, burung merak dan burung-burung lain. Juga wajah seram banaspati.

Dengan kata lain, di gunungan itu tersimpan bermacam hal, tapi bertaut dalam satu misteri, sesuatu yang angker, tapi juga teduh: sebuah wilayah kehidupan yang lain. Ketika arena di luarnya memaparkan kisah intrik, nafsu, dan perang yang tak henti-hentinya, di kerimbunan yang agung itu hidup berlangsung anteng dan syahdu. Dalam kayon, waktu yang mengalir detik demi detik seakan-akan tak ada lagi. Di dalam gunungan, arus menit dan jam seakan-akan diinterupsi dan distop. Segala hal seakan-akan berada di luar waktu.

Tapi manusia tidak. Ia akan kembali menghadapi, bahkan terlibat dengan, peristiwa-peristiwa yang berubah dan terkadang mengguncang. Terletak terpisah tapi tak jauh dari medan peristiwa, kayon adalah sebuah kontras.

Dalam wayang kulit, ketika dalang menghadirkan adegan majelis yang tertib di balairung atau sebuah pertempuran yang seru di tepi hutan, kayon akan terpasang di sisi layar, seperti menandai bahwa ada kehidupan yang bertentangan dengan kehidupan manusia yang tak henti-hentinya berubah dan resah. Meskipun demikian, gunungan itu juga yang mengisyaratkan pergantian babak atau adegan. Ironis, bahwa yang berada di luar waktu justru jadi tengara perubahan waktu.

Bahkan sesekali ki dalang akan mengangkat dan menggerakkan kayon untuk melukiskan angin gemuruh, halilintar yang mengejutkan, dan saat keajaiban yang membuat seorang ksatria jadi makhluk yang dahsyat.

Dengan kata lain, dengan gunungan, waktu yang tak kekal dalam hidup manusia senantiasa dibayang-bayangi sebuah wujud rahasia yang hadir di awal dan terpacak di akhir.

Barangkali karena itu Bharatayudha adalah sebuah tragedi. Bukan karena perang besar itu sia-sia. Memang tak jelas apa sebenarnya arti kemenangan Pandawa dalam merebut kembali Kerajaan Hastina, jika akhirnya seluruh generasi kedua mereka terbunuh dan, ketika perang usai, seantero anggota keluarga dibantai Aswatama di sebuah malam yang lengah.

Tapi Bharatayudha terasa sebuah tragedi karena kontras dan ironi kayon tepat mengenai inti ceritanya. Lihatlah para ksatria itu. Mereka jalani hidup yang berubah-ubah, yang tak mudah, mereka masuk ke dalam sengketa yang menyakitkan dan buas, mereka ambil keputusan-keputusan yang rumit dan muskil, tapi mereka tak akan dapat membatalkan perang yang mengerikan itu. Sudah ditetapkan, Bharatayudha akan terjadi. Baik para Pandawa maupun Kurawa tak dapat memilih untuk mati dengan cara lain. Apa arti pilihan dan keputusan manusia di bawah Nasib dan Kutuk yang permanen?

Pada akhirnya memang tak pernah bisa jelas, dalam waktu yang manakah manusia ketika ia menanggung sengsara atau berlaku buas, merasa bahagia atau lupa daratan. Ada waktu dari Nasib, waktu sebagai Kala, yang tak berubah dan tak mengubah. Di dalam Kala, manusia tak dapat lepas memilih dan memutuskan masa depannya dengan bebas. Tapi sementara itu ada waktu sehari-hari: waktu ketika manusia menyakiti dan disakiti, membunuh dan dibunuh, rindu dan bahagia, heroik dan culas. Itulah waktu ketika manusia jadi subyek, biarpun sejenak, biarpun tak utuh.

Persoalannya tentu: mungkinkah subyek lahir, subyek yang melawan situasi tempat ia hidup, merombak kondisi yang membentuknya, subyek yang terlepas dari posisi obyek di bawah Sang Kala? Dalam Bharatayudha, contoh yang utama bahwa hal itu mungkin adalah Karna. Ia anak seorang sais. Ia anak sudra, tapi ia berani maju menandingi para ksatria. Ia, seorang pendekar yang diklaim sebagai saudara seibu para Pandawa, tetap memilih berpihak kepada Kurawa—meskipun tahu pihak yang dipilihnya akan hancur. Tapi ia bebas.

Mungkin ada saat-saat yang tak dikisahkan ki dalang ketika Karna berdiri sendiri memandang ke arah kayon. Wilayah itu tak akan pernah dijangkaunya: pohon-pohon dengan cabang yang agung, gapura yang selalu siap menyambut dan mengunci rahasia, sepasang raksasa yang berjaga entah atas titah siapa, dan macan, dan banteng, dan kera, dan burung merak… semuanya suasana angker yang tak mempunyai bahasa.

Pada saat seperti itu ia sadar, ia jauh dari sana, ia hidup dengan waktunya sendiri. Lebih radikal lagi, ia—yang merasa ada misteri yang membayang dari gunungan itu—memutuskan untuk bertindak, tanpa merasa siap mengetahui rahasia hidup. Nasib? Sang Kala? Baginya semua itu lebih baik ia tinggalkan. Terlalu pahit untuk ditanggung. Ia tak terikat dengan sebuah masa lalu dan sebuah masa depan. Ia hanya punya masa kini dan sebuah pertalian dengan orang lain: para Kurawa.

Dengan itulah Karna jadi subyek—justru karena ia, seraya melepaskan diri dari Waktu, Kala, menjangkau orang lain dan bertanggung jawab kepada mereka. Pada dirinyalah sebenarnya Bharatayudha jadi kisah kepahlawanan dan sekaligus tragedi.

Tapi entah kenapa, para dalang tak pernah mengatakan itu. Karna tewas dihunjam panah Arjuna, tapi tak ada yang bercerita bagaimana ia dikuburkan. Yang pasti bukan sebagai pahlawan. Mungkin sebab itu tiap kali gunungan ditancapkan, dan suara gamelan menghilang dari cerah pagi, kita tahu ada sesuatu yang belum diutarakan dan kita tak mengerti.

~Majalah Tempo, Edisi. 50/XXXVI/04 – 10 Februari 2008~

Iklan

Komentar»

1. icchankamin - Februari 5, 2008

mudahmudahan aku mengerti….
tulisan diatas aku mengartikannya seperti ini :

Kayon, adalah sebuah gambaran Istana yang dijaga super ketat..

Tetapi ada satu tokoh turunan istana yang tidak ikut dalam aturan istana yang ketat itu, namanya Karna

dia begitu kontras dengan keluarga pandawa

maka dia akhirnya memilih Kurawa… pada akhirnya Karna mati, tetapi tak ada kisah yang menjelaskan kematiannya…. Bahkan ketika Duryudana sang penguasa itu juga tewas.. Apalagi sang Dalang masih malumalu menyebut kepergian Karna Karena apa…

itu kisah soeharto tentang orangorang hilang di masanya… bahkan ketika Soeharto pergi sekalipun kita masih tetap diam dalam waktu yang entah kapan…

2. padjar - Februari 5, 2008

Jika memang caping ini terkait dengan meninggalnya Soeharto, kenapa ya GM tidak menulis caping dengan judul khusus ‘Soeharto’, atau dibuat ‘-untuk Soeharto’, atau tentang suatu peristiwa penting yang berhubungan dg Soeharto, seperti caping utk mengenang Bung Hatta (‘Ada Revolusi di Bulan Agustus 1945’), atau Munir (‘Jakarta, 10 September 2004’) atau Onghokham (‘Ong’) atau Nurcholis Madjid (‘Lembing’).

Jika memang caping ini terkait dengan meninggalnya Soeharto, caping ini bisa mewakili gambaran saya juga tentang betapa tdk sederhananya mengenang Soeharto sbg seorang tokoh, sbg subyek, dalam sejarah republik ini: apakah sbg seorang pahlawan stabilisator politik lokal dan regional (kawasan Asia Tenggara) ataukah penindas hak-hak kemanusiaan rakyatnya. Sementara semua orang tahu, tindakan serta keputusan Soeharto sangat dipengaruhi situasi politik pada masanya, meskipun tidak semua orang bisa memakluminya dan tidak semua membenarkannya.

Dalam hidup dan mati Soeharto ‘…ada sesuatu yang belum diutarakan dan kita tak mengerti.’

3. kartizah - Februari 5, 2008

hihihi.. caping kali ini jangan-jangan memang cuma ingin cerita tentang kisah dalam dunia pewayangan???!!!

Gak perlu terlalu pusing memikirkan arti caping yang ditulis GM, toh catatan pinggir memang bukan menu utama kan?

4. icchankamin - Februari 5, 2008

m e m a n g…….

bodoh benar ya mikirin caping…….

kita khan punya kuping…..

yang tidak bisa voting

b u s y e t

cerita wayang melulu nih bung GM, ngak ada yang laen apa

5. zombie idup - Februari 5, 2008

… satu episode lain dari cerita anak manusia…..dalam dunia wayang…cerita yang tereduksi dan dibatasi oleh waktu….atau skenario yang belum tuntas ..setidaknya untuk diterakan dalam dialog dan merangakai cerita lengkap. dalam wayang dapatkah alurnya dikonstruk ulang????

‘Tapi manusia tidak. Ia akan kembali menghadapi, bahkan terlibat dengan, peristiwa-peristiwa yang berubah dan terkadang mengguncang. Terletak terpisah tapi tak jauh dari medan peristiwa, kayon adalah sebuah kontras.’

tapi mungkin bagi kita masih bisa berbuat yang lebih, menuntaskan yang masih menjadi tanda tanya… meskipun dinamika peristiwanya selalu berubah. selama kita tidak menghadapi dua hal yang kita takuti sebagai manusia. karena keterbatasan itu. yaitu: matahari dan kematian

6. danummurik - Februari 5, 2008

Iya nih wayang melulu, dalang udah banyak…

7. icchankamin - Februari 6, 2008

I n d o n e s i a
bukan hanya
wayang….

8. icchankamin - Februari 6, 2008

Setelah melakukan dialog dengan pihak Majalah Tempo, perwakilan umat Katholik angkat bicara lewat Ketua Forum Komunikasi PMKRI, Hermawi Taslim. Dalam keterangannya, Hermawi Taslim mengatakan, Majalah Tempo diminta menarik Edisi Khusus Soeharto khusus cover yang mirip dengan lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci karena telah menyinggung perasaan umat Katholik di Indonesia.

Selanjutnya, Harmawi mengatakan, ditariknya MajalahTempo edisi Khusus Soeharto agar tidak menimbulkan keresahan. Saat pertemuan berlangsung, Harmawi membahas cover yang menyinggung hati nurani dan keimanan umat Katholik.

Untuk menebus kesalahan, pihak Tempo juga diminta membuat permohonan maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya lewat media massa. Hasil dari pertemuan tersebut, Harmawi ingin memastikan peristiwa ini tidak akan terulang lagi di masa yang akan datang. Terutama bagi umat beragama yang lainnya di Indonesia..

saya kutip dari kompas.co.id

lucu, hahaha
padahal gambarnya ngakmiripmirip amat,…

caping minggu depan bisa jadi tentang leonardo davinci…

9. zainal - Februari 6, 2008

apakah lukisan the last supper bagian dari ajaran katolik yg sakral?

sebenarnya, mana yg lebih beralasan utk menuntut majalah tempo, umat katolik atau ahli waris da vinci?

10. salim - Februari 6, 2008

Menjelang mundur dari kursi kepresidenan pada bulan mei 1998, Soeharto pernah bilang bahwa kalau rakyat sudah tidak menghendaki lagi kepemimpinannya, ia akan MANDEG PANDHITO, jadi pendeta.

11. benu - Februari 7, 2008

Kesadaran, anugrah atau kutukan bagi manusia? Dikisahkan, Tuhan menawarkan kepada alam: gunung, burung-burung, mereka menolak, hanya manusia yang menerima, celakalah manusia.

Kesadaran pada idealnya hening, terkurung damai dalam kayon sampai kemudia ada usikan yang menggerakkan, ular menggoda kedamaian adam hawa, ego betunas.

Ajaran-ajaran agama/spiritual, wanti-wanti untuk memadamkan ego, kembali ke keheningan nibhana (tanpa ego) yang pada situasi itu Betara Kala (sang waktu psikologis) terkalahkan, beradalah pada saat ini, beradalah pada keabadian, waktu berhenti.

Lantas, apakah sirna merupakan puncak kenikmatan? Neraka, syurga, alam-alam dewata permainan yang mesti ditinggalkan karena ego yang bisa mengecap itu semua. Tanpa ego, apa yang mau dikecap?

pandom.wordpress.com

12. Brajamusti - Februari 8, 2008

Sebenarnya sudah tidak ada masalah antara Majalah Tempo dengan umat Katholik. Masalahnya cuma ada yang ngomporin dari segelintir oknum pengurus KWI — kabarnya tergabung dengan paguyuban wartawan Katolik — yang menjadi humas eksternal PT Asian Agri Group (anak perusahaan Raja Garuda Mas/RGM, yang kini sedang bersengketa dengan Majalah Tempo) yang membesar-besarkan masalah ini.

Oleh sebab itu, sangat bijaksana jika KWI, paguyuban wartawan katolik dan Majalah Tempo mencari tahu siapa yang mengambil untung dalam persoalan ini sekaligus menghimbau untuk menyetop masalah yang bisa menjadi SARA ini. Kita juga heran, untuk persoalan kecil seperti ini kok ummat Katolik bisa beringas seperti laskar Front Pembela Islam (FPI) ?

13. icchankamin - Februari 9, 2008

seneng hati saya mendengar tanggapan anda bung Brajamusti..karena selama ini, yang saya baca hampir semua umat katolik menyalahkan tempo…., saya tidak tahu persoalan yang anda katakan, tetapi itu bisa saja soalnya tempo banyak mengungkap Fakta maka wajar jika punya banyak musuh

14. zaki - Februari 9, 2008

ilustrasi suharto yang mirip yesus itu menurut saya ada benarnya. gimanapun juga, menurut saya, soeharto itu gak jelas agamanya apa.
dan gaya2 kepemimpinannya mirip gaya2 dari gereja ortodok abad pertengahan eropa, angker dan mengerikan.
semua pasti bisa mencium aroma kristiani ortodok dalam sepak terjang soeharto pada tahun 80 an yang begitu akrab dengan pembunuhan orang2 islam. dia juga akrab dengan lb. murdani, sudomo, maraden panngabean, radius prawiro, adrianus mooy, jb sumarlin. dengan kata lain di satu dia haji dan mengaku muhammadyah, tapi begitu represif terhadap apa2 yang berbau islam pada sebagian besar masa kekuasaannya.
mungkin konteksnya tak sepenuhnya nyambung kalau kita lihat dari segi cerita tentang soehato menjelang ajal dan tema (menurut interpretasi GM) dari lukisan da vinci tentang keprihatinan. tapi dari segi simbolis, sangat2 mengena.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: