jump to navigation

Obama Februari 25, 2008

Posted by anick in All Posts, Amerika, Demokrasi, Politik.
trackback

Seandainya Obama seorang perempuan…

Tentu saja ia bukan – dan ini .bisa dikatakan sebagai sebuah kekurangan. Tapi “nobody’s perfect” —  seperti kata si jutawan bego dalam adegan terakhir film Some Like it Hot, ketika diberitahu bahwa orang  yang digandrunginya itu, (“Daphne” yang sebenarnya adalah Jerry) ternyata laki-laki.

Obama akan nyaris sempurna seandainya ia bisa jadi perempuan,  kemarin, atau besok. Sebab bahkan sekarang pun ia sudah merupakan satu sosok yang unik: ia  persilangan (pelbagai) identitas. Ia contoh bahwa “identitas” bukanlah sebuah cap yang kekal dan kaku. Dalam kata pengantar edisi tahun 2004 untuk bukunya The Dream of My Father, Obama sendiri menyebut “the fluid state of identity—the leaps through time, the collision of cultures—that mark our modern life.” Ia menegaskan apa yang ia ketahui dari tubuhnya sendiri: terutama du zaman ini, identitas selalu dalam keadaan cair.

Mungkin sebab itu ia politikus Amerika yang bisa dengan wajar menunjukkan bahwa politik tak bisa hanya mengibarkan panji-panji partikularisme, dengan politik identitas yang menegaskan apa yang istimewa pada “kami” dan tidak pada “mereka”.  Politik pada akhirnya sebuah proses pencarian dan artikulasi tentang apa yang universal. Politik adalah sesuatu pergulatan antar kelompok yang mau tak mau terdorong  membentuk “kita”.

Obama tak bermula dari “kami” yang pasti. Orang berkata, pria yang hari-hari ini sedang ikut bersaing untuk jadi calon Partai Demokrat buat jabatan presiden Amerika Serikat, adalah orang kulit hitam pertama yang berhasil naik ke gelanggang setinggi itu. Tapi sebutan black  bagi Obama berlebihan — dan sekaligus kurang.  Ia tak sehitam Mohammad Ali, Stevie Wonder, atau Jesse Jackson.

Ibu Obama seorang perempuan kulit putih dari Kansas. Malah, jika kita percaya hasil penelitian trah oleh The New England Historic Genealogical Society, Ann Dunham ada dalam garis keturunan seorang raja Skotlandia di abad ke-12.

Tapi sementara itu ia juga seorang “Afro-Amerika” dalam pengertian yang harfiah. Ayahnya, Barrack Hussein, datang dari suku Luo di propinsi Nyanza, Kenya, seorang mahasiswa asing di Hawaii yang bertemu dan kemudian menikah dengan Ann Dunham.

Seorang bayi yang diberi nama seperti ayahnya lahir di Honolulu, 4 Agustus 1961. Tapi ketika ia berumur dua tahun, orang tuanya berpisah. Si ayah menyelesaikan studi ilmu ekonominya di Universitas Harvard. Perpisahan itu jadi perceraian. Pria Kenya itu kembali ke tanah kelahirannya.  Barrack muda bertemu dengan dia ketika si bocah berumur 10. Barrack tua kemudian tewas dalam kecelakaan mobil di tahun 1982. Sang ayah jadi nama yang menandai kehilangan dalam diri anaknya.

Dalam kehilangan itulah pengertian “Afro-Amerika”  yang harfiah berubah. Berkat ibunya.

Dalam The Dream of My Father, yang ditulisnya sebelum ia masuk dalam lembaga legislatif, pemuda separuh Kenya ini menyebut dongeng-dongeng suku Luo di tepi Danau Victoria. Tapi yang agaknya paling membekas adalah yang diberikan sang ibu selama mereka hidup di Jakarta.

Ibu itu, Ann –seorang perempuan yang dibesarkan dengan pandangan yang tak konvensional — menikah dengan seorang mahasiswa dari Indonesia,  Sutoro namanya. Di tahun 1967, keluarga itu pindah ke Jakarta.  Mereka punya seorang anak perempuan, Maya.

Sutoro bekerja di kalangan perminyakan. Masa akhir 60-an adalah masa pergolakan di Indonesia, ekonomi masih berat, dan kepastian belum ampak. Sedikit yang kita ketahui tentang ayah tiri Obama ini, kecuali bahwa ia tak cukup uang untuk memasukkan Barrack ke The Jakarta International School.  Maka Barrack, (biasa disebut “Barry’) bersekolah di sekolah negeri di Jalan Besuki. Tapi ibunya menyiapkannya untuk dapat pendidikan yang lebih baik di Amerika.

Barry belajar memperbaiki bahasa Inggrisnya dari sang ibu, dan harus bangun jam 4 pagi untuk itu. Sang ibu tak hanya mengajarnya berbahasa Inggris. Ia juga memperkenalkan Barry dengan lagu-lagu Mahalia Jackson dan pidato Dr. Martin Luther King, Juga kisah tentang anak-anak hitam yang terjepit di Amerika Serikat bagian selatan.

Dari sinilah Barry memilih apa arti “Afro-Amerika” baginya.  Identitasnya bukan masalah masa lalu, tapi masa depan. Bukan masalah biologis, tapi politis. Bukan keniscayaan, tapi pilihan. “Afro-Amerika” bagi Obama dengan demikian mengandung sesuatu yang universal: sejarah perjuangan pembebasan mereka yang disakiti oleh diskriminasi rasial dan keterbelakangan.

Tapi  tentu saja ia tak sepenuhnya ada dalam sejarah itu – dan ia tumbuh jadi seorang pemuda dengan kulit hitam yang tak dirundung amarah.  Ketika gerakan Civil Rights berhasil, dan hak-hak lebih luas orang hitam didapat, Barrack tinggal menempuh jalan yang lebih luas terbentang.  Tapi ia sudah bertindak, dengan bekerja di komunitas hitam di Chicago. “Hitam” Obama bukanlah sesuatu yang hanya diwarisi secara pasif, tapi sebuah posisi aktif. “Hitam” adalah aksi dalam sejarah.

Kini ia tengah ikut membuat sejarah itu – sebuah sejarah yang pernah bernoda oleh larangan bagi orang hitam untuk berada di satu sekolah, satu bis, dan satu tempat kencing dengan orang kulit putih, tapi juga sebuah sejarah dengan demokrasi yang ternyata bisa mengembangkan diri.

Demokrasi itu kini sedang menunjukkan, bagaimana kaum yang paling di pinggiran bisa bergerak masuk ke tengah – dan ke puncak. Tak hanya itu. Demokrasi itu juga sedang menunjukkan, bagaimana sebuah bangsa bisa menebus sebagian dari kesalahannya sendiri, yang telah memilih pemerintahan Bush untuk menumbuhkan antagonisme “kami” dan “mereka” di mana-mana.

Obama (terutama jika ia menang) akan jadi indikator, bahwa demokrasi Amerika telah  membuat antagonisme dalam politik tak memutlakkan dasar antagonisme itu sendiri. Demokrasi itu adalah satu proses perubahan, Di abad ke-21, Amerika Serikat bisa berhenti jadi negeri yang dibenci. Ia bisa memberikan inspirasi.

~Majalah Tempo Edisi. 01/XXXVII/25 Februari – 02 Maret 2008~

~dengan perbaikan dari penulisnya~

Komentar»

1. hendy adhitya - Februari 26, 2008

obama? kenapa harus dia ya? apakah karena dia berkulit hitam? apakah karena dia termasuk “mereka” dan bukan “kami” bagi pengertian warga AS umumnya? lalu kemudian menjadikan dia sebagai sorotan media?

2. icchankamin - Februari 26, 2008

tentu saja…

saya mendukungnya, dia (Barrack) sepertinya mewakili semua kultur yang ada di mukua bumi..

paling tidak dia pernah lama di Asia dan itu Indonesia. Di Indonesia mudahmudahan dia melihat keberagaman yang amat sangat…

dan itu bukan berarti amerika yang dibatasi ‘kami’ dan ‘mereka’

seolah ada protagonis (kulit putih) dan antagonis (afrika/asia)

semoga O b a m a……..

3. bsw - Februari 26, 2008

Amerika, “the dream land”. Dibenci, dimaki sekaligus dinanti….
Walaupun mungkin nggak jadi presiden, Obama memang menimbulkan inspirasi…….Apalagi kalo sempat jadi presiden, maka Amerika bisa jadi adalah sebuah “the dream land came true”.

4. daeng limpo - Februari 27, 2008

VOTE for OBAMA

5. zainal - Februari 27, 2008

mr. obama, jika anda berhasil menjabat presiden, tolong ya tepati janji anda: tarik tentara amerika dari irak. dan juga tandatangani tuh protokol kyoto. negara anda telah lama melakukan banyak hal karena serakah.

segala hal menakjubkan dari anda tidak berarti apa-apa bagi kami jika anda bersama dengan kelompok industri militer dan minyak negara anda tetap rakus menyedot sumber alam negara lemah dan suka menebar ancaman seperti presiden yang anda gantikan.

6. tiya - Februari 27, 2008

YES WE CAN..the 3 key words for opportunity and prosperity at America with Peace …With Obama…

7. demis - Februari 28, 2008

yang jelas…..
presiden amerika tidak orang2 seperti bush…

jika tidak, nanti banyak penduduk AS yang pindah kewarganegaraan ke Indonesia

8. Giyanto - Februari 28, 2008

politik tetap politik, yang namanya politik itu ya politik dan politik tetap yang njalanin ya manusia…tak peduli kulit apa asalnya dari mana ya kesimpulannya tetap politik!

9. Cinta Laura, Bangaip, dan Deking : Fenomena Berbahasa « f e r t o b - Februari 29, 2008

[…] bukan sekedar persoalan identitas. Karena identitas itu adalah sesuatu yang cair (fluid), mengambil bentuk dimana dia berada, dan tidak […]

10. mitra w - Februari 29, 2008

kalau sudah ngomongin komunitas, jelas aja ada yg namanya “identitas” kami-mereka disana. Apalagi soal tokoh politik dan negarawan, gak mudah memang membuat kesadaran akan persamaan dsb…

Tp, mungkin saja dari Obama, hal ini bisa sedikiiit saja menggeser paradigma akan “kami-mereka” tersebut…

btw, salam kenal.

11. muiszudin - Maret 1, 2008

obama, si “kulit hitam” sebuah kenangan tentang nostalgia ketertindasan. dan kita, sampai kini merasa masih tertindas, dan oleh karena itu menumpahkan ketertindasan kita yang kita wakilkan kepada obama. semoga itu, memang benar.

12. budi jemek - Maret 2, 2008

Saya justru tau Obama bin Barrack itu pernah sekolah di Indonesia justru dari petugas Imigrasi di Fort Lauderdale, Florida..Dia juga sempat bilang pastinya mutu pendidikan di Indonesia tuh lumayan bagus, bahwa Pak Obama selama jadi senator juga bagus, dan kalo ntar jadi presiden, dia sangat yakin akan hal ini, akan membawa amerika serikat menjadi lebih baik.
Saya jawab ” yes! and we desperately can`t pick up the right one for ourself”

13. prodeo - Maret 2, 2008

kalau gak salah, buku barrack itu berjudul “Dreams from My Father:…”, bukan “Dream for My Father”. Atau ada edisi lain yang judulnya beda?… kayak buku nya J.K. Rowling, edisi amerika dan inggris nya kan beda judul. cheers🙂

14. prodeo - Maret 2, 2008

kalau gak salah, buku barrack itu berjudul “Dreams from My Father:…”, bukan seperti yang disebut mas goen “Dream of My Father”. -typo-🙂

15. Toni - Maret 4, 2008

…. seandainya Obama seorang Muslim
[pakai baju bernuansa Muslim saja dipergunjingkan; Amerika memang sebuah antagonisme]

16. kamat - Maret 4, 2008

Nggak perlu menjadi seorang muslim untuk menjadi seorang yang Islami, sebenarnya. Nelson Mandela jauuuh lebih Islami ketimbang Raja Arab Saudi sekarang atau Haji Muhamad Soeharto.

17. Mouzinho T. Correia - Maret 17, 2008

Saya mendukung obama karena ia adalah darah kulit hitam dan pernah tinggal di Indonesia jadi setidaknya ia tahu tentang orang asia dan africa dan juga darah yang mengalir dalam tubuhnya darah orang anti imperalisme.

18. vina_melao - Maret 19, 2008

Obama.. entah kenapa saya agak apatis menggenai caranya menanggapi isu yang menyebutkan bahwa dia adalah seorang muslim..
seandainya dia adalah seorang muslim.. seandainya dia dulu pernah menjadi muslim.. saya kira tak ada salahnya..
Entah kenapa saya menilai reaksi Obama terlalu berlebihan atas isu tersebut….

19. Widdi - April 3, 2008

Setuju buat OBAMA …kenapa kalo Obama Muslim ( Amrik parno terus nihh.. padahal dianya sendiri apa? dimana2 ancur kalo Amrik punya mau..liat Irak deh )

20. Kaze - April 4, 2008

Obama memang figur yang menarik. Namun jalan untuk menggapai Gedung Putih masih panjang. Pertarungan di tingkat partai melawan Hillary Clinton belum usai. Malah, kelihatannya makin panas saja. Mudah-mudahan energinya tidak habis di pemilihan pendahuluan.

21. korantarget - April 13, 2008

yang penting bukan kepribadia Obama yang terutama, cuman pilihannya selain dia siapa lagi ? Elo elo pade, he he he

22. Ki Kartasoewarto Purwokerto Central Java - April 16, 2008

Ya …. kayanya Barrack Obamalah yang menjadi simbol Universal. Simbol arti berbangsa, dan makna hakiki kemanusiaan itu sendiri. Obama pernah merasakan kasih sayang yang tulus yang tak kenal perbedaan warna, ras, bangsa, dan perbedaan lainnya. Afrika, Amerika, Indonesia, telah menyentuh kehidupannya, yang cukup membangun pola pikir dasar sebagai manusia unggul yang beradab.

Obama lebih pantas jadi orang nomor satu di Amerika maupun di manapun jua. Dia contoh baik yang dikirim Tuhan untuk membuka mata batin kita, bahwa Bush bukanlah manusia baik.
Bush adalah sampel manusia terburuk sepanjang dunia ini. Bukan bagi Amerika saja, tapi bagi orang yang masih ngaku manusia di planet bumi ini.

Maju terus Obama, aku dan milyaran orang lain telah menanti sosok seperti anda. Kami mencintai-mu!!!!

23. ODI - Mei 25, 2008

mau di sini ,di sana di mana-mana sama saja. masa kampanye janji muluk-muluk ,setelah terpilih lupa semua janji…
siapapun yang terpilih bukan jaminan Amerika akan berubah…
zzzz……z…zzzz

24. yoyok - Mei 30, 2008

dia harus menang, bukan hanya untuk kelompoknya atau alasan lain tapi untuk Indonesia. kita terlalu lama kehilangan kebanggaan sebagai bangsa indonesia. meski kebanggaan itu berbunyi, “dia pernah sekolah di indonesia”.

25. yasa - Mei 30, 2008

menyedihkan memang hanya karena dia pernah sekolah di Indonesia…saya pribadi pengen dia menang lebih karena – seperti yg dikatakan GM di atas – bahwa ia contoh kalau “identitas” bukanlah sebuah cap yang kekal dan kaku. Masalah nanti dia lebih baik atau ternyata malah seorang rasis yang lebih ‘slengekan’ di banding Bush biar waktu yg membuktikan.

26. dhadep - Juni 5, 2008

barrack obama,
bukan soal afro-america, bukan soal indonesia dan bukan soal muslim. tapi lebih karena amerika terlalu menghegemoni (tanpa kekuatan penyeimbang) akhirnya kualitas pemimpin amerika menjadi pertaruhan bagi nasib dunia selanjutnya (….sedih harus mengakui ini…).

dan kalau di-zoom in, rasanya berlebihan dengan ekspektasi sedemikian besar, karena yang lebih dominan dalam mengambil kebijakan di amerika adalah parlemen -tanpa bermaksud mengajak untuk skeptis- sepertinya rambo atau superman pun yang jadi presiden amerika gak akan terlalu banyak merubah arah kebijakan amerika terutama politik internasionalnya.

27. edoway - Juni 7, 2008

bahasa yang anda pakai disini adalah bahasa tidak beraturang dan jika dilansir pakai bahasa indonesia baku.

28. HENRY - Juni 11, 2008

C H A N G E
We can Believe In
God Bless OBAMA!!!!

29. Rozie - Juni 19, 2008

tes…..

30. Rozie - Juni 19, 2008

saya herman…eh heran.
kita mendukung calon presiden dari negeri supra-imperialis seperti AS.
kalo kita mndukung Obama yg “afro-amerika” mnjadi presiden AS ?
apa kita siap mndukung calon presiden indonesia yang apabila ia seorang dari etnis tionghoa atau india?

????

31. Ibra - Juni 20, 2008

Ada satu algoritma yg bisa sedemikian cair identitasnya, sedemikian luas daya jelajahnya, sedemikian potensial untuk membawa perubahan disebabkan sedemikian tinggi daya pekanya…yg secara psikoanalisis bisa sedemikian menarik, tapi tak banyak ditilik…yang sedemikian Quran wanti wanti untuk tidak menghardiknya, besikap santun padanya, dan begitu keras larangan untuk memakan hartanya…algoritma itu adalah anak yatim.

Saya lupa kalau penulis dan yang ditulis di artikel ini paham betul algoritma itu

32. Dedy - Juni 20, 2008

..atau sengaja tak membicarakannya, padahal cukup menggugah. Mungkin Obamma sendiri melihat itu dengan ‘cara lain’? Saya tak membaca bukunya, dan adakah ia membicarakan ‘bawah sadar’nya disana sehingga muncul buku yang berjudul seperti itu. Tapi kadang sejarah tak banyak pengaruh, ‘identitas’ (termasuk sebagai anak yatim) memang cair tapi bisa juga lalu ‘mengembun’. Saya simpati padanya, mendukungnya, dengan perasaan harap2 cemas.

33. husni - Juni 20, 2008

identitas itu soal definisi. dan definisi itu bukti keterbatasan bahasa kita. toh, apa yang kita anggap cair, kadang kala juga mengeras bila berbenturan dengan yang “lain”. yang jelas Obama tak seorang diri. pendukungnya, banyak. tidakkah pendukung (moril atau materil) berpengaruh pada identitas kepemimpinannya mendatang (kalau terpilih)? ah..semoga.

34. Ibra - Juni 20, 2008

Saya pikir metafor “cair” yg digunakan Edward Said dan GM di atas bukan ke arah “air” yg dapat menguap atau membeku atau mengembun, ya…mungkin ke arah bentuknya yg dapat berubah sesuai dg wadah yg menampungnya…
Identitas yg dimaksud Said lebih mirip dg yg dibahas Amartya Sen, yg menurut saya diartikan sempit. Sedangkan identitas yg dibahas Anthony Giddens lebih luas lagi. Bisa ke kesatuan geografi, nasion, ekonomi, dll. Kesamaannya mgk masih sama2 di psikologi.

35. Ibra - Juni 20, 2008

Saya pikir metafor “cair” yg digunakan Edward Said dan GM di atas bukan ke arah “air” yg dapat menguap atau membeku atau mengembun, ya…mungkin ke arah bentuknya yg dapat berubah sesuai dg wadah yg menampungnya…
Identitas yg dimaksud Said lebih mirip dg yg dibahas Amartya Sen, yg menurut saya diartikan sempit. Sedangkan identitas yg dibahas Anthony Giddens lebih luas lagi. Bisa ke kesatuan geografi, nasion, ekonomi, dll. Kesamaannya mgk masih sama2 di psikologi.

36. Ibra - Juni 20, 2008

Dari perluasan sudut pandang itulah Giddens dapat merumuskan bahwa identitas sosial dapat mencapai kondisi positif, suatu positive social identity. Kondisi ideal ini yg kemudian pernah saya sadur dalam bentuk kuantitatif dalam model ekonometri.
Dalam eksotopi, GM memang cukup mengena ketika membicarakan identitas yg terbentur dgn ironinya sendiri, mirip Said tentang Yahudi sebetulnya. Tp gerak sosial tidak berhenti disitu, tentu saja.
Disini modernitas masih menegaskan premis yg sekaligus menjadi wibawa dan keanggunannya.
Meski saya lebih pinggir dari pinggir, saya kira saya ngerti lho mas kalau ini pertanyaan besar…

37. oktariyani - Juni 21, 2008

obama, berjuang terus ya moga aja bisa menang di pemilu AS th 2008, and semoga aja anda bisa menjadi seorang pepimpin yang tidak sperti presedint As sebelumnya. good luck

38. yalli - Juli 21, 2008

Obama, maju terus….., saya doakanmu,

39. aqso - Juli 21, 2008

Beravo Obama,…pluralitas yang sederhana telah menjadi energi pemicu yang luar biasa buat Obama, Bantu Obama dengan segala cara yang dibenarkan, Obama is the icon of change in amrik…..

40. MLK « All That I Can’t Leave Behind - November 7, 2008

[…] melihat Will Smith menjadi salah satu aktor dengan bayaran terbesar. Dan kini kita bisa melihat Obama bersaing menuju kursi […]

41. aisyh - November 7, 2008

sekarang obama dah jadi presiden nie…tunggu aja kiprahnya n semoga aja sesuai dengan harapan dunia

42. arman - November 10, 2008

bull sheet………………………

43. diNi - Februari 18, 2009

ada yg tw emaiL maya sutoro???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: